English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu Sore, 08 Juni 2014)
Tayang: 21 Februari 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 14 Oktober 2007)
Tayang: 03 Mei 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 17 Agustus 2014)
Tayang: 05 November 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Senin, 20 Januari 2008)
Tayang: 10 Maret 2010
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 16 Februari 2014)
Tayang: 01 Februari 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 06 Oktober 2013)
Tayang: 19 Januari 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 Februari 2014)
Tayang: 14 Desember 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 08 Desember 2013)
Tayang: 30 Juni 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 15 April 2007)
Tayang: 01 Desember 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 17 Februari 2008)
Tayang: 15 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 25 November 2007)
Tayang: 06 September 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 07 Januari 2007)
Tayang: 28 April 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 01 Juli 2007)
Tayang: 03 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 17 Agustus 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 05 November 2016

Kita masih berada di dalam kitab Wahyu 2 dan 3, ini tentang tujuh kali percikan darah di depan tabut perjanjian = tujuh surat yang ditujukan kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir, sekarang artinya penyucian terakhir yang dilakukan oleh TUHAN kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir, supaya menjadi sempurna, tidak bercacat cela seperti TUHAN. Tujuh sidang jemaat bangsa kafir, yang pertama adalah sidang jemaat di Efesus (Wahyu 2: 1-7).

Wahyu 2: 4, 5,
4. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Ay 4 => 'karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula' => kasihmu yang mula-mula.

Penyucian terakhir terhadap sidang jemaat Efesus, yaitu sidang jemaat Efesus meninggalkan kasih yang mula-mula (kehilangan kasih yang mula-mula). Kasih mula-mula = kasih ALLAH di dalam Kurban Kristus (salib Kristus). Tentang kasih mula-mula ini sudah kita pelajari. Jika meninggalkan kasih mula-mula, akibatnya adalah kaki dian diambil dari tempatnya (ay 5) = gelap (hidup dalam kegelapan). Dalam ibadah yang lalu kita sudah mempelajari, hidup dalam kegelapan = buta secara rohani. Sidang jemaat bangsa kafir, banyak yang buta secara rohani. Dalam Matius 20: 29-34, tentang orang buta.

Matius 20: 29-34
29. Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.
30. Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!"
31. Tetapi orang banyak itu menegor mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!"
32. Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?"
33. Jawab mereka: "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat."
34. Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Disini disebutkan ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan, sekarang artinya orang yang buta secara rohani = beredar-edar, jalan-jalan (Kristen jalanan, hamba TUHAN jalanan, pelayan TUHAN jalanan) = tidak tergembala. Inilah salah satu ciri kebutaan rohani atau salah satu keadaan orang yang buta rohani.

Tanda-tanda kehidupan yang di pinggir jalan atau tidak tergembala, yaitu

  1. Bagaikan benih yang jatuh di pinggir jalan.
    Bagaikan benih yang jatuh di pinggir jalan, artinya


    • Matius 13: 3, 4, 19,
      3. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
      4. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
      19. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.

      Ay 19 => 'Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga' => pengajaran Mempelai dalam terang tabernakel. Kerajaan sorga = tabernakel. Saya selalu mengatakan memang ada perumpamaan, tetapi perumpamaan tentang kerajaan sorga, bukan sembarangan.

      Arti pertama: tidak mengerti bahkan tidak mau mengerti Firman ALLAH / Firman pengajaran yang benar (terutama Firman pengajaran Mempelai dalam terang tabernakel atau Kabar Mempelai). Sudah tahu mana yang tidak boleh, tetapi tidak mau tahu, jawabannya hanyalah => 'masa tidak semua masuk surga?' Ini dapat terjadi yaitu satu dunia semuanya tidak dapat masuk surga.


    • Lukas 8: 5, 12
      5. "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.
      12. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

      Arti kedua: tidak percaya pada Firman pengajaran yang benar (Firman pengajaran Mempelai dalam terang tabernakel). Kalau tidak mengerti, maka tidak akan dapat percaya. Jika digabungkan, jadi keadaan orang yang buta, yaitu tidak mengerti dan tidak percaya = tidak dapat melihat cahaya injil tentang Kemuliaan Kristus (Firman pengajaran yang benar atau Firman pengajaran Mempelai dalam terang tabernakel).


    Mengapa tidak dapat mengerti dan tidak dapat percaya kepada Firman pengajaran yang benar (tidak dapat melihat cahaya injil tentang kemuliaan Kristus)?


    • Sebab hatinya bagaikan di pinggir jalan = hatinya mengembara (orangnya mungkin beribadah di dalam rumah TUHAN, tetapi hatinya dimana-mana) = tidak konsentrasi atau memikirkan hal-hal lain di saat mendengarkan Firman. Kalau saat menyanyi dan sebagainya tidak akan diganggu (burung datang saat penaburan benih). Hati-hati, waktu menyanyi akan dibiarkan bebas, tetapi saat mendengarkan Firman, burung-burung akan datang. Semoga kita dapat mengerti.

      Mungkin ada pengalaman-pengalaman dari saudara. Saat menyanyi sudah lupa => 'kompor hidup atau mati tadi' Tetapi saat mendengarkan Firman mulai deg-degan => 'aduh, kompor hidup atau mati' Ini sama dengan rohani kita mati atau hidup. Jadi waktu pemberitaaan Firman akan digoda, supaya kita tidak mengerti dan tidak percaya kepada Firman.


    • Sebab kakinya selalu mengembara (tidak tergembala), sehingga mengalami kebimbangan. Kalau hatinya bimbang, maka tidak akan dapat percaya. Kakinya selalu mengembara (tidak tergembala), karena mendengarkan ajaran-ajaran lain. Kalau mendengarkan satu pengajaran (satu pokok), tidak akan mengembara. Saya selalu mengungkapkan dengan gampang, kalau hamba TUHAN mendengar disini => 'begini', lalu mendengarkan disana ?'begitu' Nanti jika hendak berkhotbah jadi bingung => 'begini-tu' Jemaat tidak akan mengerti dan tidak percaya (hanya menimbulkan kebimbangan-kebimbangan). Semoga kita dapat mengerti.


    • Menginjak-injak Firman pengajaran yang benar ('benih diinjak-injak') = menghina Firman pengajaran yang benar, yaitu


      • Bosan terhadap Firman pengajaran yang benar,
      • Merasa sudah tahu. Saya selalu dinasihati oleh guru saya => 'kalau membaca Firman itu seperti tidak tahu' Padahal kitab Kejadian ini sudah dibaca berulang kali. Bertahun-tahun, sudah berpuluh-puluh kali dibaca. Paling tidak, setahun dua kali membaca perjanjian lama, perjanjian baru minimal tiga kali. Tetapi saat membaca merasa tidak tahu, disitulah TUHAN akan memberikan ungkapan-ungkapan. Kalau sudah merasa tahu, tidak akan bisa. Apalagi mendengar Firman => 'oo saya sudah tahu' Tidak akan terungkap, bahkan sampai tidak mengerti dan tidak percaya. Semoga kita dapat mengerti.


      • Mengkritik Firman pengajaran yang benar. Mengapa kita mengkritik Firman pengajaran yang benar? sebab tidak sesuai dengan keinginan dagingnya.

        Contohnya: keinginannya A, Firman B, dia mulai => 'Itu terlalu, tidak ada kasih ...' Inilah tidak sesuai dengan keinginannya; tidak sesuai dengan kepentingan dagingnya, tidak sesuai dengan kehendak dagingnya (bertentangan). Banyak yang mengkritik, padahal Firmannya benar. Memang Firman pengajaran yang benar/Kabar Mempelai/Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua itu sakit bagi daging. (kepentingan, kehendak, keinginan dagingnya dipotong). Seringkali banyak yang tidak mampu, sehingga banyak yang mengkritik.


      • Mengantuk saat mendengarkan Firman pengajaran yang benar. Inilah menginjak-injak benih, sehingga tidak bertumbuh (tidak mengerti dan tidak percaya). Sekali lagi saya ulangi, mengantuk di rumah saat menonton televisi berbeda dengan mengantuk saat mendengarkan Firman. Kalau mengantuk saat menonton televisi, itu karena capek dan langsung tertidur. Tetapi kalau mengantuk saat mendengarkan Firman, itu karena roh najis. Kalau pendeta sudah mengatakan => 'ini ayat terakhir' Segar kembali (sudah tidak mengantuk lagi). Untunglah pendetanya tidak mengantuk. Dulu saya pernah juga, waktu pertama kali dimulai doa semalam suntuk, kadang-kadang di session dua ini yang paling berat (mengantuk juga). Tetapi TUHAN memberi kekuatan. Ini benar-benar terjadi. Kalau mengantuk saat menyembah, banyak. Tetapi mengantuk saat berkhotbah, jangan-jangan hanya saya (saat doa semalam suntuk). TUHAN menolong kita.


    Inilah kehidupan yang buta rohani = duduk di pinggir jalan = kehidupan yang tidak tergembala, sehingga hidup dalam kegelapan. Tanda-tandanya, pertama bagaikan benih yang jatuh di pinggir jalan (tidak mengerti, tidak percaya Firman pengajaran, sama dengan tidak melihat). Sebabnya, karena hatinya beredar-edar, kakinya beredar-edar dan menginjak-injak atau menghina Firman pengajaran). Kalau tidak mau mengerti, maka tidak akan dapat percaya. Akibatnya adalah tidak selamat (Lukas 8:12) = kehilangan keselamatan = binasa untuk selamanya. Jadi saat-saat mendengarkan Firman semacam ini, sangat menentukan bagi kita, apakah kita selamat atau binasa. Dalam ibadah sekarang ini, pemberitaan Firman paling dikecilkan. Kalau menyanyi, mari. Tetapi pemberitaan Firman, jangan lama-lama (sedikit saja), padahal inilah yang menentukan, apakah kita selamat atau binasa.

    Mari berdoa kepada TUHAN, supaya kita tidak menjadi orang yang buta rohani (Kristen jalanan, duduk di pinggir jalan, tidak tergembala). Kalau tidak mengerti Firman, tidak percaya atau tidak yakin kepada pengajaran yang benar, maka akan binasa selamanya. Semua yang dilakukan tidak ada gunanya. TUHAN menolong kita semuanya. Inilah keadaan atau tanda yang pertama. Semoga kita dapat mengerti. Akibat buta adalah tidak selamat, binasa selamanya. Dalam ibadah tadi pagi di Malang, kalau kita tergembala itu seperti bayi yang merindukan air susu ibu yang murni dan rohani (bukan bosan dll). Tidak ada bayi yang bosan susu. Pagi-pagi sudah minta susu ibunya, dua jam lagi sudah minta susu, tidak bosan-bosan. Bayinya tidak bosan (merindu), jangan-jangan ibunya yang bosan (sekarang banyak gembala yang tidak mau berkhotbah). Ini awasan bagi saya sebagai seorang gembala.

    Jadi sikap tergembala, yaitu seperti bayi yang merindukan air susu yang murni (benar) dan rohani = sangat merindukan dan menikmati Firman pengajaran yang benar dalam urapan Roh Kudus. "Yang murni" (benar) artinya dibukakan rahasianya, yaitu ayat yang satu menerangkan ayat yang lain dalam alkitab.

    Yang rohani artinya yang disampaikan dalam urapan Roh Kudus (bukan urakan), yaitu:


    • Disampaikan dengan setia. Gembala menyampaikan dengan setia, itulah urapan. Kalau tidak setia, itu bukan urapan. Kalau bisa, berkhotbah dan kalau tidak bisa, tidak berkhotbah, itu bukan urapan Roh Kudus (daging).


    • Diulang-ulang. Seorang gembala menyampaikan dengan diulang-ulang. Inilah diurapi Roh Kudus.


    • Teratur seperti makanan bayi itu teratur, ada makanan dibawah satu tahun, nanti satu tahun ganti lagi susunya, dan seterusnya. Tidak sembarangan, bayi baru lahir diberikan susu untuk usia lima tahun, bagaimana ini' Begitulah seorang gembala.


    • Tertib. Ada sukacita tetapi tertib, bukan urakan seperti orang dunia.


    Inilah pemberitaan Firman yang dirindukan. Tadi, akibatnya tidak selamat (hilang keselamatan). Tetapi kalau merindu Firman yang benar (yang murni) dan yang rohani, maka kerohaniannya bertumbuh kearah keselamatan sampai kesempurnaan. Semoga kita dapat mengerti.

    Inilah perbedaan antara tergembala dan yang tidak tergembala. Kalau tidak tergembala, bagaikan orang yang buta (tidak dapat melihat cahaya injil, tidak mengerti/tidak percaya). Tetapi kalau tergembala, merindu dan menikmati sampai benar-benar bertumbuh kerohaniannya kearah keselamatan dan kesempurnaan. Kalau kaki dian diambil dari tempatnya, maka kehidupan itu akan hidup dalam kegelapan (buta rohani, cacat dan tidak sempurna). Inilah kehidupan yang dipinggir jalan. Tanda pertama, bagaikan benih yang jatuh di pinggir jalan (tidak selamat).


  2. Matius 21:18,19
    18. Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar.
    19. Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.

    Ay 19 => 'tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja' => hanya daunnya yang lebat.

    Tanda kedua: bagaikan pohon ara yang ditanam di pinggir jalan, yaitu hanya berdaun lebat, tetapi tidak berbuah. Daun bagi tanaman artinya aktivitas (bagaimana kalau terkena panas, untuk memasak makanan dan sebagainya). Hanya berdaun lebat, tetapi tidak berbuah, bagi kita sekarang artinya (arti rohaninya) aktif dalam ibadah pelayanan tetapi tidak memuaskan TUHAN (tidak ada buah yang dimakan, TUHAN tetap merasa lapar), sehingga dikutuk (gagal total). Maafkan ini agak melawan TUHAN, yaitu TUHAN disuruh makan daun. TUHAN ini dianggap apa? Semestinya memakan buah, tetapi disuruh makan daun. Inilah pelayan TUHAN yang merasa hebat, padahal gagal total, terkutuk, kering dan binasa untuk selamanya.

    Hati-hati, ini merupakan koreksi bagi saya juga. Sekarang pertanyaannya: mengapa sudah aktif beribadah melayani TUHAN, tetapi tidak memuaskan TUHAN? Mengapa sudah berdaun lebat, tetapi tidak berbuah? Biasanya ciri pohon ara, setelah berdaun lebat, tandanya sebentar lagi berbuah, itulah buah permulaan. Kalau daunnya sudah lebat, berarti itu musim berbuah. Yang TUHAN cari, yaitu satu saja buah permulaan. Pohon ara ini memiliki keistimewaan: ada buah permulaan, buah pertengahan, buah akhir. TUHAN mencari satu atau dua buah permulaan, tetapi IA tidak mendapatkannya.

    Mengapa sudah aktif beribadah melayani TUHAN, tetapi tidak memuaskan TUHAN?


    • Peristiwa taman Eden (zaman permulaan): daun pohon ara dipakai oleh Adam dan Hawa untuk menutupi ketelanjangan (menutupi dosa) = kebenaran diri sendiri. Dalam kitab Yesaya 'kebenaran manusia itu seperti daun' Kalau terkena panas (daunnya rusak), akan telanjang lagi.

      Kebenaran diri sendiri yaitu:


      • Kebenaran diluar Firman ALLAH. Firman bilang 'tidak boleh', tetapi dibilang 'tidak apa-apa, sekarang zaman modern dll' Contohnya: wanita tidak boleh mengajar, tetapi dibilang 'tidak apa-apa' Inilah aktif melayani tetapi tida berkenan atau tidak memuaskan TUHAN (melayani tetapi diluar Firman). Inilah yang sangat disayangkan.


      • Sudah berbuat dosa, tidak mau mengaku dosa, bahkan menutupi dosa dengan menyalahkan orang lain, menyalahkan TUHAN (menyalahkan Firman pengajaran yang benar). Inilah kebenaran sendiri. Semoga kita dapat mengerti.


      Sebenarnya TUHAN datang ke taman Eden memanggil Adam dan Hawa => 'Adam dimanakah engkau' Tetapi mereka lari bersembunyi dan tidak ada kemampuan untuk kembali kepada TUHAN, sebab ada kebenaran sendiri. Siapa manusia yang tidak berdosa, termasuk saya (hamba TUHAN, pelayan TUHAN).

      Sekalipun kita sudah berbuat dosa (jatuh dalam dosa), kita harus menerima panggilan TUHAN, yaitu:


      • kita menyadari dosa,
      • menyesali dosa,
      • mengaku dosa kepada TUHAN dan sesama (salib). Jika diampuni, jangan berbuat dosa lagi (bertobat). Buah permulaan itulah bertobat.


      Kalau pelayan TUHAN bertobat, lalu melayani TUHAN (ada buah), itu pasti memuaskan TUHAN. Alat pertama di halaman tabernakel, itulah mezbah korban bakaran, ini menunjuk bertobat (buah permulaan). Adam dan Hawa dipanggil oleh TUHAN, tetapi mereka tidak mau menerima panggilan TUHAN. TUHAN bertanya => 'apakah kamu memakan buah yang dilarang?' Jawabannya => 'perempuan yang Kau tempatkan disisiku dialah yang memberikannya' Inilah menyalahkan isteri dan menyalahkan TUHAN. Semestinya kalau menjawab => 'saya sadar TUHAN, saya menyesal TUHAN, ampuni TUHAN dan saya tidak berbuat dosa lagi' Inilah memuaskan TUHAN, bisa mendekat kepada TUHAN dan dipakai lagi oleh TUHAN. Tetapi karena memakai kebenaran sendiri, mereka-pun diusir oleh TUHAN.

      Saat ini apapun kesalahan, kekurangan kita, masih ada panggilan TUHAN. Sikap kita adalah menerima panggilan TUHAN = menyadari dosa-dosa, menyesali dosa-dosa, mengakui dosa-dosa kepada TUHAN dan sesama dan jika diampuni, jangan berbuat dosa lagi (bertobat). Inilah buah permulaan yang dapat memuaskan TUHAN. Kita harus melayani dengan buah pertobatan, setelah itu barulah kita dapat memuaskan hati TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.


    • Zaman YESUS di bumi. Pada waktu YESUS di bumi, lapar, pohon ara dipakai hanya untuk berteduh. Tadi, pohon ara dipakai untuk menutupi ketelanjangan di taman Eden (tidak memuaskan TUHAN). Sekarang, pohon ara dipakai untuk berteduh. Memang enak dipakai untuk berteduh (sejuk, kita dapat tertidur), karena daunnya lebat.

      Yohanes 1: 48-51,
      48. Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."
      49. Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"
      50. Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu."
      51. Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

      Ay 48 => Natanael berteduh dibawah pohon ara.

      Mengapa sudah berdaun, tetapi tidak berbuah? Sudah melayani, tetapi tidak memuaskan TUHAN. Jawaban kedua adalah daun pohon ara dipakai untuk berteduh oleh Natanael (memang sejuk).

      Artinya ibadah pelayanan hanya untuk:


      • mencari kepentingan diri sendiri,
      • hanya puas dengan perkara-perkara dunia,
      • hanya untuk mencari perkara jasmani,
      • hanya untuk mengenakan daging => 'terima kasih, TUHAN luar biasa, saya diberkati' Boleh, tetapi kalau hanya demikian, ini hanya berteduh dibawah daun pohon ara. Kalau puas hanya sampai disini, ini belum memuaskan TUHAN dan tidak akan dapat melihat TUHAN secara jelas, karena tertutup daun pohon ara. Tetapi kalau keluar dari pohon ara, akan melihat YESUS yang turun naik (Anak Manusia yang turun naik). Jangan hanya puas dengan perkara jasmani. Mengenakan daging, berarti tidak mau salib atau menolak salib (hanya mau berteduh terus, yang enak saja).


      Sekali lagi, mohon ampun kalau dianggap sombong. Kalau saya mau mengenakan daging (egois), sayalah yang paling menolak untuk mengadakan kebaktian kunjungan, melanjutkan Lempin-El angkatan-26. untuk apa? Satu tahun untuk Lempi-El, berapa? Dapat saya gunakan untuk membeli mobil dan lain sebagainya. Ibadah kunjungan sebulan dua kali, berapa harus membayar tiket pesawat, berapa hotelnya? Kalau saya mau mengenakan daging seperti Natanael => 'saya sudah cukup' Tetapi tidak akan penah melihat YESUS yang akan datang kembali ke dua kali di awan-awan. Orang yang egois, tidak akan dapat melihat YESUS yang datang kembali ke dua kali. Ini seperti kambing yang diusir TUHAN => 'pergi, terkutuk engkau'. Demikian juga kita semuanya, mungkin sudah enak => 'terima kasih sudah digembalakan, sudah enak, sudah diberkati' Bagus, tetapi kalau hanya puas sampai disitu, YESUS tidak akan merasa puas => 'ketika aku lapar kamu tidak memberi aku makan, ketika aku haus kamu tidak memberi aku minum' itu sebabnya, kita harus keluar dan harus masuk pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna. Semoga kita dapat mengerti.

      Jangan sampai menolak salib! Ibadah yang hanya mengenakan daging, hanya puas dengan berkat-berkat jasmani, tidak akan dapat melihat langit terbuka/ tidak dapat melihat Pribadi YESUS secara jelas/tidak dapat melihat kedatangan-Nya yang kedua kali di awan-awan permai. Ini berarti ketinggalan saat YESUS datang kembali ke dua kali, terkutuk seperti kambing.

      Mohon maaf jika dianggap sombong. Dari dulu saat masih pengerja, saya sudah dilatih; kalau bpk pdt Pong diundang untuk berkhotbah tetapi beliau tidak dapat memenuhi undangan itu, maka saya yang diutus (ke daerah Jawa) => 'jangan ambil kolekte' Tetapi saya tidak diberikan ongkos. Bahkan sampai kkr ke Kalimantan => 'pak Wi, berkhotbah untuk ibadah kaum muda di Kalimantan'. Saya tidak pernah diberikan ongkos, kamar hotel => 'terserah mau mencari Firman dimana (mau di kapal dll)' Ini dilatih supaya tidak egois. Pandangan kita hanya kepada YESUS, bukan kepada daun ara (hanya kepada uang). Contohnya: kalau saya sudah merasa enak, senang dengan adanya gereja dan jemaat di Malang dan di Surabaya, inilah pandangan kepada daun ara (tidak memuaskan TUHAN dan bisa terkutuk)' Harus keluar!

      Jadi kita harus keluar dari pohon ara, artinya:


      • harus berani terkena sinar matahari (terkena panas) = harus mengalami salib = mengalami sengsara daging tanpa dosa (percikan darah), untuk melayani pembangunan Tubuh Kristus. Semestinya enak di rumah, tetapi harus keluar untuk memberitakan Firman.


      • harus keluarkan dana. Nanti, untuk kebaktian persekutuan di hotel Kartika Graha harus mengeluarkan sekian ratus juta. Untuk kebaktian persekutuan di Empire, juga keluarkan sekian ratus juta. Kalau uangnya ditabung-tabung kami dapat membeli tanah sebab gereja di Surabaya masih kontrak. Kalau dihitung dari tahun 2002, sudah sepuluh tahun lebih, sudah dapat dengan tanah dan gerejanya. Tetapi bpk pdt In Juwono mengatakan => 'nomor satu adalah pembangunan Tubuh Kristus'. Pembangunan yang fisik akan hancur, sekalipun memang perlu. Kalau TUHAN sudah menghendaki maka kita harus melakukan, tetapi yang lebih penting dan tidak pernah hancur adalah gereja secara rohani (Tubuh Kristus/bait ALLAH rohani). Inilah yang lebih penting dan mulia untuk selamanya.Jangan takut terkena panas/mengalami salib/mengalami percikan darah, sebab ada hasilnya dan TUHAN tidak pernah menipu kita.


      Hasilnya adalah langit terbuka, artinya


      • Kuasa TUHAN turun dari atas ke bawah, yaitu:


        1. Kuasa pemeliharaan dan perlindungan TUHAN secara ajaib, berlimpah-limpah,
        2. Kuasa penyucian dan pembaharuan sampai kita menjadi sempurna seperti Dia. Didalam nikah kita disucikan, dalam penggembalaan kita disucikan lebih mendalam lagi, dalam persekutuan Tubuh Kristus (antar penggembalaan) kita disucikan dan dibaharui lebih dalam lagi. Sampai satu waktu kita sempurna, sama mulia seperti YESUS. Kalau tidak, rugi, nomor satu saya yang menolak. Tetapi saya sekarang sudah merasakan. Begitu saya berkhotbah, tidak hanya yang mendengarkan yang di charge, saya juga seperti baterai yang di charge lagi. Orang berkata => 'tidak capek' Saya pulang malah semakin berkobar-kobar. Ini karena di charge secara rohani. Disucikan dan dibaharui inilah di charge. Kalau kita mau disucikan dan dibaharui, maka urapannya juga baru. Jemaat juga dapat mengalami hal ini. Mari kita bersungguh-sungguh.


      • Jika YESUS datang kembali ke dua kali, kita akan terangkat ke awan-awan yang permai dan kita bersama dengan Dia untuk selama-lamanya (dari bawah ke atas). Inilah kuasa pengangkatan yang bisa kita alami mulai dari sekarang:


        1. yang gagal menjadi berhasil
        2. yang tenggelam dipulihkan. Inilah yang terjadi dalam pembangunan Tubuh Kristus. Banyak hamba-hamba TUHAN yang datang dengan persoalan gereja (gereja ditutup dll), setelah datang dalam persekutuan yang benar, lalu terangkat. Ada juga yang sudah berputus asa => 'saya sudah berusaha' Saat datang, saya nasehati => 'pegang Firman saja, gereja bukan gedung. Biar gedungnya serahkan saja..' Saya juga pernah mengalami, gembala dan guru saya mengatakan => 'serahkan saja pak Wi' Semestinya gereja kami ada dua di Malang, di jalan Ciliwung (saya disana sudah menempati selama delapan bulan), kemudian lagi membangun juga di jalan Simpang Borobudur. Rencana saya mau membuat dua cabang. Tetapi mendadak digugat secara tidak adil, padahal disitu surat keputusannya atas nama saya. Tetapi bpk pdt Pong berkata untuk di serahkan saja'. Ternyata rencana TUHAN lain, saya harus dikirim disini.


      Mari kita keluar semuanya, lihatlah malaikat-malaikat yang melayani anak ALLAH (pembangunan Tubuh Kristus), pasti ada berkat yang dicurahkan dari atas, baik berkat jasmani dan berkat rohani (penyucian). Ada juga berkat dari bawah ke atas, itulah pengangkatan dari TUHAN. Jika YESUS datang kembali, kita akan diangkat di awan-awan permai. Betapa bahagianya. Mari jangan buta, hanya melihat daun pohon ara sehingga tidak pernah dapat melihat YESUS. Semoga kita dapat mengerti.


    • Lukas 13: 6-9,
      6. Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya
      7. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!
      8. Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,
      9. mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

      Ay 6 => "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya' => ini sudah benar. Tadi pohon ara di pinggir jalan, tetapi sekarang pohon ara di kebun anggur (sudah tergembala).
      Ay 8 => untung kalau ada penunggunya (gembala). Ada Gembala Agung (YESUS) => 'ini sudah tidak berbuah, tebang saja' Tetapi masih ada penunggunya (gembala manusia) => 'janganlah TUHAN, memang seharusnya sudah binasa, tetapi beri waktu lagi..' Masih ada doa penyahutan. Inilah gunanya penggembalaan, salah satunya ada doa penyahutan untuk menahan hukuman TUHAN (memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuah).

      Ay 9 => kalau memang tidak dapat diperbaiki lagi, terserah TUHAN. Tetapi masih ada usaha dari gembala manusia. Tugasnya berat, selain memberi makan sidang jemaat, tetapi juga ada doa penyahutan.

      Jawaban ketiga: pohon ara sudah ditanam di kebun anggur (sudah tergembala), tetapi tidak berbuah. Mengapa harus dicangkul (tidak dipotong daunnya)? Mencangkul itu untuk memperbaiki perakaran. Ini berarti akarnya yang tidak baik, yaitu melayani dengan:


      • akar kejahatan (keinginan akan uang). Keinginan akan uang membuat kikir dan serakah. Kikir artinya tidak dapat memberi, sedangkan serakah artinya merampas hak orang lain terutama hak TUHAN (persepuluhan dan persembahan khusus). Kalau ada akar kejahatan, tidak akan dapat berbuah. Itu sebabnya, akar harus disucikan.


      • akar kepahitan, yaitu iri hati, dendam, kebencian tanpa alasan, termasuk gosip-gosip dan lain-lain, sehingga gampang tersandung. Kalau ada akar kepahitan, harus diperdamaikan terlebih dahulu.


      • akar busuk = yang tidak suka (menolak) Firman pengajaran. Biarpun sudah melayani, tidak akan dapat memuaskan TUHAN, karena tidak disucikan. Kalau menolak pedang, maka hidupnya tidak akan dapat disucikan.


    Yesaya 5: 24, Sebab itu seperti lidah api memakan jerami, dan seperti rumput kering habis lenyap dalam nyala api, demikian akar-akar mereka akan menjadi busuk, dan kuntumnya akan beterbangan seperti abu, oleh karena mereka telah menolak pengajaran TUHAN semesta alam dan menista firman Yang Mahakudus, Allah Israel.

    Kalau menolak Firman pengajaran yang benar, berbahaya! Kalau saya mengajar Lempin-El Kristus Ajaib, saya selalu bertanya (seperti dulu guru saya bertanya, saya hanya mencontoh saja) => 'boleh berfellowship' mereka menjawab => 'boleh' ini salah!! jawaban yang benar adalah 'harus' Tetapi dengan pengajaran yang benar. Kalau tanpa pengajaran yang benar, akarnya akan menjadi busuk. Kalau ada pengajaran yang benar, dan kita tidak mau berfellowship, itu juga akar busuk. Ini benar-benar mengerikan.

    Fellowship (pembangunan Tubuh Kristus) ini sangat menentukan. Kalau saya sebagai gembala, lalu ada orang yang dipakai dalam pengajaran yang benar, lalu saya tidak mendukung (tidak mau datang), malah bergosip, ini mengerikan karena dapat menjadi kering, bahkan akarnya dapat menjadi busuk. Sebaliknya kalau ada pengajaran yang tidak benar (pengajaran lain), lalu kita berkata => 'ya, kita datang karena sungkan = menjadi busuk (kering) dan sangat rugi (pelayanannya tidak akan maju ). Kalau bapak, ibu, saudara datang, maka tidak akan maju rohaninya. Semoga kita dapat mengerti.

    Jadi tidak sembarangan! Doakan, supaya kami sebagai gembala tidak sembarangan. Kalau ada yang dipakai dalam pengajaran (mau muda, pengerja, siapapun juga), lalu kita tidak mendukung, ini mengerikan. Sikap kita terhadap pengajaran yang benar adalah taati saja (jangan ditolak, jangan dihina) = dengar-dengaran.

    Matius 7: 21-23,
    21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
    22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
    23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

    Ay 21 => 'melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga' => inilah puncak tahbisan; taat dengar-dengaran, sehingga pintu sorga terbuka bagi kita. Ini luar biasa.

    Kalau kita taat dengar-dengaran pada pengajaran yang benar (kehendak Bapa), maka pintu surga akan terbuka bagi kita dan pasti pintu-pintu di dunia juga terbuka. Tidak ada pemikiran saya untuk mengadakan fellowship, ada orang-orang dari luar negeri yang datang, bahkan saya sampai dikirim ke luar negeri (tidak ada pemikiran seperti itu). Bpk pdt Pong satu minggu sebelum beliau meninggal, saya ditumpangi tangan => 'tekunilah persekutuanmu yang kecil-kecil' Saya juga seadanya saja, tetapi TUHAN Yang menolong semuanya. Kalau pintu surga terbuka, maka pintu di dunia juga terbuka (tidak dapat dihalangi oleh apapun juga).

    Sebaliknya, kalau tidak taat (menolak) Firman pengajaran yang benar, mengerikan. Kita sudah melayani => 'dahyat, luar biasa' Tetapi TUHAN berkata => 'enyahlah engkau' Tidak dianggap oleh TUHAN.

    Matius 7: 22, 23,
    22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
    23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

    Ay 22 => 'Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku...'? pada hari yang terakhir banyak yang terkecoh => 'dia dipakai, luar biasa' Tetapi tanpa pengajaran yang benar, tanpa ketaatan, tidak akan ada artinya, tidak diakui oleh TUHAN => 'Aku tidak mengenal engkau' Ini mengerikan. Mau dimanapun saya akan berteriak. Bpk pdt In Juwono dulu juga begitu => 'saya akan berteriak' Inilah yang harus diteriakkan, supaya di akhir zaman, kita tidak terkecoh.Tetapi, justru di akhir zaman banyak yang terkecoh, merasa dipakai luar biasa, padahal TUHAN berkata => 'enyahlah engkau' Ini karena tidak sesuai dengan pengajaran yang benar; tidak taat pada pengajaran yang benar; menolak Firman pengajaran yang benar. Firman bilang A, dia bilang => 'oo tidak apa-apa B, buktinya kita dipakai ...' Tetapi akhirnya diusir oleh TUHAN. Bukan dipakai oleh TUHAN, melainkan dipakai oleh setan.

    Ay 23 => 'Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka' => lebih baik saat ini TUHAN Yang berterus terang, maksudnya supaya kita kembali kepada Firman pengajaran yang benar. Jangan menunggu nanti! Kalau nanti, sudah tidak ada waktu lagi. Sekarang ini mari kembali.

    Segala pelayanan yang tidak melakukan kehendak TUHAN (tidak sesuai dengan pengajaran yang benar):


    • tidak diakui oleh TUHAN,
    • tidak dikenal oleh TUHAN dan akan
    • diusir oleh TUHAN, sebab dia pembuat kejahatan. Semakin melayani, semakin berbuat jahat. Bukan berarti disini yang paling benar, tidak! Saya hanya membaca ayat. Mari taat kepada Firman pengajaran yang benar. Urusan orang lain, urusannya dia. Yang penting kita sekarang taati Firman pengajaran yang benar, nanti kalau ada kesempatan dalam fellowship saya akan berteriak juga untuk yang lain. Mari kita bersama-sama taati, supaya pintu surga terbuka dan pintu di dunia juga terbuka (masa depan terbuka). Semoga kita dapat mengerti.


    Inilah pohon ara yang berdaun, tetapi tidak berbuah, sehingga kering dan terkutuk. Ada sebab-sebabnya. Sidang jemaat Efesus tidak memiliki kasih mula-mula, maka pelitanya/kaki diannya diambil dari tempatnya, sehingga hidup dalam kegelapan (buta rohani, cacat, tidak sempurna, tidak dapat menyambut kedatangan TUHAN). Tanda-tandanya tidak tergembala (duduk dipinggir jalan, buta, cacat) yang:


    • pertama adalah benih yang jatuh dipinggir jalan. Ini persoalan benih (tidak mengerti dan tidak percaya kepada Firman).
    • kedua, seperti pohon ara ditanam di pinggir jalan. Berdaun tetapi tidak berbuah (melayani tetapi tidak memuaskan TUHAN), ini ada sebab-sebabnya sampai akar yang busuk (menolak Firman pengajaran). Tadi tidak percaya kepada Firman, sekarang menolak dan menghina Firman pengajaran, sehingga menjadi kering dan busuk (binasa selamanya).


  3. Matius 9:35, 36,
    35. Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
    36. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

    Tanda ketiga: seperti domba yang tidak tergembala.

    Keadaannya yaitu


    • Lelah = letih lesu, berbeban berat. Kalau letih lesu, beban berat, satu waktu akan berhenti melayani TUHAN. Sekarang banyak gembala-gembala yang berhenti melayani dengan seribu satu macam alasan. Inilah tanda-tandanya dia letih lesu, beban berat. Banyak nikah-nikah yang berhenti ditengah jalan, karena letih lesu-beban berat, sehingga banyak perceraian, bahkan kawin cerai (sekarang sudah direstui di gereja lewat pendeta, termasuk juga dalam Kabar Mempelai). Itu sebabnya kita harus berhati-hati dan waspada.


    • Terlantar = tidak ada yang bertanggung jawab, terutama atas keselamatan jiwanya. Semoga kita dapat mengerti.


    Khusus untuk bangsa kafir lebih mengerikan lagi. Untuk bangsa kafir selain lelah (letih lesu, tidak tergembala), terlantar, masih ditambah satu lagi. Dalam Matius 15:21, 28, ini tentang perempuan Kanaan yang datang kepada YESUS => 'tolonglah aku karena anakku kerasukan setan, sangat menderita' Tetapi YESUS mengatakan => 'tidak patut roti untuk anak (bangsa Israel) diberikan kepada anjing' Bangsa kafir hanya seperti anjing. Jadi bukan cuma letih lesu, beban berat, terlantar (tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang bertanggung jawab), kalau bangsa kafir tidak tergembala (mohon maaf):


    • Akan menjadi anjing dan babi (bukan domba). Anjing itu menjilat muntah, menunjuk perkataan-perkataan yang tidak benar, perkataan yang tidak baik (najis, dusta, fitnah dll). Babi menunjuk perbuatan-perbuatan yang najis (dosa makan minum dan kawin mengawinkan). Semoga kita dapat mengerti.


    • Dosa makan minum: merokok, mabuk, nakorba. Hati-hati! Baru merokok (yang paling ringan), sudah banyak melakukan pertentangan-pertentangan => 'tidak dituliskan di alkitab, hanya ada di pom bensin' Inilah bangsa kafir. Mengapa merokok? Seorang rohaniawan berkata kepada saya: karena tidak ditulis di alkitab, jadi saya merokok, kemudian saya katakan => 'narkoba juga tidak dituliskan di alkitab, mengapa saudara tidak sekalian memakai narkoba?' Bukan begitu, sebab ada yang tertulis di alkitab, ada juga yang tersirat dan harus dibukakan rahasianya (ayat menerangkan ayat). Jangan berbantah-bantah, TUHAN menolong kita semuanya. Semoga kita dapat mengerti.


    • Selalu mengalami masalah yang tidak pernah selesai. Kalau tidak tergembala, maka ada masalah yang tidak pernah selesai, terutama masalah nikah dan buah nikah (banyak air mata yang mengalir). Banyak penderitaan dalam masalah ekonomi, banyak penderitaan dalam masalah penyakit, tetapi yang disebut 'sangat menderita' artinya penderitaan dalam nikah dan buah nikah yang hancur (dirasuk setan; hancur, busuk, najis). Semoga kita dapat mengerti.


    Tadi dalam Matius 20:30-31 terdapat dua orang yang buta.
    Matius 20: 30, 31,
    30. Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!"
    31. Tetapi orang banyak itu menegor mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!"

    Dua orang yang buta = suami isteri yang buta. Kalau suami isteri tidak tergembala (buta rohani), maka buah nikah menjadi korban (buah nikah menjadi buta dan sangat menderita). Suami isteri (bapak ibu) harus bertanggung jawab! Bukan hanya menyekolahkan/menguliahkan anak, tetapi kita harus bertanggung jawab, supaya anak cucu kita juga tergembala sehingga dipelihara, dilindungi dan diselamatkan oleh TUHAN. 'laki-laki duduk' = tergembala terlebih dahulu, maka isteri dan anak juga akan tergembala. Semoga kita dapat mengerti.

    Menghadapi domba yang tidak tergembala (menghadapi dua orang buta, suami-isteri yang buta), maka YESUS lewat disitu, sebagai Gembala Yang Baik Yang sudah berkorban nyawa (menyerahkan segala-galanya bagi kita). Tidak kebetulan YESUS lewat.

    Yohanes 10:11, Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;

    Ay 11 => 'Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya' => memberikan segala-galanya bagi domba-dombanya.

Inilah cara TUHAN dalam menghadapi domba yang tidak tergembala (yang buta, yang hidup dalam kegelapan; letih lesu, beban berat, terlantar, seperti anjing babi). YESUS lewat disitu sebagai Gembala Yang Baik, yang harus menyerahkan Nyawa (menyerahkan segala-galanya) bagi kita semuanya. Kalau hanya menyerahkan (berkorban) uang, emas? Tidak akan bisa. Harus menyerahkan Nyawa bagi domba-domba; harus berkorban segala-galanya bagi domba-domba yang tidak tergembala (kehidupan yang buta). YESUS lewat di tempat yang bagaimana?

Markus 1: 1-3,
1. Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.
2. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu;
3. ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya,"

Ay 2 => 'ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu' => nabi Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi YESUS untuk lewat. Di jalan yang bagaimana YESUS lewat?

Tadi, untuk menolong orang yang buta (bangsa kafir yang hancur, nikah dan buah nikahnya; sudah menderita, letih lesu, beban berat, terkutuk seperti pohon ara dipinggir jalan, tidak selamat) YESUS lewat sebagai apa? Kalau YESUS sebagai Tabib, Penolong, tidak akan bisa. Harus sebagai Gembala Yang menyerahkan NyawaNya. YESUS lewat di jalan apa? Di jalan yang lurus. YESUS hanya lewat di jalan yang lurus. Kalau jalan yang berkelok-kelok itulah ular yang lewat, seperti => 'ya, tetapi ...tidak, namun...' Itu ular. Kalau YESUS => 'ya, katakan ya ...tidak, katakan tidak' Jalan yang lurus = jalan yang rata = hati yang tulus, jujur.

Hati yang tulus dan jujur, hanya bisa di dapatkan lewat baptisan air. Waktu YESUS keluar dari air, langit terbuka dan burung merpati turun keatasNya. Merpati gambaran hati yang tulus (ketulusan hati). Maaf pada ibu, kalau kita dilahirkan oleh ibu, hanya manusia darah daging yang seringkali hatinya/daging (seperti zaman Nuh hati manusia cenderung jahat, berkelak-kelok). Tetapi hanya lewat baptisan air, maka kita lahir dari TUHAN, sehingga mendapatkan hati yang lurus (hati yang tulus dan jujur).

Mengapa TUHAN seringkali tidak dapat lewat, tidak dapat melawat, tidak dapat menjamah kita di dalam ibadah pelayanan (pemberitaan Firman)? Sebab hati kita berkelak-kelok (tidak tulus dan tidak jujur), sehingga TUHAN tidak dapat lewat. Yang lainnya => 'terima kasih TUHAN, saya dijamah, tetapi kita kering' Sebab kita tetap berkelak-kelok, jika ditanya => 'ini pengajaran yang benar...' Jawabannya => 'ya, memang benar, tetapi ...' seperti ini, tidak akan dapat dijamah, tidak dapat ditolong. Terutama soal pengajaran dan segala hal. Jika berkelak-kelok, YESUS tidak dapat lewat, sehingga kita terus berada dalam keadaan kering. Sekalipun sudah doa malam, doa semalam suntuk, mungkin ikut doa dua hari dua malam, tetap kering. Saya dulu pernah mengalami, masih remaja coba-coba ikut doa malam (sudah agak bertobat), tetapi malah mengamuk-ngamuk. Yang lainnya => 'Haleluya YESUS' Sedangkan saya merasa kering sekali, tidak mendapatkan apa-apa (mengantuk dan juga tidak berdoa). Sekarang saya tahu, ini karena hatinya belum lurus (belum tulus, masih ada yang disimpan), sehingga YESUS tidak dapat lewat (tidak dapat menjamah).

Kalau hati sudah lurus, disitulah TUHAN akan menjamah kita. Mari, sekarang ini, biarlah kita mendapatkan hati yang lurus. Yang sudah baptisan, mari. Hati yang lurus = tanah yang datar.

Lukas 6: 12, 17-19,
12. Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
17. Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
18. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.
19. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Ay 12 => 'Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa' => Bukit (gunung) menunjuk bukit Golgota.

Ay 17 => 'berhenti pada suatu tempat yang datar' => tidak berkelak-kelok = datar = hati yang lurus (hati yang lurus).

Dihadapan bukit Golgota ada tanah yang datar (hati yang lurus atau tulus). Dihadapannya ada bukit, jadi yang dilihat hanyalah bukit. Saudara dapat membayangkan, misalnya dihadapan saya ada tembok, ya hanya melihat tembok terus. Kalau dihadapan saya bukit, yang saya harapkan adalah bukit (bukit Golgota). Hati yang tulus (hati yang rata) artinya hanya berharap kepada bukit Golgota = hanya berharap kepada kasih dan kemurahan TUHAN (Korban Kristus, YESUS yang sudah menyerahkan nyawanya). Tidak berharap yang lainnya. Kalau masih berharap yang lain, sudah tidak tulus. Contohnya: saudara datang beribadah hanya untuk bertemu seseorang, itu sudah tidak tulus, tidak akan pernah di jamah oleh TUHAN. Kalau kita mengadakan kunjungan-kunjungan (ikut fellowship), tetapi hanya berharap untuk mendapatkan uang (ongkos), tidak akan pernah dijamah oleh TUHAN. Seperti tadi suami-isteri (dua orang) berteriak => 'YESUS anak Daud kasihanilah kami...' Seperti dihadapan bukit Golgota, hanya ada kasih dan belas kasih (tidak ada yang lain).

Penyembahan dengan mengharapkan belas kasih TUHAN, penyembahan yang hanya bergantung kepada kasih dan belas kasih TUHAN = berusaha menjamah YESUS. Banyak orang yang berusaha menjamah YESUS. Saat ini dengan hati yang tulus, kita berusaha menjamah YESUS. Apa arti dari hati yang tulus? Penyembahan yang hanya bergantung kepada kasih dan belas kasih kemurahan TUHAN => 'YESUS anak Daud, kasihanilah kami ..' Itulah berusaha menjamah TUHAN. Contohnya seperti perempuan yang pendarahan dua belas tahun => 'asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh' Inilah hanya berharap kasih dan belas kasih TUHAN.

Kalau kita berusaha menjamah TUHAN, maka TUHAN akan menjamah kita.

Matius 20: 34, Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Mari kita berusaha untuk menjamah TUHAN. Mungkin hidup kita sudah hancur:

  • Seperti sakit pendarahan; penyakit yang sudah tidak dapat sembuh, sudah mustahil (penyakit rohani, penyakit rumah tangga, apa saja yang sudah hancur dalam hidup ini),


  • Seperti orang yang buta; sudah gelap, tidak dapat melakukan apa-apa, tidak ada masa depan.

Mari kita berusaha menjamah YESUS; kita berdoa menyembah TUHAN, hanya bergantung pada belas kasihan TUHAN, tidak kepada yang lain. Untuk fellowship-fellowship semacam ini kalau tidak bergantung pada belas kasihan TUHAN, mau bergantung kepada siapa? Saya dengan isteri hanya berdoa => 'kami tidak mampu TUHAN, hanya bergantung pada bukit Golgota; belas kasih TUHAN' Berusaha hanya menjamah YESUS dan biarlah Dia juga menjamah kita.

Jika YESUS menjamah kita, hasilnya adalah:

  • Segala masalah yang mustahil diselesaikan oleh TUHAN seperti orang buta dapat disembuhkan seperti masalah ekonomi, masalah penyakit, masalah apa saja dapat diselesaikan oleh TUHAN.


  • Dia menjadikan semuanya baik, semua berhasil dan indah pada waktunya. Dia Gembala Yang Baik sudah menyerahkan NyawaNya, supaya kita semuanya menjadi baik. Dia menjamah kita supaya semuanya menjadi baik. Tangan kasih dan belas kasihan TUHAN untuk menjadikan semuanya baik, masa depan baik, berhasil dan indah pada waktunya. Tinggal menunggu saja.

Mari tergembala dengan baik, sekarang kita banyak:

  • berusaha menyembah TUHAN,
  • berusaha mendapatkan hati tulus (hanya bergantung pada belas kasihan TUHAN), itu sudah cukup. Jangan melihat orang => Jangan!! Tetapi lihatlah YESUS, pengajaran yang benar, penggembalaan yang benar, tinggalah disitu. Lihatlah bukit Golgota itu saja, jangan menoleh kemanapun, lihatlah belas kasihan TUHAN, jamah TUHAN dan nanti Dia juga menjamah kita, sehingga ada masa depan yang indah, semuanya menjadi baik.

Perjalanan TUHAN menuju Yerusalem, dan kita dapat mengikuti Dia (kalau buta tidak akan dapat mengikut YESUS). Tangan kasih dan belas kasih kemurahan TUHAN menuntun kita sampai ke kota Yerusalem Baru (kerajaan surga yang kekal), tempat penggembalaan yang terakhir dimana tidak ada setetespun air mata.

Saya tidak dapat mengungkapkan lagi, yang penting kita mau menjamah YESUS dan Dia menjamah kita, maka kita mendapatkan semuanya. Air mata dihapuskan, sehingga ada kebahagiaan. Apapun keadaan kita, jamahlah Dia dan Dia menjamah kita semuanya.

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 20 Desember 2017
    (Ibadah Natal di Walikukun (Pagi))

  • 22 Desember 2017
    (Ibadah Natal di Hotel Sun Palace Trowulan (Pagi))

  • 24 Desember 2017
    (Ibadah Natal di Hotel Kartika Graha Malang)

  • 25 Desember 2017
    (Ibadah Natal di Square Ballroom Surabaya)

  • 03-04 Januari 2018
    (Ibadah Natal di Palopo)

  • 16 Januari 2018
    (Ibadah Kunjungan di Ciawi (Pagi-Sore))

  • 17-18 Januari 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top