Ibadah Doa Puasa Malang Session II, 09 Juni 2009 (Selasa Siang)

Keluaran 28 adalah tentang pakaian kudus Imam Besar dan imam-imam. Secara umum, pakaian imam dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pakaian luar, pakaian dalam, dan pakaian perhiasan (Ibadah Doa Puasa Malang Session I, 09 Juni 2009).

Syarat pakaian:
  1. Sesuai dengan fungsi, yaitu menutupi daging / ketelanjangan.
    Secara jasmani, boleh mengikuti mode, tapi jangan sampai mempertontonkan daging.
    Terutama adalah daging yang tidak taat, tidak dengar-dengaran, suka berbantah-bantah.
    Contohnya adalah Adam dan Hawa yang telanjang, kemudian ditutupi oleh Tuhan.

  2. Bersih = suci.

  3. Pantas = benar.
    Untuk beribadah, harus berpakaian yang pantas untuk ibadah.
    Ulangan 22:5,laki-laki mengenakan pakaian laki-laki, perempuan mengenakan pakaian perempuan.
Penampilan hamba Tuhan / imam-imam yang rohani dapat ditinjau dari pakaiannya, sebagai berikut:
  1. Pakaian luar benar, artinya:
    • Secara jasmani pakaian di luar benar.
    • Perkataan dan perbuatan tidak berbau kedagingan, tetapi harus benar.

  2. Pakaian dalam suci.
    Pakaian dalam ini tadi menunjuk pada iman, perbuatan, dan kasih.
    Contohnya adalah iman tidak goyah:
    • Saat menghadapi pencobaan, tidak putus asa, tidak kecewa, tidak berharap orang lain, tetapi tetap berharap Tuhan. Tidak hutang, tidak minta, tidak mencuri saat kekurangan.
    • Saat menghadapi pengajaran sesat, tetap berpegang teguh pada pengajaran yang benar.

  3. Pakaian perhiasan:taat dengar-dengaran, saleh, jujur, rendah hati, setia dan dapat dipercaya.
    Pakaian perhiasan ini tadi menunjuk pada taat dengar-dengaran pada Tuhan.
    Taat = takut akan Tuhan.

    Kalau ada pakaian perhiasan, maka pasti ada pakaian dalam, dan pasti ada pakaian luar.
Kalau hamba Tuhan bisa menampilkan 3 pakaian ini dalam hidupnya, maka hasilnya:
  1. Menjadi teladan bagi orang lain.
  2. Ditahbiskan dan dipakai oleh Tuhan.
  3. Diberkati oleh Tuhan.
    Ayub 1:1-3,Ayub memiliki pakaian perhiasan (saleh, jujur, takut akan Allah, menjauhi kejahatan), maka pasti punya pakaian dalam dan pakaian luar; dan Ayub diberkati oleh Tuhan.

    Tetapi kisah selanjutnya, Ayub masih harus menghadapi ujian, percikan darah, sengsara bersama Yesus. Percikan darah adalah untuk penyucian terakhir, yaitu menyucikan dari dosa-dosa yang tersembunyi, yang seringkali tidak disadari.Ayub ternyata punya kebenaran diri sendiri(Ayub 32:1), yaitu menutupi dosa dengan cara menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan.

    Apapun yang menurut semua manusia benar, tetapi tidak sesuai dengan firman, itu adalah kebenaran diri sendiri. Ini yang perlu disucikan dengan percikan darah.

    Ayub 42:5-6,dalam pengalaman percikan darah itu, mata kita akan memandang Tuhan secara pribadi. Ayub bisa mengaku bahwa dia hanya debu tanah liat, mengaku:
    • tidak layak di hadapan Tuhan karena banyak kekurangan,
    • tidak mampu berbuat apa-apa,
    • hanya pantas diinjak-injak.

    Kalau ini bisa kita rasakan, maka hasilnya adalah mata memandang Tuhan secara pribadi, tangan diulurkan kepada Tuhan, dan tangan kemurahan dan belas kasihan Tuhan akan diulurkan untuk memulihkan kehidupan kita dua kali lipat, secara jasmani dan rohani, sampai suatu waktu sempurna seperti Tuhan.

    Sengsara tanpa dosa bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menyucikan kita dari kebenaran diri sendiri, sampai bisa duduk di tanah.
Tuhan memberkati.