Kalau bisa berserah dan taat, Tuhan yang akan bekerja ( Sdri. Lilian Krisnanda (Surabaya) )

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan Yesus Kristus, saya ingin menyaksikan cinta kasih Tuhan yang telah saya rasakan selama kuliah di semester ini.

Semester kemarin (semester 3), saya mengikuti kepanitiaan A yang kegiatannya dilaksanakan pada bulan Mei kemarin. Pada bulan Februari, saya mendaftar lagi kepanitiaan B untuk kegiatan ospek mahasiswa baru yang dilaksanakan bulan Juli-Agustus. Secara bersamaan, saya mendapat tawaran proyek design kecil dari teman saya, dan iyakan, karena saya pikir "wah lumayan ada kesempatan sekalian juga buat nanti di portfolio". Sesuai perjanjian, proyek ini harus diselesaikan awal bulan Mei. Berdasarkan perhitungan, saya masih bisa membagi waktu dan seharusnya tidak bertubrukan dengan deadline tugas kuliah dan panitia.

Tetapi semua diluar perkiraan saya. Mulai bulan Maret hingga Mei akhir, tugas kuliah, kepanitiaan A B, dan proyek deadlinenya menumpuk karena ada beberapa deadline tugas kuliah yang dimajukan. Awalnya saya masih mengandalkan kekuatan saya sendiri, sampai di satu titik, sudah tidak mampu lagi dan tidak tahu harus mengerjakan yang mana dulu. Di situ Firman Tuhan mengingatkan kalau sudah tidak mampu, ya sudah tinggal berserah, banyak berdoa, supaya Tuhan yang bekerja. Kalau masih mengandalkan diri sendiri, Tuhan lipat tangan. Puji Tuhan, lewat pertolongan Tuhan, kepanitiaan A, proyek, dan tugas kuliah yang deadline di bulan Mei semuanya dapat terselesaikan dengan baik.

  Berlanjut ke masa UAS. Ada 2 mata kuliah yang saya terpaksa mengumpulkan UAS terlambat dikarenakan ada kendala. Mata kuliah pertama, deadline pengumpulan seharusnya senin malam, tapi sejak sore hingga dekat deadline, laptop saya crash terus saat render. Bahkan setelah lewat deadline, masih tidak bisa. Akhirnya saya mencoba menggunakan laptop lain yang belum ada aplikasinya dan harus menunggu install dari awal yang memakan waktu cukup lama.

Saya gelisah, karena ini tugas UAS, kalau terlambat kumpul pasti pengurangan nilainya signifikan. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa, barangkali ada belas kasih dari dosen mengenai nilainya. Install aplikasi baru selesai sekitar setengah 4 pagi, dan saya segera mengerjakan render dan berkas sisanya. Saat akan pengumpulan, saya pikir "ah sudahlah langsung kumpul saja, tidak perlu lapor ke dosennya, karena ya pasti nanti dikurangi nilainya".

Tapi orang tua mengingatkan "sudah, bilang saja ke dosennya, cerita apa adanya, masalah nanti diberi dispensasi atau tidak, ya sudah, karena kan memang terlambat mengumpulkan." Awalnya saya masih membantah tapi akhirnya saya menuruti, dan jawaban dosen diluar dugaan saya. Dosen tidak mempermasalahkan mengenai pengumpulan dan menjawab dengan baik, padahal saat itu posisi masih subuh.

Hal serupa terjadi juga pada mata kuliah kedua. Tugas UAS ini berkelompok dan sudah bagi tugas dengan anggota lainnya. Ada 5 file yang harus dikumpulkan. Singkat cerita, hingga keesokan hari setelah lewat deadline, ada 1 file yang belum dikumpulkan (bagian teman saya). Di chat, telpon, tidak ada yang dibalas ataupun diangkat.

Saya panik dan akhirnya segera mengerjakan 1 file tersebut dari awal. Saya takut saat akan menghubungi dosen yang bersangkutan karena terkenal kurang bisa kompromi mengenai deadline dan sudah ada peringatan jika terlambat mengumpulkan tidak akan dinilai.

Lagi-lagi ketaatan saya diuji, karena orang tua bilang, "sudah, hubungi saja, cerita apa adanya, siapa tahu dosennya ada jalan keluar". Akhirnya saya hubungi setelah maju mundur. Hal yang saya takutkan tidak terjadi, malah dosennya memberi jawaban yang di luar dugaan"sudah gapapa, nanti kamu kumpulkan, tapi yang tidak ikut kerja tidak usah dimasukkan namanya, tidak usah takut".

Melalui dua mata kuliah ini saya hanya berpikir "kok bisa?" Padahal jelas-jelas ini UAS, tapi dosennya memberi dispensasi mengenai pengumpulan. Dan setelah nilai semester ini keluar, saya semakin "kok bisa?" dan sangat bersyukur. Nilai IPS (indeks prestasi semester) yang saya dapatkan semester ini bisa lebih tinggi dari pada semester pertama, padahal jika dipikir secara logika tidak mungkin, karena beban kuliah yang jauh lebih berat semester ini.

Dari pengalaman ini saya diingatkan, bahwa selama masih mengandalkan logika dan kemampuan sendiri, ya benar-benar berjuang sendiri sampai setengah mati, Tuhan hanya duduk diam. Tapi kalau bisa berserah dan taat, Tuhan yang akan bekerja, yang saya anggap mustahil, tapi bagi Tuhan lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.

Semoga kesaksian saya bisa menjadi berkat. Tuhan memberkati.