Kuasa Hidup Tergembala ( Wita Mertes (Jerman) )

Selamat malam buat kita semua. Pertama-tama saya mengucapkan syukur kepada Tuhan yang mana masih memberikan kesempatan buat kita yang tergembala jarak jauh untuk boleh bersaksi lewat internet siaran langsung ini. Dan terima kasih juga untuk waktu yang diberikan. Sebenarnya saya sudah lama merindukan untuk bisa bersaksi seperti ini, tapi tadinya saya tidak tahu bagaimana caranya. Lalu saya bergumul dalam doa. Pada awal bulan Desember yang lalu kalau tidak salah, tanpa saya ada rencana untuk membicarakan hal ini dengan tim computer di Malang, Tuhan ijinkan saya di saat Ibadah di hari Minggu, chatting dengan Yohan dan tim computer di Malang untuk menanyakan apa bisa buat para pendengar siaran langsung melalui MSN juga bersaksi dan mereka katakan mungkin bisa dan coba ditest. Ternyata puji Tuhan bisa berjalan. Saya bersyukur ternyata Tuhan sudah menolong membuka jalan untuk kerinduan saya ini sehingga saat ini saya bisa bersaksi.

Kesaksian yang berikut ini, saya mau menyaksikan bagaimana kuasa firman penggembalaan yang sudah bekerja di dalam kehidupan saya secara pribadi. Semenjak saya masuk di dalam kandang penggembalaan, firman Tuhan banyak mengoreksi dan menegur saya. Seperti sebuah cermin yang dihadapkan di depan wajah, sehingga saya bisa melihat keberadaan dan gambar saya yang sebenarnya. Begitu banyak kekurangan, kelemahan, dosa-dosa, dan cacat cela, serta ketidaklayakan. Tetapi melalui firman penggembalaan yang diulang-ulang, saya mulai diubahkan sedikit demi sedikit dari tabiat kedagingan. Sehingga saya mulai mendapat kepekaan dan kekuatan ekstra untuk bisa lebih percaya, mengerti kehendak Tuhan, bahkan mampu mempraktekkan pembukaan firman Tuhan yang saya terima dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu di rumah tangga, di pekerjaan, di manapun Tuhan ijinkan saya berada. Walaupun dengan banyak tantangan, halangan, rintangan, serta goncangan, bahkan banyak resiko yang harus saya hadapi. Tetapi tangan penyertaan Tuhan memberi pertolongan, jawaban, pembelaan, dan kemenangan-kemenangan atas semuanya.

Lewat pekerjaan pedang firman penyucian ini, kehidupan saya secara pribadi dibereskan, dan saya dimampukan untuk lebih banyak menyerah, berharap, dan mengutamakan Tuhan, serta berdiam diri lebih banyak lagi. Posisi saya sebagai istri juga mulai diperbaiki, saya mulai belajar merendahkan diri, mengampuni, tunduk dan patuh kepada suami, yang selama ini saya tidak sadari ternyata saya kurang tunduk dan mau menang sendiri. Begitu juga posisi saya sebagai ibu, mulai bisa mengendalikan kemarahan yang meledak-ledak selama ini saat menghadapi kenakalan anak-anak saya. Dan memang hasilnya sekarang saya mulai rasakan, bahwa hidup tergembala itu membawa kepuasan, kebahagiaan, dan ketenangan. Bahkan saya mulai mengecap manisnya air anggur dalam rumah tangga, walaupun itu baru seteguk. Tapi saya percaya janji firman Tuhan dalam Pengkhotbah 3:11, bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya, asal saya tetap berusaha setia dan menjaga kesucian di dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan.

Memang hanya di dalam kandang penggembalaan saja tempat di mana kita bisa disucikan, seperti tertulis dalam Imamat 21:12. Dan hanya oleh injil kemuliaan sajalah yang sanggup menyucikan kita untuk masuk dalam kesempurnaan. Meskipun saya di sini sendiri, tergembala melalui internet, justru saya malah menjadi hati-hati dan juga merasakan pertanggungjawaban saya secara pribadi kepada Tuhan lebih berat lagi karena tak seorangpun yang bisa tahu atau melihat apakah saya setia beribadah atau tidak, tetapi Tuhan melihat apa yang saya lakukan. Saya juga bersyukur untuk keberadaan saya saat ini seorang diri di dalam penggembalaan, tetapi saya percaya saya tidak pernah ditinggalkan sendiri sebab Tuhan selalu memperhatikan. Dan saya juga semakin merasakan bagaimana penyertaan tangan Tuhan yang sudah dinyatakan buat saya dan rumah tangga di sepanjang tahun ini. Sesuai dengan janji firman Tuhan tutup dan buka tahun 2007-2008, bahwa tahun 2008 adalah tahun penyertaan Tuhan.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu Gembala yang sudah banyak mendukung saya dalam doa penyautannya, begitu juga untuk semua yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu. Biarlah Tuhan yang membalas semua kebaikannya. Demikianlah kesaksian saya, semoga menjadi berkat bagi kita semua.