|
Kita masih tetap membahas tema kita yang bersamaan dengan ulang tahun yang
ke empat puluh dari Lempin-El, maka tema kita adalah angka ‘40’.
Kita sudah mendengar pertama kali tentang angka, ‘40’ ini dalam
ktb Kejadian 7 : 4, yaitu selama empatpuluh hari, empat puluh malam TUHAN menurunkan
hujan yang lebat sehingga menimbulkan air bah yang merupakan penghukuman bagi
bumi ini.
Angka ‘40’ ini berarti angka penamatan/perobekan daging.
Sayang, penamatan/perobekan daging ini berupa hal yang negatif yaitu lewat
penghukuman air bah; kita jangan sampai mengalami hal ini, tetapi biarlah kita
dapat masuk dalam penamatan daging yang positif yaitu masuk dalam bahtera Nuh.
Dan ini sudah kita dengar.
Kemudian angka ‘40’ selanjutnya di dalam ktb Keluaran tentang
kehidupan Musa yang juga ditandai dengan berpuasa selama empatpuluh hari, empat
puluh malam untuk menerima tabernakel dan juga untuk menerima dua loh batu yang
mula-mula. Kemudian Musa kembali berpuasa selama empatpuluh hari empat puluh
malam di gunung Sinai untuk menerima dua loh batu yang baru yang sama dengan
yang mula-mula karena dua loh batu yang mula-mula sudah dipecahkan dan ini menunjukkan
pada pembangunan Tubuh Kristus yang juga harus ditandai dengan penamatan daging.
Selanjutnya tadi malam, kita sudah mendengarkan tentang Musa yang usianya
juga ditandai dengan angka ‘40’ dan kita akan membaca sekali lagi
di dalam Ulangan 34 : 7, Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati;
matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.
Musa berusia seratus duapuluh tahun, kemudian ia mati. Seratus duapuluh ini
mengandung angka empatpuluh >>> 120 = 3 x 40. Jadi Musa mengalami perobekkan/penamatan
daging selama hidupnya dari awal, pertengahan dan sampai akhir hidupnya sehingga
Musa ditampilkan di dalam kemuliaan.
Kita dengar ada tiga tahap dari umur Musa dan kemarin kita baru mendengar dua
tahap yaitu:
- tahap pertama, Musa berada di Mesir >>> dari lahir – berusia
empatpuluh tahun. Dan ini menunjukan pada masa pertumbuhan, baik pertumbuhan
secara jasmani, pertumbuhan secara rohani sampai pada kedewasaan rohani >>>
lepas dari pengaruh daging, pengaruh dosa dan pengaruh dunia. Kemudian Musa
dapat melayani TUHAN.
- tahap kedua, Musa berada di Median >>> berusia empatpuluh satu
– delapan puluh tahun. Menunjuk pada masa penggembalaan. Firman penggembalaan
bagaikan air yang menyegarkan, membuat kita menjadi tenang ditengah-tengah
gejolak dunia. Tetapi Firman penggembalaan juga merupakan api yang menyucikan
sampai ditampilkan di dalam Wahyu 12 : 1 >>> kesempurnaan/tidak bercacat
cela/terang dunia.
Sekarang ini, kita akan membahas tahap yang ketiga; dengan membaca
di dalam Kisah rasul 7 : 35, 36,
35. Musa ini, yang telah mereka tolak, dengan mengatakan: Siapakah yang
mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim? --Musa ini juga telah diutus oleh
Allah sebagai pemimpin dan penyelamat oleh malaikat, yang telah menampakkan
diri kepadanya di semak duri itu.
36. Dialah yang membawa mereka keluar dengan mengadakan mujizat-mujizat dan
tanda-tanda di tanah Mesir, di Laut Merah dan di padang gurun, empat puluh tahun
lamanya.
Inilah empatpuluh tahun tahap yang ketiga, Musa berada di padang gurun selama
empatpuluh tahun >>> delapanpuluh satu – seratus duapuluh tahun
dan ini disebut dengan masa pengutusan. Seperti yang akan dialami oleh siswa/i
Lempin-El Kristus Ajaib angkatan ke XXX sebab mereka segera akan ditamatkan
dan diutus. Masa pengutusan ini, kita belajar dari Musa.
Pengutusan/pemakaian TUHAN atas seseorang/atas Musa/atas kita/atas siswa/i
Lempin-El angkatan XXX, dimulai dengan panggilan TUHAN. Jadi sebelum diutus
harus dipanggil terlebih dahulu. Pada panggilan TUHAN ini, merupakan tahap yang
paling menentukan, sebab kuat tidaknya seorang hamba TUHAN di dalam pengutusan
bukan tergantung dari banyak/sedikitnya jumlah sidang jemaat atau banyak/sedikitnya
uang atau pandai/bodohnya seseorang, tetapi bergantung pada benar/tidaknya panggilan
TUHAN itu yang seseorang itu terima. Jadi, kita jangan emosi jika mau menjadi
seorang hamba TUHAN >>> banyak kali karena kita tidak dapat bersekolah
lagi dan daripada menganggur, lebih baik masuk sekolah alkitab saja dan orang
semacam ini akan gugur sebab ia masuk sekolah alkitab bukan karena panggilan
TUHAN. Atau karena sudah pensiun, baru mau menjadi hamba TUHAN. Ada banyak macamnya
dan saya tidak mementingkan latar belakangnya apa, tetapi yang terpenting adalah
panggilan dari TUHAN sebab itu yang menentukan. Hanya orang-orang yang dipanggil
oleh TUHAN, akan diutus/dipakai oleh TUHAN dan contohnya adalah Musa.
Kemarin kita sudah mendengar tentang Musa yang mengalami penyucian dengan
api sehingga ia tergembala, baru terjadi panggilan. Keluaran 3 : 3,
4,
3. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan
yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"
4. Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah
Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan
ia menjawab: "Ya, Allah."
Inilah contoh dari Musa ketika ia menerima panggilan TUHAN dari semak duri yang
menyala. Kita sudah mendengar arti dari semak duri yang bernyala adalah penyucian.
Jadi panggilan itu berasal dari kesucian. Jadi siapapun yang dipanggil dan dipakai
oleh TUHAN berasal dari kesucian. Bukan dari kepandaian/kebodohan, bukan dari
kekayaan/kemiskinan tetapi penentunya adalah kesucian. Semakin kita disucikan,
maka panggilan TUHAN itu akan semakin jelas dan teguh/tidak dapat berubah lagi.
Baik sebagai seorang hamba TUHAN sepenuh/full-timer maupun yang melayani paduan
suara, musik dlsbnya, mau dipakai oleh TUHAN dan diutus oleh TUHAN harus melewati
panggilan yang berasal dari kesucian. Jika kita tidak suci/kehilangan kesucian,
maka pelayanan itu akan hilang/terlepas. Semoga kita dapat mengerti hal ini.
Kemudian, TUHAN memanggil >>> Musa, Musa, bukan kamu
atau hai. Seperti kita kalau memanggil seseorang hai, hai. Tetapi kalau TUHAN
memanggil >>> Samuel, Samuel, Jadi TUHAN juga mengajar kesopanan kepada
kita. Semoga kita mengerti.
Apa arti dari panggilan TUHAN >>> Musa, Musa? Memanggil dengan nama
yang jelas.
Berarti:
- panggilan TUHAN itu secara pribadi. Itu sebabnya tidak boleh dan tidak
bisa disuruh, dipaksa atau sebaliknya, panggilan TUHAN itu tidak dapat dihalangi
oleh siapapun/apapun juga/istana Firaun tidak dapat menghalangi Musa. Hanya
kita pribadi yang dapat mendengar panggilan itu. Tetapi sebaliknya bagi para
hamba-hamba TUHAN termasuk saya, yang memiliki anak, jangan disuruh atau dipaksa
untuk sekolah alkitab, biarlah TUHAN Sendiri yang memanggil.
- TUHAN mengenal dengan jelas orang-orang yang dipanggilNYA. Seringkali kita
kurang jelas dengan nama orang, sehingga harus bertanya, tetapi lain dengan
TUHAN, IA mengenal dengan jelas orang yang dipanggilNYA. Dan kita yang dipanggil
oleh TUHAN, juga harus mengenal TUHAN dengan sejelas-jelasnya supaya kita
tidak ragu pada panggilan TUHAN. Mengenal TUHAN dengan sejelas-jelasnya bahwa
TUHAN itu penuh dengan kasih, setia dan penuh dengan tanggung jawab sehingga
kita tidak ragu-ragu untuk menerima panggilan TUHAN dan menyerah sepenuhnya
kepada TUHAN. Orang yang tidak mau menyerah adalah orang yang tidak mengenal
TUHAN, sesungguhnya TUHAN sudah mengenal dirinya, tetapi ia tidak mau menyerah
karena ragu. Panggilan TUHAN itu tidak dapat didorong dan ditipu oleh orang
sebab hanya diri sendiri yang tahu. Semoga kita dapat mengerti. Inilah panggilan
dari Musa.
Roma 8 : 28 – 30,
28. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka
yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
29. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya
dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya
itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
30. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.
Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka
yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Jadi TUHAN tidak begitu saja memanggil dan memilih kita, tetapi TUHAN memanggil
kita sesuai dengan rencana/kehendakNYA. Itu sebabnya sesudah kita menerima panggilan
TUHAN, maka kita harus selalu berada di jalur dari rencana/kehendak ALLAH lewat
pembukaan rahasia Firman.
Bagaimana kita mengetahui rencana/kehendak ALLAH di dalam kehidupan kita?
yaitu di dalam pembukaan rahasia Firman = harus sesuai Firman. Jika kita hendak
melayani >>> harus sesuai dengan Firman, juga dalam hal keuangan >>>
harus sesuai dengan Firman. Demikian juga jika kita berdagang, maka kita harus
sesuai dengan Firman, sebab itu berarti kita berada di jalur rencana/kehendak
TUHAN lewat pembukaan Firman TUHAN.
Tadi, di dalam Roma 8 : 28, Kita tahu sekarang, bahwa
Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka
yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana
Allah.
Jadi, kalau kita sebagai hamba-hamba TUHAN/pelayan-pelayan TUHAN selalu berada
pada jalur kehendak TUHAN/jalur Firman TUHAN, maka kita tidak perlu takut sebab
TUHAN selalu mendatangkan kebaikan/menjadikan semua baik karena TUHAN turut
bekerja di dalam kehidupan kita.
Yang penting kita harus selalu berada di dalam Firman, sebab seringkali kita
melepaskan Firman dan mencari kebaikan di tempat lain dan ini merupakan kesalahan
yang besar. Sebab siapa manusia yang dapat menjamin kita untuk mendapatkan sesuatu
yang baik. Mungkin satu dua kali, sesudah itu sudah tidak dapat lagi. Tetapi
kalau TUHAN, selama kita berada di dalam rencana TUHAN, maka akan ada jaminan
dari TUHAN bahwa IA turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan/menjadikan semua
baik di dalam kehidupan kita bahkan membawa kita sampai pada kemuliaan surga
>>> Roma 8 : 30c, Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Itu sebabnya, mari! sesudah kita menerima panggilan, maka kita harus tetap
berada dijalur Firman/pembukaan Firman sebab ini merupakan rencana TUHAN. Semuanya
harus sesuai Firman, jika kita tidak melakukan apa yang sesuai dengan Firman,
berarti kita berada di luar rencana TUHAN. Tetapi kalau sesuai dengan rencana
Firman, maka kita benar-benar berada di dalam kehendakNYA dan Tangan TUHAN turut
bekerja dengan mendatangkan kebaikan/menjadikan semuanya baik, bahkan membawa
kita dalam kemuliaan surga. Nanti para hamba-hamba TUHAN/pelayan TUHAN akan
banyak yang kecele/terkecoh/tertipu sebab ukurannya sudah bukan Firman lagi
tetapi hanya pada hal yang sifatnya jasmani.
Matius 7 : 21 – 23,
21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk
ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang
di sorga.
22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan,
bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan
mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata:
Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat
kejahatan!"
ay 21 >>> melakukan kehendak Bapa-KU = berada di jalur rencana TUHAN/sesuai
dengan kehendak TUHAN sebab pelayanannya sesuai dengan Firman dan ini yang penting.
Bukan macam pelayanannya tetapi harus sesuai dengan kehendak TUHAN, sebab ini
yang diukur oleh TUHAN.
ay 23 >>> terjadi lagi pengusiran >>> enyahlah!
Mari! selama kita berada di dalam kehendak TUHAN/sesuai dengan pembukaan Firman
pengajaran yang benar, maka TUHAN akan membuka pintu surga/kemuliaan surga akan
terbuka, apalagi hanya pintu-pintu di dunia ini tentu akan dibukakan oleh TUHAN.
Itu sebabnya kita jangan takut dan bagi siswa/i angkatan XXX ini, saudara jangan
takut untuk diutus kemana pun baik itu diutus di kota, di daerah, sekalipun
diutus dengan jumlah sidang jemaat hanya dua orang saja. Sebab yang penting
yang dilihat oleh TUHAN, saudara berada di jalur TUHAN/tidak. Jika saudara tetap
berada di jalur rencana TUHAN, maka TUHAN mampu membukakan pintu kemuliaan surga.
Kita jangan melepaskan jalur TUHAN/Firman pengajaran yang benar untuk mencari
yang lebih baik >>> tidak ada sesuatu yang lebih baik di dunia ini
daripada kita berada dalam pembukaan rahasia Firman/berada di dalam kehendak
TUHAN/berada di dalam Firman pengajaran yang benar. Jika keluar dari jalur rencana
TUHAN, maka kita akan mendapatkan kehancuran; seperti pemberitaan Firman TUHAN
kemarin, kalau kita keluar dari bahtera Nuh, maka akan hanyut oleh air bah dan
binasa.
Ukuran keberhasilan kalau kita lihat di dalam Matius 7: 22,
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah
kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan
banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Ukuran keberhasilan dalam pelayanan bukan bentuk/macamnya pemakaian TUHAN seperti
mengusir setan, menyembuhkan orang atau dapat mengumpulkan banyak jiwa yang
luar biasa >>> kalau di mata manusia, maka pelayanan itu berhasil.
Tetapi ukuran di Mata TUHAN bukanlah seperti itu, sebab ukuran keberhasilan
di Mata TUHAN adalah ketaatan kepada Firman pengajaran yang benar/pada jalur
hidup/jalur kehendak TUHAN. Kalau kita berada di luar jalur Firman yang benar
maka segala apa yang sudah kita capai dan dianggap berhasil oleh manusia, tidak
diakui bahkan diusir oleh TUHAN. Itu sebabnya kita tidak dapat saling mengukur
sekalipun kita melihat bahwa seseorang itu berhasil dan memiliki gedung gereja
yang besar >>> belum tentu berhasil, sebab apakah ia berada di dalam
kehendak TUHAN atau tidak?
Seringkali kita menghina hamba TUHAN yang berada di desa sebab sudah bertahun-tahun
tetapi hanya memiliki jemaat dua orang dan itu berarti hamba TUHAN itu tidak
dipakai oleh TUHAN >>> belum tentu. Seandainya hamba TUHAN yang berada
di kota dengan gerejanya yang besar itu kemudian menukar pelayannya untuk melayani
di desa yang sudah dilayani oleh hamba TUHAN di desa selama limabelas tahun
dengan dua orang jemaat. Hamba TUHAN yang sudah besar dan hebat dari kota >>>
jangankan melayani selama limabelas tahun, limabelas jam saja, sebab terkena
air sungainya saja, seluruh tubuhnya sudah terasa gatal dan pada akhirnya ia
tidak tahan lagi. Itu sebabnya kita jangan mengukur keberhasilan dari melihat
gedung gereja yang besar yang di mata manusia dianggap berhasil tetapi apakah
hamba TUHAN itu berada pada jalur dari TUHAN atau tidak/taat pada Firman pengajaran
yang benar atau tidak, sebab ini yang diukur oleh TUHAN.
Kalau seorang hamba TUHAN, pelayanannya itu tidak berada pada jalur dari TUHAN,
maka apa yang dianggap hebat oleh manusia, tidak diakui oleh TUHAN bahkan dianggap
sebagai seorang penjahat/pembuat kejahatan. Dan ini dimulai dari Wijaya, pemain
musik dllnya >>> apa yang dilihat/yang diukur oleh TUHAN? Bukan karena
main musiknya hebat atau menyanyinya hebat >>> semuanya ini boleh saja,
tetapi hal ini bukanlah menjadi ukuran dari keberhasilan. Ukuran keberhasilan
adalah apakah kita berada pada jalur dari TUHAN dan juga berada di dalam Firman
pengajaran yang benar.
Bagi siswa/i Lempin-El, saudara tetap berpegang pada motto >>> lebih
baik ditolak bersama dengan Firman pengajaran yang benar, daripada diterima
tanpa Firman pengajaran yang benar. Ini harus tetap dipegang sehingga TUHAN
turut bekerja mendatangkan kebaikan dan kemuliaan dan ini pasti terjadi selama
kita tetap berada di dalam rencana TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.
Kita kembali ke Keluaran 3 >>> Musa menjawab. Ada panggilan,
maka ada jawaban. Keluaran 3 : 4, Ketika dilihat
TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah
semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya,
Allah."
Jawaban yang tepat terhadap panggilan adalah ‘Ya ALLAH/Ya TUHAN’.
Ya ALLAH ini harus merupakan jawaban dari kita dalam setiap tugas pekerjaan
yang dipercayakan oleh TUHAN di ladang TUHAN. Ya ini adalah Nama TUHAN dan kalau
kita menjawab ‘Ya’ maka risiko ditanggung oleh yang menyuruh. Kalau
TUHAN Yang menyuruh, maka risiko ditanggung oleh TUHAN. Tetapi kalau kita menjawab
‘tidak’, maka risiko ditanggung diri sendiri.
Di dalam ktb perjanjian baru, Nama TUHAN ini ditulis dengan ‘Alfa dan
Omega’ tetapi di dalam alkitab perjanjian lama ditulis ‘Alif dan
Ya’ (ktb Wahyu). Alif = Alfa = pertama. Jadi kalau kita menjawab ‘Ya’
berarti kita menerima TUHAN Yang Namanya adalah ‘Ya’, maka IA dapat
mengakhiri segala sesuatu menjadi baik dan sempurna. Jadi kalau kita selalu
berkata ‘Ya TUHAN’ maka kita akan menjadi hamba TUHAN/pelayan TUHAN
sampai mencapai garis akhir.
Garis akhir dari manusia/pelayan TUHAN itu ada dua yaitu:
- dapat meninggal dunia seperti almarhum-almarhum yang sudah mendahului kita.
- tidak meninggal dunia sampai TUHAN YESUS datang, kita tetap melayani Dia.
Bagi siswa/i Lempin-El angkatan ke XXX, tulis dengan baik-baik >>>
menjadi seorang hamba TUHAN adalah pekerjaan terakhirku. Sebab sesudah itu tidak
ada lagi pekerjaan yang lain. Semoga kita dapat mengerti.
Sikap Musa menghadapi panggilan TUHAN >>> Keluaran
3 : 6, Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham,
Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut
memandang Allah.
Ay 6b >>> menerima panggilan TUHAN, Musa menutupi mukanya ini berarti
di wajah ini ada pancaindera/lima indera dan ini yang ditutup oleh Musa, berarti
Musa tidak memakai inderanya >>> menerima panggilan TUHAN, jangan memakai
pancaindera/daging sebab jika demikian, itu akan menipu. Apalagi mata >>>
berapa orang yang sudah tertipu. Ada orang yang di minta untuk pergi kesuatu
tempat, tetapi ia mengatakan akan melihat terlebih dahulu >>> ini berbahaya
sebab mata ini dapat menipu.
Bagi siswa/i Lempin-El yang akan diterjunkan ke suatu tempat, jangan berkata
hendak melihat terlebih dahulu. Berapa banyak orang gara-gara mata kemudian
jatuh, contohnya: Hawa, yang tertipu oleh ular, Lot yang memandang Sodom dan
Gomora seperti taman surga, ternyata semuanya merupakan tipuan. Itu sebabnya
Musa menutup pancainderanya ketika ia menerima panggilan TUHAN. Menerima panggilan
TUHAN itu harus dengan iman dan takut akan TUHAN sehingga akan menghasilkan
keajaiban-keajaiban, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Inilah sikap Musa menghadapi
panggilan TUHAN.
Tujuan panggilan/pengutusan >>> Keluaran
3 : 10, Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun
untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."
Tujuan panggilan/pengutusan TUHAN, kalau Musa dulu untuk mengeluarkan bangsa
Israel dari perbudakan di Mesir, kalau sekarang, maka tugas kita/hamba TUHAN
untuk mengeluarkan/membebaskan/melepaskan sidang jemaat dari Mesir/dunia. Artinya:
- melepaskan sidang jemaat dari beban-beban perbudakan/beban-beban yang berat
dalam bentuk ekonomi dlsbnya di dalam dunia ini. Kita jangan menjadi beban
sebab banyak hamba TUHAN yang menjadi beban bagi sidang jemaatnya >>>
ini salah, sebab tidak sesuai dengan tujuan dari panggilan TUHAN. Contoh:
ada sidang jemaat yang memiliki satu mobil, hamba TUHAN/gembala meminjam mobil
itu untuk pelayanan sehingga sidang jemaat itu naik becak >>> ini
menjadi beban bagi sidang jemaat. Panggilan TUHAN sudah benar, tetapi tujuannya
yang salah yaitu bukannya melepaskan sidang jemaat dari beban tetapi justru
menjadi beban bagi sidang jemaat.
- melepaskan sidang jemaat dari beban-benan sampai sidang jemaat benar-benar
terlepas dari dunia ini untuk bertemu dengan TUHAN diawan-awan yang permai
di saat YESUS datang kembali yang kedua kalinya. Inilah tujuan panggilan dan
pengutusan TUHAN kepada kita sekalian. Mari kita semua, mulai dari paduan
suara dlsbnya harus memiliki beban, sebab kita memiliki tujuan dalam melayani
TUHAN yaitu melepaskan sidang jemaat dari beban-beban sampai dapat melepaskan
sidang jemaat dari dunia ini untuk bertemu dengan YESUS diawan-awan yang permai
dan kita menjadi Mempelai Wanita TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.
Keluaran 3 : 11, Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah
aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar
dari Mesir?"
Dulu di Mesir, Musa melayani dua orang dengan memakai kepandaian, ia gagal,
tetapi sekarang, sesudah panggilannya jelas/teguh, Musa mengalami penyucian,
maka Musa mengenal dirinya sendiri. Di dalam pengutusan, kita harus mengenal
diri sendiri dengan kekurangan dan kelemahan. Kita tidak mengajukan diri >>>
seharusnya saya yang berkhotbah, seharusnya saya, seharusnya saya, ini bukan
pengutusan TUHAN, tetapi pengutusan keinginan diri sendiri/daging. Tetapi kalau
pengutusan oleh TUHAN, malahan kita banyak mengenal diri sendiri >>>
saya banyak kekurangan dan kelemahan sehingga kita tidak mengajukan diri.
Bagi siswa/i Lempin-El jika saudara nanti menjadi pengerja, maka saudara jangan
berkata bahwa gembala saya ini tidak tahu diri, sebab saya tidak pernah disuruh
berkhotbah. Saudara jangan mengajukan diri, tetapi banyak merendahkan diri dengan
mengenal diri sendiri dengan kekurangan dan kelemahan. Jadi dasar panggilan/pengutusan
adalah mengenal diri sendiri. Mengenali diri sendiri dengan kekurangan dan kelemahan
itu, merupakan sesuatu yang penting sebab itu adalah dasar dari panggilan dan
pengutusan TUHAN atas hidup kita.
Sebelum Musa mengenal dirinya sendiri >>> jangankan memimpin sejuta
orang, memimpin dua orang saja, ia tidak mampu sebab ia ditolak. Tetapi kalau
sudah mengenal diri sendiri, maka itu adalah waktu pengutusan oleh TUHAN sehingga
panggilan dan pengutusan semakin jelas di dalam kehidupan kita. Setelah kita
mengenal diri sendiri dan kemudian kita dipakai oleh TUHAN, kita jangan menjadi
lupa diri, sebab seringkali setelah dipakai kita menjadi lupa diri. Kalau sudah
melupakan dirinya sendiri, maka pasti akan lupa pada semuanya/lupa kalau sudah
memiliki isteri sampai melupakan TUHAN. Bagi siswa/i Lempin-El, jangan lupa
diri >>> tetap mengenal diri dengan kekurangan dan kelemahan sehingga
tetap dipakai oleh TUHAN, kalau lupa diri, tidak akan dipakai oleh TUHAN, bahkan
jatuh. Inilah dasar-dasar pengutusan TUHAN yang kita pelajari lewat panggilan
kepada Musa.
Kemudian Musa diutus oleh TUHAN di padang gurun selama empatpuluh tahun/perobekan
daging. Di dalam panggilan/pengutusan, kita akan menghadapi halangan-halangan/TUHAN
mengijinkan kita mengalami halangan-halangan/kesulitan agar terjadi perobekan
daging/penamatan daging/angka ‘40’. Jadi kesulitan itu bukan untuk
membuat kita menjadi putus asa, contohnya : hendak pergi ke gereja, hujan lebat
turun >>> ada halangan-halangan tetapi kalau kita kalah, maka itu berarti
kita tidak mengalami perobekan daging.
Musa menghadapi banyak halangan-halangan, tetapi saya mengambil halangan yang
pokok/yang berat/yang besar saja dan ada dua halangan untuk mengalami perobekan
daging. Bagi siswa/i Lempin-El, jika saudara di terjunkan untuk melayani dan
saudara menghadapi halangan, maka itu sudahlah benar sebab jalurnya sudah benar.
Ada tantangan dan rintangan >>> sudah benar, sebab itu untuk masuk
dalam perjalanan salib/penamatan daging/angka ‘40’.
Musa menghadapi dua halangan yang berat yaitu:
- di laut Kolsom, setelah keluar dari Mesir, maka langkah
awal adalah di depan menghadapi laut Kolsom, di belakang ada Firaun sedangkan
hendak ke kiri maupun ke kanan tidak ada jalan = jalan buntu.
Nanti bagi siswa/i dalam melayani sidang jemaat, maka akan banyak jemaat yang
mengalami jalan buntu yang mungkin buntu dalam soal ekonominya, soal perusahaannya
dllnya. Atau kita sendiri menghadapi jalan buntu dalam pengurusan ijin pembangunan
gereja dllnya dan memang TUHAN ijinkan supaya terjadi perobekan daging.
Laut Kolsom ini berbicara tentang jalan buntu/masalah yang tidak pernah selesai
bahkan yang mustahil. Dan ini sering kita diperhadapkan tetapi kita jangan
salah sebab justru diperhadapkan dengan masalah agar kita mendapatkan angka
‘40’/perobekan daging/salib dan bukan yang enak buat daging.
Keluaran 14 : 15, 16,
15. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Mengapakah engkau berseru-seru
demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.
16. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan
belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut
di tempat kering.
Mengapakah engkau berseru-seru >>> inilah daging yang harus dirobek.
Sebab seringkali di dalam menghadapi jalan buntu, kita berseru-seru.
Berseru-seru:
- berteriak-teriak karena panik
- berharap kepada orang lain
Saya berani berkata begini karena sayalah orangnya yang pernah panik sebab
satu malam, saya sakit dan tubuh saya sudah dingin, kemudian saya mengambil
alkitab dan menumpangkan tangan di atas ktb Yesaya tentang raja Hiskia yang
sakit dan diberi panjang umur oleh TUHAN >>> saya berdoa kepada TUHAN
agar saya juga diberi panjang umur dan jangan mati sekarang. Tetapi saya tetap
panik dan menelepon alm.bpk.pdt Pong jam dua malam dan berkata bahwa mungkin
saya terkena penyakit jantung sebab tubuh ini dingin semuanya. Bpk.pdt Pong
hanya menjawab >>> tenang! Dan kemudian kami berdoa dan saya dapat
tidur. Keesokan hari, saya memeriksakan diri ke dokter, ternyata saya terkena
radang tenggorokan, padahal saya sudah mengira terkena penyakit yang aneh-aneh.
Inilah sikap dari orang yang panik/yang ribut dan itu adalah sikap tanpa iman.
Ay 15 >>> kalau daging dirobek,
Ay 16 >>> setelah daging yang panik/yang berseru-seru/yang suka berharap
kepada orang lain itu dirobek, barulah Musa dapat mengangkat tongkat/meninggikan
salib TUHAN/mengangkat tangan = menyerah sepenuhnya kepada TUHAN dan di saat
itu juga >>> Keluaran 14 : 21, Lalu Musa mengulurkan tangannya ke
atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan
angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah
air itu.
Angin timur = kuasa Roh.Kudus/Tangan TUHAN Yang ajaib Yang membuka jalan keluar
dan yang menyelesaikan segala masalah. Kalau kita mengangkat tangan, maka
Roh.Kudus turun = TUHAN turun dengan TanganNYA Yang ajaib, membuka jalan keluar
dan menyelesaikan segala masalah sampai yang mustahilpun dapat selesai. Inilah
arti pertama dari daging yang suka berseru-seru, yang panik dan bimbang dan
yang suka berharap kepada orang lain sehingga harus dirobek, biar kita merasakan
Tangan TUHAN Yang turun di tengah sidang jemaat.
- Bagian atas tadi, Musa menghadapi air laut Kolsom yang banyak, sekarang
di akhir hidupnya, Musa menghadapi air satu gelas sebab bangsa Israel
tidak dapat minum. Menghadapi banyak air, menjadi masalah, sekarang
di akhir hidupnya, menghadapi air satu gelas, juga menjadi masalah.
Bilangan 20 : 2 – 5, 8, 11, 12,
2. Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka
mengerumuni Musa dan Harun,
3. dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: "Sekiranya kami
mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN!
4. Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan
ternak kami mati di situ?
5. Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat
celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima,
bahkan air minumpun tidak ada?"
8. "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh
umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu
supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu
itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya."
11. Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan
tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak
mereka dapat minum.
12. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak
percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel,
itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan
Kuberikan kepada mereka."
Air minumpun tidak ada = air segelas untuk minumpun tidak ada. Inilah susahnya
sidang jemaat >>> banyak air >>> susah dan takut. Tidak
ada segelas airpun, menjadi marah. Jadi, halangan yang kedua ini tidak ada
air untuk diminum.
Arti dari tidak ada air minum adalah gambaran dari kehausan, tidak ada kepuasan
= rasa tidak puas. Jika sidang jemaat/hamba TUHAN, merasa tidak puas, maka
ini akan mendorong terjadinya persungutan, pertengkaran bahkan sampai pada
perpecahan karena kehausan.
Halangan pengutusan dari Musa adalah rasa tidak puas tetapi TUHAN memberikan
jalan keluarnya dengan memerintahkan Musa untuk berkata kepada gunung batu
supaya mengeluarkan air yang banyak. Tetapi Musa memukul gunung batu itu sebanyak
duakali, sekalipun mengeluarkan air yang banyak dan ini berarti Musa dalam
keadaan emosi karena keadaan dari sidang jemaat. Inilah daging yang harus
dirobek.
Seringkali karena menghadapi rasa tidak puasnya sidang jemaat, kita sebagai
gembala menjadi emosi. Kalau ada sidang jemaat yang tidak mengerti Firman,
maka kami mengatakan bahwa jemaat seperti itu tidak mendapatkan kemurahan
karena keras hati dan akan masuk ke neraka. Kalau menghadapi jalan buntu,
seringkali hamba TUHAN/gembala masih bisa sabar.
Padahal Musa ini adalah orang yang sangat lembut hati, kita dapat membayangkan
>>> orang yang lembut hati, tetapi masih bisa emosi. Bagaimana Wijaya
yang kasar karena dilahirkan ditengah-tengah kehidupan yang kasar? Dan juga
dengan kita sekalian? Sebab orang yang sangat lembut saja, dapat menjadi emosi.
Musa emosi, sekalipun ia berpredikat sebagai orang yang sangat lembut hatinya,
berarti Musa jatuh dalam kelebihan bukan dalam kekurangannya.
Jatuh dalam kelebihan >>> ini merupakan kengerian. Kalau seseorang/hamba
TUHAN jatuh dalam kelemahan, maka itu adalah hal yang biasa, tetapi kalau
jatuh dalam kelebihan, maka itu adalah hal yang luar biasa. Itu sebabnya kita
harus berhati-hati dan menjaganya dengan baik-baik dengan kelebihan-kelebihan
yang TUHAN berikan kepada kita.
Mungkin kita memiliki kelebihan di dalam hal kepandaian, di dalam hal pembukaan
Firman TUHAN, dalam menyanyi maupun bermain musik dan dalam hal apa saja, kita
harus menjaganya supaya kita jangan jatuh dalam kelebihan sebab itu merupakan
kejatuhan yang dahsyat >>> 1 Korintus 10 : 12, Sebab
itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan
jatuh!
Kalau seseorang itu menyangka ia teguh karena memiliki kelebihan-kelebihan,
maka itu harus dijaga agar jangan sampai jatuh, sebab jatuh dalam kelebihan
merupakan hal yang dahsyat seperti Musa. Dan akibatnya Musa tidak di ijinkan
oleh TUHAN untuk masuk ke tanah Kanaan = kegagalan total.
Kalau seseorang itu jatuh di dalam kekurangan >>> masih dapat diperbaiki.
Seperti malaikat yang adalah roh dan seharusnya malaikat itu penurut sebab roh
itu penurut tetapi daging itu lemah. Tetapi begitu malaikat itu jatuh, maka
menjadi Lucifer >>> ini dahsyat. Tetapi Daud yang keturunan Abraham
dan ia jatuh, maka masih dapat ditolong sebab Daud berada di dalam kelemahan
dan ia mengakui dosanya.
Saya seringkali cemburu Ilahi, jika melihat ada hamba TUHAN yang selain dapat
berkhotbah juga dapat bermain musik sedangkan saya tidak bisa bermain musik
dan juga dapat berbicara dengan bermacam-macam bahasa sedangkan saya tidak dapat
>>> inilah kelemahan saya. Kita jangan lengah di dalam kelebihan, tetapi
juga jangan putus asa di dalam kekurangan sebab TUHAN masih dapat menolong kita.
Tetapi di dalam kelemahan-kelemahan, maka kuasa TUHAN akan dinyatakan >>>
2 Korintus 12 : 7 – 9,
7. Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang
luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang
utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
8. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis
itu mundur dari padaku.
9. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab
justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih
suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Mari! bagi yang memiliki kelemahan-kelemahan, harus berhati-hati supaya jangan
jatuh di dalam kelemahan. Jika kita tidak jatuh di dalam kelemahan-kelemahan,
maka kuasa TUHAN dapat bekerja di dalam hidup kita. Demikian juga bagi yang
memiliki kelebihan-kelebihan, jangan menjadi sombong supaya jangan jatuh sebab
itu adalah hal dahsyat seperti Musa. Semoga kita dapat mengerti.
Dari siswa/i Lempin-El, ada yang bermacam-macam:
- ada yang lulusan sekolah dengan bermacam-macam tingkatan
- juga memiliki ketrampilan yang bermacam-macam
- cara berkhotbah juga macam-macam >>> ada yang memiliki kelebihan
dan juga ada yang memiliki kelemahan
- juga ada yang memiliki kelebihan, jaga, supaya jangan jatuh dalam kelebihannya
sebab merupakan sesuatu yang dahsyat. Sedangkan yang lemah/yang kurang, juga
jangan jatuh di dalam kelemahan. Sebab kalau kita bertahan, maka kuasa TUHAN
akan bekerja untuk menolong kita semuanya. Semoga kita dapat mengerti.
Jadi daging yang harus dirobek adalah emosi yang memang seringkali tidak tertahankan
dan saya juga sering mengalami.
Hari ini kita dikoreksi oleh TUHAN dari:
- rasa takut sehingga berseru-seru dan daging ini yang harus dirobek
- emosi, sebab emosi ini pasangannya adalah ambisi. Sebab jika seorang hamba
TUHAN/Musa itu memiliki emosi, maka sidang jemaat/bangsa Israel, akan bertengkar,
bersungut-sungut karena merasa tidak puas/haus. Sehingga emosi jika ditambah
dengan bertengkar/bersungut-sungut = gagal total.
Musa tidak di ijinkan masuk ke tanah Kanaan, sedangkan jemaat/bangsa Israel
juga tidak boleh masuk, hanya dua orang yang di ijinkan masuk yaitu Yosua dan
Kaleb. Jadi sama-sama gagal total >>> tidak ada keuntungan. Itu sebabnya
sama-sama merobek daging sehingga mendapatkan kemuliaan.
Tetapi untung, TUHAN masih berkemurahan bagi Musa, sebab Musa masih di ijinkan
untuk menginjakkan kakinya di gunung di Kanaan. Sebab Musa kembali menjadi seperti
bayi, ia lupa bagaimana dulu ia sebagai bayi dibuang di sungai Nil dan berada
di tangan puteri Firaun, seharusnya Musa itu sudah mati. Tetapi karena ia menangis,
Musa terselamatkan. Kemudian ketika ia menghadapi banyak masalah >>>
ketika menghadapi Miryam yang mengata-ngatai, Musa masih dapat berlutut kepada
TUHAN. Tetapi di akhir, ketika menghadapi segelas air >>> Musa tidak
lagi berlutut, tidak lagi menjadi seperti bayi yang menangis kepada TUHAN, tetapi
Musa menghadapi bangsa Israel dengan emosi sehingga ia gagal total.
Tetapi TUHAN masih memberikan kesempatan sehingga Musa masih dapat menginjakkan
kaki di tanah Kanaan lewat doa penyembahan dan kemurahan kasih karunia TUHAN
>>> Matius 17 : 1 – 3,
1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya,
dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ
mereka sendiri saja.
2. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti
matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
3. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Dalam/lewat doa penyembahan, Musa kembali menjadi seperti bayi yang menangis
kepada TUHAN dan berharap kepada belas kasih dan kemurahan TUHAN dan di situlah
TUHAN menghapus segala kemustahilan.
Bagi siswa/i Lempin-El, perhatikan! Apapun yang mustahil tetapi kalau kita
banyak menangis kepada TUHAN, seperti bayi yang tidak berdaya, maka Tangan belas
kasih TUHAN akan menghapus segala kemustahilan.
Kemustahilan tertinggi adalah Musa ditampilkan di dalam kemuliaan. Awalnya
ia sudah gagal total tetapi ia dapat ditampilkan dalam kemuliaan sebagai Mempelai
Wanita TUHAN. Inilah kemustahilan yang tertinggi bagi manusia yang memiliki
banyak kesalahan dan kekurangan, tetapi dapat menjadi Mempelai Wanita TUHAN
lewat banyak menyembah kepada TUHAN dan juga lewat belas kasih TUHAN, lewat
Kristus Ajaib Yang mengulurkan Tangan kasihNYA, IA melakukan keajaiban dengan
menghapus kemustahilan bahkan menjadikan kita Mempelai Wanita TUHAN.
Pesan saya kepada siswa/i Lempin-El >>> ingat! Selama saudara bersama
saya di Lempin-El dan kalau saya tidak sibuk, maka seringkali kami makan bersama-sama
sekalipun belum satu meja sebab mejanya kecil. Tetapi ingat! Apa yang kita makan
sehari-hari bukan karena saya, sebab saya tidak dapat menjamin kalau setiap
hari ada makanan, tetapi Kristus Ajaib Yang menjamin lewat Tangan kemurahanNYA
kalau kita banyak menangis kepadaNYA. Apapun yang mustahil sekalipun sudah gagal
total dapat mencapai puncak keberhasilan yaitu menjadi Mempelai. Luar biasa!
Hanya karena tangisan bayi dan juga karena Kristus Ajaib Yang mengulurkan Tangan
belas kasih dan kemurahanNYA kepada kita.
Mari! di dalam panggilan dan pengutusan TUHAN, jangan melepaskan Tangan belas
kasih TUHAN, kita banyak menyembah kepada TUHAN sampai pada keberhasilan tertinggi
menjadi Mempelai dan masuk dalam kerajaan surga apapun keadaan kita, TUHAN akan
menolong kita. TUHAN memberkati.
|