[cetak]
Ibadah Raya Surabaya, 23 September 2018 (Minggu Siang)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 8: 1-5
8:1. Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.
8:2. Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh
sangkakala.
8:3. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.
8:4. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
8:5. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka
meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.

Ini adalah pembukaan METERAI KETUJUH.

Dalam kitab wahyu 6, sudah dijelaskan tentang pembukaan meterai pertama sampai keenam, yaitu:

  1. Wahyu 6: 1-2= meterai pertama: kuda putih= kegerakan Roh Kudus hujan akhir (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 13 Maret 2017 sampai Ibadah Doa Malam Surabaya, 10 April 2017).


  2. Wahyu 6: 3-4= meterai kedua: kuda merah padam yang mengambil damai sejahtera (diterangkan mulai dari Ibadah Jumat Agung Surabaya, 14 April 2017 sampai Ibadah Doa Surabaya, 10 Mei 2017).


  3. Wahyu 6: 5-6= meterai ketiga: kuda hitam= kelaparan yang akan terjadi di akhir zaman (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 14 Mei 2017 sampai Ibadah Doa Surabaya, 07 Juli 2017).


  4. Wahyu 6: 7-8= meterai keempat: kuda hijau kuning= maut bergentayangan di bumi (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 16 Juli 2017 sampai Ibadah Raya Surabaya, 27 Agustus 2017).


  5. Wahyu 6: 9-11= meterai kelima= tentang orang-orang yang mati syahid (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 27 Agustus 2017 sampai Ibadah Raya Surabaya, 17 September 2017).
    Mati syahid= mati karena Yesus sampai orang-orang yang mati pada zaman antikris berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun.
    Pada zaman antikris kalau tidak disingkirkan di padang gurun--tidak punya dua sayap burung nasar--, ia harus mengalami siksaan yang dahsyat di bumi ini sampai dipancung kepalanya, setelah itu baru dibangkitkan oleh Tuhan. tetapi hanya sedikit yang lewat jalur sini, karena banyak yang menyembah antikris--mengkhianati Tuhan. Secara tubuh ia tidak apa-apa.

    Lebih baik sekarang kita seperti dipancung oleh pedang firman--dua sayap burung nasar menunjuk pada firman dan Roh Kudus (firman dalam urapan Roh Kudus); firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua--, sehingga sayap bertambah besar--semakin suci, sayap semakin besar--, dan saat antikris berkuasa kita sudah sempurna--sayap sudah maksimal--, dan kita terbang ke padang gurun, kita dipelihara oleh Tuhan selama tiga setengah tahun.


  6. Wahyu 6: 12-17= meterai keenam: terjadi kegoncangan di bumi (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya,24 September 2017 sampai Ibadah Raya Surabaya,26 Agustus 2018).
    Gempa bumi secara jasmani sudah hebat.

    "Kalau ingat peristiwa tsunami, kami belum lama dari Nias. Waktu itu ibadah di lapangan terbuka dan kami tinggal di hotel yang berhadapan dengan lapangan. Saya dengar hotelnya sampai masuk ke dalam sampai lantai tiga. Semoga yang menjaga selamat, saya tidak tahu, karena saat di sana, saya bergurau dengan penjaganya yang masih anak-anak kecil: Ayo nanti datang ibadah: Iya om."

    Ini gempa bumi secara jasmani, nanti gempa bumi rohani lebih dahsyat lagi. Saat terjadi gempa bumi secara jasmani, mungkin tubuh ini mati, tetapi kalau ia sungguh-sungguh dalam Tuhan, ia akan dibangkitkan. Tetapi gempa bumi rohani benar-benar binasa; tubuh, jiwa, dan rohnya mati. Kita harus hati!

Sekarang kita mempelajari tentang meterai ketujuh.

Ayat 2: 'sangkakala'= firman yang keras/firman pengajaran. Firman penginjilan membawa kita percaya Yesus, bertobat, baptis air dan baptis Roh Kudus. Tetapi sesudah itu harus ada makanan keras--firman pengajaran-- untuk mendewasakan kita.

Saat meterai ketujuh dibuka, terjadi dua kejadian yang kontras:

  1. Kehidupan yang sudah mendengar dan dengar-dengaran--menerima--bunyi sangkakala--firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua--akan memiliki kasih Allah (2 loh batu--wahyu 8 terkena pada dua loh batu).
    Kasih Allah menutupi dosa-dosa kita--kita hidup benar dan suci--, dan mendorong kita untuk menyembah Tuhan sampai puncaknya kita mengalami ketenangan setengah jam lamanya di sorga--perhentian di sorga.

    Jadi, kalau mau disucikan dan menyembah Tuhan, kita akan mulai mengalami ketenangan. Selama ada dosa, tidak akan bisa tenang. Misalnya murid menyontek, saat guru lewat sudah tidak tenang.


  2. Ayat 5= kehidupan yang menolak bunyi sangkakala--firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua--, akan mengalami kegoncangan yang semakin dahsyat di bumi, sampai musnah dan binasa.

    Menolak firman penyucian/firman pengajaran= tanpa kasih. Tanpa kesucian tidak akan ada kasih; kalau suci pasti ada kasih Allah. Kaum muda, kalau masa pacaran berkata: Aku mengasihi, lalu minta yang najis, itu bukan kasih, tetapi kasih daging. Kalau kasih Allah justru menjaga kesucian.

Kehidupan kristen memiliki dua pilihan. Di mana kita mau memilih? Kalau memilih pedang firman, sekarang sakit bagi daging, tetapi ada ketenangan. Kalau memilih yang enak bagi daging, tetapi tanpa penyucian, saat dunia goncang, ia akan ikut tergoncang sampai musnah dan binasa.

Maleakhi 3: 18
3:18. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.

Akan ada perbedaan antara orang yang beribadah sungguh-sungguh kepada Tuhan--menerima pedang firman--dengan orang fasik--tidak mau beribadah atau beribadah tetapi menolak firman pengajaran.
Yudas Iskariot adalah murid Yesus, tetapi ia terus menolak firman saat Tuhan menunjukkan dosanya lewat firman yang keras: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku; Kamu sudah bersih, hanya tidak semua, sampai terakhir Tuhan berkata: Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku, tetapi Yudas berkata: Bukan aku. Dia beribadah bersama dengan Tuhan, tetapi menolak pengajaran.

Hati-hati! Orang fasik bukan hanya orang yang tidak mau beribadah, tetapi juga orang yang beribadah tetapi tanpa pedang firman penyucian, dosa dibiarkan, yang penting uang datang dan senang.
Nanti akan ada perbedaan antara yang orang yang sungguh-sungguh dan orang fasik. Di mana perbedaannya?

Maleakhi 4: 1
4:1. Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.

'hari itu datang'= kedatangan Yesus kedua kali.
Tidak sungguh-sungguh beribadah= tidak mau mengalami penyucian; tidak mau ditegor dosanya.
'sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka'= habis semua menjadi abu.

Nasib orang fasik adalah seperti jerami, tidak berguna. Kalau kita beribadah melayani tetapi tanpa kesucian, justru merusak tubuh Kristus, tidak berguna sama sekali
Misalnya tangan, tempatnya sudah benar--sudah beribadah--tetapi keseleo--melayani dengan mempertahankan dosa--, akan mengganggu tubuh; seluruh tubuh sakit.

Ada dosa tetapi tetap melayani sama dengan nekad. Bukan berarti tidak boleh melayani, tetapi sucikan dulu. Jadi saya sudah sempurna? Tidak juga. Karena itu perlu pedang. Ada salah, dan saat kesalahannya ditunjukkan, harus mengaku. Semua akan menjadi enak, dan bisa berguna.
Tetapi kalau keseleo lalu dipaksa melayani, jangankan mengambil air, baru bergerak saja sudah sakit; semua ikut sakit.

Tidak mau beribadah, hati-hati! Tidak akan berguna seperti jerami Beribadah tetapi tetap mempertahankan dosa, juga sama seperti jerami, tidak berguna bagi tubuh Kristus, Tuhan, dan sesama. Hanya seperti jerami biarpun orang berkata: Dia hebat. Ia hanya menunggu untuk dibakar sampai habis sampai jadi abu, tidak ada sisa sama sekali--'tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka'.

Ibadah kita mulai sekarang ini menentukan!--perbedaan itu dimulai dari sekarang.
Maleakhi 4: 2
4:2. Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.

Nama Tuhan =firman Tuhan/janji Tuhan (Mazmur 138: 2: Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu).
Anak lembu= lembu muda.

Orang yang beribadah sungguh-sungguh kepada Tuhan--mau mendengar dan dengar-dengaran pada bunyi sangkakala (firman pengajaran); mau disucikan--, akan berjingkrak-jingkrak seperti lembu muda lepas kandang.

Dari pelajaran soal lembu, ada tiga tingkatan hamba/pelayan Tuhan yang berkenan kepada Tuhan:

  1. Tingkatan pertama: seperti lembu muda lepas kandang.
    Artinya: beribadah melayani Tuhan dengan penuh kesukaan sorga; kesukaan dalam urapan Roh Kudus.

    Tadi, kesucian ada kaitan dengan kasih, sekarang kesucian juga ada kaitan dengan kesukaan. Kesukaan tanpa kesucian sama seperti di alun-alun. Hati-hati! Di dalam rumah Tuhan harus ada penyucian, supaya kesukaannya merupakan kesukaan sorga. Jangan serupa dengan dunia! Kalau serupa dengan dunia, rumah Tuhan akan menjadi sarang penyamun.

    Di dalam penyucian yang berjingkrak-jingkrak adalah ginjalnya--perasaan terdalam--, bukan orangnya; baru bersenandung saja sudah merasakan suasana sorga. Itu yang benar.


  2. Tingkatan kedua: seperti lembu dewasa dicocok hidungnya; tidak bisa bergerak sendiri.
    Artinya: taat dengar-dengaran kepada Tuhan sampai daging tidak bersuara--Abraham taat untuk mempersembahkan anaknya, tetapi Tuhan bertanggung jawab.

    Kalau Tuhan menyuruh kita, Dia yang bertanggung jawab dan menanggung resikonya. Tidak usah berpikir lagi! Tidak usah takut! Kita hanya melakukan kehendak Tuhan, dan pintu sorga akan terbuka bagi kita.


  3. Tingkatan ketiga: seperti lembu tua--tidak bisa membajak lagi, tetapi disembelih di leher. Leher menunjuk pada doa penyembahan--Wahyu 8: 1-4 merupakan doa penyembahan.
    Hubungan Kepala (Yesus) dengan tubuh (kita) yang paling erat adalah leher.

    Lembu tua disembelih artinya: sudah berada dalam puncak penyembahan yaitu mengalami perobekan daging sepenuh; daging tidak bersuara lagi, sehingga


    1. Kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, bukan mencari berkat (egois). Kalau hamba/pelayan Tuhan mencari berkat, ia akan menjadi beban bagi sidang jemaat.

      Kita sudah diberkati untuk menjadi berkat. Kalau belajar pada Harun dan anak-anaknya--imam-imam--, Tuhan berkata: Haruslah kautaruh seluruhnya ke atas telapak tangan Harun dan ke atas telapak tangan anak-anaknya. Artinya: melayani bukan dengan tangan kosong--minta sana sini; menjadi beban--, tetapi menjadi berkat bagi orang lain.


    2. Kita mengalami ketenangan.
      Nanti yang satu mengalami ketenangan sampai di sorga, tetapi yang lain mengalami kegoncangan sampai di neraka.

Pilih yang mana yang mau kita ikuti! Kalau mau tenang, perbaiki ibadah! Yang tidak setia, kembali setia, yang sudah setia, terima firman! Tujuan beribadah adalah untuk menerima firman terutama pedang firman. Firman penginjilan sudah kita terima, sekarang kita mau ke mana? Harus menerima pedang firman.

Orang Israel keluar dari Mesir berjumlah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang--sudah selamat dan diberkati--tetapi yang sampai di Kanaan--kesempurnaan--hanya dua orang yaitu Yosua dan Kaleb.
Kita sudah diberkati, sekarang terima pedang firman, beribadah sungguh-sungguh sampai menjadi lembu muda--berjingkrak-jingkrak--, lembu dewasa--taat--, dan lembu tua yang disembelih--kita berada dalam puncak ibadah pelayanan yaitu penyembahan, dan penyembahan juga masih memuncak sampai tirai terobek, daging tidak bersuara lagi.
Saat itulah kita menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain, dan kita bisa mengalami ketenangan/perhentian setengah jam lamanya di sorga.

Ada tiga tingkatan perhentian:

  1. Sabat kecil= perhentian dalam Roh Kudus; setiap saat harus kita alami. Dulu Sabat pada hari ketujuh saja, sekarang sabat setiap saat.
    Kalau Roh Kudus mengurapi kita, di situlah kita mengalami perhentian. Kalau daging yang menonjol, tidak akan ada perhentian, tetapi kesedihan atau berbuat dosa.


  2. Sabat besar= perhentian dalam kerajaan Seribu Tahun Damai (Firdaus yang akan datang).
  3. Sabat kekal= mulai dari ketenangan setengah jam lamanya, sampai perhentian kekal selamanya.

Jadi, yang menentukan adalah perhentian saat ini--Sabat kecil. Kalau sekarang tidak mengalami perhentian, jangan harap mengalami perhentian di kerajaan Seribu Tahun Damai--sama seperti bersekolah, SD dulu baru bisa masuk SMP.
Kalau mau sampai kerajaan sorga--Sabat kekal--kita harus mengalami Sabat kecil hari-hari ini. Jangan ada iri, kebencian, ketakutan dan lain-lain, tetapi kita berdamai hari-hari ini. Jaga hati damai!

Inilah cara kita mengalami perhentian yaitu harus menyerah sepenuh kepada Tuhan.
Mazmur 31: 6
31:6. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.

Kalau kita mau mengalami perhentian mulai sekarang sampai perhentian kekal di sorga selamanya, kita harus menyerahkan nyawa kepada Tuhan, artinya menyerahkan diri sepenuh kepada Tuhan. Seperti tadi hubungan kepala dengan tubuh adalah leher. Tubuh sudah menemukan kepala; menyerahkan hidupnya kepada kepala, di situlah baru ada ketenangan.
Kalau masih mengandalkan kekuatan sendiri, tidak akan tenang.
Menghadapi apapun, serahkan semua kepada Tuhan!

Bukti menyerahkan nyawa kepada Tuhan--menyerahkan diri sepenuh kepada Tuhan--:

  1. Bukti pertama menyerahkan nyawa kepada Tuhan: menyerahkan segala kekuatiran kepada Tuhan. Kalau mau tenang tidak boleh ada kekuatiran.
    Mazmur 55: 23
    55:23. Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

    Menyerahkan kekuatiran artinya:


    • 'Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah'= hidup dalam kebenaran dan kesetiaan--'carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya.'
      Kalau ada kekuatiran kita tidak akan bisa hidup benar.


    • Tergembala dengan benar dan baik, mulai dari gembala.
      1 Petrus 5: 7=> perikop: gembalakanlah kawanan domba Allah
      5:7. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

      Raja Daud bersaksi: TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Tuhan yang memelihara kita.

      Tergembala artinya masuk di dalam kandang. Mau cari makan di mana? Tidak usah! Kita hanya di kandang, dan gembala yang memberi makan. Tugas kita hanya menjadi hamba Tuhan yang setia-benar dan tergembala, jangan mengambil tugasnya Tuhan.

      Hasilnya:


      1. Secara jasmani: kita akan mengalami 'takkan kekurangan aku.' Tuhan Gembala Agung yang memelihara kita secara berkelimpahan--selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

        Ini bedanya antara yang tergembala dan tidak tergembala. Kalau tidak tergembala, akan jalan-jalan.


      2. Secara rohani: kita mengalami ketenangan/damai sejahtera--'Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang'.
        Serahkan kekuatiran dan kita akan mulai merasakan perhentian, sampai nanti perhentian kekal di sorga.


  2. Bukti kedua menyerahkan nyawa sepenuh kepada kepada Tuhan: menyerahkan diri sepenuh kepada Tuhan.
    Mazmur 131: 1-3
    131:1. Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
    131:2. Sesungguhnya, aku telah
    menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
    131:3.
    Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

    Praktik penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan:


    • 'aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku'= tidak menuntut hal-hal yang terlalu besar atau ajaib tetapi berserah sepenuh kepada kehendak Tuhan. Saya percaya Tuhan bisa mengadakan hal yang ajaib dan hebat, tetapi semua terserah kepada-Nya. Untuk diri kita, sejauh mana Tuhan bekerja, sejauh itu yang kita terima, jangan menuntut yang terlalu besar atau ajaib. Kalau kita menuntut Tuhan, kita akan stres kalau tidak terpenuhi.

      Contoh:Yesus. Ia berdoa: Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. Inilah kehidupan yang menyerah. Kalau menuntut Tuhan, itu bukan menyerah, tetapi memaksa.

      Yakinlah, Tuhan bisa melakukan keajaiban apapun, tetapi harus sesuai dengan kehendak-Nya. Yesus disalib tetap merupakan keajaiban Tuhan, buktinya: setelah disalib, Ia dibangkitkan dan malah dipermuliakan.

      Mari menyerah pada kehendak Tuhan hari-hari ini! Tuhan bisa melakukan semua, tetapi biar kehendak-Nya yang jadi; kita hanya ikut kehendak-Nya.


    • Ayat 2: 'aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku'= diam dan tenang saat menghadapi goncangan-goncangan--seperti Yesus tidur di buritan kapal, lalu murid-murid membangunkan Dia dan Dia berkata: Diam! Tenanglah!.
      Saat goncang jangan ikut goncang, tetapi diam dan tenang, seperti anak disapih--cerai susu.
      Anak yang menyusu pada ibunya lalu dihentikan, jiwanya akan tergoncang. Sulit!

      Mungkin kita disapih dalam bentuk diPHK padahal tidak salah apa-apa, gaji turun, toko tiba-tiba sepi.
      Disapih artinya: diputuskan hubungannya dengan sumber dunia, supaya kita tidak bergantung pada dunia tetapi kasih setia Tuhan. Bukan Dia jahat, tetapi supaya kita tidak bergantung pada dunia yang nanti akan kering dan dikuasai antikris.

      Kasih setia Tuhan tidak berubah selama-lamanya.
      Yesaya 49: 14-15
      49:14. Sion berkata: "TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku."
      49:15. Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya,
      Aku tidak akan melupakan engkau.

      Kasih ibu adalah gambaran lemah dari kasih Allah tetapi sekarang sudah bergeser.
      Kita hanya seperti bayi yang menangis kepada Tuhan; bergantung pada tangan kasih setia Tuhan yang ajaib. Jangan lari atau marah saat disapih, tetapi berbaring dekat ibunya--menangis--!

      Kita menangis, menyerah sepenuh kepada Tuhan, dan Dia akan mengulurkan tangan kasih setia-Nya.
      Dia tidak pernah melupakan kita.

      Hasilnya:


      1. Mazmur 17: 7-8
        17:7. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.
        17:8. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu

        Hasil pertama; tangan kasih setia Tuhan yang ajaib sanggup memeluk kita; memelihara dan melindungi kita secara ajaib di tengah kesulitan dunia dan ketidakberdayaan kita sampai zaman antikris berkuasa di bumi, bahkan sampai hidup kekal.
        Kita menangis dan Dia yang bertanggung jawab.

        Nanti zaman antikris kita akan disapih besar-besaran, karena semuanya sudah kita tinggalkan, tidak bergantung pada itu semua, tetapi sungguh-sungguh bergantung pada kasih setia Tuhan. Atau kalau ketinggalan pada zaman antikris, semua juga akan diblokir. Itu adalah cara Tuhan. Kalau sekarang terlalu bergantung pada toko, gaji, sampai menomorduakan Tuhan, satu waktu harus mengutamakan Tuhan lewat antikris--semua diblokir dan harus memilih antikris atau Tuhan. Kalau memilih Tuhan, ia akan disiksa sampai dipancung kepalanya.

        Lebih baik sekarang kita bergantung pada kasih setia Tuhan. Bukan berarti berhenti bekerja. Kita bekerja yang rajin, tetapi lebih utamakan ibadah pelayanan kepada Tuhan!
        Tenang! Sekalipun kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa, menghadapi hal yang mustahil, masih ada kasih setia Tuhan yang ajaib.


      2. Mazmur 69: 14-15
        69:14. Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia!
        69:15. Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan dari air yang dalam!
        69:15. Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan dari air yang dalam!

        Hasil kedua: tangan kasih setia Tuhan yang besar sanggup menyelesaikan semua masalah yang mustahil.

        Kita hanya bayi, biar tangan kasih setia yang besar yang menyelesaikan semua masalah, mengangkat kita dari ketenggelaman, kejatuhan dosa untuk dipulihkan, kegagalan menjadi berhasil dan indah pada waktunya.


      3. Yesaya 54: 8, 10
        54:8. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu.
        54:10. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.

        Mulai dari ayat 5 menuliskan tentang mempelai: Yesus sebagai Mempelai Pria, dan kita mempelai wanita-Nya; Dia kepala--suami--dan kita tubuh--isteri--yang dihubungkan dengan leher--kasih setia.

        Hasil ketiga: tangan kasih setia Tuhan yang abadi sanggup memberikan ketenangan di tengah gelombang, dan menyucikan serta mengubahkan kita sampai sempurna saat Tuhan datang kembali. Kita layak menyambut kedatangan-Nya kedua kali di awan-awan yang permai, kita bersama Dia selamanya.

Sungguh-sungguh pilihlah ibadah yang benar! Ada bunyi sangkakala--penyucian sungguh-sungguh--supaya kita tenang. Kita bisa menjadi berkat dan menyembah Tuhan--menjadi lembu. Dari muda sudah sungguh-sungguh bersukacita melayani, kemudian dewasa kita taat, sampai tua kita menjadi berkat dan menyembah Tuhan, sampai menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan.

Jangan bergantung pada apapun di dunia. Kita hanya seperti bayi yang disapih; kita bergantung pada kasih setia Tuhan. Kaum muda, untuk masa depan dan lain-lain, serahkan kepada Tuhan. Kita semua banyak kesulitan, banyaklah menangis kepada Tuhan hari-hari ini; berharap pada kasih setia-Nya yang ajaib, besar, dan abadi, yang tidak berubah selama-lamanya. Kita hanya menyembah Dia.

Mungkin kita dalam kegagalan, kesulitan, kekurangan, kemustahilan, kesusahan, penderitaan hari-hari ini, atau sudah berhasil, jangan sombong. Tetap dalam tangan kasih setia Tuhan!
Kalau tidak ada yang tahu, jangan putus asa, itu adalah cara Tuhan supaya kita hanya bergantung kepada Dia. Bukan Dia jahat. Dalam keberhasilan Dia bersama kita, dalam penderitaan Dia tetap bersama kita, supaya kita selalu dekat dengan-Nya.

Mungkin selama ini kita terlalu bergantung pada yang lain.
Mari, pada kesempatan ini kita hanya bergantung pada kasih setia Tuhan; kita mengasihi Tuhan lebih dari semua.

Tuhan memberkati.