English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu, 10 Juni 2007)
Tayang: 23 Maret 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 23 September 2007)
Tayang: 25 Januari 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 27 Oktober 2013)
Tayang: 06 Arpil 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 25 Mei 2014)
Tayang: 09 Desember 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 06 Mei 2007)
Tayang: 11 Februari 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 20 Oktober 2013)
Tayang: 09 Februari 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 27 April 2014)
Tayang: 18 Oktober 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 18 Maret 2007)
Tayang: 24 Agustus 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 04 Februari 2007)
Tayang: 21 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 28 Januari 2007)
Tayang: 14 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Senin, 30 Desember 2007)
Tayang: 10 Maret 2010
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 11 November 2007)
Tayang: 26 Juli 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 12 Agustus 2007)
Tayang: 28 September 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 11 Februari 2007)
Tayang: 21 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 Maret 2014)
Tayang: 22 Maret 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 22 Juni 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 17 April 2016

Kita masih berada di dalam kitab Wahyu 1: 17-20. Kita membaca ayat 17-18.

Wahyu 1: 17,18,
17. Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
18. dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

Rasul Yohanes tersungkur di depan Kaki TUHAN seperti orang mati = menyembah TUHAN dengan hancur hati = menyembah TUHAN sampai daging tidak bersuara lagi, sehingga rasul Yohanes mengalami jamahan Tangan Kanan TUHAN. Kalau penyembahan kita berkenan kepada TUHAN atau kita dapat tersungkur di depan Kaki TUHAN = menyembah dengan hancur hati (hanya merasa tanah liat yang tidak layak, banyak kesalahan, tidak mampu, tidak berharga, hanya diinjak-injak) = menyembah TUHAN sampai daging tidak bersuara lagi = hanya mengasihi TUHAN lebih dari semuanya, maka kita akan menerima jamahan Tangan Kanan TUHAN seperti rasul Yohanes. Begitu dijamah oleh Tangan Kanan TUHAN, rasul Yohanes menerima tiga hal:

  1. "Jangan takut!" = melenyapkan ketakutan. Nanti ketakutan atau stres akan menjadi pembunuh utama baik:


    1. secara jasmani: jika takut atau stres, maka hormon dalam tubuh bekerja tidak baik, sehingga penyakit datang semuanya, bisa mati.
    2. terlebih secara rohani (lebih dahsyat lagi secara rohani): jika takut atau stres, maka kering rohani, sampai masuk kematian kedua atau kebinasaan.


    Kalau mendapatkan jamahan Tangan Kanan TUHAN, maka ketakutan akan lenyap (tidak ada ketakutan lagi).


  2. "Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir" = menerima kasih ALLAH, yaitu kasih mula-mula sampai puncaknya kasih (kasih Mempelai).
  3. "Aku yang mati dan yang hidup" = menerima kuasa kemenangan atas maut.

Jika penyembahan kita sungguh-sungguh, maka kita dapat tersungkur atau hancur hati, sampai mencapai ukuran yaitu daging tidak bersuara lagi seperti orang mati (tidak tahu apa-apa) => 'terserah TUHAN, yang penting saya mengasihi TUHAN', maka akan dijamah oleh Tangan Kanan TUHAN, sampai menerima kuasa kemenangan atas maut.

Jadi, YESUS sudah mati, tetapi bangkit untuk mengalahkan maut (menang atas maut) dan Dia memegang kunci maut dan kunci kerajaan maut, untuk menutup kerajaan maut (neraka, kebinasaan) bagi kita semuanya, supaya kita tidak binasa selamanya, tetapi kita menang atas maut bersama YESUS.

Jika kita sudah menang atas maut, maka YESUS memberikan kunci lain kepada kita, itulah kunci kerajaan surga.

Matius 16: 18, 19,
18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
19. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Ay 18 => 'alam maut tidak akan menguasainya' => menang atas maut, pintu kerajaan maut ditutup/dikunci, kemudian diberikan kunci yang lainnya (ay 19).

Jika kita menang atas maut, maka TUHAN memberikan kunci kerajaan surga kepada kita. Apa itu kunci kerajaan surga? Kita masih membahas dalam 2 Petrus 1, Petrus diberikan kunci kerajaan surga dan dia sebutkan kunci itu. Dalam ibadah sebelumnya kita sudah belajar tentang salib, itulah kunci kerajaan surga (dalam Kisah rasul). Untuk masuk kerajaan surga, kita harus mengalami banyak sengsara.

2 Petrus 1: 10, 11,
10. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
11. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Ay 11 => 'hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal' => hak penuh = kunci untuk masuk kerajaan surga.

Jadi kunci kerajaan surga adalah panggilan dan pilihan TUHAN untuk mengangkat kita menjadi imam-imam dan raja-raja yang beribadah melayani TUHAN sesuai jabatan pelayanan yang TUHAN percayakan/berikan kepada kita. Mari berdoa kepada TUHAN. Yang belum melayani berdoa kepada TUHAN, supaya dapat melayani (mempunyai jabatan pelayanan), sebab itulah kunci kerajaan surga. Yang sudah melayani (menerima jabatan pelayanan) harus berusaha dengan sungguh-sungguh, untuk setia dalam ibadah pelayanan sesuai jabatan pelayanan yang TUHAN percayakan kepada kita sampai garis akhir (sampai meninggal dunia atau sampai kedatangan TUHAN YESUS yang ke dua kali), sehingga kita dapat menerima kunci kerjaaan surga. Sesuai dengan jabatan pelayanan, contohnya: jika jabatan pelayanannya sebagai gembala, maka melayani sebagai gembala. jika jabatan pelayanannya sebagai penyanyi, maka melayani sebagai penyanyi. Mari, hari-hari ini kita belajar untuk setia.

Bukan jenis pelayanannya atau jabatan pelayanannya yang menentukan, apakah kita memegang kunci kerajaan surga atau tidak, melainkan kesetiaannya. Mungkin pelayanannya hanya bersih-bersih, tidak ada yang melihat, tetapi kalau itu memang jabatan pelayanan dari TUHAN, mari kita kerjakan dengan setia. Mungkin juga sebagai tim doa, tidak ada yang melihat, tetapi harus setia. Yang penting setia dan jangan seenaknya saja melayani TUHAN. Contohnya: zangkoor kalau menyanyi ada waktunya (sekitar jam setengah tujuh atau jam enam seperempat). Kalau zangkoor menyanyi jam setengah sembilan, nanti menyanyi sendirian. Melayani sebagai tim doa silahkan, tetapi ada jam-jam khusus untuk mendoakan pekerjaan TUHAN dengan setia. Saudara dapat mengambil waktu, jam berapa saja, tetapi harus dengan setia (sampai garis akhir).

Di dalam 1 Korintus 9: 24-25, kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk setia dan jangan sampai tersandung oleh apapun juga.

1 Korintus 9: 24, 25,
24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
25. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Ay 24 => 'Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah?' => pelayanan itu seperti perlombaan untuk mendapatkan kunci (mahkota). Hanya orang yang mempunyai mahkota, yang dapat masuk kerajaan surga. Kalau mempunyai kunci dan mahkota, maka kita dapat masuk kerajaan surga. Ibadah pelayanan merupakan suatu perlombaan (perjuangan), bukan malah 'lenggang kangkung'

Ay 25 => 'Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana' => kalau di dunia ini, untuk memperoleh mahkota yang fana.

Disini, beribadah dan melayani TUHAN adalah suatu perlombaan atau pertandingan untuk mendapatkan kunci kerajaan surga dan mendapatkan mahkota abadi (mahkota Mempelai). Kalau mempunyai kunci kerajaan surga dan mahkota, itulah yang dapat masuk surga. Dalam pertandingan tentu ada syarat-syaratnya supaya kita menjadi pemenang. Demikian juga dalam ibadah pelayanan.

Ada tiga syarat dalam perlombaan atau pertandingan, supaya kita mendapatkan kunci kerajaan surga dan mahkota abadi (mahkota Mempelai atau mahkota kerajaan surga):

  1. 'larilah begitu rupa' = berlari atau cepat, jangan jalan santai, sebab kita berlomba dengan waktu penghukuman TUHAN dan waktu kedatangan YESUS ke dua kali. Mari berlari atau cepat dalam melayani TUHAN, sebab penghukuman TUHAN seperti Lot keluar dari Sodom dan Gomora yang dikejar oleh api belerang. Jangan menunda-nunda waktu untuk melayani TUHAN dan jangan mempertimbangkan untuk melayani TUHAN (sebab kita berlomba dengan waktu penghukuman TUHAN dan waktu kedatangan TUHAN YESUS ke dua kali). Kecuali kalau melayani manusia, harus banyak pertimbangan => 'orang ini jahat atau tidak, boss ini pelit atau baik, kasar atau tidak, nanti aku dapat ditempeleng dll' Itu boleh. Tetapi kalau melayani TUHAN, tidak perlu banyak pertimbangan, sebab Dia adalah TUHAN Yang Baik, tidak pernah merugikan kita. Dia selalu berkorban untuk kita. Biarlah kita berdoa kepada TUHAN, supaya kita dapat belari dengan cepat.

    Mohon kepada TUHAN, supaya bisa mengambil keputusan dengan cepat, sehingga kita semuanya dapat melayani TUHAN. Jangan banyak pertimbangan untuk melayani TUHAN, sebab TUHAN itu Baik. Tidak perlu ragu terhadap TUHAN. Kalau kepada manusia kita dapat ragu, tetapi jangan meragukan TUHAN sedikitpun. Dia tidak akan merugikan kita, justru Dia sudah banyak berkorban untuk kita semuanya.


  2. 'berlomba dengan tekun' = harus tekun.
    Ibrani 12: 1, Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

    Tekun artinya tidak dapat dihalangi oleh apapun juga. Contohnya tekun belajar. Sekalipun ada pertandingan sepak bola dunia, tetap belajar. Jangan dihalangi! Kalau menonton, besok bisa tidak naik kelas. Ketekunan ini juga diuji, ada halangan dll.

    Bertekun ini dalam dua hal:


    • Ketekunan dalam pelayanan sesuai dengan jabatan pelayanan yang TUHAN percayakan kepada kita, sampai garis akhir. Contohnya: harus tekun dalam pelayanan baik sebagai gembala, sebagai penyanyi, pemain musik. Tekun dalam pelayanan sampai garis akhir; sampai meninggal dunia atau sampai TUHAN YESUS datang kembali ke dua kali. Ini seperti lomba lari sampai garis finish (garis akhir). Kalau di tengah jalan berhenti, bisa di diskualifikasi.


    • Ketekunan dalam kandang penggembalaan. Perhatikan!! saya selalu mengulang-ulang ini. Firman diulang ini untuk mengingatkan dan memantapkan kita untuk dapat bertindak. Kalau Firman diberikan kesempatan untuk diulang, berarti:


      1. Mengingatkan kita bagi yang sudah bertindak. Yang sudah mempraktikan Firman, akan diingatkan terus.
      2. Memberikan kesempatan bagi yang belum bertindak. Dimantapkan/ diyakinkan sampai berani bertindak/mempraktikan Firman.


    Ketekunan dalam kandang penggembalaan = ruangan suci tabernakel. Di dalam ruangan suci terdapat tiga macam alat, sekarang menunjuk ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok:


    • Pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya (hari Minggu seperti sekarang ini). Persekutuan dengan ALLAH Roh Kudus di dalam karunia-karunia-Nya (ada kesaksian, nyanyian).
    • Meja roti sajian: ketekunan di dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci (setiap hari Senin disini). Ini persekutuan dengan Anak ALLAH atau YESUS di dalam Firman pengajaran yang benar dan Kurban Kristus (roti). Roti menunjuk:


      1. Firman pengajaran. Pada meja roti sajian terdapat dua belas roti yang dibagi menjadi dua susun, masing-masing susun terdiri dari enam buah roti. Angka enam puluh enam menunjuk alkitab (Firman pengajaran yang benar).


      2. Tubuh Kristus.


      Lalu di mana darahnya? Meja roti sajian ini satu-satunya alat yang ada korban curahannya. Kita dapat membacanya dalam Keluaran 25, supaya kita dapat menerangkan => mengapa di dalam kebaktian pendalaman alkitab dan perjamuan suci?' Ini darimana, harus diterangkan ayat menerangkan ayat.

      Keluaran 25: 29, Haruslah engkau membuat pinggannya, cawannya, kendinya dan pialanya, yang dipakai untuk persembahan curahan; haruslah engkau membuat semuanya itu dari emas murni.

      Keluaran 25, mulai ay 23-30 ini mengenai meja roti sajian. Ay 29 => 'persembahan curahan' => persembahan curahan itu dari anggur.Jadi, ada rotinya itulah Tubuh Kristus dan ada anggur itulah Darah YESUS. Oleh sebab itu meja roti sajian, menunjuk kebaktian pendalaman alkitab dan perjamuan suci.


    • Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan (pada hari Rabu disini). Ini persekutuan dengan ALLAH Bapa di dalam kasih-Nya. Setiap berdoa menyembah TUHAN, kita memandang Wajah TUHAN yang menyinarkan matahari. Kita bisa merasakan kasih yang bagaikan matahari yang disinarkan = menghangatkan kita, membahagiakan kita, kita dapat hidup dalam terang (tidak dalam kegelapan).


    Di dalam ketekunan dalam kandang penggembalaan (ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok), maka tubuh, jiwa, roh kita bersekutu dengan ALLAH Tritunggal (ALLAH Bapa, Anak dan Roh Kudus) seperti carang melekat pada Pokok Anggur Yang Benar. Tubuh, jiwa dan roh sudah bersekutu dengan ALLAH Tritunggal, maka:


    • setan tidak memiliki tempat lagi untuk menjamah kita,
    • kita mulai mengalami ketenangan/damai sejahtera. Seperti nyanyian tadi tentang ketenangan,
    • semua enak dan ringan. Memang untuk masuk kandang penggembalaan itu berat bagi daging. Apalagi tadi kesaksian dari Pamekasan, ada juga yang dari Tuban , dll. Hari Minggu, Senin, Rabu datang, ini berat bagi daging, tetapi hidup kita merasakan enak dan ringan. Jangan ragu-ragu! Kalau di kandang penggembalaan, angin dan semuanya tidak dapat masuk. Kalau di halaman angin masih banyak yang dapat masuk. Di kandang penggembalaan, semuanya sudah di redam; tadinya pontang-panting, sekarang mulai tenang, enak-ringan, tertata rapi (pelan-pelan ditata oleh TUHAN).


    • pasti berbuah manis. Tinggal menunggu waktu, cepat atau lambat pasti berbuah manis. Biasanya banyak bunga-bunga yang rontok, terkena angin.
    • Kalau carang melekat pada Pokok Anggur, sudah tidak terkena angin dll (sudah mulai tenang), bunga-bunga akan menjadi buah yang manis. Ini pasti terjadi, cepat atau lambat kita akan mengalami buah yang manis di dalam TUHAN.


    Inilah syarat berlomba. Berlari atau cepat dan jangan lambat. Kemudian tekun; tidak dapat dihalangi oleh apapun. Tekun itu bukan berarti tidak ada halangan, salah! Tekun itu banyak halangan, tetapi tidak dapat dihalangi, baik tekun dalam pelayanan dan tekun dalam penggembalaan sampai berbuah manis.

    Setelah di dalam kandang penggembalaan, kita berbuah manis, enak dan semuanya diberkati, jangan menjadi egois dan harus ingat kandang yang lain.

    Yohanes 10: 16, Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

    Ay 16 => 'mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala' => satu tubuh dengan satu Kepala.
    Masih ada kandang yang lain. Sesudah kita digembalakan; sudah tenang, damai, semua enak-ringan, tertata rapi, berbuah manis, ada berkat dll, jangan egois, kita harus ingat kandang yang lain. Ini menunjuk persekutuan Tubuh Kristus antar penggembalaan. Istilah kita, yaitu ibadah kunjungan-kunjungan (kita mengunjungi kandang-kandang yang lain). Nanti, saya harus ijin ke Medan, untuk mengunjungi kandang-kandang yang lain. Kita akan berkumpul dengan kandang yang lain, berapa ratus hamba TUHAN akan berkumpul dengan jemaat-jemaat dari manapun. Inilah persekutuan antar penggembalaan. Semoga kita dapat mengerti.

    Sampai menjadi satu kawanan dengan Satu Gembala, satu tubuh dengan Satu Kepala = satu Tubuh Kristus yang sempurna (Mempelai Wanita) dengan Satu Kepala, itulah YESUS sebagai Mempelai Pria Surga. Kita selama-lamanya bersama dengan Dia. Sampai ke arah sana dan jangan egois. Kalau egois, berkat tidak akan dilimpahkan lagi oleh TUHAN. Seringkali satu bulan dua kali, kalau dihitung-hitung berapa? Di Medan saja sudah sembilan tahun. Satu tahun empat kali. Berarti kalau sembilan tahun, sebanyak tiga puluh enam kali, berapa biayanya ? Bahkan sampai di luar negeri. Kalau mau membeli gereja (yang jasmani), sebenarnya sudah cukup. Tetapi bpk pdt In Juwono selalu menekankan => 'yang lebih penting adalah pembangunan Tubuh Kristus yang rohani' Semoga TUHAN memberikan berkat, sehingga kita dapat membeli tanah, gereja. Ini kalau sudah dibutuhkan. Sekarang TUHAN menggerakkan pembangunan Tubuh Kristus.


  3. 'mata yang tertuju kepada Yesus' = mata selalu memandang kepada YESUS.
    Ibrani 12: 2, Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

    Ay2 => 'Marilah kita melakukannya' => melakukan perlombaan.

    Syarat yang ketiga, mata selalu memandang kepada YESUS:


    • Jangan memandang orang. Kalau memandang orang kita akan kecewa.
      Contohnya: Musa memandang orang. Waktu Musa melayani, lalu ada orang Israel bertengkar dengan orang Mesir, Musa menoleh kiri-kanan, saat tidak ada orang, Musa membunuh orang Mesir dan memasukkannya kedalam pasir. Ini munafik dan busuk. Kalau melayani TUHAN tetapi memandang orang, menjadi busuk


    • Jangan menoleh kebelakang, seperti isteri Lot. Akhirnya menjadi tiang garam yang tidak ada gunanya.


    Oleh sebab itu, mata harus tertuju kepada TUHAN. Kalau melayani tidak boleh menoleh kiri-kanan, hanya kalau menyeberang jalan, kita boleh melihat ke kiri-kanan. Kalau melayani tetapi menoleh kiri-kanan, dapat membunuh (benci, gosip dll) sampai ditutupi dengan pasir (munafik, busuk). Pandanglah TUHAN (Firman), tidak perlu memandang orang. Jangan menoleh kebelakang! Menoleh kebelakang = melihat dunia. Kalau melihat kebelakang, berarti mengandalkan dunia => 'berapa ini biayanya?' Akhirnya menjadi tiang garam; tidak ada gunanya, diinjak-injak, busuk. Tiang garam = garam yang tawar. Kalau garamnya tawar, maka busuk (tidak ada artinya). Satu saja, harus fokus kepada YESUS = mata tertuju kepada YESUS.

Ada dua hal yang menghalangi kita untuk menang dalam perlombaan (untuk mendapatkan mahkota abadi), antara lain:

  1. Ibrani 12: 1, Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

    Pertama: beban (dibelakang), artinya dosa-dosa yang sudah kita lakukan, sudah kita katakan, sudah kita pikirkan. Coba saja, yang lainnya lari biasa, kita lari dengan menggendong gula satu karung, akhirnya kalah (karena terus mempertahankan beban). Kita harus menanggalkan beban dosa, supaya menang dalam perlombaan. Dosa yang sudah dibelakang (beberapa tahun yang lalu), contohnya:


    • mungkin kita mengata-ngatain orang lain => 'begini-begini' Padahal salah.
    • kita sudah memfitnah orang lain => 'begini-begini' Padahal salah.
    • dosa mencuri beberapa tahun yang lalu.


    Itulah ada beban dibelakang, sebab itu pelayanan kita tidak dapat maju (berlari terlalu berat). Terutama kami sebagai hamba TUHAN, gembala-gembala, pelayan TUHAN. Kalau banyak beban dibelakang, akan susah melayani TUHAN, sebab terlalu berat. Lebih baik semuanya tanggalkan beban.

    Bagaimana prosesnya atau caranya? Mudah saja, kalau kita bersalah mengaku dosa kepada TUHAN (vertikal) dan kepada sesama (horizontal) dengan sejujur-jujurnya. Kalau bersalah kepada TUHAN, mengaku dosa kepada TUHAN. Kalau bersalah kepada sesama, mengaku dosa kepada sesama. Jika diampuni, jangan berbuat dosa lagi = hidup dalam kebenaran. Kalau sudah hidup benar, berarti tidak ada beban lagi dan kita sudah siap untuk berlomba.

    Kalau masih ada beban, akan sulit dan kita tidak mungkin menang dalam perlombaan. Sekalipun dia pelari dunia seratus meter (tercepat sembilan- sepuluh detik), tetapi dengan menggendong gula seratus kilogram, saya berani bertanding melawan dia, karena dia berlari dengan menanggung beban. Dia tidak akan menang. Demikian juga kita, kalau kita tetap mempertahankan dosa, maka perlombaan tidak akan kita menangkan.

    Mari, kita mengaku dosa dengan sungguh-sungguh. Apa yang sudah kita lakukan, katakan, pikirkan dahulu, mari kita akui semuanya baik kepada TUHAN dan kepada sesama, terutama mulai dari dalam rumah tangga (kepada sesama yang terdekat). Tubuh Kristus dimulai dari:


    • rumah tangga:


      1. antara suami dan isteri. Mengapa harus bertahan kepada beban? Apa dua-duanya mau gagal atau salah satu yang gagal. Kalau suami gagal, besok isteri bertepuk tangan => 'aku memakai mahkota, masuk ke surga, suamiku di neraka, bagus' Masa senang. Biarlah kita saling mengaku dan saling mengampuni.


      2. antara anak dengan orang tua,
      3. antara kakak dengan adik. Mari, saling mengaku. Kalau bersalah, mudah saja, tinggal mengaku. Apa salah saya (tunjukkan salah saya) dan mengaku, sudah beres. Semoga kita dapat mengerti.


    • kemudian, di dalam penggembalaan mari saling mengaku.
    • antar penggembalaan (antar gereja, antar hamba TUHAN), mari saling mengaku. Beres semuanya. Jika beban sudah dilepaskan, kita siap untuk memenangkan perlombaan. Semoga kita dapat mengerti.


    ??Kalau benar, kita siap mengampuni dosa orang lain dan melupakannya. Sebab ini juga dapat menjadi beban, kita jangan salah. Contohnya: isteri mungkin sakit hati kepada suami => 'sampai kapanpun aku ingat dosanya' kita yang rugi, sebab suaminya yang berbuat dosa, dia yang menanggung bebannya. Demikian juga suami => 'sampai kapanpun aku tidak akan lupa' Isterinya yang berbuat dosa, dia yang menggendong gula (tidak mencapai mahkota kemuliaan, tidak mendapatkan kunci kerajaan surga). Ini sangat rugi.

    Marilah kita mengampuni. Kalau berat mengampuni, ingat => 'kalau YESUS tidak mengampuni dosa saya, tidak melupakan dosa saya dari kecil sampai dengan sekarang, tidak akan dapat menjadi hamba TUHAN. Kalau YESUS tetap mengingat dosa kita yang terlalu najis, terlalu kotor maka kita tidak akan dapat menjadi hamba TUHAN. Karena Dia sudah melupakan dosa kita, maka kita dapat melayani TUHAN.

    Mari kita saling mengaku dan mengampuni. Inilah yang pertama, yang bisa merintangi sampai menggagalkan perlombaan kita.


  2. Ibrani 12: 1, Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

    Kedua: dosa yang merintangi kita (menjerat di depan).

    Jerat dosa dipasang pada:


    • Tempat-tempat dimana kita biasa beraktivitas. Misalnya: kita mempunyai pohon di depan rumah, lalu ada burung tiap malam disitu => 'oo di dahan yang sana (tahu), dia kalau tidur jalannya dari situ ke situ' Dipasanglah jerat disitu, pasti kena. Jerat dipasang di tempat biasa kita beraktivitas, bisa dimana saja, contohnya:


      1. seorang direktur setiap pagi melewati meja sekretarisnya, dipasanglah jerat di meja sekretarisnya. Hati-hati! Biarpun sama-sama sudah menikah atau belum menikah harus berhati-hati, sebab setan selalu memasang jerat. Jangan pikir, tidak mungkin! Ini dapat saja terjadi.


      2. dalam pelayanan juga dapat dipasang jerat. Saya selalu mengatakan, kita baru berkhotbah, lalu ada yang memuji => 'terima kasih untuk khotbahnya, luar biasa, saya puas' Sudah terjerat. Saya selalu ingat perkataan bpk pdt Pong => 'pengerja baru satu kali disuruh berkhotbah, kemudian jemaat berterima kasih. Akhirnya dia sudah merasa hebat dari gembalanya yang sudah berpuluh-puluh tahun berkhotbah' Coba suruh dia untuk beberapa kali berkhotbah, nanti tidak akan bisa. Jangan, sebab disitu ada jerat.


      3. dalam pekerjaan, sekolah (study) dll.


      Semuanya dipasang jerat pada tempat dimana kita biasa beraktivitas, sampai kita tertarik (ada perhatian khusus), berarti kita sudah terjerat. Disitulah jerat dosa dipasang.


    • Dipasang di hati kita. Kalau sudah sampai di hati, maka jerat dosa atau jaring dosa sudah menjadi ikatan dosa. Tadi, jerat dosa dipasang di tempat dimana kita biasa beraktivitas, kalau sudah tertarik, maka jerat dosa dipasang di hati kita, sampai menjadi ikatan dosa.

      1 Timotius 6: 9, 10,
      9. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
      10. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.


    Jerat dosa/jaring dosa/ikatan dosa, terutama ikatan akan uang (keinginan akan uang). Inilah yang berbahaya! Keinginan akan uang adalah akar dari kejahatan dan sepasang dengan dosa kenajisan (ikatan kenajisan). Ikatan akan uang membuat kita:


    • kikir: tidak dapat memberi atau egois,
    • serakah: merampas hak orang lain, terutama hak TUHAN, itulah persepuluhan dan persembahan khusus. Merampas haknya sesama lewat hutang tidak membayar, menipu.


    Hati-hati, kalau ada akar kejahatan, ada juga akar kenajisan. Bagaimana caranya supaya dapat terlepas dari jerat dosa atau jaring dosa. Tadi, kalau mau terlepas dari beban dosa, saling mengaku dan mengampuni. Selesaikan dosa dan hidup benar, beres! Beban sudah hilang dan siap untuk berlomba, sampai menang dalam perlombaan. Sekarang, setan memasang jerat dosa di depan, bagaimana supaya kaki kita dapat terlepas dari jaring dosa?

    Mazmur 25: 15, Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.

    Jadi, mata harus tertuju kepada TUHAN. Kita menghadapi jerat dosa; dosa kejahatan (ikatan akan uang) dan dosa kenajisan sampai seperti zaman Nuh (dosa makan minum dan kawin mengawinkan). Inilah yang dipasang oleh setan, untuk menghantam pelayanan hamba TUHAN, anak-anak TUHAN. Kalau melayani TUHAN, tetapi menipu sesama, hutang tidak membayar, mencari uang dengan tidak halal, itu sudah terjerat dan tidak dapat menang dari lomba. Oleh sebab itu saya bersyukur, sebagai hamba TUHAN di didik nomor satu soal uang. Saya sudah bersaksi berulang kali => 'dulu saya masih pengerja, kalau disuruh berkhotbah kemana-mana tidak diberikan ongkos, tidak boleh ambil kolekte' Bukan berarti bpk pdt Pong pelit, bukan! Setelah di didik saya diberikan uang juga; inilah di didikan supaya tidak terikat pada uang. Kalau sudah ada jerat kejahatan (uang), jerat kenajisan akan dipasang juga, sehingga kita dapat jatuh. Hati-hati terhadap dua ini; kejahatan (uang) dan kenajisan. Hati-hati, kaum muda dalam melayani. Semoga kita dapat mengerti.

    Bukan hanya orang muda, yang sudah menikah pun juga harus berhati-hati. Ada kesaksian dari seseorang => 'dulu saya melayani TUHAN begitu semangat (kalau tidak ada Firman, berarti semangat daging), dapat mendatangkan hamba TUHAN darimana-mana, bahkan dari luar negeri, sampai ribuan. Tetapi akhirnya saya jatuh (dia mengaku). Untunglah saya bertemu dengan Firman pengajaran, sehingga pelayanan saya diangkat dan ditolong kembali' Kalau disaksikan, pelayanannya memang luar biasa, tetapi semakin luar biasa dihadapan manusia, jatuhnya semakin dalam. Ini karena tidak ada pengajaran, tidak ada kekuatan dari TUHAN dan terjerat. Semoga kita dapat mengerti.

Sekarang ini kita harus sungguh-sungguh berhati-hati. Bagaimana supaya kita dapat terlepas dari jerat dosa atau jaring dosa? Mata harus tertuju kepada YESUS = mata hanya memandang kepada YESUS = perhatian hanya tertuju kepada YESUS. Jangan kepada yang lain!

Ada dua kali kesempatan besar, supaya mata kita tertuju kepada TUHAN:

  1. Saat pemberitaan Firman nubuat = Firman pengajaran yang benar = cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus = Kabar Mempelai. Pada saat-saat mendengarkan Firman, maka mata ini harus selalu diarahkan kepada TUHAN. Sebab itu harus ada Firman dalam pelayanan. Semoga kita dapat mengerti.

    2 Petrus 1: 19, Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

    Ay 19 => 'firman yang telah disampaikan oleh para nabi' => Firman nubuat, yaitu memberitakan yang akan datang atau yang belum terjadi, tetapi pasti terjadi, tentang penghukuman, dan terutama tentang kedatangan YESUS sebagai Mempelai Pria Surga. Sebab itu juga disebut sebagai Kabar Mempelai (Firman pengajaran).

    Kita harus memperhatikan Firman pengajaran yang benar. Firman pengajaran yang benar merupakan Pribadi TUHAN. Firman pengajaran yang benar: tertulis dalam alkitab, tidak ada yang bertentangan dengan alkitab. Kita harus memperhatikan Firman pengajaran yang benar, artinya:


    • mendengar. Mendengar dengan sungguh-sungguh, dengan suatu kebutuhan, seperti melihat pelita di tempat yang gelap. Misalnya: kalau tempat ini gelap, lalu saya mengeluarkan uang berapapun jumlahnya, tidak akan ada gunanya, sebab tidak dapat dilihat. Tetapi kalau saya membawa lilin kecil di tempat yang gelap, semuanya akan tertuju kesini. Itulah mendengar Firman dengan suatu kebutuhan dan kita tidak akan pernah merasa bosan.


    • dengar-dengaran = mempraktikan Firman.


    Kalau mendengar Firman dengan suatu kebutuhan (sungguh-sungguh) dan dengar-dengaran, maka kita akan mengalami penyucian hati dari segala jerat dosa, ikatan dosa. Dari hati kita yang disucikan akan memancarkan/menghasilkan terang yang semakin membesar. Jadi, saat-saat kita mendengarkan Firman semacam ini, hati disucikan dari kejahatan, kenajisan dan dari semuanya.

    Kalau yang gelap sudah bersih (jerat dosa, ikatan dosa dalam hati sudah bersih), maka hati kita akan memancarkan terang yang semakin membesar, mulai:


    • terang/pelita di dalam rumah tangga:


      1. suami menjadi pelita: mengasihi isteri seperti diri sendiri (bukan kalau penghasilannya besar), tidak berlaku kasar kepada isteri dan menjadi teladan.
      2. isteri tunduk kepada suami dalam segala sesuatu (bukan isteri bisa ini dan itu).
      3. anak-anak taat dengar-dengaran. Inilah menjadi terang dalam rumah tangga. Sekalipun anak penghasilannya besar, tetapi kalau tidak taat, itu tidak menjadi terang. Jadi, anak menjadi terang dalam rumah tangga, kalau ia taat dengar-dengaran.


    • lebih membesar lagi, menjadi bintang-bintang yang terang.
      Daniel 12: 3, Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

      Menjadi bintang-bintang yang terang, artinya kehidupan yang dipakai oleh TUHAN, untuk menjadi saksi TUHAN:


      1. menuntun jiwa-jiwa kepada keselamatan di dalam YESUS. Ini bagi yang belum percaya YESUS, dapat percaya kepada YESUS. Banyak jiwa-jiwa yang belum percaya YESUS, harus dituntun kepada keselamatan.


      2. menuntun jiwa-jiwa kepada kesempurnaan (pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna). Ini bagi kehidupan yang sudah percaya YESUS. Yang sudah selamat, bawa kepada pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna.


      3. sampai kita menjadi bintang timur yang bercahaya = kehidupan yang sempurna seperti YESUS. YESUS adalah bintang timur.


    Inilah mata memandang TUHAN. Pandanglah Firman, jangan yang lainnya. Jangan seperti Musa dan isteri Lot, nanti rugi. Musa melihat pendapat sana-sini, kacau! Pandanglah Firman pengajaran yang benar (YESUS); kita disucikan dalam hati dan memancarkan terang yang semakin besar; terang pelita dalam rumah tangga, terang bintang, sampai terang bintang timur, itulah kehidupan yang sempurna seperti YESUS (Mempelai Wanita TUHAN yang layak untuk menerima mahkota Mempelai/mahkota abadi/kunci kerajaan surga).

    Berdoa kepada TUHAN, supaya setiap ibadah ada pembukaan Firman, sehingga kita dapat memandang YESUS. Mungkin kita sudah ditarik untuk memandang kemana-mana, mari di setiap ibadah, kita dapat memandang YESUS. Jangan terpengaruh dengan dunia (dibelakang).


  2. Saat menghadapi angin dan gelombang = pencobaan-pencobaan, masalah-masalah yang mustahil, yang tidak dapat diselesaikan oleh apapun juga. Jika TUHAN mengijinkan kita menghadapi angin dan gelombang, bukan maksud TUHAN supaya kita kecewa dan berharap yang lainnya, bukan! Tetapi supaya mata kita tertuju kepada TUHAN. Itulah maksud dari TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.

    Matius 8: 23-26,
    23. Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.
    24. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.
    25. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."
    26. Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

    Ay 24 => 'Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu'
    Ingat, angin dan gelombang itu datangnya sekonyong-konyong (tadi, lautnya begitu tenang, tahu-tahu datang angin ribut), artinya tidak dapat diperkirakan oleh manusia siapapun juga. Contohnya: perusahaan sudah enak, tahu-tahu habis. Keuangan kita enak, tahu-tahu habis. Pelayanan enak, tahu-tahu habis. Angin dan gelombang datangnya sekonyong-konyong, tidak tahu kapan. Bagaimana cara menanggulanginya? kita harus setia dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN = YESUS selalu ada di perahu kita. Inilah yang penting! Tidak peduli lagi, mau ada tsunami dll, kalau YESUS ada dalam perahu kehidupan kita, kita tidak mungkin tenggelam. Jadi, tenggelam atau tidaknya perahu kehidupan kita tidak tergantung pada besar-kecilnya angin dan gelombang, tetapi tergantung ada atau tidaknya YESUS dalam perahu kehidupan kita = tergantung kepada kita setia atau tidak. Kalau tidak setia, kita sudah kalah dan tenggelam. Semoga kita dapat mengerti dihari-hari ini.

    Jangan malah mau melawan angin dan gelombang. Profesor siapapun juga, tidak akan mampu. Dalam menghadapi angin gelombang, yang penting undanglah YESUS masuk kedalam perahu kehidupan kita (kita setia dalam ibadah pelayanan). Semoga kita dapat mengerti.

YESUS dalam keadaan tidur di perahu. YESUS tidur artinya mati di kayu salib. Kemudian, YESUS bangun artinya YESUS bangkit untuk menjadi Imam Besar Yang duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa. Inilah yang kita pandang! Dalam Ibrani 2 'mata kita tertuju kepada Dia yang duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa'

Ibrani 2: 17, 18,
17. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.
18. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Ay17 => 'supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa' => YESUS menyelesaikan dosa dan Dia sebagai Imam Besar yang setia.

Jadi, YESUS sebagai Imam Besar Yang duduk di sebelah kanan ALLAH Bapa setia = selalu mengulurkan Tangan-Nya yang setia dan bebelas kasih untuk:

  1. menyelesaikan dosa kita terlebih dahulu = mendamaikan atau mengampuni dosa. Selesaikanlah dosa-dosa. Kalau ada dosa, Dia tidak dapat berbuat apapun untuk kita, sebab dosa itu yang menjadi penghalang.


  2. untuk menolong = dapat menolong kita dari segala masalah, sampai masalah yang mustahil. Istilah 'dapat' berarti tidak ada yang tidak dapat, bahkan sampai yang mustahil pun Dia dapat lakukan. Inilah sikap TUHAN atau dari pihak TUHAN. Dia sudah rela tidur dan bangun = mati dan bangkit untuk menjadi Imam Besar Yang selalu mengulurkan Tangan-Nya Yang setia dan berbelas kasihan. Semoga kita dapat mengerti.

Sikap TUHAN sudah jelas, mati dan bangkit. Sekarang bagaimana sikap kita?
Petrus dan murid-murid lainnya, saat YESUS tidur dibiarkan saja => 'YESUS tidak penting (YESUS yang mati tidak penting)' Seringkali kita begitu. Yang penting => 'ini pengalaman saya. Menghadapi angin gelombang saya berpengalaman' Petrus sudah biasa berada ditengah lautan, saat ada angin gelombang => 'turunkan layar, buang ini' Tetapi tetap tidak bisa, karena salah perhatian.

Petrus dan murid-murid lainnya menghadapi angin dan gelombang dengan sibuk memandang yang lain (mengandalkan yang lain). Demikian juga kita. Saya mengajarkan siswa Lembaga Pendidikan El-Kitab Kristus Ajaib, seringkali saya katakan => 'nanti teman sebangku yang disalahkan' Saya sudah pernah disalahkan orang => 'kamu sombong, tidak ingat temanmu dulu yang sebangku dll' Saya bertanya => kapan kita bertemu? Waktu saya kunjungan ke daerahmu kamu datang'? Ia menjawab => 'tidak' Lalu bagaimana bertemu? Saya heran, karena sudah dicap sombong.

Saya diundang orang untuk berkhotbah ke daerahnya (disitu lima kali khotbah), tetapi dia tidak pernah datang. Setelah datang di GPT, lalu bertemu dia bilang => 'kamu sombong, tidak ingat temanmnu ...' Tetapi saya tetap salah, dimana-mana dibilang => 'sombong' Sebab seringkali manusia itu memandang orang. Ini kesalahan besar!

Dalam mengadapi angin gelombang, kita seringkali sibuk memandang (mengandalkan) yang lain, yaitu:

  1. manusia siapapun dia: teman sebangku, teman kuliah. Seringkali kita berharap kepada manusia.
  2. kepandaian, kekayaan, pengalaman dll.

Itu semuanya sia-sia, tidak berguna dan hanya mempercepat tenggelamnya perahu. Coba saja, kalau perahu sudah terkena angin gelombang, lalu kita berlari-lari mencari bantuan kemana-mana, perahu itu akan bertambah tenggelam. Pada tahun mungkin tahun 80' an dan masuk koran. Di daerah Wonokromo atau dimana, yang rakit tenggelam dan banyak yang mati. Rakitnya mengangkut banyak penumpang, rakitnya goyah, lalu semua lari, akhirnya tenggelam dan banyak yang mati. Kalau banyak bergerak, mempercepat tenggelam. Semoga kita dapat mengerti.

Yang benar adalah kita harus memandang atau memperhatikan YESUS Yang sedang tidur. Untunglah sebelum tenggelam, pandangannya masih sempat berubah, perhatiannya tertuju kepada YESUS yang sedang tidur. Sekarang ini mungkin kita diijinkan menghadapi angin gelombang dalam bentuk keuangan, kesehatan, dalam pelayanan, dalam bentuk apa saja => 'aduh terasa berat'

Maksud dari TUHAN, supaya kita kembali kepada YESUS Yang sedang tidur. Yang sekarang ini kita sombong-sombong => 'melihat orang, menyalahkan orang' Mari, kembali kepada YESUS Yang sedang tidur (kembali kepada YESUS Imam Besar).

Hanya ini saja kuncinya!

Jadi, kita harus memandang atau memperhatikan YESUS Yang sedang tidur = memandang YESUS Imam Besar = memperhatikan kemurahan TUHAN (belas kasih Imam Besar). Kembalilah kepada belas kasih Imam Besar.

Bagaimana caranya kembali kepada belas kasih Imam Besar?

  1. Mengaku dosa => 'TUHAN tolong, kami binasa' Bukan menjadi marah dan menyalahkan orang => 'TUHAN mengapa tidak menolong? Kita ini murid-murid-Mu mengapa tidak dibela?' Jika seperti ini, kita akan langsung tenggelam. Tetapi kalau mengaku => 'kalau tidak Engkau tolong, kami akan binasa' Inilah mengaku dosa-dosa. Jika diampuni jangan berbuat dosa lagi dan hidup benar.


  2. Tenang dan damai sejahtera ('dimana ada kebenaran ada ketenangan') = tidak bimbang, tidak ragu kepada TUHAN, tetapi percaya sepenuh kepada TUHAN.
  3. Menyeru Nama YESUS (menyembah TUHAN) dengan iman.

Jika sudah mengaku dosa, tenang (damai), menyeru Nama YESUS dengan iman = mengulurkan tangan kepada TUHAN dan TUHAN (Imam Besar) mengulurkan Tangan-Nya Yang setia dan berbelas kasihan kepada kita untuk meneduhkan angin dan gelombang:

Jika lautan teduh, maka:

  • semuanya menjadi enak dan ringan. Mau apa saja enak dan ringan (seperti kapal melaju dengan enak dan ringan),
  • semuanya selesai = semua masalah diselesaikan oleh TUHAN.
  • ada masa depan yang berhasil dan indah (kapal kita dapat melaju ke depan),
  • kita menuju ke arah pelabuhan damai sejahtera (pelabuhan Yerusalem Baru). Kalau lautnya sudahg tenang, kapal tidak mungkin dibelokkan. Kalau anginnya kencang, mau ke arah lurus, sudah berbeda arahnya. Kalau lautnya teduh, maka arahnya jelas, yaitu ke pelabuhan damai sejahtera (Yerusalem Baru).

Matius 8: 27, Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"
Menuju pelabuhan Yerusalem Baru, artinya kita mengalami pembaharuan atau keubahan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti YESUS, yaitu mulai taat dengar-dengaran. Bayangkan saja, angin dan gelombang dapat taat kepada TUHAN, ikan yang menelan Yunus dapat taat kepada TUHAN. Saat TUHAN memerintahkan => 'hai ikan muntahkan' Akhirnya Yunus dimuntahkan. Maaf, kalau angin dan ikan dapat taat, betapa TUHAN mengeluh kalau hamba TUHAN, pelayan TUHAN tidak taat. Biarlah saat ini terjadi pembaharuan.

Sebab kalau masih ada Firman, berarti masih ada kesempatan untuk memandang TUHAN, supaya kita menjadi terang. Sekalipun ada angin dan gelombang, jangan berputus asa, sebab ada kesempatan untuk memandang TUHAN. Semuanya menjadi teduh dan kita dapat taat dengar-dengaran. Jadikan ini pengalaman (soal angin dan gelombang) => 'dulu saya tidak taat, saya dihantam angin gelombang' Sekarang, biarlah kita taat dengar-dengaran. YESUS taat sampai mati di kayu salib. Kita taat dengar-dengaran sampai daging tidak bersuara lagi (tirai terobek). Jika YESUS datang kembali ke dua kali, kita diubahkan menjadi sama dengan Dia (sempurna seperti Dia), yaitu kita menjadi Mempelai Wanita yang siap untuk menerima mahkota Mempelai (kunci kerajaan surga). Kita dapat masuk kerajaan surga untuk selama-lamanya.

Sekarang ini mari berubah, menjadi taat. Saat ditengah gelombang, jangan pandang yang lain, jangan sibuk dengan yang lain, tetapi pandanglah YESUS Yang sudah mati dan bangkit, Yang sudah taat sampai mati di kayu salib, sampai Dia menjadi Imam Besar. Pandanglah Dia saja; mengaku dosa, tenang-damai sejahtera, jangan ragu, jangan bimbang sedikitpun terhadap pengajaran yang benar/Pribadi YESUS, biarpun orang mengatakan apa saja, terserah => 'pengajarannya begitu, biar nanti dia saja yang masuk surga sendiri'.Dulu saya marah, kalau ada yang mengatakan seperti itu, tetapi sekarang senang. Biarkan saja, yang penting kita tidak ragu terhadap pengajaran yang sudah kita terima.

Saya sudah menerima Firman pengajaran, digembalakan bpk pdt In Juwono selama tiga tahun, digembalakan bpk pdt Pong selama tiga belas tahun dan menjadi muridnya tujuh bulan. Itu sudah cukup dan saya tidak mau kalau pengajarannya diubah sedikitpun. Tetap berpegang teguh kepada pengajaran yang benar, pandanglah Pribadi TUHAN dan menyeru kepada TUHAN. Kita mengulurkan tangan kepada TUHAN dan TUHAN mengulurkan Tangan kepada kita, sampai semuanya menjadi teduh.

Mari taat dengar-dengaran dihari-hari ini. Mengulurkan tangan kepada TUHAN, itu juga berarti taat dengar-dengaran kepada TUHAN dan TUHAN akan mengerjakan semuanya bagi kita. Itulah kunci kerajaan surga. Dalam ibadah pelayanan kita berlomba, berjuang. Mari, lari cepat! Berjuang itu harus cepat dan jangan lambat-lambat. Berjuang itu juga tekun dan mata selalu memandang kepada YESUS. Ada dua kali kesempatan memandang YESUS yaitu lewat Firman dan lewat angin gelombang (pencobaan-pencobaan). TUHAN tidak akan membiarkan kita, TUHAN tolong kita. Kita menyeru Nama TUHAN.

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 17-18 Januari 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • 31 Januari 2018 - 01 Februari 2018
    (Ibadah Kunjungan di Manado)

  • 13-15 Februari 2018
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top