[cetak]
Ibadah Raya Malang, 30 Agustus 2020 (Minggu Pagi)

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 11: 15-19 bicara tentang bunyi sangkakala yang ketujuh atau nafiri yang terakhir.

Sangkakala ketujuh menampilkan tiga hal:
  1. Ayat 15-17 = pribadi Yesus yang datang kembali kedua kali di awan-awan yang permai dalam kemuliaan sebagai Raja segala raja dan Mempelai Pria Sorga untuk menegakkan kerajaan Sorga di bumi, itulah kerajaan seribu tahun damai (Firdaus yang akan datang), sampai Yerusalem Baru selamanya (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Raya Malang, 05 Juli 2020 sampai Ibadah Raya Malang, 02 Agustus 2020).

  2. Ayat 18 = murka Allah atas dunia (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 04 Agustus 2020).

  3. Ayat 19 = Tabut Perjanjian, gereja yang sempurna, mempelai wanita Sorga.

ad. 2.
Wahyu 11:18
11:18. dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi."

Sangkakala ketujuh menampilkan hukuman Allah atas dunia dan orang-orang yang layak menerimanya dalam bentuk tiga kali tujuh penghukuman, kiamat, sampai neraka selamanya.
Tetapi Tuhan juga memberikan upah kepada orang-orang yang layak menerimanya sampai upah hidup kekal di Sorga.

Jadi, sangkakala ketujuh menampilkan pribadi Yesus sebagai Hakim yang adil.

Siapa yang layak untuk menerima upah dari Tuhan?
  1. 'hamba-hamba-Mu' = hamba Allah (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 11 Agustus 2020 sampai Ibadah Doa Malang, 13 Agustus 2020).

  2. 'nabi-nabi' = kehidupan yang mendengar dan taat dengar-dengaran pada firman pengajaran yang benar (diterangkan pada Ibadah Raya Malang, 16 Agustus 2020).

  3. 'orang-orang kudus' = menjadi orang kudus (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 18 Agustus 2020 sampai Ibadah Raya Malang, 23 Agustus 2020).

  4. 'mereka yang takut akan nama-Mu' = mereka yang takut akan Tuhan (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 25 Agustus 2020).

ad. 4.
Kita sudah mempelajari takut akan Tuhan dikaitkan dengan empat tudung (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 25 Agustus 2020) dan gambar/kuasa Allah Tritunggal (diterangkan pada Ibadah Doa Malang, 27 Agustus 2020).

Pagi ini, takut akan Tuhan dikaitkan dengan hikmat sorgawi.
Amsal 9:10a
9:10a. Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.

Jika pelayan Tuhan takut akan Tuhan, ia pasti menerima hikmat sorgawi yang lebih dari pada hikmat duniawi.

Hikmat sorgawi membawa kita pada posisi yang benar, yaitu sebelah kanan.
Pengkhotbah 10:2
10:2. Hati orang berhikmat menuju ke kanan, tetapi hati orang bodoh ke kiri.

Apa pengertian dari sebelah kanan? Sebelah kanan adalah tempatnya domba. Yesus sebagai Imam Besar, Gembala Agung, dan Raja segala raja juga duduk di sebelah takhta Allah Bapa.

Matius 25:33

25:33. dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

Jadi, kalau kita menjadi pelayan Tuhan yang takut akan Tuhan kita akan menerima hikmat sorgawi, sehingga kita menjadi domba-domba yang digembalakan oleh Tuhan, Gembala Agung, dan kita ada kaitan dengan takhta Sorga.
Penggembalaan adalah tempat yang benar dan baik. Dulu Tuhan menempatkan Israel di Gosyen, gambaran dari penggembalaan, tempat yang terbaik.

Praktik kehidupan yang tergembala:
  1. Selalu berada di kandang penggembalaan lewat pintu sempit. Kalau tidak mau lewat pintu sempit, ia adalah orang upahan/ pencuri.
    Kandang penggembalaan = ketekunan dan kesetiaan dalam tiga macam ibadah pokok:
    • Pelita emas = ketekunan dalam ibadah raya, persekutuan dengan Allah Roh Kudus di dalam urapan dan karunia-Nya.
    • Meja roti sajian = ketekunan dalam ibadah pendalaman Alkitab dan perjamuan suci, persekutuan dengan Anak Allah di dalam firman pengajaran dan korban Kristus.
    • Mezbah dupa emas = ketekunan dalam ibadah doa, persekutuan dengan Allah Bapa di dalam kasih-Nya.

    Tekun dan setia dalam kandang penggembalaan sama dengan mengasihi Tuhan dengan segenap tubuh, jiwa, dan roh kita.
    Kalau tidak tekun, berarti tidak mengasihi Tuhan.

  2. Hanya mendengar dan dengar-dengaran pada suara gembala = taat dengar-dengaran pada firman penggembalaan.
    Firman penggembalaan adalah firman pengajaran yang benar yang dipercayakan Tuhan kepada seorang gembala untuk disampaikan kepada sidang jemaat dengan setia, teratur, dan diulang-ulang, untuk menjadi makanan dan komando bagi sidang jemaat.
    Kita makan supaya bertumbuh dan kuat.
    Firman menjadi komando sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan.

    Taat dengar-dengaran = mengasihi Tuhan lebih dari segalanya.
    Abraham taat dan ia rela mempersembahkan anaknya. Yesus taat sampai mati di kayu salib.

    Mulai dari gembala dan imam-imam harus punya hikmat sorgawi, sehingga ada kaitan dengan takhta Sorga.

  3. Mengasihi sesama seperti diri sendiri= hanya berbuat baik kepada sesama mulai di rumah dan penggembalaan, bahkan membalas kejahatan dengan kebaikan.
    Matius 25:34-40
    25:34. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
    25:35. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
    25:36. ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
    25:37. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
    25:38. Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
    25:39. Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
    25:40. Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

    Kita tidak merugikan dan menyakiti sesama dalam hal apa pun. Menyakiti sesama adalah gejala tidak tergembala.

    Di sini, tidak berbuat baik saja sudah dituntut oleh Tuhan, apalagi kalau menyakiti.

Jadi, pelayan Tuhan yang takut akan Tuhan sehingga bisa tergembala dengan baik, ia pasti menerima kasih Allah yang agung (dua loh batu). Loh batu pertama adalah mengasihi Tuhan, loh batu kedua adalah mengasihi sesama. Ini yang harus kita miliki.
Rumah tangga dan penggembalaan adalah tempatnya kasih. Di luar itu, hanya ada hujan es, seperti dulu menimpa Mesir. Jangan coba-coba mencari kasih di luar rumah tangga dan penggembalaan.

Untuk apa kita menerima dua loh batu?
  1. Untuk menghadapi musim dingin rohani.
    Matius 24:12
    24:12. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.

    Perikop: permulaan penderitaan. Ini adalah pra aniaya antikris yang harus kita hadapi.

    Musim dingin rohani sama dengan suasana akhir zaman/ masa pra aniaya antikris selama tiga setengah tahun. Ini adalah suasana Getsemani/ kegoncangan atau krisis di segala bidang yaitu dosa, ajaran sesat, penderitaan karena Yesus, sampai antikris berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun.

    Krisis kasih dalah krisis terbesar karena manusia menjadi sama seperti binatang buas.

    Banyak pelayan Tuhan yang tidak takut akan Tuhan tetapi tetap berbuat jahat, sehingga tidak punya hikmat sorgawi dan tidak tergembala.
    Akibatnya adalah tidak tahan menghadapi Getsemani.

    Suasana Getsemani juga merupakan pemisahan. Kalau tidak ada kualitas ilahi, ia akan terbakar.
    Akibatnya adalah durhaka.
    • Mulai dari durhaka terhadap sesama terutama di dalam nikah.
      Berkhianat pada masa pacaran sama seperti orang terluka.
      Berkhianat pada masa tunangan, sangat berbahaya, sudah luka parah.
      Kalau berkhianat pada masa pernikahan, paling parah, sama dengan mati.

      Inilah kurang ajarnya setan, yaitu menyerang nikah sebagai pusatnya kasih.

    • Durhaka kepada Tuhan di dalam penggembalaan yang juga merupakan pusatnya kasih.
      Durhaka dalam penggembalaan artinya tidak setia sampai meninggalkan ibadah pelayanan seperti Yudas Iskariot, sehingga binasa selamanya.

    Inilah goncangan/ pemisahan di rumah tangga dan penggembalaan. Hati-hati, dua orang di tempat tidur juga terpisah.

    Siapa yang bisa bertahan? Pelayan Tuhan yang takut akan Tuhan, yang memiliki hikmat sorgawi, tergembala dengan benar dan baik, dan memiliki dua loh batu. Ia pasti bertahan, kuat dan teguh hati.

    Matius 24:13

    24:13. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

    Kuat teguh hati artinya:
    • Tetap mengasihi Tuhan lebih dari semua. Tidak ada ketakutakan, kekecewaan, dan tidak menyangkal Tuhan sampai Tuhan datang.
    • Mengasihi sesama seperti diri sendiri bahkan mengasihi orang yang memusuhi kita.
    • Tetap mantap dalam penggembalaan.
    • Tetap setia berkobar-kobar sampai garis akhir.

  2. Dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil kerajaan Sorga
    Matius 24:14
    24:14. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."

    Yaitu:
    • Injil keselamatan/ firman penginjilan/ Kabar Baik [Efesus 1:13] = Injil yang memberitakan tentang kedatangan Yesus pertama kali ke dunia sebagai satu-satunya manusia yang tidak berdosa, tetapi harus mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia berdosa.
      Kita bersaksi Kabar Baik kepada orang-orang di luar Yesus, supaya percaya Yesus dan diselamatkan, untuk menambah jumlah anggota tubuh Kristus.

    • Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus/ firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua/ Kabar Mempelai [2 Korintus 4:3-4] = Injil yang memberitakan tentang kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai dalam kemuliaan sebagai Raja segala raja dan Mempelai Pria Sorga untuk menyucikan orang-orang yang sudah selamat sampai sempurna seperti Yesus, menjadi mempelai wanita Sorga yang siap untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali. Ini yang menambah kualitas tubuh Kristus.

Contoh pelayan Tuhan yang melayani dengan takut akan Tuhan adalah Pua dan Sifra.
Keluaran 1:15-21
1:15. Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya:
1:16. "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup."
1:17. Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.
1:18. Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: "Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?"
1:19. Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: "Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin."
1:20. Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda.
1:21. Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.

Laki-laki dibunuh oleh setan, artinya:
  • Terjadi kawin campur, karena tidak ada laki-laki di Israel, sehingga perempuan Israel menikah dengan orang Mesir.
  • Laki-laki mewarisi Sorga, kalau dibunuh berarti tidak mewarisi kerajaan Sorga.

Ayat 19 = ada hikmat Tuhan, sehingga setan pun tidak bisa menjamah.

Bidan adalah orang yang paling dekat dengan proses kelahiran, terutama kelahiran baru. Itulah seorang pelayan Tuhan.
Banyak jiwa atau tidak di dalam gereja bergantung pada imam-imamnya. Hati-hati, jangan sampai kita membunuh bayi.

Pua dan Sifra adalah bidan yang takut akan Tuhan, yaitu tidak membunuh bayi-bayi bangsa Israel yang tinggal di Gosyen, tidak melakukan perintah Firaun/ setan, sehingga mereka mendapatkan hikmat Sorga dan tidak bisa dijamah oleh Firaun.

Jadi, Pua dan Sifra dipakai dalam kelahiran bayi (kuantitas bertambah), dan meningkatkan kualitas sampai sempurna. Ini berarti mereka dipakai dalam Kabar Baik dan Kabar Mempelai (kegerakan hujan awal dan hujan akhir).

Ini yang dibutuhkan yaitu pelayan Tuhan yang takut akan Tuhan dan punya kasih sempurna untuk dipakai dalam kegerakan Roh Kudus hujan awal dan hujan akhir untuk membawa sidang jemaat selamat dan sempurna, menjadi mempelai wanita Sorga yang siap untuk masuk perjamuan kawin Anak Domba sampai Yerusalem baru.

Tetapi kita harus waspada karena banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Di sini yang takut akan Tuhan hanya ada dua.

Banyak bidan-bidan yang dipakai setan untuk membunuh bayi laki-laki, artinya pelayan Tuhan yang tidak takut akan Tuhan tetapi berbuat dosa dusta sampai puncaknya dosa, yaitu dosa makan-minum (merokok, mabuk, narkoba), dan kawin-mengawinkan (percabulan).
Ia menjadi pelayan Tuhan tetapi tanpa kesetiaan, tanggung jawab, dan hikmat Sorgawi. Akibatnya membunuh bayi, artinya menjadi sandungan, sehingga banyak jiwa baru tidak bisa menerima Yesus, dan menghalangi orang-orang yang sudah selamat untuk disempurnakan.
Ia juga merusak nikah yang benar. Sekarang ada hamba Tuhan yang mengizinkan kawin campur dan kawin cerai.
Ia membangun Babel yang akan dibinasakan dalam satu jam.

Penampilan dari Pua dan Sifra:
  1. Sifra artinya elok, bentuknya bagus, sehingga enak dipandang dari ujung rambut sampai telapak kaki.
    Kidung Agung 7:1,5
    7:1. Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, puteri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman.
    7:5. Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya.

    Roma 10:15
    10:15. Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

    Roma 10:15 [terjemahan lama]
    10:15. Dan bagaimanakah mereka itu hendak memberitakan, jikalau tiada disuruh? Seperti yang tersurat: Alangkah eloknya segala tapak kaki orang yang membawa kabar kesukaan dari hal yang baik.

    Telapak kaki = solah tingkah laku/ perbuatan yang benar di hadapan Tuhan dan sesama.
    Pada setiap tempat yang dikunjungi harus ada kesan indah, benar, dan baik.

    'merah lembayung' = merah menunjuk pada darah Yesus. Kita membuang dosa dusta. Kita hanya tunduk kepada Tuhan.

    Inilah penampilan luar dari pelayan Tuhan yang takut akan Tuhan.

  2. Pua artinya sukacita, girang. Ini adalah mental dari pelayan Tuhan.
    Roma 12:12
    12:12. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

    'Bersukacitalah dalam pengharapan'= 'Bersukacitalah dalam kesucian'.

    Mental seorang pelayan Tuhan adalah bersukacita dalam kesucian, sabar dalam kesesakan, dan tekun dalam doa.

    Pua juga artinya terang, sama dengan jujur/ terang-terangan dalam firman pengajaran yang benar. Ini adalah karakter dari hamba Tuhan.
    Kalau jujur soal firman pengajaran, kita bisa jujur soal nikah dan keuangan, sampai jujur mengaku dosa.

Inilah pelayan Tuhan yang menarik hadirat Tuhan sebagai Gembala Agung dan Raja segala raja. Tuhan bergairah untuk datang, dan kita bergairah untuk memandang Dia, sehingga kita tidak goyah sedikit pun, sampai Dia mengulurkan tangan kemurahan dan kebaikan-Nya, kunci Daud. Tuhan bukan hanya duduk untuk memperhatikan kita, tetapi juga berdiri untuk menolong kita.

Kisah Rasul 7:55-59
7:55. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.
7:56. Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah."
7:57. Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.
7:58. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.
7:59. Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku."

Yesus sudah berdiri untuk mengangkat segala kesakitan dari Stefanus.

Hasilnya:
  1. Tangan kemurahan dan kebaikan Tuhan sanggup untuk melindungi dan memelihara kita di tengah kemustahilan sampai zaman antikris.
    Keluaran 1:18-19
    1:18. Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: "Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?"
    1:19. Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: "Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin."

    Secara rohani, kita dilindungi dan dipelihara untuk tetap hidup benar dan suci, sampai tidak bisa dijamah oleh antikris, berarti kita sudah disingkirkan ke padang gurun.

  2. Tangan Tuhan menjadikan semua baik, yang hancur jadi baik, yang gagal menjadi berhasil dan indah pada waktunya.
    Keluaran 1:20
    1:20. Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda.

  3. Tangan kemurahan Tuhan membuka pintu perjamuan kawin Anak Domba dan Firdaus bagi kita.
    Keluaran 1:21
    1:21. Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.

    Tuhan juga membuka pintu pemulihan nikah, jalan keluar dari segala masalah, pintu kesembuhan dan sebagainya.


Tuhan memberkati.