English Language | Form Penggembalaan
kebaktian doa surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Doa Surabaya (Rabu, 26 Maret 2014)
Tayang: 14 Juni 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu Sore, 18 September 2013)
Tayang: 05 Desember 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu Sore, 05 Februari 2014)
Tayang: 28 Desember 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 13 Juni 2007)
Tayang:
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 16 Juli 2014)
Tayang: 23 Juni 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 30 Juli 2014)
Tayang: 31 Agustus 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 02 Juli 2014)
Tayang: 07 Mei 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 27 November 2013)
Tayang: 11 Mei 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 03 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 23 April 2014)
Tayang: 18 Oktober 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu Sore, 19 Juni 2013)
Tayang: 18 Agustus 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 15 Januari 2014)
Tayang: 12 Oktober 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Doa Surabaya
Tanggal: Rabu, 18 Juni 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 10 April 2016

Kita masih berada dalam kitab Wahyu 1: 17-20
Wahyu 1: 17-20,
17. Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
18. dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
19. Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.
20. Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat."

Rasul Yohanes tersungkur di depan Kaki YESUS = menyembah dengan hancur hati:

  • mengaku segala kekurangan kita,
  • mengaku ketidakmampuan/ketidakberdayaan kita,
  • mengaku hanya tanah liat belaka yang banyak kekurangan-kekurangan dan kesalahan.

Rasul Yohanes tersungkur di depan Kaki YESUS = menyembah dengan hancur hati = menyembah seperti orang mati, artinya menyembah sampai daging tidak bersuara lagi (ukuran penyembahan), maka rasul Yohanes mengalami jamahan Tangan Kanan TUHAN. Demikian juga sekarang ini, kalau penyembahan kita sungguh-sungguh (tersungkur), sampai hancur hati (bukan menunjuk kesalahan orang lain) dan daging tidak bersuara lagi (bisa mengasihi TUHAN), maka kita mengalami jamahan Tangan Kanan TUHAN seperti rasul Yohanes.

Begitu dijamah oleh Tangan Kanan TUHAN, rasul Yohanes menerima tiga hal:

  1. 'TUHAN berkata: "Jangan takut" = melenyapkan ketakutan = tidak ada ketakutan lagi.
  2. 'Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir' = menerima kasih ALLAH = menerima kasih mula-mula sampai kasih Mempelai (puncaknya kasih).
  3. 'Aku Yang Hidup' (ay 18 'Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup') = menerima kuasa kemenangan atas maut. YESUS sudah mati, tetapi Dia bangkit atau hidup (menang atas maut). Demikian juga kita, kalau kita dijamah oleh Tangan Kanan TUHAN, maka kita menerima kuasa kemenangan atas maut.

YESUS mati, tetapi YESUS bangkit untuk mengalahkan maut = menang atas maut dan YESUS memegang kunci kerajaan maut untuk menutup pintu kerajaan maut bagi kita semuanya, sehingga kita tidak binasa untuk selamanya. Kita juga menang atas maut bersama dengan YESUS. Jangan sampai masuk kerajaan maut (neraka)!

Matius 16: 18, 19
,
18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
19. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Ay 18 => sidang jemaat menang atas maut.

YESUS memberikan kunci kerajaan surga kepada kita yang sudah menang atas maut bersama dengan Dia, sehingga kita dapat masuk kerajaan surga dan hidup kekal untuk selamanya.

Apa arti dari kunci kerajaan surga? Salib. Kalau kita mau menerima kunci kerajaan surga, maka harus menerima salib. Ini sudah dipelajari dalam ibadah sebelumnya.

?? 2 Petrus 1: 10, 11,
10. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
11. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Ay 11 => 'hak penuh' => kunci kerajaan surga.

Jadi disini kunci kerajaan surga adalah panggilan dan pilihan TUHAN untuk menjadikan kita imam-imam dan raja-raja yang memiliki jabatan pelayanan. Ini sudah dipelajari dalam ibadah sebelumnya, tetapi hari ini masih kita pelajari. Yang pertama, kunci kerajaan surga adalah salib. Kalau mau sengsara bersama dengan TUHAN, itulah kunci kerajaan surga. Sekarang, kunci kerajaan surga adalah panggilan dan pilihan TUHAN yang menjadikan kita imam-imam dan raja-raja yang memiliki jabatan pelayanan. Yang belum melayani mohon (berdoa) kepada TUHAN sekarang ini, supaya TUHAN memberikan kunci kerajaan surga = memanggil, memilih, mengangkat kita menjadi imam dan raja yang memiliki jabatan pelayanan, sesuai dengan kepercayaan TUHAN. Saya sebagai gembala, ada juga sebagai zangkoor, musik dll.

Sesudah diangkat menjadi imam-imam (mempunyai jabatan pelayanan), dalam surat Petrus disebutkan 'Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh' Kita sebagai imam-imam, hamba TUHAN, pelayan TUHAN, harus berusaha sungguh-sungguh agar dapat beribadah melayani TUHAN dengan setia dan benar sesuai dengan jabatan pelayanan yang TUHAN percayakan kepada kita sampai garis akhir (sampai penuh). Usaha itu sudah luar biasa, tetapi masih ditambah dengan bersungguh-sungguh. Garis akhir adalah sampai meninggal dunia atau sampai kedatangan TUHAN YESUS yang ke dua kali.

Beribadah melayani TUHAN dengan setia dan benar = beribadah dan melayani TUHAN dengan tahbisan yang benar, sesuai dengan jabatan pelayanan yang TUHAN percayakan kepada kita sampai garis akhir. Inilah melayani dengan penuh! Kalau melayani dengan penuh, maka kita mendapatkan hak penuh (mendapatkan kunci kerajaan surga, sehingga kita dapat masuk kerajaan surga dan hidup kekal untuk selamanya). Kita berusaha! Semoga kita dapat mengerti.

Sekarang kita belajar dari kitab Keluaran, tentang syarat untuk beribadah melayani TUHAN dengan tahbisan yang benar. Tidak semua ibadah pelayanan diterima oleh TUHAN. Inilah kegunaannya kita menerima Firman pengajaran, supaya pelayanam kita terus ditingkatkan. Jangan sekali-kali berkata => 'pokoknya melayani' Jangan! Kain dan Habel sama-sama melayani, tetapi hanya satu yang diterima oleh TUHAN. Apalagi saya sebagai gembala berkata => 'pokoknya saya melayani' Jangan! Harus dalam tahbisan yang benar.

Ada tiga syarat beribadah melayani TUHAN dalam tahbisan yang benar dalam Keluaran 29: 1-9, antara lain:

  1. Keluaran 29: 1, "Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela,

    Syarat pertama: harus membawa korban binatang = Korban Kristus.

    Dulu Harun dan anak-anaknya membawa lembu, dua ekor domba jantan. Sekarang kita tidak perlu membawa korban binatang lagi (dalam arti yang rohani) sebab sudah digenapkan oleh Korban Kristus.

    Ada tiga macam korban binatang:


    1. Korban lembu jantan muda = korban pendamaian (korban penghapus dosa), artinya setiap pelayan TUHAN harus berdamai dengan TUHAN (vertical) dan sesama (horizontal). Vertikal dan horizontal membentuk kayu salib. Berdamai dengan TUHAN dan sesama:


      • mengaku dosa kepada TUHAN (jika salah kepada TUHAN mengaku dosa kepada TUHAN) dan sesama (jika salah kepada sesama, mengaku dosa kepada sesama). Jika diampuni jangan berbuat dosa lagi. Kalau melayani TUHAN, harus berdamai terlebih dahulu. Dosa itu beban. Saya seringkali memberikan contoh yang mudah saja: berkhotbah dengan menggendong gula => 'jemaat tidak tahu semuanya'


      • mengampuni dosa sesama dan melupakannya.


      Inilah dosa diselesaikan. Kalau dosa sudah diselesaikan, maka:


      • hati kita menjadi damai sejahtera. Jadi, syarat melayani dalam tahbisan yang benar adalah hati damai sejahtera (ada korban pendamaian). Bpk pdt In Juwono selalu mengatakan (apalagi bagi kita yang berkhotbah) => 'kalau kita berkhotbah dengan hati tidak damai (marah kepada orang dll), lalu apa yang mau dikhotbahkan? Demikian juga lainnya, kalau penyanyi hatinya tidak damai, apa yang mau dinyanyikan? Pemain musik hatinya tidak damai, apa yang dimainkan?'


      • hidup dalam kebenaran. Waktu yang lalu sudah diterangkan, kalau mobilnya rusak, kita tidak dapat memakai mobil itu? Baru dinyalakan saja sudah susah dan tidak akan sampai di tujuan. Harus dibenarkan terlebih dahulu (hidup dalam kebenaran), baru kita dapat melayani TUHAN.


    2. Korban domba jantan pertama = korban penyerahan diri sepenuh. Kalau dosa sudah diserahkan (diselesaikan), maka tidak sulit untuk menyerahkan diri kepada TUHAN. Jika dosa tidak diakui, akan sulit menyerahkan diri. Misalnya: ada pencuri dibawa ke polisi, tetapi dia tidak mengakui dosanya, pasti sulit untuk menyerahkan diri. Tetapi kalau sudah mengaku dosanya, akan mudah menyerahkan diri. Demikian juga kita, kalau sudah ada korban pendamaian (hati damai sejahtera, hidup benar), maka tidak sulit untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada TUHAN. Jadi, korban penyerahan diri sepenuhnya = taat dengar-dengaran. YESUS berkorban, taat sampai mati di kayu salib. Melayani TUHAN yang dibutuhkan bukanlah pandai atau bodoh, tetapi taat. Kalau tidak taat, sulit! Contohnya: saya mau minum, ambilkan air. Lalu diambilkan laptop, untuk apa? Kalau tidak taat, justru mengganggu pelayanan. Semakin pandai, tetapi tidak taat, maka semakin mengganggu pelayanan. Biarpun kurang pandai dll, tetapi taat, maka akan mendukung pelayanan.


    3. Korban domba jantan ke dua = korban tahbisan = dipakai oleh TUHAN. Jadi, berdamai dahulu (selesaikan dosa, hilangkan beban-beban), lalu serahkan diri kepada TUHAN (taat), baru korban tahbisan (dipakai oleh TUHAN). Kalau sudah taat, akan mudah untuk dipakai TUHAN. Contohnya: disuruh menyapu, pasti menyapu (semuanya bisa). Kalau tidak taat, sulit => 'disuruh menyapu, justru ia belajar. Disuruh belajar, menyapu' Ini susah dan berkelit terus!

      Jika sudah dipakai TUHAN, jaga supaya:


      • kita jangan jual mahal! Sedikit-sedikit => 'aku begini ...' Jual mahal = suka meraju => 'sudah aku tidak mau lagi ..' Jika jual mahal, kepercayaan dapat dialihkan kepada orang lain.


      • jangan murahan juga! Melayani dengan murahan adalah melayani dengan berbuat dosa, dll. Jangan! Jagalah tahbisan yang benar. Semoga kita dapat mengerti.


  2. Keluaran 29: 2, roti yang tidak beragi dan roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak; dari tepung gandum yang terbaik haruslah kaubuat semuanya itu.

    Syarat kedua: roti = korban makanan.

    Ada tiga macam korban makanan, antara lain:


    1. Roti yang tidak beragi. Roti menunjuk Firman ALLAH. Yang tidak beragi berarti tidak tercampur dengan apapun/murni/benar. Roti tidak beragi = Firman pengajaran yang murni (yang benar), yaitu:


      • tertulis dalam alkitab. Sebab itu, kita harus membaca alikitab,
      • diwahyukan atau diilhamkan oleh TUHAN,
      • dibukakan rahasianya yaitu ayat yang satu menerangkan ayat yang lain dalam alkitab. Firman itu tidak boleh ditambah dan dikurangi, tetapi dibukakan rahasianya. Kalau ayat menerangkan ayat dalam alkitab, justru akan lebih tegas lagi. Kalau ditambah dan dikurangi, akan berubah. Misalnya: Firman mengatakan jangan mencuri, lalu ditambahkan => 'dalam keadaan terjepit, nanti mati, tidak makan, bagaimana?' Bisa macam-macam, akhirnya diperbolehkan mencuri. Ini bukan pembukaan Firman! Contoh lainnya: seperti Hawa menambah mengurangi Firman, sampai kehilangan Firdaus.


      Biarlah sekarang ini, kita melayani TUHAN dalam tahbisan yang benar harus ada Firman pengajaran yang benar (yang murni). Pengajaran tabernakel dan Mempelai, diwahyukan TUHAN kepada bpk pdt van Gessel. Bpk pdt In Juwono selalu mengatakan => 'wahyu itu tidak pernah salah' Kalau ada orang mengatakan salah, saya tidak mau berfellowship dengan dia. Inilah ketegasan kita! Semoga kita dapat mengerti.

      Jadi, tahbisan yang benar harus sesuai dengan Firman pengajaan yang benar. Firman pengajaran itu sebagai Kepala (YESUS sebagai Kepala). Maafkan, kalau kepala ini ada titiknya sedikit saja (ada penggumpalan darah sedikit di kepala), maka pelayanannya sudah terganggu. Tidak akan bisa! Kalau pengajarannya sudah berubah sedikit saja, maka pergerakannya sudah lain. Ini bukan fanatik bodoh-bodoh, tetapi tahbisan yang benar harus berdasarkan Firman pengajaran yang benar.


    2. Roti bundar yang tidak beragi. Bundar artinya kekal (tidak berujung dan tidak ada pangkalnya). Jadi, roti bundar yang tidak beragi artinya Firman pengajaran yang benar yang sudah dipraktikkan dalam kehidupan kita, sehingga:


      • menjadi kasih; kita dapat mengasihi TUHAN lebih dari semuanya dan dapat mengasihi sesama. Bundar itu kasih (tidak ada ujung dan pangkalnya).
      • kita menerima hidup kekal. Bundar juga berarti kekal. Semoga kita dapat mengerti.


      Jadi, praktik Firman adalah mengasihi TUHAN lebih dari semuanya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Apa yang tidak mau sesama lakukan bagi kita, jangan kita lakukan. Contohnya:


      • saya tidak mau kalau isteri saya memukul saya, sebab itu jangan memukul isteri.
      • saya tidak mau kalau isteri saya membentak saya, sebab itu jangan membentak isteri.
      • saya tidak mau orang lain menggosipkan saya, sebab itu jangan mennggosipkan orang lain. Inilah mengasihi sesama seperti diri sendiri.


    3. Roti tipis yang tidak beragi, artinya Firman pengajaran yang benar menjadi tabiat dalam hidup kita. Kalau kita mempraktikkan Firman, maka Firman mendarah daging/menjadi tabiat dalam hidup kita, dimulai dengan rendah hati (tipis).

      Rendah hati adalah:


      • kemampuan untuk mengaku dosa. Jika diampuni jangan berbuat dosa lagi. Semakin banyak mengaku dosa, semakin tipis. Tipis itu tidak ada ketebalan. Kalau kita rendah hati/sudah tipis = duduk di lantai. Tidak ada yang mengatakan => 'dia duduk di lantai, dia jatuh' Duduk di lantai itu tidak pernah jatuh. Saya nomor satu paling berbahaya pada saat ini, sebab paling tinggi duduknya. Ini dapat jatuh dan berbahaya kalau jatuh. Mari kita menjadi semakin tipis. Tipis itu memeriksa diri, jangan malah menghakimi orang dan mengaku dosa-dosa => 'saya banyak kekurangan'


      • kemampuan untuk menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri. Orang semacam ini tidak akan pernah jatuh, tidak pernah tersandung dan dapat melayani TUHAN sampai garis akhir. Inilah syarat yang kedua. Jadi, tahbisan yang benar harus ada kaitannya dengan Korban Kristus (perdamaian, penyerahan diri, baru ditahbiskan), harus ada kaitannya dengan Firman pengajaran yang benar. Oleh sebab itu kita harus tegas. Pengajaran yang benar yang diwahyukan oleh TUHAN, terutama kepada bpk pdt van Gessel (pengajaran tabenakel dan Mempelai). Saya tidak mau kalau pengajaran ini dibilang salah, sebab guru-guru saya sudah meninggal. Kalau salah, mereka semuanya tidak sempurna. Tidak salah! Harus berpegang pada pengajaran yang benar sungguh-sungguh.


      Pengajaran itu Komando (Kepala). Kalau kepalanya benar, maka semua gerakannya benar. Kalau kepalanya salah (ada titik sedikit atau berbeda sedikit saja), maka sudah berbeda gerakannya (sudah tidak benar lagi). Masih ada syarat ketiga (yang terakhir). Jadi, Korban Kristus (korban binatang), korban makanan (Firman pengajaran yang benar) ada kaitannya dengan tahbisan/ pelayanan yang benar, supaya ibadah pelayanan kita tidak sia-sia. Kita sudah dari jauh-jauh datang beribadah melayani, capek dari kantor tidak akan sia-sia.
      Semoga kita dapat mengerti.

      Inilah secara garis besarnya. Kalau mau melayani setia dan benar, tahbisan benar, sampai garis akhir, maka harus ada kaitan dengan Korban Kristus yaitu:


      • damai,
      • penyerahan diri, kalau dipakai jangan jual mahal/jangan sombong, jangan murahan/jangan sembarangan). Harus sungguh-sungguh menghargai Korban Kristus. Kedua,


      • harus ada pengajaran yang benar sebagai Komandonya. Kalau komandonya salah, semuanya salah. Ketiga,
      • harus ada minyak urapan. Kalau dengan daging tidak akan bisa. Saudara yang sudah sarjana ekonomi, masuk di bank. Padahal sarjana ekonomi sudah hebat, tetapi masih harus di training lagi. Itulah daging, untuk pekerjaan dunia saja tidak mampu (harus ikut training, penataran, dll), apalagi mau melayani pekerjaan surga. Daging tidak akan bisa, sebab itu harus ada urapan Roh Kudus.


  3. Keluaran 29: 4-7,
    4. Lalu kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan dan haruslah engkau membasuh mereka dengan air.
    5. Kemudian kauambillah pakaian itu, lalu kaukenakanlah kepada Harun kemeja, gamis baju efod, dan baju efod serta tutup dada; kaukebatkanlah sabuk baju efod kepadanya;
    6. kautaruhlah serban di kepalanya dan jamang yang kudus kaububuh pada serban itu.
    7. Sesudah itu kauambillah minyak urapan dan kautuang ke atas kepalanya, dan kauurapilah dia.

    Ay 4 => 'haruslah engkau membasuh mereka dengan air' => mandi dahulu. Dulu membasuh dengan air di kolam pembasuhan, sekarang menunjuk baptisan air. Kalau mau melayani, harus mandi terlebih dahulu, biar tidak bau.
    Ay 5 => 'Kemudian kauambillah pakaian itu, lalu kaukenakanlah kepada Harun kemeja...' => setelah mandi (bersih) jangan lupa memakai pakaian. Kalau tidak memakai pakaian atau telanjang, lalu melayani, semua orang akan lari.
    Ay 7 => sesudah memakai pakaian, baru diberi minyak.

    Syarat ketiga: harus diurapi dengan minyak urapan Roh Kudus. Kalau mau dipenuhi atau diurapi oleh Roh Kudus, prosesnya adalah:


    1. mandi terlebih dahulu ('membasuh mereka dengan air'): masuk baptisan air yang benar => 1 Petrus 3: 20, 21,
      20. yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
      21. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus,

      Hasil baptisan air yang benar adalah kita mendapatkan hati nurani yang baik. Kalau saudara baca pada zaman Nuh, hati manusia itu cenderung jahat dan najis. Tetapi kalau masuk baptisan air, maka kita mendapatkan hati nurani yang baik = hati nurani yang taat dengar-dengaran. Inilah dasar supaya Roh Kudus turun atas kehidupan kita. Kalau jahat dan najis, tidak ada Roh Kudus. Semoga kita dapat mengerti.


    2. sesudah itu (sesudah mandi), memakai pakaian => Keluaran 29: 5, Kemudian kauambillah pakaian itu, lalu kaukenakanlah kepada Harun kemeja, gamis baju efod, dan baju efod serta tutup dada; kaukebatkanlah sabuk baju efod kepadanya;

      Pakaian = materai atau cap seorang hamba TUHAN, pelayan TUHAN, imam yaitu:


      • mulai paling luar ada baju efod berwarna-warni (saya tidak dapat menerangkannya sekarang, tetapi langsung saja artinya), ini menunjuk salib /kematian = bertobat = mati terhadap dosa. Itulah cap dari seorang hamba TUHAN. Baju efod terdiri dari empat warna utama (empat titik), itu menunjuk salib (warna merah, putih, ungu, biru menjadi salib). Salib = pengalaman kematian. Mau menjadi seorang hamba TUHAN harus bertobat dan jangan berbuat dosa lagi (berhenti berbuat dosa).Pada gambar, baju efod itu yang paling luar dan berwarna warni. Sebenarnya jubahnya sampai di kaki, tetapi untuk menunjukkan yang lapis kedua, lapis tiga, maka dipenggal-penggal. Jadi, yang pertama (paling luar) baju efod dengan empat warna. Kemudian, lapis kedua itulah gamis baju efod berwarna biru laut semuanya. Gamis baju efod berwarna biru laut semuanya, ini menunjuk pengalaman kebangkitan atau hidup untuk kebenaran.


      • kemudian satu lagi, kemeja putih bermata-mata = hidup dalam kesucian atau kemuliaan. Itulah cap dari hamba TUHAN. Mulai dengan baptisan air sampai memilki hati nurani yang baik dan taat), lalu memakai pakaian; mempunyai cap atau meterei kematian (bertobat), kebangkitan (hidup benar) dan pakaian putih (kemuliaan atau hidup dalam kesucian sampai nanti sempurna seperti TUHAN).


    3. setelah itu (setelah mandi, memakai pakaian), mendapat minyak urapan Roh Kudus di kepala => Keluaran 29: 7, Sesudah itu kauambillah minyak urapan dan kautuang ke atas kepalanya, dan kauurapilah dia.


    Inilah mendapatkan minyak urapan diatas kepala. Mari sekarang ini, yang belum melayani, berdoa supaya TUHAN memanggil dan memilih kita untuk memberikan jabatan pelayanan (diangkat menjadi imam yang memiliki jabatan pelayanan). Jabatan pelayanan bisa apa saja, terserah! Ada yang tidak kelihatan seperti tim doa, asalkan bersungguh-sungguh. Yang sudah mendapatkan jabatan pelayanan, mari berusaha sungguh-sungguh untuk beribadah melayani TUHAN dengan setia dan benar (sesuai jabatan pelayanan) sampai garis akhir (sampai mendapatkan hak penuh) atau berusaha beribadah melayani dengan tahbisan yang benar (sesuai jabatan pelayanan yang TUHAN percayakan kepada kita) sampai garis akhir. Sampai garis akhir itu penuh, sehingga mendapatkan hak penuh itulah kunci kerajaan surga.

Apa syaratnya agar dapat melayani dalam tahbisan yang benar?

  1. Harus ada korban binatang (Korban Kristus) yaitu:


    • hati damai,
    • hidup benar,
    • menyerah atau taat. Kalau sudah dipakai, jangan jual mahal dan jangan murahan. Jangan sembarangan dan hargailah Korban Kristus.


  2. Kemudian, ada korban makanan itulah pengajaran yang benar. Pengajaran yang benar (Komandonya) itulah YESUS sebagai Kepala. Kalau tidak benar, percuma! Kalau pengajarannya (komandonya) tidak benar, maka pelayanannya dan penyembahannya tidak benar juga (mulutnya tidak benar). Kalau pengajarannya sudah benar, praktikkan, supaya bundar (ada kasih). Kalau sudah dipraktikkan, maka menjadi tabiat (tipis), kita menjadi rendah hati, tidak terjatuh dan tidak tersandung => 'saya banyak kesalahan, orang lain lebih utama dari saya' Harus banyak memeriksa diri, bukan malah sibuk menghakimi (membicarakan orang lain), sebab tidak ada gunanya. Dulu kalau saya mendengar sesuatu, saya datangi => 'bagaimana?' Padahal bpk pdt Pong sudah berpesan kepada saya (saya pernah dipanggil waktu saya masih di jalan Johor, karena ada orang yang berkata-kata tentang saya) => 'saya mendengar begini-begini, bagaimana kamu?' Saya jawab => 'saya tidak berbuat' bpk pdt Pong berkata => 'Kalau tidak berbuat, kamu diam ya, tetapi kalau berbuat, mengaku' Tetapi saya lupa nasehat beliau, saya selalu => 'apa! Mana? Ini malah membuat ramai saja. Hari-hari ini banyak berdiam dan merendahkan diri.


  3. Yang terakhir, harus ada minyak urapan. Ini mutlak dan tidak dapat tidak! Kalau tidak ada urapan, akan kering.

Kalau mau melayani itu tidak boleh sembarangan, harus sudah baptisan air terlebih dahulu. Kalau belum baptisan air, tidak boleh melayani (pengecualian untuk sekolah Minggu). Harus memakai pakaian dahulu, ada cap meterai kematian, kebangkitan, kemuliaan (hidup suci). Baru, ada urapan Roh Kudus.

Dulu, minyak urapan itu terbuat dari minyak zaitun ditambah dengan rempah-rempah. Sekarang, hanya istilahnya saja minyak urapan. Sejak pencurahan Roh Kudus di loteng Yerusalem, sudah tidak memakai minyak-minyak seperti itu lagi, sudah langsung dari TUHAN. YESUS mati, bangkit, naik ke surga untuk menjadi Pembaptis Roh (mencurahkan Roh Kudus kepada kita).
Kalau memakai minyak urapan, apalagi ada yang di jual, saya menjadi senang. Saya beli satu tanki, biar ada urapan terus dan jemaat senang. Biar harganya berapa puluh juta, akan saya beli, mau kebaktian beri minyak urapan dulu dll. Ini tidak begitu! Ada baptisan, cap pakaian sampai hidup suci, sampai pakaian putih. Kalau mau lengkap sebenarnya ditambah serban (memakai jubah dan serban)/pikiran suci. Baru, mengalirlah minyak urapan. Semakin kita suci, urapan Roh Kudus semakin banyak. Bukan membeli minyak, tidak! Jangan sampai kita ditipu. Kalau perjanjian lama, memakai minyak, tetapi ini sudah digenapkan sejak di loteng Yerusalem.

Kalau kita baca di dalam alkitab, yang diurapi itu termasuk orang sakit. Rasul Paulus menuliskan => 'dioleskan minyak kepada orang sakit, untuk didoakan' Kalau minyak urapan Roh Kudus, itu sudah langsung dari TUHAN sendiri. Jangan ditipu dan harus membaca alkitab, sebab itu kita perlu Firman pengajaran yang benar. Kalau memakai minyak urapan, saya senang sekali, tidak perlu berpuasa, tidak perlu hidup suci dll, langsung tinggal mandi minyak saja. Tidak begitu! Pengajaran ini merupakan penentuan, apakah pelayanan kita benar sampai mendapatkan kunci kerajaan surga? Kalau tidak benar, tidak akan mendapatkan kunci kerajaan surga. Biarpun kita sudah => 'aku sudah bernubuat ...' TUHAN mengatakan => 'enyahlah engkau' Pada ayat 19, rasul Yohanes mendapat perintah dari TUHAN => 'tuliskanlah' Dia diangkat oleh TUHAN (diberikan jabatan pelayanan), untuk menuliskan. Nanti pada ayat 20, pembukaan Firman, itulah kunci kerajaan surga.

Sekarang, kita masih membahas tentang urapan Roh Kudus. Kegunaan minyak urapan Roh Kudus di kepala yaitu:

  1. Mazmur 133: 1-3,
    1. Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
    2. Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
    3. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

    Kegunaan pertama: membuat semuanya menjadi rukun. Kalau ada minyak urapan di kepala, maka semuanya menjadi rukun. Rukun disini bukanlah rukun tetangga dll, bukan! Tetapi rukun disini adalah satu hati dan satu suara. Itulah kesatuan di dalam TUHAN.

    Roma 15: 5, 6,
    5. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,
    6. sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.

    Yang dimaksud rukun: (kesatuan Tubuh Kristus) adalah satu hati dan satu suara. Satu hati artinya satu pengajaran. Ingat, meja roti sajian diisi dengan duabelas roti yang dibagi menjadi dua susun, masing-masing susun terdiri dari enam buah roti. 6-6 (angka 66) menunjuk alkitab. Meja menunjuk hati (harus diisi Firman yang sama). Kalau satu urapan Roh Kudus, kita bisa rukun, berarti satu hati = diisi satu pengajaran yang benar. Suami-isteri, gembala-domba diisi satu Firman pengajaran yang benar, pasti akan rukun.

    Kemudian satu suara. Kalau sudah rukun (satu pengajaran atau satu hati), maka menjadi satu suara = satu penyembahan, sehingga menjadi rumah doa. Mulai dari dalam rumah tangga, siapa yang ada di rumah kita, biarlah semuanya mendapatkan urapan Roh Kudus, sehingga menjadi rukun (satu hati atau satu pengajaran). Kalau urapannya sama, maka pengajarannya juga sama. Jika sudah satu hati, maka menjadi satu suara (satu penyembahan), sehingga menjadi rumah doa. Jika menjadi rumah doa, betapa indahnya. Saat tidak dapat ke depan, ke belakang, kiri-kanan tidak dapat, hanya menengadah saja, maka TUHAN akan menolong kita semuanya.

    Jika sudah menjadi rumah doa, maka:


    • semuanya menjadi indah pada waktu-Nya ('Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya'); masa depan menjadi indah pada waktu-Nya,


    • TUHAN memerintahkan berkat kepada kita ('Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat'), sampai hidup kekal selama-lamanya. Kalau TUHAN yang memerintahkan, tidak dapat dilawan. Ada angin gelombang, TUHAN berfirman 'diam', maka menjadi diam. Kalau TUHAN perintahkan berkat => 'hai berkat kesana, ke rumah nomor sekian .. ke toko ..' Mungkin tokonya jauh dari pasar, orang mengatakan => 'jauh, disitu sepi' Tapi kalau TUHAN memerintahkan berkat, pasti diberkati. Ini karena disana ada rumah doa (kehidupan yang rukun, satu hati, satu suara).


  2. Kolose 3: 1, 2,
    1.Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
    2. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

    Kegunaan kedua: jika pikiran diurapi Roh Kudus (ada minyak urapan di kepala), maka kita dapat memikirkan dan mencari perkara surga (dimana YESUS duduk disebelah kanan takhta ALLAH Bapa) lebih dari perkara di dunia = mengutamakan ibadah pelayanan lebih dari semuanya = setia dalam ibadah pelayanan.

    TUHAN berfirman => 'janganlah kamu kauatir, akan hal yang dimakan, diminum, carilah dulu kerajaan surga, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu' Di tambah () itu plus atau surplus (tidak bisa minus). Kalau kita mengutamakan ibadah pelayanan lebih dari perkara dunia, tidak akan minus, justru kita hidup dari salib Kristus dan selalu surplus. TUHAN yang tahu semuanya. Mari, setia dan utamakan ibadah pelayanan. Ini bukan berarti => tidak perlu kuliah lagi dan tidak perlu bekerja' Tidak! Tetapi kuliah, bekerja, kegiatan di dunia, jangan menghalangi kita untuk beribadah melayani TUHAN. Berdoa kepada TUHAN!

    Kita harus mengutamakan ibadah pelayanan (mengutamakan TUHAN) lebih dari semuanya (lebih dari segala perkara di dunia), maka TUHAN akan menambahkan semuanya kepada kita, artinya:


    • kita hidup dari Korban Kristus/kemurahan TUHAN, sehingga kita tidak pernah minus dan selalu surplus (berkelimpahan, sampai mengucap syukur kepada TUHAN). itu salib.


    • dimana saja, kapan saja, situasi apa saja, kita tetap dapat hidup dari kemurahan TUHAN, bahkan sampai hidup kekal selamanya.


    Inilah kemurahan TUHAN. Contohnya: Daniel dapat hidup di gua singa (singa yang lapar semuanya). Coba kalau bergantung kepada ijasah, deposito, Daniel akan mati di gua singa. Tetapi kalau membawa kemurahan TUHAN, dimanapun, kapanpun, situasi apapun, kita dapat hidup dari kemurahan TUHAN sampai hidup kekal selamanya. Semoga TUHAN memberikan pertolongan.


  3. 1 Petrus 5: 4, 5,
    4. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.
    5. Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."

    Ay 5 => 'hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua' => tunduk = taat.

    Kegunaan ketiga: minyak urapan di kepala menjadi mahkota kemuliaan (mahkota Mempelai) yang tidak layu, artinya minyak urapan Roh Kudus mengubahkan kehidupan kita dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti YESUS, yaitu taat dengar-dengaran (tunduk) sampai daging tidak bersuara lagi. Itulah mahkota! Kaum muda perhatikan! Mempunyai ijasah dll, belum tentu ada mahkota kemuliaan (belum tentu diangkat atau ada kemuliaan). Tetapi kalau taat kepada orang tua, itulah mahkota. Demikian juga kita semuanya, mempunyai pekerjaan, ijasah, tabungan, belum tentu sampai diangkat, sebab satu waktu semuanya itu dapat habis. Tetapi kalau kita taat kepada TUHAN, maka mendapatkan mahkota dan di dunia ini juga kita akan dipermuliakan.

    Kalau dapat taat dengar-dengaran (keubahan hidup), itu merupakan mujizat terbesar dan mujizat jasmani juga terjadi. Contohnya: TUHAN berkata kepada Petrus => 'Petrus tebarkanlah jalamu' Padahal semalam-malaman tidak menangkap ikan, tetapi karena diperintahkan oleh TUHAN untuk menebarkan jala di siang hari dan di pinggir pantai. Di pinggir pantai itu banyak orang, bukan banyak ikan. Kalau taat, maka mujizat jasmani dapat terjadi, yaitu yang mustahil menjadi tidak mustahil dan semua masalah diselesaikan oleh TUHAN. Sampai nanti saat YESUS datang kembali ke dua kali, terjadi mujizat yang terakhir, yaitu kita diubahkan menjadi sama mulia dengan Dia, kita memakai mahkota kemuliaan (mahkota Mempelai) untuk terangkat bersama dengan Dia untuk selamanya.

Sekarang ini banyak kebutuhan kita, tetapi biarlah kita membawa hidup kita untuk melayani TUHAN. Berdoa! Sebab:

  • ada Korban Kristus,
  • ada pengajaran yang benar dan minyak urapan Roh Kudus. Kita mohon minyak urapan Roh Kudus sekarang ini, supaya rukun, menjadi rumah doa (semuanya baik dan diberkati), kita dapat setia (sungguh-sungguh hidup dari salib, kemurahan TUHAN) dan terjadi mujizat-mujizat.

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top