[cetak]
Mujizat di dalam firman pengajaran
Oleh: Ibu Juni Lubis (Medan)
Kamis: 31 Desember 2015

Pada kesempatan ini saya mau menyaksikan kasih dan kemurahan Tuhan dalam hidup saya.

Sebenarnya saya masih sangat baru di pengajaran ini. Pertama kali saya mengenal pengajaran pada tahun lalu, waktu Natal. Saya diajak mama untuk mengikuti ibadah natal di Suprapto, dengan gembala pak Editua. Saat itu saya merasa, kok lama sekali ya Firmannya, walaupun sebenarnya saya merasa suka dengan Firman yang disampaikan.

Kemudian mama mengajak lagi untuk beribadah di Suprapto, tapi saya jawab: "Maleslah ma, lama kali Firmannya".
Sampai akhirnya mama mengajak saya untuk mengikuti fellowship pada bulan Januari tahun 2015. Pada saat mendengar Firman yang disampaikan oleh bapak gembala kita, bapak Widjaja Hendra, saya begitu tertarik. Semua firman yang disampaikan oleh bapak gembala adalah ayat menerangkan ayat; semua berasal dari Alkitab; bahkan saya sampai terpukau: "koq bisa ya ???" Kalau bukan karena kemurahan Tuhan, itu takkan mungkin terjadi.
Sehingga pada saat Firman itu disampaikan, saya merasa Yesus sendiri sebagai Gembala Agung yang hadir dan sedang berbicara di hadapan saya.

Itulah awal saya merasakan mujizat terbesar dalam hidup saya, yaitu keubahan hidup. Sejak saat itu saya putuskan untuk melayani, dan melayani Tuhan lebih sungguh lagi.
Selain mujizat rohani yang saya rasakan, saya alami mujizat jasmani. Pada awal tergembala, saya mengalami kendala pada saat menyembah, karena kedua lutut saya pernah retak saat berolahraga. Jangankan untuk berlutut, ditekuk saja sudah sakit sekali.

Kemudian saya berdoa kepada Tuhan, memohon agar cedera lutut ini tidak menjadi penghalang bagi saya untuk menyembah Tuhan. Dan Tuhan jawab doa saya. Hasilnya: jangankan ditekuk, berlutut berjam-jam untuk menyembah Tuhan, sudah tidak ada masalah lagi, sampai sekarang. Haleluya.

Berkat Tuhan tidak hanya kepada kita saja, tetapi sampai kepada anak cucu kita. Hal itu saya alami, dengan anak saya yang paling kecil, Louis.

Louis didiagnosa dokter menderita amandel kronis, setiap bulan dia harus ke dokter THT, karena demam tinggi dan sakit saat menelan akibat dari radang amandel yang dideritanya. Setiap bulan juga, ia harus mengkonsumsi antibiotik untuk mengatasi radang tersebut, tapi tidak bertahan lama--tidak sampai sebulan kumat lagi. Dan akhirnya dokter mengharuskan Louis operasi amandel, karena sudah tingkat kronis, antibiotik yang diberikan hanya untuk mengatasi sementara saja, dan jika amandel tersebut masih dipertahankan dikhawatirkan amandel tersebut akan menjadi tempat bersarang kuman-kuman penyakit.

Dan benar setelah obat yang diberikan oleh dokter habis, tidak berapa lama radangnya kambuh lagi. Saya sangat bingung dan takut, saat itu Louis demam tinggi, terkulai lemas di tempat tidurnya. Saya menyembah Tuhan dengan hancur hati, berserah sepenuh kepada Tuhan. Saya berpuasa selama 3 hari memohon belas kasih dan pertolongan Tuhan.

Louis terakhir ke dokter bulan Desember tahun lalu, dan puji Tuhan sampai di penghujung Desember 2015 ini, radang amandel Louis sama sekali tidak pernah kambuh lagi dan Louis tidak dioperasi.

Demikianlah kesaksian saya dan banyak kemurahan Tuhan yang sudah saya alami sampai hari ini. Semoga kesaksian saya ini bisa menjadi berkat bagi kita semua.

Haleluya.