[cetak]
Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 28 Juli 2014 (Senin Sore)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari Tuhan senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Kita bersyukur pada Tuhan bahwa di tengah-tengah hiruk pikuk di dunia ini, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk beribadah melayani Tuhan.

Kita masih belajar Wahyu 2-3.
Dalam susunan Tabernakel, ini menunjuk pada tujuh percikkan darah di depan Tabut Perjanjian.
Ini sama dengan tujuh surat yang ditujukan pada tujuh sidang jemaat bangsa kafir dalam Wahyu 1: 11.
1:11. katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."

Artinya sekarang, penyucian terakhir yang dilakukan oleh Yesus kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir supaya sidang jemaat bangsa kafir menjadi sempurna, tidak bercacat cela seperti
Yesus.

kita membahas satu persatu, dimulai dari penyucian terhadap sidang jemaat di EFESUS (mulai diterangkan dari Ibadah Raya Surabaya, 27 Juli 2014).

Wahyu 2: 1-4
2:1. "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
2:4. Namun demikian Aku mencela engkau, karena
engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

ay. 1= ada 2 penampilan Yesus terhadap sidang jemaat di Efesus:

  1. 'Yesus berjalan di antara ketujuh kaki dian emas'= Yesus mau berjalan di tengah-tengah tujuh sidang jemaat bangsa kafir yang seharusnya tidak layak.
    Artinya: Yesus sangat memperhatikan dan memperdulikan keadaan sidang jemaat bangsa kafir di akhir jaman yang tidak layak.
    Jangan pernah mengatakan bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita.
    Bangsa kafir ini hanya anjing dan babi yang tidak layak, tetapi begitu diperhatikan oleh Tuhan.


  2. 'Yesus memegang ketujuh bintang di tangan kananNya'.
    Artinya: Tuhan Yesus merindukan sidang jemaat bangsa kafir tidak jatuh oleh apapun juga tetapi menjadi milik Yesus yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Inilah keadaan sidang jemaat bangsa kafir, sebab itu Yesus mau menyucikan sidang jemaat bangsa kafir dengan tujuh kali percikan darah.
Memang sengsara bagi daging, tetapi itu merupakan perhatian dari Tuhan untuk menyucikan kita.
Jangan salah. Kalau kita diijinkan sengsara daging karena Yesus, itu merupakan perhatian dan kerinduan Tuhan supaya kita tidak jatuh, tetapi sungguh-sungguh menjadi milik Tuhan selamanya.

Tidak ada jalan lain. Seandainya ada jalan lain, Tuhan tidak menggunakan tujuh kali percikan darah. Seandainya Yesus ada jalan lain untuk dipermuliakan dan naik ke Surga tanpa salib, maka kita juga bisa tanpa salib. Tetapi karena tidak bisa dan memang itu jalan terakhir (jalan satu-satunya), di mana Yesus harus mati dulu di kayu salib (tuju kali percikan darah), baru bangkit dalam tubuh kemuliaan dan bisa naik ke Surga. Ia menjadi Mempelai Pria yang bisa masuk kerajaan Surga.
Sebab itu, Tuhan mau menyucikan kita bangsa kafir dengan tujuh kali percikan darah (sengsara daging bersama Yesus). Ini merupakan kerinduan dan perhatian Tuhan yang sungguh-sungguh untuk menjadikan kita milikNya selama-lamanya.

ay. 2-3= 'Aku tahu segala pekerjaanmu'= Yesus memperhatikan, mengakui, menghargai dan mengingat dengan sungguh-sungguh apa yang sudah dikerjakan oleh sidang jemaat bangsa kafir dalam pekerjaan Tuhan, bahkan Tuhan membalaskan upahnya. Yesus tidak pernah mengecilkan segala pekerjaan Tuhan yang dilakukan oleh bangsa kafir.
Jangan ragu dan menunda-nunda waktu untuk melakukan pekerjaan di ladang Tuhan, apapun bentuknya.

Wahyu 22: 12
22:12. "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.

'Aku membawa upah-Ku'= Tuhan membawa upah kepada setiap kehidupan yang bekerja di ladang Tuhan, baik upah untuk hidup sekarang di dunia ini sampai upah hidup kekal selama-lamanya.
Tuhan tidak pernah menipu dan merugikan kita!

Tetapi, kalau ada pekerjaan yang tidak berkenan pada Tuhan (bukan kecil besarnya pelayanan), Dia tidak segan-segan mencela. Tujuannya adalah untuk menyucikan dan memperbaiki kita.
Memang sakit bagi daging, karena sudah kerja tapi dicela, padahal itulah penyucian.
Seringkali kita tidak mengerti bahwa itu merupakan penyucian dari dosa-dosa yang tersembunyi dan pembentukan karakter kita.
Mungkin orangnya terlihat baik, tetapi di dalamnya ada getah.
Dalam pengajaran Tabernakel ada istilah getah. Kalau disentuh sedikit, baru keluar. Selama tidak ada yang menyentuh, dia terlihat baik sekali. Tetapi begitu disentuh, keluar semua. Itu sebabnya Tuhan menggunakan percikan darah supaya segala sesuatu yang tidak disadari dan tersimpan bisa keluar.

Kesaksian:
"saya bersaksi pada Lempin-El, saya dulu koordinator sekolah minggu di gereja jalan Johor. Kemudian banyak sekali mempersiapkan natal sekolah Minggu. Saya diberitahu koordinator yang sebelumnya 'pak Wi, ditaruh di ruang telepon di Lemah Putro'. Jadi, dibersihkan dulu, disemprot dan lain-lain. Sesudah itu, saya tidur di situ semalaman. Sudah bagus dan berjalan lancar semuanya. Mendadak, dua hari kemudian saya dipanggil oleh om Pong di depan tua-tua. Om Pong bertanya 'kenapa kotak-kotak kue itu tidak ditaruh di lantai tiga?'. Itu sulit, karena memang dipesan bahwa tidak ada pengerja pada saat Natal. Jadi sulit untuk mengangkat kotak yang besar itu, bahkan lebih besar dari badan saya. Jadi saya jawab 'sulit, om'. Dan om Pong menjawab 'yang sulit itu hamba Tuhan'. Saya langsung mau pulang sore itu. Ini bukti bahwa saya tidak tahan percikan. Kalau saya pulang waktu itu, mungkin saya tidak di sini lagi, tidak tahu dimana. Tetapi untunglah saya bertahan. Setelah saya berdoa, saya yakin ini percikan darah karena saya tidak salah dan saya lanjutkan pekerjaan Tuhan sampai hari ini.

Ini juga sekaligus pelajaran bagi saya. Sebagai hamba Tuhan, masukan-masukan ini harus hati-hati. Seringkali masukan-masukan yang kurang tepat bagi kita. Tetapi saya yakin waktu itu om Pong dipakai untuk menyucikan karakter saya sekalipun sakit bagi daging. Tetapi masukan bagi kita semua kalau ada masukan-masukan. Om pong kan tidak tahu kalau ada masukan-masukan. Yang penting kita hati-hati kalau ada masukan-masukan.
"

Seringkali kita dicela sekalipun kita sudah tekun. Inilah percikan darah atau penyucian terakhir dalam hidup kita.

Wahyu 2: 4
2:4. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

Disini, Tuhan mencela, mengoreksi dan menyucikan bangsa kafir dari kekurangannya yaitu kehilangan/meninggalkan kasih yang mula-mula.

Kasih mula-mula adalah kasih Allah atau kasih agape lewat kurban Kristus/salib Kristus.
Jadi, keadaan sidang jemaat Efesus adalah tanpa kasih agape= TANPA KASIH.
Keadaan sidang jemaat Efesus (bangsa kafir) tanpa kasih sama dengan keadaan Petrus (bangsa Israel) tanpa kasih.
Pelayanan sidang jemaat Efesus tanpa kasih sama dengan pelayanan Petrus tanpa kasih.

Sekalipun di mata manusia terlihat hebat, bahkan Tuhan juga mengakui kehebatannya, tetapi kalau tanpa kasih, semua tidak ada artinya dan dicela oleh Tuhan, bahkan menuju kebinasaan.

Yohanes 21: 15-17
21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?(1)" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16. Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?(2)" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?(3)" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Jadi, baik Israel maupun bangsa kafir dikoreksi oleh Tuhan apakah keadaan kehidupan atau pelayanan kita tanpa kasih.
Disini, ada 3 kali pertanyaan Yesus kepada Petrus:

  1. Tuhan bertanya dengan kasih agape (kasih Tuhan), tetapi dijawab dengan kasih fileo (kasih sesama),
  2. Tuhan bertanya dengan kasih agape dan dijawab dengan kasih fileo,
  3. Tuhan bertanya dengan kasih fileo dan dijawab Petrus dengan sedih hati, sebab kasih agape tidak ada, kasih fileo juga tidak ada (tanpa kasih).

Petrus sedih karena ia sudah menyangkal Yesus tiga kali (termasuk menyangkal Yesus sebagai sahabatnya).
Jadi, pelayanan Petrus selama ini adalah pelayanan tanpa kasih.
Ini yang harus diperiksa. Sekian tahun kita melayani Tuhan, apakah pelayanan kita tanpa kasih mula-mula.
Dalam sistem Tabernakel, ini jelas dalam tiga ruangan, yaitu ada kasih mula-mula, pertumbuhan kasih sampai puncaknya kasih. Kalau tidak ada kasih mula-mula, pasti tidak ada semuanya (tanpa kasih).

Praktik pelayanan tanpa kasih (kita belajar dari Petrus):

  1. Matius 16: 21-23
    16:21. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
    16:22. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
    16:23. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

    'dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga'= bicara tentang salib.
    Praktik pelayanan tanpa kasih yang pertama: menolak salib Kristus= menjadi seteru salib.
    Inilah yang banyak ditangisi oleh rasul Paulus karena banyak kehidupan hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang menjadi seteru salib.

    Filipi 3: 18-19
    3:18. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
    3:19. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka,
    pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

    'kerap kali'= Firman yang sudah seringkali dikotbahkan dan sekarang dengan tangisan.
    Karena itu, firman perlu diulangi. Ini sudah kerap kali diulangi. Kalau masih diulangi, berarti masih ada yang jadi seteru salib dan terus diulangi. Sampai terakhir, rasul Paulus menyampaikan dengan menangis, sebab sudah terlalu banyak diulangi, tapi hasilnya tetap saja.

    'banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus'= ini harus jadi kewaspadaan kita, karena banyak yang menjadi seteru salib.

    Menjadi seteru salib/menolak salib, artinya:


    • tidak mau sengsara daging untuk Tuhan (tidak mau berkorban untuk Tuhan).

      "ada jemaat di luar Jawa yang bertanya 'apa boleh om kalau hamba Tuhan main catur sampai semalaman?'. Coba bayangkan, kalau main catur bisa semalaman, tetapi kalau dengar firman 2-3 jam sudah berkata 'terlalu pendeta ini', padahal sama-sama pendeta. Yang terlalu bukan firmannya, tetapi dagingnya. Buktinya main catur bisa semalaman, tetapi menerima Firman 2 jam sudah mengomel. Yang terlalu itu dagingnya dan itulah kita. Seringkali untuk Tuhan kita susah, tetapi untuk yang lain, kita bisa perjuangkan sekalipun harus menempuh jarak jauh. Inilah orang yang menolak salib."


    • tidak mau bertobat= tetap mempertahankan dosa-dosa bahkan sampai puncaknya dosa (dosa makan minum dan kawin mengawinkan).

      "seringkali ini kesalahan kita bahkan kesalahan kami hamba Tuhan dengan mengatakan 'titiplah om, anak kami, biarlah ia main musik supaya bertobat'. Saya kaget dan saya katakan 'bertobatlah dulu pak, baru main. Jangan main dulu baru bertobat'."

      Ini kesalahan kita yang seringkali enak saja melayani tetapi tidak bertobat. Firman sudah tunjukan dosa, tetapi terus saja malah sengaja berbuat dosa dan berkata 'mau apa? ayo pecat saya'. Tidak ada orang pecat orang, nanti dipecat Tuhan. Yang ada adalah memecat diri sendiri.
      Itu suatu pilihan. Tuhan memberitahu Adam dan Hawa 'semua buah boleh kamu makan, tetapi kalau kamu makan buah ini, kamu mati. Kalau tidak makan, kamu di Firdaus'. Dan mereka makan. Setelah makan, akhirnya Tuhan mengusir mereka. Sebenarnya bukan Tuhan yang mengusir mereka, tetapi mereka sendiri yang memilih.
      Jangan berkata 'oh saya tidak dipecat'. Tidak benar, karena dia sendiri yang memilih dosa.


    • 'pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi'= mengikut Tuhan hanya untuk mendapatkan perkara-perkara jasmani/dunia. Ini bahaya. Kalau kita hanya menggembar-gemborkan perkara jasmani, itu sama dengan menjadikan Yesus sebagai raja dunia seperti setan. Setan juga begitu. Ia mengajak Yesus naik ke atas gunung dan berkata 'kalau Engkau mau menyembah aku, dunia ini milikMu' = Yesus diangkat jadi raja dunia oleh setan. Tetapi Yesus tidak mau. Sekarang, hamba Tuhan dan pelayan Tuhan mau mengangkat Yesus menjadi raja dunia seperti setan, yaitu ikut Yesus hanya untuk dapat berkat jasmani, sehingga tidak menjadikan Yesus sebagai Raja segala raja. Dan saat Yesus datang kembali, ia akan ketinggalan.

      Yohanes 6: 15
      6:15. Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

      = peristiwa setelah makan roti (5 roti untuk 5000 orang) dan mereka mau mengangkat Yesus menjadi raja, sebab mereka tidak mau sengsara daging tetapi hanya mau berkat-berkat jasmani.
      'hendak membawa Dia dengan paksa'= banyak hamba Tuhan/pelayan Tuhan yang memaksa Yesus untuk jadi raja dunia (hanya memaksa yang jasmani dan menggembar-gemborkan yang jasmani).
      Hamba Tuhan dan pelayan Tuhan semacam ini SAMA DENGAN SETAN.

      Kalau Yesus jadi Raja segala raja harus mati dulu, naik ke Surga, baru jadi raja. Dan inilah yang ditolak oleh banyak hamba Tuhan dan pelayan Tuhan. Tetapi kalau jadi raja dunia, semua langsung gampang secara jasmani. Inilah yang dicari, yaitu jasmani terus. Sebab itu kita harus hati-hati.

      Matius 4: 8-10
      4:8. Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
      4:9. dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
      4:10. Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

      Kalau hamba Tuhan sama seperti setan, itulah yang mengelabuhi sidang jemaat dan membawa sidang jemaat pada kebinasaan.
      Yesus mengajak Petrus naik ke atas gunung. Setan juga mengajak naik ke atas gunung.
      Kita tinggal pilih mau yang mana. Kalau mau diajak Tuhan Tuhan, ibadah pelayanan memang sulit, memang sakit bagi daging. Tetapi kalau tidak mau, kita akan diajak oleh setan untuk menuju pada kehancuran dan kebinasaan, tidak ada kemuliaan.
      Lebih baik kita diajak Tuhan dan di sana ada kemuliaan (di atas gunung terjadi keubahan).


  2. Yohanes 18: 10
    18:10. Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.

    Praktik pelayanan tanpa kasih yang kedua: 'menetak telinga Malkhus dengan pedang'= tidak mengasihi sesama, artinya:


    • selalu merugikan sesama.
      Terutama hamba Tuhan. Hamba Tuhan ini sering main pedang, tetapi dengan pedang emosi (pedang pengajaran, tetapi mainnya dengan emosi).
      Firman pengajaran itu lebih tajam dari pedang bermata dua. Kalau main pedang dengan urapan, maka akan ke diri sendiri dulu, baru ke jemaat dan dosa apa saja akan habis.
      Tetapi, kalau hamba Tuhan main pedang dengan emosi (hanya ke jemaat saja), maka sidang jemaat akan kehilangan telinganya (tidak mau mendengar lagi).
      Yang benar adalah main pedang dengan urapan Roh Kudus, sehingga jemaat tertarik mendengar terus.


    • menjadi sandungan bagi sesama, sehingga sesama tidak mau mendengarkan Firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua.

      Sandungan ini dalam bentuk:


      1. perbuatan yang tidak sesuai dengan Firman pengajaran benar.
      2. nikah yang tidak sesuai Firman pengajaran benar.
      3. perkataan yang tidak sesuai dengan Firman pengajaran benar, termasuk gosip-gosip yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

        "Gosip yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya ini ngeri sekali. Kalau orang itu mau tanya kepada kita, masih bersyukur. Tetapi kalau ia tidak mau tanya dan langsung telan, ia justru tidak bisa mendengar pengajaran benar. Sebab itu kita harus bertanggung jawab."

        Matius 16: 23
        16:23. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

        Kalau menjadi sandungan, kehidupan itu SAMA DENGAN IBLIS, sebab setan lah yang suka memasang batu sandungan.


  3. Lukas 22: 54-60
    22:54. Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh.
    22:55. Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka.
    22:56. Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: "Juga orang ini bersama-sama dengan Dia."
    22:57. Tetapi Petrus menyangkal, katanya: "Bukan(1), aku tidak kenal Dia!"
    22:58. Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga seorang dari mereka!" Tetapi Petrus berkata: "Bukan(2), aku tidak!"
    22:59. Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea."
    22:60. Tetapi Petrus berkata: "Bukan(3), aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.

    Praktik pelayanan tanpa kasih yang ketiga: menyangkal Yesus.

    'Petrus mengikut dari jauh'= kalau tanpa kasih, kehidupan itu mulai mengikut dari jauh. Saat-saat ia menghadapi salib, ia mulai jaga jarak.
    Kalau ada kasih, tidak akan mengikut dari jauh, tetap dekat saat diberkati ataupun saat menghadapi salib.

    ay. 55= kalau sudah mengikut dari jauh berarti sudah dingin dan butuh api, tetapi apinya dari dunia= mulai dekat dengan api dunia.

    Disini, Petrus menyangkal Yesus tiga kali.
    Pengertian menyangkal Yesus:


    • dimulai dengan mengikuti Yesus dari jauh sampai berdiang di api orang banyak (api dunia).
      Artinya: tidak setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan, sehingga mulai berdiang di api dunia= mencari kepuasan-kepuasan semu di dunia sampai jatuh dalam dosa dan puncaknya dosa.
      Kepuasan semu di dunia ini merupakan perangkap dari setan. Kalau kita masuk ke dalamnya, kita akan jatuh dalam dosa-dosa sampai puncaknya dosa.


    • menyangkal Yesus dengan perkataan= tidak mau mengaku Yesus= tinggalkan ibadah pelayanan sampai tinggalkan Yesus= tidak mau mengaku dosa, bahkan menyalahkan orang lain.
    • gugur dari iman= murtad.
    • menyangkal Yesus lewat perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
      Titus 1: 15-16
      1:15. Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.
      1:16. Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.

      Perbuatan tidak baik= perbuatan jahat sampai membalas kebaikan dengan kejahatan (SAMA DENGAN SETAN).
      Kalau Yesus, Ia membalas kejahatan dengan kebaikan.


    Kalau sudah mulai tidak setia berkobar-kobar dalam ibadah, sudah menjauh, itu bahaya, harus cepat kembali. Kalau tidak, sudah ada api dunia. Pasti larinya ke situ dan sudah bahaya, lari pada kepuasan semu, jatuh dalam dosa dan puncaknya dosa dan nikah mulai kacau.
    Biarlah kita saling mengingatkan. Di Ibrani 10, nasihat tertinggi hari-hari ini adalah saling menasihati supaya semakin giat dalam ibadah pelayanan, sehingga kita bisa menjadi setia. Kalau tidak, kita akan jatuh di api asing yang membakar hawa nafsu, sehingga nikah bisa goncang. Kalau diteruskan, tidak mau mengaku Yesus, sudah tinggalkan ibadah pelayanan sampai tinggalkan Tuhan, tidak mau mengaku dosa malah salahkan orang lain (bertambah keras) sampai gugur dari iman.

Dari tiga praktik menolak salib ini, semuanya membuat manusia jadi sama dengan setan.
Petrus menyangkal tiga kali, berarti tubuh, jiwa dan rohnya menyangkal Tuhan. Seharusnya, Petrus sudah binasa karena sudah tidak tertolong lagi, tetapi Tuhan tidak mau Petrus binasa.

Matius 10: 32-33
10:32. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
10:33. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

'menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'= kalau sudah menyangkal Tuhan, kehidupan itu tidak bisa masuk kerajaan Surga, diusir dari Surga ('Aku tidak kenal kamu, pergilah!') dan binasa untuk selamanya.

Tetapi, Tuhan tidak rela jika Petrus binasa, itulah bukti bahwa Tuhan masih ingat. Kalau bangsa kafir saja masih diingat oleh Tuhan, apalagi Petrus sebagai bangsa Israel, pasti diingat. Kita semua diingat oleh Tuhan.
Oleh sebab itu, Tuhan mau memberikan kasih agape, sebab kekurangannya adalah tidak ada kasih. Semua hebat, tetapi kurang satu, yaitu tidak ada kasih.
Tuhan memberikan kasih agape lewat kokok ayam (sesuatu yang sangat sederhana).
Artinya: Tuhan memakai segala sesuatu itu apa adanya. Kita tidak perlu pusing. Kalau Lempin-El dipanggil dan tidak lulus SD, berarti Tuhan butuh sebatas itu (apa adanya). Jangan pusing mencari ijazah, lalu berdusta. Tidak perlu seperti itu. Tuhan itu apa adanya.
Kalau di situ ada kokok ayam, Tuhan memakai ayam itu. Waktu Musa mau menyeberang laut Kolsom, Tuhan hanya bertanya apa yang ada di tangan Musa dan itulah yang digunakan oleh Tuhan.
Tuhan memakai kita apa adanya diri kita. Ayampun dipakai, keledai juga dipakai oleh Tuhan untuk berbicara pada Bileam.

Lukas 22: 60-62
22:60. Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.
22:61. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku."
22:62. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Kalau kita perhatikan, kokok ayam selalu sama baik waktunya berkokok atau bunyi kokoknya. Ini gambaran dari Firman penggembalaan, yaitu Firman pengajaran benar yang dipercayakan Tuhan kepada seorang gembala (seperti umat Israel hanya dipimpin oleh seorang gembala) untuk disampaikan kepada sidang jemaat dengan:

  1. setia (seperti ayam yang setia berkokok),
  2. teratur (berurutan dan berkesinambungan), sebab Firman penggembalaan ini merupakan makanan dan untuk pembangunan rumah rohani.

    "Firman penggembalaan harus berurutan. Itu pesan bapak Pendeta In Juwono almarhum kepada bapak Pendeta Pong. Sudah menjadi gembala 21 tahun di Menado, belum di daerah lainnya, tetapi pesannya 'Pong, belajar jadi gembala'. Dan om Pong sadar apa itu, yaitu penyampaian Firman secara berurutan."


  3. diulang-ulang, sebab domba adalah binatang yang memamah biak. Kalau tidak suka Firman yang diulang-ulang, berarti bukan domba, melainkan ular.

    Firman diulang-ulang untuk:


    • menjadi makanan,
    • memperingatkan (firman penggembalaan seperti bunyi sangkakala), menyadarkan, menyucikan dan menyempurnakan sidang jemaat.


    Firman perlu diulang-ulang karena dosa juga diulang-ulang. Kalau Firman tidak diulang-ulang, maka sudah terlambat, sebab dosanya diulang-ulang dan sudah bertumpuk, sehingga dosanya tidak pernah selesai.
    Dosa diulang dan Firman diulang supaya dosa bisa selesai.

Begitu ada kokok ayam, Petrus bisa menangis.
Kokok ayam ini sederhana dan anak kecil juga mengerti.
Artinya: Firman penggembalaan itu sederhana dan bisa di mengerti oleh siapapun, termasuk anak kecil (anak kecil banyak yang mencatat Firman).

Kesaksian:
"anak saya mulai umur 3 tahun sudah mencatat Firman. Waktu umur 5-6 tahun, pendeta-pendeta datang dan tidak percaya. Kalau dulu saya diundang gereja lain, saya bawa anak saya yang masih kecil. Baru baca Alkitab saja, sebelah-sebelahnya lihat dan berbisik-bisik apakah yang kitab yang dibuka benar atau tidak. Mamanya tahu karena ada di sebelahnya. Ternyata yang dibuka, benar. Ada seorang ibu berkata 'anaknya tidak datang pak?' Saya jawab 'tidak'. Dan ia berkata 'saya bawa anak saya yang besar ini untuk lihat anak bapak dan catat Firman juga'."

Bahkan, bapak Pdt Pong Dongalemba mengatakan bahwa bayipun bisa mengerti Firman lewat pori-pori.
Sebab itu, kalau orang dewasa tidak mengerti firman, itu bukan tidak mengerti, tetapi terlalu keras hati, sehingga tidak mau mengerti Firman sekalipun sudah ditunjukan ayatnya.

Sebenarnya, dengan adanya firman penggembalaan, kita bersyukur, sebab kita diperingatkan, disadarkan, dan disucikan.
Sekalipun Petrus sudah menyangkal tiga kali dan Tuhan katakan 'Aku akan menyangkal dia', tetapi kalau ada kokok ayam, masih bisa ditolong.
Itulah sebabnya Tuhan percayakan seorang gembala di dunia ini. Tujuh malaikat dalam tujuh sidang jemaat, berarti ada seorang gembala dalam sidang jemaat.

ay. 61= 'berpalinglah Tuhan memandang Petrus'= firman penggembalaan juga merupakan pandangan belas kasihan Tuhan.
Begitu ayam berkokok, berpalinglah Tuhan melihat Petrus.
Perhatikan! Kalau kita sering mendengar Firman, misalnya kita berdusta, begitu orangnya pergi, kita akan sadar bahwa kita sudah berdusta. Tetapi disini Petrus tidak sadar, sebab sampai 3 kali ia mengatakan tidak kenal Tuhan. Saat itu, ia seperti sengaja berbuat dosa.
'Yesus berpaling', berarti Yesus sebelumnya tidak memandang Petrus.
Artinya: kalau kita hidup dalam dosa atau mempertahankan dosa, Tuhan tidak memandang kita. Seperti keadaan Petrus, dimana Petrus tidak bisa memandang Tuhan dan Tuhan tidak bisa memandang dia.

Tetapi, selama ada ayam berkokok (firman penggembalaan yang benar), Tuhan berpaling dan masih mau memandang kita apapun dosa dan kehancuran kita.
Jadi, Firman penggembalaan adalah pandangan belas kasihan Tuhan kepada kita= perhatian Tuhan yang besar dari Imam Besar dan Gembala Agung kepada bangsa kafir supaya bangsa kafir bisa dipegang olehNya (seperti dikatakan tadi 'Dia keliling di antara ketujuh kaki dian emas').
Dan bersamaan dengan Firman penggembalaan, saat itulah kasih agape dicurahkan dan Petrus bisa tertolong, tidak dihukum, asal ia sadar (menangis), menyesal, mengaku dan tinggalkan dosa.
Inilah pentingnya Firman penggembalaan.

"saya menasihati anak-anak yang masih kuliah. Kalau ada persekutuan, harus hati-hati. Penanggung jawabnya tidak tahu, yang kotbah juga tidak tahu. Itu bahaya besar. Firman penggembalaan itulah yang paling murni dan bisa dipertanggung jawabkan."

Amsal 28: 13
28:13. Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.

Kalau kita bisa menerima kasih agape, kita bisa menyadari, menyesali dan mengakui dosa-dosa kepada Tuhan dan sesama. Kalau diampuni, jangan berbuat dosa lagi. Maka kita tidak akan dihukum, tetapi justru ditolong oleh Tuhan.
Firman penggembalaan= uluran tangan kasih Tuhan.

Malam ini, dalam setiap pemberitaan Firman penggembalaan yang benar, Tuhan sedang memandang dan memperhatikan kita sepenuhnya, bukan untuk menghukum, tetapi untuk mengulurkan tangan kasihNya kepada kita.
Tuhan memperhatikan kita, sehingga Ia tahu apa yang perlu ditolong dalam kehidupan kita.

Tangan kasih Tuhan untuk menuntun kita masuk kandang penggembalaan.
Ini yang nomor satu.
Tiga kali Petrus menyangkal Tuhan diimbangi dengan tiga kali pertanyaan Tuhan, tidak boleh dikurangi.
Kandang penggembalaan (ruangan suci)= ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok:

  1. Pelita Emas= ketekunan dalam Ibadah Raya= persekutuan dengan Alalh Roh Kudus dengan karunia-karuniaNya,
  2. Meja Roti Sajian= ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab dan Perjamuan Suci= persekutuan dengan Anak Allah dalam Firman pengajaran dan kurban Kristus,
  3. Mezbah Dupa Emas= ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan= persekutuan dengan Allah Bapa dalam kasihNya.

Tiga macam ibadah pokok ini sama dengan tiga kali pertanyaan Yesus kepada Petrus.
Apapun kehancuran kita, bawa dulu ke dalam kandang penggembalaan!
Dalam kandang penggembalaan, kita bukan disiksa, tetapi kita sedang dalam perhatian dan pertolongan Tuhan yang besar dan kita tinggal menunggu prosesnya.

Kesaksian:
"tahun 1995, saya dikirim ke Malang, ada seorang yang diberkati Tuhan tetapi ditipu sampai habis, bahkan rumahnya yang besar habis dan ia kontrak. Lalu ia berkata kepada saya 'bagaimana om? Saya berusia 65 tahun. Kalau saya masih usia 40-50 tahun, saya masih bisa bekerja keras. Ini sudah tidak mampu'. Saya tidak tahu harus menjawab bagaimana. Uang juga tidak ada. Saya hanya jawab 'om, nasihat saya, datanglah tiga macam ibadah, tergembala'. Dia menjawab 'oh..baik..baik'. Dan tidak di duga, selang beberapa waktu, dia mendapatkan proyek yang terbesar. Dia katakan 'seumur hidup saya, inilah yang terbesar dan bisa menutupi semua'. Tidak ada yang mustahil. Bukan untuk disiksa. Seharusnya dia marah 'orang sudah kurang uang, suruh bayar ongkos lagi ke gereja, suruh bayar kolekte lagi supaya kamu kaya ya?' Seharusnya dia marah, tetapi untunglah dia menerimanya."

Inilah rahasia besar lewat ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.
Dalam kandang penggembalaan ada semuanya. Dimana ada kasih agape, di situ ada semuanya. Kalau di luar kandang penggembalaan, justru hidup kita akan berat.
Masuklah di kandang dan tinggal tunggu tangan kasih Tuhan yang menolong kita.
Petrus yang harus binasa, mustahil untuk ditolong karena sudah sama seperti setan, tetapi bisa ditolong, apalagi cuma masalah ekonomi dan lainnya, pasti bisa ditolong.

Yang penting adalah kita tekun dalam penggembalaan, mulai dari gembalanya dulu. Kalau gembalanya tidak tekun, domba-domba sudah tercerai berai.
Penggembalaan itu sistem teladan, di mana domba-domba tinggal ikut saja.

Kalau tergembala dengan benar dan baik, maka kasih agape (kasih Allah Tritunggal) dicurahkan pada tubuh, jiwa dan roh kita.
Tadi, tubuh, jiwa dan roh Petrus menyangkal Tuhan (tubuh, jiwa dan rohnya tidak ada kasih, sehingga harus binasa). Tetapi begitu masuk dalam penggembalaan, kasih Allah Tritunggal dicurahkan pada tubuh, jiwa dan roh Petrus, sehingga ia tidak binasa, tetapi justru mengalami uluran tangan kasih Tuhan Imam Besar dan Gembala Agung.
Jangan menghina firman yang diulang-ulang. Mungkin sekarang diberitakan, kita berkata 'apa itu?'. Diulangi lagi, masih berkata 'apa itu?'. Satu waktu, saat kita dalam masalah dan firman diulangi lagi, kita akan mengatakan 'benar Tuhan'.
Simpan Firman yang kita terima! Kalau Firman diulang, itu untuk pemantapan dan persiapan. Satu waktu, saat kita menghadapi masalah, kita sudah mantap. Inilah rahasianya penggembalaan. Kita tidak dihukum, tetapi mengalami uluran tangan kasih Tuhan lewat kandang penggembalaan dan kita juga bisa mengulurkan tangan pada Tuhan.

Yohanes 21: 18-19
21:18. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Mengulurkan tangan, artinya:

  • taat dengar-dengaran,
  • rela berkorban apapun untuk Tuhan (Petrus sampai berkorban nyawa untuk Tuhan),
  • hanya menyembah Tuhan= percaya dan mempercayakan diri pada Tuhan (hanya berkata 'terserah Kau, Tuhan').

Dengan mengulurkan tangan pada Tuhan, kita hidup dalam tangan kasih Tuhan.
Hasilnya:

  • Yohanes 10: 27-28
    10:27. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
    10:28. dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

    Hasil pertama: 'mereka pasti tidak akan binasa'= tangan kasih Tuhan memberi jaminan kepastian untuk memelihara hidup kita sekarang, masa depan yang berhasil dan indah sampai hidup kekal.

    'seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku'= tangan kasih Tuhan memberikan kemenangan pada kita, menyelesaikan semua masalah kita sampai yang mustahil.
    Kita hanya tinggal menunggu dalam kandang penggembalaan dan mata kita akan melihat semua sudah selesai.

    "seringkali orang yang jauh dari kita tetapi ingin dengar firman sekalipun lewat handphone. Tetapi satu kesaksiannya yang saya pegang, 'setelah tergembala, sudah mulai ditata dengan baik'. Itulah penggembalaan yang menata rapi kehidupan kita."


  • Yohanes 10: 3
    10:3. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

    Hasil kedua: tangan Tuhan menuntun kita ke luar.
    Tadi, Firman penggembalaan menuntun ke kandang.
    Artinya: keberhasilan dari penggembalaan bukan hanya menambah jumlah, tetapi memasukan domba ke kandang.
    Tetapi di sini, domba dituntun keluar. Jangan di kandang saja! Kalau di kandang saja (egois), kita akan dimakan oleh gembala.

    Yohanes 10: 16
    10:16. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

    Menuntun ke luar kandang menuju kandang lain= kita dipakai dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir/pembangunan tubuh Kristus yang sempurna, sehingga kita menjadi satu kawanan dengan satu Gembala (satu tubuh dengan satu Kepala).


  • Wahyu 7: 17
    7:17. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."

    Hasil ketiga: tangan Tuhan menuntun kita ke tempat penggembalaan terakhir.

    Jadi, penggembalaan itu membawa kita ke kandang untuk memperbaiki kita dulu, kemudian antar kandang sampai menjadi satu tubuh dan dibawa lagi ke kandang penggembalaan terakhir (Yerusalem Baru).
    Artinya: air mata dihapus, kita disucikan dan diubahkan sedikit demi sedikit sampai satu waktu sempurna seperti Yesus. Kita benar-benar berada di Yerusalem Baru.

Inilah satu cela dari jemaat Efesus. Petrus juga hebat, tetapi ada satu cela, yaitu tanpa kasih.
Bagaimana keadaan kita malam ini?
Kita bangsa kafir seperti anjing dan babi, tidak punya kasih, tetapi hanya ada hawa nafsu. Namun Tuhan tetap memperhatikan bangsa kafir.
Sekalipun sudah jatuh seperti Petrus secara rohani dan hancur-hancuran secara jasmani, masih ada pandangan Imam Besar dan uluran tangan Tuhan. Sekalipun bangsa kafir tidak layak, Tuhan memperhatikan kita untuk ditolong, diangkat, ditata rapi, dituntun, diberkati dan dipelihara, semua menjadi rapi dan bahagia sampai masuk ke Yerusalem Baru.
Jaminannya adalah Gembala Baik sudah menyerahkan nyawa bagi kita semua. Perjamuan suci adalah jaminan dari Tuhan.

Tuhan memberkati.