English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 Maret 2014)
Tayang: 19 April 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 10 Juni 2007)
Tayang: 23 Maret 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 12 Agustus 2007)
Tayang: 28 September 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 21 Januari 2007)
Tayang: 14 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 25 November 2007)
Tayang: 06 September 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 25 Mei 2014)
Tayang: 09 Desember 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 30 September 2007)
Tayang: 11 Februari 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Senin, 06 Januari 2008)
Tayang: 10 Maret 2010
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 06 Oktober 2013)
Tayang: 19 Januari 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 14 September 2014)
Tayang: 24 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 24 Juni 2007)
Tayang: 24 Mei 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 28 Oktober 2007)
Tayang: 21 Juni 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 25 Februari 2007)
Tayang: 01 Juli 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 26 Januari 2014)
Tayang: 14 Desember 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 05 Januari 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 31 Agustus 2014

Kita tetap membaca kitab Wahyu 1: 10-12

Wahyu 1: 10-12,
10. Pada hari TUHAN aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
11. katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."
12. Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

Ayat 12 => Yohanes mendengar bunyi sangkakala tetapi juga bisa melihat bunyi/suara sangkakala.

Pulau Patmos ini dinyatakan sebagai tempat pembuangan orang-orang jahat. Rasul Yohanes dibuang di Pulau Patmos mengalami sengsara daging bukan karena berbuat jahat, tetapi karena firman Allah dan kesaksian YESUS, sehingga bisa mendengar dan melihat bunyi sangkakala yang nyaring, yang menjadi dua wujud nyata:

  1. Tujuh kaki dian dari emas (Wahyu 1: 12) = gereja TUHAN yang sempurna atau sidang jemaat yang sempurna.
  2. Pribadi YESUS dalam kemuliaan sebagai Imam Besar, Gembala Agung, Raja segala Raja dan Mempelai Pria Surga (Wahyu 1: 13-20).

Wahyu 1: 13, Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.

Dimana ada kaki dian emas (pelita emas), disitu pasti ada Pribadi YESUS dalam kemuliaan sebagai Imam Besar, Gembala Agung, Raja segala Raja dan Mempelai Laki-laki dari surga. Semoga kita dapat mengerti.

Apakah artinya suara sangkakala yang nyaring, yang dapat di dengar dan di lihat oleh rasul Yohanes? Kita bandingkan dengan Injil Lukas 2: 20.

Lukas 2: 20, Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Ayat 20 => menjadi Wujud bayi YESUS.

Tadi, rasul Yohanes mendengar dan melihat bunyi sangkakala yang menjadi wujud pelita emas dan Pribadi YESUS. Waktu natal, para gembala mendengar dan melihat berita malaikat yang juga menjadi Wujud Bayi YESUS. Jadi suara sangkakala yang nyaring, yang bisa di dengar dan di lihat oleh rasul Yohanes = berita malaikat yang bisa di dengar dan di lihat oleh para gembala = Firman penggembalaan. Malaikat = gembala. Sangkakala itu ditiup oleh penjaga (gembala).

Sekarang ini yang harus kita dengar dan lihat adalah suara sangkakala yang nyaring. Kalau dilengkapkan, jadi suara sangkakala yang nyaring adalah Firman penggembalaan yang mengandung bobot Firman pengajaran yang benar, yang keras, yang tajam, yang disampaikan secara berulang-ulang, sehingga mampu untuk menyucikan dan mengubahkan sidang jemaat sampai menjadi sempurna seperti YESUS. Kita menjadi Mempelai Wanita Surga yang siap untuk menyambut kedatangan YESUS ke dua kali dalam kemuliaan sebagai Raja segala Raja, dan juga sebagai Mempelai Pria Surga di awan-awan yang permai. Ini seperti pelita emas dan ditengah-tengahnya ada Pribadi YESUS (Pribadi YESUS ditengah-tengah sidang jemaat).

Pada hari TUHAN” = hari terakhir/hari yang dahsyat. Pada zaman akhir ini kita harus mendengar bunyi sangkakala yang nyaring, seperti rasul Yohanes. Kita bukan lagi mendengar yang lawakan-lawakan, lelucon, tetapi harus mendengar Firman pengajaran yang benar, yang keras, yang tajam.

Meniup sangkakala tentu tidak ditiup satu kali saja, tetapi ditiup berulang-ulang. Misalnya: mungkin masih ada yang berdusta, sehingga sangkakala meniup soal dusta. Sangkakala ditiup lagi (diulang-ulang) ini berarti memberikan kesempatan dan diingatkan lagi, sampai sidang jemaat dapat disucikan sampai sempurna seperti YESUS. Mari kita perhatikan bunyi/suara sangkakala yang keras!

Siapakah yang bisa mendengar suara sangkakala yang keras? Sekarang kita tidak perlu dibuang ke pulau Patmos seperti yang dialami oleh rasul Yohanes. Jika kita beribadah dan melayani TUHAN dengan tanda sengsara bagi daging (sengsara karena YESUS, bukan karena berbuat dosa)/tanda salib/tanda darah, maka kita dapat mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring (Firman penggembalaan yang benar), sehingga kita dapat tergembala dengan benar dan baik.

Tanda sengsara misalnya: mungkin menghadapi hujan dll, tetapi saya, bapak, ibu, saudara dapat sampai disini untuk beribadah. Ini tentu merupakan perjuangan (ada tanda-tanda sengsara). Kalau ibadahnya hura-hura, kita tidak akan dapat melihat dan mendengar suara sangkakala yang nyaring. Jika daging tidak mau sengsara, kita tidak akan dapat tergembala/masuk kandang penggembalaan (pintu sempit) saja sudah tidak mampu => apalagi masuk dalam tiga macam ibadah, hari Minggu, Senin, Rabu, di tempat ini, pasti tidak akan mampu.

Inilah kegunaannya, kita harus mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring, yang keras => maafkan, bukan yang lembek-lembek, yang lawakan, yang lelucon, bukan itu lagi (sudah tidak mampu lagi)! Sebab ini “pada hari TUHAN”/akhir zaman, nanti langit akan terbakar, bumi akan musnah. Jadi kita sudah tidak dapat main-main lagi dan harus mendengar bunyi sangkakala (Firman penggembalaan) yang keras, yang tajam dan diulang-ulang. Kalau tidak diulang-ulang, ini tidak akan dapat sehingga banyak yang akan ketinggalan.

Waktu kebaktian tutup buka tahun, salah satu bunyi sangkakala adalah untuk tanda keberangkatan (saat bangsa Israel mau maju). Kalau sangkakala ditiup satu kali saja, banyak yang tidak berangkat dan akan ketinggalan. Sebab itu bunyi sangkakala harus diulang-ulang. Sampai semuanya bisa mendengar sangkakala. Jadi kalau Firman diulang-ulang, supaya seluruh jemaat dapat mengalami kuasa sangkakala yang nyaring/bisa melihat Wujud nyata dari Firman dalam setiap pribadi kita.

Itu sebabnya, kita jangan bosan jika ada Firman yang diulang-ulang. Kalau Firman diulang (sudah beberapa kali dibaca) itu berarti kita harus semakin maju. Kita mendengar Firman pelan-pelan saja, terus menerus dan nanti pasti mengarah kepada kesempurnaan.

Jika kita tahan mendengar Firman penggembalaan yang benar, yang keras, yang lebih tajam dari pedang bermata dua = jika kita sudah dapat tergembala dengan benar dan baik, maka paling sedikit kita akan mengalami tiga hal yaitu

  1. Filipi 3: 1b-2,
    1b. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.
    2. Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu

    Ayat 1b => “Menuliskan hal ini lagi kepadamu” => ini berarti diulangi, sudah ditulis oleh rasul Paulus lalu dituliskan lagi, sekarang sudah diberitakan lalu diberitakan lagi.
    tidaklah berat bagiku” => mengulangi Firman bagi seorang gembala ini merupakan karunia dari TUHAN. “satu ayat dapat diterangkan sampai beberapa bulan” kalau bukan seorang gembala, akan berat. Banyak orang yang mencaci maki => Firman diulangi lagi ayatnya, sudah tidak ada bahan. Coba dia suruh mengulangi satu ayat untuk khotbah dua sampai tiga kali => pasti tidak akan bisa, jangankan mengulangi lagi untuk maju, mengulangi yang kemarin jangan-jangan sudah tidak bisa. Itulah karunia dari TUHAN, itu sebabnya rasul Paulus tulis “menuliskan hal ini sekali lagi tidak berat bagiku”.

    Jadi “tidak beratini dalam arti memang ada karunianya bagi seorang gembala ini seperti ibu yang memberi makan anaknya. Misalnya: bayi minumnya harus susu, pagi ini diberikan susu oleh ibunya, siang nanti diberikan susu lagi tetapi diganti, jika demikian, ini bukan-lah seorang gembala. Kalau gembala itu “tidak berat” => mengulangi maju lagi, mengulangi maju lagi.
    memberi kepastian kepadamu” => gunanya diulang-ulang adalah untuk memberikan kepastian.

    Yang pertama adalah Firman penggembalaan yang diulang-ulang untuk memberikan kepastian atau keteguhan iman = kita mantap dalam Firman penggembalaan yang Firman pengajaran yang benar, sehingga tidak diterkam oleh anjing-anjing/serigala-serigala.

    Seperti dulu kalau belajar rumus matematika => 2 + 2 = 4, mau diulangi lagi kapan pun 2 + 2 tetap 4. Sebab itu perlu diulang-ulang supaya kita mantap dalam Firman penggembalaan yang benar.
    Anjing-anjing/serigala-serigala (guru palsu, pekerja palsu) yaitu


    • Hamba TUHAN yang bekerja tidak sesuai dengan jabatan pelayanan. Terutama kami sebagai gembala, ditahbiskan sebagai gembala tetapi tidak memberi makan sidang jemaat. Ini termasuk pekerja curang, anjing-anjing, serigala-serigala (maaf seribu maaf). Kita harus waspada! Permisi bicara dan doakan saya juga => kalau gembala tidak memberi makan domba-domba, maka gembala akan memakan domba-domba (menjadi serigala yang memakan domba) = memanfaatkan/memeras domba-domba secara jasmani. Semoga kita dapat mengerti.
      Mari kita mantapkan dalam pengajaran yang benar, jangan diombang-ambingkan, supaya kita tidak diterkam oleh serigala.


    • Hamba TUHAN yang mengajarkan ajaran-ajaran lain/ajaran-ajaran palsu yang tidak sesuai dengan ayat-ayat dalam Alkitab. Misalnya: Alkitab bilang tidak boleh, dia bilang boleh, karena ini dsb.


    • Hamba TUHAN yang hanya menyampaikan dongeng-dongeng, lawakan-lawakan, gosip-gosip (membahas politik dll). Lebih celaka lagi, kalau mengajarkan topik yang ada di bioskop, di televisi => ini dekat-dekat pemilu, lalu mengangkat topik tentang pemilu. Inilah yang namanya pekerja palsu, bukan lagi memberitakan Firman TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.


    Firman semakin diulang, kita akan semakin merasakan kita semakin mantap dan bisa dipertanggung jawabkan. Semoga kita dapat mengerti.


  2. 2 Petrus 2: 7-9,
    7. tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, --
    8. sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa—
    9. maka nyata, bahwa TUHAN tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman,

    Ay 8 => “sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka” => tinggal di Sodom dan Gomora.
    Ay 9 => “bahwa TUHAN tahu menyelamatkan orang-orang saleh” => TUHAN menyelamatkan Lot. Yang benar diselamatkan dan yang jahat disiksa pada hari TUHAN (pada hari penghakiman).

    Yang kedua adalah untuk menghadapi keadaan dunia akhir zaman yang kembali pada zaman Sodom dan Gomora, dimana dunia ini masuk dalam puncak kesulitan-kesulitan dan masuk dalam puncaknya dosa.

    Mengapa kita harus mendengar dan melihat suara sangkakala yang keras = Firman penggembalaan yang diulang-ulang terus-menerus? tadi yang pertama supaya semakin mantap. Seperti dulu belajar matematika, tiap hari diberikan soal dan diulangi oleh gurunya supaya bertambah mantap. Demikian juga dengan Firman, kita mendengarkan Firman, lalu dipraktekkan, maka bertambah mantap, diulangi lagi dan bertambah mantap, sehingga kalau ada suara asing/ serigala mau masuk, maka serigala itu tidak dapat masuk sehingga kita tidak akan dapat digoyahkan. Kalau sudah goyah oleh suara asing, itu berarti memberi kesempatan serigala untuk masuk = sudah dicakar oleh serigala dan serigala tinggal memakan kita. Kita jangan goyah sedikitpun terhadap Firman pengajaran yang benar. Itulah rahasianya. Saya melihat dari gembala-gembala, terutama dua gembala saya yang terakhir yaitu alm bpk pdt In Juwono dan alm bpk pdt Pong Dongalemba => sekali-pun ada ajaran apapun di dunia ini, beliau berdua ini tetap saja memegang pengajaran yang diterima sejak muda (pengajaran yang sudah menjadi pengalaman dalam hidup). Pengajaran jangan mau dicampur-campur dengan apa saja! itulah rahasianya supaya kita mantap.

    Puncaknya dosa (kejahatan dan kenajisan) yaitu:


    • Dosa makan minum: merokok, mabuk, narkoba.
    • Dosa kawin mengawinkan: (maafkan) dosa seks, dosa percabulan dengan berbagai ragamnya, penyimpangan seks (homoseks, lesbian, seks pada diri sendiri), sampai nikah yang hancur.


    Inilah yang akan terjadi di dunia ini. Kekayaan, kepandaian, kedudukan tidak mampu membentengi kita dari keadaan Sodom dan Gomora. Dari satu negeri Sodom dan Gomora, hanya Lot sekeluarga yang selamat, itupun istrinya masih menjadi korban. Kalau dilihat dari sejarah dan nubuatnya ini merupakan keadaan yang sangat genting di akhir zaman. Alkitab itu bukan sejarah biasa seperti yang kita pelajari => kerajaan Singosari, itu sudah terjadi dan tidak akan terjadi lagi. Kalau sejarah di Alkitab, seperti kota Sodom dan Gomora itu bukan sejarah biasa, tetapi juga mengandung arti nubuat yang akan terjadi lagi di akhir zaman. Oleh sebab itu kita dapat belajar => dari satu negeri/satu kota hanya tiga orang yang selamat (istri Lot tidak selamat). Kalau satu gereja, berapa yang selamat? Kalau satu rumah tangga berapa yang selamat saat menghadapi keadaan Sodom dan Gomora? Inilah yang harus menjadi pertanyaan kita. Semoga kita dapat mengerti.

    Lewat sangkakala yang nyaring bunyinya (Firman penggembalaan), maka kita akan terhindar dari pengaruh Sodom dan Gomora. Kalau dipositifkan: hanya suara sangkakala yang nyaring (Firman penggembalaan yang benar, yang keras) yang mampu membentengi kita dari keadaan Sodom dan Gomora di akhir zaman. Hanya inilah satu-satunya yang mampu membentengi kita! Setiap kita datang beribadah ke gereja (mungkin ada tamu-tamu dari gereja lain), apa yang kita cari? Kalau kita mencari dan puas hanya dengan berkat jasmani, kita akan dibinasakan (tergerus sampai habis) oleh keadaan Sodom Gomora di akhir zaman. Jika dalam ibadah kita mau mengalami sengsara daging, seperti rasul Yohanes sengsara di Pulau Patmos, maka kita dapat mendengar dan melihat suara sangkakala (Firman penggembalaan).

    Jika Firman penggembalaan membentengi kehidupan kita, nikah rumah tangga kita, penggembalaan/di gereja kita masing-masing terhadap pengaruh Sodom Gomora di akhir zaman, maka kita akan mengalami:


    • Ketenangan (tidak stres, tidak tersiksa), kebahagiaan surga ditengah kegoncangan di akhir zaman. Nanti orang benar akan tersiksa, karena dosa kejahatan dan kenajisan. Jika kita mendengar dan melihat Firman penggembalaan, jiwa kita menjadi tenang. Didalam penggembalaan itu ada ketenangan => “dibaringkannya aku di rumput yang hijau dan air yang tenang”.

      Tadi di Malang diterangkan => tinggal tunggu waktu nanti darat, laut, udara akan goncang semuanya. Ini sama dengan keadaan Sodom dan Gomora, terjadi kegoncangan jasmani dan rohani. Di saat bapak, ibu, saudara dan saya stres dll => apa yang terjadi ini? mengapa begini? mengapa goncang? ada kesulitan-kesulitan, tetapi jika kita tergembala dengan baik, kita merasa tenang didalam TUHAN.

      Kebahagiaan surga itu tidak bisa diukur dengan yang jasmani. TUHAN berfirman => berbahagialah orang yang lapar, berbahagialah orang yang miskin, berbahagialah orang yang dicela, asalkan kita dapat tergembala. Mungkin orang lain bilang => aduh kasihan, mengapa sampai terjadi seperti itu? tetapi kita bahagia. Fokuskan, agar kita hanya mendengar dan melihat Firman penggembalaan saja (jangan melihat manusia atau siapapun), sebab itulah yang membuat kita tenang. Semoga kita dapat mengerti.


    • Kita bisa tetap bertahan untuk hidup benar dan suci (tidak terpengaruh oleh dosa Sodom Gomora), baik secara pribadi, dalam nikah.
      Inilah pentingnya kita mendengar dan melihat suara sangkakala (Firman penggembalaan) yang diulang-ulang. Mungkin hari-hari ini kita belum kuat, masih bocor, lalu diulang lagi, ditambal lagi, jika masih bocor, ditambal lagi/ dibendung lagi sampai kita dapat hidup benar dan suci ditengah Sodom dan Gomora. Ini luar biasa.

      Kalau kita hidup benar dan suci, ditengah orang benar dan suci, ini masih biasa saja. Kalau kita mau berbuat apa-apa, masih ada yang mengingatkan, sebab yang lain berbuat benar. Tetapi jika kita hidup benar dan suci, ditengah keadaan Sodom dan Gomora, tetapi kita tetap dapat bertahan hidup benar dan suci, itu betul-betul benteng dari Firman yang melindungi kita dari pengaruh Sodom Gomora. Sampai satu waktu kita menjadi sempurna.

      Mari sekarang ini kita jangan mendengar dan melihat yang lain => melihat manusia dll, tetapi harus mendengar dan melihat Firman penggembalaan saja, kita akan semakin mantap dalam TUHAN, tidak akan disesatkan oleh apapun (tidak diterkam), kita akan dijaga/dibentengi di zaman akhir ini. Semoga kita mengerti.


  3. Wahyu 1: 10-12,
    10. Pada hari TUHAN aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
    11. katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."
    12. Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

    Ay 12 => tadi mendengar, sekarang melihat suara.
    Yang ketiga adalah supaya kita dapat melihat wujud yang nyata dari suara sangkakala yang nyaring (firman penggembalaan) dalam kehidupan kita.

Ada dua wujud yaitu

  1. tujuh kaki dian dari emas (Wahyu 1: 12).
    Satu kaki dian emas (satu pelita emas) itu gambaran dari satu sidang jemaat. Angka tujuh itu menunjuk tujuh jemaat bangsa kafir (yang nanti akan kita pelajari mulai Wahyu 2), tetapi angka tujuh itu juga menunjuk kesempurnaan (sidang jemaat yang sempurna). Jadi tujuh kaki dian dari emas adalah sidang jemaat yang mengalami penyucian dan keubahan hidup, oleh suara sangkakala yang nyaring (Firman penggembalaan yang benar), sampai menjadi sempurna seperti YESUS.

    Proses ini berjalan perlahan-lahan, saat sangkakala ditiup => dosa apa yang ditunjukkan, lalu disucikan (dipotong) dan dibaharui. Jadi yang lama dipotong dan tumbuh yang baru. Jika yang lama masih ada, akan diulangi lagi dan seterusnya. Inilah kegunaannya! Tidak semua orang mendengarkan Firman, lalu langsung berubah menjadi suci, tidak! Ada yang dosanya ditunjukkan satu kali bahkan menjadi marah => jangan merokok, apa ini? tidak ada ini di alkitab, adanya cuma di pom bensin (mungkin mengamuk-ngamuk), lalu diulangi lagi, sampai satu waktu => TUHAN, saya ingin lepas dari rokok, ini sudah mulai dipotong dan diubahkan. Nanti yang sebelah sana belum, dosa yang satunya belum, lalu diulangi lagi. Oleh sebab itu Firman harus diulangi terus menerus, untuk memberi kesempatan supaya semuanya mengalami penyucian dan keubahan (mengalami wujud nyata dari Firman). Semoga kita dapat mengerti.

    Apa yang harus disucikan (dipotong)?
    Matius 15: 19, Karena dari hati timbul (1)segala pikiran jahat, (2)pembunuhan, (3)perzinahan, (4)percabulan, (5)pencurian, (6)sumpah palsu dan (7)hujat.

    Yang harus disucikan adalah mulai dari hati sebagai sumbernya/gudangnya dosa. Apa yang ada didalam hati? tujuh keinginan jahat dan najis. Lampu pelita itu ada tujuh. Kalau dihati ada tujuh keinginan jahat dan najis, itu berarti pelita padam (kaki dian emas yang padam, tidak bercahaya).

    Tujuh keinginan jahat dan najis didalam hati:


    • Pikiran jahat: prasangka buruk dll, ini harus disucikan. Pikiran jahat ini menjadi satu dengan pikiran najis, sebab itu pikiran najis juga harus disucikan.
    • Pembunuhan: kebencian tanpa alasan, termasuk juga iri hati, dendam.
    • Perzinahan.
    • Percabulan. Perzinahan dan percabulan itu sudah menyangkut perbuatan. Kalau sudah diulang-ulang itu menjadi percabulan. Perzinahan itu jatuh dalam dosa satu kali. Kalau sudah terus-menerus itu menjadi percabulan (hidup dalam dosa najis).


    • Pencurian:


      1. Terutama mencuri milik TUHAN yaitu perpuluhan dan persembahan khusus.
      2. Mencuri milik sesama: korupsi, hutang tidak mau membayar, ini harus diselesaikan, supaya kita dapat melihat wujud yang nyata, sampai satu waktu menjadi pelita emas yang sempurna seperti YESUS.


    • Sumpah palsu, ini termasuk juga dusta.
    • Hujat: menjelekkan orang lain, memfitnah (yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar), sampai menghujat TUHAN (menghujat/menyalahkan pengajaran yang benar). Kita jangan ikut-ikut menghujat pengajaran yang benar = menghujat TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.


    Inilah yang harus disucikan, supaya kita dapat mendengar dan melihat bunyi sangkakala yang menjadi wujud kehidupan yang sempurna, ditampilkan seperti tujuh pelita emas (bangsa kafir yang najis tetapi dapat menjadi sempurna). Penyucian dimulai dari tujuh keinginan jahat dan najis dalam hati. Jika hati sudah disucikan dari tujuh keinginan jahat dan najis, maka seluruh kehidupan kita juga disucikan, sampai tidak bercacat cela. Kalau yang lama sudah dipotong, maka yang baru akan muncul.

    Apa yang harus dibaharui?
    Dalam surat Kolose 3 ada tujuh ciri manusia baru (dimulai dari tidak ada dusta). Kalau sudah disucikan sampai tidak ada dusta dan tidak ada hujat, baru dapat dibaharui. Sekalipun seorang pendeta atau siapa saja, selama masih ada dusta, ada hujat, memfitnah orang, ini tidak mungkin dapat dibaharui.

    Kolose 3: 9, Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

    Manusia lama itu dimulai dari hati yang kotor sampai seluruh hidupnya kotor, inilah yang harus disucikan sampai tidak ada dusta, tidak ada hujat, dan dapat berkata yang benar => ya katakan ya, tidak katakan tidak. Setelah itu kita barulah dibaharui menjadi manusia baru.

    Kolose 3: 10, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

    Baik orang Yunani maupun Yahudi, bangsa Israel, bangsa kafir, semuanya ini tidak ada bedanya, kalau mau disucikan sampai tidak ada dusta, tidak ada hujat, maka dapat dibaharui.

    Kolose 3: 12-14,
    12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah (1)belas kasihan, (2)kemurahan, (3)kerendahan hati, (4)kelemahlembutan, dan (5)kesabaran.
    13. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang (6)menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti TUHAN telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
    14. Dan di atas semuanya itu: (7)kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

    Tujuh dosa yang gelap disucikan dan tujuh yang baru muncul (ditampilkan seperti tujuh pelita emas).

    Inilah tujuh ciri manusia baru yaitu:


    • Belas kasihan: tidak menghakimi orang berdosa, tetapi juga tidak mengelus/ menyetujui orang berbuat dosa. Apa arti tidak menghakimi dan tidak menyetujui orang berbuat dosa yaitu membawa orang berdosa, supaya dapat datang kepada TUHAN. Inilah belas kasih yang terbesar; mungkin saudara melihat orang lapar, lalu memberikan makan, ini juga belas kasih dan baik, tetapi belas kasih kita masih terbatas. Kalau orang lapar diberikan makan, ini hanya yang jasmani saja, paling maksimal sampai di liang kubur (terbatas). Tetapi belas kasih yang tertinggi adalah jika kita melihat orang yang berdosa, lalu kita bawa kepada TUHAN baik lewat doa (mungkin tidak mau kalau dibawa ke gereja lewat kita bawa dalam ibadah). Inilah yang kekal untuk selamanya. Mari kita pikirkan hal ini!


    • Kemurahan: dermawan, suka memberi.
    • Kerendahan hati: kemampuan untuk mengaku dosa => kalau kita bersalah, mengaku saja. Jika sudah diampuni jangan berbuat dosa lagi.
    • Kelemah lembutan: kemampuan untuk menerima Firman sekeras apapun (suara sangkakala yang nyaring).
    • Kesabaran: sabar untuk menunggu waktu TUHAN, inilah manusia baru. Kalau manusia di dunia ini, tidak akan sabar => mau cepat, mau ini, akhirnya memakai cara-cara dunia, cara daging, sehingga mendapatkan jalan buntu dan kebinasaan. Seringkali kami para hamba TUHAN ini terjebak disini => mau membangun gereja, tetapi tidak sabar dalam menunggu waktu TUHAN, lalu memakai cara dunia, cara diluar Firman, sehingga terjebak. Bukan mendapatkan jalan keluar, malah mendapatkan jalan buntu dan binasa. Demikian juga sidang jemaat ? mau menyelesaikan sesuatu, mau cepat-cepat, tetapi memakai cara dosa. Cara diluar Firman ini bukan jalan keluar, mungkin kelihatannya bisa, tetapi sebenarnya itu jalan buntu dan binasa.

      Kalau TUHAN belum menolong masalah kita, berarti TUHAN sedang sibuk dengan pribadi kita, untuk disucikan dan diubahkan. Kalau kita sudah disucikan dan diubahkan, ini berarti waktu-Nya TUHAN untuk menolong kita. Semoga kita dapat mengerti.

      Kita jangan menyalahkan TUHAN => saya tidak ditolong TUHAN, jangan! Saya sudah berdoa, sudah ini, tetapi belum ditolong oleh TUHAN, kita harus memeriksa diri => apa kekurangan-kekurangan dan kesalahan saya? TUHAN akan menolong kita semuanya, yang jasmani ditolong dan yang rohani akan tertolong juga. Kalau semuanya ditolong, masih berdosa ditolong, nanti akan menuju ke neraka. Nanti ukurannya hanyalah yang jasmani => yang penting TUHAN tolong saya dan TUHAN memberkati luar biasa, biarpun istrinya dua, padahal sebenarnya dia mengarah ke neraka.
      Jika mengandalkan orang, lalu ditolong TUHAN, akibatnya saya menjadi hamba TUHAN yang menggantung jemaat (bergantung kepada orang dll), tetapi disitulah saya sadar bahwa saya ada kekurangan.


    • Pengampunan/saling mengampuni: kita harus saling mengampuni dan melupakannya, sebab “siapa tidak mengampuni, dia tidak akan diampuni


    • Kasih yang mengikat, mempersatukan dan menyempurnakan.

      Praktek kasih adalah:


      1. Mengasihi sesama seperti diri sendiri, sampai mengasihi orang yang memusuhi kita (orang yang merugikan kita). Caranya adalah berdoa untuk mereka, pertama akan terasa berat dan mungkin ini merupakan pengalaman kita bersama => oh dia sudah merugikan saya, tetapi kita harus coba berdoa => TUHAN ampunilah dia, berkatilah dia, tolonglah dia. Pertama kali mungkin berat, kemudian kedua kalinya sudah mulai ringan, ketiga nanti teringat dia, doakanlah lagi, keempat doakan lagi, lama-lama kita mengasihi dia. Kita sudah tidak ingat lagi kerugian-kerugian yang kita alami (mungkin kita difinah dll). Inilah kasih yang mengikat dan mempersatukan. Jika kita sudah mengasihi musuh, itu menjadi satu tubuh yang sempurna. Sudah saya berikan contoh berulang kali: saat gigi menggigit bibir kita sendiri, tidak mungkin kita mengambil tang => ini musuh ku, tidak ada!


      2. Mengasihi TUHAN lebih dari semuanya. Jadi bukan cuma tubuh saja, kalau tubuh tanpa kepala itu mengerikan. Satu tubuh tetapi tanpa kepala itu mengerikan.


    Tadi, mengasihi sesama itu menjadi satu tubuh. Kalau mengasihi TUHAN lebih dari semuanya ini berarti ada kepala. Jadi harus ada kepala! Apa itu mengasihi TUHAN lebih dari semuanya? seperti tadi salah satu kesaksian yaitu taat dengar-dengaran sampai daging tak bersuara lagi (tunduk). Kalau kepala bilang apa, tubuh pasti taat (kalau tubuh ini normal/bagus, pasti taat). Kalau kepala memerintahkan untuk mengambil air, maka tubuh menurutinya. Kalau tubuh sudah tidak normal, saat kepala bilang => ambil air, tubuh malah mengambil bunga (ini tidak taat).
    Jadi mengasihi TUHAN, nomor satu adalah taat dengar-dengaran sampai daging tak bersuara lagi = mengulurkan tangan kepada TUHAN.

    Inilah wujud pertama (kaki dian emas) yang dapat dilihat, sampai kita dapat mengulurkan tangan kepada TUHAN. Kita sekarang belum sempurna, tetapi sudah ada 1-7 (tujuh ciri manusia baru). Penyucian sudah ada => sudah mulai tidak berdusta lagi, menjaga perkataan dll, mungkin kita belum sempurna tetapi sudah mulai ada belas kasih, sampai kasih (mengasihi TUHAN dan sesama) dan kita dapat mengulurkan tangan kepada TUHAN.


  2. di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia” = Pribadi YESUS sebagai Imam Besar, Gembala Agung yang melayani kita.
    Wahyu 1: 13, Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.

    Persoalan kita sekarang adalah harus tampil sebagai pelita emas. Urusan kita sekarang adalah mendengar, memperhatikan Firman penggembalaan, sampai kita dapat melihat wujud pelita emas (penyucian dan keubahan sampai ada kasih). Kalau sudah ada wujud pelita emas, biarpun belum sempurna, maka ada Pribadi YESUS yang berjalan-jalan ditengah pelita emas = kita akan melihat Wujud Pribadi YESUS sebagai Imam Besar, Gembala Agung yang mengulurkan Tangan kemurahan, kebaikannya kepada kita.

    Kita disucikan, diubahkan, digembalakan itu bagaikan mengulurkan tangan kepada TUHAN => saya tidak dapat berbuat apa-apa TUHAN, yang dapat saya lakukan hanyalah mendengar, melihat Firman, sehingga saya mantap, tidak diganggu oleh:


    • ajaran lain, saya dibentengi, tidak diganggu oleh Sodom Gomora,
    • dapat hidup benar suci, saya mau disucikan dan diubahkan
    • sampai memiliki kasih. Sekalipun belum sempurna, tetapi sudah mulai taat = mengangkat tangan kepada TUHAN, maka saat itu Dia akan langsung tergairah untuk datang mengulurkan tangan belas kasih, kemurahan, kebaikan-Nya kepada kita.


    Jika YESUS sebagai Imam Besar, Gembala Agung mengulurkan Tangan kepada kita, hasilnya adalah
    Yesaya 40: 10, 11,
    10. Lihat, itu TUHAN ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.
    11. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.


    • menghimpunkannya dengan tangan-Nya” = Tangan kemurahan, kebaikan Gembala Agung memeluk kita semuanya.

      Istilah dipeluk artinya


      1. Memelihara kehidupan kita secara ajaib ditengah kesulitan dan kemustahilan dunia ini. Memeluk itu seperti bayi dipeluk. Sekalipun tidak berdaya, kita akan dipeluk oleh TUHAN. Orang yang dipeluk itu tentunya kecil => seperti bayi-bayi yang tak berdaya yang dipelihara oleh TUHAN. Kita jangan takut! Yang penting adalah sungguh-sungguh mendengar dan melihat firman penggembalaan hari-hari ini. Jika kita dipeluk oleh TUHAN, maka semuanya adalah urusannya TUHAN (bukan urusan kita lagi).


      2. Mempersatukan kita dalam satu kesatuan tubuh Kristus yang sempurna:


        • Mulai dalam nikah harus menyatu. Nikah yang tercerai berai biarlah disatukan, mari kita berdoa kepada TUHAN. Kalau kita sudah tidak mampu, tangan TUHAN lah yang akan menyatukan.


        • Dalam gereja/penggembalaan dapat menjadi satu.
        • Antar gereja dapat menjadi satu.
        • Sampai terjadi kesatuan tubuh Kristus. Kita jangan putus asa dan jangan kecewa => ini tidak mungkin Om, Semuanya mungkin sebab bagi TUHAN tidak ada yang mustahil.


      3. Menghangatkan kita semuanya didalam kasih-Nya, sehingga kita selalu setia dan berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan, dalam nikah rumah tangga. Jika dipeluk itu menjadi hangat, tidak ada dingin rohani atau tawar lagi. Mari kita semuanya berada dalam pelukan Tangan TUHAN sekarang ini.


    • anak-anak domba dipangku-Nya” = Tangan kebaikan kemurahan Gembala Agung memangku kita semuanya.
      Istilah memangku artinya


      1. Menanggung segala letih lesu, beban berat (berat badannya berapapun semuanya dipangku oleh TUHAN), sehingga kita merasakan damai sejahtera, semuanya menjadi enak dan ringan.


      2. Semua masalah, bahkan masalah yang mustahilpun diselesaikan oleh TUHAN tepat pada waktu-Nya. Kita harus yakin kepada TUHAN! Jika dipangku itu berarti kita sudah tidak bergerak lagi, kita tinggal duduk-duduk saja.


    • induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” = Tangan kemurahan kebaikan TUHAN menuntun kita menuju Yerusalem yang baru (tempat penggembalaan terakhir).
      Wahyu 7: 17, Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."

      Ay 17 => “akan menuntun mereka ke mata air kehidupan” => ke Yerusalem baru.

      TUHAN menuntun kita ke Yerusalem baru artinya:


      1. Kita semakin diubahkan/dibaharui dari manusia daging menjadi manusia rohani (manusia baru) seperti YESUS. Kita akan terus menerus diabaharui. Kalau kita semakin diubahkan/dibaharui, air mata semakin dihapuskan, masa depan semakin indah dan bahagia (masa depan semakin jelas). Inilah rahasianya!


      2. Bahkan sampai satu waktu, jika YESUS datang kembali ke dua kali, kita akan diubahkan sampai menjadi sempurna seperti Dia dan kita akan terangkat di awan-awan yang permai, sampai masuk dalam Yerusalem Baru (tempat penggembalaan yang terakhir). Tugas kita adalah mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring.

Mari dipraktekkan, supaya kita semakin mantap dan hanya:

  • bergantung kepada Firman. Ini juga sebagai doa saya => supaya kami (saya, istri, anak) bersama seluruh jemaat hanya bergantung pada Firman penggembalaan, bukan bergantung pada yang lain. Jadi setiap kali mendengarkan Firman, ini seperti kita diberikan makan dengan sungguh-sungguh sehingga semuanya dapat bergantung kepada Firman. Contohnya: kalau kita sudah sarapan pagi, maka kita dapat bekerja (yang bekerja di bank bisa menghitung uang, yang lain juga dapat bekerja). Kalau tidak sarapan pagi, kita akan susah bekerja. Jadi kita diberikan makan, supaya semuanya dapat beraktivitas (semuanya tergantung pada Firman). Kumpul ke gereja dan makan lagi, semuanya bisa beraktivitas kembali, begitulah seterusnya. Inilah doa saya! Jika mendengar dan melihat suara sangkalala yang nyaring, kita akan


  • dibendung/dibentengi supaya tidak terpengaruh Sodom dan yang terakhir
  • sedikit demi sedikit kita dapat melihat wujud yang nyata dari Firman penggembalaan => terima kasih TUHAN, saya mulai disucikan, diubahkan, sampai kita dapat taat. Kita memang belum sempurna, tetapi kita sudah mulai => TUHAN aku serahkan pada Mu. Pada saat itulah kita juga dapat melihat Wujud Imam Besar, Gembala Agung yang selalu melawat kita (mengulurkan Tangan kepada kita).

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 25-26 September 2018
    (Ibadah Kunjungan di Sidikalang)

  • 17-18 Oktober 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jayapura)

  • 30 Oktober 2018 - 01 November 2018
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 13-14 November 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • Februari 2019
    (Ibadah Kunjungan di Chennai, India)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top