Ibadah Doa Puasa Session III (Doa Penyembahan) Malang, 06 Januari 2009 (Selasa Sore)

Matius 24:29-30, adalah keadaan pada masa kedatangan Yesus kedua kali, yaitu:

ad. 2. Yesus tampil dalam kemuliaan sebagai Raja di atas segala raja, sebagai Mempelai Laki-laki Surga.
Jadi, Yesus tampil dengan kuasa kemuliaan untuk menolong gereja Tuhan menghadapi badai dahsyat di bumi.

Ada 2 macam kuasa kemuliaan Tuhan:

  1. Kuasa kemuliaan di atas gunung.
  2. Kuasa kemuliaan dalam sayap burung nazar.
Ini adalah untuk menolong gereja Tuhan menghadapi badai maut.

ad. 1. Kuasa kemuliaan di atas gunung.
Matius 17:1-2
.
Kuasa kemuliaan di atas gunung = kuasa kemuliaan dalam doa penyembahan.

Yang diajak naik untuk berdoa menyembah di atas gunung hanya 3 murid dari antara 12 murid. Ini ajaran bahwa tidak semua doa penyembahan berkenan pada Tuhan, tidak semua ibadah pelayanan berkenan kepada Tuhan. Di sini hanya 25 persen.

Hanya doa penyembahan dan ibadah pelayanan yang benar yang berkenan kepada Tuhan.

Tanda doa penyembahan yang berkenan pada Tuhan:
  1. Ada kaitan dengan angka 6, artinya proses perobekan daging atau penyaliban daging sampai daging tidak bersuara lagi.
    Ibadah yang benar juga adalah penyaliban daging.
  2. Lukas 9:28, didorong oleh firman pengajaran yang benar dalam urapan Roh Kudus.
  3. Dinaikkan dengan iman (Yakobus), pengharapan (Petrus), dan kasih (Yohanes).
    • Iman artinya percaya, kebenaran. Kalau ada sesuatu yang tidak benar, tidak akan bisa menyembah Tuhan.
    • Pengharapan adalah kesucian. Jadi penyembahan harus dalam kesucian.
    • Kasih adalah ketaatan, dengar-dengaran.
Dalam penaburan firman, hanya satu tanah yang baik dari empat tanah (25 persen). Di sini juga hanya 3 dari 12 murid yang diajak naik ke atas gunung (25 persen).

Jika doa penyembahan kita benar, maka kita akan mengalami kuasa kemuliaan Tuhan.

Ada 2 hasil yang kita terima kalau doa penyembahan benar:
  1. Kuasa keubahan hidupdari manusia daging menjadi manusia rohani yang mulia seperti Yesus.
    Keubahan mulai dari wajah (hati), yaitu diubahkan menjadi hati yang lembut, yang memancarkan kasih Allah (sinar matahari). Ini adalah sinar kebahagiaan.

    Kalau hati lembut, prakteknya adalah:
    • Bisa mengasihi sesama seperti diri sendiri, sampai bisa mengasihi musuh. Mulai dengan berdoa bagi orang yang memusuhi kita.
    • Kehangatan dan kebahagiaan secara pribadi.
    Wajah juga bicara panca indera. Ini dimulai dari mulut jangan berdusta, jangan berkata yang tidak benar, yang tidak baik. Sebab semua perkataan kita harus dipertanggungjawabkan saat kedatangan Tuhan.

    Selanjutnya adalah pakaian diubahkan, yaitu solah tingkah laku harus diubahkan sehingga yang ada adalah perbuatan-perbuatan yang memancarkan terang.
    Efesus 5:8-10, perbuatan-perbuatan terang:
    • perbuatan benar,
    • perbuatan adil, yaitu tidak boleh memihak, dan
    • perbuatan kebajikan, yaitu bisa memberi kepada sesama, bahkan bisa membalas kejahatan dengan kebajikan.
  2. Kuasa untuk menyelesaikan segala masalah (badai maut)
    Matius 17:14-15.
    Badai maut ini di sini digambarkan sebagai sakit ayan, artinya:
    • Masalah kehancuran nikah dan buah nikah.
      Hanya kemuliaan Tuhan yang sanggup mengatasi segala badai maut.
    • Kekeringan rohani (tidak puas), sehingga akibatnya adalah jatuh ke dalam:
      • Api dosa, sampai puncaknya dosa, yaitu dosa makan-minum dan kawin-mengawinkan.
      • Air, yaitu kesegaran dunia yang menenggelamkan.
        Kalau mulai bersahabat dengan dunia, maka akan mulai tidak setia dalam ibadah pelayanan, sampai meninggalkan ibadah pelayanan.
        Kalau mengasihi dunia, akan tidak taat dengar-dengaran, menjadi serupa dengan dunia, sampai binasa untuk selama-lamanya.
    • Penderitaan dan air mata, masalah yang tidak pernah selesai, bahkan sampai sudah mustahil.
Markus 9:22-24.
Badai yang terbesar sebenarnya adalah tidak percaya. Biar malam ini kita menyembah Tuhan dengan iman (Yakobus). Kalau ada iman, pasti ada kesucian (Petrus) dan ketaatan (Yohanes). Ini sama dengan mengulurkan tangan kepada Tuhan, dan Tuhan akan mengulurkan tangan belas kasihan.
Iman + belas kasihan = mujizat, bahkan sampai yang mustahil sekalipun.
Sampai suatu waktu mujizat terbesar kita diubahkan menjadi sama dengan Dia.

Filipi 3:20-21.
Dalam doa penyembahan, kita terus-menerus mengalami kuasa keubahan hidup dan kuasa untuk menyelesaikan masalah, sampai suatu waktu saat kedatangan Tuhan kedua kali, kita mengalami mujizat terbesar, yaitu menjadi sama dengan Dia.

Tuhan memberkati.