[cetak]
Kebaktian: Umum
Tanggal: Minggu Pagi, 13 Mei 2007
Tempat: GPTKK, Malang
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra

Kita akan membahas injil Matius 24 yang sebenarnya merupakan satu rangkaian dengan Matius 23. Sebab di dalam susunan Tabernakel, kedua pasal ini menunjuk pada dua loh batu yang berisi sepuluh hukum Allah (kasih Allah). Jika kesepuluh hukum Allah ini ditolak, maka kesepuluh hukum ini akan menjadi hukuman dari Tuhan.

Penghukuman dari Tuhan ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
  1. Matius 23 = penghukuman Tuhan atas gereja Tuhan yang diwakili oleh ahli taurat dan orang Parisi. Artinya sekarang adalah penghukuman Tuhan atas anak-anak/hamba-hamba Tuhan yang masih berkelakuan seperti ahli taurat dan orang Parisi.
  1. Matius 24 = penghukuman Tuhan atas dunia ini dan tepatnya terjadi pada saat kedatangan Yesus yang keduakali. Tuhan akan menghukum dunia ini dengan api yang jatuh dari langit sehingga dunia ini akan hancur lebur (musnah) yang lazim disebut dengan kiamat.
Matius 24 secara keseluruhan terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:
  1. Matius 24 : 1-2 = pandangan terhadap ibadah yang tua/yang jasmani.
  2. Matius 24 : 3-44 = tentang tujuh nubuat.
  3. Matius 24 : 45-51 = tentang hamba-hamba yang setia dan hamba-hamba yang jahat.
Kita akan mempelajari bagian pertama.
Matius 24 : 1-2 = pandangan terhadap ibadah yang tua (yang jasmani).
1. Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah.
2. Ia berkata kepada mereka: "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan."

Kita melihat bahwa ibadah orang Israel hanya memegahkan (membanggakan) bangunan bait Allah secara jasmani. Padahal, bangunan rumah Allah secara jasmani akan hancur seiring perkembangan jaman. Bahkan akan hancur di saat penghukuman Tuhan melanda bumi.
Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki gedung gereja yang bagus, sebab sekarang ini banyak yang berlomba-lomba untuk menarik orang. Tapi jangan ibadah kita hanya membanggakan rumah Allah secara jasmani. Jika kita hanya membanggakan bangunan rumah Allah secara jasmani, maka kitapun akan ikut hancur di saat penghukuman Tuhan dijatuhkan atas dunia ini.

Yang benar, sekarang ini pandangan kita harus dibaharui pada bangunan rumah Allah yang rohani, yaitu pada pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna. Bangunan rohani ini tidak akan hancur tetapi akan dipermuliakan pada saat kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

1 Petrus 2 : 5
Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

Pertanyaannya adalah bagaimana supaya kita dapat masuk ke dalam pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna? Jawabannya adalah kita harus menjadi imamat yang kudus dan yang rajani = menjadi imam-imam dan raja-raja.

Imam =
  • seorang yang beribadah dan melayani Tuhan
  • seorang yang memangku/memiliki jabatan pelayanan
  • orang yang memiliki pandangan kepada bangunan yang rohani.
Tuhan Yesus adalah Imam Besar dan kita adalah imam-imam.

Di dalam perjanjian lama
imamat/pelayanan itu menunjuk pada peraturan Harun.
Imam besarnya adalah Harun dari keturunan suku Lewi sebab suku lain tidak boleh menjadi imam besar. Bangsa Israel terdiri dari 12 suku tetapi masih dipisahkan sehingga hanya suku Lewilah yang boleh menjadi imam-imam. Yang menjadi imam-imam adalah anak-anak Harun.

Di dalam perjanjian baru
imamatnya berdasarkan peraturan Melkisedek dengan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar. Yang menjadi imam-imam adalah setiap kehidupan yang beribadah dan memangku jabatan pelayanan.

Ibrani 7 : 14-15
14. Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam.
15. Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek,

Mengapa harus ada peraturan Melkisedek? Sebab:
  • Yesus berasal dari suku Yehuda.
    Kalau menurut peraturan Harun, maka Tuhan Yesus tidak dapat menjadi Imam Besar. Yang boleh menjadi imam besar menurut peraturan Harun hanyalah orang yang berasal dari suku Lewi. Tetapi menurut peraturan Melkisedek, Yesus diijinkan menjadi Imam Besar. Ini berarti sudah terjadi lintas suku. Jadi, menurut peraturan Melkisedek
    segala suku dan bangsa boleh menjadi imam-imam sebab tidak dibatasi oleh suku dan bangsa. Itu sebabnya tidak ada alasan bagi kita dengan berkata saya berasal dari suku ini atau dari suku terbelakang, sebab buktinya Yesus dapat menjadi Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. Tinggal kita mau atau tidak.
  • Ibrani 7 : 16-17
    16. yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa.
    17. Sebab tentang Dia diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selama lamanya, menurut peraturan Melkisedek."

    Menurut peraturan Melkisedek, Yesus menjadi Imam Besar untuk selama lamanya. Sekalipun Ia mati, tetapi Yesus bangkit (Ia tidak dikuasai oleh maut). Sedangkan menurut peraturan Harun, jika imam besar itu mati, maka akan diganti oleh anaknya, demikian seterusnya.
Demikian juga dengan kita. Kalau kita sudah menjadi imam-imam menurut peraturan Melkisedek, maka :
  • imam itu tidak boleh pensiun.
    Saya melihat bahwa dari segi umur, Pdt. In Juwono alm. dan Pdt. Pong Dongalemba alm. berumur di atas 60 ketika beliau-beliau ini dipanggil oleh Tuhan. Tetapi selama mereka hidup, mereka tetap melayani Tuhan di setiap ibadah sampaipun pada ibadah kaum muda. Ini terus berlanjut sampai mereka dipanggil oleh Tuhan. Tetapi kalau Pdt. Totaijs alm, beliau berumur 80 tahun lebih, tetapi beliau tetap melayani dua sidang jemaat, yaitu di kota Amsterdam dan kota Den-Haag yang berjarak hampir seperti kota Malang dan Surabaya. Ini yang menjadi inspirasi saya untuk melayani sidang jemaat di Surabaya karena ada jemaat Surabaya yang tidak dapat mengikuti tiga macam ibadah di Malang. Itu sebabnya kita menjadi imam-imam, jangan dikalahkan oleh umur sebab kita tidak boleh pensiun, dimulai dari saya. Sebab Yesus menjadi Imam Besar untuk selama-lamanya.
  • kita menjadi imam sampai kita menjadi sempurna seperti Yesus.
    Jika kita bekerja di dunia menjadi pegawai negeri, maka pekerjaan kita itu dibatasi oleh umur untuk kemudian pensiun karena bergantung pada manusia daging (daya tahan dan pikirannya sudah menurun). Tetapi mengapa di dalam Tuhan tidak ada batasan? Sebab kita bergantung pada kekuatan Tuhan yang adalah urapan Roh Kudus. Kekuatan kita melayani Tuhan bukan berdasarkan tua/muda, tetapi berdasarkan urapan Roh Kudus. Semakin kita diurapi, maka kita semakin kuat melayani Tuhan sampai kita menjadi sempurna (kekal selama-lamanya).
Mari kita arahkan pandangan kita kepada pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna dengan menjadi imam-imam dan raja-raja. Bukan sembarangan imam, tetapi imam yang tidak pensiun, yang kekal selama-lamanya sampai menjadi sempurna.

1 Petrus 2 : 9 = Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Proses menjadi imam :
  1. harus dipanggil
    Dipanggil dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib = dipanggil dari manusia berdosa untuk dibenarkan/diselamatkan lewat Firman penginjilan. Jadi kita sebenarnya hanyalah dibenarkan sebab tadinya kita hanya manusia berdosa.

    Bukti/praktek kalau kita ini diselamatkan/dibenarkan adalah:
  • kita percaya kepada Yesus lewat mendengarkan Firman (iman karena mendengarkan Firman).
    Orang yang percaya kepada Yesus ini suka mendengarkan Firman. Kita jangan mengantuk dan merasa bosan di saat mendengarkan Firman, sebab akan berbahaya karena keselamatannya diragukan. Firman adalah kebenaran. Kalau kita suka mendengarkan Firman = kita adalah orang yang benar. Yang mengherankan, kalau mendengarkan Firman, kita merasa bosan, tetapi kalau mendengarkan gosip/hal-hal yang tidak benar, yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, kita sangat suka sekalipun sampai berjam-jam lamanya sehingga kita menjadi orang yang tidak benar = tidak selamat. Itu sebabnya kita harus berhati-hati sebab tidak benar = tidak selamat.
    Orang yang benar pasti senang mendengarkan hal yang benar sedangkan orang yang tidak benar, pasti suka mendengarkan hal yang tidak benar.
  • sesudah kita mendengarkan Firman, maka kita harus bertobat (=berhenti berbuat dosa, kembali kepada Tuhan) = baptisan darah. Orang yang berhenti berbuat dosa = orang benar. Kalau kita selalu mengulang-ulang dosa bahkan kita dapat tertawa-tawa = tidak selamat.
    Mari sekarang ini kita bertekad sebab sekalipun kita manusia berdosa/gelap, kita datang kepada terang.
  • baptisan air dan baptisan Roh Kudus = kelahiran baru.
    Baptisan air ini bukanlah panggilan dari Widjaja sebab saya tidak membutuhkan saudara, tetapi ini adalah panggilan Tuhan yang sebenarnya Tuhan juga tidak membutuhkan saudara. Yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah menyelamatkan kita dan ini berarti kita yang membutuhkan. Kemudian kita mengalami kelahiran baru sehingga kita dapat hidup di dalam kebenaran.
  1. dipilih.
    Tidak semua yang dipanggil dapat menjadi imam-imam, tetapi dipilih untuk disucikan. Jadi, lebih tinggi lagi daripada dipanggil, sebab kita dipanggil untuk dibenarkan oleh Firman penginjilan.

    Keluaran 28 : 1

    "Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anakanaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku -- Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.

    Dari tengah-tengah bangsa Israel, dari 12 suku hanya dipilih 1 suku, yaitu suku Lewi. Kemudian dari satu suku yang terdiri dari banyak keluarga, dipilih satu keluarga. Dan dari satu keluarga dipilih Harun. Untuk apa?

    Keluaran 29 : 1

    "Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela,

Dipilih untuk dikuduskan supaya dapat menjadi imam/memegang jabatan imam.

Bagi yang sudah dibaptis air, kemudian sudah diurapi dengan Roh Kudus, jangan hanya dipanggil! Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Itu sebabnya kita harus berusaha untuk sampai menjadi umat pilihan Tuhan, yaitu kehidupan yang disucikan.

Saya selalu menerangkan bahwa tempat kita disucikan adalah di dalam Tabernakel. Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat Tabernakel/miniatur dari Kerajaan Surga di dunia. Tabernakel memiliki tiga ruangan, yaitu Halaman, Ruangan Suci dan Ruangan Maha Suci .

Jadi, kita dipanggil dari gelap masuk ke dalam Halaman.
Pintu Gerbang = percaya Yesus.
Mezbah Korban Bakaran = bertobat.
Kolam Pembasuhan = baptisan air.
Pintu Kemah = baptisan Roh Kudus.

Di sinilah kita dipanggil dan dibenarkan/diselamatkan.Tetapi ini masih berada di Halaman. Itu sebabnya perlu dipilih/disucikan, yaitu kita maju satu langkah lagi dengan masuk ke dalam Ruangan Suci, baru kemudian masuk ke dalam Ruangan Maha Suci (sempurna seperti Yesus).

Dulu di dalam Ruangan Suci memiliki 3 macam alat, yaitu Pelita Emas, Mezbah Korban Bakaran dan Mezbah Dupa Emas. Sekarang, berarti ketekunan di dalam 3 macam ibadah pokok :
Pelita Emas = Ibadah Raya, biasanya pada hari Minggu.
Mezbah Korban Bakaran = Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.
Mezbah Dupa Emas = Ibadah Doa Penyembahan dan ini merupakan pilihan Tuhan.

Ketekunan di dalam 3 macam ibadah pokok = kandang penggembalaan. Kalau kita sudah masuk ke dalam Ruangan Suci, jangan kita keluar lagi sebab akan berbahaya. Bagi yang belum masuk pilihan, mari mohon kepada Tuhan supaya Tuhan memilih hidup saudara untuk disucikan di dalam Ruangan Suci. Semoga kita dapat mengerti.

Tetapi ibadah dengan 3 macam ibadah pokok itu masih minimal, sebab satu waktu kita akan kembali seperti jaman rasul-rasul, yaitu kita akan berada setiap hari di gereja.

Kisah rasul 2 : 46
Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

Kita tergembala dimulai dari ketekunan di dalam 3 macam ibadah pokok dan karena kita tidak tahan melihat kegelapan di dunia, maka satu waktu kita akan berada setiap hari di dalam bait Allah untuk beribadah dan melayani Tuhan. Dan ini akan lebih meningkat lagi, yaitu satu waktu kita akan siang dan malam beribadah di hadapan Tuhan di tahta Kerajaan Surga.

Di bagian atas sudah diterangkan bahwa kita dipanggil dengan Firman penginjilan. Sekarang kita berada di dalam Ruangan Suci. Itu berarti:
  • kita tergembala bagaikan carang yang melekat pada pokok, bagaikan keledai yang tertambat pada pokok.
  • kita tertambat pada Firman pengajaran.
Yohanes 15 : 3
Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

Jadi, kita disucikan/dibersihkan dengan Firman yang dikatakan oleh Tuhan, Firman yang dibukakan rahasianya (ayat menerangkan ayat = Firman pengajaran = Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua).

Amsal 7 : 2-3
2. Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu.
3. Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu.

Kalau digabung --> kehidupan yang dipilih oleh Tuhan adalah kehidupan yang tergembala di dalam Firman pengajaran yang benar (Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua).

Di dalam Amsal 7 ada istilah ‘tambatkanlah semuanya itu pada jarimu’.
Jari menunjuk pada perbuatan dan hati. Jadi, kedua hal ini tidak dapat dipisahkan: kita harus tertambat pada Firman pengajaran dan Firman pengajaran ditambatkan di dalam hati dan perbuatan kita. Firman pengajaran ini bagaikan biji mata dan kalau kita melayani tanpa Firman pengajaran, maka itu berarti kita melayani bagaikan tanpa biji mata. Kita dapat membayangkan, jika pelayanan tanpa mata, maka sudah dapat dipastikan, pelayanan itu menjadi pelayanan tanpa arah. Itu sebabnya kita harus benar-benar tertambat.

Tadi, imam-imam itu untuk pembangunan Tubuh Kristus, menjadi Mempelai Wanita Tuhan. Tetapi ini memiliki tandingan, yaitu setan yang juga memiliki pembangunan rohani tetapi yang palsu, yaitu pembangunan tubuh Babel.
Pembangunan yang rohani hanya ada dua. Kalau tidak masuk dalam pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna, pasti masuk dalam pembangunan tubuh Babel. Tidak ada dan tidak bisa netral. Kita tinggal memilih terang atau gelap (tetap berada di dalam kegelapan). Itu sebabnya di hari-hari ini kita harus sungguh-sungguh serius di dalam kegerakan Tubuh Kristus.

Jadi, kita disucikan dari apa? disucikan dari dosa Babel. Supaya kita tidak masuk ke dalam dosa Babel, maka dosa itu harus dipotong dengan pedang Firman pengajaran yang benar (Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua).

Wahyu 17 : 4-6
4. Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.
5. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: "Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi."
6. Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran.

Kita harus berhati-hati, sebab perempuan Babel ini mengincar bahkan sampai mabuk kepayang, sangat menginginkan akan kehidupan dari anak-anak Tuhan, kehidupan yang dipanggil oleh Tuhan, yang diselamatkan oleh Tuhan.

Itu sebabnya kaum muda, saudara harus berhati-hati! Sebab sekalipun saudara sudah melayani, tetapi Babel ini mabuk kepayang. Dan untuk itu saya dan saudara harus waspada dengan kenyataan bahwa Babel ingin menghancurkan kita semua.

Untuk para orang tua yang memiliki anak-anak muda, saudara jangan kendor dengan mengatakan oh.... tidak mengapa. Hati-hati supaya jangan menyesal di kemudian hari! Sebagai orang tua harus tetap ketat, sebab perempuan Babel ini mengincar dan mabuk akan darah dari orang-orang kudus dan juga darah dari saksi-saksi Yesus, pelayan-pelayan Tuhan.

Demikian juga jangan melepaskan tambatan pada Firman penggembalaan/Firman pengajaran! Begitu terlepas dari tambatan penggembalaan/Firman penggembalaan, maka itu merupakan kesempatan ditangkap oleh Babel, sehingga kita akan hancur.

Dosa Babel adalah:
  • dosa makan minum.
    Mulai yang paling ringan adalah merokok, mabuk dan narkoba. Kita harus berhenti supaya jangan diterkam oleh perempuan Babel, sebab dosa ini semakin berkembang.

  • dosa kawin mengawinkan/dosa sex dengan bermacam-macam ragamnya.
    Dulu di Mesir, Tuhan menghukum dengan katak dan katak-katak itu masuk sampai ke dalam istana. Orang tua tidak mengetahui bahwa di dalam kamar anaknya ada banyak katak-katak. Tetapi kalau anak itu ditambat di dalam Firman pengajaran yang benar, maka Firman itu yang mengetahui dan menjaga mereka. Tetapi kalau terlepas dari tambatan, jangankan anak itu berada di tempat yang jauh, di dalam kamarnya pun kita tidak akan mengetahui kalau di dalam kamar itu ada katak. Sampai pada seorang penginjil yang hebat, kalau ia tidak tertambat, maka cepat atau lambat, ia akan dimakan oleh Babel. Dan untuk ini sudah banyak kenyataan-kenyataannya. Bukannya saya ini menghina seorang hamba Tuhan, tidak! Sebagai seorang gembalapun, saya juga harus digembalakan.

  • ikatan akan uang/ikatan akan kekayaan = dosa kejahatan.
    Kalau najis sudah dapat dipastikan akan menjadi jahat. Itu sebabnya kita harus berhati-hati dengan dosa kejahatan sebab ikatan akan uang ini adalah kikir dan serakah sehingga terjadi roh jual beli dan akan semakin meningkat sampai pada dosa mencuri milik Tuhan dan mencuri milik sesama. Sekali lagi saya katakan, Tuhan tidak membutuhkan uangnya. Yang Tuhan butuhkan adalah supaya kita terlepas dari ikatan akan uang/terlepas dari Babel. Inilah yang menjadi sasaran dari Tuhan lewat mengembalikan persepuluhan dan persembahan khusus.

    Mencuri milik sesama ini bisa dengan cara berhutang tetapi kita tidak membayar kembali atau dengan korupsi. Itu sebabnya sekarang ini kita jangan terlalu konsumtif dengan selalu ingin membeli ini dan itu, padahal uang kita terbatas = sudah terikat pada uang/ada ikatan pada uang sehingga akan menyusahkan --> 1 Timotius 6. Bagi yang berdagang, silahkan berhutang asal saudara dapat tetap suci dengan tidak memiliki keinginan. Ukurannya adalah Firman pengajaran, Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua.

  • tidak setia.
    Babel disebut juga dengan pelacur. Salah satu sifat dari pelacur adalah tidak setia. Tidak setia di dalam ibadah pelayanan = Babel/pelacur.
    Yesus Mempelai Pria Surga hanya Satu. Kalau kita tidak setia kepada Yesus, maka ini berarti kita bagaikan berada di dalam pelukan dari laki-laki lain = melacur = tidak setia.
    Mungkin karena kuliah membuat kita tidak setia kepada Tuhan. Ini bukan berarti kita tidak boleh kuliah, tetapi kita harus berdoa supaya kuliah tapi tidak mengganggu ibadah. Demikian juga dengan pekerjaan, jangan sampai kita tidak setia sebab ini bagaikan kita berada di dalam tangan dari laki-laki lain.

  • egois seperti rawa
    Yesaya 14 : 23 "Aku akan membuat Babel menjadi milik landak dan menjadi air rawa-rawa, dan kota itu akan Kusapu bersih dan Kupunahkan," demikianlah firman Tuhan semesta alam.

    Babel = rawa. Rawa ini hanya dapat menerima tetapi tidak dapat mengalir = egois (hanya mementingkan diri sendiri). Inilah yang harus disucikan.
Saya bersaksi, kalau saya mau mementingkan diri, maka:
  • jelas saya tidak akan pergi ke Surabaya, sebab di Malang ini pelayanan dan berkat dari Tuhan sudah lebih dari cukup. Tetapi karena penggembalaan di Surabaya, ada sekawanan kecil domba yang membutuhkan penggembalaan, maka saya tidak boleh menghitung untung ruginya baik secara waktu, tenaga, keuangan dlsbnya. Sebab kalau saya menghitung rugi, maka itu berarti saya = Babel.
  • saya tidak akan pernah melakukan kunjungan kemana-mana tempat, sebab berapa biayanya yang harus saya keluarkan dalam sekali melakukan kunjungan dan tentunya biaya itu dapat saya tabung.
  • tidak perlu memakai internet dengan siaran langsung, sebab berapa biaya yang harus dikeluarkan?
Sidang jemaat sudah cukup makan. Tetapi kalau semua itu tidak saya lakukan, saya akan menjadi = Babel.

Kita sudah menerima berkat dari Tuhan, maka kita juga harus menjadi berkat bagi orang lain. Di dalam injil Matius 25, akan ada pemisahan antara domba dengan kambing. Kambing ini memiliki sifat yang egois = tidak dapat memberi dan juga tidak dapat mengunjungi dan akan dihukum oleh Tuhan. Inilah penyucian atas Babel.

Kalau kita sudah dikuduskan, maka cepat atau lambat Tuhan akan memberikan jabatan pelayanan. Bukan gembala manusia yang memberikan jabatan, tetapi berasal dari panggilan dan pilihan Tuhan.

Efesus 4 : 11-12
11. Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
12. untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

Jika kita sudah memiliki jabatan pelayanan, maka Tuhan akan menambahkan karunia-karunia Roh Kudus, kemampuan ajaib dari Roh Kudus agar kita dapat melakukan pekerjaan Tuhan.

Kemampuan ajaib = di luar batas kepandaian manusia. Seperti Petrus dan Yohanes yang tidak terpelajar, tetapi sekali mereka berkhotbah, maka 3000 orang bertobat dan dibaptis. Seringkali kita berkhotbah dengan kepandaian dan kehebatan kita. Akibatnya bukan 3000 orang yang bertobat, tetapi 3000 orang yang berkata tobat, tobat, kapok, kapok dan mereka lari. Semakin berkhotbah dengan memakai kepandaian, semakin banyak orang yang lari.
Bukannya kita tidak boleh pandai dll, tetapi yang diandalkan haruslah karunia-karunia Roh Kudus.

2 Timotius 1 : 6
Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
Kalau Tuhan sudah memberikan karunia-karunia Roh Kudus, sikap kita adalah: mengobarkan, bukannya mengorbankan.
Sikap berkobar-kobar dalam karunia dan jabatan = setia dan berkobar-kobar.

Jangan kita sampai lalai, sebab kalau kita lalai, maka kita akan terkutuk!

Yeremia 48 : 10
Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan Tuhan dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!

Kalau kita suci, maka kita akan berkobar-kobar tetapi kalau kita sudah tidak setia dan juga tidak berkobar-kobar, pasti hidup kita tidak akan suci. Itu sebabnya kita harus berhati-hati dan untuk ini saya nomor satu harus setia dan berkobar-kobar.

Jika kita suci dan berkobar-kobar, maka itu bagaikan nyala api.

Ibrani 1 : 7
Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api."

Pelayan yang suci, setia dan berkobar-kobar = pelayan bagaikan nyala api.

Kita akan membandingkan dengan membaca di dalam Wahyu 1 : 14
Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya
bagaikan nyala api.

Pelayan Tuhan bagaikan nyala api. Mata Tuhan bagaikan nyala api.
Jadi, pelayan Tuhan yang suci dan berkobar-kobar = biji mata Tuhan.
Mari saudaraku! Di hari-hari ini, kita mau menjadi biji mata Tuhan atau kita akan terlempar keluar tanpa biji mata = gelap = buta.

Tidak perlu siapa kita, asal kita mau dipanggil, dipilih/tergembala dan mau disucikan, sampaipun penduduk Babel, dapat menjadi biji mata Tuhan. Tidak ada alasan dengan mengatakan bahwa saya terlalu najis, terlalu kejam. Selama kita mau digembalakan dan mau disucikan, mau setia dan berkobar-kobar, maka kita dapat menjadi biji mata Tuhan. Luar biasa kemurahan Tuhan ini.

Zakharia 2 : 7-8
7. Ayo, luputkanlah dirimu ke Sion, hai, penduduk Babel!
8. Sebab beginilah firman Tuhan semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu -- sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya --:

Penduduk Babel, artinya orang yang sudah memiliki sifat Babel, berkecimpung dalam dosa Babel tetapi bisa menjadi biji mata Tuhan. Saya tidak berhutang darah sebab saya sudah menyampaikan hal ini kepada sidang jemaat dan juga Firman ini untuk diriku.

Mazmur 17 : 7-8
7. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.
8. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.

Kalau kita menjadi biji mata Tuhan, maka kita akan disembunyikan di dalam naungan sayap kasih setia Tuhan yang ajaib, yang tidak berubah, yang kekal/tidak terbatas.

Hasilnya:
  1. Ulangan 32 : 10
    Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.

    = Kita mengalami pemeliharaan dan perlindungan Tuhan bagaikan biji mata Tuhan
    di jaman yang sudah sulit yang bagaikan padang gurun yang memiliki banyak binatang buas (banyak persoalan-persoalan) sampai nanti pada masa penghancuran dunia, masa antikris selama tiga setengah tahun.

    Mazmur 57 : 2

    Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.

  2. Mazmur 63 : 7-8
    7. Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, --
    8. sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.

    Naungan kasih setia Tuhan yang ajaib dapat menolong kita tepat pada waktunya sehingga kita dapat selalu mengucap syukur, ada sorak sorai. Kita dilindungi, dipelihara dan ditolong oleh kasih setia Tuhan sampai kita ditebus seperti Rut yang pada akhirnya menikah dengan Boas, menjadi Mempelai Wanita Tuhan.

    Rut 3 : 9 =
    Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami."
    = mengalami penebusan yang terakhir yaitu menjadi Mempelai Wanita Tuhan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang keduakali.
    = Kita masuk dalam pesta nikah Anak Domba, kita tidak ikut hancur bersama dunia, kita tidak masuk kiamat tetapi kita bersama dengan Tuhan selama-lamanya.
Ini adalah hal yang sungguh-sungguh serius sebab merupakan nasib kita semua dan ditentukan mulai sekarang ini dengan:
  • menerima panggilan Tuhan
  • menerima pilihan Tuhan
Sekalipun keadaan kita sudah seperti Babel, seperti Rut yang adalah seorang janda dari Moab. Moab ini menunjukkan bangsa yang terkutuk sebab merupakan hasil perbuatan percabulan dari seorang ayah dengan anaknya. Rut berasal dari ini, tetapi karena ia mendapatkan sayap kasih setia, ia ditebus sampai menjadi Mempelai.

Rut 3 : 18
Lalu kata mertuanya itu: "Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga."

Yesus tidak akan berhenti untuk menolong kita, untuk mengembangkan sayapnya. Pada hari ini juga Yesus akan mengembangkan sayap kasih setiaNya bagi biji mataNya.

Bagaimana sikap kita? Yaitu duduk saja menanti di bawah kaki Tuhan = mendengarkan Firman seperti Maria = menyembah. Yesus tidak berhenti mengembangkan sayapNya bagi kita semua sebelum masalah kita selesai, sebelum kita menjadi Mempelai.
Bagi anda yang masih berada di dalam masalah, tetapi belum ditolong, duduk dan menanti (= mendengarkan Firman di bawah kaki Tuhan dan juga tekun menyembah Tuhan). Tuhan tidak pernah menipu kita dan Tuhan bekerja dengan dua tanganNya yang diulurkan kepada kita.

Tuhan memberkati.