English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 27 Juni 2016 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 15 Mei 2016 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 4:1
4:1 Kemudian dari pada itu...

Ibadah Natal Surabaya, 20 Desember 2010 (Senin Sore)
Matius 25: 31-34
25:31. "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam...

Ibadah Raya Malang, 20 Desember 2009 (Minggu Pagi)
Matius 24:36-44 adalah nubuat tentang hukuman atas dunia saat kedatangan Tuhan...

Ibadah Doa Malam Surabaya, 30 Agustus 2019 (Jumat Malam)
Wahyu 10 dalam susunan Tabernakel terkena pada tujuh kali percikan darah di atas tutup pendamaian.
Ada dua kali...

Ibadah Doa Semalam Suntuk Session I Malang, 08 Juli 2010 (Kamis Malam)
Keluaran 29: 1
29:1. "Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang...

Ibadah Raya Malang, 15 Oktober 2017 (Minggu Pagi)
IBADAH PENYERAHAN ANAK

Salah satu arti dari "Abigail" adalah kegembiraan atau kebahagiaan Sorga.

Mazmur 32:1
32:1 Dari...

Ibadah Doa Malang, 14 Desember 2017 (Kamis Sore)
Bersamaan dengan Ibadah Doa Puasa Session III

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus....

Ibadah Raya Malang, 20 Juli 2014 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 1:16
1:16 Dan di tangan kanan-Nya...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 17 April 2012 (Selasa Sore)
(Ibadah Doa dialihkan pada hari Kamis, 19 April 2012)

Ibadah Raya Surabaya, 02 Mei 2010 (Minggu Sore)
Matius 25: 1, 13
25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis,...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 16 Mei 2019 (Kamis Sore)
Siaran Tunda Ibadah Persekutuan di Medan

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 19:9
19:9...

Ibadah Doa Surabaya, 13 September 2019 (Jumat Sore)
Bersamaan dengan penataran imam dan calon imam III

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat mendengarkan...

Ibadah Raya Malang, 17 September 2017 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 10 Oktober 2020 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 16: 10-18
Perikop: setia dalam perkara kecil.
Di dalam ayat...


TRANSKRIP LENGKAP

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 Desember 2014)
Tayang: 16 Juni 2020
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 30 November 2014)
Tayang: 16 Juni 2020
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Paskah Persekutuan II di Square Ballroom Surabaya, 01 Juni 2017 (Kamis Pagi)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian..

Tema: angka Sepuluh; sekaligus memperingati ulang tahun penggembalaan GPT Kristus Kasih WR Supratman 4 Surabaya yang kesepuluh.
Kita sudah mendengar tema angka sepuluh dikaitkan dengan anak domba Paskah; karena ini juga ibadah Paskah pesekutuan.

Pagi ini, angka sepuluh dikaitkan dengan DUA LOH BATU; sepuluh hukum Allah; sama dengan kasih.

"Ini pesan Tuhan terutama kepada kami GPT Kristus Kasih WR Supratman 4 Surabaya, supaya sungguh-sungguh ada tanda darah/pendamaian (anak domba Paskah), dan harus punya dua loh batu (kasih)."

Keluaran 24: 12, 18
24:12. TUHAN berfirman kepada Musa: "Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka."
24:18. Masuklah Musa ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya.

Keluaran 25: 1-2, 8
25:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
25:2. "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu.
25:8. Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.

Tempat Kudus= Kemah Suci= Tabernakel.

Keluaran 31: 18
31:18. Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.

Dari pembacaan ini bisa disimpulkan, di atas gunung Sinai Musa menerima dua hal dari Tuhan--yang dikenal gereja hanya satu yaitu dua loh batu--:


  1. Petunjuk dan perintah untuk membuat Kemah Suci/Tabernakel.
  2. Dua loh batu.

Tabernakel yang dibangun Musa dan dua loh batu secara jasmani sudah lenyap/hancur, tetapi yang ada sekarang adalah dalam arti rohaninya (Keluaran 24: 12: 'untuk diajarkan kepada mereka') yaitu pengajaran Tabernakel dan mempelai--dua loh batu menunjuk pada kasih, itulah mempelai--, yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
Tanpa dua loh batu, Tabernakel kosong; tidak ada artinya. Dua loh batu tanpa Tabernakel, mau ditaruh di mana? Tidak bisa juga.

Jadi, kedua-duanya tidak bisa dipisahkan. Pengajaran Tabernakel dan mempelai sama dengan sebilah pedang tajam bermata dua; kabar mempelai dalam terang Tabernakel--ini yang diproklamirkan oleh Pdt. In Juwono bersama hamba-hamba Tuhan lainnya.

"Ada kabar baik/penginjilan. Dulu saya sekeluarga tidak pecaya Tuhan, tetapi karena penginjilan bisa percaya dan diselamatkan. Tetapi harus meningkat pada kabar mempelai dalam terang Tabernakel untuk mendewasakan rohani kita sampai sempurna seperti Tuhan."

"Pengajaran Tabernakel dan mempelai atau kabar mempelai dalam terang Tabernakel bukan pengetahuan atau ilmiah, tetapi ilham/wahyu dari Tuhan kepada Pdt. F.G van Gessel (alm.), sesuai dengan apa yang dilihat oleh Musa di atas gunung Sinai. Dengarkan, ini yang sering tidak disebutkan!
Dari mana tahu kalau sesuai dengan apa yang dilihat Musa di atas gunung Sinai? Karena menggunakan ayat-ayat dalam kitab Keluaran yang ditulis oleh Musa. Dari situlah wahyu Tuhan kepada Pdt. van Gessel. Wahyu adalah pembukaan firman, berdasarkan ayat-ayat di dalam kitab Keluaran itu sendiri, bukan dari diri sendiri; ayat yang satu menerangkan ayat yang lain dalam kitab Keluaran dan seluruh alkitab. Jelas, tidak mungkin salah, bahkan tidak bisa salah. Kalau ayat salah, kita tidak sempurna. Orangnya bisa salah, tetapi ayat firman Tuhan tidak bisa salah. Petrus menulis surat Petrus, orangnya bisa salah, ia menyangkal Tuhan, tetapi wahyu yang dia terima tidak bisa salah. Kalau salah kita tidak bisa masuk sorga semuanya.

Untuk menyebarkan kabar mempelai dalam terang Tabernakel, Pdt. In Juwono (alm.)--salah satu murid langsung dari Pdt. van Gessel--mengadakan PPI (Ibadah-ibadah penyegaran iman), dan mendirikan Lempin-El "Kristus Ajaib" (Lembaga Pendidikan Elkitab "Kristus Ajaib") pada tahun 1968 di Jalan Johor 47 Surabaya; dari angkatan I sampai XVI, kemudian beliau dipanggil Tuhan. Tujuannya untuk menyebarkan kabar mempelai. Siswa-siswi Lempin-El dididik utuk menyebarkan kabar mempelai, supaya cepat.
Ini salah satu murid langsung dari Pdt. van Gessel; juga ada keluarga dari Pdt. Kilala dari Bondowoso--ibu Pdt. Kilala satu angkatan dengan Pdt. In Juwono--, dan Pdt. Y.S Adi Widjaja (alm.) juga satu angkatan dengan Pdt. In Juwono. 

Setelah Pdt. In Juwono meninggal pada tahun 1989, PPI dan Lempin-El "Kristus Ajaib" dilanjutkan oleh Pdt. Pong Dongalemba--murid langsung dari Pdt. In Juwono--, tetap di Jalan Johor 47 Surabaya; angkatan XVII sampai XXVI. Angkatan XXVI ini ada istimewanya. Saya mengajar mulai angkatan XIX sebagai guru kebersihan, kemudian angkatan XX dan XXI sebagai guru pengganti kalau Pdt. Pong tidak bisa mengajar. Angkatan XXII, saya mulai jadi guru tetap, mengajar surat Kolose. Angkatan XXIV saya dipanggil, saya tidak menyangka, beliau katakan: 'Kamu catatan apa paling lengkap?': 'Keluaran': 'Kalau begitu kamu mengajar Tabernakel.' Saya kaget. Jadi beliau mengalihkan pengajaran Tabernakel kepada saya.

Setiap saya mengajar, beliau bersepeda (olahraga) di depan kelas sambil menguping apa yang saya ajarkan. Kemudian angkatan XXVI ini istimewa, karena saya guru baru, jadi agak lambat mengajar. Lalu saya katakan: 'Pa, saya tidak bisa menyelesaikan.': 'Lho, bagaimana?': 'Saya bawa ke Malang saja, satu minggu saya tamatkan di sana saja.'
Beliau izinkan sehingga angkatan XXVI satu minggu ada di Malang. Setelah itu saya lapor lagi: 'Sudah selesai, muridnya yang KO, saya bangunkan pagi, siang, malam.' Om Pong tertawa: 'Dia sudah senang mengajar, dia sudah tahu enaknya mengajar.'

Lalu beliau meninggal tahun 2002. Setelah itu tidak ada lagi Lempin-El "Kristus Ajaib" karena pada tahun 2003 para hamba Tuhan senior di GPT mendirikan sekolah-sekolah alkitab. Sudah masuk di Bimas Kristen Jawa Timur. Jadi bagaimana tentang Lempin-El? Karena saya ini guru, kalau ditanya: Alumni mana?: Tidak ada. Bahaya ini! Pendeta kok tidak punya sekolah. Jadi kami reuni di Malang tahun 2003 angkatan I sampai XXVI setelah sekolah alkitab terbentuk semua dan tidak ada yang melanjutkan Lempin-El. Lalu dikatakan: Harus ada Lempin-El! Terserah saja, dan mereka suruh di Malang. Jadi saya kirim surat kepada beliau-beliau semua bahwa kami akan melanjutkan Lempin-El yang sudah dirintis oleh Pdt. In Juwono dan Pdt. Pong. Ada yang menanggapi, ada yang tidak. Salah satu guru, Pdt. Sadrakh (alm.) menjawab: 'Silahkan Pak Wi, tetapi saya tidak bisa mengajar lagi karena sakit.' Juga ada guru sejarah gereja, Pdm. Yakub Joko Basuki: 'Silahkan, bagus itu.' 

Mulai tahun 2004, angkatan XXVII, Lempin-El dilanjutkan di Simpang Borobudur 27 Malang, sampai sekarang angkatan XXXIX. Juga tahun 2010 dan 2011 ada angkatan khusus hamba-hamba Tuhan.
Itulah sejarah singkat dari Lembaga Pendidikan Elkitab "Kristus Ajaib", yang sampai sekarang sudah menghasilkan seribu lima ratus lebih hamba Tuhan.

Ini juga ibadah pembukaan Lempin-El angkatan XXXIX.
Mengapa ada Lempin-El? Untuk khusus menyebarkan kabar mempelai dan Tabernakel, bukan yang lain. Sudah didaftarkan di Bimas Kristen.
"

Kabar mempelai dalam terang Tabernakel adalah firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua, yang terutama mengungkapkan tentang kedatangan Yesus kedua kali dalam kemuliaan sebagai Raja segala raja dan Mempelai Pria Sorga, bukan sebagai bayi lagi, dan sekaligus mengungkapkan dosa-dosa sampai puncaknya dosa yang tersembunyi di dalam sidang jemaat; untuk menyucikan dan mengubahkan kita sampai menjadi imam-imam dan raja-raja, hamba Tuhan/pelayan Tuhan yang dipakai oleh Tuhan dalam pembangunan tubuh Kristus.

Seorang hamba Tuhan dituntut kesuciannya. Jadi pedang ini benar-benar memotong dosa-dosa supaya suci, tetapi juga mengubahkan sampai sempurna, sama mulia dengan Tuhan; tidak cukup hanya menjadi imam dan raja, tetapi sampai sempurna, sama mulia dengan Yesus Mempelai Pria Sorga. Kita menjadi mempelai wanita sorga; Dia Kepala/Suami, dan kita tubuh/isteri yang sempurna untuk layak menyambut kedatangan-Nya kedua kali di awan-awan yang permai.

Jadi, MENERIMA KABAR MEMPELAI DALAM TERANG TABERNAKEL SAMA DENGAN MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENERIMA KEDATANGAN YESUS KEDUA KALI DI AWAN-AWAN YANG PERMAI.

Bagaimana sikap kita menerima kabar mempelai sama dengan sikap kita untuk menerima kedatangan Yesus kedua kali. Kalau mengantuk saat mendengar kabar mempelai, bosan, bahkan menolak, nanti akan mengantuk saat Yesus datang dan itu berarti ketinggalan. Sekarang menolak kabar mempelai, nanti akan ditolak saat Yesus datang kembali.

"Saya selalu mengajarkan, saya tidak setuju kalau orang bilang: itu urusan nanti. Karena saya guru. Tidak mungkin murid berkata: urusan naik kelas urusan nanti. Urusan sekarang! Kalau nilainya 8 terus, pasti naik; kalau nilainya 3, pasti tidak naik. Urusan sekarang! Bagaimana kita menerima kabar mempelai, itu sama dengan bagaimana kita menerima kedatangan Yesus kedua kali. Kalau kita menerima sepenuhnya, mau disucikan dan diubahkan, yakinlah kita akan diterima saat Yesus datang; tetapi kalau menolak, kritik firman, yakinlah kita akan ditolak saat Yesus datang."

Untuk bisa menerima kabar mempelai dalam terang Tabernakel, yang sama dengan menerima Yesus yang datang kembali, harus diperhatikan dua hal:

  1. Yang pertama: waktu Musa menerima dua loh batu dan Tabernakel, ia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam.
    Dia berpuasa secara fisik, tidak makan dan minum.

    "Lempin-El memang diajar berpuasa. Itu harus. Tetapi yang dimaksud di sini lebih dari itu."

    Angka 40 menunjuk pada perobekan daging/penyaliban daging.
    Artinya: kalau kita mau menerima kabar mempelai/kedatangan Yesus, harus ada perobekan daging yaitu tidak makan dan minum.

    Makan dan minum itu kebutuhan pokok yang tidak bisa digantikan oleh apapun.
    Tidak boleh makan dan minum, artinya:


    • Tidak boleh dipengaruhi oleh kehidupan sehari-hari di dunia, supaya kita bisa hidup benar dan suci.
      Pengaruh dunia ini terlalu banyak.

      "Karena itu di Lempin-El kaget, pertama datang dikasih enak dulu, boleh pegang handphone, setelah itu handphone dikumpulkan dan baru boleh diambil setelah lulus. Kalau ada handphone, apalagi dengan pacarnya, sudah tidak suci, mana bisa menerima kabar mempelai? Supaya hidup benar dan suci, tidak boleh ada hubungan dengan dunia luar. Tidak boleh jajan. Ada juga yang pengakuan kalau sudah beli pisang goreng. Bukan berarti punya handphone itu tidak benar dan suci, tetapi kita membatasi, jangan sampai suami berhubungan dengan perempuan lain lewat handphone: Sudah makan? Untuk apa tanya-tanya? Tidak makanpun tidak bisa kirim. Kalau banyak basa basi nanti tertangkap basah sungguh. Jaga! Kalau kita hamba Tuhan, handphone untuk keperluan pelayanan: mendoakan orang, bukan untuk bergosip. Simpan menitnya untuk mendoakan orang!"


    • Tidak makan empat puluh hari empat puluh malam artinya: daging dalam keadaan lemah= tidak bisa lagi menggunakan kekuatan, kemampuan, kepandaian, kekayaan dan pikiran daging, tetapi hanya menggunakan iman.
      Inilah menerima kabar mempelai, yaitu hanya menggunakan iman dan penyerahan sepenuh dalam tangan Tuhan/urapan Roh Kudus.

      Nikodemus pandai--sarjana agama--, tetapi baru soal baptisan saja tidak mengerti.

      "Karena itu saya bilang pada Lempin-El, mau sarjana silahkan, tetapi jangan sombong! Nikodemus pandai, tetapi tidak bisa mengerti baptisan air, padahal Tuhan belum bicara soal kesempurnaan."

      Karena itu gunakan iman dan penyerahan sepenuh dalam tangan Tuhan; dalam urapan Roh Kudus! Justru inilah letak keadilan Tuhan. Kalau belajar Tabernakel dan mempelai harus pintar, ada yang tidak bisa masuk.

      "Itulah hikmat Pdt. In Juwono yang tidak bisa dilawan. Saya baru sadar, sekalipun beliau bukan guru di dunia, tetapi beliau lebih hebat dari guru di dunia. Lembaga itu tidak mengikat, kalau sekolah alkitab, mengikat. Kalau sekolah alkitab, gurunya harus sarjana, dan yang diajar juga harus SMA; kalau tidak, itu sekolah palsu--orang tidak tamat SD sudah bisa kuliah. Tetapi kalau lembaga, terserah. Yang mengajar doktor, boleh, yang diajar doktor, boleh, terserah. Itu lembaga pendidikan. Inilah keadilan Tuhan yang tidak tergantung pada apapun. Karena itu ada yang tidak lulus SD, boleh jadi siswa-siswi, lulus SD, boleh, lulus S1 ada, S2 ada, S3 ada. Bebas. Karena yang diutamakan adalah kesucian, dan iman dan urapan Roh Kudus. Itu untuk belajar Tabernakel."

      Musa sekolah 40 tahun tetapi dibuat Tuhan sampai tidak bisa berpikir. Kalau dia doktor belum tentu dia menerima perintah Tuhan. Tetapi karena dibuat tidak bisa berpikir, dia hanya menerima dengan iman.


    "Siswa-siswi perhatikan! Angka 40 adalah perobekan daging. Kalau mau menerima Tabernakel, yang penting adalah suci, bukan kepandaian. Perobekan daging supaya hidup benar dan suci, ditambah dengan iman dan penyerahan diri ke dalam tangan Tuhan/urapan Roh Kudus."

    Itu yang pertama, untuk menerima kabar mempelai dalam terang Tabernakel yang sama dengan menerima Yesus yang akan datang kembali, yaitu harus punya angka 40, itulah perobekan daging.


  2. Matius 24: 32-51 => khotbah akhir zaman; kedatangan Yesus kedua kali.
    24:32. Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.

    Yang kedua: kalau mau menerima kabar mempelai atau kedatangan Yesus, kita belajar dari sini--'Tariklah pelajaran'.
    'tariklah pelajaran'= karena ini firman pengajaran, kita belajar dari tiga guru yang menjelaskan tentang kabar mempelai/kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan:


    • Matius 24: 32-33
      24:32. Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
      24:33. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.

      'musim panas'= musim berbuah; waktu kedatangan Yesus.

      Guru yang pertama: pohon ara, yaitu kita belajar MELEMBUT supaya berbuah.

      "Siswa siswi Lempin-El, sekali lagi sasarannya adalah hati, bukan otak. Kalau bekerja di manapun sasarannya otak, tetapi di ladang Tuhan: hati."

      Semakin lembut, semakin banyak buahnya dan semakin dipakai. Kalau buah rohani ada, pasti ada buah jasmani sehingga bisa dikirim keluar; ada ibadah persekutuan.

      "Nanti ke Medan, Jakarta dan terus. Kalau tidak berbuah, dari mana? Kalau hanya buah rohani, tidak ada buah jasmani, dari mana? Kalau ada buah rohani, pasti ada buah jasmani."
      Melembut malam ini! Jangan keras hati!
      Belajar melembut sampai berbuah rohani dan jasmani, sampai pada buah mempelai.

      Matius 11: 28-30
      11:28. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
      11:29. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
      11:30. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

      Belajar melembut pada pohon ara sama dengan belajar melembut pada Yesus yang disalibkan--Anak Domba yang tersembelih--yaitu


      • Belajar rendah hati. Di atas kayu salib, Yesus mengakui dosa kita dan menanggung hukumannya.
        Rendah hati= kemampuan untuk mengaku dosa pada Tuhan dan sesama. Jika diampuni, jangan berbuat dosa lagi.


      • Belajar lemah lembut.
        Lemah lembut=


        1. Kemampuan untuk menerima satu firman pengajaran yang benar, yang keras dan lebih tajam dari pedang bermata dua/kabar mempelai; tidak keras hati.
          Firman yang benar adalah


          • Yang pertama: firman yang tertulis di alkitab. Kalau firman berkata: boleh, ada orang menentang, itu berarti tidak satu pengajaran.

            Tabernakel itu mulai dari iman--pintu gerbang. Alkitab mengajarkan: iman dari mendengar firman, tetapi ada yang mengajarkan: Pegang, lihat! Tidak benar! Kalau melihat, akan menjadi seperti Tomas. Setelah melihat Yesus bangkit, ia berseru: Ya, Tuhanku, ya Allahku, tetapi Tuhan berkata: Kamu percaya karena melihat, berbahagialah orang yang percaya sekalipun tidak melihat, berarti percaya yang benar adalah dari mendengar.

            Kalau percaya dari melihat kadang tidak bahagia. Kalau sakit jadi sembuh: Yesus dahsyat! Tetapi kalau sakit jadi mati: Apa itu? Percuma. Tetapi kalau dari mendengar, apapun yang terjadi kita tetap percaya.

            Belum lagi soal baptisan dan baptisan Roh Kudus. Banyak ajarannya! Karena itu yang benar adalah tertulis di alkitab. Belum lagi ajaran tentang nikah; ada kawin cerai--ajaran orang Farisi. Sekarang malah laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Itu sudah beda pengajarannya; bukan satu pengajaran lagi.

            Mari dengar yang sama; satu pengajaran yang benar, yang lebih tajam dari pedang bermata dua. Mari baca alkitab! Bukan berarti hanya di sini yang paling benar, tetapi yang tertulis di alkitab.


          • Yang kedua: firman yang benar diwahyukan oleh Tuhan; dibukakan rahasianya yaitu ayat yang satu menerangkan ayat yang lain dalam alkitab.


          Inilah firman pengajaran yang benar, yang lebih tajam dari pedang bermata dua. Pegang satu itu! Itu orang yang lembut.
          Kalau keras, akan coba-coba mendengar yang lain.

          Dikaitkan dengan Paskah, waktu Israel mau keluar dari Mesir ke Kanaan, bekalnya hanya satu yaitu adonan yang murni. Itu yang bisa membawa kita keluar untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali.

          Keluaran 12: 34, 39
          12:34. Lalu bangsa itu mengangkat adonannya, sebelum diragi, dengan tempat adonan mereka terbungkus dalam kainnya di atas bahunya.
          12:39. Adonan yang dibawa mereka dari Mesir dibakarlah menjadi roti bundar yang tidak beragi, sebab adonan itu tidak diragi, karena mereka diusir dari Mesir dan tidak dapat berlambat-lambat, dan mereka tidak pula menyediakan bekal baginya.

          Adonan yang tidak beragi= satu firman pengajaran yang benar.
          Ditaruh di bahu= tanggung jawab.

          "Mari, lulusan Lempin-El angkatan I sampai XXXVIII dan angkatan khusus, tanggung jawab untuk memberitakan pengajaran yang benar. Jangan dibuang! Jangan dicampur-campur dengan ragi! Satu firman pengajaran yang benar, itulah yang sanggup membawa kita keluar dari dunia untuk bertemu Yesus di awan-awan yang permai, kembali ke Firdaus sampai masuk Yerusalem baru."

          Sebaliknya, kalau mendengar dua ajaran, akan diusir dari Firdaus. Hawa mendengar suara Tuhan, tetapi begitu mendengar suara ular yang berbeda, dia diusir ke dunia. Tetapi kita yang ada di dunia, kalau mau kembali mendengar satu suara Tuhan, kita bisa kembali ke Firdaus. Sungguh-sungguh!

          Pohon ara di Taman Eden tidak berbuah, tetapi hanya berdaun saja, karena ada hati yang keras yaitu Hawa mendengar suara Tuhan dan ular, sehingga Hawa berbuat dosa dan telanjang. Kalau mendengar dua suara, pasti memilih yang salah dan meninggalkan yang benar.

          "Guru saya, Pdt. Pong selalu berkata: Kita sudah pegang bolpoin, lalu ada bolpoin lain yang menarik. Tidak sadar mau pegang juga: Tidak apa-apa kok, hanya mau melihat saja. Akhirnya dipegang, dan bolpoin yang di tangan akan ditaruh. Guru saya menerangkan dengan sederhana, tetapi tertulis di hati dan akal budi saya."

          Salomo hebat, mendengar isterinya, mungkin pertama ketawa, lama-lama pedangnya berkarat; ditaruh. Sungguh-sungguh!
          Hawa telanjang dan diusir dari Taman Eden karena keras hati.


        2. Lemah lembut juga artinya kemampuan untuk mengampuni. Kalau sudah menerima pedang firman yang menyucikan, kita akan bisa mengampuni dosa orang lain.


        Terima Tuhan--firman--dulu, baru menerima orang lain dalam kekurangan--mengampuni dan melupakan dosa orang lain.
        Adam dan Hawa keras hati; mau menerima ajaran yang berbeda dengan alkitab--suara ular.

        Jangan bilang: Beda, tetapi sama saja. Tidak sama! Pintu gerbang itu sama persis, tetapi kalau kunci gemboknya berbeda, beda sedikit saja, tidak kelihatan dari luar, sudah beda masuknya. Kalau satu sorga, yang satu ke mana?

        Adam dan Hawa berani menerima dua suara, akhirnya keras; tidak berani mengaku dan tidak mau mengampuni. Inilah keras hati di Taman Eden, sampai pohon aranya tidak berbuah, tetapi berdaun saja dan dibuat cawat untuk menutupi ketelanjangan.

        Kejadian 3: 11-13
        3:11. Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"
        3:12. Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
        3:13. Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

        Kalau lembut akan minta ampun, beres, tetapi karena mendengar suara ular, Hawa menjadi keras hati--suara Tuhan dia taruh dan suara ular yang dia ambil.

        'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku'= menyalahkan orang lain.

        "Gampang sekali menyalahkan orang lain dari mimbar, tetapi telanjang, tidak pernah maju ke Firdaus tetapi yang ada suasana kutukan."


      Lebih baik koreksi diri, kalau bisa menerima satu pedang, firman pengajaran yang benar akan menusuk kita, sehingga kita bisa mengaku dan mengampuni.

      Tetapi kalau mendengar dua suara, ia sombong, tidak bisa mengaku, malah menyalahkan orang lain, terutama menyalahkan Tuhan--'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku'; sama seperti berkata: 'Kalau Kau tidak memberikan Hawa, saya tidak akan begini.'

      "Dulu waktu mau menikah berkata: ini hasil doa dan puasa. Sampai sudah salah sekalipun (kawin cerai) masih berkata: hasil doa, hasil puasa. Setelah ada apa-apa, berkata: Kau yang salah. Padahal dia yang salah karena menabrak firman pengajaran yang benar. Seringkali manusia ini munafik. Dulu hamba Tuhan berkata: Ini pengajaran, tetapi sekarang: Salah kau! Inilah kami hamba Tuhan."

      Tidak mau mengaku dosa, itu sudah sombong; menyalahkan orang lain itu sudah sama dengan setan; sudah tidak bisa bertobat lagi; dan pasti tidak bisa mengampuni.

      Inilah keras hati, yaitu tidak mengaku dan mengampuni, malah menyalahkan Tuhan, orang lain, sampai menyalahkan setan--'Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan'. Itu berarti sudah tidak bisa bertobat lagi; telanjang dan terkutuk.

      Manusia berusaha menutupi dengan daun pohon ara, tidak bisa. Daun pohon ara= kebenaran sendiri; menutupi dosa dengan cara menyalahkan sesama, Tuhan dan setan; sementara dia berbuat dosa. Tidak akan pernah berbuah.

      Mari, biarlah Tuhan tolong kita untuk melembut, yaitu saling mengaku dan mengampuni. Kita bisa melembut sungguh-sungguh hari-hari ini.

      Kemudian pohon ara di tepi jalan. Di Taman Eden sudah terjadi kekerasan hati; pohon aranya masih keras, rantingnya tidak bisa berbuah, tetapi hanya berdaun.

      Sekarang pohon ara di pinggir jalan. Keras itu jalan-jalan, artinya: tidak bisa tergembala pada satu firman pengajaran; ranting tidak melekat pada pokok anggur yang benar. Kehidupan seperti ini juga akan dikutuk. Rasanya dia sudah berhasil, daunnya banyak--pelayanannya banyak--, padahal Tuhan bukan makan daun, tetapi buah.

      Kalau tidak tergembala pada satu firman pengajaran yang benar, akan kering, mulai dari perkataannya kering.; pembicaraan dari sini bawa ke sana, dari sana bawa ke sini. Terus bergosip, padahal belum tentu benar. Sekalipun benar, itu sudah salah, apalagi kalau tidak benar.
      Karena itu diam saja, percuma membela diri. Mau diapakan, terserah, yang penting kita dengan Tuhan.

      Kalau sudah kering rohani, semua akan kering: ekonomi, nikah dan sebagainya. Kalau hamba Tuhan kering, jemaat mulai berguguran, pergi entah ke mana. Kekeringan ini akan berakhir sampai pada kutukan dan pembakaran.

      Masih ada lagi, pohon ara masih keras. Mari tergembala; kalau hati lembut kita bisa tergembala sungguh-sungguh supaya berbuah.
      Ada pohon ara yang ditanam di kebun anggur, tetapi tidak berbuah selama tiga tahun. Sudah digembalakan lewat kabar mempelai--kebun anggur menunjuk pada kebun mempelai--tetapi tidak berbuah. Mengapa? Karena keras hati; tidak bisa menikmati firman pengajaran yang benar--firman penggembalaan yang diulang-ulang. Firman penggembalaan adalah firman pengajaran yang diulang-ulang.

      Firman diulang-ulang supaya menjadi makanan pokok.
      Yudas Iskariot, gembalanya Yesus--sempurna--, tetapi tidak bisa menikmati. Dia mendengar dua suara, dia digembalakan oleh Tuhan tetapi hatinya tidak di sana--keras--dan akhirnya tidak berbuah tetapi berdaun saja.

      Tetapi pohon ara di kebun anggur masih ditunggu oleh Tuhan.
      Untunglah di dalam penggembalaan, masih ada doa penyahutan dari seorang gembala. Itu yang masih menolong. Sudah tiga tahun dan mau ditebang, penjaga kebun masih berkata: jangan dulu! Jadi jangan sombong, kalau kita melawan gembala tetapi tidak terjadi apa-apa, itu dari doanya gembala. 

      "Karena itu gembala juga jangan mengutuk. Itu ajaran di Lempin-El "Kristus Ajaib". Apapun keadaan jemaat, gembala jangan mengutuk. Kalau gembala mengutuk jemaat, jemaat kena, tetapi dia sendiri juga kena. Kalau gembala yang mengutuk, jemaat pasti kena tulah, tetapi dia sendiri juga kena tulah. Karena itu jangan mengutuk, lebih baik berdoa, siapa tahu bisa berbuah. Tetapi ingat karet, kalau ditarik terus, satu waktu akan putus. Habis.
      Lempin-El "Kristus Ajaib", perhatikan! Lempin-El bukan mendidik Yudas. Ada di dalam Lempin-El, lulus, tetapi hatinya di luar, itu Yudas Iskariot; pengkhianat. Nanti menjual Lempin-El; menjelek-jelekkan Lempin-El. Betapa keras hatinya. Sungguh-sungguh!
      "

      Ini nomor satu yang kita pelajari dari pohon ara, yaitu melembut.
      Kalau melembut, kita bisa rendah hati dan lemah lembut--saling mengaku dan mengampuni.

      Hasilnya: kelegaan dan damai sejahtera; teduh di tengah gelombang dunia.
      Matius 11: 28-29
      11:28. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
      11:29. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
      ketenangan.

      Lautan bergelombang jadi teduh, sehingga:


      • Yang pertama: semua menjadi enak dan ringan. Kapal kecil saja bisa mencapai tujuan.
        Kalau semua mau saling mengaku dan mengampuni, dan berpegang pada satu firman pengajaran--jangan mau mendengar yang lain--, nikah akan jadi enak dan ringan. Kalau enak dan ringan, tidak ada orang lari dari rumah tangga. Dalam pelayanan juga.

        "Saya pernah mau lari karena dihantam dari luar dan dalam soal fellowship. Isteri saya keguguran, saya juga tidak kuat: Aku mau lari, aku tidak peduli, saya tidak hidup dari jemaat. Isteri saya tidak tahu, saya berdoa: 'Tempatkan saya di desa ini Tuhan--di satu gereja--, biar pendeta ini di Malang.' Pendetanya ada di sini, tetapi tidak saya sebutkan. Saya tidak mau lagi. Betapa sombong dan keras hatinya. Tetapi bersyukur, lewat pemberitaan firman saya mengaku pada isteri dan jemaat. Saya sudah salah."

        Apapun yang terjadi, kalau bukan Tuhan yang pindahkan, jangan pindah, kalau pindah, itu kehancuran. Kalau mutasi dari Tuhan, pasti terjadi peningkatan.
        Kalau lari, berarti beban berat tidak diselesaikan; mau pindah ke manapun bebannya tetap. Yang benar adalah yang dipindah bukan gerejanya, tetapi bebannya yang diletakkan, baru pindah! Kalau gerejanya pindah sana sini, tetapi beban dan dosanya dibawa--beredar-edar--, mana bisa berbuah? Tidak akan bisa!

        Mantapkan hari-hari ini! Jangan pernah bilang: hanya beda sedikit, tetapi sama. Itu berarti tidak ada hikmat dari Tuhan. Jangan! Sekarang sudah zaman akhir, menjelang kedatangan Tuhan. Tuhan tolong kita semua.

        Kalau pelayanan enak dan ringan, kita akan bertahan sampai garis, tidak akan pernah tinggalkan pelayanan.


      • Yang kedua: kalau lautnya teduh, kapalnya bisa ke depan, tidak akan salah arah, artinya: berhasil dan indah.

        "Lempin-El bukan otak, tetapi hati lembut--belajar pada pohon ara; belajar pada Yesus di kayu salib! Melembut--rendah hati dan lemah lembut--, itulah sumber keberhasilan."


        Selesaikan dosa-dosa! Melembut untuk bisa mengakui satu firman yang benar, itulah alkitab. Jangan berbantah-bantah! Kalau berbantah-bantah, itu keras. Jangan! Melembut, selesaikan dosa dan pegang yang benar! Pasti enak dan ringan, pasti berbuah--berhasil dan indah--, sampai buah kesempurnaan. Pegang! 

      Belajar pada pohon ara, sudah berapa ribu tahun dia gagal--mulai dari Taman Eden sampai zaman Yesus sudah empat ribu tahun--masih diberi kesempatan. Apalagi baru gagal beberapa tahun: pekerjaan gagal, rumah tangga gagal, pelayanan gagal, mari cepat melembut--rendah hati dan lemah lembut (saling mengaku dan mengampuni)--, dan kembali pada satu firman pengajaran! Beres! Semua akan kembali pada Firdaus! Hidup itu enak dan ringah, berhasil dan indah, sampai sempurna.


    • Matius 24: 37-41
      24:37. "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
      24:38. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
      24:39. dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
      24:40. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
      24:41. kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

      Guru yang kedua: nabi Nuh.

      Ayat 41=> termasuk dua orang di tempat tidur, satu diangkat, satu ditinggalkan. Ngeri! Mari, belajar semua. Gurunya sama semua: pohon ara--hasilnya: rendah hati dan lemah lembut, buahnya: enak dan ringan, berhasil dan indah, sampai sempurna--, kemudian nabi Nuh.  

      Kejadian 6: 5-7
      6:5. Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
      6:6. maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
      6:7. Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka."

      Pada zaman Nuh, hati nurani manusia dan anak Tuhan/hamba Tuhan/pelayan Tuhan cenderung jahat/keras, sehingga menghasilkan buah yang tidak baik, yaitu perbuatan-perbuatan dosa sampai puncaknya dosa yaitu dosa makan minum dan kawin mengawinkan.

      Inilah hati yang keras, cenderung jahat sehingga dibinasakan dengan air bah.
      Kejadian 6: 8
      6:8. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.

      Ini sudah terjadi, tetapi ada yang lolos, yaitu Nuh sekeluarga. Nuh punya hati nurani yang baik yaitu TAAT DENGAR-DENGARAN, sehingga mendapatkan kasih karunia. Kasih karunia ini yang kita kejar sekarang. Kasih karunia lebih dari kepandaian. Saat zaman Nuh, ada orang pandai, kaya, hebatpun ikut mati. Hanya yang mendapat kasih karunia yang selamat.

      Mengapa harus mengejar segala sesuatu yang di dunia: kedudukan, kepandaian? Kejar kasih karunia hari-hari ini, itu lebih dari semua.

      Dari mana kita dapat hati nurani yang baik--landasan untuk menerima kasih karunia--? Dulu, Nuh taat saat disuruh membuat bahtera sekalipun tidak ada hujan. Lebih lagi, disuruh masuk dengan binatang dan tutup bahtera, padahal tidak ada hujan.

      "Saya kira, orang pandai, orang hebat, atau hamba Tuhan hebat waktu itu tertawa terpingkal-pingkal melihat Nuh. Sudah melihat membuat bahtera saja sudah dikatai kebenaran sendiri, apalagi masuk bahtera bersama hewan dan pintu bahtera ditutup. Tetapi begitu hujan datang, mereka yang menertawakan Nuh-- pemberita kebenaran--, menangis."

      Jangan main-main dengan orang benar! Kalau kebenaran sendiri, tidak ada masalah, tetapi kalau benar dari Tuhan, hati-hati. Tuhan tolong.
      1 Petrus 3: 20-21
      3:20. yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
      3:21. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan--maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah--oleh kebangkitan Yesus Kristus,

      Kita mendapakan hati nurani yang baik lewat baptisan air. Baptisan air adalah pembaharuan.

      Baptisan air yang benar adalah seperti Yesus keluar dari kuburan air (Roma 6: 4); orang sudah mati terhadap dosa--bertobat--harus dikuburkan di dalam air bersama Yesus sehingga bangkit--keluar dari dalam air--bersama Yesus untuk mendapatkan hidup baru, yaitu hati nurani yang baik, itulah hati yang taat dengar-dengaran.

      Mari, pelihara hati yang taat, itulah yang mendapat kasih karunia. Kita taat sampai daging tidak bersuara. Abraham taat sampai daging tidak bersuara untuk mempersembahkan anaknya, dan Tuhan yang tolong.

      Kita tinggal taat saja dan Tuhan yang bertanggung jawab semuanya.

      Matius 24: 40
      24:40. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;

      Hati nurani yang baik mendapat kasih karunia; hati nurani yang jahat mendapat hukuman. Ini pemisahan yang tajam di akhir zaman, saat kedatangan Yesus kedua kali.

      Yang memisahkan adalah hati. Karena itu jaga hati, bukan otak!

      Tadi kalau rendah hati dan lemah lembut, kita akan berbuah, semua menjadi enak dan ringan, berhasil dan indah, sampai ke Firdaus; lautnya teduh.
      Sekarang, kalau hati taat, kita akan mendapat kasih karunia sampai diangkat waktu Tuhan datang. Sebaliknya, kalau hati keras (tidak taat), akan tertinggal dan kena hukuman. Hati-hati! Ini pemisahan yang tajam!

      Oleh sebab itu Nuh sekeluarga--delapan orang--menjadi satu kesatuan. Jaga kesatuan hari-hari ini! Jangan ada yang ketinggalan saat Yesus datang! Mulai dari kesatuan dalam nikah, penggembalaan, fellowhsip sampai Israel dan kafir menjadi satu tubuh yang sempurna. Jaga kesatuan dan hati yang taat!

      Kalau taat, tidak usah diancam, akan jadi satu semua. Taatlah pada Tuhan! Kalau hati nurani baik (taat), tidak usah diapa-apakan, akan jadi satu kesatuan. Semua kembali pada alkitab. Kalau semua taat pada perintah Tuhan/pengajaran yang benar, tidak usah diancam dan sebagainya, firman pengajaran/pribadi Tuhan itu yang akan menyatukan kita semua, bukan organisasi. Mulailah dari diri kita masing-masing yaitu taat pada firman pengajaran yang benar. Sungguh-sungguh!

      Kesatuan apa yang dijaga? Kesatuan bahtera--Nuh dengan isterinya, tiga anak dan tiga menantu. Kesatuan bahtera=


      • Kesatuan baptisan air; suami dan isteri harus satu baptisan air. Kalau tidak--ini ajaran alkitab---, lalu hamba Tuhan menikahkan, itu bukan menyatukan, tetapi menghancurkan nikah.


      • Satu pengajaran Tabernakel; kabar mempelai dalam terang Tabernakel. Kabar baik/penginjilan, silahkan, tetapi harus ditingkatkan pada kabar mempelai. Alkitab ini kabar mempelai; dari awal soal mempelai: dimulai dengan Adam dan Hawa, dan diakhiri dengan mempelai yang sempurna (Wahyu 19: 9).

        Mari kembali pada alkitab--semua gereja punya alkitab--, satu pengajaran Tabernakel dan mempelai yang benar.

        Bahtera Nuh juga menunjuk pada Tabernakel--sama-sama terdiri dari tiga ruangan.
        Kejadian 6: 14, 16
        6:14. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.
        6:16. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

        (terjemahan lama)
        6:14. Perbuatlah akan dirimu sebuah bahtera dengan kayu gofir; hendaklah engkau memperbuatkan dia berbilik-bilik dan gala-galakanlah luar dalamnya.

        'haruslah kau buat'= 'hendaklah engkau memperbuatkan'; kehendak Tuhan.
        'bertingkat bawah, tengah dan atas'= bahtera Nuh terdiri dari tiga ruangan.

        Keluaran 25: 8
        (terjemahan lama)
        25:8. Maka hendaklah mereka itu memperbuatkan Daku sebuah baitulmukadis, supaya Aku duduk di antara mereka itu.

        Bahtera Nuh dan Tabernakel sama-sama merupakan kehendak Tuhan.
        Bahtera Nuh dan Tabernakel juga terdiri dari tiga ruangan.

        Jadi bahtera Nuh sama dengan pengajaran Tabernakel; kabar mempelai dalam terang Tabernakel; firman pengajaran yang benar.

        Suami isteri, satu pengajaran; penggembalaan, satu pengajaran, kemudian satu baptisan, itu yang bisa jadi satu. Fellowship satu baptisan dan satu pengajaran yang benar, akan jadi satu. Tidak usah diancam, akan jadi satu. Mulai dari nikah, penggembalaan, fellowship akan jadi satu.

        Satu baptisan= satu hati nurani yang baik.


      • Kemudian satu ladang/satu pelayanan; satu penggembalaan.


      Ini yang dijaga. Kalau hati sudah baik--taat--, ada kesatuan--mulai dari nikah--, hasilnya: kasih karunia. Untuk apa?


      • Waktu itu air bah datang dan semua mati kecuali yang mendapat kasih karunia.
        Hasil pertama: kasih karunia untuk memelihara hidup jasmani kita di tengah kesulitan dunia sampai zaman antikris. Mari, dunia ini sulit dan bertambah sulit, semua bertambah sulit, tetapi semakin sulit, semakin jahat dan najis dunia ini, kasih karunia Tuhan akan semakin besar.
        Kasih karunia juga memelihara kerohanian kita di tengah semakin jahat dan najisnya dunia, supaya kita tetap hidup benar dan suci, sampai hidup kekal.

        Inilah kasih karunia yang merupakan jaminan untuk memelihara kita secara dobel: jasmani dan rohani, sampai hidup kekal. Mau kaya/miskin, pandai/bodoh, dan sebagainya, kalau punya kasih karunia, itu jaminannya!

        Jaga hati nurani yang baik! Jaga kesatuan, supaya jangan terjadi yang satu diangkat, satu tertinggal! Kalau punya anak, usaha dan berdoa, jangan biarkan anak itu ke mana-mana! Satu kesatuan dalam baptisan air, pengajaran, pelayanan/penggembalaan, itu yang kita jaga, supaya ada kasih karunia di dalam rumah tangga, penggembalaan dan fellowship!

        Kasih karunia ini tambah besar. Sudah melayani di rumah tangga dan kita terpelihara, coba di penggembalaan, kasih karunia lebih besar lagi, melayani di dalam fellowship, lebih besar lagi, sampai yang terbesar nanti di awan-awan yang permai.


      • Hasil kedua: kasih karunia mampu menyelesaikan semua masalah yang mustahil, yang tidak bisa ditanggulangi dengan apapun.

        "Kalau ukuran kepandaian, tidak mungkin terjadi ibadah kunjungan ke sana ke mari, secara rohani juga tidak mungkin, secara jasmani apalagi. Berapa biayanya? Tetapi itulah kasih karunia Tuhan. Doakan, ini kerinduan saya, saya hanya mengikuti Tuhan dan dua gembala saya yang terakhir: Pdt. In Juwono dan Pdt. Pong saja, mereka dulu pernah mengadakan BTFI, ada tamu-tamu dari luar negeri. Siapa tahu nanti Lempin-El angkatan XL, sekaligus memperkenalkan pengajaran dan ada lembaga pendidikan El-kitab, tahun depan kita bisa mengundang dari luar negeri juga. Sekarang sudah ada yang datang tanpa lewat undangan, tetapi nanti lebih intensif. Dari Medan sudah teriak-teriak: Di Medan saja, kami sudah siap. Saya berdoa: Jangan salah! Dulu pernah mau ke Medan, salah. Kita berdoa di mana kita harus menyelenggaarakannya. Hanya ikut Tuhan dan guru-guru saya. Saya tidak mau mencari jalan sendiri. Ini sudah pasti, jadi saya ikut saja, karena itu Lempin-El diteruskan dan semua diteruskan saja."


      • Wahyu 22: 20-21
        22:20. Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: "Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus!
        22:21. Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.

        Hasil ketiga: kasih karunia membuat kita semua terangkat jika Yesus datang kembali; kasih karunia menyempurnakan kita sehingga kita tidak tertinggal saat Yesus datang kembali; tidak terjadi pemisahan--dua orang di tempat tidur tidak terpisah--; semua terangkat saat Yesus datang kembali.


      Sekali lagi, ini masalah hati. Belajar dari pohon ara: rendah hati dan lemah lembut. Hasilnya: enak dan ringan, berhasil dan indah, ada suasana Firdaus, dan menuju pelabuhan. Yang kedua: hati yang taat. Hasilnya: ada kasih karunia, lebih dari apapun. Kita bisa bertahan sampai zaman antikris, bahkan sampai hidup kekal--jasmani dan rohani bertahan sampai Tuhan datang kembali; kita menyambut kedatangan-Nya, tidak ada yang ketinggalan.


    • Matius 24: 45-46
      24:45. "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?
      24:46. Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

      Guru yang ketiga: hamba yang setia dan bijaksana; memberi makan itu gembala. Kita belajar pada gembala yang SETIA DAN BIJAKSANA.

      "Siswa-siswi Lempin-El, saya dulu meneladani gembala saya. Itu saja. Di mana dia memberi makan jemaat, saya lihat. Bagaimana menguburkan orang mati, saya datang saja. Tidak ada pelajaran penguburkan orang mati. Tidak ada pelajaran cara baptisan air. Lihat saja waktu beliau melayani penguburan, waktu menikahkan orang, saya datang, dan ikuti saja caranya. Itu guru kita, yaitu gembala yang memiliki hati yang setia dan bijaksana."

      Praktiknya:


      • Praktik pertama: setia dan bijaksana soal makanan firman, yaitu


        1. Setia dan bijaksana dalam satu firman pengajaran yang benar sampai garis akhir. Tidak berubah-ubah sampai garis akhir; kuat teguh hati; berpegang teguh pada satu firman pengajaran yang benar sampai garis akhir.


        2. Gembala memberi makan jemaat dengan makanan yang benar, sampai garis akhir; kuat teguh hati.
        3. Sidang jemaat juga berpegang teguh pada firman pengajaran yang benar, dan makan firman sampai garis akhir.


        Pelihara iman/pengajaran yang benar sampai garis akhir.


      • Praktik kedua: setia dan bijaksana dalam pelayanan sampai garis akhir. Jangan pensiun, tetapi sampai mendapatkan mahkota kehidupan.


      "Lempin-El perhatikan: menjadi hamba Tuhan adalah pekerjaanku yang terakhir di dunia. Jangan jadi apa-apa lagi!"

      2 Timotius 4: 7-8
      4:7. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
      4:8. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

      Mari, setia dan bijaksana! Dalam makanan: pelihara iman dan pegang teguh satu pengajaran yang benar sampai garis akhir.

      "Lempin-El kalau mau bilang: pengajaran ini salah, bilang sekarang, katakan dan pulang. Semua pulang, boleh. Jangan beberapa tahun lagi, sudah punya gereja, lalu bilang: Oh salah. Itu munafik! Jangan! Kalau besok-besok gurunya mengajarkan yang salah, tinggalkan, jangan dianggap sebagai guru! Kita sama-sama menjaga iman sampai garis akhir."

      Pelihara pelayanan sampai garis akhir, sampai mendapat mahkota kehidupan/mahkota mempelai.

      Kita semua, setia dan bijaksana, akan mendapat mahkota. Mereka yang sudah meninggal dujnia, semua mendapat mahkota. Kita juga yang masih hidup, kalau Tuhan datang sama-sama mendapat mahkota kehidupan, untuk layak menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai.

Inilah pembekalan untuk Lempin-El. Belajar pada tiga guru: pohon ara--hati melembut--, nabi Nuh, dan hamba yang setia dan bijaksana.
Kita semua, mau terima kabar mempelai, nomor satu harus mengalami perobekan daging--puasa empat puluh hari empat puluh malam--, jangan gunakan kepandaian lagi, tetapi iman dan urapan.

Lalu belajar pada tiga guru:

  1. Hati melembut--rendah hati dan lemah lembut. Hasilnya: ada kelegaan, enak dan ringan, dan Firdaus. Kalau keras hati, akan diusir dari Firdaus.
  2. Belajar dari Nuh: hati yang taat. Hasilnya: kasih karunia.
  3. Belajar pada hamba yang setia dan bijaksana: hati yang setia dan bijaksana sampai garis akhir, sampai mendapat mahkota.

Tadi malam, ditemukan perempuan yang berdosa, tetapi boleh mengurapi-Nya. Kita bangsa kafir berdosa, Lempin-El juga, tetapi ditemukan oleh kabar mempelai; makan bersama dengan Tuhan; ada pengangkatan. Mari bertahan sampai garis akhir!
Jaga hati, jangan putus asa dan kecewa, tetapi tetap setia dan bijaksana!

Mungkin diizinkan ada kelemahan tubuh: penyakit dan lain-lain, kelemahan ekonomi, kesulitan dalam belajar, ada sengsara dan lain-lain, jangan surut, tetapi tetap bertahan sampai garis akhir! Jangan ada yang terpisah! Serahkan hidup pada Tuhan! Biar Dia yang memberi kita kekuatan.

Dia sudah membuktikan kesetiaan-Nya. Gembala Agung/Gembala yang baik setia sampai mati di kayu salib. Ini teladan bagi kita semua. Kita berjanji pada Tuhan untuk bertahan sampai garis akhir. Memang banyak penderitaan yang harus kita alami, banyak pengorbanan dan air mata yang harus kita alami untuk bertahan di dalam Tuhan sampai garis akhir. Biarlah Dia menguatkan kita; perjamuan suci menguatkan kita semua, tidak ada yang mundur dan tertinggal, sampai Dia datang kembali. Uluran tangan kasih karunia Tuhan melakukan apa saja, sampai pada kesempurnaan dan mendapatkan mahkota kehidupan.

Dia sudah menanggung semua di kayu salib, kita pulang dengan enak dan ringan, berhasil dan indah; kita pulang dengan kasih karunia; kita pulang dengan mahkota kehidupan yang Dia berikan kepada kita. Semua yang Tuhan lakukan bukan hanya sampai di dunia, tetapi sampai di awan-awan, sampai kembali ke Firdaus dan masuk Yerusalem baru, tentu dengan keluarga kita yang tercinta. Semoga seluruh keluarga kita ada di dalam satu bahtera--seperti bahtera Nuh. Kalau Tuhan datang, tidak ada yang tertinggal.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top