[cetak]
Ibadah Kunjungan Jakarta I, 17 November 2015 (Selasa Sore)

Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahatera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah-tengah kita sekalian.

Tema: Wahyu 21: 5: "Aku menjadikan segala sesuatu baru."/"Aku menciptakan segala sesuatu baru."
21:5. Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."

Mengapa ada penciptaan lagi?
Sebenarnya, di dalam kitab Kejadian, TUHAN sudah menciptakan langit bumi beserta isinya termasuk manusia yang sama mulia dengan TUHAN--satu gambar dengan TUHAN--dan manusia ditempatkan di Taman Eden. Semua baik dan semua bahagia pada waktu diciptakan. Tetapi sayang, manusia diperdaya oleh ular dan berbuat dosa, sehingga telanjang dan malu.
Tadinya telanjang tetapi tidak malu, karena ada pakaian kemuliaan dari TUHAN. Tetapi setelah berbuat dosa, menjadi telanjang dan malu; diusir ke dunia dan hidup dalam suasana kutukan--suasana letih lesu, beban berat, kepahitan, kepedihan dan sebagainya.

Di dalam dunia yang sudah terkutuk, manusia tidak bertobat, tetapi tetap berbuat dosa--bahkan sampai puncaknya dosa, yaitu dosa makan minum dan kawin mengawinkan.
'Dosa makan minum' = merokok, mabuk, narkoba.
'Dosa kawin mengawinkan' = dosa seks dengan berbagai ragamnya, penyimpangan seks--homoseks, lesbian, seks pada diri sendiri--, sampai kawin campur, kawin cerai dan nikah yang hancur.

Akibatnya: hidupnya seperti anjing dan babi; telanjang dan tidak malu lagi; kalau di Taman Eden, telanjang tetapi masih malu--mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
Bahkan hamba TUHAN seringkali ada di mimbar; menyampaikan firman, memimpin pujian, padahal anjing dan babi--kalau dilihat dosa-dosanya. Tetapi tidak sungkan pada TUHAN, sehingga, mau tidak mau, hukuman TUHAN turun.
Sudah terbukti pada zaman Nuh--manusia dihukukum dengan air bah--, pada zaman Lot--hukuman hujan api dan belerang dari langit. Pada akhir zaman juga akan turun hukuman TUHAN, yaitu api dari langit yang akan memusnahkan dunia dengan segala isinya--itulah kiamat--, bahkan sampai api neraka--hukuman TUHAN yang terakhir.

TUHAN tidak rela kalau manusia ciptaaan-Nya binasa selamanya. Oleh sebab itu, ada tema pembaharuan ini; TUHAN mau menciptakan kembali langit dan bumi yang baru--manusia yang baru--dan manusia baru ditempatkan di Yerusalem baru selama-lamanya; tidak bisa keluar lagi selama-lamanya.
Dulu di Firdaus masih bisa keluar, tetapi nanti ditempatkan di Yerusalem baru yang kekal selamanya.

Prosesnya disebut dengan PEMBAHARUAN--TUHAN menciptakan langit dan bumi yang baru, manusia baru.
Dalam Wahyu 21, ada 4 macam pembaharuan (diterangkan mulai dari Ibadah Persekutuan Ciawi I, 19 April 2012-Kamis Sore):

  1. Wahyu 21: 1= pembaharuan langit dan bumi yang baru (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Persekutuan Ciawi I, 19 April 2012-Kamis Sore sampai Ibadah Persekutuan Ciawi IV, 28 Februari 2013-Kamis Pagi).


  2. Wahyu 21: 2-3= pembaharuan manusia baru (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Persekutuan Ciawi V, 28 Februari 2013-Kamis Sore sampai Ibadah Persekutuan Jakarta V, 10 Oktober 2013-Kamis Sore).


  3. Wahyu 21: 4-8= pembaharuan suasana baru (diterangkan mulai dari Ibadah Kunjungan Jakarta I, 14 Oktober 2014-Selasa Sore).
  4. Wahyu 21: 9-27= pembaharuan Yerusalem baru sampai kekal.

AD 3. PEMBAHARUAN SUASANA BARU
Wahyu 21: 4-8
21:4. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
21:5. Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."
21:6. Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.
21:7. Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
21:8. Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Suasana baru dibagi menjadi 4:

  1. Wahyu 21: 4= suasana tanpa maut; tidak ada lagi maut.
  2. Wahyu 21: 5-6= suasana kepuasan/kebahagiaan sorga.
  3. Wahyu 21: 7= suasana kemenangan.
  4. Wahyu 21: 8= suasana kesucian dan kesempurnaan.

Kita mempelajari suasana baru yang pertama.

AD 1. Suasana baru = SUASANA TANPA MAUT.
Wahyu 21: 4.
21:4. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

Tidak ada lagi maut, berarti tidak ada lagi perkabungan, ratap tangis dan dukacita. Inilah yang harus kita alami hari-hari ini. Selama di dunia, kita harus bersuasana tanpa maut kalau ingin masuk sorga.
Kita akan mempelajari tentang maut.

Ada 3 macam maut:

  1. Maut/kematian secara tubuh= meninggal dunia karena sakit, tua dan sebagainya.
  2. Maut/kematian secara rohani= ini yang dahsyat, sebab kalau maut secara tubuh, TUHAN janjikan akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan, tetapi maut rohani adalah terpisah dari TUHAN karena dosa-dosa sampai puncaknya dosa--saat itu rohaninya kering. Dalam Yesaya 59 : 1-2, yang membuat kita terpisah dari TUHAN adalah dosa.

    Kalau jauh dari TUHAN, itu yang membuat kering rohani, bahkan mati rohani. Ditandai dengan letih lesu, beban berat, duri-duri, kepedihan, kepahitan, kejahatan, kenajisan, dan lain-lain. Tidak ada hubungan lagi dengan TUHAN.
    Berdoa kering, ibadah juga kering, lama-lama tidak mau lagi. Hamba TUHAN juga, melayani tetapi kering, lama-lama tidak mau melayani--dari hari ke hari makin mundur dengan seribu satu alasan. Banyak jemaat ditipu, padahal dia kering.

    Kalau rohani hidup, pasti makin aktif dari hari ke hari.
    Kalau rohani hidup, maka pasti senang beribadah melayani TUHAN.


  3. Maut/kematian kedua= maut secara rohani membawa pada maut kedua, yaitu lautan api dan belerang/neraka.
    Wahyu 20: 14-15
    20:14. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.
    20:15. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu
    .

Kalau mati secara tubuh, tetapi jika selama hidup di dunia, hidup rohaninya aktif--hidup suci, hidup benar dan aktif melayani--, maka ia akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan.
Tetapi biarpun ia hidup sampai TUHAN datang, tetapi jika rohaninya mati, maka kematian rohani akan membawa pada kematian kedua--neraka selamanya. Waktu TUHAN datang kedua kali, ia belum dibangkitkan, tetapi setelah Kerajaan 1000 Tahun, ia akan dibangkitkan untuk dibinasakan dalam neraka.
Jangan sampai mati rohani! Terpisah dari TUHAN karena kepahitan, kenajisan, kejahatan. Kalau terpisah, akhirnya kering.
Kalau sudah kering, tidak akan bisa aktif lagi dalam pekerjaan TUHAN. Tumbuhan yang sudah kering cabangnya, tidak aktif lagi, tidak bisa lagi bertunas dan berbuah.

Yeremia 9: 21-22
9:21. "Maut telah menyusup ke jendela-jendela kita, masuk ke dalam istana-istana kita; ia melenyapkan kanak-kanak dari jalan, pemuda-pemuda dari lapangan;
9:22. mayat-mayat manusia berhantaran seperti pupuk di ladang, seperti berkas gandum di belakang orang-orang yang menuai tanpa ada yang mengumpulkan."

Maut bergentayangan hari-hari ini; di semua tempat--mulai dari istana, sampai bawah kolong jembatan--; baik darat, laut dan udara.
Maut juga ada di semua keadaan status sosial; kaya, miskin, pandai, bodoh.
Maut juga berada di semua umur; masa kandungan, bayi, anak-anak, kaum muda remaja, sampai orang tua.
Kita harus hati-hati! Baik maut secara tubuh, maut secara rohani, sampai maut kedua--neraka--bergentayangan hari-hari ini.

Raja Daud mengakui bahwa jarak kita dengan maut hanya satu langkah.

1 Samuel 20: 3
20:3. Tetapi Daud menjawab, katanya: "Ayahmu tahu benar, bahwa engkau suka kepadaku. Sebab itu pikirnya: Tidak boleh Yonatan mengetahui hal ini, nanti ia bersusah hati. Namun, demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu, hanya satu langkah jaraknya antara aku dan maut."

Sehebat apapun manusia di bumi, ia hanya satu langkah jaraknya dengan maut--satu denyut jantung jaraknya--; ini merupakan pengakuan dari seorang raja.

Bagaimana maut bekerja?
Salah satunya di dalam Lukas 21: 25-26
21:25. "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.
21:26.
Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.

Pada akhir zaman, maut bekerja lewat ketakutan, kebimbangan, dan kekuatiran. Ini semua menjadi pembunuh utama secara tubuh bagi manusia.

"Saya tanya pada dokter, kalau takut/cemas, maka hormonnya bekerja tidak normal. Kalau hormonnya ada hubungan dengan jantung, tekanan darah dan sebagainya, maka langsung menjadi stroke, dan lain-lain."

Maut bukan hanya menjadi pembunuh utama secara tubuh--meninggal dunia--, tetapi juga maut secara rohani sampai ke neraka.

"Saya tunjukkan ayat-ayatnya karena ini sungguh-sungguh firman TUHAN. Kita membaca dari alkitab, ada ayat-ayat yang tidak bisa dibantah; bukan dari statement manusia."

Wahyu 21: 8
21:8. Tetapi orang-orang penakut(1), orang-orang yang tidak percaya(2), orang-orang keji(3), orang-orang pembunuh(4), orang-orang sundal(5), tukang-tukang sihir(6), penyembah-penyembah berhala(7) dan semua pendusta(8), mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Nomor satu adalah penakut yang membawa pada kematian kedua. Ketakutan bukan hanya membunuh manusia secara tubuh, tetapi sampai pada kematian kedua--neraka selama-lamanya.
Kebimbangan biasanya mengatakan: 'nanti kalau....', dipikir terus. Di sekolah, mau tidak menyontek; atau di pekerjaan tidak mau korupsi, selalu mengatakan: 'nanti kalau...'

Petrus, hamba TUHAN hebat dan senior, bisa berjalan di atas air bergelombang--mengalami mujizat--; tetapi begitu bimbang, langsung tenggelam. Hanya karena kena angin sepoi-sepoi--gosip-gosip--, ia tenggelam.
Luar biasa! Mujizat apapun ia ikuti, tetapi begitu terkena angin sedikit, langsung bimbang dan tenggelam. Ini kenyataan bahwa ketakutan, kekuatiran dan kebimbangan merupakan pembunuh utama secara tubuh, sampai ke neraka--lautan api belerang.

Mengapa takut dan bimbang?:
Takut dan bimbang terjadi karena tidak ada kasih. Hanya di bibir mengatakan, 'Aku mengasihi TUHAN', tetapi sebenarnya takut, kuatir dan bimbang.
Petrus tidak mengasihi TUHAN dan akhirnya menyangkal TUHAN.
Setelah diperiksa 3 kali: 'Simon, adakah engkau mengasihi Aku?', barulah diketahui kalau Petrus tidak ada kasih.

1 Yohanes 4: 18
4:18. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Petrus kelihatannya hebat, ketika Yesus mengatakan akan pergi ke Yerusalem untuk menanggung penderitaan dan disalibkan, Petrus melarang Yesus. Tampaknya mengasihi TUHAN, tetapi sebenarnya ia mengasihi diri sendiri. Kalau ia mengasihi TUHAN, ia tidak akan menyangkal Yesus.
Tanpa kasih Allah, ia ketakutan, bimbang dan menyangkal TUHAN, sampai tenggelam.

Seringkali, hamba TUHAN dan pelayan TUHAN takut pada sesuatu sampai tidak percaya kuasa TUHAN; tidak percaya pada pribadi TUHAN.
Contoh: sakit, lalu ke dukun; takut pada sesuatu sampai melawan TUHAN dan firman pengajaran benar, bahkan menghujat firman pengajaran benar.

Ini ketakutan, kekuatiran dan kebimbangan. Kalau diperhadapkan pilih TUHAN atau sesuatu, akan kelihatan. Ia akan pilih sesuatu sekalipun tidak sesuai dengan firman TUHAN, karena ia takut.

"Mungkin ada jemaat yang meminta kawin cerai diberkati di gereja. Karena hamba TUHANnya takut, 'nanti kalau tidak mau, jemaat akan keluar'. Apalagi kalau jemaatnya satu keluarga terdiri dari 10-20 orang. Daripada jemaat keluar, akhirnya mau memberkati juga."

Inilah ketakutan yang membawa pada maut.
Kita sungguh-sungguh hari-hari ini! Sesuatu itu bisa uang, manusia, kesembuhan dan sebagainya. Ia tahu kalau itu salah dan melawan alkitab, tetapi ia takut.
Seringkali hamba TUHAN lebih memilih sesuatu daripada TUHAN.

Kita semua sungguh-sungguh dalam TUHAN! Kalau memilih sesuatu dari pada TUHAN, berarti sudah mati rohani dan masuk dalam neraka selama-lamanya.

Oleh sebab itu, TUHAN mau adakan pembaharuan suasana baru.

1 Yohanes 4: 17
4:17. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

Pembaharuan suasana baru sama dengan suasana tanpa maut; suasana kasih Allah, sehingga tidak ada ketakutan, tetapi kita memiliki keberanian percaya kepada TUHAN.
Biarlah malam ini ketakutan, kekuatiran dan kebimbangan dibaharui menjadi suasana tanpa maut = suasana kasih Allah = kita memiliki keberanian percaya kepada TUHAN.
Jadi, suasana tanpa maut = suasana keberanian percaya.
Kalau diperhadapkan pada TUHAN atau sesuatu, pasti memilih TUHAN, karena ia mengasihi TUHAN. Tetapi kalau takut, kuatir dan bimbang, 'nanti kalau...'; pasti tenggelam.

Kalau mendua terus, pasti tenggelam; pelayanan pasti tenggelam, tidak mungkin naik; semua merosot baik secara jasmani dan rohani. Harus memiliki keberanian percaya. Pilih Yesus--pengajaran benar--dari pada yang lain!

Dalam 1 Yohanes ada 3 macam keberanian percaya:

  1. 1 Yohanes 3: 21-22
    3:21. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,
    3:22. dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.


    Keberanian percaya yang pertama: keberanian percaya untuk mendekati TUHAN.
    Malam ini, biar kita berpindah dari suasana maut--ketakutan, kekuatiran, kebimbangan--pada keberanian percaya.
    Syaratnya: hati nurani yang baik--tidak menuduh, tenang--, artinya semua beres, tidak ada jahat, najis, pahit, benci, kuatir, takut di dalam hati.

    Kalau hati nurani tidak beres, selalu menuduh, itu suasana maut dan tidak bisa berhubungan dengan TUHAN. Hubungan kita dengan TUHAN adalah hubungan dari hati ke hati.

    Supaya hati nurani tenang, maka kita harus berdamai; saling mengaku dan mengampuni.
    Berdamai dengan TUHAN yaitu kita mengaku pada TUHAN semua dosa kita. Kalau diampuni, jangan berbuat dosa lagi.
    Tetapi juga berdamai dengan sesama; seperti kayu salib. Yesus mati di kayu salib ada vertikal dan horisontal. Mulai dari suami isteri saling berdamai, sehingga menjadi satu hati/sepakat, maka doanya dijawab oleh TUHAN.

    Kalau suami yang bersalah, maka harus mengaku kepada isteri dengan sejujur-jujurnya. Jika diampuni jangan berbuat dosa lagi. Kalau isteri yang benar, maka harus mengampuni dosa suami, dan melupakannya--tidak mengungkit-ungkit lagi.
    Maka, darah Yesus menyelesaikan dosa-dosa kita, sehingga hati nurani beres = damai sejahtera; dan kita memiliki keberanian percaya untuk mendekati TUHAN. Bukan ngawur. Tujuh anak Skewa ketika mengusir setan, menyebut nama Yesus dengan sembarangan, akhirnya justru mereka yang digagahi oleh setan. Sebab mau mendekati TUHAN dengan hati yang tidak bersih.

    Keberanian percaya untuk mendekati TUHAN yaitu hati harus beres, tenang; tidak ada iri, dendam, kebencian, jahat, najis, takut dan sebagainya.
    Sehingga kita bisa beribadah melayani TUHAN; puncaknya, bisa berdoa menyembah TUHAN. Orang yang tidak setia dalam ibadah pelayanan, berarti hati nuraninya tidak beres.

    "Seringkali kami para gembala, selalu menyuruh jemaat untuk setia beribadah, tetapi kita sendiri tidak setia. Itu hati nuraninya tidak benar."

    Kalau hati nurani benar, ia akan selalu rindu mendekati TUHAN sampai puncaknya berdoa menyembah TUHAN.

    Bereskan semua yang tidak beres dan hidup itu akan indah sekali.

    "Kalau jemaat yang masih bekerja, kuliah; tetapi berusaha masuk ibadah, bagaimana dengan hamba TUHAN? Kita yang seharusnya sudah 100% untuk TUHAN."

    Kalau hati damai, pasti setia dalam ibadah dan bisa berdoa kepada TUHAN.

    1 Yohanes 3: 22
    3:22. dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.

    Ibrani 4: 16
    4:16. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

    Kalau hati nurani beres, kita ada keberanian percaya untuk berdoa = ada keberanian percaya menghampiri takhta kasih karunia TUHAN, supaya kita mendapatkan pertolongan TUHAN pada waktunya; tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat.
    Seperti Petrus tenggelam, sebelum ia tenggelam, ia tidak ditolong. Tetapi begitu tenggelam, langsung ditolong, harus cepat, kalau tidak, habis.

    Sikap kita adalah jangan takut dan bimbang! Kalau takut dan bimbang akan tenggelam.
    Kita tinggal menunggu waktu TUHAN. Pertolongan TUHAN tepat pada waktunya. Yang bekerja adalah TUHAN. Kita sabar menunggu waktu TUHAN!

    Abraham menunggu janji TUHAN selama 25 tahun untuk mendapat keturunan. Tambah tahun, tetapi belum nampak. Isterinya sudah mandul dan menopause. Ini adalah ujian kesabaran. Tetapi ia tidak bimbang, sekalipun tubuhnya lemah tetapi imannya tidak lemah.

    Mungkin mata melihat sesuatu yang semakin memburuk, dalam pekerjaan dan sebagainya.
    Kalau hati sudah tenang, sudah beribadah melayani TUHAN, maka kita tinggal sabar menunggu waktu TUHAN! Jangan takut dan jangan bimbang! Dalam pelayanan juga begitu. Yang penting, periksa hati! Hati harus damai. TUHAN yang bekerja dan kita tinggal menunggu waktu TUHAN. Ia akan menyelesaikan semua tepat pada waktunya. Semua menjadi enak dan ringan.


  2. 1 Yohanes 4: 17-18
    4:17. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
    4:18. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.


    Keberanian percaya yang kedua: keberanian percaya untuk menghadapi takhta penghakiman TUHAN.
    Takhta penghakiman TUHAN = takhta putih.

    Wahyu 20: 11-12, 14-15
    20:11. Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.
    20:12. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
    20:14. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.
    20:15. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.


    Nanti, kita semua akan menghadapi takhta putih/takhta penghakiman TUHAN.
    Ada 3 macam kitab di atas takhta putih:


    • Alkitab= firman pengajaran benar untuk menghakimi semua perbuatan dosa, termasuk angan-angan dan perkataan dosa yang belum diselesaikan. Tetapi juga menghakimi apa yang tidak kita perbuat, sekalipun sudah digerakkan oleh TUHAN/didorong oleh firman.


    • Kitab-kitab= kitab pribadi yang mencatat semua perbuatan kita.
    • Kitab kehidupan= nama tertulis dalam kitab kehidupan--semua memenuhi syarat--, berarti selamat, tidak binasa. Hidup kekal dalam kerajaan sorga.


    Syarat untuk bisa berani menghadapi takhta pengadilan Yesus: harus memiliki kasih yang sempurna; dalam alkitab digambarkan sebagai 2 loh batu yang berisikan 10 hukum Allah.
    Loh batu pertama: 4 hukum untuk mengasihi TUHAN. Loh batu kedua: 6 hukum untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri.

    Praktik memiliki kasih sempurna:


    • Praktik yang pertama: bisa mengasihi sesama seperti diri sendiri.
      Artinya:


      1. Yang pertama: tidak mau merugikan sesama lewat perkataan, perbuatan, angan-angan, atau prasangka buruk. Kalau kita ingini orang lain perbuat kepada kita, maka kita berbuat hal itu lebih dulu. Termasuk perkataan dan pikiran.
        Perkataan-perkataan kita jangan merugikan sesama! Jangan ada angan-angan atau prasangka buruk kepada sesama!


      2. Matius 25: 34-40
        25:34. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
        25:35. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
        25:36. ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
        25:37. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: TUHAN, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
        25:38. Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
        25:39. Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
        25:40. Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

        Yang kedua: bisa memberi dan mengunjungi sesama yang membutuhkan. Mulai dari keluarga kita.
        Baik secara jasmani maupun secara rohani. Secara rohani, kita bersaksi.

        Kesaksian:
        "Saya pernah tidur di emperan sekolah. Tidak masalah, karena saya punya iman; yang penting membangun iman lebih dulu, baru bisa membangun iman jemaat. Bukan karena gembala saya pelit. Setelah beberapa waktu, baru dia tanya. Belum saya jawab, dia jawab sendiri: 'Dari iman ya?': 'Iya, om'. Langsung dikasih uang, persis cukup semuanya."

        Yang mengunjungi, imannya harus kuat lebih dulu, baru bisa terjadi kebangunan rohani. Kalau mencari biayanya lebih dulu, berarti membawa roh jual beli ke dalam gereja.

        Kalau tidak mau memberi dan mengunjungi, berarti sama dengan kambing, sehingga dihakimi.


      3. Matius 5: 43-44
        5:43. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
        5:44. Tetapi Aku berkata kepadamu:
        Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

        Yang ketiga: bisa mengasihi musuh; orang yang merugikan kita lewat perkataan, perbuatan dan sebagainya. Kita berdoa bagi dia, supaya ia ditolong oleh TUHAN.


      Seringkali, untuk mengasihi orang lain, kita masih bimbang. Sikap kita untuk bisa mengasihi sesama sampai mengasihi musuh adalah jangan takut dan jangan kecewa; harus sudah siap. Guru saya mengatakan: 'kalau kita mau menolong, harus siap digantung seperti Yesus'. Belum tentu setelah menolong orang lain, kita mendapat ucapan terima kasih; tetapi yang ada sebentar lagi kita malah difitnah.

      Matius 25: 34
      25:34. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

      Hasilnya: diberkati oleh Bapa dan masuk kerajaan sorga yang kekal--bebas dari maut.


    • Praktik yang kedua: mengasihi TUHAN lebih dari semua, yaitu taat dengar-dengaran pada firman TUHAN.

      Yohanes 14: 15
      14:15. "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

      Taat dengar-dengaran sampai daging tidak bersuara lagi. Ini suatu pengorbanan dan penderitaan; seperti Yesus taat sampai mati di kayu salib. Ia tidak salah, tetapi harus disalib, itu suatu pengorbanan dan penderitaan. Jangankan disalib, dicambuk pun Dia tidak layak, sebab Dia tidak salah.
      Kita taat sampai daging tidak bersuara.
      Contoh: Abraham taat saat disuruh menyembelih anaknya.

      Kalau TUHAN memberikan perintah kepada kita, jangan didiskusikan, tetapi hanya untuk kita perbuat! Kalau didiskusikan, jangankan berbuat, mengertipun tidak. Kalau tertulis di alkitab, harus kita lakukan. Kalau didisikusikan, seringkali sampai imannya habis.

      Sikap kita adalah jangan takut dan jangan kecewa juga. Kadang-kadang kita praktik ujian ketaatan, sudah jujur, tetapi malah dipecat. Jangan takut, dibalik itu, lebih mulia lagi. Yang penting, kita taat pada TUHAN--mengulurkan tangan pada TUHAN--dan Ia yang ulurkan tangan kepada kita. Ini keyakinan kita kepada TUHAN!

      1 Petrus 5: 5-6
      5:5. Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
      5:6. Karena itu
      rendahkanlah dirimu di bawah tangan TUHAN yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.

      Hasilnya: kita ditinggikan pada waktunya.
      Tadi, kalau hati damai, kita ditolong pada waktunya--semua selesai dan enak pada waktunya, tinggal sabar menunggu waktu TUHAN. Yang bekerja adalah TUHAN.
      Tadi, tinggal jaga hati supaya tetap tenang, damai dan bisa berdoa. Sekarang, jaga hati taat. Kita akan ditinggikan pada waktunya dan berhasil pada waktunya. Kita dipulihkan pada waktunya.

      Mungkin yang masih merosot di bawah, malam ini ada keberanian percaya untuk mendekati TUHAN, semua enak dan ringan. Kemudian untuk menghadapi takhta pengadilan TUHAN, kita taat. Karena Yesus taat sampai mati di kayu salib, maka Dia ditinggikan. Kalau kita taat, maka kita akan ditinggikan bahkan diangkat sampai ke takhta sorga, bukan takhta pengadilan lagi. Kita akan berhasil mulai di dunia, semua dipulihkan sampai ke takhta sorga; dan nama kita tertulis dalam kitab kehidupan.

      Yesus taat sampai mati di kayu salib sehingga Ia ditinggikan dan Ia mendapatkan nama di atas segala nama. Kalau kita taat, maka nama Yesus akan dilekatkan pada nama kita, sehingga nama baru kita ditulis dalam kitab kehidupan.


  3. 1 Yohanes 2: 28
    2:28. Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.

    Keberanian percaya yang ketiga: keberanian percaya untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai.
    Banyak yang takut--bahkan raja-raja juga takut, karena hidupnya 'nanti kalau...'. Hamba TUHAN yang 'nanti kalau...', akan takut saat TUHAN datang, sehingga tertinggal. Mari, sungguh-sungguh malam ini.

    Syaratnya: jangan takut dan malu! Ini berarti kembali pada ciptaan semula. Waktu ciptaan semula, manusia diciptakan sama mulia dengan TUHAN, manusia telanjang, tetapi tidak malu.

    Kejadian 2: 25
    2:25. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

    'tidak merasa malu' = karena ada pakaian kemuliaan.
    Jadi, kalau kita mau menyambut kedatangan Yesus kedua kali, maka kita tidak boleh takut dan malu, artinya kembali pada ciptaan semula.
    Penciptaan = pembaharuan.
    Kita harus mengalami pembaharuan demi pembaharuan sampai sempurna sama mulia seperti TUHAN.

    Bilangan 12: 1,10,12
    12:1. Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.
    12:10. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam
    kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!
    12:12. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai
    anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."
    12:13. Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."
    12:14. Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali."

    'anak gugur' = orang yang tidak mengalami lahir baru, keadaannya busuk bahkan bertambah busuk.

    Apa yang harus dibaharui? Yang dibaharui adalah penyakit kusta secara rohani.
    Kusta= putih tetapi kusta = kebenaran sendiri.

    Ini yang harus diubahkan. Kebenaran sendiri ini yang membuat telanjang, takut dan malu.
    Kebenaran sendiri artinya:


    • menutupi dosa dengan cara menyalahkan orang lain;
    • menutupi dosa dengan cara menyalahkan TUHAN/pengajaran benar;
    • kebenaran yang tidak sesuai dengan firman Allah.
      Biar 1000 orang mengatakan: benar, tetapi kalau tidak sesuai firman, jangan!


    Kalau ada kebenaran sendiri, pasti ada kepentingan sendiri dan kehendak sendiri.
    Musa sebagai pemimpin yang dihantam, karena ia (Miryam) ingin jadi pimpinan--kepentingan sendiri.
    Seperti Yesus di Taman Getsemani; secara kebenaran, Ia benar saat meminta Bapa melalukan cawan dari pada-Nya, karena Ia tidak salah, tetapi menolong orang, menyembuhkan dan membangkitkan orang mati, dan tidak boleh disalib. Kalau kita bertanya kepada orang--siapapun--, jawabnya adalah Yesus benar dan tidak boleh disalib. Tetapi, Ia tidak mau benar sendiri. Kebenaran Bapa yang Ia ambil, yaitu Ia harus disalib. Yesus tidak egois.

    Hati-hati! Kalau mempertahankan kebenaran sendiri, kepentingan sendiri, dan kehendak sendiri, maka nasibnya seperti Miryam, yaitu wajahnya diludahi; artinya takut dan malu. Orang yang menggunakan kebenaran diri sendiri pasti akan dipermalukan, tidak mungkin dipermuliakan dan tidak bisa menyambut kedatangan Yesus kedua kali.

    Malam ini, biar kita semua diubahkan menjadi kebenaran dari TUHAN, yaitu kalau salah mengaku salah; kalau benar mengaku benar. Jangan berkata: 'benar, tetapi....', 'salah, namun...'; kalau benar, harus kita pertahankan.
    Jangan ada kepentingan sendiri, tetapi kepentingan tubuh Kristus. Kehendak sendiri juga jangan ada lagi, tetapi taat dengar-dengaran sekalipun sakit bagi daging. Seperti janda Sarfat yang taat saat disuruh membuat roti terlebih dahulu untuk TUHAN.

    Kalau menggunakan kebenaran dan kehendak TUHAN--taat dengar-dengaran--, maka kita menjadi satu tubuh dan satu kepala, sehingga wajah kita akan berseri, semua indah dan bahagia pada waktunya. Tinggal tunggu waktu TUHAN.
    Yang penting, sekarang kita punya keberanian percaya pada TUHAN. Tidak ada lagi ketakutan, kekuatiran dan kebimbangan, sehingga kita merasa damai. Kita bisa berdoa. Kemudian kita bisa mengasihi TUHAN dan kita benar-benar dtinggikan pada waktunya. Yang ketiga, kita diubahkan menjadi wajah berseri, semua indah dan bahagia pada waktunya.

    Pengkhotbah 3: 11
    3:11. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

    1 Yohanes 2: 28
    2:28. Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.

    Kalau TUHAN datang, kita diubahkan jadi sama mulia dengan Dia. Kita tidak usah malu dan takut lagi, tetapi bersorak sorai saat Ia datang kembali. Wajah bersinar bagai matahari, kita tidak takut dan malu tetapi menghadapi dengan sorak-sorai 'haleluya' dari 4 penjuru bumi; untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali. Kita bersama Dia selama-lamanya.

Inilah suasana baru, tanpa maut. Jangan ada ketakutan dan kebimbangan. Semua selesai, semua enak dan ringan pada waktunya. Semua menjadi behasil dan ditinggikan pada waktunya. Kalau diubahkan, semua indah dan bahagia--wajah berseri, bahkan bersinar bagaikan matahari--sampai saat TUHAN datang kembali kita bersorak sorai.
Serahkan semuanya kepada TUHAN. Kita hanya menunggu waktu TUHAN. Percaya, bahwa semua indah pada waktunya.

TUHAN memberkati.