[cetak]
Ibadah Doa Surabaya, 28 September 2016 (Rabu Sore)

Pembicara: Pdt. Mikha Sanda Toding

Selamat malam dan salam sejahtera bagi kita sekalian. Biarlah damai sejahtera dari TUHAN Yesus Kristus selalu menyertai akan kehidupan kita sekalian.

Malam ini kita duduk untuk bisa mendengar firman dengan baik. Roh Kudus yang tiada terbatas akan mengurapi kita, sehingga kita bisa mendengar firman sampai mempraktikkan firman.

Matius 17: 1-8
17: 1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia
naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
17: 2
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
17: 3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
17: 4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
17: 5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
17: 6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
17: 7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
17: 8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.


Dalam pelajaran Tabernakel, Matius 17 terkena pada mezbah dupa emas--doa penyembahan.
Yesus mengajak murid-Nya: Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi untuk berdoa/menyembah kepada TUHAN.

Lukas 9: 28
9: 28 Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa.

Doa penyembahan yang benar
, yang berkualitas tinggi, dan yang berkenan kepada TUHAN adalah doa yang didorong oleh:

  1. Didorong oleh pengajaran yang benar= iman yang benar. Ini menunjuk pada Yakobus.
  2. Didorong oleh Roh Kudus/Roh suci/Roh pengharapan. Ini menunjuk pada Petrus.
    Petrus ini bicara tentang pengharapan dalam kesucian--memberikan pengharapan--, terutama pengharapan tentang kedatangan Yesus kedua kali yang tidak lama lagi, sehingga kita selalu menyucikan diri dan tidak pernah mau berbuat dosa sekalipun ada kesempatan.


  3. Didorong oleh kasih; kasih sama dengan memberi. Ini menunjuk pada Yohanes.
    Penyembahan bukan meminta-minta kepada TUHAN, tetapi memberi.
    Apa yang diberikan? Kita memberi mulai dari milik TUHAN yang terkecil yaitu persepuluhan dan persembahan khusus, sampai memberikan seluruh hidup kita yang ditandai dengan banyak kekurangan, kelemahan, dan kesalahan.

    Kalau kita sadar bahwa kita banyak kelemahan dan kekurangan, kita akan selalu menghadapkan diri kepada TUHAN--menyembah dan menyerahkan seluruh hidup kita pada TUHAN.

Lukas 9: 29
9: 29 Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.

Kalau faktor pendorongnya benar--iman yang benar, kesucian dalam pengharapan, dan selalu ingin memberi sampai memberi seluruh hidup kepada TUHAN--, maka penyembahan akan menghasilkan pembaharuan demi pembaharuan sampai nanti yang terakhir, yaitu sekualitas dengan kota Yerusalem baru--kota Yerualem baru terletak di atas gunung; tadi, TUHAN membawa murid-murid-Nya juga ke atas sebuah gunung.
Kita menjadi sempurna, sehingga kalau TUHAN datang kembali, kita bisa terangkat untuk duduk di atas takhta bersama TUHAN selama-lamanya. Ini adalah suatu kebhagiaan. Karena itu tadi Petrus katakan di atas puncak gunung: Betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Kami tidak mau turun, biarlah di sini kami dirikan kemah.

Sebaliknya, kalau penyembahan didorong oleh perkara lain, maka penyembahan itu akan diserobot oleh setan.
Misalnya didorong oleh emosi, ambisi, keinginan daging--bukan memberi, tetapi meminta-minta--, setan sudah tahu apa yang kita minta dan ia bisa memberikan itu--diserobot oleh setan. Tetapi itu semua membuat kita semakin hari semakin jauh dari TUHAN, sekalipun kita kakatan: ini berkat. Sepertinya berkat, tetapi membuat kita jauh dari TUHAN. Pertanyaannya: berkat itu dari TUHAN atau setan?

Kita ingat iblis membawa Yesus ke puncak gunung juga dan berkata kepada Yesus: 'Kalau Engkau menyembah padaku, semua kerajaan dunia aku berikan pada-Mu.' TUHAN membawa murid ke atas puncak gunung, tetapi setan juga pernah membawa Yesus ke atas puncak gunung, lalu setan menawarkan kedudukan dan seisi dunia asal mau menyembah dia.

Ini yang seringkali tidak bisa kita bedakan, apakah berkat itu dari TUHAN atau setan.
Kalau berkat murni dari TUHAN, tidak salah, karena kita sudah sungguh-sungguh berdoa kepada TUHAN, dan buktinya adalah:

  • Kita akan selalu bersyukur,
  • tetap menyembah dan beribadah melayani kepada TUHAN,
  • bahkan kita merasa tidak layak menerima berkat-berkat itu: aku tidak layak, semua ini hanya kemurahan TUHAN.

Tetapi, kalau berkat sudah menjadi kebanggaan atau tidak melayani lagi karena merasa tidak kekurangan apa-apa, itu berarti apa yang didapatkan jangan-jangan dari setan. Kalau dari TUHAN, tidak seperti itu.

Itulah faktor penentunya, apa yang mendorong ktia berdoa. Kalau pendorongnya adalah emosi, ambisi atau keinginan-keinginan daging, sudah pasti diserobot setan.
Tetapi, kalau pendorongnya benar--iman yang benar, Roh suci, dan memberikan seluruh hidup kepada TUHAN--, kita pasti mengalami kuasa pembaharuan.

Jadi tidak perlu ditanya: kamu doa berapa kali sehari? Cukup dilihat dari pembaharuan. Kalau ada pembaharuan yang makin hari makin meningkat, berarti ia hidup dalam doa penyembahan.
Sebaliknya, sekalipun selalu berdoa, tetapi kalau tidak ada pembaharuan--tidak ada tanda-tanda keubahan, tetap manusia daging yang hidup dalam dosa sampai puncaknya dosa, yaitu dosa makan minum dan kawin mengawinkan--, berarti faktor pendorongnya lain. Sekalipun dia katakan: aku berdoa, tetapi dia belum hidup dalam doa dan mengalammi kuasa doa, yaitu pembaharuan.

Kita berdoa dan harus mengalami kuasa doa.
Apa yang dibaharui?
Malam ini kita membahas pembaharuan wajah.
Wajah kita yang gelap adalah pencerminan dari hati yang gelap; yang dikuasai oleh berbagai-bagai dosa.

Matius 15: 19
15: 19 Karena dari hati timbul segala 1pikiran jahat, 2pembunuhan, 3perzinahan, 4percabulan, 5pencurian, 6sumpah palsu dan 7hujat.

Inilah kegelapan yang ada di dalam hati. Wajah kita gelap--tidak ada sinarnya--kalau ada tujuh dosa ini di dalam hati kita. Masa depan kita penuh dengan kekelaman, tidak ada titik terang untuk masa depan, sebab ada dosa kegelapan di dalam hati.
Oleh sebab itu, lewat doa penyembahan yang didorong oleh faktor yang benar--firman, Roh Kudus dan selalu memberikan hidup kepada TUHAN--, kita akan mengalami pembaharuan--kegelapan dibaharui--:

  1. Pikiran jahat = prasangka jahat; pikiran negatif:


    1. Prasangka jahat terhadap TUHAN terutama saat firman menegor/menyatakan dosa-dosa, sehingga kita marah, padahal memang seperti itu penyampaian firman TUHAN.
    2. Prasangka jahat terhadap sesama, terutama kepada orang-orang terdekat dalam rumah tangga.


    Jangan ada pikiran jahat, itu yang membuat masa depan kita gelap. Kita sudah berdoa, tetapi belum meengalami kuasa doa, sehingga wajahnya tetap gelap.

    Harus dibaharui sehingga bisa memiliki pikiran yang positif terhadap TUHAN dan sesama.


  2. Pembunuhan = kebencian. Dibaharui sehingga kita hidup dalam kasih.
  3. Perzinahan dibaharui juga, yaitu tetap menjaga kesucian dalam nikah. Jangan sampai kaum muda jatuh dalam dosa ini saat masa pacaran, begitu juga saat sudah menikah.
  4. Percabulan juga dibaharui. Jangan berulang-ulang jatuh dalam dosa yang sama! Kalau perzinahan, hanya satu kali jatuh.
  5. Pencurian = mencuri milik TUHAN dan sesama.
    Dibaharui sehingga kita bisa mengembalikan milik TUHAN dan memberi kepada sesama yang membutuhkan.
  6. Sumpah palsu, dibaharui sehingga kita bisa menjadi saksi-saksi TUHAN yang benar dan bisa memuliakan TUHAN lewat perkataan yang benar.
  7. Hujat. Jangan menghujat Allah Tritunggal dan orang-orang sucinya TUHAN!

Ini yang harus dibaharui lewat doa penyambahan, sehignga kegelapan dibaharui dan kita mendapatkan terang--wajah yang terang. Tadi Yesus menujukkan wajah-Nya yang bersinar bagaikan matahari dan pakaian-Nya berkilau-kilauan.

Kita jgua, kuasa doa sudah membaharui kita, sehingga kita benar-benar hidup di dalam terang.
Kalau doanya terus didorong faktor yang benar--iman yang benar, kesucian yang benar dan bisa memberi--, maka:

  1. Pembaaharuan akan terus berlangsung sampai menjadi terang yang berbuah.
    Efesus 5: 8
    5: 8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,
    5: 9 K
    arena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

    Berbuah terang adalah:


    1. Terang kebaikan= perkataan dan perbuatan baik di tengah-tengah dunia yang sudah tidak baik. Kita diperlakukan tidak baik, tetapi bisa berbuat baik, itulah buah terang dalam hidup kita--semua baik, teramsuk pekerjaan dan pelayanan kita.


    2. Buah keadilan= tidak memihak yang salah; tidak mendukung dan menyetujui yang salah, tetapi tetap memihak yang benar, yaitu firman pengajaran yang benar/pribadi TUHAN yang benar. Karena, kalau pengajarannya salah, penyembahannya pasti salah; kalau pengajarannya benar, penyembahannya pasti benar.


    3. Buah kebenaran= perkataan dan perbuatan beanr; selalu hidup benar, tidak mau berdusta apapun resikonya.
      Terang kebenaran sama dengan terang kejujuran: ya katakan: ya, tidak katakan: tidak. Terutama jujur soal pengajaran.

      Titus 2: 7
      2: 7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

      'bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu'= jujur apapun resikonya; tidak ada rasa takut pada siapapun dan resiko yang harus diterima sebagai akibat dari tetap jujur dalam menyampaikan pengajaran--seperti Yesus juga jujur dalam pengajaran.

      Matius 22: 15-16
      22: 15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
      22: 16
      Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.

      'Engkau tidak mencari muka' = kejujuran itu sama di manapun kita berada; baik di belakang dan di depan sama; di hati dan di mulut sama.

      Ini yang dipancarkan dari wajah Yesus yang bersinar dan pakaian-Nya berkilau-kilauan. Dari hati yang gelap bisa berbuahkan terang sampai kejujuran. Kalau sudah jujur dalam pengajaran, pasti jujur dalam nikah dan keuangan.

      Ibrani 13: 4-5

      13: 4 Hendaklah kamu semua penuh
      hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.
      13: 5 J
      anganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

      Suami-isteri jangan saling mendustai!
      'Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau' = kalau jujur, TUHAN akan tetap bersama kita; satu kalipun TUHAN tidak meninggalkan kita.

      Kalau kita sekali saja tidak jujur--soal firman, nikah, dan keuangan--, TUHAN akan tinggalkan kita dan kalau ada masalah kita tanggung sendiri akibatnya, TUHAN tidak menolong. Kalau satu kali orang tidak jujur di dunia saja, sulit untuk dipercaya kembali.

      Kalau tetap jujur, TUHAN tetap menyertai, membahagiakan, dan memberikan masa depan yang indah kepada kita.
      Dalam pengakuan kita juga jujur untuk mengakui segala keadaan, kegagalan, dan kekurangan kita. Sampai dalam segala hal kita jujur, supaya TUHAN menolong kita.


  2. Kalau kita terus menyembah dengan faktor yang benar, pembaharuan terakhir adalah pembaharuan kota Yerusalem baru.
    Wahyu 22: 4-5
    22: 4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.
    22: 5
    Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

    Salah satu pembaharuan Yerusalem baru adalah 'tidak ada lagi malam'--kegelapan--, tetapi yang ada terang; tidak ada sedikitpun kegelapan.

    Roma 13: 12-13
    13: 12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!
    13: 13
    Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.

    'Malam' yang tidak boleh ada di kota Yerusalem baru adalah perbuatan-perbuatan dosa dan daging.
    Harus dibaharui, sehingga yang ada adalah perbuatan-perbuatan terang/rohani.

    Perbuatan malam/dosa: pesta pora, kemabukan, percabulan--dosa makan-minum dan kawin-mengawinkan. Tidak boleh ada lagi! Kalau masih ada, kita tidak bisa masuk Yerualem baru. Kalau sudah idubahkan, kita boleh masuk.

    Perbuatan daging: Perselisihan dan iri hati. Tidak boleh ada lagi.

    Perbuatan rohani, yaitu


    1. Roma 12: 21
      12: 21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

      Perbuatan rohani yang pertama: tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kebaikan.

      Kalau manusia daging tidak bisa, kejahatan dibalas kejahatan--mata ganti mata, gigi ganti gigi.
      Kalau manusia rohani, bisa membalas kejahatan dengan kebaikan. Diperlakukan tidak baik, tetapi dibalas dengan kebaikan.


    2. Wahyu 19: 8
      19: 8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

      (terjemahan lama)
      19:8. Maka dikaruniakanlah kepadanya supaya ia boleh menghiasi dirinya dengan kain kasa halus yang bercahaya dan bersih; karena kain kasa halus itulah ibarat
      segala kebajikan orang-orang suci itu."

      Perbuatan rohani yang kedua: perbuatan-perbuatan kebajikan; perbuatan memberi -lebih bahagia memberi dari pada menerima.

      Kita memberi terutama kepada sesama annggota tubuh yang membutuhkan. Ini yang menghasilkan pakaian lenan yang berkilau-kilauan.

Inilah yang diperlihatkan TUHAN di atas gunung, yaitu wajah-Nya bercahaya dan pakaian-Nya putih berkilau-kilauan. Ini juga yang harus kita miliki.
Kalau faktor pendorong penyembahan bukan perkara daging--emosi, ambisi dan keinginan tertentu--, tetapi murni dari firman yang benar, kesucian dalam pengharapan, dan kita selalu memberi hidup ktia, maka akan menghasilkan pembaharuan. Dari wajah yang gelap--cermin dari hati yang gelap--akan menjadi wajah yang berseri--terang--sampai pakaian yang berkilau-kilauan.

Tujuh dosa dibaharui menjadi perbuatan kebenaran, keadilan, dan kebaikan, sampai pada kejujuran. Kalau terus menyembah TUHAN, akan sampai pada pembaharuan terakhir di mana perbuatan dosa dan daging sudah tidak ada lagi, sudah dimatikan dan tinggal perbuatan rohani--perbuatan-perbuatan kebajikan--, dan hasilnya: ktia mendapat terang kemuliaan TUHAN/shekina glory.

Matius 17: 5
17:5. Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."

Awan kemuliaan TUHAN= sinar kemuliaan TUHAN= shekina glory. Di mana ada perbuatan benar/kebajikan--tidak ada perbuatan daging dan dosa lagi--, di situ awan kemuliaan TUHAN turun atas kita.

Kegunaan terang kemuliaan yang diturunkan TUHAN atas kehidupan yang sudah mematikan perbuatan daging dan menghidupkan perbuatan kebajikan:

  1. Untuk menaungi kita; melindungi kita di manapun kita berada, sehingga kita bisa hidup benar di manapun kita berada--seperti Allah adalah benar.
    1 Yohanes 3: 6-7
    3: 6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.
    3: 7
    Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;

    Ada kesempatan untuk berbuat yang tidak benar, tetapi tidak mau. Kalau terang dicampur dengan gelap, gelapnya akan lari. Seperti itulah awan kemuiaan yang menaungi kehidupan yang selalu hidup dalam penyembahan dengan pendorong yang benar--iman yang benar, kesucian, dan selalu memberi sampai memberi seluruh hidup yang ditandai kekurangan dan kelemahan kepada TUHAN.

    Di manapun kita hidup dan dalam situasi apapun, kita tetap hidup benar, sebab pribadi TUHAN menyinari kita.


  2. 1 Petrus 1: 15-16
    1: 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,
    1: 16
    sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

    Kita harus kudus seperti Dia kudus. Ada kesempatan untuk putus asa, tetapi kita tidak putus asa sekalipun belum tercapai apa yang kita rindukan dan doakan. Kalau kita sudah diberkati TUHAN, kita juga tidak bangga. Itulah kesucian--awan kemuliaan.

    Kegunaan sinar kemuliaan yang kedua: awan kemuliaan membuat kita hidup di dalam kasih yang sempurna. Kita tidak bersungut-sungut apalagi meninggalkan TUHAN, tetapi tetap bersyukur dan memuliakan TUHAN.

    Kolose 3: 14-15 => bicara tentang penyembahan
    3: 14 Dan di atas semuanya itu:
    kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
    3: 15
    Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

    Ada penderitaan atau masalah, tetapi kita tetap bersyukur pada TUHAN sampai kita merasa bahagia. Itulah yang dirasakan Petrus di atas gunung, sampai dia berkata: Betapa bahagianya kami berada di sini.

    Hidup benar dan suci itu bahagia, kita bagaikan berteemu TUHAN. Kalau tidak hidup benar, itu bertemu dengan setan. Besungut-sungut berarti berada di mulut singa dan tidak bahagia.

Semakin kita tersungkur merendahkan diri sempai kita merasa tidak layak, di situlah naungan TUHAN dalam kita--bagaikan anak ayam yang merindukan sayap induknya. Kita merasa lemah, kecil, tidak berdaya, dan hidup di tengah dunia yang penuh kesukaran. Kita butuh naungan sayap kemurahan TUHAN--kasih dan kemurahan TUHAN--; ktia butuh sinar kemuliaan TUHAN. Ini yang membawa kita benar seperti Dia benar dan suci seperti Dia suci--tidak putus asa dan bangga, tetapi kita selalu beryukur. Sampai kita merasa tanpa naungan TUHAN, kita tidak bisa apa-apa, benar-benar tidak berdaya.

Malam ini, kita mau tersungkur di kaki TUHAN dan serahkan hidup kita. Kita merasa tidak mampu, tidak layak . Kita hanya mau serahkan hidup kita kepada TUHAN.
Biarlah awan kemuliaan TUHAN turun atas kita. Semakin kita merasa lemah dan tidak berdaya, awan kemuliaan semakin disinarkan pada kita.

TUHAN memberkati.