English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Doa Surabaya, 26 Agustus 2009 (Rabu Sore)
Matius 24: 32-35
NUBUAT TENTANG POHON ARA/ISRAEL
Disini pohon ara rantingnya mulai melembut dan bertunas, serta berbuah....

Ibadah Raya Malang, 15 April 2018 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 7:4-8
7:4 Dan aku mendengar...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 24 November 2014 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 23 Oktober 2016 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 4:6-7
4:6 Dan di hadapan takhta...

Ibadah Doa Malang, 30 Maret 2010 (Selasa Sore)
Matius 25 dalam susunan Tabernakel terkena pada tongkat Harun yang...

Ibadah Natal Kunjungan ke Sidoarjo, 26 Desember 2009 (Sabtu Sore)
Yohanes 8:12, penampilan Yesus sebagai TERANG DUNIA.
Setiap penampilan pribadi Yesus bukan...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 09 Desember 2013 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 31 Oktober 2010 (Minggu Pagi)
Matius 25:31-32
25:31. "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di...

Ibadah Doa Malang, 29 September 2009 (Selasa Sore)
Pembicara: Pdt. Mikha Sanda Toding.

Matius 6:1-4, memberi adalah suatu...

Ibadah Raya Malang, 24 Mei 2009 (Minggu Pagi)
Matius 24:29-31 adalah keadaan pada saat kedatangan Yesus kedua kali. Memperingati kenaikan Tuhan tidak bisa...

Ibadah Persekutuan Tubuh Kristus Medan IV, 27 Oktober 2010 (Rabu Sore)
Wahyu 19:9
19:9. Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi...

Ibadah Persekutuan II di Square Ballroom Surabaya, 03 April 2019 (Rabu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 26 Oktober 2011 (Rabu Sore)
Ibadah Doa dipindahkan pada hari Senin sebelumnya.
Dari siaran tunda Ibadah Kunjungan di Medan (25 Oktober 2011 Pagi)

Wahyu 19:...

Ibadah Persekutuan II Tana Toraja, 12 Februari 2014 (Rabu Pagi)
Puji Tuhan, kami menyampaikan selamat pagi. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari Tuhan senantiasa dilimpahkan...

Ibadah Doa Semalam Suntuk Session I Malang, 02 September 2014 (Selasa Malam)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Kita belajar tentang tabut perjanjian.
Keluaran 25:10-22 tentang...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Raya Surabaya, 18 Februari 2018 (Minggu Siang)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah kita sekalian.

Wahyu 7: 4-8
7:4. Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.
7:5. Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu,
7:6. dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari
suku Manasye dua belas ribu,
7:7. dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu,
7:8. dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu.

Kita masih belajar tentang METERAI ALLAH (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 28 Januari 2018).

Siapa yang dimeteraikan dengan meterai Allah dan menjadi mempelai wanita sorga? Seratus empat puluh empat ribu orang dari dua belas suku Israel; masing-masing suku dua belas ribu orang.

Kalau kita baca dengan teliti, dari dua belas suku Israel yang dimeteraikan, tidak ada suku Dan, tetapi digantikan oleh suku Manasye.
Ini pelajaran, kita harus hati-hati, ada yang dimeteraikan menjadi mempelai Tuhan, tetapi ada juga yang tidak; tidak bisa menjadi mempelai wanita Tuhan, dan binasa selamanya.

Mengapa suku Dan tidak masuk? Karena suku Dan berubah dari keturunan Abraham menjadi keturunan ular beludak; bertabiat ular beludak.
Kejadian 49: 17
49:17. Semoga Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang.

Ini yang harus kita waspada

Ciri/tabiat dari ular beludak--di akhir zaman menjadi naga merah padam--:
Wahyu 12: 3-5
12:3. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.
12:4. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.
12:5. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.

  1. Tabiat ular beludak yang pertama: 'ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang'= ekornya menyeret sepertiga bintang di langit, dan melemparkannya ke bumi.
    Istilah menyeret ini seperti kejadian di Taman Eden, yaitu Hawa diseret oleh ekor ular dan dari Taman Eden dicampakkan ke bumi.

    Ekor ular= ajaran-ajaran palsu.
    Menyeret artinya ajaran palsu yang menyeret dan membuat kita tidak bisa taat dengar-dengaran kepada Tuhan. Tuhan berkata kepada Hawa: Semua buah pohon di taman boleh kaumakan kecuali satu. Yang satu itu yang dimakan Hawa.


  2. Ayat 4-5= 'mau menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya'.
    Tugas Anak laki-laki ini adalah menggembalakan--'yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi'.
    Kalau Anak laki-laki ini ditelan, berarti Ia tidak bisa menggembalakan.

    Tabiat ular beludak yang kedua: mau menelan Anak laki-laki yang akan menggembalakan semua bangsa, artinya: tidak mau tergembala.

Jadi gereja yang mewarisi tabiat ular adalah gereja yang tidak mau taat dengar-dengaran pada Tuhan/firman pengajaran yang benar, dan gereja yang tidak mau tergembala.

"Tadi kesaksian--tidak janjian dengan saya--bagaimana orang yang digembalakan ditolong Tuhan."

Ular tahu hal itu. Setan tahu itu, karena itu ia mencegah, jangan sampai kita taat dan tergembala. Itu saja. Setan yang membuat kita menjadi tidak taat dan tidak mau berada di dalam kandang penggembalaan.
Matius 9: 36
9:36. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Biarpun kehidupan itu hebat secara jasmani dan rohani, kalau tidak taat dan tergembala--tidak taat pada suara gembala--, akibatnya:

  1. Menjadi lelah. Seperti Esau, ke sana ke mari dapat binatang buruan, tetapi akhirnya lelah dan minta kacang merah kepada Yakub di kemah, dan ia kehilangan segalanya.

    Lelah= letih lesu, berbeban berat, susah payah, sengsara.


  2. Terlantar= tidak terpelihara terutama secara rohani, yaitu:


    1. Lapar dan haus secara rohani. Dalam penggembalaan seringkali bukan makanan yang diberikan, tetapi camilan--gembala tidak mau memberi makan. Yang bisa memberi makan hanya gembala, kalau orang lain hanya memberikan camilan, bukan makanan.

      Esau tidak sadar, ia dapat ini itu, tetapi bukan makanan--hanya camilan. Makanan aslinya adalah sup kacang merah. Akhirnya ia kembali ke sana, tetapi terlambat, dan ia kehilangan semuanya.

      Seringkali kita juga dibuat lapar dan haus secara rohani; tidak ada makanan firman penggembalaan/firman pengajaran yang benar. Kalau dibiarkan, akan sakit rohani--berbuat dosa sampai puncaknya dosa--, kering rohani, sampai mati rohani.

      Kalau jatuh dalam dosa, itu baru sakit rohani. Ia sadar sudah berbuat dosa, sakit tetapi cepat ditangani, sehingga bisa sembuh. Tetapi kalau terus berbuat dosa, hidup dalam dosa, sampai enjoy berbuat dosa dan puncaknya dosa, berarti sakitnya sudah parah; tinggal waktu menjadi kering rohani, mati rohani, sampai kematian kedua di neraka, binasa selamanya.


    2. Tidak ada yang bertanggung jawab atas keselamatan hidupnya. Di luar penggembalaan, mau selamat atau binasa, terserah. Hanya di penggembalaan yang harus memperhatikan keselamatan sampai kesempurnaan.


  3. Sengsara= menderita lahir dan batin, sampai kebinasaan.

Inilah caranya ular--sekarang dalam bentuk naga, lebih dahsyat lagi--yaitu menyeret dari kehendak Tuhan (tidak taat pada firman pengajaran yang benar/suara gembala) dan menelan (tidak mau tergembala, sampai kering dan mati rohaninya bahkan binasa selamanya).

Zakharia 10: 2
10:2. Sebab apa yang dikatakan oleh terafim adalah jahat, dan yang dilihat oleh juru-juru tenung adalah dusta, dan mimpi-mimpi yang disebutkan mereka adalah hampa, serta hiburan yang diberikan mereka adalah kesia-siaan. Oleh sebab itu bangsa itu berkeliaran seperti kawanan domba dan menderita sengsara sebab tidak ada gembala.

Kebutuhan utama domba adalah gembala. Kalau ada gembala, semuanya ada. Kalau kebutuhannya rumput, saat kering, bingung, tetapi kalau ada gembala, mau kering atau tidak, gembala yang sediakan rumputnya.

Penggembalaan ini yang mau dirusak oleh setan, mulai dari gembalanya yang dirusak--'gembala dibunuh, domba cerai berai.' Artinya gembala dibunuh rohaninya sehingga kering, tidak bisa memberi makan. Akibatnya domba tercerai berai--lelah, terlantar, sengsara, sampai binasa; tidak ada yang bertanggung jawab.

"Saya sudah pernah lapar, tetapi jangan sampai kering. Kalau gembala kering, mau apa? Tidak ada artinya. Tinggal tunggu semua lelah, terlantar, dan sengsara, sampai binasa semuanya. Tolong doakan saya sungguh-sungguh, supaya jangan sampai kering. Tuhan tolong kita semuanya."

Ada tiga saksi utama bahwa penggembalaan itu sangat penting--dua saksi sah, tiga saksi sempurna--:

  1. Dalam perjanjian lama: bangsa Israel tinggal di Gosyen.
    Gosyen menunjuk pada sistem penggembalaan, di mana terdapat perbedaan yang jelas antara Israel dan Mesir. Mesir hebat sedangkan Israel hanya budak, tetapi Mesir porak poranda karena ditimpa sepuluh penghukuman, sedangkan Israel dalam keadaan damai sejahtera dan bahagia.

    Karena itu setan tahu bahwa di dalam kandang penggembalaan ada perlindungan dan pemeliharaan Tuhan, sehingga benar-benar berbeda--Mesir yang hebat, hancur, tetapi Israel yang hanya budak, tidak bisa apa-apa, benar-benar mengalami damai dan bahagia di dalam Tuhan. Beda sekali.


  2. Dalam perjanjian baru: Yesus lahir di kandang Betlehem, bukan untuk mengentas kemiskinan, tetapi untuk menunjukkan pentingnya sistem penggembalaan. Dan di situ terjadi kemuliaan Tuhan--malaikat datang, orang majus datang.

    Di luar kandang, terjadi pembunuhan bayi yang berumur dua tahun, tetapi di dalam kandang ada kemuliaan Tuhan.


  3. Dalam perjanjian baru: waktu Yesus bangkit dan persiapan naik ke sorga, Ia menampakkan diri pada Petrus, dan Ia bertanya tiga kali kepadanya. Yesus menekankan penggembalaan kepada Petrus, sehingga ia bisa menuliskan surat 1 Petrus 5 (pasal penggembalaan).
    Yesus bertanya tiga kali: Adakah engkau mengasihi Aku....gembalakanlah domba-domba-Ku.

    Tiga kali pertanyaan Yesus menunjuk pada ketekunan dalam kandang penggembalaan; ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.

Gaya ular ini yang menghantam sistem penggembalaan: membuat tidak taat. Hati-hati! Sekalipun ada di kandang, kalau tidak taat, tidak bisa juga. Harus berada di kandang dan taat, itu syarat tergembala
Ingat baik-baik! Kalau berani keluar kandang, berarti berani ditelan oleh ular. Serius! Tuhan tolong kita semua.

Biarlah kita sungguh-sungguh melihat penekanan dari Tuhan soal penggembalaan. Tidak ada sistem lain di dunia ini yang bisa menjamin hidup kita di dunia sekarang, masa depan yang indah, sampai hidup kekal, kecuali di dalam sistem penggembalaan/kandang penggembalaan.

Silakan sekolah tinggi, tetapi di luar kandang, hanya akan seperti Firaun. Firaun pintar, kaya, tetapi di luar kandang, ia porak poranda--baru datang satu hukuman sudah habis.
Tetapi sebaliknya, apapun keadaan kita, mungkin sederhana, tetapi kalau ada di kandang, di situ ada jaminan untuk hidup sekarang, masa depan sampai hidup kekal.

Sungguh-sungguh dalam ketekunan di penggembalaan dan taat dengar-dengaran pada suara gembala! Tinggal ikuti saja suara gembala!

"Suara gembala bukan artinya suara saya: Ayo sini kamu korban. Jangan mau! Apalagi kalau pakai mimpi. Sekarang sudah begitu, main kasar: Om kemarin malam mimpi, kamu harus korban, kalau tidak, gawat kamu. Jawab saja: Saya belum mimpi, om. Mau ke mana, pakai mimpi: Tadi malam, kamu yang kasih saya tiket. Enak saja sekarang. Apalagi berkata: Om bermimpi, kamu jodoh dengan itu. Gawat! Itu sudah lama terjadi. Apalagi kalau pendetanya masih lajang: Kamu harus dengan saya. Lebih gawat lagi. Itu sudah lama terjadi. Setelah sekian lama, baru menyesal karena hanya kena gertak sambal. Jangan percaya mimpi-mimpi dan lain-lain!"

Suara gembala adalah pembukaan firman.

"Masukkan diri dalam ketekunan! Saya berdoa terus. Yang baru datang hari Minggu--pelita emas--, kalau sudah setia, satu waktu akan kelihatan alat meja roti dan mezbah dupa. Ibadah umum ini yang dijaga, dan kita akan dituntun dan ditolong Tuhan. Yang sekarang mendengar siaran langsung juga harus waspada. Sungguh-sungguh mendengar firman!"

Hasil tergembala dengan benar dan baik:

  1. Mazmur 23: 2, 5
    23:2. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
    23:5. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

    Hasil pertama: kita mendapatkan firman penggembalaan yang dobel--makanan dobel--:


    • Ayat 2= firman penggembalaan dalam bentuk penginjilan, yang membuat kita damai sejahtera, sekalipun di padang rumput banyak dikelilingi binatang buas.
      Kita menjadi damai, tenang, bahagia, enak dan ringan, sekalipun banyak binatang buas di padang gurun dunia, dan banyak goncangan. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

      Di tengah goncangan--saat kapal dihantam gelombang--, Yesus tidur. Sekalipun semua bergoncang kita tetap damai sejahtera, tenang, bahagia, enak dan ringan.
      Itulah penggembalaan, ada yang bertanggung jawab semuanya.


    • Ayat 5= 'hidangan'= makanan keras= firman penggembalaan dalam bentuk pengajaran, yang menyucikan kehidupan kita.
      Makanan keras ini untuk:


      1. Meningkatkan pertumbuhan rohani kita menjadi dewasa rohani--menyucikan terus menerus--, sampai kedewasaan penuh; sempurna seperti Yesus, tidak bercacat cela.
        Jadi pertumbuhan rohani sama dengan penyucian. Semakin disucikan, kita semakin dewasa rohani.

        Kesucian/kedewasaan rohani bisa dideteksi dari mulut yaitu banyak berdiam diri, artinya: banyak mengoreksi diri lewat ketajaman firman, bukan melihat kesalahan orang. Kalau ditemukan dosa, segera mengaku kepada Tuhan dan sesama. Jika diampuni jangan berbuat lagi.

        Jangan sampai dosa itu mengganggu pertumbuhan kita--dosa itu bagaikan ragi yang merusak; kata-kata yang tidak baik juga seperti racun.
        Kalau tidak salah, serahkan kepada Tuhan, jangan membela diri, Tuhan yang akan membela kita.

        Kesalahan kita adalah seringkali kita membela diri. Tidak ada gunanya, malah memerosotkan rohani kita; menghambat pertumbuhan rohani.


      2. 'di hadapan lawanku'= makanan keras memberikan kekuatan ekstra untuk menghadapi musuh-musuh yang lebih kuat. Sehebat apapun domba, tidak akan bisa melawan serigala; tambah gemuk tambah tidak bisa lari--seperti Daud melawan Goliat.

        Tuhan memberikan kekuatan ekstra supaya kita bisa menghadapi musuh-musuh sehingga kita menjadi lebih dari pemenang; kita lemah tetapi bisa menang atas musuh-musuh yang lebih kuat, karena Tuhan yang berperang ganti kita.

        Kalau kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri, seratus persen kekuatan dari Tuhan. Daud tidak menggunakan kekuatannya sendiri, kedudukan, dan pengalaman, tetapi murni mengandalkan firman pengajaran yang benar.


      'mengurapi kepalaku dengan minyak'= kalau suci, kita akan mengalami minyak urapan Roh Kudus sehingga pelita tetap menyala, tidak akan pernah tersandung dan terjatuh tetapi tetap mengikut dan melayani Yesus sampai Tuhan datang kembali kedua kali.


    Inilah sistem penggembalaan: ada makanan penggembalaan yang dobel, yang menjamin kita. Ada ketenangan, kedamaian, semua enak dan ringan. Serahkan kepada Tuhan! Yang berat sudah ditanggung Yesus di kayu salib.

    Kemudian ada makanan keras yang menyucikan kita sehingga kerohanian kita bisa bertumbuh. Kita banyak berdiam diri, dan Tuhan yang membela kita. Lebih dari itu, Tuhan memberikan kemenangan kepada kita, dan kita memiliki pelita yang tetap menyala sampai Tuhan datang kembali, untuk layak menyambut kedatangan-Nya.

    Kalau suci, kita akan diurapi, dan kita tidak akan pernah tersandung dan terjatuh tetapi tetap mengikut dan melayani Tuhan sampai Ia datang kembali.
    Kalau tersandung dan terjatuh, berarti kekuatannya sudah berkurang; sering menggunakan kekuatan sendiri, mau berperang dengan kekuatan sendiri. Mari berperang dengan kekuatan Tuhan! Dia yang berperang ganti kita. Kita hanya menyerah kepada Tuhan.


  2. Kejadian 37: 2-3
    37:2. Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun--jadi masih muda--biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya.
    37:3. Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.

    Sejak umur dua belas tahun Yesus sudah berada di Bait Allah, dan berbicara soal pengajaran--sudah berada di dalam penggembalaan.
    'berumur tujuh belas tahun'= usia dua belas sampai tujuh belas tahun adalah usia pancaroba, gawat-gawatnya kehidupan remaja muda; penentuan mau ke mana kaum muda ini selanjutnya: ke Yerusalem baru (kandang penggembalaan terakhir) atau kegelapan paling gelap.
    Karena itu bawa kaum muda ke kandang!

    'biasa menggembalakan'= tekun dalam penggembalaan.
    Umur dua belas sampai tujuh belas tahun, kalau benar, akan diberi jubah maha indah. Kalau tidak benar, akan layu sebelum berkembang, benar-benar hancur.

    "Saya beruntung masih mendapat kemurahan Tuhan. Saat usia dua belas sampai tujuh belas tahun, saya ini terhilang, tidak ada yang mengontrol lagi, pergaulan tidak baik. Untunglah masih ada panggilan Tuhan. Saya percaya panggilan Tuhan sejak dari kandungan. Kalau tidak ada panggilan Tuhan, saya tidak ada di sini, sangat jauh, mengingat pergaulan-pergaulan yang tidak baik. Sungguh-sungguh ini usia penentuan."

    Hasil kedua: mengalami penyucian terus menerus sampai puncaknya: penyucian hati dan mulut--dari hati keluar di mulut--sehingga mendapatkan tabiat Tuhan, bukan ular.

    Yusuf tekun dalam penggembalaan dan ia mengalami penyucian terus menerus sampai puncaknya: penyucian hati dan mulut; tidak kompromi dengan dosa--'Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya'. Kalau kompromi dengan dosa, yang ada adalah tabiat ular.

    "Saya bilang pada siswa-siswi Lembaga Pendidikan Elkitab "Kristus Ajaib": 'Kamu tahu kan temanmu salah? Tetapi kamu tidak mau lapor karena jaga-jaga: kalau aku salah juga, jangan dilaporkan juga ya.' Itu ular. Dulu saya dengan kakak saya yang nomor tiga selalu bekerjasama untuk mencuri uang di toko. Kalau menjaga toko, kakak saya di pintu tengah, saya di depan, bagian mengambil. Saling menutupi dan menguntungkan secara daging. Tetapi itu sebenarnya kehancuran kalau Tuhan tidak tolong."

    Kalau kompromi dengan dosa, akan bertabiat ular yang tidak bisa dimeteraikan oleh Tuhan tetapi ular/antikris--666.
    Sebaliknya, kalau kita mau mengalami penyucian dalam penggembalaan sampai hati dan mulut--akarnya di hati dan buahnya di mulut--, kita akan memiliki tabiat Tuhan yaitu:


    • Jujur; ya katakan: ya, tidak katakan: tidak; salah katakan: salah, benar katakan: benar.
    • Tanggung jawab.
      Kejadian 37: 12

      37:12. Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem.

      Akhirnya kakak-kakak Yusuf ini pindah dari Sikhem ke Dotan; bilangnya ke Sikhem, tetapi di Dotan. Ini sifatnya ular beludak. Kalau sekarang misalnya: bilang les, tahu-tahu ada di tempat biliar.

      Sikhem= bahu= tanggung jawab.
      Kakak-kakak Yusuf tidak bertanggung jawab.
      Kalau tidak jujur, tidak akan tanggung jawab.

      Kalau jujur--jujur soal pengajaran yang benar/Tuhan, nikah, dan keuangan, sampai jujur dalam segala hal--, pasti tanggung jawab sebagai apapun dia.


    • Taat dengar-dengaran sampai daging tidak bersuara.
      Kejadian 37: 13
      37:13. Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka." Sahut Yusuf: "Ya bapa."

      Yusuf tahu kalau saudaranya membenci dia, tetapi ia taat. Sama seperti Yesus yang harus menghadapi salib, tetapi Ia berkata: Ya Bapa.


    Yesus jujur, tanggung jawab, dan taat sampai mati di kayu salib. Kita jujur, tanggung jawab, dan taat dengar-dengaran sampai daging tidak bersuara.
    Yusuf gambaran dari gereja akhir zaman; kita di akhir zaman jangan punya sifat ular, tetapi tabiat dari Tuhan!

    Kalau kita mengalami penyucian--jujur, tanggung jawab, dan taat--, kita akan diperlengkapi jabatan pelayanan dan karunia Roh Kudus--jubah maha indah--, untuk dipakai dalam pelayanan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna (Efesus 4: 11-12).
    Hidup itu mulai indah, seperti bunga yang sedang mekar. Kalau belajar dari tongkat Harun: bertunas--hidup--, berbunga--melayani; ada jabatan pelayanan.

    Kalau tidak melayani Tuhan, akan melayani dosa, dan itu berarti layu sebelum berkembang, hidup itu sudah hancur. Sungguh-sungguh! Mohon pada Tuhan, ambil ketetapan, supaya kita sungguh-sungguh tidak bertabiat ular. Yang pertama: tergembala--menikmati firman yang dobel sampai menang, disucikan, dan pelita tetap menyala--, kita dipelihara secara berkelimpahan (Mazmur 23: 1), sampai sempurna.
    Yang kedua: diberi jubah, hidup itu dijadikan indah.

    Kita sudah digembalakan, disucikan, dan melayani, tetapi hidup tidak menjadi indah, mengapa? Seringkali ada kelalaian, ketidaksetiaan--'jangan lalai menggunakan karunia.' Itu yang membuat tidak indah.
    Tidak setia berkobar-kobar juga sama dengan lalai. Setia tetapi tidak benar atau benar tetapi tidak setia, itu juga kelalaian, yang membuat tidak indah.

    Mari layani sungguh-sungguh dengan setia berkobar-kobar--pelita tetap menyala--, setia-benar! Kita akan mengalami keindahan.
    Biarlah siang ini semua menjadi indah pada waktunya.


  3. 1 Petrus 5: 6-9 => pasal penggembalaan
    5:6. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.
    5:7. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
    5:8. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
    5:9. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.

    Sungguh-sungguh untuk tergembala! Memang butuh pengorbanan, tetapi ingat, Gembala yang baik sudah mengorbankan nyawa-Nya untuk menggembalakan kita. Kita juga berkorban apa saja untuk bisa tergembala, kecuali firman pengajaran yang benar jangan dikorbankan. Kalau tergembala tetapi makanannya tidak benar, kita akan cepat mati.

    Hasil ketiga: dalam penggembalaan kita bisa merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat; kita menyembah Tuhan; berserah dan berseru kepada Tuhan--puncaknya penggembalaan. Itu saja.

    Tadi penggembalaan itu makan(1). Kalau makan sudah baik, rohani akan bertumbuh--kita disucikan sampai penyucian hati dan mulut(2). Hati adalah akarnya, mulut adalah buahnya, di tengah-tengahnya bunga, itulah jubah indah. Kita berbunga-bunga, indah melayani Tuhan.

    "Betul seperti lagu yang mengatakan: tiada lebih indah kumelayani Yesus. Sampai seperti itu. Kalau hidup mau indah, jangan lalai dalam pelayanan, sampai bisa menyanyi dan merasa: tiada lebih indah kumelayani Yesus. Kalau sudah bisa merasakan itu, luar biasa. Tuhan tolong kita semua.
    Terima kasih doanya, kemarin saya dikuatkan isteri juga. Mulai hari minggu lalu semacam ini juga, berangkat ke Medan, senin ada pernikahan, selasa sampai kamis kkr, jumat ada pernikahan pagi hari, jumat sore di sini, sabtu pagi ke Jakarta, sabtu sore turun pesawat, sudah melayani orang meninggal, sudah ditunggu di kuburan. Sesudah itu ibadah kaum muda. Tetapi dengan kekuatan Tuhan: tiada lebih indah kumelayani Yesus. Bukan sombong! Biasa begitu, tetapi saya merasa tiada lebih indah melayani Tuhan. Memang harus melayani, tetapi setelah itu: tiada lebih indah kumelayani Yesus. Senang hati ini bisa melayani.
    Saya melayani sepenuhnya, tetapi bapak/ibu juga sama. Biarpun hanya ibadah hari minggu, rabu, jumat, dan sabtu--kalau kaum muda. Tetapi saudara kuliah atau kerja. Kita sama. Jangan pandang saya terus: kasihan ya. Saudara kasihan juga. Kerja tiap hari, pulang sore, datang ibadah. Kita sama di hadapan Tuhan. Tetapi jangan sampai bersungut. Kita melayani sampai bisa berkata: tiada lebih indah kumelayani Yesus. Tuhan tolong kita semuanya.
    "

    Dan terakhir, sampai kita bisa menyembah Tuhan; berserah dan berseru kepada Tuhan(3).

    Berserah dan berseru kepada Tuhan, artinya:


    • Ayat 7: 'Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya'= bisa menyerahkan segala kekuatiran dan kebimbangan kepada Tuhan sehingga kita bisa mengutamakan ibadah pelayanan lebih dari semua.
      'Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya'= kita bisa beribadah melayani dengan setia dan benar. Utamakan Tuhan! Itu berarti tidak ada kekuatiran.

      Itu urusan kita. Dan semua akan ditambahkan kepada kita; Tuhan sanggup memelihara kita lewat salib-Nya--salib itu tanda surplus. Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya untuk mati di kayu salib, bagaimana mungkin Dia tidak memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan di dunia? Dari salib kita pasti mendapatkan segala sesuatu. Tidak mungkin negatif.

      Kita bukan menyerahkan kehebatan kita, tetapi kelemahan kita--kekuatiran itu merupakan kelemahan, ini yang membuat tenggelam. Dulu Petrus tenggelam karena kuatir dan bimbang; sudah bisa berjalan di atas gelombang, tiba-tiba ada angin dan ia hampir tenggelam.

      Sudah setia dalam ibadah, tahu-tahu terjadi yang tidak baik, lemas, jangan, serahkan kekuatiran kepada Tuhan! Tetap setia-benar, setia-berkobar! Dahulukan Tuhan, dan Ia janjikan pemeliharaan dari salib.


    • Menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan.
      Yohanes 21: 18-19
      21:18. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
      21:19. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

      Kita menyerahkan seluruh hidup yang tidak berdaya, bukan yang hebat. Petrus ingat bagaimana ia menyangkal Tuhan, tenggelam, memotong telinga Malkus. Itu semua kelemahannya. Serahkan semua! Petrus yang hebat mengaku dia hanya bejana tanah liat, tidak bisa apa-apa tanpa Tuhan.


    Mari, serahkan segala kekuatiran, kekurangan dan kelemahan kita di bidang apa saja. Tuhan akan mengulurkan tangan kepada kita. Dia akan meninggikan pada waktunya, artinya:


    • Membuat yang gagal jadi berhasil dan indah.
    • Menyelesaikan semua masalah.
    • Memakai kita menjadi bejana kemuliaan; dipakai dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.
    • Menyucikan dan mengubahkan terus menerus sampai kita sempurna seperti Dia, dan kita benar-benar terangkat di awan-awan yang permai saat Dia datang kembali kedua kali.

Serahkan kekuatiran dan kelemahan/kekurangan kita!
Di dalam penggembalaan kita makan--bertumbuh, disucikan--, dan kita dipelihara oleh Tuhan. Kemudian pakai jubah indah, hidup kita menjadi indah. Dan terakhir banyak menyembah Tuhan; hanya mengulurkan tangan kepada Tuhan: Ini saya, banyak kekurangan, kelemahan, kegagalan. Serahkan semua, biar Dia mengangkat kita tepat pada waktunya.

Paling senang saat kita menyerahkan kelemahan dan kekurangan kepada Tuhan. Apa saja, dosa atau apapun, serahkan, Dia menerima semuanya. Dia menolong dan mengangkat kita semua.
Jatuh, gagal, sakit tubuh, sakit nikah, atau apa saja, serahkan kepada Tuhan!

Kaum muda jangan ragu! Saya dulu di lembah kelam, tetapi masih ada panggilan Tuhan. Tuhan masih panggil kamu semua, kaum muda. Tuhan tolong. Yang berhasil jangan sombong!
Sejauh mana kita mengasihi Dia?

Panggilan Tuhan secara pribadi, di tempat mana saja ada panggilan Tuhan. Saya sudah mengalaminya, kalau tidak ada panggilan, saya sudah tidak ada di sini, sudah hancur di masa muda. Bapak/ibu, apa kesulitan dan kemustahilan yang dihadapi? Manfaatkan panggilan Gembala, Dia mau mengulurkan tangan.
Seorang bapak, seorang ibu, seorang ibu janda, seorang anak muda, mari menyembah Dia, serahkan semua kepada-Nya.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 18 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Walikukun (Pagi))

  • 20 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Jatipasar (Pagi))

  • 24 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Hotel Kartika Graha Malang)

  • 25 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Square Ballroom Surabaya)

  • 28-30 Januari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top