English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Doa Malang, 12 Januari 2016 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 3:14-22 tentang jemaat Laodikia, sekarang menunjuk jemaat akhir...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 April 2009 (Senin Sore)
Matius 24: 31
= keadaan ketiga pada waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, yaitu terdengar...

Ibadah Raya Surabaya, 07 Desember 2014 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 15 September 2013 (Minggu Pagi)
Penataran Imam dan Calon Imam I

Matius 28:20b
28:20 ... Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai...

Ibadah Doa Malang, 16 Agustus 2016 (Selasa Sore)
Bersamaan dengan Penataran Imam dan Calon Imam II

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan...

Ibadah Raya Surabaya, 06 Maret 2016 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 13 Juni 2015 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 9 dalam susunan Tabernakel menunjuk pada...

Ibadah Doa Puasa Session II Malang, 06 September 2011 (Selasa Siang)
Keluaran 31:12-17 mengenai HARI SABAT.

Bersamaan dengan pembangunan Tabernakel dan pemilihan Bezaleel...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 07 Juli 2011 (Kamis Sore)
Matius 26:17-25 adalah tentang Hari Raya/Pesta/Perjamuan Paskah, terbagi menjadi 2 bagian:
Ayat 17-19: Persiapan Perjamuan Paskah.
Ayat 20-25: Makan Perjamuan Paskah.
Matius 26:17-19
26:17. Pada hari...

Ibadah Doa Malam Surabaya, 25 Maret 2015 (Rabu Malam)
Puji Tuhan, salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman Tuhan....

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 23 Maret 2009 (Senin Sore)
Pembicara: Pdt Mikha Sanda TodingMatius 5: 21-Matius 7: 23
= 10 hukum perjanjian baru:
Mat 5: 21-26=...

Ibadah Doa Surabaya, 06 Februari 2013 (Rabu Sore)
Matius 28 dalam susunan tabernakel ini menunjuk kepada SHEKINAH GLORY/SINAR KEMULIAAN.

Dibalik kematian Yesus atau dibalik salib, ada kebangkitan dan kemuliaan Tuhan....

Ibadah Doa Surabaya, 24 Juni 2015 (Rabu Sore)
Pembicara: Pdt. Dadang Hadi Santoso

Selamat malam, salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Kiranya damai sejahtera,...

Ibadah Doa Malang, 19 Oktober 2010 (Selasa Sore)
Matius 25:31
25:31. "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat...

Ibadah Raya Malang, 13 November 2011 (Minggu Pagi)
Matius 26:30-35 adalah peringatan kepada Petrus.
Yudas diperingatkan oleh Tuhan, Petrus juga diperingatkan oleh...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 14 September 2014)
Tayang: 24 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 September 2014)
Tayang: 06 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 03 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 01 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 31 Agustus 2014)
Tayang: 04 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 25 Agustus 2014)
Tayang: 13 Desember 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Raya Surabaya, 24 Juni 2018 (Minggu Siang)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 7: 15b-16
7:15b. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.
7:16. Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.


Kita belajar tentang aktivitas Tuhan di takhta sorga yaitu membentangkan kemah-Nya; sama dengan mengembangkan sayap-Nya atas hidup kita; naungan sayap Tuhan atas kehidupan kita (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 06 Juni 2018).

Kita masih belajar dari perjanjian lama, siapa yang berhak mendapatkan naungan sayap Tuhan? (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 Juni 2018)
Mazmur 68: 6-7
68:6. Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;
68:7. Allah memberi tempat tinggal kepada
orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia, tetapi pemberontak-pemberontak tinggal di tanah yang gundul.

Yang berhak menerima naungan sayap Tuhan adalah:

  1. Orang sebatang kara= orang asing--putus hubungan dengan dunia (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 Juni 2018). Orang asing sama seperti Abraham, Ishak, dan Yakub yang tinggal di kemah. Esau tinggal di luar kemah/penggembalaan, hilang selamanya.


  2. Anak yatim= putus hubungan dengan bapa yang lama--setan--, dan menjadi anak-anak Allah (diterangkan pada Ibadah Doa Surabaya, 22 Juni 2018).
  3. Para janda.

AD. 3. PARA JANDA

Janda secara jasmani artinya putus hubungan dengan suami--suami meninggal dunia.
Secara rohani janda artinya putus hubungan dengan daging dengan segala keinginan dan hawa nafsunya.

Roma 8: 7-8
8:7. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.
8:8. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

Keinginan daging membuat hamba/pelayan Tuhan tidak takluk kepada hukum Allah, artinya tidak taat dengar-dengaran pada firman Allah sehingga menjadi musuh Allah, yang hanya akan dibinasakan selamanya.
Dulu di Taman Eden, saat Adam dan Hawa tidak taat mereka langsung diusir ke dunia. Sekarang di dunia tidak taat lagi, akan diusir ke neraka, binasa untuk selamanya.

Jadi, janda secara rohani adalah orang yang terlepas dari daging dengan segala keinginan dan hawa nafsunya, sehingga bisa taat dengar-dengaran pada firman sampai daging tidak bersuara lagi.

Prosesnya: lewat doa penyembahan. Baik (mohon maaf) janda-janda secara jasmani harus banyak menyembah, dan kita janda secara rohani--kehidupan yang taat dengar-dengaran--juga banyak menaikkan doa penyembahan: doa satu jam, doa puasa, dan doa semalam suntuk, seperti yang diajarkan oleh Tuhan.

Di dalam Tabernakel, tingkatan ketaatan:

  • Halaman= taat kepada orang tua jasmani.
  • Ruangan suci= taat kepada gembala; orang tua rohani.
  • Ruangan maha suci= taat kepada Tuhan; orang tua sorgawi.

Contoh kehidupan yang taat dengar-dengaran dari bangsa kafir: janda Sarfat.
Di dalam Yesaya 54, sebenarnya yang berhak menerima naungan hanya janda Israel, tetapi karena sebagian dari Israel menolak, maka janda bangsa kafir mendapat kesempatan dan kemurahan Tuhan untuk menerima naungan sayap Tuhan.

1 Raja-raja 17: 7-12
17:7. Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.
17:8. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:
17:9. "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."
17:10. Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum."
17:11. Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti."
17:12. Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."

Sidon= wilayah kafir.
Dunia akhir zaman akan sama seperti yang terjadi pada janda Sarfat, yaitu terjadi kelaparan--cerita ini merupakan nubuat bagi kita sekarang. Zaman Elia kelaparan secara jasmani sudah dahsyat, tetapi kita akan dilanda oleh kelaparan secara dobel:

  1. Kelaparan secara jasmani= krisis di segala bidang.
    Apa penyebabnya?


    1. 'sungai itu menjadi kering'= apa yang ada di dunia tidak sanggup lagi untuk menjamin kebutuhan hidup manusia di akhir zaman--sungai adalah sumber di dunia ini, kalau sumbernya kering, habislah semua.
      Apa yang diandalkan di dunia ini satu waktu tidak bisa lagi menjamin hidup kita--seperti waktu Petrus menangkap ikan semalam-malaman--menggunakan kehebatan dan pengalaman--, tetapi tidak mendapat apa-apa.

      Kita boleh punya ini itu, tetapi ingat baik-baik, apapun yang ada di dunia ini satu waktu tidak bisa lagi menjamin kebutuhan hidup manusia.


    2. Karena ekonomi dunia sudah dikuasai oleh antikris yang berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun. Semakin kuat antikris berkuasa, kita semakin tidak kuat, sampai satu waktu mau beli nasi saja tidak boleh sekalipun kita punya banyak uang.
      Ini yang harus dicamkan baik-baik! Hanya yang menyembah antikris yang bisa hidup.


  2. Kelaparan secara rohani= kelaparan akan mendengarkan firman Allah.
    Amos 8: 11-14
    8:11. "Sesungguhnya, waktu akan datang," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN.
    8:12. Mereka akan mengembara dari laut ke laut dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman TUHAN, tetapi tidak mendapatnya.
    8:13. Pada hari itu akan rebah lesu anak-anak dara yang cantik dan anak-anak teruna karena haus;
    8:14. mereka yang bersumpah demi Asima, dewi Samaria dan yang berkata: Demi allahmu yang hidup, hai Dan! serta: Demi dewa kekasihmu yang hidup, hai Bersyeba! mereka itu akan rebah dan tidak akan bangkit-bangkit lagi."

    Sekarang kalau kita lihat di gereja-gereja, firman yang paling disingkirkan. Apalagi ibadah kaum muda. Kaum muda paling tidak suka firman. Firman tidak ada lagi, dan diganti dengan sharing, bergurau, sudah senang, padahal digiring menuju kelaparan. Sekolah minggu juga.

    "Saya kemarin menerima pesan Whatsapp, sekarang sudah ada di komputer--memakai boneka--, sudah ada bahannya, tinggal jelaskan sedikit pada murid-murid. Bahannya sudah diatur semua. Arahnya pada kelaparan. Dibilang modern, tetapi setan mengarahkan pada kelaparan, yaitu supaya tidak mendengar firman.
    Ada salah satu murid saya berkata: 'Semua gereja sudah ikut, om.' Saya belum jawab, tetapi mau saya jawab: 'Tidak usah ikut-ikut. Tetap guru-guru persiapkan firman untuk anak-anak, bukan orang lain; guru-gurunya yang tahu semua kebutuhan muridnya.'
    "

    Sehebat apapun hamba/pelayan/anak Tuhan, kalau rohani tidak makan, akibatnya: 'rebah dan tidak akan bangkit-bangkit lagi', artinya: jatuh dalam dosa sampai puncaknya dosa yaitu dosa makan-minum dan kawin-mengawinkan. Dan celakanya, tidak bangkit-bangkit lagi; sudah enjoy dalam dosa dan binasa selamanya.

    Pemain musik merokok dianggap biasa, yang penting pintar mainnya. Sudah tidak peduli lagi karena orang lain tidak tahu. Bayangkan kalau pelayannya rebah, bagaimana yang dilayani? Siapa saja, termasuk saya, sekalipun hebat kalau tidak makan, pasti satu waktu rebah. Biarpun dia bilang: 'Aku tidak apa-apa', dia sebenarnya sudah rebah. Tidak mungkin bertahan. Semakin keras berkata: tidak apa-apa, semakin keras rebahnya.

Manfaatkan kesempatan ini! Biar kita berdoa kepada Tuhan supaya di dalam setiap ibadah pelayanan kepada Tuhan kita bisa makan firman dan menikmatinya, sampai firman mendarah daging dalam hidup kita.

Sebaliknya, apapun keadaan kita sekarang--sudah rebah, kacau, gagal--, kalau masih mau mendengar firman Allah yang benar dan menikmatinya, kita masih bisa dibangkitkan, karena dalam firman ada kuasa kebangkitan. Kita bisa dipulihkan, disucikan, sampai disempurnakan. Tuhan tolong semua. Sungguh-sungguh manfaatkan!

"Ada yang mengajarkan: tidak perlu kerja dan kuliah yang keras, bahkan lebih lagi: jual semua, Tuhan sudah mau datang. Saya tidak mau ikuti itu. Yang jasmani tetap tanggung jawab, kerja dan sekolah yang keras, tetapi ibadah pelayanan harus lebih keras lagi, terutama untuk mendengarkan firman Tuhan karena yang nomor satu adalah makan. Kalau tidak makan, jangan bicara soal masa depan dan pelayanan."

Kalau sudah makan firman, sekalipun terpuruk, kita bisa bicara yang lain: masa depan, pelayanan dan sebagainya. Kuasa kebangkitan di dalam firman sanggup membangkitkan kita--memulihkan, menyucikan, sampai menyempurnakan kita.

Mengapa Tuhan izinkan kelaparan dobel terjadi? Kita belajar dari zaman Yusuf. Yusuf dijual oleh kakak-kakaknya. Secara logika tidak akan bertemu, berarti dua belas suku Israel tidak bisa menjadi satu. Tetapi Tuhan pakai cara, yaitu lewat kelaparan, sehingga dua belas suku Israel bisa menjadi satu kembali. Begitu juga dengan kita sekarang.

Sekarang, Tuhan izinkan terjadi kelaparan, supaya terjadi pembangunan atau kesatuan tubuh Kristus yang sempurna; mempelai wanita sorga. Itu tujuannya.
Krisis terjadi secara jasmani dan rohani, sampai kita merindu dan mencari firman Allah yang benar dengan sungguh-sungguh. Firman Allah yang benar akan mendorong kita untuk masuk dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna--Israel dan kafir menjadi satu tubuh Kristus yang siap untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai.

Jangan tunggu nanti kalau sudah diberkati atau gaji naik, baru mau setia! Kita akan ketinggalan. Justru kita setia di saat krisis. Kalau belajar dari kitab Hagai, pembangunan Bait Allah selesai justru saat krisis; goncangan langit, darat, dan udara--merupakan nubuat. Di saat krisis/kelaparan justru kita harus aktif mencari firman Tuhan; mengumpulkan firman sebanyak-banyaknya dan mempraktikkannya--firman mendarah daging dalam hidup kita. Sungguh-sungguh!

Satu waktu gairah untuk mencari firman tidak akan bisa ditahan lagi--kelaparan jasmani dan rohani menghasilkan suatu gairah bagi bangsa kafir untuk mencari firman pengajaran yang benar/kabar mempelai. Sama seperti dulu saudara Yusuf kelaparan, dan Yakub terus mendesak: Mengapa kamu berpandang-pandangan saja? Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati. Ketika mau kembali untuk kedua kalinya, Yakub juga mendorong terus.
Yakub gambaran dari Roh Kudus.

"Sekarang, gairah bangsa kafir adalah mencari firman pengajaran yang benar. Baru satu kali mendengar, sudah bertanya-tanya: Di mana itu ya? Saya bisa masuk di mana?"

Nanti juga akan menggairahkan bangsa Israel untuk mencari firman pengajaran yang benar/kabar mempelai, dan firman pengajaran inilah yang menyatukan Israel dan kafir menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna; mempelai wanita sorga.

Kalau membawa firman penginjilan: 'Yesus disalib,' ke Israel, akan ditolak--mereka menganggap Yesus anak tukang kayu--, tetapi kalau firman pengajaran: 'Yesus akan datang,' mereka akan menerima--mereka menunggu sampai hari ini.

Bagaimana cara mengatasi kelaparan?
1 Raja-raja 17: 11-12
17:11. Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti."
17:12. Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."

Bangsa kafir banyak menggunakan cara sendiri untuk menghadapi kelaparan/krisis di dunia, yaitu mengandalkan tepung dan minyak dari dunia--hal-hal jasmani dari dunia seperti ijazah, modal, gaji. Itu semua hanya sarana, tetapi tidak bisa diandalkan. Ini kesalahan bangsa kafir, dan pada akhirnya akan mati.

Segala yang ada di dunia bahkan yang hebat sekalipun tidak mampu menolong bangsa kafir untuk keluar dari krisis jasmani apalagi krisis rohani; hanya berakhir dengan jalan buntu ('setelah kami memakannya, maka kami akan mati')--kematian, kegagalan, mati rohani, dan kebinasaan selamanya.

Cara yang benar adalah memakai cara Tuhan. Cara Tuhan memang di luar logika. Sama seperti Petrus semalam-malaman tidak menangkap ikan dengan cara sendiri, tidak bisa, lalu siang hari di tepi pantai Tuhan suruh menebarkan jala. Kalau logika, tidak mungkin. Tetapi cara Tuhan adalah iman, memang di luar logika. Kalau iman bisa menerima maka pikiran dan pengetahuan juga bisa menerima karena iman lebih tinggi dari pada pengetahuan apapun di dunia.

1 Raja-raja 17: 13-16
17:13. Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.
17:14. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."
17:15. Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.
17:16. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

'buatlah lebih dahulu bagiku'--dikaitkan dengan nabi/Tuhan--= sepertinya kejam sekali, orang sudah mau mati tetapi rotinya masih diminta.
Seringkali kalau firman menyucikan kita, kita berkata: Tidak ada kasih. Kalau firman memperbolehkan berbuat dosa atau yang salah dibilang: Hebat. Salah! Banyak kali kita begitu. Jangan!

Cara Tuhan untuk mengatasi kelaparan jasmani dan rohani adalah:

  1. Cara Tuhan yang pertama untuk menghadapi krisis jasmani dan rohani: tepung dan minyak dikaitkan dengan Tuhan= firman Allah dan urapan Roh Kudus.
    Kalau dikaitkan dengan diri sendiri--'untukku dan untuk anakku'--, akan mati.
    Jadi segala sesuatu di dunia harus dikaitkan dengan Tuhan.

    Segala yang kita dapatkan di dunia ini harus mendorong kita untuk mencari firman dan urapan Roh Kudus--mengandalkan firman Allah dan Roh Kudus. Jangan untuk foya-foya! Semakin diberkati kita semakin tekun mencari dan makan firman dan Roh Kudus, karena kita merasa semua itu kita dapatkan dari firman. Kalau menjauhkan kita dari firman, berarti memakai cara sendiri.

    'segenggam tepung dalam tempayan'=> tempayan menunjuk pada kehidupan kita, manusia tanah liat yang rapuh, hancur, dan binasa. Harus diisi dengan tepung dan minyak, artinya: harus diisi dengan firman Allah, urapan Roh Kudus, dan kasih Allah--tiga hal ini tidak bisa dipisahkan; firman Allah selalu diurapi Roh Kudus, dan kalau dipraktikkan akan menjadi kasih Allah.
    Saat-saat ibadah semacam ini adalah saat yang paling tepat untuk diisi dengan firman--terutama firman pengajaran--, Roh Kudus, dan kasih Allah.

    Kita sudah menerima firman penginjilan--percaya Yesus dan bertobat. Yang bukan keturunan kristen sangat bisa mengerti firman penginjilan--susu. Tetapi sekarang untuk menghadapi kelaparan harus ada makanan keras, itulah firman pengajaran.

    Roma 10: 17-19, 21
    10:17. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
    10:18. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi."
    10:19. Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal."
    10:21. Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah."

    Kristus= Yang diurapi.
    Proses diisi firman Allah--terutama firman pengajaran/kabar mempelai--:


    • Ayat 17: 'iman timbul dari pendengaran'= mendengar firman Kristus--firman yang diurapi Roh Kudus--sehingga kita bisa sungguh-sungguh mendengar firman.
      Firman menjadi suatu kebutuhan dalam hidup kita; seperti anjing menjilat remah-remah roti; tidak bisa diganggu apapun.


    • Ayat 19: 'menanggapi firman'= menanggapi firman dengan positif. Kalau sudah sungguh-sungguh mendengar dan menikmati firman, kita akan menanggapi firman dengan positif sehingga akal mengerti firman pengajaran yang benar--firman ditulis di dahi.


    • Bukan hanya sampai di dahi--hanya jadi pengetahuan--, tetapi sampai hati--menanggapi dengan hati; percaya dan yakin pada firman pengajaran yang benar--, sehingga firman menjadi iman di dalam hati (diukir di hati).

      Ini sama seperti makanan masuk di lambung, baru terasa kenyang. Kalau kita sudah percaya akan firman, barulah kita kenyang--puas.


    • Ayat 21= mempraktikkan firman--mengulurkan tangan kepada Tuhan--, sehingga firman pengajaran yang benar ada di dalam genggaman tangan kita--seperti segenggam tepung di tangan kita.
      Tangan menunjuk pada perbuatan/praktik hidup.

      Praktik firman sama dengan mengulurkan tangan, dan Tuhan akan mengulurkan tangan, sehingga kita hidup dalam genggaman tangan anugerah Tuhan yang besar.

      Segenggam tepung saja; sedikit saja kita mengerti firman, yakini dan praktikkan itu! Seorang perwira berkata pada Yesus: 'Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.'

      Dari uraian tadi, mungkin baru mendengar satu kata, tetapi sesuai dengan kebutuhan kita, genggam--mengerti, yakini, dan praktikkan. Itu sama dengan berkata: Aku tidak bisa apa-apa, Tuhan. Aku hanya mau taat. Terserah Engkau. Kita mengulurkan tangan, dan Tuhan juga akan mengulurkan tangan-Nya; kita hidup dalam genggaman tangan anugerah Tuhan yang besar.

      Banyak kita berkata: Kita hidup dalam genggaman tangan Tuhan. Padahal Tuhan geleng-geleng.
      Kita harus hidup dalam genggaman tangan Tuhan. Dunia sudah jalan buntu, tidak bisa. Hanya Tuhan satu-satunya yang bisa--dari sorga, yaitu firman.

      Apa pengertian hidup dalam genggaman tangan Tuhan?
      Pengkhotbah 4: 4-6
      4:4. Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
      4:5. Orang yang bodoh melipat tangannya dan memakan dagingnya sendiri.
      4:6. Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.

      'usaha menjaring angin'= nanti semuanya hanya seperti menjaring angin, tidak ada gunanya; saling iri, tidak ada gunanya.
      Iri hati, malas--'orang yang bodoh', tidak setia= di luar tangan Tuhan.

      'Segenggam ketenangan lebih baik.....'= hidup dalam genggaman tangan Tuhan artinya tidak ada iri dan benci (saling mengasihi), dan tidak ada malas (setia dalam ibadah pelayanan sampai mengalami ketenangan/damai sejahtera), semua menjadi enak dan ringan. Itulah pengertian hidup dalam genggaman tangan Tuhan. Kalau masih ada iri hati, benci apalagi benci tanpa alasan, malas, berarti ia ada di dalam genggaman tangan setan. Benar-benar tinggal dibanting di dalam neraka oleh setan. Jangan!

      Karena itu tidak bisa hamba Tuhan seenaknya berkata: Kita dalam genggaman tangan Tuhan. Padahal dia tidak pernah melayani, baru datang sudah berkata seperti itu. Bohong!
      Tidak ada iri hati--saling mengasihi--, setia, dan hidup dalam damai sejahtera, itu baru berada dalam genggaman tangan Tuhan.

      Kita semua menghadapi badai lautan dunia; semua ada masalah, mari tenang; makan firman, serahkan semua kepada Tuhan, sampai bisa tenang. Sekalipun belum ada pertolongan, tetapi kita sudah tenang. Itu pertolongan utama. Maut tidak bisa berkuasa; setan tidak bisa menggenggam kita; kita ada di dalam genggaman tangan Tuhan. Sungguh-sungguh Tuhan tolong kita semuanya.


    Inilah cara pertama Tuhan untuk menghadapi krisis jasmani dan rohani yaitu semua dikaitkan dengan firman; hidup kita harus diisi dengan firman, sampai kita berada dalam genggaman tangan Tuhan.


  2. Cara Tuhan yang kedua untuk menghadapi krisis jasmani dan rohani: kita mempersembahkan roti bundar yang kecil.
    1 Raja-raja 17: 13
    17:13. Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

    Tadi baru tepung dan minyaknya, sekarang diremas-remas menjadi roti bundar yang kecil.
    Bundar artinya tidak ada ujung pangkalnya--kekal. Inilah hasilnya kalau kita praktik firman--taat pada firman--yaitu bukan hanya berada dalam genggaman tangan Tuhan sekarang ini tetapi juga memberikan hidup kekal bagi kita--ketaatan sama dengan hidup kekal; maut tidak bisa menjamah.

    Yohanes 8: 51
    8:51. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya."

    Roti bundar kecil artinya ketaatan dimulai dari perkara kecil. Jangan abaikan yang kecil-kecil! Kalau yang gampang saja tidak taat, apalagi yang lebih sulit.
    Begitu tidak taat, habis. Yosua melawan Yerikho yang besar, menang. Tetapi melawan Ai yang kecil, kalah, karena Akhan tidak taat.

    Rumus kerajaan sorga: tidak ada menjadi ada; kecil menjadi besar. Kita taat mulai dari perkara yang kecil.
    Perkara kecil=> milik Tuhan yang kecil adalah persepuluhan dan persembahan khusus. Akhan mencuri milik Tuhan yang seharusnya ditaruh di rumah perbendaharaan--rumah Allah; tempat kita makan firman--, itulah persepuluhan dan persembahan khusus.
    Hati-hati dengan persepuluhan dan persembahan khusus!

    Kalau kita mengembalikan milik Tuhan, kita akan masuk rumus sorga: tidak ada menjadi ada, kecil menjadi besar. Kalau tidak taat, akan hancur; orang yang mendengar firman tetapi tidak melakukannya, ia sama seperti orang yang membangun rumahnya di atas pasir, sehingga hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.

    Kalau tidak taat mulai dari perkara kecil, perkara besarpun akan hancur lebur. Biar gereja besar, perusahaan besar, kalau tidak taat dari perkara kecil, akan hancur. Harus dimulai dari perkara kecil. Tuhan tolong kita.

    Tadi cara Tuhan yang pertama untuk mengatasi krisis jasmani dan rohani: kaitkan semua dengan perkara Tuhan; isi hidup kita dengan firman, Roh Kudus, dan kasih Allah. Kedua: ketaatan, mulai dari perkara kecil.


  3. Cara Tuhan yang ketiga untuk menghadapi krisis jasmani dan rohani: roti bundar kecil harus dibakar.
    1 Raja-raja 17: 12
    17:12. Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."

    'mengumpulkan dua tiga potong kayu api'= untuk membakar roti, supaya matang.
    Sudah taat mulai dari perkara kecil tetapi masih harus dibakar, artinya: mengalami percikan darah; sengsara daging tanpa dosa. Itulah cara mengatasi krisis di dunia.

    Sudah diisi firman, sudah setia, tetapi masih sengsara, untuk apa? Membakar daging yang egois--'bagiku dan bagi anakku, kemudian mati'. Kehidupan yang egois akan menjadi kikir dan serakah--tidak bisa memberi--, sehingga tidak bisa masuk dalam pembangunan tubuh Kristus--tidak bisa memberi berarti tidak bisa melayani. Di dalam tubuh semuanya melayani, kalau tidak, akan dipotong.

    Biarlah kita mau egois kita dibakar, sehingga kita bisa mengasihi Tuhan lebih dari semua; mengutamakan Tuhan, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri bahkan mengasihi orang yang memusuhi kita. Kita memperhatikan kepentingan Tuhan dan sesama.

    Mulai dari rumah tangga, jangan egois tetapi perhatikan kepentingan sesama. Kemudian dalam penggembalaan, kita saling memperhatikan, dan antar penggembalaan.

    "Kalau bukan karena pekerjaan Tuhan, untuk apa ibadah kunjungan ke Semarang? Dari Semarang saya langsung ke Bangka Belitung. Untuk apa bayar ongkos? Tidak mau. Tetapi nanti roti tidak matang. Kalau egois, roti tidak akan matang, dan tidak bisa dimakan."

    Daging apapun--egois, malas, najis dan lain-lain--, harus dibakar, supaya menjadi roti bundar kecil yang matang, yang memuaskan Tuhan--menyenangkan dan mengenyangkan Tuhan.
    Mari, utamakan Tuhan dan sesama, sampai mengasihi orang yang memusuhi kita--kita doakan. Itulah roti bundar kecil yang matang, yang memuaskan Tuhan. Dan Ia akan memuaskan kita dalam ibadah pelayanan.

    1 Timotius 6: 6
    6:6. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

    'rasa cukup'= rasa puas= keuntungan besar. Sekalipun kecil tetapi kalau kita bisa memuaskan Tuhan, kita akan mendapatkan keuntungan besar, itulah dua sayap burung nasar yang besar--naungan sayap Tuhan.

    Kegunaan dua sayap burung nasar yang besar:


    • Wahyu 12: 14
      12:14. Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.

      Yang pertama: menerbangkan kita untuk melintasi badai lautan dunia, sampai menyingkirkan kita ke padang gurun, jauh dari mata antikris yang berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun.

      Melintasi badai artinya


      1. Tuhan memelihara dan melindungi kita di tengah kesulitan dunia sampai zaman antikris berkuasa. Kita tidak usah menyembah antikris.
      2. Melintasi pencobaan= semua masalah selesai sampai yang mustahil.
      3. Ada masa depan yang berhasil dan indah. Tidak usah takut!


    • Yesaya 40: 29-31
      40:29. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
      40:30. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
      40:31. tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

      Yang kedua: memberikan kekuatan ekstra untuk menantikan kedatangan Yesus kedua kali:


      1. Kita tidak akan letih lesu, tetapi tetap setia berkobar dalam ibadah pelayanan sampai garis akhir--sampai meninggal dunia atau Yesus datang kembali.


      2. Kita tidak akan tersandung dan terjatuh, tetapi tetap hidup benar dan suci.
      3. Kita tidak akan kecewa dan putus asa, tetapi tetap percaya dan berharap kepada Tuhan.


      Hati-hati! Kalau mulai loyo berarti sayap sudah terkulai. Mari, semangat hari-hari ini! Kita diberi kekuatan dua sayap burung nasar. Mungkin sudah putus asa menghadapi pencobaan, mari percaya dan berharap Tuhan! Sabar menunggu waktu Tuhan. Tuhan akan menolong kita.

      "Tadi ibadah di Malang: Maria duduk di depan kubur Yesus sekalipun yang lain beranjak pergi. Artinya sabar dalam pengalaman kematian."

      Yang penting jaga sayap. Tetap setia-berkobar, hidup benar dan suci, pegang teguh pengajaran yang benar, dan percaya-berharap Tuhan. Kita hanya berserah dan berseru kepada Tuhan. Tinggal tunggu waktu Tuhan, semua akan indah pada waktunya.

      Sampai kalau Tuhan datang kembali, kita akan diubahkan menjadi sempurna, dan dua sayap burung nasar akan mengangkat kita ke awan-awan yang permai sampai berdiri di hadapan takhta sorga, kita melayani Dia siang malam bersama dengan keluarga kita. Jangan lupakan keluarga kita! Jangan egois! Betapa indahnya ada keluarga kita semua. Doakan semua!

Apa yang kita hadapi? Mungkin kita loyo, sudah putus asa, kecewa, jatuh dalam dosa, gagal, kembalilah kepada cara Tuhan, jangan cara sendiri!
Isi dengan firman, taati, berikan roti bundar sekalipun kecil, dan mau dibakar oleh Tuhan--menyenangkan dan mengutamakan Dia; mengasihi Dia dan sesama. Jangan ada kebencian! Tuhan tolong.

Yang mustahil, serahkan kepada Tuhan! Ada yang letih lesu, berbeban berat, sudah tidak kuat lagi, masih ada kekuatan Tuhan. Saya juga tidak mampu, tetapi Tuhan mampu. Berserah dan berseru kepada Dia! Orang lain tidak tahu, Tuhan yang tahu. Badai akan segera berlalu dan kita mengalami keindahan.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 31 Juli 2018 - 02 Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 15-16 Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Palangkaraya)

  • September 2018
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • September 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • Februari 2019
    (Ibadah Kunjungan di Chennai, India)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top