[cetak]
Ibadah Raya Surabaya, 23 April 2017 (Minggu Siang)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan berkat TUHAN senantiasa dilimpahkan dalam hidup kita sekalian.

Kita akan membahas tema di Poso, yaitu tentang KEBUN ANGGUR.

Matius 20 : 1-16 => 'Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.'
20:1. "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
20:2. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari,
ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
20:3. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
20:4. Katanya kepada mereka:
Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.
20:5. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
20:6. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
20:7. Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka:
Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
20:8. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
20:9. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
20:10. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.
20:11. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
20:12. katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
20:13. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
20:14. Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
20:15. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
20:16. Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."


TUHAN menunjukkan arah pekerjaan TUHAN yang benar--arah ibadah pelayanan yang benar--yaitu kebun anggur.

Mengapa harus ke kebun anggur?

Mazmur 128 : 3a
128:3. Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu

Pohon anggur= isteri; mempelai wanita.
Jadi kebun anggur adalah tempat tumbuhnya pohon anggur. Artinya sekarang, ibadah pelayanan yang benar harus mempersiapkan atau membentuk sidang jemaat menjadi mempelai wanita sorga yang sempurna. Ini arah ibadah pelayanan yang benar.

Jadi, ibadah pelayanan yang benar harus menuju kegerakan Roh Kudus hujan akhir atau kegerakan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.
'Pergilah ke kebun anggurku' artinya kita harus aktif di dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir atau pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.

Matius 8 : 18-20
8:18. Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.
8:19. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."
8:20. Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."


'meletakkan kepala-Nya'= tempat meletakkan kepala adalah tubuh; ini bicara tentang pembangunan tubuh Kristus.

Tadi 'pergilah ke kebun anggurku' sama dengan kegerakan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna. Sekarang, 'bertolak ke seberang' juga sama dengan kegerakan Roh Kudus hujan akhir--kegerakan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.

'Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi'= Yesus adalah kepala; mengikut kemana saja Yesus pergi artinya pengikutan tubuh terhadap kepala--menunjuk pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.

'Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku' dan 'bertolak ke seberang' itu merupakan perintah. Jadi, kita harus aktif di dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir--kegerakan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna--itu merupakan perintah TUHAN yang tidak bisa diganggu gugat oleh apapun. Tidak melakukan perintah TUHAN berarti berbuat dosa. Kalau kita tidak mau aktif dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna, itu berbuat dosa, berarti hukuman dan kebinasaan.

Mari, kita semua harus aktif dalam kegerakan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna. Melayani dimulai dari dalam nikah rumah tangga, yaitu:

  • Suami: pelayanan utamanya yaitu mengasihi isteri seperti diri sendiri dan tidak berlaku kasar kepada isteri.
    Ini permulaan pelayanan di dalam nikah. Seorang suami akan berhasil melayani dalam nikah--bagaimanapun kondisi nikah itu--, kalau dia bisa mengasihi isteri seperti dirinya sendiri dan tidak berlaku kasar pada isteri. Ini pelayanan tubuh Kristus, pasti berhasil.

    "Sering saya ibaratkan. Seumpama kita mau memasang lukisan di dinding dengan cara dipaku, lalu tidak sengaja tangan kita yang terpukul palu. Tidak mungkin kita membalas menyakit tangan yang satunya, itu pelayanan tubuh; mengasihi isteri seperti diri sendiri dan tidak berlaku kasar pada isteri."


  • Isteri: tunduk kepada suami--taat--dalam segala sesuatu.
    "Seperti anggota tubuh kita masing-masing. Disuruh apa, ya melakukan. Bahkan sampai (maaf) tangan kiri harus membersihkan kotoran di tubuh kita saat kita ke belakang, juga tidak ada masalah. Itu namanya tunduk. Tidak ada yang berkata: 'rugi aku, aku baru dari salon disuruh kotor lagi,' tidak ada. Itu pelayanan nikah."


  • Anak: taat dengar-dengaran kepada orang tua.

Ini keberhasilan pelayanan dalam nikah. Kalau dalam nikah berhasil, akan dipercaya yang lebih tinggi lagi, yaitu melayani di dalam penggembalaan--sebagai gembala, pemain musik, tim doa dan lain-lain. Kalau berhasil lagi, akan ditingkatkan dalam antar penggembalaan sampai nanti Israel dan kafir menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna; mempelai wanita yang siap untuk meyambut kedatangan TUHAN Yesus yang kedua kali di awan-awan permai.

Itulah kehendak TUHAN: 'pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.' Jam berapapun ditunggu oleh TUHAN; jangan menganggur! Sekarang kita ditunggu, melayani di dalam nikah, penggembalaan; masih ada kesempatan mengisi formulir. Ditunggu oleh TUHAN, mulai dari pagi-pagi benar sampai jam lima sore, tinggal satu jam masih diberi kesempatan. Kalau tidak bekerja, jangan menyalahkan TUHAN! Sebab sudah ditunggu oleh TUHAN.

Jadi, kita harus melayani di kebun anggur atau bertolak ke seberang menuju ke pelabuhan damai sejahtera--Yerusalem baru; mempelai wanita atau kerajaan sorga yang kekal.

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam bertolak ke seberang:

  1. Yang pertama: dibutuhkan banyak pengorbanan (waktu, uang, pikiran, tenaga, perasaan dan lain-lain).
    Terutama di dalam nikah, banyak berkorban perasaan.

    "Seringkali dalam penataran nikah selalu saya tekankan kepada calon mempelai: 'Sudah siap?' Siap untuk apa? Siap untuk mati. Menikah itu siap untuk mati, menyerahkan nyawa. Sebab Yesus sudah memberi contoh. Dia mengasihi sidang jemaat-Nya/mempelai wanita sampai menyerahkan nyawa; ini contoh bagi suami. Dia tunduk kepada Allah Bapa sampai menyerahkan nyawa-Nya; ini contoh bagi isteri. Kalau hanya siap gaji sekian, cicilan rumah, itu belum siap; tetapi siap untuk menyerahkan nyawa."

    Semua harus dikorbankan dalam pelayanan, yaitu waktu, uang, tenaga, pikiran, perasaan sampai menyerahkan seluruh hidup kepada TUHAN. Kecuali satu yang tidak boleh dikorbankan, yaitu firman pengajaran benar--pribadi Yesus. Jangan dikorbankan! Sebab akan mengerikan, bagaikan tubuh tanpa kepala.
    Kalau kita menikah tanpa firman pengajaran benar, penggembalaan tanpa firman pengajaran benar, fellowship tanpa firman pengajaran benar--tanpa Yesus--nanti bagaikan tubuh tanpa kepala; menabrak sana-sini. Tidak mungkin sempurna, malah sengsara dan hancur.

    Jadi, harus berkorban, namanya ke seberang pasti berkorban; tidak mau berkorban, tidak bisa menyeberang. Kalau tidak kuat, misal di dalam nikah hanya kita yang berkorban, pandang kurban Kristus. Tentu kita akan malu.
    "Seperti saya dulu, saya tidak mau lagi jadi hamba TUHAN kalau tidak makan, tidak minum, tidak punya uang, saya mau pergi dan bekerja lagi. Tetapi setelah memandang kurban Kristus, malu sendiri. Hanya berkorban segini, orang lain lebih banyak dari saya. Yesus sudah berkorban nyawa untuk kita."

    Mari, layani dalam nikah, penggembalaan; semua harus ada pengorbanan. Semua yang kita korbankan tidak akan hilang, satu waktu akan dikembalikan oleh TUHAN. TUHAN tidak pernah menipu kita. Seperti pelajaran keledai. Yesus berkata: 'Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat' : 'Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: TUHAN memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini.'
    Semua pengorbanan dan air mata kita dicatat oleh TUHAN, tidak akan hilang setetespun, sampai nanti kita merasakan kebahagiaan kekal selamanya.


  2. Yang kedua: halangan, tantangan dan rintangan.

    Ada tiga macam halangan, tantangan dan rintangan:


    1. Matius 8 : 18-20
      8:18. Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.
      8:19. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."
      8:20. Yesus berkata kepadanya: "
      Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

      Halangan yang pertama: serigala dan burung--roh jahat dan roh najis.

      SERIGALA adalah roh jahat yang mengarah kepada keinginan akan uang, yang membuat kita menjadi kikir dan serakah.
      Kikir= tidak bisa memberi untuk pekerjaan TUHAN.
      Serakah= merampas milik orang lain bahkan mencuri; yaitu mencuri milik TUHAN (perpuluhan dan persembahan khusus) dan mencuri milik sesama--korupsi dan lain-lain.
      Ini berarti serigala sudah mempunyai liang--untuk berkembang biak.

      Dalam kebaktian Paskah kaum muda tadi malam, roh jahat keluar dari manusia, kemudian masuk lagi dengan mengajak tujuh roh jahat yang lain. Ini namanya berkembang biak. Serigala mempunyai liang untuk berkembang biak; roh jahat berkembang biak dengan begitu cepat untuk menguasai kehidupan kita. Hati-hati!

      BURUNG adalah roh najis--keinginan najis--yang mengarah kepada dosa makan minum dan dosa kawin mengawinkan.
      Dosa makan minum= merokok, mabuk, narkoba.
      Dosa kawin mengawinkan= dosa percabulan dengan berbagai ragamnya.
      Ini berarti burung-burung juga mempunyai sarangnya untuk berkembang biak.

      Kita harus hati-hati, sebab roh jahat dan roh najis berkembang biak dengan cepat.

      Serigala dan burung mau menjadi kepala; dan mengubah arah pembangunan tubuh Kristus. Tadi, kapal mengarah ke pelabuhan damai sejahtera--Yerusalem baru; mempelai wanita yang sempurna; kerajaan sorga yang kekal--, ini mau dialihkan arahnya menuju ke tempat serigala dan burung.
      Dimana tempatnya? Babel.

      Wahyu 18 : 2
      18:2. Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: "Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci,

      Serigala dan burung--roh jahat dan roh najis--mengubah arah pembangunan tubuh Kristus yang sempurna ke arah pembangunan tubuh Babel, yaitu pelacur besar yang dikepalai oleh antikris. Ini tandingan dari tubuh Kristus.

      Oleh sebab itu, kita harus memiliki firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua--pedang firman--untuk menyucikan kita dari serigala dan burung, sehingga kita hidup dalam kesucian.

      "Dalam ibadah harus ada pedang. Kalau tidak ada pedang tetapi yang ada hanya lawak-lawak, yang senang-senang, maka serigala dan burung akan bertumbuh subur; antikris yang menjadi kepala dengan kekuatan roh jahat dan roh najis. Tidak ada Roh TUHAN di sana."

      Mari, gunakan pedang untuk menyucikan kita dari serigala dan burung--roh jahat dan roh najis--sehingga kita bisa hidup dalam kesucian; sama dengan hati suci, lalu nikah suci, dan tabiat suci--lebih bahagia memberi daripada menerima--sehingga kita bisa menyerahkan seluruh hidup kita untuk dipakai dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna dan Yesus yang menjadi Kepala di sana. Yesus yang bertanggung jawab atas setiap langkah hidup kita. Kepala yang menentukan setiap detak jantung dan langkah hidup kita.

      Yesus rela mati di Bukit Tengkorak untuk membuktikan bahwa Dia sebagai Kepala sudah bertanggung jawab atas setiap langkah hidup dan setiap detak jantung kita. Tidak usah takut kalau ada bukti-bukti kita melayani pembangunan tubuh Kristus yang sempurna: hati suci, nikah suci, tabiat suci; kita terus dipakai dalam pelayanan dan TUHAN yang bertanggung jawab atas hidup kita.

      Inilah halangan yang pertama yaitu serigala dan burung.


    2. Matius 8 : 21-22
      8:21. Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "TUHAN, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku."
      8:22. Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."


      Tadi, yang berkata ingin mengikut Yesus kemana saja Ia pergi adalah seorang ahli taurat--belum mengenal pengajaran; tidak ada pedang firman--, karena itu masih ada serigala dan burung. Harus ada pedang untuk mengusir serigala dan burung.
      Sebenarnya, ahli taurat ini arahnya sudah bagus; ada semangat untuk mengikut Yesus kemana saja Ia pergi, tetapi sayang, tidak ada kemampuan. Masih ada serigala dan burung karena masih belum membawa pengajaran. Oleh sebab itu, harus pegang pedang.

      'murid'= orang yang sudah punya pedang firman pengajaran; masih harus berhati-hati.
      Sesudah punya pedang firman pengajaran, jangan sombong! Masih harus berhati-hati.

      Halangan yang kedua: tubuh yang mati.
      Tadi, halangan yang pertama adalah tubuh Babel yang melanda nikah dan penggembalaan. Hati-hati! Berapa banyak nikah yang jatuh soal kejahatan--ikatan akan uang? Berapa banyak nikah yang hancur dan tenggelam di tengah jalan karena perkara najis? Di penggembalaan juga, mulai di perjanjian lama ada Hofni dan Pinehas; banyak yang jatuh dalam kenajisan. Pegang pedang selalu dan jangan lengah!

      Sekarang, sesudah punya pedang masih dikoreksi, sebab mengarah kepada tubuh yang mati.

      Tadi, tubuh Babel dikuasai oleh roh jahat dan roh najis.
      Sekarang, tubuh yang mati dikuasai oleh daging dengan segala keinginan dan hawa nafsunya.

      Praktik tubuh yang mati:


      • Praktik pertama tubuh yang mati: tidak bergerak sama dengan tidak setia dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN.

        "Gembala-gembala, punya pedang tapi tidak mau berkhotbah; ini tubuh yang mati, tidak setia. Sidang jemaat sudah mendengar firman pengajaran, sudah menjadi imam-imam tetapi tidak setia; ini tubuh yang mati. Hati-hati!"

        Wahyu 17 : 14
        17:14. Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."

        Kesetiaan sama dengan kemenangan atas musuh-musuh, sampai puncak kemenangan yaitu kita duduk bersanding dengan Yesus di takhta sorga.

        Syarat untuk menang adalah:


        • Kehidupan yang dipanggil dan dipilih: kehidupan yang ditebus oleh darah Yesus, dilepaskan dari dosa-dosa dan diangkat menjadi imam dan raja.
          Seharusnya, imam dan raja hanya bangsa Israel asli dan keturunannya.
          Dikaitkan dengan perumpamaan kebun anggur, pemilik kebun anggur memanggil para pekerja ada pagi-pagi benar, pukul sembilan, pukul dua belas dan pukul tiga sore; ini menunjuk pada proses penyaliban Yesus sampai Yesus mati di kayu salib.

          Markus 15 : 25, 33-34
          15:25. Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan.
          15:33. Pada
          jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.
          15:34. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?


          Yesus mati di kayu salib dengan empat luka utama--dua di tangan dan dua di kaki--untuk menebusbangsa Israel dari dosa-dosa dan mengangkat bangsa Israel menjadi imam dan raja--bekerja di kebun anggur.
          Tetapi pada jam lima sore, Ia masih keluar lagi untuk mencari pekerja-pekerja supaya bekerja di kebun anggur. Jam lima menunjuk pada luka kelima untuk bangsa kafir. Kedua penjahat yang disalib bersama Yesus belum mati, sehingga kaki mereka dipatahkan supaya cepat mati dan mayatnya segera diturunkan; tetapi ketika sampai kepada Yesus, Ia sudah mati. Prajurit Romawi tidak jadi mematahkan kaki-Nya, tetapi menikam lambung-Nya dengan tombak.

          Jam lima menunjuk pada luka kelima di lambung Yesus karena tikaman tombak, luka yang terbesar dan terdalam yang mengeluarkan darah dan air; ini untuk menebus bangsa kafir, melepaskan bangsa kafir dari dosa dan diangkat menjadi imam dan raja.

          Harus menjadi imam dan raja, kalau tidak, berarti tidak dipanggil dan tidak dipilih; kalah. Kita harus dipanggil dan dipilih, menjadi imam dan raja, gerakannya terserah TUHAN. Mau melayani apa saja terserah. Sesudah menjadi imam dan raja, masih belum aman.


        • Setia sampai garis akhir.
          Garis akhir= sampai meninggal dunia atau sampai TUHAN datang kedua kali.


        Inilah kehidupan yang menang.

        Jemaat Laodikia bisa duduk bersanding dengan Yesus di takhta sorga. Keadaan jemaat Laodikia seperti muntah, najis, kotor; tidak ada masalah asal mau ditebus/dilepaskan dari dosa. Oleh sebab itu, dengarkan firman.
        Senajis apapun bangsa kafir, kalau mau dipanggil dan dipilih oleh TUHAN--ditebus oleh darah Yesus, dilepaskan dari dosa, diangkat menjadi imam dan raja--dan menjadi kehidupan yang setia sampai garis akhir, maka kita akan menjadi kehidupan yang menang bersama Yesus atas musuh-musuh, sampai kemenangan terakhir yaitu duduk bersanding dengan Yesus di takhta sorga.
        Kita belajar dari jemaat Laodikia yang paling terpuruk, seperti muntah, tetapi bisa ditolong. Mari, biarlah pada kesempatan ini Dia mencari pekerja-pekerja. Sekarang giliran terakhir pada jam lima sore, Dia mencari bangsa kafir--kita semua--dengan luka kelima.

        Kita mau ditebus, mau diangkat menjadi imam dan raja, mau dipakai; harus setia sampai garis akhir. Itu kehidupan yang menang. Mungkin masih kekurangan, masih miskin tetapi kalau setia, menang. Sekalipun gereja besar, kaya tetapi tidak setia, berarti kalah. Mungkin ada penyakit dan lain-lain, tetapi setia, itu berarti menang. Ukurannya bukan sakit atau sehat, kaya atau miskin, gereja besar atau kecil, gaji besar atau kecil; bukan. Ukuran menang adalah SETIA. Itu menang bersama TUHAN.

        Jangan sampai kita menjadi tubuh yang mati! Sudah mengerti firman pengajaran--murid-murid--, tetapi tidak setia. Sudah dipanggil dan dipilih, tetapi tidak setia apalagi tinggalkan jabatan pelayanan. Itu berarti kekalahan telak dan berarti kebinasaan selamanya. TUHAN tolong, yang tidak setia, bangkit lagi; yang tinggalkan ibadah pelayanan, masih diberi kesempatan untuk kembali lagi.

        "Sering saya katakan, untuk perkara jasmani, kita lebih mudah percaya: 'Jangan begini lho, di sana ada itu,' kita ingat selalu. Tetapi kalau perkara rohani, seringkali kita menyepelekan. Ini yang bahaya. Nanti kalau kita sudah masuk di situ, baru kita menyesal: 'Aduh, kenapa dulu saya tidak begitu?' Firman sudah menasehati, tetapi kita yang mengeraskan hati. TUHAN tolong kita semua."

        2 Timotius 2 : 13
        2:13. jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

        'jika kita tidak setia, Dia tetap setia'= kita tidak setia, tetapi Yesus tetap setia; ini yang dinamakan kesetiaan yang menjadi karakter dari TUHAN Yesus. Tidak bisa dipengaruhi oleh apapun; tetap setia.
        Kalau kita, suami/isteri setia maka kita bisa setia juga, seringkali begitu, itu belum menjadi karakter.

        Tetapi jangan salah dengan ayat ini! Seringkali ayat ini dipakai untuk bersaksi: 'Tidak apa-apa. Saya tidak setia, tetapi Yesus tetap setia pada saya.' Hati-hati! Panjang sabar TUHAN ada batasnya, seperti karet diulur. Kalau kita tidak setia tetapi Yesus tetap setia, berarti memberi kesempatan pada kita untuk kembali setia. Bukan untuk bertahan : 'Tidak apa-apa tidak setia, buktinya Yesus tetap menolong,' Jangan, itu salah!

        Kesetiaan harus ditingkatkan dan bukan kulitnya saja, tetapi kesetiaan harus sampai menjadi karakter dari imam dan raja.

        "Seperti jus. Buah mangga kalau memang manis rasanya, sekalipun ditekan bagaimanapun juga tetap manis. Sekalipun diinjak-injak tetap manis. Tetapi kalau buah mangga itu masam, sekalipun disayang-sayang, tetap saja masam. Itu karakter, sifat dalam. Tidak bisa dipengaruhi oleh apapun."

        Saat-saat mengalami tekanan adalah saat-saat pembentukan karakter setia sampai garis akhir, sampai duduk di takhta sorga selamanya.


      • Praktik kedua tubuh yang mati: tidak berubah.
        Ini yang berat, sudah punya firman pengajaran, sudah beribadah melayani, tetapi tidak mau berubah. Ini masa yang sukar.
        Sudah beribadah melayani tetapi tidak berubah, bagaimana yang tidak beribadah? Ini betul-betul masa yang sukar.

        2 Timotius 3 : 1-5
        3:1. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
        3:2. Manusia akan
        mencintai dirinya sendiri(1) dan menjadi hamba uang(2). Mereka akan membual(3) dan menyombongkan diri(4), mereka akan menjadi pemfitnah(5), mereka akan berontak terhadap orang tua(6) dan tidak tahu berterima kasih(7), tidak mempedulikan agama(8),
        3:3.
        tidak tahu mengasihi(9), tidak mau berdamai(10), suka menjelekkan orang(11), tidak dapat mengekang diri(12), garang(13), tidak suka yang baik(14),
        3:4.
        suka mengkhianat(15), tidak berpikir panjang(16), berlagak tahu(17), lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah(18).
        3:5. Secara lahiriah mereka
        menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

        'mencintai dirinya sendiri'= egois.
        'lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah'= tidak taat.

        Kalau ada egois--kepentingan diri sendiri--pasti tidak taat dengar-dengaran--memberontak. Egois ini berat sekali, Petrus egois--menolak salib--sampai menjadi sama seperti setan.
        Kalau egois di dalam nikah, nikah akan menjadi hancur. Oleh karena itu, di kitab Kejadian dituliskan: 'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.' Maksudnya, bukan semua harus menikah; itu terserah TUHAN. Kita berstatus sebagai suami, isteri, janda, anak, itu semua karunia TUHAN.
        'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja' maksudnya jangan egois!

        "Seorang anak kalau dinasehati, lalu dia berkata: 'Mau apa? Terserah aku mau apa.' Kita sebagai orang tua rasanya seperti diiris-iris. Jemaat terhadap gembala juga. Jangan! Apalagi kalau terjadi di antara suami dan isteri, berat sekali."

        Ayat 5 => masa sukar artinya sekalipun beribadah melayani TUHAN, tetapi tidak mengalami keubahan hidup, tetap mempertahankan manusia daging dengan delapan belas sifat tabiat daging.
        Angka delapan belas= dicap 666= dikepalai oleh antikris.

        Tubuh yang mati dikepalai oleh antikris; bukan Yesus.

        Mengapa demikian?: Sebab menolak kuasa ibadah.
        Ada dua macam kuasa ibadah yaitu firman pengajaran benar dan salib. Ini yang bisa mengubahkan kita.
        Firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua; tajam pertama untuk memotong/menyucikan dosa; tajam kedua untuk mengubahkan/membaharui kita. Kalau ditambah dengan salib--penderitaan secara daging--, itu akan mempercepat proses keubahan hidup sampai mulia seperti Yesus. Jika Yesus tidak disalib, tidak akan ada tubuh kemuliaan.

        "Dua macam kuasa ibadah ini yang sekarang ditakuti dalam ibadah pelayanan. Kalau disuruh menyanyi sampai dua jam tidak apa-apa, tetapi kalau disuruh mendengar firman sampai dua jam, bisa sampai di ubun-ubun. Jangan-jangan alkitabnya sudah berada di bawah kaki, saking jengkelnya. Memang cocok menurut perkembangan zaman. Kita di dunia sudah menderita; anak-anak sekolah sekarang pulangnya sudah jam berapa. Tapi masih harus kebaktian. Sekarang hamba TUHAN juga mengikuti yang begitu, gereja hanya untuk entertainment, hiburan. Itu saja. Tidak ada keubahan."

        Mohon kepada TUHAN, supaya kita menerima pedang firman dan salib yang mengubahkan kita.
        Jadi, kita harus menerima pedang firman ditambah salib, sehingga terjadi keubahan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus. Mulai dari setia dan tidak egois, berarti:


        • Mengasihi TUHAN lebih dari semua--taat dengar-dengaran kepada perintah TUHAN.
          Jangan mentaati keinginan daging! Akibatnya anjlok. Perintah TUHAN atau kehendak TUHAN adalah rel. Sekalipun sengsara, hanya melihat batu-batu, taati kehendak TUHAN sekalipun sakit bagi daging, apapun resikonya. Biarpun hanya batu-batu, tetapi nanti pasti sampai ke stasiun.


        • Mengasihi sesama seperti diri sendiri bahkan mengasihi musuh.
          Kalau orang yang memusuhi kita harus kita kasihi, apalagi di dalam nikah rumah tangga. Mari, kembali mengasihi. Jangan egois!


      Setia dan berubah--mulai dari tidak egois--sama dengan tubuh Kristus yang hidup dengan Yesus sebagai Kepala yang bertanggung jawab. Setia dan berubah mulai dari dalam nikah; nomor satu yang harus diubahkan adalah jangan ada egois! Kalau masih ada egois, masih ada tabiat daging yang lain.
      Serahkan semuanya kepada Dia, yang penting kita menyediakan tubuh; yaitu tubuh yang suci--hati suci, nikah suci, tabiat suci--dan tubuh yang hidup.

      "Seperti orang dalam keadaan darurat, mungkin di jurang, tidak ada makanan dan minuman, ada yang terluka dan lain-lain. Kalau ada tempat untuk helikopter datang, semua sudah beres. Sediakan tempat untuk helikopter; sediakan tempat untuk Yesus sebagai kepala, semua sudah beres. Kaum muda, tidak usah takut bagaimana masa depan. Orang tua, tidak perlu berpikir bagaimana anaknya nanti. Kita tidak bisa memikirkannya sekarang. Apa yang tidak bisa dipikir, lepaskan, biar Yesus yang berpikir. Kalau Yesus sebagai kepala, Dia yang berjuang bagi kita. Ada penyakit, kalau kita memikirkannya, kita makin stress. Sudah, sediakan tempat saja bagi Yesus. Bukan berarti tidak usah kuliah dan lain-lain; tetap sekolah dan bekerja seperti biasa, tetapi jangan lupa, tempatkan Yesus sebagai kepala. Dia yang bertanggung jawab atas semuanya."


    3. Matius 8 : 23-26
      8:23. Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.
      8:24.
      Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.
      8:25. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "TUHAN, tolonglah, kita binasa."
      8:26. Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.


      Halangan yang ketiga: gelombang dan angin.

      GELOMBANG: pencobaan yang mustahil di segala bidang, yang membuat kita bimbang dan takut--tidak percaya pada kuasa TUHAN--sehingga berharap kepada yang lain. Bisa ke dukun dan lain-lain.

      ANGIN: pengajaran palsu dan gosip-gosip yang membuat bimbang, takut dan mendua hati, sehingga tidak percaya kepada pengajaran benar--pribadi Yesus.

      Tidak percaya pada pribadi Yesus, pasti tidak percaya pada kuasa TUHAN; ini bimbang dan ragu.

      Angin dan gelombang ditiupkan oleh setan dengan kuasa maut untuk menenggelamkan kita semua, sehingga tidak mencapai pelabuhan damai sejahtera--tidak mencapai kesempurnaan mempelai, tidak mencapai Yerusalem baru/kerajaan sorga --tetapi binasa dan tenggelam dalam lautan api dan belerang.

      Hati-hati! Dimulai dengan bimbang. Kalau bimbang, betul-betul tenggelam.

      Yakobus 1 : 6-8
      1:6. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
      1:7. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari TUHAN.
      1:8. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.


      Akibat bimbang dan takut--tidak percaya pada firman pengajaran dan kuasa TUHAN:


      • Akibat yang pertama: seperti lautan yang bergelora--hidupnya tidak pernah tenang, tidak damai sejahtera, selalu letih lesu dan beban berat.


      • Akibat yang kedua: tidak mendapat apa-apa dari TUHAN--kosong.
        Kehidupan yang kosong menjadi sasaran dari roh jahat dan roh najis.

        "Makanya banyak orang yang kerasukan, justru orang Kristen. Seringkali saya mendengar, waktu ikut penataran, dan lain-lain, ada yang kerasukan setan. Banyak terjadi di kampus-kampus, malah orang Kristen yang terkena, karena hidupnya kosong. Berarti dia sedang galau/bimbang seperti di tengah lautan bergelombang. Itu bahaya. Kalau kita galau soal pekerjaan, galau soal pergaulan, itu bagaikan diombang-ambingkan gelombang, tidak pernah menjejak tanah. Lama-lama kerasukan."

        Kosong artinya tidak mengalami pertolongan dan berkat dari TUHAN, tidak mendapat apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa.


      • Akibat ketiga: tenggelam dalam lautan api dan belerang, binasa selamanya.


      Matius 8 : 24
      8:24. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.

      Angin dan gelombang datangnya sekonyong-konyong, artinya tidak bisa diprediksi dengan kepandaian dan pengalaman kita, sebab dari setan.
      Seperti saat rasul Paulus hendak berlayar ke Roma (Kisah Rasul 27:1-13). Sekalipun dia bukan nakhoda, tetapi dia punya wahyu dari TUHAN. Ini pentingnya pembukaan firman, bisa mengerti. Sekalipun tidak paham tentang cuaca dan lain-lain, tetapi wahyu yang memberi hikmat. Rasul Paulus mengatakan ini berbahaya, tidak usah lanjut. Tetapi nakhoda lebih mengandalkan pengalamannya dan seorang lagi menyetujui karena pelabuhan di situ kurang baik untuk musim dingin. Yang satu kepandaian, yang satu keinginan daging. Akhirnya mereka berlayar, dan nampaknya berhasil karena hanya angin sepoi-sepoi. Tetapi dibalik angin sepoi-sepoi, ada angin badai menghancurkan semuanya. Inilah setan, tidak bisa diprediksi.

      Apa yang harus kita perbuat terhadap angin dan gelombang yang datangnya sekonyong-konyong? Kita harus selalu waspada, yaitu Yesus harus selalu ada di dalam perahu kita; kita harus selalu setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN dan kita harus selalu taat dengar-dengaran kepada TUHAN sampai daging tidak bersuara lagi, apapun resikonya.

      "Hubungan kepala dengan tubuh, adalah hubungan kesetiaan. Kepala memerintahkan apa saja, tubuh taat. Harus taat dan setia. Taat saja tetapi tidak setia, tidak bisa."

      Kalau taat dan setia, ada Yesus sebagai kepala. Tenggelam atau tidaknya perahu kita, bukan bergantung pada besar atau kecilnya gelombang dan angin ribut, tetapi bergantung ada tidaknya Yesus di dalam perahu kita. Kalau ada Yesus sebagai kepala, kita tidak akan pernah tenggelam. Harus setia dan taat hari-hari ini.

      Bagaimana cara Yesus menolong?: Yesus tidur [ayat 24], artinya Yesus mati di kayu salib.

      Ibrani 2 : 14-15
      2:14. Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;
      2:15. dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.


      Yesus mati di kayu salib untuk:


      • mengalahkan setan dengan kuasa maut yang adalah sumber dari angin dan gelombang di lautan dunia;
      • menjadi teladan iman bagi kita, yaitu DIAM dan TENANG, supaya kita mengalami kuasa kebangkitan TUHAN.


      Markus 4 : 39
      4:39. Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

      Saat menghadapi apapun, kita harus diam dan tenang sehingga mengalami kuasa kebangkitan dari TUHAN untuk meneduhkan angin dan gelombang.

      "Saya sudah beberapa kali bersaksi. Saya takut, dikira hampir mati, ternyata hanya infeksi tenggorokan. Om Pong hanya berkata: 'tenang dulu.' Satu waktu ada orang yang juga takut mati, dia menelepon saya. Saya sudah punya pengalaman. 'Saya begini Om,' : 'Tenang dulu.' Ternyata tidak apa-apa sampai hari ini dia masih hidup."

      Diam: koreksi diri lewat ketajaman pedang firman.
      Kalau ada dosa, akui kepada TUHAN dan sesama, jika diampuni jangan berbuat dosa lagi. Sesudah bertobat, harus berubah. Misalnya tadi berdusta, berdiam diri, periksa diri lewat firman. Mengaku pada TUHAN, berhenti berbuat dosa, lalu berubah menjadi orang jujur. Bertobat dan berubah, itu berdiam diri.
      Kalau tidak ada dosa tetapi kita disalahkan, tetap berdiam diri, jangan membela diri tetapi tetap menyerah kepada TUHAN. TUHAN yang membela kita.

      Tenang: menguasai diri sehingga tidak berharap kepada yang lain, tetapi hanya percaya dan berharap TUHAN. Percaya dan mempercayakan diri hanya kepada TUHAN, sehingga kita bisa berdoa menyembah kepada Dia dengan hancur hati. Ini yang membuat hati TUHAN tergerak oleh belas kasihan.

      Diam--bertobat dan berubah--dan tenang--berdoa--sama dengan mengulurkan tangan kepada TUHAN; ini menggairahkan TUHAN untuk mengulurkan tangan anugerah yang besar kepada kita.
      Mari, kita banyak diam dan tenang. Bertobat, berubah dan berdoa kepada TUHAN.

      Hasilnya:


      • Matius 8 : 26-27
        8:26. Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.
        8:27. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"


        Hasil yang pertama: semua menjadi teduh, damai sejahtera, enak dan ringan.


      • Matius 14 : 29-32
        14:29. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
        14:30. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "TUHAN, tolonglah aku!"
        14:31. Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
        14:32. Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.


        Hasil yang kedua: terjadi kuasa pengangkatan; mengangkat Petrus dari ketenggelaman. Petrus yang hebat bisa tenggelam, apalagi kita. Kita harus hati-hati!
        Ketenggelaman=


        • Kemerosotan secara jasmani--ekonomi, nilai yang merosot--dipulihkan oleh TUHAN.
          Kemerosotan secara rohani--jatuh dalam dosa--juga dipulihkan oleh TUHAN. Pulang dari tempat ini, kita hidup benar.


        • Kegagalan diangkat menjadi berhasil dan indah pada waktunya.
        • Kemustahilan menjadi tidak mustahil. TUHAN sanggup menolong kita.


        Diangkat artinya juga kita dipakai oleh TUHAN dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir.
        Mari, kita berseru pada TUHAN. Diam dan tenang, koreksi diri dan berdoa, berseru kepada TUHAN dengan hancur hati. Orang tenggelam, bisa hancur hati, itu yang menarik belas kasih TUHAN, itu yang menggairahkan TUHAN untuk menolong kita.


      • Hasil yang ketiga: kita disucikan dan diubahkan sampai sempurna seperti Dia, untuk diangkat ke awan-awan permai.

Mari, pergi ke kebun anggur dan bertolak ke seberang. Layani TUHAN dengan sungguh-sungguh. Memang banyak halangan, tetapi halangan bukan untuk menghancurkan kita, melainkan supaya kita bisa mengulurkan kedua tangan kepada TUHAN. Diam dan tenang; berdoa dengan hancur hati sungguh-sungguh. TUHAN akan mengulurkan tangan kepada kita.

TUHAN memberkati.