English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 Maret 2014)
Tayang: 19 April 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 30 Maret 2014)
Tayang: 19 Juli 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 18 Maret 2007)
Tayang: 24 Agustus 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 27 April 2014)
Tayang: 18 Oktober 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 19 Januari 2014)
Tayang: 23 November 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 02 Maret 2008)
Tayang: 10 Agustus 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 06 Oktober 2013)
Tayang: 19 Januari 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 11 Februari 2007)
Tayang: 21 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 01 Juli 2007)
Tayang: 03 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 Februari 2014)
Tayang: 01 Maret 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 Februari 2014)
Tayang: 14 Desember 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 11 November 2007)
Tayang: 26 Juli 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 27 Oktober 2013)
Tayang: 06 Arpil 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 13 April 2014)
Tayang: 30 Agustus 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 15 Juli 2007)
Tayang: 29 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 24 Agustus 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 17 November 2016

Kita masih membahas kitab Wahyu 2-3, dalam susunan tabernakel ini menunjuk tentang tujuh kali percikan darah di depan tabut perjanjian. Imam besar Harun masuk ke ruangan maha suci dengan membawa dupa dan darah, lalu memercikkan darah (salah satunya tujuh kali percikan darah di depan tabut perjanjian), sama dengan tujuh surat yang ditujukan kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir (kitab Wahyu).

Tujuh surat yang ditujukan kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir artinya penyucian terakhir yang TUHAN lakukan kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir supaya tidak bercacat cela, sempurna seperti YESUS. Siap untuk menyambut kedatangan YESUS yang ke dua kali. Kita sebagai bangsa kafir, biarlah mengikuti penyucian-penyucian. Tujuh sidang jemaat bangsa kafir, yang pertama adalah sidang jemaat di Efesus (Wahyu 2:1-7). Kita sudah membaca ayat 2, TUHAN memuji sidang jemaat Efesus yang sudah berjerih lelah, tekun dan seterusnya, tetapi ada satu celaan dari TUHAN. Inilah penyucian terakhir.

Wahyu 2: 4, 5,
4. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Ay 4 => 'Namun demikian Aku mencela engkau' => banyak kelebihan-kelebihan, tetapi masih ada cela.

Penyucian terakhir bagi sidang jemaat di Efesus yaitu bahwa sidang jemaat di Efesus telah kehilangan kasih yang mula-mula = kasih ALLAH lewat Kurban Kristus di kayu salib. Mereka memiliki banyak kelebihan-kelebihan (berjerih lelah, tekun), tetapi masih ada satu cela. Yang namanya cela berarti tidak sempurna. Percuma walau-pun 'hebat, dahysat, luar biasa' Tetapi bercacat cela, berarti tidak sempurna dan tidak dapat menyambut kedatangan YESUS ke dua kali. Oleh sebab itu TUHAN mengadakan penyucian terakhir.

Akibatnya dahyat, yaitu kaki dian diambil dari tempatnya. Di dalam tabernakel, kaki dian emas (pelita emas) ini merupakan satu-satunya alat penerangan (alat yang menerangi tabernakel). Kalau ini diambil, berarti gelap. Inilah akibat yang fatal. Kaki dian diambil dari tempatnya = hidup dalam kegelapan = pelayan yang buta (jika dikaitkan dengan Efesus yang sudah melayani TUHAN dan sebagainya). 'mata adalah pelita tubuh' Kalau pelitanya gelap (diambil), maka matanya gelap = buta). Pelayan yang buta itu seperti Barthemeus. Hari-hari ini banyak sidang jemaat yang melayani TUHAN (termasuk saya juga diperiksa) tetapi sebagai pelayan yang buta seperti Barthemeus. Pelayan yang buta seperti Barthemeus artinya hanya puas dengan perkara-perkara jasmani, tetapi tidak memiliki arti rohani dalam hidupnya (tidak ada arah yang rohani, tidak mengarah kepada Yerusalem Baru). Barthemeus yang buta hanya minta sana-sini, setiap hari dia mendapatkan apa yang ia minta, tetapi hanya puas dengan perkara jasmani.

Banyak hamba TUHAN yang hanya mengejar gereja besar, boleh, silahkan! Tetapi tidak memiliki arah dalam hidup kerohaniannya (tidak ada arah ke kota terang, Yerusalem Baru), hanya mengarah kepada kegelapan yang paling gelap (neraka). Yang kehidupan itu tahu hanyalah perkara jasmani terus (uang). Ini sangat berbahaya!

Sekarang kita belajar praktik sehari-hari pelayan yang buta (tanpa kasih mula-mula):

  1. 2 Korintus 4: 3, 4,
    3. Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,
    4. yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

    Praktik pertama: keras hati, sehingga menolak cahaya injil tentang kemuliaan Kristus (Firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua). Dalam ibadah persekutuan di hotel Kartika Graha dijelaskan, ada dua macam pemberitaan Firman (dua macam makanan rohani orang Kristen) yaitu:


    • Firman penginjilan (susu): Firman yang memberitakan kedatangan YESUS pertama kali, mati di kayu salib untuk menyelamatkan orang berdosa dan memberkati kita. Kalau terus minum susu, maka pertumbuhannya akan abnormal. Sudah bertahun-tahun mengikut TUHAN, makanannya susu terus, abnormal. Itu sebabnya harus ada yang kedua yaitu


    • Cahaya injil tentang Kemuliaan Kristus (Firman pengajaran yang benar, yang lebih tajam dari pedang bermata dua) = makanan keras. Tadi ada kesaksian dari seorang pemudi, datang ke gereja untuk mendengarkan Firman yang keras. Memang ada Firman penginjilan (susu), ini sudah kita terima => 'percaya YESUS, diselamatkan dan diberkati' Sekarang harus dilanjutkan kepada Firman pengajaran (makanan keras).


      Firman pengajaran yaitu Firman yang memberitakan tentang kedatangan YESUS ke dua kali dalam kemuliaan (bukan lagi sebagai bayi) tetapi sebagai Raja segala raja, Mempelai Pria Surga (Suami itu Kepala) untuk menyucikan sidang jemaat sampai sempurna. Pedang tajam inilah yang seringkali ditolak. Penginjilan sudah dia terima => 'percaya YESUS, bertobat, selamat dan diberkati' Tetapi menolak pengajaran, inilah pelayan yang buta.


    Ditolak artinya:


    • Tidak mau mendengar sebab 'terlalu lama, terlalu keras' Kalau minum susu, dibanding dengan makan nasi (makanan yang keras), berbeda. Kalau minum susu, langsung habis, selesai (pulang). Kalau makan makanan keras itu ber beda. Inilah yang membuktikan tingkat rohani, saya dan saudara. Kalau saudara senang yang susu, berarti masih bayi dan kalau TUHAN datang kembali, maka saudara akan ketinggalan. Kita harus sudah menginjak dewasa (menerima pengajaran). Kalau makan nasi (makanan keras), memang lama, harus perlahan-lahan. Inilah menggunakan waktu. Jangan menghina TUHAN! Kalau untuk TUHAN itu bukan membuang waktu, melainkan menggunakan waktu (bisa semakin lama dirumah TUHAN). Raja Daud bersaksi => 'lebih baik satu hari di rumah TUHAN daripada seribu hari di tempat ...' Inilah orang yang rohani. Kalau orang jasmani (orang daging) => 'ini sudah jam berapa?' Tidak akan betah di dalam rumah TUHAN. Mari biarlah sekarang ini, kita dapat menerima pengajaran. Orang yang buta tidak mau mendengarkan Firman pengajaran dengan alasan: terlalu lama, terlalu keras, dsb.


    • Menolak juga berarti mau mendengar Firman pengajaran, mungkin malah memuji => 'Firmannya dahsyat, hebat' Tetapi tidak mau dengar-dengaran = tidak taat. Sudah mendengarkan, tetapi tidak mau mempraktikan (tidak mau melakukannya). Ini sama dengan pelayanan tanpa Firman pengajaran yang benar = tanpa iman = tanpa kebenaran.


    Seringkali kita melayani, tetapi tanpa Firman (tanpa iman, tanpa kebenaran). Contohnya: hanya melihat yang jasmani saja, asal melayani (melayani dengan sembarangan). Ini seperti Marta. Maria duduk di bawah Kaki TUHAN untuk mendengarkan Firman dan dengar-dengaran. Tetapi dicela oleh Marta => 'hanya duduk, ini saya sudah sibuk' Tetapi TUHAN mengatakan kepada Marta => 'Marta, engkau kuatir, menyusahkan diri' Pelayanan tanpa Firman (tanpa iman), cirinya adalah terus merasa kuatir (kuatir tentang perkara-perkara jasmani, kehidupan sehari-hari, masa depan), tidak pernah tenang dan susah (bagaikan hidup dalam duri-duri). Hidup ditengah semak duri = begitu susah, pedih dan banyak air mata. Semoga kita mengerti.

    Inilah praktik buta yang pertama; tidak dapat melihat cahaya injil kemuliaan Kristus (Firman pengajaran yang benar, yang lebih tajam dari pedang bermata dua). Kalau tidak dapat taat dengar-dengaran, inilah pelayanan tanpa Firman ALLAH (tanpa iman, tanpa kebenaran). Ini Seperti Marta, yang ditandai dengan selalu kuatir, hidupnya tidak dapat tenang dan kesusahan (suasana semak duri). Semoga kita dapat mengerti.


  2. 2 Petrus 1: 9, Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.

    Ay 9 => 'bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan' = lupa pengampunan =buta.

    Praktik kedua: buta = lupa akan pengampunan dosa, sehingga jatuh bangun dalam dosa (dosanya sudah diampuni, berbuat dosa lagi) = hidup dalam kegelapan dosa. Jika sudah diampuni berbuat lagi, (maaf) seperti anjing dan babi. Inilah bangsa kafir. Anjing muntah dijilat lagi. Babi dimandikan, berkubang lagi. Jika jatuh bangun dalam dosa (tidak hidup suci, hidup dalam kegelapan dosa), ini sama dengan pelayanan tanpa kesucian (tanpa pengharapan). Tadi yang pertama, pelayanan tanpa Firman (tanpa iman, tanpa kebenaran).

    Pelayanan tanpa kesucian (tanpa pengharapan) artinya:


    • tidak ada pengharapan untuk menjadi sama mulia (menjadi sempurna) dengan YESUS.
    • tidak ada harapan untuk menjadi Mempelai Wanita. YESUS sebagai Kepala, Mempelai Pria (Suami). Kita sebagai tubuh, Mempelai Wanita (isteri). Kita boleh memiliki cita-cita atau pengharapan di dunia ini, mau jadi apa saja silahkan (asalkan halal), tetapi jangan lupa masih ada cita-cita tertinggi yaitu cita-cita yang rohani. Kalau tidak mencapai cita-cita tertinggi, biarpun kita menjadi presiden, dokter dll, semuanya tidak akan ada gunanya (semuanya akan hancur bersama dunia). Cita-cita kita harus meningkat sampai kepada cita-cita tertinggi.


    1 Yohanes 3: 2, 3,
    2. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
    3. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

    Ay 2 => 'tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak' => Tetapi nanti bagaimana keadaan kita?
    'bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya' => datang kembali ke dua kali.

    Ay 3 => 'menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci' => harus hidup suci; lepas dari dosa. Jangan terus jatuh bangun dalam dosa.

    Kesaksian tadi, kita berusaha, tetapi serahkanlah kepada TUHAN. Seringkali kita memaksakan TUHAN, jangan! Kita mempunyai cita-cita, kita berusaha sekeras-kerasnya, selebihnya serahkanlah kepada TUHAN. Seringkali TUHAN mempunyai rencana yang berbeda dengan kita. Saya sampai berusia dua puluh tahun, tidak ada rencana untuk menjadi hamba TUHAN dan saya juga tidak mau, sebab orang tua saya bukan pendeta. Tetapi rencana TUHAN lain. Dulu saya menolak-nolak, akhirnya rencana TUHAN saya harus menjadi seorang hamba TUHAN. Inilah rencana TUHAN dalam hidup kita. Kita berusaha, selebihnya serahkan dalam Tangan TUHAN, TUHAN lah yang menentukan. Ini bukan bodoh-bodoh => 'ya sudah aku tidak tahu apa-apa TUHAN' Jangan! Silahkan berusaha 'capailah cita-cita setinggi langit' Tetapi serahkanlah semuanya ke dalam Tangan TUHAN.

    Banyak pengharapan atau cita-cita kita di dunia ini, tetapi jangan lupa, masih ada pengharapan tertinggi dalam hidup di dunia ini, yaitu pengharapan untuk menjadi sempurna seperti YESUS (menjadi sama mulia dengan YESUS) saat YESUS datang kembali ke dua kali. Kalau tidak mencapai cita-cita tertinggi (biar sudah menjadi presiden, dokter, pengusaha kaya) = masih ada cacat cela (tidak sempurna), kita ketinggalan, tidak dapat terangkat bersama dengan Dia saat TUHAN datang, maka semuanya itu menjadi sia-sia. Dunia ini akan hancur. Mungkin sebagai hamba TUHAN, mempunyai cita-cita gereja yang lebih besar (kami di Malang juga berdoa, supaya dapat membeli tanah dibelakang), silahkan saja, tetapi kalau TUHAN datang kita tidak sempurna seperti Dia (tidak sama mulia dengan Dia), semuanya akan hancur, sia-sia dan tidak ada artinya sedikitpun. Semoga kita dapat mengerti.

    Pada ay 3 'kalau kita mempunyai pengharapan, kita harus hidup suci. Kalau ingin sempurna seperti YESUS mulai sekarang kita harus hidup suci lewat pekerjaan Firman pengajaran yang benar, yang lebih tajam dari pedang bermata dua. Kalau tidak ada Firman yang tajam, mana mungkin kita dapat menjadi suci (pendetanya saja tidak suci). Jadi harus mempunyai pedang.

    Saya sudah pernah bercerita. Saya mencari keselamatan di kuburan, minum air bunga. Saya bukan keturunan orang Kristen, tetapi lewat penginjilan saya dapat percaya YESUS, bertobat, diselamatkan dan diberkati oleh TUHAN. Tetapi sesudah itu harus ada pengharapan tertinggi, yaitu menjadi sempurna, tidak bercacat cela.

    Bagaimana jalannya? Hidup suci. Harus punya pedang, kalau tidak ada pedang, tidak akan bisa. Oleh sebab itu di gereja, harus ada penginjilan untuk membawa jiwa baru, tetapi yang sudah lama ini mau kemana? Yang lama, diberikan makanan keras (pedang firman). Nanti tanggal 13, akan diadakan baptisan, inilah penginjilan untuk menambah jiwa baru. Bukan berarti penginjilan tidak penting, penginjilan penting! Tetapi harus ditingkatkan lewat pedang supaya dapat hidup suci, sampai menjadi sempurna seperti YESUS.

    Jadi buta itu tanpa pengharapan = tidak dapat hidup suci = hidup dalam dosa (kegelapan). Tadi, jatuh bangun dalam dosa seperti anjing dan babi. Termasuk saya juga diperiksa, maafkan, banyak pelayan TUHAN yang sudah menjadi anjing babi. Berkhotbah di mimbar, pemain musik, menyanyi, padahal anjing babi, betapa kita menipu!

    Inilah pelayanan yang buta yaitu:


    • tanpa harapan.
    • tanpa kesucian. Mulai saya sebagai gembala, zangkoor, pemain musik, harus bertanggung jawab dihadapan TUHAN. Contohnya: kalau kita memelihara anjing, saat kebaktian anjing masuk ke dalam gereja, tetapi tidak merasa malu. Bahkan sampai di mimbar, tidur-tidur, tidak malu. Sekarang ini banyak pelayan yang buta. Ini koreksi bagi saya. Semoga kita dapat mengerti.


    Dalam pekerjaan banyak melakukan dosa-dosa (menipu), demikian juga dalam nikah, dalam pergaulan (hancur) dan sebagainya, tetapi melayani di mimbar, menyanyi, bermain musik, padahal buta (tanpa pengharapan). Mau dibawa kemana sidang jemaat? Saudara jangan ditipu dan jangan bodoh. Semoga kita dapat mengerti.

    Tadi pertama, pelayanan yang buta itu tanpa iman (tanpa kebenaran, tanpa Firman), kedua tanpa pengharapan (tanpa kesucian seperti anjing babi dan tidak dapat menjadi sama dengan YESUS).


  3. 1 Yohanes 2: 11, Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

    Ay 11 => 'Ia tidak tahu ke mana ia pergi' => buta; tidak tahu arah ke surga atau Yerusalem Baru.

    Praktik ketiga: membenci sesama, sampai kebencian tanpa alasan = tidak mengasihi TUHAN. Kalau ditanya, apa alasannya kamu membenci? Tunjukkan apa salahku? => 'kalau ada salah, aku mau mengaku dosa (mau mencium lututnya kalau perlu)'Tetapi kehidupan itu tidak dapat menunjukkan kesalahannya. Inilah kebencian tanpa alasan, dan sangat gawat. Inilah pelayan TUHAN yang buta bahkan antar sesama hamba TUHAN dapat terjadi demikian.

    Seperti ada ayat => 'barangsiapa berkata aku mengasihi TUHAN (yang tidak kelihatan), tetapi dia tidak bisa mengasihi sesama yang kelihatan, dia pendusta' Jadi harus mengasihi keduanya. Seperti dua loh batu, yang tidak dapat dipisahkan:


    • Loh batu pertama: kasih kepada TUHAN,
    • Loh batu kedua: kasih kepada sesama.


    1 Yohanes 4: 20,21,
    20. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
    21. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

    Ay 21 => inilah rumusnya TUHAN.
    Kalau membenci sesama (sampai kebencian tanpa alasan), berarti sebenarnya dia tidak mengasihi TUHAN. Mulai dari:


    • Tidak setia, tidak berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan, bahkan sampai tinggalkan ibadah pelayanan (sengaja tinggalkan ibadah pelayanan).
    • Tidak taat dengar-dengaran kepada TUHAN.


    Jadi pelayanan yang buta = pelayanan tanpa kasih ALLAH.

Tadi
:

  1. tanpa iman (tanpa kebenaran, tanpa Firman) = menolak pengajaran yang benar yang lebih tajam dari pedang bermata dua (tidak mau mendengar dan tidak dengar-dengaran). Kemudian,


  2. tanpa pengharapan (tanpa kesucian) = jatuh bangun dalam dosa seperti anjing babi (hidup dalam kegelapan dosa). Kemudian,
  3. tanpa kasih = membenci sesama tanpa alasan, berarti juga tidak mengasihi TUHAN.

Jika disimpulkan (dari praktik pertama sampai ketiga) maka pelayanan yang buta = pelayanan tanpa iman (tanpa kebenaran), tanpa pengharapan (tanpa kesucian), tanpa kasih ALLAH = pelayan duniawi. Misalnya: pemain musik di dunia ini, tidak perlu kebenaran (tidak peduli lagi akan kebenaran). Tanpa kesucian juga, jatuh bangun dalam dosa (anjing babi), mereka tetap saja bermain musik. Tanpa kasih, tidak mendahulukan TUHAN. Jangan sampai di gereja terjadi seperti itu. Semoga kita mengerti.

Jika pelayanan yang buta (pelayanan duniawi, pelayanan tanpa iman, pengharapan, kasih), akibatnya adalah:

  • pelayanannya menjadi sia-sia, karena ditolak oleh TUHAN,
  • hidup dalam kutukan dan
  • masuk dalam kegelapan yang paling gelap (binasa di neraka selamanya). Ini sudah melayani TUHAN, tetapi ditolak oleh TUHAN. Saya selalu mengatakan => 'jangan asal melayani' Seperti Kain dan Habel sama-sama melayani, tetapi pelayanan Kain ditolak dan pelayanan Habel yang diterima. Jadi harus waspada, sebab ada pelayanan yang buta; tidak diterima, sia-sia, tidak berkenan kepada TUHAN dan hidup dalam suasana kutukan. Contohnya seperti Marta. TUHAN mengatakan kepada Marta => 'engkau susah, kuatir' Inilah suasana kutukan, penuh duri-duri. Sampai kegelapan yang paling gelap, binasa di neraka untuk selamanya.

Inilah pelayan yang buta; tanpa iman (tanpa kebenaran, tanpa Firman). Firman itu komando. Bagaimana kita dapat melayani kalau tidak tahu apa Komandonya (menolak Komando). Kalau belum diperintahkan, kita mau melayani apa? Harus menerima Komando terlebih dahulu (Firman), baru kita dapat melayani. Selanjutnya, tanpa kesucian (tanpa pengharapan) dan tanpa kasih. Kalau tanpa kasih, akan menjadi sia-sia (tidak berguna) dan tidak kekal. Jangan menjadi pelayan yang buta, seperti Efesus yang diambil kaki diannya (gelap, buta). Tetapi biarlah sekarang ini kita melayani pelayanan di dalam terang. TUHAN akan menyucikan pelayanan, kehidupan kita (percikan darah), supaya kita melayani pelayanan dalam terang.

Masuk pelayanan dalam terang, yaitu pelayanan di dalam:

  • iman (kebenaran),
  • pengharapan (kesucian) dan
  • kasih (kesempurnaan).

Saat ini TUHAN mau menyucikan kita dengan percikan darah, supaya kita tidak menjadi pelayan yang buta, tetapi kita melayani dalam pelayanan terang (yang celik). Sekarang pertanyaannya, dimana kita dapat melayani pelayanan di dalam terang? Jawabannya adalah di dalam sistim penggembalaan yang benar dan baik => 'Akulah Gembala Yang Baik' Tanda penggembalaan yang benar dan baik adalah dibina oleh Firman pengajaran yang benar (pokok anggur yang benar, makanan yang benar). Kalau dalam penggembalaan diberikan racun (gembala itik, kambing, domba, lembu) sedikit demi sedikit, nanti akan menjadi kurus, tidak sehat dan mati. Waspada! Penggembalaan yang benar dan baik itu bukan gedungnya, orangnya dll, melainkan tentang makanannya (makanannya harus benar). Makanannya jangan tercampur sedikitpun. Jangan mengatakan => 'hanya sedikit saja' Yang namanya sedikit, itu racun. Kalau nasinya satu piring, racunnya dua piring, orang tidak mau makan. Kalau nasinya satu piring, racunnya seujung kuku, baru dimakan orang. Kalau saudara mengatakan => 'hanya berbeda sedikit' Itulah racun. Kalau bedanya sudah banyak, itu bukan racun lagi, semua orang banyak yang tahu.

Tugas pokok gembala adalah memberi makan domba-domba dengan makanan yang benar (Firman pengajaran yang benar). Kalau orang lain yang memberi makan, tidak tahu makanan apa yang diberikan. Permisi, kalau gembala tidak mau memberi makan sidang jemaat, dia adalah seorang pencuri dan perampok (bukan gembala). Jangan mau digembalakan oleh pencuri dan perampok. Tugas domba adalah makan Firman penggembalaan (Firman pengajaran yang benar). Tugas domba hanya makan saja, tidak ada yang lainnya. Dan kalau domba dapat makan Firman pengajaran yang benar, maka domba mendapatkan segala-galanya. Bukti tergembala adalah dapat makan (bukan dapat senang dll). Coba, kalau saudara senang terus (menyanyi terus), tetapi tidak diberikan makan, akhirnya pingsan (tidak kuat). Tetapi kalau diberi makan, bisa bertumbuh (domba keluar wol, dibuat jas) dan mendapatkan semuanya. Inilah rahasianya!

Rahasia bagi gembala, kalau mau dipakai oleh TUHAN, adalah memberi makan domba-domba dengan pengajaran yang benar (makanan yang benar). Jangan sampai tercampur sedikitpun. Inilah ketegasan dan tanggung jawab seorang gembala. Tugas domba adalah makan dengan sungguh-sungguh (dengan lahap), sehingga mendapatkan segalanya. Segi kehidupan apapun, termasuk masa depan, ada di dalam Firman. Di dalam Firman, ada kuasa penciptaan => 'pada mulanya adalah Firman' Inilah yang menciptakan semuanya. Kuasa penciptaan (dari tidak ada menjadi ada) inilah yang kita butuhkan. Semoga kita dapat mengerti.

Kalau kita mau melayani dalam terang, harus tergembala dengan benar dan baik. Firman penggembalaan = tongkat gembala untuk menggiring (menuntun) domba-domba masuk kandang penggembalaan. Kalau domba tidak masuk ke kandang, bisa dipikir miliknya orang lain. Kalau ada binatang buas, bisa diterkam karena tidak ada pemiliknya. Yang namanya domba harus berada di dalam kandang. Inilah kekuatan Firman. Dulu Musa naik ke gunung Sinai untuk melihat kerajaan surga, kemudian TUHAN perintahkan Musa untuk membuat surga di bumi, itulah tabernakel (kemah suci). Saudara dapat membaca mulai Keluaran 25.
 Kerajaan surga terbagi tiga ruangan; ada halaman, ruangan suci, dan ruangan maha suci (terdapat tabut perjanjian). Keselamatan (percaya YESUS, bertobat), itu masih berada di halaman (terkena panas, angin, hujan). Sebab itu harus masuk ke kandang penggembalaan atau ruangan suci (mulai aman). Dulu, dalam ruangan suci terdapat tiga macam alat. Kalau bangsa Israel mau beribadah kepada TUHAN dalam sistem kerajaan surga, tiga macam alat ini harus dibuat. Pelita emas terbuat dari tiga puluh empat kilogram emas. Meja roti sajian terbuat dari kayu yang disalut dengan emas. Mezbah dupa emas terbuat dari kayu yang disalut dari emas. Semuanya mahal.  

Ketiga macam alat ini sudah hancur semuanya, tetapi sekarang dalam arti yang rohani, yaitu ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok:

  1. Pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya (ibadah hari Minggu semacam ini). Ini persekutuan dengan ALLAH Roh Kudus di dalam karunia-karunia-Nya. Dalam ibadah hari Minggu, ada kesaksian, nyanyian dll. Disini, domba-domba diberikan minum (segar). Contohnya: karena gembala mempunyai karunia menimbang roh, sehingga dapat menyampaikan Firman yang benar. Karena mempunyai penimbang => 'ini benar, ini tidak benar. Ini racun atau bukan' Ada juga karunia untuk bermain musik. Kalau ini dilakukan dengan tekun, akan menjadi karunia yang permanen (pengharapan yang permanen). Pelita emas akan menjadi tongkat Harun yang bertunas, berbunga dan berbuah (permanen). Semestinya tongkat itu tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi karena diletakkan di depan TUHAN, maka tongkat itu dapat bertunas, berbunga. Ini berarti ada harapan yang kekal (harapan yang permanen), sampai menjadi mahkota dua belas bintang (terang bintang). Jadi kebaktian Minggu semacam ini, supaya jangan gelap. Disini diberikan minum (segar), tetapi juga diberikan terang supaya tidak gelap (buta).


  2. Meja roti sajian: ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci. Ini persekutuan dengan Anak ALLAH di dalam Firman pengajaran dan Kurban Kristus. Disini domba-domba diberikan makan. Kalau minum terus, tidak makan, akan buncit. Harus makan (diberikan makan, sehingga dapat bertumbuh). Kalau kita bertekun, maka kita akan mengalami penebusan lewat Firman dan perjamuan suci = kelepasan dari dosa. Setiap kita menerima perjamuan suci, kita mengoreksi diri => 'saya ada dosa, lepaskan TUHAN' Terus ditebus atau dilepaskan dari dosa, sehingga kita dapat terus hidup benar sampai menjadi iman yang permanen. Lewat Firman pengajaran yang benar dan perjamuan suci, kita mempunyai iman yang teguh sampai dengan iman yang permanen = buli-buli emas berisi manna = terang bulan dibawah kaki. Dalam Wahyu 12:1, ada perempuan dengan mahkota dua belas bintang, ada terang bulan dibawah kakinya.


  3. Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan = persekutuan dengan ALLAH Bapa di dalam kasih-Nya. Doa ini bagaikan bernafas; sirkulasi udara yang baik. Dalam penyembahan ada sinar matahari (kasih ALLAH bagaikan sinar matahari); kita merasakan kasih ALLAH yang meningkat sampai dengan sempurna = kasih yang permanen = dua loh batu. Dari mezbah dupa emas, menjadi dua loh batu, dan nanti menjadi terang matahari dalam kehidupan kita.

Inilah domba-domba yang dibawa ke dalam kandang penggembalaan. Keberhasilan pemberitaan Firman seorang gembala adalah kalau dapat membawa domba-domba ke kandang penggembalaan (bukan gembala yang beranak domba). Kalau jemaat banyak, jangan terlalu bangga, sebab itu bukan tugas gembala. Tugas gembala adalah membawa domba masuk ke dalam kandang penggembalaan. Seringkali kita berkata => 'hari Minggu ribuan..' Waktu ibadah doa, domba tinggal berapa? Yang lainnya berada diluar kandang. Inilah tugas dari gembala; berdoa supaya domba-domba masuk di dalam kandang penggembalaan, diberikan makan, minum, bernafas, sehingga mengalami pertumbuhan rohani sampai dewasa rohani (sempurna).

Lewat kebaktian umum kita mendapatkan terang bintang (karunia yang permanen, pengharapan yang permanen). Kemudian lewat kebaktian pendalaman alkitab dan perjamuan suci kita lepas dari dosa, hidup benar (iman). Iman kita semakin teguh (tidak mau berbuat dosa lagi), sampai menjadi iman yang permanen, menjadi buli-buli emas berisi manna = menjadi terang bulan dibawah kaki.

Inilah pelayanan dalam terang. Dalam kandang penggembalaan (ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok) ada terang bintang, terang bulan, terang matahari. Tekuni terus sampai menjadi permanen yaitu: iman yang sempurna, pengharapan yang sempurna, dan kasih yang sempurna. Kita memiliki terang sehingga pelayanan kita tidak buta lagi. Jadi pelayanan dalam terang adalah pelayanan dengan iman, pengharapan dan kasih sampai permanen (sempurna). Tadi pelayanan yang buta adalah tanpa iman, tanpa pengharapan dan tanpa kasih.

Jika dibandingkan, ini sama dengan tiga murid YESUS yang menonjol (yang selalu diajak YESUS), yaitu Petrus, Yakobus, Yohanes. Iman menunjuk Yakobus. Yakobus menuliskan surat tentang iman. Kalau saudara cek dalam surat Yakobus ini tentang iman => 'iman tanpa perbuatan, mati' Petrus menulis tentang kesucian => 'kalau kamu taat, kamu menyucikan dirimu' ... 'hendaklah kamu suci seperti YESUS suci (kudus)' Ini ada dalam surat Petrus. Kalau rasul Yohanes menulis tentang kasih.

Jadi pelayanan dalam terang = pelayanan dalam iman, pengharapan, kasih sampai
sempurna = pelayanan dari Yakobus, Petrus dan Yohanes yang selalu diajak TUHAN. Inilah tiga murid yang sering diajak YESUS, murid yang lainnya diusir. Hari-hari ini jangan asal melayani, jangan buta (tidak tahu arah)! Biarlah hari-hari ini tergembala dengan sungguh-sungguh, mulai dari saya sebagai gembala harus tergembala, supaya melayani di dalam terang bulan, bintang dan matahari (ada iman, pengharapan dan kasih yang meningkat sampai permanen atau sempurna).

Matius 17: 1, 2,
1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
2. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

Ay 1 => 'Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya' => sekarang jangan mencari Petrus dll, bukan! Tetapi pribadi kita. Kalau kita memiliki iman, maka itu seperti ada Yakobus, kalau memiliki pengharapan seperti ada Petrus, kalau punya kasih seperti ada Yohanes. Jadi kita diajak oleh TUHAN dan pelayanan kita akan meningkat sampai naik ke gunung. Pelayanan jangan merosot! Kalau kasih mula-mula hilang, pelayanan akan merosot. Ingat bagaimana kita menerima kasih TUHAN yang mula-mula? Ingat bagaimana dulu kita diangkat menjadi pelayan TUHAN

Kalau kita kehilangan kasih mula-mula, maka semuanya akan hilang. Harus meningkat, sebab itu berarti kita diajak naik ke gunung. Petrus, Yakobus, Yohanes (pelayanan dengan iman, pengharapan dan kasih dalam terang), bukan kehilangan kasih mula-mula tetapi semakin meningkat (naik gunung).

Jadi Petrus, Yakobus, Yohanes diajak naik ke gunung yang tinggi, sekarang artinya kalau kita melayani di dalam terang (dalam iman, pengharapan dan kasih), maka pelayanan kita tidak tetap atau mundur, tetapi akan meningkat sampai puncak ibadah pelayanan. Puncak ibadah pelayanan yaitu sampai kita dapat menyembah kepada TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.

Jadi pelayanan kita bukanlah statis (tetap), apalagi mundur, jangan! Kalau pelayanan kita statis atau mundur, maka TUHAN berkata => 'Aku mencela engkau... engkau telah kehilangan kasih mula-mula' Biarlah pelayanan kita dengan kasih mula-mula yang semakin bertambah; pelayanan kita tidak buta, tetapi terang (ada iman, pengharapan, kasih). Bagaikan diajak YESUS naik terus, sehingga pelayanan kita naik terus, sampai puncak ibadah pelayanan, yaitu kita dapat menyembah kepada TUHAN. Tadi diatas gunung, tiba-tiba Wajah TUHAN bersinar dalam kemuliaan. Menyembah TUHAN = melihat TUHAN dalam kemuliaan = menyerah sepenuh kepada TUHAN. Mari naik ke gunung (meningkat). Saya juga dikoreksi, bagaimana pelayanan? Apakah statis, turun, atau meningkat sampai dapat melihat Wajah TUHAN dalam kemuliaan?

Sekarang ini TUHAN berkata => 'Aku mencela engkau..' Ini bukan untuk menghukum, tetapi masih diberikan kesempatan. 'Aku mencela ...'menunjuk penyucian terakhir, supaya kita kembali kepada kasih mula-mula. Tidak melayani dengan buta, tetapi melayani dengan iman (kebenaran, Firman), pengharapan (kesucian, jangan buta, jangan jatuh bangun dalam dosa), dengan kasih (jangan membenci sesama, jangan tidak mengasihi TUHAN, jangan tidak setia, jangan tinggalkan ibadah pelayanan).

Hasilnya adalah

  1. Markus 5: 35-37,
    35. Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"
    36. Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"
    37. Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.

    Ay 37 => Yang lainnya tidak diajak, YESUS hanya mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk menghadapi orang yang sudah mati.

    Orang yang sudah mati mau diapakan, mau memanggil profesor? Gelar profesor, doctor, dokter spesialis, juga tidak akan bisa. Mau menggunakan uang di bank (triliunan), tidak akan bisa karena sudah mati. Kekuatan dunia apa, ambil emas batangan yang banyak, juga tidak bisa. Pakai obat, tidak akan bisa. Hanya bisa dengan iman, pengharapan dan kasih. Petrus, Yakobus dan Yohanes diajak masuk, setelah itu anaknya dibangkitkan.

    Markus 5: 41-43,
    41. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
    42. Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.
    43. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

    Inilah yang mati dapat bangkit dengan iman, pengharapan dan kasih.

    Hasil pertama adalah kita mengalami kuasa untuk menghidupkan apa yang sudah mati, artinya:


    1. Kuasa TUHAN sanggup untuk memelihara kehidupan kita secara jasmani ditengah kemustahilan. Mungkin toko, gaji, pekerjaan kita mustahil (tidak cukup), tetapi kalau saat ini kita kembali kepada kasih mula-mula yaitu kita beribadah melayani TUHAN dengan iman, pengharapan dan kasih. Seperti kesaksian tadi => 'selebihnya serahkan TUHAN'. Lima roti dua ikan tidak dapat berbuat apa-apa jika berada di tangan kita, tetapi kalau diserahkan kepada TUHAN. Lihatlah Wajah TUHAN; menyembah TUHAN => 'terserah Engkau TUHAN ... usaha saya hanya sampai disini, gaji saya hanya sampai disini TUHAN, saya sudah berusaha untuk toko, dengan ditambah ini itu hanya sampai sekian, saya sudah belajar dan ditambah dengan les tetap tidak bisa, saya serahkan kepada TUHAN' Kuasa TUHAN mampu memelihara kehidupan kita ditengah kemustahilan.


    2. Kuasa TUHAN sanggup menolong kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sudah mustahil. Tadi kuasa TUHAN sanggup untuk memelihara kita, jangan bergantung gaji sekalipun kita memiliki gaji,. Dulu ada satu jemaat tidak percaya, saat saya mengatakan => 'sekalipun punya gaji, kita tidak bergantung dari gaji, melainkan bergantung kepada TUHAN' Dia langsung tertawakan saya (menghina) => 'gaji suami saya dua digit dalam juta (memang sudah lama menjadi pegawai negeri, pegawai negeri tingkat tinggi bagian keuangan), mana bisa tidak hidup dari gaji' Setelah itu apa yang terjadi, anaknya begini begitu dan dia harus membayar semuanya. Tiap bulan, gajinya dipotong (rumahnya sudah dijual), tinggal nol (benar-benar nol rupiah). Setelah dua atau tiga bulan, dia menghadap saya => 'oom, gaji saya nol selama dua bulan' Saya bertanya => 'kamu makan dari apa?' Dia menjawab => 'benar oom, saya makan dari iman. Dulu saya tidak percaya. Saya pikir gaji dua digit dalam juta bisa menghidupi saya, ternyata sekarang gaji nol pun saya masih bisa hidup selama dua bulan' Biarlah ada iman, pengharapan dan kasih. Semoga kita dapat mengerti.


    3. Kuasa TUHAN memberikan masa depan yang berhasil, indah dan bahagia. Anak yang sudah mati, tidak ada lagi masa depan, mau diapakan? Mau disekolahkan ke universitas yang terkenal tidak bisa, karena sudah mati. Tetapi kuasa TUHAN dapat memberikan masa depan yang berhasil, indah dan bahagia.


  2. Galatia 2: 9, Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

    Ay 9 => 'Kefas' = Petrus.
    'sokoguru jemaat' => tiang penopang dalam jemaat.
    'supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat'? sampai kepada bangsa kafir, menjadi Tubuh Kristus.

    Hasil kedua adalah dipakai dalam kegerakan pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna. Sampai Israel dan kafir menjadi satu tubuh yang sempurna, menjadi Mempelai Wanita yang siap untuk menyambut kedatangan YESUS yang ke dua kali di awan-awan permai. Asalkan menjadi soko guru, artinya kuat dan teguh hati atau tahan uji. Orang yang mempunyai iman, pengharapan dan kasih itu kuat teguh hati (tahan uji) dalam menghadapi:


    1. Tahan uji dalam menghadapi pencobaan-pencobaan: tetap percaya dan berharap YESUS,
    2. Tahan uji dalam menghadapi dosa-dosa: tetap hidup benar dan suci,
    3. Tahan uji dalam menghadapi apapun.


    Kalau menjadi soko guru (tahan uji), maka dipakai dalam pembangunan Tubuh Kristus. Yang dipakai dalam kegerakan bukanlah orang yang uangnya banyak, tidak! Melainkan orang yang kuat teguh hati (soko guru). Orang yang kuat teguh hati dicari oleh TUHAN. Saat dihantam pencobaan, tetap percaya YESUS, tetap beribadah. Saat dihantam dosa-dosa, tetap hidup benar. Kaum muda harus kuat teguh hati. Tadi saya pesan ke anak-anak yang akan ikut ujian nasional => 'sekalipun gurumu ada diluar, jangan mencontek dan saya doakan' Dalam ujian nasional biasanya gurunya memberikan kesempatan. Ada satu siswa, karena datang terlambat, dia mencontek. Sampai hari ini semuanya sukses, tetapi ada satu siswa mencontek satu soal (matematika), sehingga dia tidak lulus. Dia malam-malam telepon saya sambil menangis => 'kamu sudah melanggar' Dia tidak lulus hanya selisih 0,25 . Saya yakin seandainya dia tidak mencontek, dia lulus. Jangan main-main dengan TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.


  3. Matius 17: 1, 2,
    1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
    2. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

    Ketika Petrus, Yakobus dan Yohanes diajak naik keatas gunung, tiba-tiba wajah YESUS berubah. Inilah mujizat terbesar.

    Hasil ketiga adalah kuasa TUHAN sanggup mengubahkan kita dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti YESUS. Inilah mujizat terbesar, setan tidak dapat melakukan mujizat ini; kalau sakit menjadi sembuh setan dapat melakukan. Tetapi kalau manusia daging yang berdosa, menjadi sama dengan YESUS, setan tidak dapat melakukan. Keubahan hidup itulah mujizat terbesar. Keubahan hidup dimulai dari wajah (wajah menunjuk hati), yaitu hati yang taat dengar-dengaran. Kaum muda taat kepada TUHAN yang tidak kelihatan, taat kepada gembala, taat kepada orang tua.

    Ketaatan dalam tabernakel dibagi menjadi tiga:


    1. Halaman: taat kepada orang tua jasmani,
    2. Ruangan suci: taat kepada gembala,
    3. Ruangan maha suci: taat kepada TUHAN.


    Kalau mujizat rohani terjadi (taat), maka mujizat jasmani juga terjadi, yaitu bahagia. Dalam Matius 17:4, Petrus mengatakan => 'TUHAN betapa bahagianya aku. Jika Engkau mau, akan kudirikan kemah' Petrus tidak mau turun lagi. Dulu saat naik gunung tidak seperti sekarang (pakai ransel, penutup kepala, alat perlengkapan tidur). Tetapi mereka senang berada di gunung, karena ada kemuliaan TUHAN (bahagia). Semakin kita diubahkan, semakin bahagia. Ini rumusnya! Kalau semakin kaya, belum tentu semakin bahagia. Sekarang banyak orang kaya yang bunuh diri. Bukan berarti tidak boleh kaya, silahkan. Semakin pandai belum tentu semakin bahagia sebab banyak orang pandai yang juga membunuh diri, juga banyak orang pandai berselingkuh dll, inilah bukti tidak bahagia. Tetapi kalau semakin taat (semakin diubahkan), pasti semakin bahagia.

    Waktu mujizat lima roti dua ikan dibagikan kepada lima ribu orang, Petrus tidak mengatakan 'betapa bahagianya' Tetapi waktu menyembah, Petrus mengatakan 'betapa bahagianya' Diubahkan itulah bahagia. Bagaikan air diubahkan menjadi anggur, bisa dicicipi. Mungkin hidup kita sudah tawar, seperti air biasa, seperti jamu yang pahit, tetapi kalau sekarang ini kita diubahkan menjadi taat dengar-dengaran, maka ada air anggur yang manis dan kita bahagia. Semoga kita dapat mengerti.

    Jika YESUS datang kembali ke dua kali, kita diubahkan menjadi sama mulia dengan Dia, kita memandang Dia Muka dengan muka. Kita selama-lamanya berbahagia. Ada kuasa pemeliharaan, kuasa pertolongan, kuasa yang memberikan masa depan yang indah, kuasa untuk memakai kita dalam kegerakan hujan akhir dan kuasa mujizat (keubahan hidup). Berarti mujizat yang lainnya juga dapat terjadi (mujizat yang jasmani). Sampai kita menjadi sempurna seperti Dia.

    1 Korintus 13: 12,13,
    12. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
    13. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

    Ay 12 => 'Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat Muka dengan muka' => kita masih samar-samar dalam melihat YESUS. Semakin disucikan dan diubahkan, kita semakin jelas melihat YESUS. Sampai satu waktu jika TUHAN YESUS datang kembali ke dua kali, kita diubahkan menjadi sempurna, kita dapat melihat Dia Muka dengan muka.

Kalau kita memiliki iman, pengharapan dan kasih, maka kita dapat terangkat ke awan-awan, berjumpa dengan YESUS di awan-awan, memandang Dia Muka dengan muka dan kita berbahagia selama-lamanya. Jangan buta! Tetapi ada iman, pengharapan dan kasih (dalam terang). Saat ini kuasa TUHAN tidak terbatas.

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 07:00 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Mingu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 11:00 (Ibadah Raya)
Senin jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 11-13 Juli 2017
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 26-27 Juli 2017
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • Agustus 2017
    (Ibadah Kunjungan di Lumajang)

  • 08-10 Agustus 2017
    (Ibadah Kunjungan di Tana Toraja)

  • 19-21 September 2017
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • Oktober 2017
    (Ibadah Kunjungan di Jayapura)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top