Simpang Borobudur no 27 Malang
0341-496949
Dari siaran tunda ibadah persekutuan di Medan (rabu pagi)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 19: 9
19:9. Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

Perjamuan kawin Anak Domba adalah pertemuan antara Yesus yang datang kedua kali dalam kemuliaan sebagai kepala, Raja segala raja dan Mempelai Pria Sorga dengan sidang jemaat yang sempurna---tubuh Kristus yang sempurna--sebagai mempelai wanita sorga di awan-awan yang permai. Ini adalah perjamuan kawin Anak Domba/pertemuan mempelai di awan-awan yang permai.

Kita sudah mempelajari PERTEMUAN MEMPELAIini di dalam Matius 22: 1-14 => perumpamaan tentang perjamuan kawin anak raja, yang sama dengan perjamuan kawin Anak Domba. Banyak yang diundang tetapi tidak datang. Hati-hati! Ini berarti tidak bisa bertemu TUHAN dan binasa selamanya.

Sesudah perjamuan kawin Anak Domba kita masuk kerajaan Seribu Tahun Damai--Firdaus yang akan datang (Wahyu 20)--, dan kerajaan sorga yang kekal--Yerusalem baru (Wahyu 21-22 'langit baru bumi baru'). Sesudah itu ke mana? Kita sebagai mempelai wanita sorga duduk bersanding dengan Yesus sebagai Mempelai Pria sorga di takhta kerajaan sorga.

Wahyu 3: 21
3:21. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

Kita sebagai mempelai wanita menjadi milik Yesus Mempelai Pria Sorga selama-lamanya; sebaliknya Yesus Mempelai Pria Sorga menjadi milik kita mempelai wanita selamanya.
Ini yang disebut dengan KEPEMILIKAN MEMPELAI.

Jadi, ada pertemuan mempelai, setelah itu duduk bersanding itulah kepemilikan mempelai.
Kepemilikan mempelai sudah kita pelajari dalam Matius 22: 15-22=> tentang membayar pajak kepada kaisar. Waktu itu ada pertanyaan orang Fairisi yang menjerat Yesus: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar?Yesus mengambil satu dinar dan ditunjukkan: Gambar dan tulisan siapa?Mereka menjawab: Gambar dan tulisan kaisar. Lalu Yesus berkata: Kembalikan kepada kaisar apa yang menjadi milik kaisar, kembalikan kepada TUHAN apa yang menjadi milik TUHAN!

Sekarang kita mempelajari siapakah mempelai sorga? Nanti kita juga akan pelajari Matius 22: 23-33. Pengajaran ini terus berseri, tidak putus-putus. Mari kita pelajari.

Siapakah mempelai sorga?

  1. Yesusadalah Mempelai Pria Sorga, yaitu manusia darah daging yang tidak berdosa, namun harus mati di kayu salib untuk menebus dosa kita, tetapi Dia juga dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan; tubuh yang sempurna, untuk naik ke takhta sorga.
    Jadi, Yesus manusia darah daging yang tidak berdosa menjadi Mempelai Pria Sorga lewat pengalaman kematian dan kebangkitan.

    Kalau tidak mati dan bangkit, tidak bisa mulia---tidak sempurna--dan tidak bisa naik ke sorga. Harus lewat pengalamana kematian dan kebangkitan, baru bisa sempurna dan naik ke sorga.

  2. Sidang jemaatadalah mempelai wanita sorga, yaitu manusia darah daging yang berdosa tetapi bisa sempurna, sama mulia dengan Yesus lewat mendengarkan kabar mempelai; firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua; suara sangkakala yang dahsyat bunyinya.
    Mulai sekarang kita mendengarkan, nanti waktu sangkakala terakhir kita sudah menjadi mempelai.

    1 Korintus 15: 50-52
    15:50. Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.
    15:51. Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia:
    kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,
    15:52. dalam sekejap mata,
    pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.

    Ayat 50= sehebat apapun manusia darah daging yang berdosa, tidak bisa mewarisi kerajaan soga dan tidak bisa menjadi mempelai wanita sorga. Tetapi ada jalannya.
    Ayat 51: 'kita tidak akan mati semuanya'= ada sidang jemaat yang meninggal dunia karena sakit atau usia tua dan sebagainya, tetapi ada juga sidang jemaat yang tidak meninggal---hidup--sampai Yesus datang kembali kedua kali.

    Mati dan hidup merupakan kemurahan TUHAN (otoritas TUHAN); kita tidak bisa mengganggu gugat TUHAN. Mati atau hidup tidak penting, tetapi yang penting adalah selama hidup kita harus mendengar dan dengar-dengaran pada suara sangkakala yang dahsyat bunyinya/kabar mempelai, supaya kita mengalami penyucian dan pembaharuan.

    Penyucian= mati terhadap dosa--tajam pertama dari pedang firman; firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua. Dosa-dosa dipotong.
    Pembaharuan= bangkit dalam hidup baru--tajam kedua dari pedang firman; firman pengajaran yang lebih tajam dari bermata dua.
    Ini pengalaman kematian dan kebangkitanjuga--tadi Yesus menjadi Mempelai Pria Sorga lewat pengalaman mati dan bangkit.

    Penyucian dan pembaharuan ini berjalan terus menerus. Misalnya: berdusta dipotong---mati terhadap dusta--, kemudian bangkit untuk jujur. Iri hati dipotong---mati terhadap iri hati--, kemudian bangkit untuk saling mengasihi. Penyucian dan pembaharuan ini berlangsung secara terus menerus sampai bunyi sangkakala terakhir. Pada waktu sangkakala terakhir berbunyi akan terjadi dua peristiwa:

    • Yang pertama: yang mati dalam Yesus--dalam penyucian dan pembaharuan; dalam pengalaman kematian-kebangkitan bersama Yesus--akan dibangkitkandalam tubuh kemuliaan; tubuh kesempurnaan seperti Yesus.

    • Yang kedua: yang hidup dalam Yesus---dalam penyucian dan pembaharuan; mati bangkit bersama Yesus--, akan diubahkandalam sekejap mata dalam tubuh kemuliaan; tubuh yang sempurna seperti Yesus.

    Keduanya akan menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna---mulia--; mempelai wanita sorga yang siap menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan permai.

    Jadi, sidang jemaat/manusia darah daging yang berdosa bisa menjadi mempelai wanita sorga---yang sempurna, mulia--lewat proses mati dan bangkit bersama Yesus.
    Yesus manusia darah daging yang tidak berdosa bisa menjadi Mempelai Pria Sorga---yang sempurna, mulia--lewat mati di kayu salib dan bangkit dalam tubuh kemuliaan.

    Bagi kita, tidak perlu disalib, tetapi mati dalam dosa dan bangkit dalam hidup baruoleh pekerjaan pedang firman atau bunyi sangkakala. Manusia darah daging yang berdosa memang tidak mewarisi sorga, tetapi ada jalannya. Sudah menerima penginjilan---percaya, bertobat--, lanjutkan pada kabar mempelai. Selama hidup, mari dengar kabar mempelai/bunyi sangkakala yang menyucikan--mati terhadap dosa--dan membaharui--bangkit dalam hidup baru. Terus demikian---mati dan bangkit--sampai bunyi sangkakala terakhir: yang mati akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan, yang hidup akan diubahkan dalam tubuh kemuliaan. Keduanya akan menjadi satu tubuh yang sempurna; mempelai wanita sorga yang siap menyambut kedatangan Yesus ke dua kali di awan permai.

Jadi, kita semua harus mengalami pengalaman kematian dan kebangkitan. Yesus mati dan bangkit sehingga menjadi Mempelai Pria Sorga, kita juga mati dan bangkit sehingga menjadi mempelai wanita sorga.

Tetapi sayang, ada ajaran palsu; pendapat palsu bahwa 'tidak ada kebangkitan'.
Matius 22: 23-33 => pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan--tidak percaya kebangkitan. Ini sama dengan penolakan mempelai. Kalau jadi mempelai harus mati dan bangkit, tetapi mereka bilang tidak ada kebangkitan. Hati-hati dengan ajaran-ajaran!

Matius 22: 23
22:23. Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:

Pada ayat sebelumnya orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang membayar pajak. Hati-hati, sebab ada ajaran Farisi dan ajaran Saduki!

'berpendapat'= bukan firman, tetapi logika. Sebab itu dalam menerangkan dan menerima firman jangan menggunakan logika, nanti bisa menjadi pendapat manusia--yang bertentangan dengan firman. Harus menggunakan iman---rasul Paulus berkata: Aku lemah, tetapi aku menyampaikan fiman dengan keyakinan oleh Roh Kudus. Kita yang mendengarkan firman juga dengan keyakinan oleh Roh Kudus.

Kisah Rasul 23: 8
23:8. Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitandan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.

Pendapat orang Saduki: tidak ada kebangkitan, malaikat dan roh. Kalau tidak ada rohnya, manusia sama dengan binatang; setelah digoreng habis perkara.
Artinya: sesudah hidup di dunia habis perkara, tidak ada lagi kelanjutan di sorga/akhirat. Ini sama dengan penolakan mempelai, karena rencana TUHAN adalah baik yang meninggal dunia atau masih hidup akan meninggalkan dunia untuk menjadi mempelai--duduk bersanding dengan Yesus di takhta sorga--, tetapi orang Saduki berkata: Tidak ada itu semua.

Jadi pendapat orang Saduki adalah ajaran sesat, yang mengatakan: tidak ada kebangkitan.
Ini yang akan mengakibatkan dua hal--simak baik-baik, apakah kita sudah terkena ajaran Saduki atau tidak--:

  1. 1 Korintus 15: 13-14, 19
    15:13. Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
    15:14. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
    15:19. Jikalau kita
    hanya dalam hidup ini sajamenaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

    "Mungkin ada yang berkata: Saya percaya Yesus mati dan bangkit, sudah merayakan Jumat Agung dan Paskah. Tetapi apakah sudah benar praktiknya dalam hidup sehari-hari? Kami sebagai hamba TUHAN dan sidang jemaat mari diperiksa."

    'Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja' = dalam hidup jasmani ini saja.

    Sudah menjadi hamba TUHAN tetapi lebih malang dari manusia yang tidak percaya Yesus, bagaimana? Ini terjadi jika kita menolak kebangkitan--seperti orang Saduki.

    Akibat tidak percaya kebangkitan yang pertama: beribadah melayani Yesus hanya untuk mencari perkara jasmani. Misalnya: datang ke gereja hanya supaya diberkati. Seharusnya kita datang ke gereja supaya disucikan, dosa-dosa dibuang karena kita akan menghadap TUHAN.
    Kalau cari berkat itu di pekerjaan. Kalau di rumah TUHAN, mencari keselamatan dan kesempurnaan.

    "Termasuk fellowship ini. Kalau kita semua datang ke sini hanya cari uang, kedudukan dalam organisasi, kita menjadi orang paling malang di antara semua manusia."

    Perkara jasmani: uang, kedudukan, organisasi, hormat, pujian. Kalau itu yang kita cari dalam ibadah, kita menjadi orang yang paling malangdari semua manusia di dunia termasuk dari antara orang yang tidak percaya Yesus, sehingga kita masuk dalam suasana kutukan dan kemalangan, sampai kebinasaan.

    "Orang di dunia memang hidup dalam kutukan, tetapi masih banyak yang kaya. Tetapi kalau orang mencari Yesus hanya untuk kepentingan jasmani, ia akan hidup dalam kutukan dan kemalangan. Saya dari kota Malang. Karena itu saya paling marah kalau ditulis: Pdt Widjaja, Malang. Tulisnya kota Malang. Harus lengkap. Apalagi kalau kota Batu."

    Jangan main-main dalam fellowshipsemacam ini! Kita sudah berkorban apapun, sampai tinggalkan sidang jemaat, tetapi kalau hanya cari perkara jasmani, benar-benar paling malang! Inilah terkena ajaran Saduki!

    "Oleh sebab itu mohon ampun kalau dianggap sombong, saya hanya belajar dari TUHAN dan guru-guru saya: Kita dapat cuma-cuma dari TUHAN, kita berikan juga dengan cuma-cuma. Ke mana-mana saya bayar sendiri, supaya jelas, bukan cari perkara jasmani, tetapi cari perkara sorgawi. Sejak dulu sejak saya masih pengerja, disuruh khotbah ke manapun tetapi tidak diberikan uang dan tidak boleh ambil kolekte. Tetapi bisa berjalan dengan baik, itulah kuasa kebangkitan. Jangan ditukar dengan apapun di dunia ini!"

    Kuasa kebangkitan: yang mati bisa hidup, yang mustahil jadi tidak mustahil, sampai kita hidup kekal di sorga. Jangan ditukar dengan uang, kedudukan, pujian, rasa sungkan, organisasi! TUHAN tolong kita semua.

  2. 1 Korintus 15: 32
    15:32. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buasdi Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati".

    Akibat tidak percaya kebangkitan yang kedua: kita tampil seperti binatang buas.

    Mari sungguh-sungguh, jangan sampai tampil seperti binatang buas, yaitu: hanya berbuat dosa--terutama dosa kejahatan--, sampai puncaknya dosa.

    Dosa kejahatan= keinginan akan uang yang membuat kita kikir dan serakah.
    Kikir= tidak bisa memberi untuk pekerjaan TUHAN dan sesama yang membutuhkan. Ini sama dengan memangsa sesama.
    Serakah= mencuri milik TUHAN yaitu persepuluhan dan persmebahan khusus--memangsa TUHAN--dan mencuri milik sesama (korupsi dan sebagainya)--memangsa sesama.

    Puncaknya dosa= dosa makan minum (merokok, mabuk dan narkoba)--memangsa diri sendiri--dan kawin mengawinkan (percabulan, penyimpangan: homoseks, lesbian, sampai nikah yang salah)--memangsa sesama dan diri sendiri.

    Inilah, kalau tidak ada kebangkitan, akan jadi binatang buas, yang mengarah pada pembangunan Babel, mempelai wanita setan--penolakan mempelai TUHAN dan membangun mempelai setan yang akan dibinasakan dalam satu jam saja. Jangan main-main!
    Dalam Wahyu 17: 5, Babel adalah pelacur besar dengan kekayaan, emas (menonjolkan perkara dunia), tetapi di dalamnya ada anggur percabulan.

    "Saya selalu katakan: Dalam fellowship seperti ini, ketua panitia dan pantia bertanggung jawab. Pembicara juga tanggung jawab mau dibawa ke mana? Jangan menjadi binatang buas, tetapi menjadi mempelai wanita TUHAN."

Ini dua akibat dari ajaran palsu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan yaitu: hanya mencari perkara jasmani; ibadah pelayanan bukan tahbisan lagi, tetapi menjadi profesi (seperti pedagang, nelayan, buka toko). Inilah kehidupan yang paling malang dari semua manusia. Ditambah lagi, tampil sebagai binatang buas yang mengarah pada Babel.

Ibrani 9: 27
9:27. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

Ayat 27 = sesudah mati, masih harus bertanggung jawab. Sesudah mati, bukan habis perkara.
Ini ajaran yang benar, yaitu kita bukan seperti binatang.

Ajaran yang benar--ketetapan TUHAN--adalah manusia mati satu kali, sesudah itu dihakimi. Artinya:

  1. Tidak selamanya manusia hidup di dunia. Karena itu kalau susah atau menderita, jangan putus asa, kecewa dan lari dari TUHAN! Tidak selamanya kita menderita.
    Kalau diberkati, jangan terlalu bangga! Tidak selamanya. Biasa saja, yaitu mengucap syukur pada TUHAN; semuanya dari TUHAN.

    Tidak selamanya manusia hidup di dunia, tetapi ada garis akhirnya yaitu meninggal dunia--mati satu kali--, atau hidup sampai TUHAN datang. Itu semua otoritas TUHAN; kemurahan TUHAN bagi kita semua.

  2. Sesudah kehidupan di dunia ini, baik yang meninggal atau hidup sampai TUHAN datang, masih ada kebangkitan yaitu kita harus menghadapi penghakimanuntuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu selama kita hidup di dunia. Kita datang ibadah justru diarahkan kepada kehidupan sesudah di dunia.
    Hati-hati kita akan menghadapi penghakiman!
    Mari, persiapkan untuk menghadapi kedatangan TUHAN dan penghakiman!

    Ada lima hal yang dihakimi:

    • 2 Krointus 5: 10
      5:10. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

      Perkara pertama yang dihakimi: perbuatan dosa(jahat dan najis) yang merugikan sesama.

    • Matius 12: 36
      12:36. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orangharus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.

      Perkara kedua yang dihakimi: perkataan sia-sia: dusta, gosip dan lain-lain. Harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman! TUHAN mencatat semuanya. Tidak bisa lepas!

      "Kalau di Sekolah daftar hadir masih bisa salah. Tetapi kalau dalam bukunya TUHAN tidak ada salahnya; tanggalnya, jamnya, detiknya semuanya ada."

    • Roma 2: 16
      2:16. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

      Perkara ketiga yang dihakimi: segala sesuatu yang tersembunyi di dalam hati: prasangka buruk, kepahitan, iri dan lain-lain.

      Kalau kakak-kakak Yusuf ditanya: Mengapa kamu begitu kepada adikmu? Iri ya. Mungkin jawabannya: Oh tidak, ini demi kebaikan. Padahal iri. Hati-hati! TUHAN yang tahu.
      Kain terhadap Habel: Adik kamu dipakai, mengapa kamu pukul? Iri?Mungkin jawabannya: Tidak, saya bukan pembunuh. Macam-macam.

    • Matius 7: 1
      7:1. "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

      Perkara keempat yang dihakimi: selalu menghakimi atau menyalahkan orang lain.

      Yakobus 5: 9
      5:9. Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungutdan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiridi ambang pintu.

      Kalau saling menghakimi dan bersungut--mulai dari dalam nikah, penggembalaan dan antar penggembalaan--, rugi, karena akan berhadapan dengan Hakim. Hakim itu akan menghakimi dan
      menghukum. Satu keluarga dihukum, untuk apa? Suami-isteri, antara orang tua-anak saling menyalahkan, kalau dibawa ke hakim semuanya untuk dihakimi dan dihukum, buat apa? Kalau suami dihukum, apakah senang?

      "Memang ada kejadian, berkaitan dengan fellowship semacam ini juga. Kalau fellowship itu dari TUHAN jangan menghalangi! Kami mau fellowship dihalangi (soal tempatnya), tahu-tahu ditolak. Tinggal satu minggu diputus tidak boleh. Saya mau ngomong, tidak boleh. Biasanya ke manapun saya kejar, tetapi waktu itu saya diam. Tetapi isteri saya bilang: Kamu diam, bahaya dia. Tidak lama kemudian, dia dipenjarakan oleh suaminya (isteri dipenjarakan oleh suaminya sendiri). Kalau bisa memenjarakan isteri, apakah suami senang? Untuk apa? Rugi! Lebih baik saling mengaku dan mengampuni; berhadapan dengan Yesus sebagai Imam Besar yang berbelas kasihan, sehingga suami, isteri, anak, orang tua ditolong dan diberkati TUHAN."

      Mari, semua saling jujur--saling mengaku dan mengampuni. Sesama hamba TUHAN, apa senang kalau hamba TUHAN lain dipenjara?

      "Waktu kami di desa, palang gereja diturunkan. Saya memang tidak tinggal di sana setiap hari; saya masih bantu di Surabaya (saat khotbah saya bermalam di sana satu-dua hari). Saya datang ke lurahnya: 'Pak Lurah, bapak menurunkan, mana suratnya? Saya bukan liar, ada organisasi saya, di atasnya ada BIMAS Kristen Jawa Timur, di atasnya ada Dirjen; saya ada surat-suratnya.' Takut lurahnya. Waktu itu saya masih umur 30 tahun. Tetapi apa yang dia katakan?: 'Maaf Pak, yang menurunkan ini pendeta A itu.' Saya yang diam, dan pulang. Saya tidak urus lagi, karena yang menurunkan pendeta. Masa senang kalau pecat pendeta? Kalau senang, berarti suka menghakimi. Sampai hari ini tidak dipasang. Ya sudah."

      "Setelah itu saya pindah di Malang dan melanjutkan pembangunan gereja. Saya pikir: Kalau pagi bisa di gereja lama dan sore di gereja yang baru (dua kali kebaktian). Tahu-tahu ada surat dari pendeta juga (satu organisasi): Bapak tidak boleh di sini lagi. Waktu itu ketua umumnya Pdt Pong, calon mertua, tetapi beliau berkata: Mengapa kita harus bertengkar dengan pendeta? Serahkan! Ternyata ada maksud TUHAN, yaitu supaya saya buka di Surabaya, Medan dan Jakarta. Tenang saja, Imam Besar selalu berbelas kasih pada kita. Kalau kita berbelas kasih pada orang lain, maka Imam Besar selalu berbelas kasihan pada kita. Ini cerita-cerita yang sungguh terjadi."

      Suami-isteri, anak orang-tua, dalam penggembalaan (domba-domba, sesama zangkoor) saling menghakimi, apa untungnya? Nanti akan sama-sama dihakimi. Begitu juga antar hamba TUHAN lain. Namanya pendeta, biar saja mau berbuat apa, tidak usah bertengkar. TUHAN berbelas kasih pada kita.

      Percayalah, kuasa TUHAN lebih dari usaha kita!Kalau kita yang berusaha, tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau TUHAN yang berusaha, lebih mudah dari membalikkan telapak tangan. Percayakan kepada TUHAN dan jangan saling menghakimi!

      Kecuali seperti dalam Matius 7: 6, yaitu penghakiman tentang pengajaran yang benar.
      Matius 7: 6
      7:6. "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjingdan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

      Jadi penghakiman itu hanya soal pengajaran yang benar. Artinya: kita harus selektif dalam memberitakan atau mendengar firman pengajaran yang benar. Tidak boleh sembarangan! Kita harus tegas, hanya mendengar pengajaran yang benar dan tegas menolak yang salah. Itu istilah penghakiman.

      "Saya membaca ini dalam tulisan opa van Gessel. Bukan menghakimi orangnya, tetapi pengajarannya. Kalau benar, harus kita terima dan dukung. Kalau tidak benar tetapi kita terima, hancur. Tadi pagi saya cerita: Kalau tidak menyembah raja dengan 'Haleluya,' hujan tidak turun, ditambah turun tulah. Saya dan isteri takut dan bergetar. Hamba TUHAN kering saja, itu sudah hukuman, kalau ditambah tulah, apa yang terjadi? Sebab itu jangan sembarangan berfellowship! Turun hujan Roh Kudus dan berkat atau turun kering dan tulah? Itu saja. Mari, sungguh-sungguh!"

      Menghakimi pengajaran itu harus dalam kejujuran!


    • Matius 25: 33, 41-42, 45
      25:33. dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
      25:41. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
      25:42. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
      25:45. Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
      segala sesuatu yang tidak kamu lakukanuntuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

      Tadi, yang diperbuat, dikatakan (yang aktif). Sekarang yang pasif; yang tidak dilakukan juga akan dihakimi.

      Perkara kelima yang dihakimi: tabiat dosa atau egois--seperti kambing, yaitu segala sesuatu yang tidak dilakukan sementara sudah digerakkan TUHAN = tidak melakukan sesuatu untuk pembangunan tubuh Kristus sekalipun sudah digerakkan oleh TUHAN/pemberitaan firman.

      Mungkin digerakkan berdoa, memberi dana, ikut serta, memberi untuk sesama yang membutuhkan, tetapi kita tidak mau.
      Kalau kita bisa mendengar dan melihat sesama yang membutuhkan, itu bukan biasa-biasa saja. Tetapi kita sedang diberikan arah oleh TUHAN, tinggal kita mau melakukan atau tidak. Tunggu gerakan firman--kalau sesuai firman, kita lakukan. Kalau tidak melakukan (tabiat egois), akan dihakimi TUHAN. Juga soal mengaku dan mengampuni mulai dari nikah (pembangunan tubuh Kristus mulai dalam nikah), kalau firman sudah gerakkan tetapi tidak dilakukan, juga akan dihakimi.

      Apa saja bentuknya, kalau digerakkan TUHAN dan tidak kita lakukan, kita akan dihakimi TUHAN.

    Di mana tempat penghakiman?
    Wahyu 20: 11-15
    20:11. Lalu aku melihat suatu takhta putihyang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.
    20:12. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka
    semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
    20:13. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.
    20:14. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.
    20:15. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

    'lautan api' = neraka selama-lamanya.
    Tempat penghakiman adalah takhta putih.
    Ada tiga macam kitabdi takhta putih:

    • Yang pertama: alkitab/firman Allah (Wahyu 5: 'gulungan kitab'). Ini ukuranuntuk menghakimi secara adil. Tidak ada buku lain. Karena itu di dalam kita melaksanakan tugas masing-masing (dalam kehidupan di dunia) harus berdasarkan alkitab. Kalau di luar alkitab, akan dihakimi. Misalnya: kita bekerja sesuai dengan alkitab.

      Dengarkan firman, kalau tidak boleh tetapi kita lakukan, kita akan dihakimi. Demikian juga dalam pelayanan, berorganisasi. Sesuaikan semuanya dengan alkitab!
      Ukuran penghakiman yang adil hanya satu yaitu alkitab. Kembali pada pengajaran yang benar!

    • Yang kedua: kitab-kitab---'semua kitab' = kitab secara pribadi--seperti raport di sekolah--, yang memuat lima hal yang harus dipertanggungjawabkan: perbuatan, perkataan, angan-angan, menghakimi dan segala sesuatu yang tidak dilakukan sementara sudah digerakkan TUHAN (egois).

    • Yang ketiga: kitab kehidupan, yaitu kitab yang memuat nama-nama orang yang sudah menyelesaikan lima macam dosa selama hidup di dunia; sudah saling mengaku dan mengampuni.
      Kalau itu sudah selesai, entah dia meninggal atau hidup sampai TUHAN datang, namanya akan tertulis dalam kitab kehidupan. Tidak usah takut!

      Karena itu perpanjangan umur hidup kita, gunakan untuk menyelesaikan dosa, bukan menambah dosa, supaya nama kita tertulis dalam kitab kehidupan--kita tidak sudah dihakimi lagi, tetapi kita berhak masuk Yerusalem baru.

      Wahyu 21: 27
      21:27. Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupanAnak Domba itu.

      Wahyu 21-22= Yerusalem baru. Yang bisa masuk kota Yeusalem baru hanya kehidupan yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan, berarti sudah menyelesaikan dosa-dosa selama hidup di dunia.

      "Kami hamba TUHAN bersama jemaat mari berdoa supaya firman dibukakan untuk mengungkapkan dosa-dosa yang tersembunyi."

      Dosa ini masalah terberat yang membebani manusia---membuat manusia menderita--sejak dunia sampai akhirat. Kalau dosa sudah diselesaikan, masalah lain pasti TUHAN buka jalan. Itu yang penting! Biarlah firman mengungkapkan dosa dan kedatangan TUHAN yang kedua kali, supaya kita menyelesaikan dosa-dosa. Kalau dosa selesai, semua selesai sampai nama tertulis dalam kitab kehidupan.

      Sebaliknya, kalau tidak maumenyelesaikan dosa di dunia, malah mempertahankan dosa, menambah dosa, akibatnya: namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan; dibuang dalam lautan api dan belerang (kematian kedua; neraka selamanya).

      Wahyu 20: 15
      20:15. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanyatertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

      Sebenarnya manusia cukup mati satu kali saja, tetapi kalau tidak menggunakan kesempatan untuk mendengar bunyi sangkakala dan menyelesaikan dosa, ia harus masuk kematian kedua; neraka selamanya.

    Kalau takhta penghakiman sudah digelar, tidak ada kesempatan lagi untuk menyelesaikan dosa.

    "Seperti masuk pengadilan. Sebelum masuk pengadilan, kalau berdamai dulu, tidak usah masuk pengadilan. Tetapi kalau sudah masuk, harus diputuskan siapa yang dihukum. Karena itu kalau takhta putih sudah digelar, tidak bisa lagi. Sebab itu mulai sekarang kita harus banyak menghakimi diri sendiri untuk membereskan dosa-dosa."

    1 Petrus 4: 17
    4:17. Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?

    'Rumah Allah'= setiap kehidupan kita.
    Mulai sekarang kita harus banyak menghakimi diri sendiriuntuk membereskan segala dosa. Kalau banyak menghakimi orang lain berarti tidak ada kesempatan untuk menghakimi diri sendiri.

    Proses menghakimi diri sendiri di dalam dunia:
    Wahyu 1: 15
    1:15. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.

    Wahyu 1= penampilan Yesus dalam kemuliaan sebagai Raja, Mempelai Pria Sorga, juga sebagai Hakim.
    Yesus tampil sebagai Hakim di atas segala hakim untuk menghakimi Rumah Allah--kita--lebih dahulu. Kalau orang yang tidak percaya, nanti akan dihakimi.

    Sekarang, selama di dunia kita dulu yang dihakimi. Ada dua penampilan Yesussebagai Hakim diatas segala hakim:

    • Yang pertama: 'suara-Nya bagaikan desau air bah'. Artinya: firman pengajaranyang lebih tajam dari pedang bermata dua; suara sangkakala; kabar mempelai untuk menghakimi kita semua--rumah Allah; anak TUHAN/pelayan TUHAN/hamba TUHAN.

      2 Timotius 4: 1-2
      4:1. Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimiorang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
      4:2. Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,
      nyatakanlah apa yang salah, tegorlahdan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

      Firman pengajaran yang benar berisi tiga hal:

      • Menyatakan apa yang salah; menyatakan dosa yang tersembunyi, supaya kita sadar, menyesal dan mengakui dosa-dosa kepada TUHAN dan sesama.
        Hasilnya, kita mengalami pengampunan dosa--tidak dihukum.

        Ini enaknya penghakiman di dalam dunia. Kalau di takhta putih, habislah kita.
        Karena itu mendengar firman bukan untuk tertawa-tawa, tetapi cari firman yang bisa mengungkap dosa-dosa, supaya selesai semuanya. Rugi sekali kalau mendengar firman hanya untuk tertawa-tawa. Sungguh-sungguh!

      • Menegor--tegoran yang keras--, supaya kita berhenti berbuat dosa dan kembali pada TUHAN. Kesalahan kita adalah sudah mengaku tetapi berbuat lagi sehingga pengampunan batal dan penghukuman jalan.
        Supaya tidak berbuat lagi, firman menegor sampai kita berhenti berbuat dosa dan kembali pada TUHAN; sampai terlepas dari dosa.

        Kalau sudah terlepas dari dosa, tidak ada lagi yang ditegor.
        Misalnya: anak seringkali keluar rumah tanpa pamit. Sekali ketahuan: Jangan begitu!Dua kali, tambah keras. Tiga kali tambah keras lagi. Tetapi kalau anak sudah baik, sudah pamit, pulangnya lebih awal, masa ditegor lagi?

        Jadi begitu, tidak usah takut mendengar firman yang keras! Selama dosa dipertahankan, firman lebih keras lagi. Kalau hatinya batu, firmannya roti, firmannya yang akan hancur. Karena itu kalau hatinya keras seperti batu, firmannya seperti palu. Jangan kaget! Kalau sudah bertobat; terlepas dari dosa, firman itu jadi nasihat, sudah enak di telinga. Kalau tetap bertahan pada dosa, firman tetap keras. Hanya ada dua alternatif bisa lembut dan bertobat atau bisa seperti Yudas yang meninggalkan pengajaran benar.

      • Menasihati= tuntunan tangan TUHAN supaya kita hidup benar dan suci. Jangan keluar-keluar lagi!
        Nasihat juga merupakan jalan keluar dari segala masalah.

      Inilah keberhasilan pemberitaan firman pengajaran; kalau bisa menunjuk dosa, menegor dan menasehati. Pasti ada jalan keluar dari segala masalah. Jangan takut! Firman pengajaran memang keras, karena hati kita keras.

      1 Korintus 14: 3
      14:3. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.

      Selain menasihati, firman pengajaran juga menghibur. Banyak masalah kita, tetapi kalau TUHAN yang menuntun, ada jalan keluar. Seperti bangsa Israel menghadapi Laut Kolsom, ada pintu terbuka karena tuntunan TUHAN. Yang penting dalam tuntunan tangan TUHAN--nasihat. Sesudah itu firman pengajaran yang benar memberikan:

      • Penghiburan, sehingga kita bahagia di tengah penderitaan; enak dan ringan; damai sejahtera.
        Setiap dengar firman, mungkin kita belum punya apa-apa--mungkin dalam pengalaman kematian, baru jadi hamba TUHAN tidak bisa makan dan minum; sering tidak punya uang; sering tidak bisa ke dokter saat sakit--, tetapi kalau ada firman, kita terhibur, bahagia di tengah penderitaan; damai di tengah gelombang penderitaan, semua enak dan ringan.

      • Lalu membangun kerohanian--menyucikan--kita sampai kesempurnaan; masuk pembangunan tubuh Kristus yang sempurna/mempelai wanita sorga.

        "Kalau firman pengajaran yang benar bisa membangun tubuh Kristus yang sempurna, apalagi membangun gedung gereja. Bukan saya sombong, dari pengerja saya belajar. Waktu itu gereja kami belum ada pagarnya. Pdt Pong pernah kaget, karena saya menghadap: 'Saya mau bangun pagar.' Beliau pikir saya mau minta uang kas, tetapi saya jawab: 'Saya tabung sedikit-sedikit.' Pdt Pong berkata: 'Bagus!' Diberi kekuatan. Baru bangun pagar saja, sudah diberi kekuatan. Biarpun saya miskin, saya tidak mau meminta. Saya yakin, kalau ada firman pengajaran yang membangun rohani, maka yang jasmani juga bisa."

        "Sudah terbukti, tanah di Malang sudah terbeli, tinggal membangun. Saya percaya TUHAN tolong. Karena itu Pdt In Juwono selalu berkata: Dahulukan yang rohani; pembangunan tubuh Kristus. Yang jasmani, TUHAN juga mampu. Tidak usah minta-minta! Mohon maaf, ini rumah TUHAN, biar Dia yang bertanggung jawab. Asal ada pengajaran, maka ada pembangunan yang rohani dan jasmani."

    • Yang kedua: 'kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian'= kaki-Nya bagaikan nyala api. Tembaga menunjuk pada penghukuman. Tadi yang pertama lewat pedang firman; suara yang keras. Sekarang yang kedua: lewat nyala api siksaan; sengsara daging bersama Yesus; salib.

      1 Petrus 4: 1-2
      4:1. Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--,
      4:2. supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.

      Dalam pengalaman salib/penderitaan daging, justru merupakan kesempatan terbesar dan terbaik untuk memeriksa--mengoreksi; menghakkimi--diri lewat ketajaman firman. Jangan mencari jalan sendiri!

      Bentuk salib macam-macam: puasa, doa semalam suntuk, doa malam.

      "Saat-saat berpuasa itu paling enak, baru masuk di ruangan ibadah, hati sudah lain. Benar-benar menyingkir, sudah tidak peduli dengan keadaan dunia. Mohon ampun kalau dianggap sok atau berlebihan. Tetapi saya bersaksi, saat doa puasa, senang. Kalau tidak bisa apa-apa, saya umumkan doa semalam suntuk, tambah lagi doa malam. Mau apalagi kita gembala kecil?"

      Bisa juga dalam bentuk: dizjinkan tidak punya apa-apa, tidak bisa makna karena Yesus, difitnah (tidak salah tetapi disalahkan), ditekan oleh pemerintah, organisasi.
      Itu saatnya untuk koreksi diri di bawah kaki TUHAN; koreksi diri lewat ketajaman firman. Kalau kita ditekan, enak, itu kesempatan untuk menghakimi diri sendiri. Jangan sana sini, itu menghakimi orang lain!

      Koreksi diri, kalau ada dosa, harus diakui. Kalau diampuni, jangan berbuat dosa lagi, sampai satu waktu tidak ada lagi dosa yang harus dipertanggungjawabkan. Itu saja.

      "Kenapa tidak mau mengaku, apalagi kita yang muda kepada yang tua? Kesempatan untuk menyelesaikan dosa sampai tidak ada lagi dosa yang dipertanggungjawabkan. Kita bebas dari takhta putih."

      Kalau tidak ada dosa, diam saja. Jangan membela diri, biar TUHAN yang membela. Kalau kita membela diri, TUHAN diam; tidak membela kita. Hati-hati dengan pendapat orang! Karena terlalu pandainya, sehingga menggunakan pendapatnya sendiri--bukan memakai firman. Sama seperti isteri bilang: kalau tunduk kepada suami, nanti diinjak-injak. Jangan memakai pikiran yang negatif! Ikuti firman saja!

    Posisi kehidupan yang menghakimi diri sendiri:
    Wahyu 1: 15
    1:15. Dan kaki-Nyamengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.

    Kalau menghakimi diri sendiri, posisi kita adalah di bawah kaki TUHAN. Artinya:

    • Kita hanya mengaku sebagai tanah liat yang tidak layak, tidak mampu apa-apa, tidak berdaya apa-apa, tidak berharga apa-apa.

      "Kalau jemaat banyak pergi, hamba TUHAN periksa diri, mengaku sebagai tanah liat. Karena itu dalam fellowship semacam ini, saya sangat bahagia, saya merasa mendapatkan kekuatan baru dari TUHAN, apalagi banyak hamba TUHAN senior. Siapa kita? Tidak mampu, kita saling menopang. Inilah di bawah kaki TUHAN. Memang hanya tanah liat, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa. Serahkan pada TUHAN!"

    • Yehezkiel 43: 7
      43:7. dan Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Kudan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus, baik mereka maupun raja-raja mereka, dengan persundalan mereka atau dengan mayat raja-raja mereka yang sudah mati;

      Kaki TUHAN memang diremehkan, tetapi itulah takhta sorga.

      Yang kedua: Memang kita tanah liat yang berada di bawah kaki TUHAN, tetapi kita bersuasana takhta sorga.

      Posisi orang yang menghakimi diri memang rendah--tanah liat--, tetapi bersuasana takhta sorga. Itulah di bawah kaki TUHAN!

    Hasilnya:

    • Matius 15: 32-37
      15:32. Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan."
      15:33. Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?"
      15:34. Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil."
      15:35. Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu
      duduk di tanah.
      15:36. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.
      15:37. Dan mereka semuanya
      makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

      'duduk di tanah'= tersungkur; menghakimi diri sendiri; menyerah kepada TUHAN.
      Sudah malam dan sunyi, hanya ada tujuh roti untuk menghadapi empat ribu orang= krisis. Jangan ke mana-mana! Jawabannya adalah di bawah kaki TUHAN; di tanah; dengar firman dan koreksi diri!

      Hasil pertama: kita mengalami uluran tangan belas kasih anugerah TUHAN yang besar untuk memelihara kehidupan kitayang tidak berdaya secara ajaib dan berkelimpahan di tengah krisis dunia, sampai antikris berkuasa di dunia selama tiga setengah tahun.

      Tanah liat memang kecil tetapi ada di dalam tangan anugerah TUHAN. Berkelimpahan artinya kita selalu mengucap syukur, sampai hidup kekal selamanya-lamanya.
      Mari sungugh-sungguh! Yang sulit secara ekonomi dan sebagainya, mau lari ke mana? Mau tambah modal, silahkan, tetapi lebih banyak harus lari di bawah kaki TUHAN; mengaku sebagai tanah liat--kecil, tidak bisa apa-apa--, dan hidup dalam tangan belas kasih TUHAN yang besar. Periksa dosa-dosa! Dosa itu penghalang berkat TUHAN.

    • Matius 15: 29-30
      15:29. Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ.
      15:30. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu
      meletakkan mereka pada kaki Yesusdan Ia menyembuhkan mereka semuanya.

      Hasil kedua: kuasa kesembuhan; pertolongan = kita mengalami uluran tangan belas kasih TUHAN yang besar untuk menolong kitatepat pada waktunya; menyelesaikan masalah yang mustahil.

      Penyakit apapun--penyakit tubuh, penyakit dalam pelayanan--, TUHAN tolong kita semua asal berada di bawah kaki TUHAN.

      Sakit itu cacat, setelah disembuhkan, benar-benar indah; semua selesai, semua berhasil,indah dan bahagia. Yakinlah! Tinggal tugngu waktu TUHAN di bawah kaki TUHAN! Koreksi diri! Dosa itu yang membuat masalah, air mata dan kegagalan.

    • 1 Korintus 15: 25-26
      15:25. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.
      15:26. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah
      maut.

      Maut= dosa.

      Hasil ketiga: uluran tangan belas kasih TUHAN yang besar mengalahkan dosalewat pengampunan dosa.

      Dosa apapun, itu yang membuat kita gagal.
      Tetapi kesempatan ini--dibuka kesempatan seluas-luasnya di bawah kaki TUHAN--, dosa sudah dikalahkan lewat pengampunan. Sudah terlanjur berbuat dosa, lewat pengampunan, dosa/maut dikalahkan.

      Contoh:

      • Lukas 7: 37-38
        7:37. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.
        7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus
        dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

        'perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa' = perempuan tercemar; pelacur.
        'Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya' = datang di bawah kaki TUHAN.

        Perempuan tercemar--berdosa sampai puncaknya dosa--, tetapi mau duduk di bawah kaki TUHAN. Sudah busuk dan binasa, tetapi mau di bawah kaki TUHAN sehingga dia mendapatkan pengampunan.

        Dia mengakui dosa-dosanya--dengan air mata berlingang--, dan dia diampuni, sehingga terjadi minyak urapan Roh Kudus.

        Dosa membuat kering, tetapi pengakuan dan pengampunan dosa membuat kita mendapatkan minyak urapan Roh Kudus. Yang busuk jadi harum. Tanah liat dibentuk jadi bejana kemuliaan untuk membawa keharuman Kristus lewat kabar baik--menyelamatkan orang berdosa--dan kabar mempelai--menyucikan dan menyempurnakan orang yang sudah percaya Yesus.

        Di bawah kaki TUHAN kita terpelihara, masalah selesai, krisis selesai, berhasil, indah, bahagia dan berbau harum--dipakai TUHAN. Ada suasana takhta sorga. Semuanya bersuasana takhta sorga.

      • Ayub 32: 1-2
        32:1. Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.
        32:2. Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena
        ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,

        Ayub saleh dan jujur (Ayub 1: 1), tetapi sayang ada dosa kebenaran diri sendiri--menutupi dosa dengan menyalahkan orang lain dan TUHAN/pengajaran yang benar--, sehingga diizinkan TUHAN mengalami ujian habis-habisan.

        Tadi perempuan diizinkan busuk; bau tetapi di bawah kaki TUHAN bisa harum.

        Ayub diizinkan mengalami ujian habis-habisan sampai hancur lebur, tetapi untung Ayub duduk di debu; di bawah di kaki TUHAN.
        Ayub 42: 5-6
        42:5. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
        42:6. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal
        aku duduk dalam debu dan abu."

        'aku duduk dalam debu dan abu'= duduk di bawah kaki TUHAN; koreksi diri.
        Dosa kebenaran sendiri banyak salah dalam perkataan--dusta, gosip, fitnah. Itu harus dicabut. Ayub mengoreksi diri dan mencabut kebenaran sendiri; mencabut perkataan yang salah.
        Mari pada kesempatan hari ini, koreksi diri lewat firman (bunyi guruh), lewat penderitaan. Jangan tunggu sampai hancuran-hancuran seperti Ayub! Cabut sekarang kata-kata yang salah!

        Kalau belum dicabut pasti dikejar TUHAN, karena Ia baik. Kalau kita dibiarkan saja, kita hancur dan binasa. Lebih baik yang jasmani hancur-hancuran tetapi kita bisa diselamatkan oleh TUHAN. Sungguh-sungguh serius!
        Hasilnya, urapan Roh Kudussanggup membuat yang hancur-hancuran jadi baik; pulih kembali dua kali lipat.

        Mari, cabut dosa kebusukan, supaya jadi harum! Kebenaran sendiri juga dicabut, kalau tidak, kita akan hancur! Tetapi kalau masih bisa mendengar firman, mau mengaku, kita akan dipulihkan dua kali lipat.
        Roh Kudus menolong kita; membuat yang busuk jadi harum, yang hancur jadi baik semuanya.

        Roh Kudus membentuk tanah liat jadi benjana kemuliaan--Ayub dipakai oleh TUHAN. Kita juga dipakai untuk kemuliaan nama TUHAN.

        Sampai terakhir, kuasa Roh Kudus sanggup menyucikan dan mengubahkan sampai kita sempurna--tidak ada dosa lagi, kita tidak bercacat cela. Kita menjadi sempurna seperti Dia untuk layak menyambut kedatangan-Nya di awan-awan yang permai.

Menghadapi apapun, kita berada di kaki TUHAN: Saya hanya tanah liat, bentuklah aku TUHAN. Serahkan semua pada TUHAN!
Mengapa TUHAN bisa membuat yang busuk jadi harum, yang hancur jadi baik, yang buruk jadi indah? Karena Dia mau dihancurkan di kayu salib. Dia yang harum rela dibusukkan--difitnah lebih dari penjahat; mereka lebih memilih Barabas--, supaya kita yang hancur dan busuk dipulihkan saat ini juga, bukan besok atau lusa.

TUHAN memberkati.

Versi Cetak

Transkrip
  • Ibadah Doa Puasa Session II Malang, 03 September 2013 (Selasa Siang)
    ... Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel. Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan. Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN. Berfirmanlah ...
  • Ibadah Doa Surabaya, 17 Desember 2014 (Rabu Sore)
    ... gomer untuk tiap-tiap orang dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa. Pada hari keenam bangsa Israel memungut manna dua gomer dua kali lipat gomer untuk hari keenam dan gomer untuk hari ketujuh hari Sabat di mana tidak boleh ada orang yang bekerja . Hari keenam menunjuk pada akhir zaman. hari tahun ...
  • Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 11 Februari 2016 (Kamis Sore)
    ... yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka Ada tertulis Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun. Untuk bisa menjadi rumah doa Tuhan mengusir orang yang berjual-beli dari bait Allah artinya penyucian yang menimbulkan sengsara ...
  • Ibadah Doa Puasa Session II Malang, 31 Maret 2015 (Selasa Siang)
    ... dari Mesir. Musa mengambil ketetapan hati untuk mengalami kelepasan atau penebusan. Demikian juga kita gereja akhir jaman juga harus memiliki ketetapan hati untuk mengalami penebusan oleh Tuhan. Wahyu - Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu dan tidak seorangpun yang dapat ...
  • Ibadah Raya Malang, 03 Mei 2009 (Minggu Pagi)
    ... dengan nikah manusia tapi dihancurkan oleh Adam dan Hawa. Karena itu Allah merestorasi nikah manusia sehingga Alkitab ditutup dengan nikah yang rohani. Kita harus benar-benar menjaga nikah di dunia sehingga bisa masuk nikah yang sempurna. Kalau nikah kembali pada nikah yang sempurna maka akan bisa masuk Firdaus lanjut masuk Yerusalem ...
  • Ibadah Raya Surabaya, 02 Desember 2018 (Minggu Siang)
    ... RayaSalam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera kasih karunia dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah-tengah kita sekalian. Wahyu - . Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar menyala-nyala seperti obor dan ia menimpa ...
  • Ibadah Doa Puasa Malang Session II, 13 Mei 2014 (Selasa Siang)
    ... melakukan kehendak Tuhan. 'Baik pada manusia maupun pada hewan' artinya hidup kita secara rohani dan jasmani harus melakukan kehendak Tuhan. Anak sulung adalah milik Tuhan. Artinya penyerahan hidup kepada Tuhan yaitu menyerahkan segala kehendak kita kepada Tuhan supaya hidup yang kita alami sekarang bukan hidup kita lagi tetapi Kristus dalam ...
  • Ibadah Doa Surabaya, 19 November 2008 (Rabu Sore)
    ... dalam menanti kedatangan Tuhan yaitu masuk dalam doa penyembahan. Dan anak Tuhan harus meningkat dalam kerohanian seperti naik gunung sampai pada puncak kerohanian itulah menyembah pada Tuhan. 'burung nazar membuat sarang' suatu kebutuhan. Artinya doa penyembahan hari-hari ini harus sudah menjadi kebutuhan anak-anak Tuhan. Kalau tidak menyembah akan kering rohani ...
  • Ibadah Raya Surabaya, 03 Januari 2016 (Minggu Sore)
    ... pernah cerita hanya karena infeksi tenggorokan sudah stress seperti mau mati. Seharusnya dihadapi dengan ketenangan. Ketakutan adalah bukti tidak ada kasih. Kalau ada kasih yang sempurna--dua loh batu-- tidak ada ketakutan tetapi hanya ada penyerahan sepenuh kepada TUHAN. Ketakutan ini melanda dari zaman ke zaman zaman permulaan--dari Adam sampai Abraham-- diwakili ...
  • Ibadah Doa Surabaya, 10 November 2010 (Rabu Sore)
    ... Gembala Agung untuk memisahkan domba dari kambing. ay. kambing dan domba dipisahkan dari posisinya posisi domba di sebelah kanan posisi kambing di sebelah kiri. Posisi domba yang disebelah kanan itulah yang akan masuk ke tahta kemuliaan ay. sedangkan kambing yang disebelah kiri akan masuk dalam penghukuman kekal ay. . . Dan ...

Siaran Langsung

Live Streaming GPTKK

Rekaman

Ikuti rekaman ibadah kami

Transkrip

Ringkasarn Firman Tuhan

Kesaksian

Pengalaman hidup bersama Firman Tuhan

Untuk Koneksi Lambat, silakan buka https://id.gptkk.org

Silakan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau ingin berlangganan majalah Manna, dan silakan kirim email ke widjaja_h@yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala.