[cetak]
Ibadah Doa Malam Surabaya, 22 Juni 2016 (Rabu Malam)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Mazmur 31: 6
31:6. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.

Terutama kita membahas ayat 6a: 'Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku'
Yesus menyerahkan nyawa lewat mati di kayu salib sampai Dia berseru: 'Sudah selesai!'
Kita bisa menyerahkan nyawa--menyerahkan seluruh hidup ktia--lewat perobekan daging-doa penyembahan seperti malam ini.
Mungkin sudah waktunya pulang dan istirahat, tetapi kita masih berdoa, ini sama-sama masih mengandung nilai salib/perobekan daging/penyaliban daging.

Doa penyembahan adalah hubungan yang paling dekat antara kita dengan UTHAN--kalau di dalam tubuh, ini adalah hubungan kepala dengan tubuh, yaitu leher. Tidak boleh terpisah sediktipun.

Syarat doa penyembahan: penyucian.
Yakobus 4: 8
4:8. Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!

Penyucian ini meliputi:

  1. 'sucikanlah hatimu'= mulai dari penyucian hati. Hati disucikan dari kejahatan, kenajisan, keaphitan, iri, dendam, dan juga kebimbangan. Kalau bimbang, tidak bisa berdoa. Harus yakin!
    Bimbang terhadap pribadi TUHAN--pengajaran yang benar--dan kuasa TUHAN membuat kita tidak bisa bedoa. Kita harus yakin pada pribadi TUHAN--firman pengajran yang benar--dan kuasa TUHAN. Setelah itu, baru kita bisa menyembah TUHAN.


  2. 'Tahirkanlah tanganmu'= kalau hati sudah disucikan, kita juga mengalami penyucian tangan dari perbuatan-perbuatan dosa sampai puncaknya dosa menjadi perbuatan benar dan suci.


  3. Mazmur 24: 3-4
    24:3. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"
    24:4. "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang
    tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu

    'Gunung TUHAN'= penyembahan.

    Yang ketiga: 'tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu'= penyucian mulut, yaitu tidak boleh ada dusta, tetapi berkata benar dan baik.

Inilah syarat berdoa malam ini. Biarlah kita mendengar firman, supaya firman menyucikan mulai dari hati kita: tidak ada lagi kejahatan, kenajisan, kepahitan, dan kebimbangan, tetapi kita percaya pada pribadi TUHAN--firman pengajaran yang benar--dan kuasa TUHAN.
Kemudian, tangan--perbuatan--dan mulut--perkataan yang masih banyak gosip dan dusta--juga disucikan menjadi perkataan benar dan baik.

Inilah cara menyerahan nyawa--seluruh hidup--kepada TUHAN lewat doa penyembahan.
Syaratnya: penyucian.

Proses menyerahkan nyawa kepada TUHAN:

  1. Menyerahkan segala kekuatiran kepada TUHAN.
    1 Petrus 5: 7
    5:7. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu

    Ini pasal penggembalaan.

    Mazmur 55: 23
    55:23. Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah

    Ada kekuatiran apa kita malami ini? Lewat doa penyembahan, mau menyerahkan nyawa, serahkan dulu kekuatiran kepada TUHAN
    Tadi, mau menyembah harus disucikan dulu. Sudah bisa menyembah, apa yang diserahkan? Serahkan kekuatiran

    Ditulis dua kali, berarti serahkan kekuatiran baik secara jasmani maupun rohani, apapun bentuknya! Serahkan kepada TUHAN!
    Menyerahkan kekuatiran sama dengan bisa duduk tergembala dengan benar dan baik, tidak beredar-edar. Kalau sudah duduk, jangankan jatuh, goyahpun tidak.

    Hasilnya: terpelihara; tidak goyah, tersandung, dan terjatuh; tetapi ada ketenangan. Ada jaminan pemeliharaan secara jasmani dan rohani.

    Malam ini, kita serahkan kekuatiran sampai kita merasa tenang. Penggembalaan itu ketenangan--damai sejahtera. Jangan seperti Esau, kejar sana sini, dan hilang. Yakub diam saja dan dapat semuanya.


  2. Menyerahkan nyawa--diri sepenuh--kepada TUHAN.
    Mazmur 131: 1-3
    131:1. Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
    131:2. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti
    anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
    131:3.
    Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

    Perikop: menyerah kepada TUHAN.

    Praktik menyerahkan diri sepenuh kepada TUHAN:


    1. Ayat 1: 'aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku'= tidak menuntut hal-hal yang terlalu ajaib, tetapi menyerah kepada kehendak TUHAN--seperti penyerahan Yesus di taman Getsemani: 'Ya Abba, ya Bapa, kalau bisa lakukan cawan ini dari pada-Ku. Tidak ada mustahil bagi-Mu.' Memang Yesus tidak layak untuk disalib atau dipukul karena Dia tidak berbuat dosa, tetapi ini yang paling penting, Yesus melanjutkan perkataan-Nya: '..tetapi bukan kehendak-Ku yang jadi, tetpai kehendak-Mu.' Ini penyerahan sepenuh. Dia yakin kalau Allah bisa melakukan apa saja, termasuk mati jadi bangkit. TUHAN lakukan yang terbaik. Kalau kita paksa, belum tentu yang terbaik.

      Malam ini, serahkan kekuatiran--kita mau tergembala dengan mantap seperti Yakub. TUHAN sanggup pelihara kita dan kita tidak goyah.
      Kemudian, serahkan diri. Praktiknya: tidka menuntut yang hebat-hebat atau yang terlalu ajaib, tetapi terserah TUHAN. Entah jalannya seperti apa, yang penting kita yakin bahwa TUHAN lakukan yang terbaik.

      Sama seperti kalau kita sakit. Ada yang tidak operasi, tetapi ada juga yang operasi. Bisa terjadi, itu yang terbaik dari TUHAN. Itu didikan bagi kita masing-masing, supaya kita bisa seperti Yesus di taman Getsemani. Kalau kita bisa berkata: 'Terserah kehendak TUHAN,' itu mujizat terbesar. TUHAN tolong kita malam ini.


    2. Praktik kedua menyerah sepenuh pada TUHAN: diam dan tenang ('aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku').

      Anak disapih--cerai susu--pasti goncang. Bentuknya sekarang, bisa saja kita kerja, lalu diPHK, atau buka toko, tahu-tahu sepi. Tetapi saat dalam goncangan, kita harus tetap diam dan tenang seperti anak yang disapih.

      Air susu ibu memang harus dihentikan--harus disapih. Kita satu waktu juga akan menghadapi, tetapi saat itu kita berbaring dengan ibu kita; Kita hanya percaya dan berharap kepada kasih setia TUHAN ; kita seperti bayi dalam gendongan tangan kasih setia TUHAN. Itulah penyerahan sepenuh.

      Hasilnya:
      Yesaya 46: 4
      46:4. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu


      1. 'Aku mau menanggung kamu terus'= tangan kasih setia TUHAN sanggup memelihara kehidupan kita di zaman yang sulit--seperti bayi yang disapih dan dipelihara lewat tangan ibunya.
        Apapun yang TUHAN izinkan terjadi pada kita, tujuannya adalah supaya kita menyerah dan UTHAN yang bertanggung jawab atas hidup kita.

        Tangan kasih setia-Nya sanggup memelihara kita seperti biji mata-Nya sendiri di zaman yang sulit sampai zaman antikris, dan ada masa depan yang beerhasil dan indah--Yusuf dalam penjarapun bisa berhasil dan indah. Ini tanggung jawab TUHAN. TUHAN yang izinkan Yusuf masuk penjara, bukan karena salahnya dan TUHAN yang bertanggung jawab. Kalau karena dosa, cepat minta ampun!


      2. 'Aku mau memikul kamu'= tangan kasih setia TUHAN memikul segala letih lesu, beban berat, dan masalah kita di kayu salib, sehingga semua menjadi enak dan ringan; semua masalah selesai.

        Malam nii, mungkin ada banyak masalah yang belum selesai, bawa kepada TUHAN, serahkan pada tangan kasih setia TUHAN! Semua bisa diselesaikan oleh TUHAN.


      3. 'Aku mau menyelamatkan kamu'= TUHAN menyucikan dan mengubhakan kita sempai mencapai keselamatan penuh--kesempurnaan--; seperti bayi yang kotor harus dimandikan.

        Ini penyerahan. Bukan hanya perkara jasmani, tetapi sampai kesempurnaan--kita dimandikan: disucikan dan diubahkan sampai sempurna, dan kita layak menyambut kedatangan-Nya kembali kedua kali di awan-awan yang permai.

Inilah pengertian dari: 'Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku.' Lewat doa penyembahan, kita bisa menyerahkan seluruh hidup kepada TUHAN.

Syaratnya: kesucian.
Yang ddiserahkan:

  • Kekuatiran. Tidak boleh ada kekuatiran dan tidak boleh goyah, tetapi harus dalam ketenangan--damai sejahtera.
  • Seluruh hidup, yaitu


    • Tidak menuntut yang hebat, tetapi berserah pada kehendak TUHAN: 'Saya yakin, biar tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan, TUHAN akan berikan yang terbaik kepada saya.'

      "Saya ingat juga. Tidak ada cita-cita jadi pendeta. Tidak ada kamusnya. Kalau ikuti kehendak TUHAN, memang tidak sesuai dengan keingian saya, tetapi itulah yang terbaik. Saudara juga. Bukan berarti harus jadi pendeta semua supaya baik. Apa saja, serahkan pada TUHAN, Dia tahu yang terbaik."


    • Diam dan tenang menghadapi apapun, seperti anak yang disapih ibunya. Diam dalam gendongan tangan TUHAN; bergantung pada TUHAN dan tangan kasih setia TUHAN yang mengerjakan semuanya bagi kita.

Serahkan hidup dalam tangan kasih setia TUHAN yang tidak berubah selama-lamanya. TUHAN menolong kita. Pergumulan apa saja yang belum selesai sampai hari ini, semoga malam ini adalah waktunya TUHAN untuk menolong kita semua.
Kita menyembah Dia malam ini. Satukan hati dan saling mendoakan satu dengan lainnya! TUHAN tolong kita semuanya.
Kaum muda juga serahkan semua dalam tangan TUHAN!

Jangan kecewa dan putus asa akan sesuatu! Jangan bangga dengan keberhasilan! Yang penting adalah penyerahan kita kepada TUHAN. Serahkan kepada TUHAN; mengadu kepada TUHAN. Apapun yang terjadi, TUHAN tahu yang terbaik bagi kita.

TUHAN tahu pergumulan dan keberatan hidup kita; Dia tahu segalanya dan Dia tahu yang terbaik bagi kita. Sekalipun mata memandang yang tidak baik bagi kita, tetapi TUHAN tahu yang terbaik bagi kita.
Dia rela mati di kayu salib untuk menggendong kita dengan tangan kasih setia-Nya dan menanggung semuanya--termasuk dosa-dosa kita sampai puncaknya dosa--, memikul semuanya, dan menyempurnakan kita. Jangan ragu-ragu sedikitpun! Serahkan semua dalam tangan kasih setia-Nya sampai kita merasa tenang!
Kita pulang dalam ketenangan dan kedamaian dari sorga.

TUHAN memberkati.