Salam damai sejahtera di dalam kasih Kristus,
Saya mengucapkan syukur kepada Tuhan, kalu diberikan kesempatan untuk menuliskan
kasih dan kemurahan Tuhan yang berlaku dalam hidup saya, dalam keluarga maupun
dalam nikah. Saya berharap kesaksian ini bisa menjadi berkat dan kekuatan bagi
saudara-saudara sekalian yang sempat membaca.
Ada dua hal besar yang ingin saya saksikan:
- mujizat terbesar dalam keluarga
- mujizat jasmani
Mujijat terbesar yang saya alami dalam nikah rumah tangga adalah keubahan hidup
anak saya yang sulung. Sejak SMP anak saya selalu bikin ulah yang membuat kami
sebagai orangtua sering menangis. Dinasihati tidak mempan. Sikap yang menjengkelkan
itu terus berlanjut sampai akhirnya memuncak saat dia di SMA, dia jatuh dalam
pergaulan yang buruk dengan anak-anak di luar sekolah. Saya sebagai orangtua
hanya bisa berdoa, karena kami sudah habis akal untuk mengatasi sikap anak kami.
Puji Tuhan dia sempat bertobat dan setia dalam ibadah pelayanan tetapi kemudian
dia terhilang lagi. Saya terus berdoa supaya dia kembali setia, tetapi yang
saya lihat bahkan sebaliknya, sampai saya sudah hampir putus asa karena saya
anggap doa saya selama ini sia-sia. Tetapi puji Tuhan saat saya hampir putus
asa, saya menerima firman Tuhan yang disampaikan Bapak Pdt. Mikha sederhana
tapi hingga saat ini tergores jelas dalam hati saya yaitu: “kita tidak
bisa mengubah hati seseorang dengan cara apapun, yang bisa kita perbuat hanyalah
berdoa bagi orang itu dan Tuhan sanggup hati orang itu.” Hati saya menjadi
kuat dan memiliki pengharapan. Saya bersemangat kembali untuk berdoa, berdoa,
dan berdoa bagi keubahan anak saya.
Saya percaya Tuhan sanggup mengubahkan dia untuk bisa kembali setia dalam ibadah
pelayanan. Puji Tuhan, akhirnya doa saya dijawab oleh Tuhan. Hari Kamis, 7 Pebruari
2008 ada kebaktian Pendalaman Alkitab. Hari itu saya ajak anak saya ke gereja.
Pada mulanya malas untuk datang tapi akhirnya dia mau datang pada kebaktian
itu. Saat itu tangan kemurahan Tuhan menjamah hatinya sehingga setelah pulang
dia punya kerinduan untuk kembali setia. Dan sikapnya berubah dari air tawar
menjadi air anggur yang manis. Sekalipun baru secedok tetapi sudah bisa dinikmati,
saya sangat bersyukur pada Tuhan.
Mujizat yang kedua adalah mujizat jasmani yaitu pertolongan Tuhan dalam krisis
ekonomi yang kami alami tepat pada waktunya. Pada pertengahan tahun 2006, saya
mengalami krisis rohani yaitu suam-suam dalam ibadah pelayanan, mulai tidak
setia dalam 3 macam ibadah pokok yaitu dalam kebaktian doa penyembahan: datang,
tidak, datang, tidak, tidak, datang, dan akhirnya tidak datang dalam kebaktian
doa, kemudian merembet pada kebaktian pendalaman alkitab, mulai juga sering
absen, sekalipun dalam kebaktian umum masih tetap setia. Bapak gembala sering
mengatakan kalau yang rohani itu merosot maka cepat atau lambat yang jasmani
itu juga mengalami kemerosotan. Itulah yang terjadi dalam nikah-rumah tangga
kami. Mulai terjadi krisis ekonomi secara kecil-kecilan dan terus berlanjut
menjadi makin besar dan memuncak pada pertengahan tahun 2007 dan saat itu kami
sudah tidak dapat lagi mengatasinya. Saat itulah saya sadar bahwa saya sudah
tidak setia lagi kepada Tuhan. Tuhan ijinkan krisis itu terjadi supaya kami
kembali kepada Tuhan. Bapak gembala sering bilang kalau masalah itu sudah mencapai
klimaks, bukan saatnya untuk putus asa tetapi saatnya untuk mengangkat tangan
kepada Tuhan, kembali setia dalam penggembalaan. Dan itu yang kami lakukan,
kembali setia dalam 3 macam ibadah pokok. Saya mohon ampun kepada Tuhan kalau
selama ini sudah meninggalkan penggembalaan, sebagai seorang imam saya sangat
malu di hadapan Tuhan karena sudah menjadi imam yang tidak berharga dan tidak
berguna.
Tuhan tidak pernah menipu anak-anakNya, kalau yang rohani diperbaiki maka yang
jasmani pasti mengikuti. Tiga bulan kemudian kami mengalami mujizat secara jasmani
yaitu jalan keluar yang ajaib untuk krisis ekonomi yang kami hadapi. Saya katakan
ajaib karena manusia berkata mustahil tetapi kalau berada di tangan Tuhan menjadi
tidak mustahil. Puji Tuhan.
(Ibu Setyo, Malang)
|