[cetak]
Ibadah Doa Surabaya, 16 September 2009 (Rabu Sore)

Pembicara: Sdr. Budi Tampubolon

Matius 24: 32-35
NUBUAT TENTANG POHON ARA/ISRAEL
Pembaharuan/keubahan hidup ini bagaikan pohon ara yang melembut, bertunas dan berbuah.

Matius 24: 34-35
= pembaharuan/keubahan hidup dikaitkan dengan langit dan bumi yang berlalu. Jadi, kalau tidak mengalami pembaharuan, maka kita akan berlalu seperti dunia ini. Ini menunjuk pada pembaharuan perhatian.

Perhatian kita jangan hanya tertuju pada perkara dunia saja, sebab kalau tertuju pada dunia saja, maka kita akan ikut hancur bersama dengan dunia ini.

Perhatian yang dibaharui adalah perhatian terutama kepada perkara Tuhan, itulah perkara yang kekal, yaitu:

  1. firman pengajaran.
  2. kemurahan Tuhan.
  3. kerajaan Surga.
Kita masih membahas bagian yang ketiga.
2 Petrus 1: 11
Jadi, perhatian kita terutama adalah untuk masuk kerajaan Surga.

Bagaimana caranya kita masuk dalam kerajaan Surga?

Untuk masuk kerajaan Surga, kita harus menjadi seperti anak kecil yaitu mengalami kelahiran baru. Dan malam ini, kita membahas bahwa untuk masuk dalam kerajaan Surga, kita harus masuk dalam pertandingan.

1 Korintus 9: 24-27
Kerajaan Surga, itu adalah ruang maha suci. Dan untuk masuk ke sana, kita harus melewati gelanggang pertandingan, itulah ruangan suci.

Bagaimana sikap kita dalam pertandingan?

  1. 2 Timotius 2: 5= bertanding menurut peraturan= taat dengar-dengaran.
    Taat ini terhadap firman penggembalaan dan gembala yang dipercayakan oleh Tuhan.
    Dalam ruangan suci, ini menunjuk pada meja roti sajian. Artinya adalah ketekunan dalam ibadah pendalaman Alkitab.

    Taat dengar-dengaran ini sampai daging tidak bersuara. Seringkali kita bisa taat, tapi daging ini masih bersuara.

  2. 1 Korintus 9: 25a= menguasai diri dalam segala hal.
    Penguasaan diri adalah salah satu dari buah-buah Roh Kudus.
    Dalam ruangan suci, ini menunjuk pada pelita emas. Artinya adalah ketekunan dalam ibadah raya.

    Menguasai diri adalah tidak berharap pada yang lain, tapi hanya berharap pada Tuhan.

    1 Petrus 4: 7
    Tujuan kita menguasai diri adalah supaya kita dapat berdoa.
    Lalu, mengapa seringkali kita tidak mampu berdoa? Itu karena kita masih berharap pada yang lain. Belum berharap sepenuh kepada Tuhan.
    Kalau tidak bisa menguasai diri, kita tidak akan bisa berdoa.

  3. 1 Korintus 9: 24= lari begitu rupa= tidak membiarkan sedikit waktupun terbuang.
    Dalam Alkitab, lari begitu rupa ini artinya "jangan kau berikan dirimu istirahat".

    Ratapan 2: 18-19
    "Jangan berikan dirimu beristirahat" disini dikaitkan dengan doa penyembahan. Artinya "jangan berikan dirimu beristirahat dalam berdoa".
    Dalam perjamuan suci, ini menunjuk pada mezbah dupa.

    Praktik tidak beristirahat dalam berdoa adalah (ay. 19):
    • menaikkan doa penyembahan dengan hancur hati dan cucuran air mata. Hancur hati ini karena dosa kita yang begitu banyak, tapi bisa dilupakan oleh Tuhan.
    • mengangkat tangan kepada Tuhan= menyerah sepenuh kepada Tuhan.

    Kalau praktik ini ada, Tuhan pasti turun tangan dalam hidup kita. 

Hati-hati! Jangan kita salah sikap dalam pertandingan. Contohnya adalah istri Lot yang tidak taat, berharap pada hartanya, dan berlambat-lambat saat berlari. Akibatnya, jadi tiang garam, tidak ada gunanya sama sekali= GAGAL SELAMANYA.

Hasil kalau sikap kita benar dalam pertandingan ini:

  • Mazmur 34: 16= Mata Tuhan tertuju kepada kita. Artinya Tuhan selalu memperhatikan kita.
  • Mazmur 34: 19= Tuhan dekat dengan kita. Kalau Tuhan dekat dengan kita, maka kita akan mengalami damai sejahtera dan ketenangan.
  • Mazmur 51: 19= Tuhan tidak memandang kita sebagai hidup yang hina, tapi hidup kita jadi berharga di mata Tuhan.

Tuhan memberkati.