|
[cetak] Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 25 Januari 2012 (Rabu Sore) Ibadah Doa dialihkan pada hari Senin sebelumnya. Dari siaran langsung Ibadah Persekutuan di Medan IV (25 Januari 2012 Sore) Wahyu 19: 9 19:9. Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah." Tema "Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba". Jumlah dari kebenaran Firman akan membawa kita sampai pada perjamuan kawin Anak Domba. Perjamuan kawin Anak Domba adalh pertemuan antara Yesus sebagai Kepala dengan sidang jemaat sebagai tubuh Kristus yang sempurna. Sesudah itu, kit amasuk kerajaan 1000 tahun damai, sampai masuk kerajaan Surga yang kekal. Jadi, perjamuan kawin adalah pintu masuk untuk masuk Firdaus dan kerajaan Surga. Dulu, pintu masuk manusia ke bumi melalui nikah secara jasmani. Perjamuan kawin Anak Domba merupakan pemuncakan dari pesta/hari raya bangsa Israel. Ulangan 16: 16 16:16. Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, 3 macam pesta bangsa Israel:
2:41. Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 2:42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Kegenapan pesta Israel pada gereja hujan awal adalah 3 macam ketekunan. Pesta paskah= ketekunan dalam pengajran rasul-rasul dan pemecahan roti. Pesta Pentakosta= ketekunan dalam persekutuan. Pesta pondok daun= ketekunan dalam berdoa. Kegenapan pesta Israel pada geraja hujan akhir adalah ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok.
Jadi, ketekunan dalam penggembalaan akan memuncak pada pesta nikah Anak Domba. Malam ini, kita belajar PESTA PONDOK DAUN. Imamat 23: 33-34, 40, 42 23:33. TUHAN berfirman kepada Musa: 23:34. "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya. 23:40. Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya. 23:42. Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun, 'kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN'= suasana kebahagiaan yang rohani, harus dikontrol oleh Firman dan urapan Roh Kudus, bukan seperti kebahagiaan dunia (menjadi pesta dunia). Tiap pesta Israel, ada ciri khususnya. Ciri khusus pesta paskah= tidak boleh ada ragi. Ciri khusus Pesta Pentakosta= harus ada kualitas sulung. Ciri khusus Pesta Pondok Daun= tinggal di dalam pondok-pondok daun. Tinggal di pondok daun, artinya:
Tetapi kelemahannya adalah mau mengenakan yang baru, tetapi tidak mau menanggalkan yang lama ('tanpa menanggalkan yang lama'). Artinya: tidak mau mengalami keubahan hidup dan tetap mempertahankan manusia daging. Hal ini terjadi karena tidak mengutamakan pembukaan rahasia Firman, sehingga tidak mengalami kuasa Firman. Akibatnya:
Jawabannya: didalam doa penyembahan. Jadi, doa penyembahan adalah kita merendahkan diri untuk memandang wajah Yesus yang bersinar bagaikan matahari (sinar kemuliaan), sehingga kita mengalami keubahan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus. Kalau kita memandang wajah Yesus, yang daging dibuang dan matahari masuk. Efesus 4: 22-25 4:22. yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 4:23. supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 4:24. dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. 4:25. Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 'menanggalkan manusia lama'= membongkar pondok daun dan mengenakan manusia baru. Tanda kalau kita sudah dibaharui: tidak berdusta= jujur. Wahyu 14: 1, 5 14:1. Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. 14:5. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela. = kualitas mempelai yang ketiga adalah: tidak becela. Kualitas mempelai yang pertama: murni (sudah dijelaskan). Kualitas mempelai yang kedua: sulung (sudah dijelaskan). Kalau sudah tidak berdusta dan kita terus menyembah Tuhan, hidup kita akan terus diubahkan, sampai nanti kita tampil sebagai matahari. Kalau masih ada dusta, berarti tidak satu tubuh. Wahyu 12: 1 12:1. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. KUALITAS TIDAK BERCELA, yaitu: jujur= berkata benar sampai pada praktiknya. Titus 2: 7 2:7. dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, = kejujuran dimulai dari jujur soal pengajaran. Setelah itu jujur dalam keuangan, nikah dan jujur dalam segala hal. Termasuk didalamnya, kita jujur mengaku bahwa hidup kita hanya pondok daun yang tidak berharga apa-apa. Ayub 42: 5-6 42:5. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. 42:6. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." Secara jasmani dan rohani, Ayub hebat. Tetapi diijinkan Tuhan mengalami ujian habis-habisan, supaya ia bisa menyembah Tuhan (melihat Tuhan) dan mengaku sejujur-jujurnya bahwa ia tanah liat. Malam ini, sehebat apapun kita, biarlah kita merendahkan diri dan menyembah Tuhan, seraya mengaku bahwa diri kita hanya tanah liat belaka. Apalagi kalau kita tidak hebat, merupakan kesempatan terbesar untuk mengaku bahwa hidup kita hanya tanah liat. Dan kita hanya memandang Tuhan. Tanah liat: tidak layak, banyak salah, tidak mampu dan berdosa serta tidak berharga apa-apa. Sebagai tanah liat, biarlah kita hanya berharap pada Tangan Penjunan. Yesaya 64: 8 64:8. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu. Kalau kita mengaku tanah liat, kita berada di Tangan Sang Penjunan. Tangan Penjunan penuh dengan anugerah dan kuasa. Kalau ada dalam Tangan Penjunan, hasilnya:
|