[cetak]
Ibadah Doa Surabaya, 09 Desember 2015 (Rabu Sore)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah berkat dan kasih karunia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Kita berada pada kitab Wahyu 2-3, tentang 7 jemaat bangsa kafir yang mengalami penyucian terakhir, supaya bisa sempurna (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 27 Juli 2014).

Kita mempelajari kitab Wahyu 3: 14-22--tentang sidang jemaat di LAODIKIA (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 14 Juni 2015). Ini adalah jemaat yang terakhir--jemaat ketujuh. Ini menunjuk pada keadaan jemaat akhir zaman--kita semua.

Wahyu 3: 21-22
3:21.
Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
3:22. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."


JANJI TUHAN kepada jemaat Laodikia--kita semua--yang menang bersama Yesus, yaitu duduk bersanding bersama Yesus di takhta sorga selama-lamanya; artinya mempelai wanita Tuhan--kita--duduk bersanding dengan Yesus--Mempelai Pria Sorga--di takhta sorga untuk selama-lamanya.

Ini adalah tujuan utama kita mengikut dan melayani Yesus. Bukan hanya terpaku pada perkara-perkara jasmani di dunia ini, tetapi sampai duduk bersanding dengan Yesus ditakhta sorga. Jemaat Laodikia kaya, tetapi tidak ada artinya.

Hubungan Mempelai Pria dan mempelai wanita adalah HUBUNGAN KASIH. Dalam Tabernakel, ini digambarkan dengan 2 loh batu.
Jadi, untuk bisa duduk bersanding dengan Yesus di takhta sorga, maka kita mutlak memiliki kasih Allah--2 loh batu.

Dua loh batu terdiri dari 2 bagian:

  1. Loh batu pertama: berisi 4 hukum, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap tubuh, jiwa, roh kita; mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu (diterangkam mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 07 Desember 2015).


  2. Loh batu kedua: berisi 6 hukum, yaitu mengasihi sesama seperti diri sendiri.
    Angka 6 = manusia.

AD 1. LOH BATU PERTAMA
Malam ini, kita masih mempelajari: mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu.

Praktiknya:
Mazmur 97: 10
97:10 Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.

Praktik mengasihi Tuhan lebih dari semua: 'bencilah kejahatan' = membenci kejahatan/menjauhi dosa = takut akan TUHAN.

"Saya selalu mengatakan, di udara ini terdapat roh jahat dan roh najis. Jika di ilmu pengetahuan hanya mengetahui di udara mengandung oksigen, nitrogen, CO2 dan lain-lain. Tetapi di dalam Alkitab lebih jelas, di udara terdapat roh jahat dan roh najis. Jadi ketika kita bernafas, roh jahat dan roh najis juga ikut masuk pada kita. Oleh sebab itu harus kita imbangi dengan takut akan TUHAN; dalam alkitab terjemahan lama disebutkan: bernafas dengan takut akan TUHAN (Yesaya 11: 3)."

Amsal 8: 13
8:13 Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.

'mulut penuh tipu muslihat.' = dusta.
Jadi, takut akan TUHAN adalah kita membenci kejahatan/menjauhi dosa sampai membenci/menjauhi dusta.

Hari-hari ini, jika kita rindu suatu kelak duduk bersanding dengan Yesus di takhta sorga, maka kita harus mengasihi TUHAN lebih dari semua.
Praktiknya: takut akan TUHAN--membenci dosa sampai dusta.

2 Timotius 2: 19 => pasal tahbisan
2:19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan."

Jika kita sudah membenci dosa sampai dusta, maka kita layak menyebut--menyeru--nama TUHAN. Ini ketentuan dari TUHAN.

Alkitab sudah membuktikan; anak-anak Skewa tidak bertobat, tetapi mereka mencoba untuk menyebut nama Yesus untuk mengusir setan. Akibatnya: mereka digagahi oleh setan.

Kisah Rasul 19: 13-16
19:13 Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu,
mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: "Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus."
19:14 M
ereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala Yahudi yang bernama Skewa.
19:15 Tetapi roh jahat itu menjawab: "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu,
siapakah kamu?"
19:16 Dan orang yang dirasuk roh jahat itu
menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka.

Oleh sebab itu, mari mulai malam ini, kita mengasihi TUHAN dengan segenap tubuh, jiwa, dan roh kita. Praktiknya: kita menjauhi dosa/membenci dosa sampai dusta, sehingga kita layak menyeru nama TUHAN.

Ada 3 pengertian menyebut/menyeru nama TUHAN:

  1. Pengertian/tingkat pertama menyeru nama Yesus: menaikkan doa permohonan.
    Ada doa permohonan yang dijawab; ada yang tidak dijawab oleh TUHAN.

    Syarat supaya doa dijawab oleh TUHAN: Firman TUHAN harus tinggal di dalam kita.
    Yohanes 15: 7
    15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

    Prosesnya: kita mendengar firman dengan sungguh-sungguh, mengerti, dan percaya akan firman, sehingga firman menjadi iman di dalam hati--firman tinggal di dalam kita. Jangan bimbang! Jika bimbang, tidak akan mendapatkan apa-apa.

    Firman TUHAN = kehendak TUHAN.
    Jadi, kita menaikkan doa permohonan dengan iman dan sesuai dengan kehendak TUHAN. Karena itu kita harus mendengar firman lebih dulu, supaya yang kita doakan sesuai dengan firman.

    Jika doa tidak dijawab oleh TUHAN, bukan karena TUHAN jahat, tetapi karena tidak sesuai kehendak TUHAN; kalau dikabulkan, justru akan menghancurkan kerohanian kita. Rugi!
    Sebagai contoh, anak kita meminta sepeda motor tetapi digunakan untuk kebut-kebutan, bukan untuk sekolah. Jika dikabulkan, maka anak kita akan celaka.
    Begitu juga dengan TUHAN, ketika doa kita belum dikabulkan, bukan berarti TUHAN tidak baik, tetapi mungkin yang kita doakan hanya untuk memuaskan hawa nafsu/kehendak daging kita.

    Mazmur 145: 18-19
    145:18 TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.
    145:19 I
    a melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.

    Kalau kita menyeru nama TUHAN dengna takut akan TUHAN dan dalam kesetiaan, maka akan Ia kabulkan.
    'TUHAN dekat dengan orang yang berseru kepadaNya' = TUHAN menjawab doa kita dan Ia mengulurkan tangan-Nya untuk menolong dan menyelamatkan kita.
    Selamat secara jasmani: dilindungi dari celaka marabahaya; dan secara rohani: kita bisa hidup dalam kebenaran --tidak jatuh bangun lagi di dalam dosa dan tidak binasa.


  2. Pengertian/tingkat kedua menyeru nama Yesus: mengucap syukur kepada TUHAN.
    Filipi 4: 6-7
    4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
    4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan
    memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

    Kita harus mengucap syukur dalam segala hal; baik saat diberkati maupun saat menderita, sehingga kita mengalami hati damai sejahtera.
    Sebagai contoh: Yesus tahu bahwa Ia akan disalibkan, tetapi saat perjamuan suci--membagi tubuh dan darah-Nya---Ia tetap mengucap syukur. Waktu membagi-bagi 5 roti 2 ikan--suasana berkat--, Ia juga mengucap syukur.

    Jika hanya mengucap syukur saat diberkati, maka saat mengalami penderitaan, hatinya tidak bisa damai--damai sejahtera hilang.

    Mari malam ini, kita bisa menaikkan doa permohonan dengan iman dan sesuai dengan kehendak TUHAN, sehingga TUHAN menjawab doa kita, menolong, dan menyelematkan kita. Ditingkatkan lagi, kita bisa mengucap syukur dalam segala hal, sehingga kita mengalami hati damai sejahtera.

    Hasilnya:


    • Tidak kecewa, putus asa saat menghadapi apapun juga dan tidak pernah bangga saat mendapatkan pujian, tetapi tetap percaya dan berharap sepenuh kepada TUHAN; hati stabil; tetap damai sejahtera--seperti laut yang teduh. Ini yang harus kita jaga. Belajar mengucap syukur dalam segala keadaan!


    • Tidak stress, takut, kuatir, pahit hati, najis, dan jahat = tidak merasakan lagi apa yang daging rasakan, tetapi kita hanya merasakan kasih TUHAN.


    • Hidup kita enak dan ringan.
    • 'memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus' => jika hati dan pikiran dipelihara oleh TUHAN, maka TUHAN juga sanggup memelihara kita--menyediakan segala kebutuhan kita--, sampai kita mendapat masa depan yang indah dan berhasil.

      Hati damai adalah landasan yang kuat untuk menerima berkat TUHAN. Sudah tepat waktunya TUHAN untuk memelihara kehidupan kita di tengah-tengah kesulitan dunia. Tepat waktunya TUHAN, kalau hati kita sudah damai.

      Kalau hati masih goncang--laut masih bergelora; masih iri, dendam dan sebagainya--, berat, berkat tidak akan datang. Kalau berkat datang, hanya untuk tenggelam, sebab landasannya belum kuat. TUHAN tidak mau itu terjadi pada kita.
      Kalau hati damai, itu adalah tanda-tanda berkat TUHAN akan datang.

      Jaga hati damai! Tetap mengucap syukur sampai hati damai--tidak merasakan apa-apa lagi, tetapi hanya mengasihi TUHAN--dan tidak lama lagi, berkat-berkat akan turun. Kalau lupa sedikit--hati marah, kecewa dan sebagainya--sebut: Darah Yesus. TUHAN tolong kita semua.


  3. Pengertian/tingkat ketiga menyeru nama Yesus: doa penyembahan kepada TUHAN. Ini adalah puncak dari ibadah pelayanan dan puncak dari doa.
    Fokus doa penyembahan hanya kepada pribadi TUHAN. Kalau doa permohonan tadi, kita naikkan kalau ada masalah; kalau menerima berkat, kita naikkan doa ucapan syukur.

    Mazmur 95: 6
    95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

    Doa penyembahan= menyembah TUHAN sebagai Sang Pencipta; selalu ingat: 'Kalau tidak ada TUHAN, tidakada saya.'
    Dulu, TUHAN menciptakan manusia dari segumpal tanah liat dan dihembusi nafas kehidupan dari TUHAN.
    Jadi, roh TUHAN ada di dalam kita dan inilah yang mendorong kita untuk mencari/menyembah TUHAN--roh mencari induknya.

    Praktik menyembah TUHAN: merendahkan diri di bawah kaki TUHAN yang menciptakan kita; sama dengan tersungkur; menyembah dengan hancur hati, sehingga kita mengaku hanya tanah liat belaka, artinya:


    • tidak layak dan banyak kekurangan/kesalahan.
    • tidak berdaya apa-apa.
    • tidak berharga apa-apa dan hanya untuk diinjak-injak--ingat bahwa kita diciptakan dari tanah liat.
      Tanah liat sekalipun sudah di atas, tetap seperti genteng yang diinjak-injak.


    • Hanya bergantung pada belas kasih TUHAN.


    Sebagai contoh: Maria menghadapi Lazarus yang mati 4 hari dan ia tersungkur di bawah kaki TUHAN.
    Yohanes 11: 5, 32
    11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.
    11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia,
    tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

    Maria menyembah dengan hancur hati--mengaku hanya tanah liat yang tidak mampu apa-apa dan hanya bergantung pada belas kasih kemurahan TUHAN. Maka TUHAN juga mengulurkan tangan belas kasih-Nya untuk membangkitkan Lazarus yang sudah mati 4 hari.

    Lazarus mati 4 hari menunjuk pada:


    • Kebusukan: dosa-dosa--termasuk dusta--sampai puncaknya dosa.
    • Kehancuran nikah dan buah nikah.
    • Kegagalan-kegagalan = gagal total, tidak ada masa depan, dan tidak indah hidupnya.
    • Kemustahilan-kemustahilan di segala bidang.
    • Kebinasaan.


    Malam ini, menghadapi ini semua, kita hadapi dengan doa permohonan, ucapan syukur, sampai bisa tersungkur di kaki TUHAN--mengaku tanah liat yang tidak layak dan tidak berharga apa-apa, tetapi hanya bergantung pada belas kasih, kemurahan, dan anugerah TUHAN.

    Hasilnya: TUHAN membangkitkan Lazarus, artinya:


    • Yang sudah busuk dipulihkan oleh TUHAN menjadi benar dan suci.
    • Yang hancur dijadikan baik. Nikah dan buah nikah yang hancur dijadikan satu dan baik.
    • Kegagalan-kegagalan dijadikan berhasil dan indah.
    • Kemustahilan-kemustahilan menjadi tidak mustahil, semua bisa diselesaikan oleh TUHAN.
    • Yang binasa, bisa diubahkan sedikit demi sedikit, sampai menjadi sama mulia dengan TUHAN, untuk layak menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai, bahkan sampai duduk bersanding dengan TUHAN di takhta sorga selamanya.

Mari mengasihi TUHAN jika mau duduk bersanding dengan TUHAN.
Praktiknya: membenci dosa dan menjauhi kejahatan, sehingga kita dapat berseru nama Yesus.

Menyeru nama Yesus ada 3 tingkatan: doa permohonan, doa ucapan syukur, dan yang tertinggi, tersungkur di kaki TUHAN--menyembah Sang Pencipta.

Jangan takut! Kuasa penciptaan TUHAN tetap dari dulu sampai sekarang.
Dulu bumi diciptakan dari tidak ada apa-apa menjadi ada; mustahil menjadi tidak mustahil; dan semua diatur menjadi indah oleh TUHAN.

Malam ini, apa yang sudah busuk dan gagal, pandanglah langit bumi berserta isinya yang begitu indah. Sudah diciptakan dan dijaga; kita juga akan dipulihkan oleh TUHAN sampai kita sempurna seperti Dia. Serukan nama Yesus, Sang Pencipta!

TUHAN memberkati.