Dalam Kandang Penggembalaan, Tidak Ada yang Mustahil bagi Tuhan ( NN, Malang )

Saya mau bersaksi tentang pertolongan Tuhan atas semua masalah saya yang mustahil. Pada bulan November 2018, suami saya tidak mendapat perpanjangan kontrak kerja, sehingga suami saya tidak ada gaji lagi. Selama ini, gaji yang sedikit itu sangat pas-pasan untuk kebutuhan hidup keluarga saya. Saya tidak bisa berpikir, bagaimana saya harus hidup, membayar uang sekolah kedua anak saya, membayar rekening-rekening, dll. Secara pribadi saya juga tidak punya kepandaian atau keahlian apapun dan saya tidak tahu harus kerja apa. Saya merasa tidak mampu apa-apa. Saya hanya ingat Firman yang menyatakan bahwa dalam kandang penggembalaan sudah tercakup semua kebutuhan kita.

Pada bulan Desember 2018, saya harus melunasi uang sekolah anak saya supaya bisa ikut ujian akhir semester 1. Saya berdoa mohon Tuhan membuka jalan, dan Tuhan mendengar doa saya. Tuhan menyelesaikan semua tanggungan uang sekolah kedua anak saya sehingga mereka bisa mengikuti ujian dan menerima rapor.

Pada bulan Februari 2019, saya harus membayar kekurangan uang sewa (kontrak) rumah yang berakhir pada bulan April 2019. Saya berpikir, "Untuk makan saja, saya bertahan dengan apa adanya, uang sekolah anak juga saya tidak mampu membayar. Lalu dari mana saya harus membayar uang kontrakan rumah?" Saya hanya berdoa, menangis, dan mengeluh, di mana saya dan anak-anak harus tinggal? Tetapi, Tuhan mengingatkan dalam hati saya, kalau Tuhan sudah menyediakan kandang penggembalaan, saya bisa duduk dan mantap untuk mendengar Firman dengan berlimpah-limpah sampai puas, masakan rumah yang jasmani tidak bisa disediakan oleh Tuhan. Tuhan sungguh tidak menipu, tanpa saya meminta-minta pada manusia siapapun, Tuhan menyediakan dan menyelesaikan tagihan uang kontrakan rumah dalam beberapa hari saja. Saya benar-benar mengalami Firman yang sering saya dengar, bahwa Tuhan mampu menyelesaikan masalah yang mustahil, lebih mudah dari pada membalikkan telapak tangan.

Pada bulan Mei 2019, saya harus kembali membayar uang sekolah anak supaya mereka dapat ikut ujian akhir semester 2. Saya kembali memohon belas kasih Tuhan. Untuk merawat dan memelihara anak-anak saja saya tidak mampu, apalagi untuk menyekolahkan. Saya merasa gagal menjadi orang tua, tidak bisa memberi makan yang baik, apalagi untuk masa depan mereka. Saya juga harus membayar sewa rumah untuk tahun 2019-2020, dan saya diberi batas waktu hanya 4 hari, atau saya harus meninggalkan rumah kontrakan tersebut. Saya berusaha tetap tekun tergembala, hanya percaya dan mempercayakan diri sepenuh pada Tuhan. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, saya seperti menghadapi Laut Kolsom di depan dan Firaun yang mengejar dari belakang, sementara kanan dan kiri adalah padang gurun. Saya hanya mohon mujizat Tuhan. Tuhan bekerja dengan caraNya yang ajaib, Tuhan menyelesaikan masalah saya satu per satu. Uang kontrakan, Tuhan selesaikan. Uang sekolah kedua anak saya, Tuhan sediakan. Bahkan, uang daftar ulang juga Tuhan sediakan tepat pada waktuNya. Sungguh semuanya mustahil bagi saya, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, bahkan Tuhan memberi bonus, saya bisa merenovasi rumah saya yang bocor dengan sangat baik.

Saya berjanji pada Tuhan, kalau saya bisa membayar daftar ulang sekolah anak, saya akan bersaksi. Sungguh saya merasa Tuhan mengasihi saya, memperhatikan saya, langkah hidup saya adalah langkah-langkah mujizat. Saya bersyukur bisa tergembala dalam tiga macam ibadah, saya bisa kuat menghadapi semua masalah saya. Semua hanya dari kemurahan Tuhan yang besar bagi saya. Semoga kesaksian ini bisa menjadi berkat. Amin.