English Language | Form Penggembalaan
kebaktian bible study surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Bible Study Surabaya (Senin, 18 Februari 2008)
Tayang: 29 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 16 April 2007)
Tayang: 22 Desember 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 01 Oktober 2007)
Tayang: 01 Maret 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 Desember 2007)
Tayang: 10 Maret 2010
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin Sore, 07 Oktober 2013)
Tayang: 19 Januari 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 26 November 2007)
Tayang: 06 September 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 11 Agustus 2014)
Tayang: 13 Oktober 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 Maret 2008)
Tayang: 17 Agustus 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 02 Juni 2014)
Tayang: 14 Februari 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin Sore, 19 Agustus 2013)
Tayang: 27 Agustus 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 05 November 2007)
Tayang: 12 Juli 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 10 September 2007)
Tayang: 04 Januari 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Bible Study Surabaya
Tanggal: Senin, 24 Desember 2007
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 10 Maret 2010

Yudas 1: 24 - 25
24. Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,
25. Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Surat Yudas di dalam susunan Tabernakel terkena pada tudung kulit lumba-lumba. Istilah tudung berarti pemeliharaan dan perlindungan Tuhan kepada gereja yang benar dan sekaligus pemisahan dengan gereja yang palsu.

Penutup dari surat Yudas ini menampilkan tujuh Pribadi Yesus, yaitu:
  1. bagi Dia yang berkuasa supaya jangan kamu tersandung.
    Dia = Yesus yang berkuasa menjaga kita supaya kita tidak tersandung.
  2. Dia berkuasa membawa kita sampai kita tidak bernoda/bercacat cela = sempurna.
  3. Dia adalah Allah Yang Esa
  4. Dia adalah Juruselamat kita
  5. Dia adalah Tuhan Yesus Kristus
  6. Dia yang layak menerima kemuliaan, kekuasaan, kekuatan, kebesaran.
  7. Dia adalah Allah yang kekal dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya.
Inilah tujuh penampilan dari Pribadi Yesus yang menjadi naungan yang sangat kuat bagi gereja Tuhan yang benar.
Dia adalah Allah yang kekal = ada naungan yang kekal.

Bagi rekan-rekan hamba Tuhan, kita harus berhati-hati menampilkan Pribadi Yesus yang kekal. Ibrani 13 : 8 - 9a
8. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
9. Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing!

Apa buktinya jika seorang hamba Tuhan itu menampilkan Pribadi Yesus yang kekal? Buktinya adalah menampilkan pengajaranNya yang tidak berubah/kekal. Mohon diperhatikan! Kalau kami para hamba-hamba Tuhan menampilkan pengajaran yang selalu berubah-ubah, berarti kami para hamba-hamba Tuhan menampilkan Pribadi Yesus yang tidak kekal dan ini berarti sidang jemaat tidak akan mencapai hidup yang kekal.

Tujuh penampilan dari Pribadi Yesus = tujuh sinar kemuliaan dari pelita emas dan jika ini dipancarkan kepada gereja yang benar, akan menghasilkan banyak hasil. Salah satunya adalah menghasilkan tujuh kebahagiaan surga.
Jadi tujuh penampilan dari Pribadi Yesus bagaikan tujuh sinar kemuliaan dari
pelita emas. Kalau disinarkan di dalam gereja yang benar, akan menghasilkan tujuh kebahagiaan kekal/tujuh kebahagiaan surga yang ditulis di dalam kitab Wahyu sebagai berikut:
  1. Wahyu 1 : 3
    Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.

  2. Wahyu 14 : 13
    Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."

  3. Wahyu 16 : 15
    "Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya."

  4. Wahyu 19 : 9
    Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

    Ini merupakan puncak/pokok kebahagiaan yaitu saat Yesus datang kembali kedua kali, kita akan bersama-sama dengan Dia selama-lamanya.

  5. Wahyu 20 : 6
    Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka,

  6. Wahyu 22 : 7
    "Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!"

  7. Wahyu 22 : 14
    Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.
Gambar di http://www.gptkk.org/images/7bahagia.jpg
  1. Pelita/kebahagiaan 1 (Wahyu 1 : 3)
  2. Pelita/kebahagiaan 2 (Wahyu 14 : 3)
  3. Pelita/kebahagiaan 3 (Wahyu 16 : 15)
  4. Pelita/kebahagiaan 4 (Wahyu 19 : 9)
  5. Pelita/kebahagiaan 5 (Wahyu 20 : 6)
  6. Pelita/kebahagiaan 6 (Wahyu 22 : 7)
  7. Pelita/kebahagiaan 7 ((Wahyu 22 : 14)
Kita sudah mempelajari kebahagiaan yang keenam dan yang ketujuh.
Sekarang kita akan mempelajari kebahagiaan yang keempat yang merupakan titik/pokok kebahagiaan.

Wahyu 19 : 9
Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

Alkitab ini diawali dengan nikah yang jasmani dari Adam dan Hawa dan Tuhan memberikan kebahagiaan Firdaus/taman Eden kepada mereka. Tetapi sayang, setan/ular datang dan memperdaya Hawa, juga termasuk Adam sehingga mereka berdua jatuh dalam dosa.
Di tengah-tengah kebahagiaan, setan/ular datang dan memperdaya Hawa. Itu sebabnya kita harus berhati-hati, sebab di hari-hari ini logika/pikiran yang selalu diperdaya. Firman Tuhan dilogikakan sampai jatuh di dalam dosa, akibatnya kehilangan kebahagiaan firdaus dan hidup sengsara karena manusia dibuang ke dalam dunia ini.

Sementara, di dunia ini tidak ada satu kekuatanpun yang dapat menyelesaikan dosa seperti kekayaan, kepandaian termasuk manusia seperti nabi dan rasul sebab semua manusia sudah berbuat dosa.
Untuk ini, maka jalan keluarnya adalah natal yaitu Allah harus lahir dan menjadi manusia yang tidak berdosa untuk menyelesaikan dosa-dosa manusia supaya manusia dikembalikan ke dalam kebahagiaan Firdaus = Yesus berusaha memperbaiki nikah manusia sampai dapat kembali ke dalam kebahagiaan Firdaus --> 'berbahagialah yang diundang ke dalam perjamuan kawin Anak Domba.'

Inilah Alkitab yang ditutup dengan Wahyu 19 : 9 dan untuk nikah yang sudah hancur ini, Yesus harus datang ke dunia untuk merestorasi/memperbaiki nikah manusia sampai kembali ke firdaus.

Pesta nikah = Mempelai. Ini terjadi pada waktu kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Yesus sebagai Mempelai Pria Surga, kita Mempelai Wanita menjadi satu dengan Tuhan dan akan kembali ke Firdaus/kerajaan seribu tahun damai, sesudah itu kita masuk ke dalam kerajaan surga yang kekal/Yerusalem Baru.

Sebenarnya manusia ini sudah berbahagia, tetapi jatuh dalam dosa, sehingga Yesus harus datang menebus dosa manusia dan juga untuk mengembalikan manusia pada kebahagiaan Firdaus.

Jadi, Wahyu 19 : 9 ini merupakan puncak kebahagiaan.
Kalau kita mengikuti Tuhan, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang dimulai dari kebahagiaan pertama, kedua, ketiga, kelima, keenam dan ketujuh yang merupakan cabang-cabang dari pelita sampai pada puncaknya, yaitu kebahagiaan yang keempat/pokok dari pelita yaitu kebahagiaan pesta nikah Anak Domba.

Di hari-hari ini harus terjadi peningkatan hubungan antara kita dengan Tuhan, sebab maut selalu mengincar kehidupan kita. Begitu ada kerenggangan, maka maut yang akan masuk.
Raja Daud mengatakan: 'satu langkah jaraknya aku dengan maut’.
Satu langkah = satu denyut jantung. Kita dapat membayangkan begitu dekatnya jarak manusia dengan maut. Itu sebabnya hubungan manusia dengan Tuhan harus semakin lama semakin meningkat/tidak boleh renggang, sebab begitu terpisah, maka maut segera masuk dan manusia akan terpisah.

Ada tiga macam maut/kematian yang mengancam manusia, yaitu:
  • kematian secara tubuh lewat penyakit, kecelakaan.
  • kematian kedua secara rohani akibat dosa --> Efesus 2 : 1
    Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

    Di dalam kitab Yesaya 59, dosa-dosa inilah yang memisahkan kita dengan Tuhan.
    Jadi
    , mati rohani = kering rohani karena terpisah dari Tuhan. Tubuhnya sehat tetapi rohani kering sehingga tidak merasa bahagia. Semoga kita dapat mengerti.

  • kematian kedua/neraka/kebinasaan --> Wahyu 20 : 14 - 15
    14. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.
    15. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.
Inilah tiga macam kematian yang mengancam kita. Itu sebabnya kita harus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan.

Sesudah kita tahu ada maut yang mengancam, sekarang kita mau meningkatkan hubungan dengan Tuhan, yaitu:
  1. hubungan antara anak dengan Bapa.
    Seringkali orang Kristen tahu ini dan mengatakan bapak A, bapak B itu orangnya baik. Tetapi banyak kali hanya baik secara jasmani karena diberi makan, diberi pakaian, diberi pekerjaan. Hubungan anak dengan Bapa ini sudah bagus. Tetapi harus ingat, sebab masih ada anak yang terhilang. Kalau hubungan kita dengan Tuhan hanya seperti anak dengan Bapa, akan sangat berbahaya sebab ada anak yang terhilang dan ini berarti putus hubungan dengan Bapa = murtad = binasa untuk selama-lamanya = terkena kematian yang kedua. Itu sebabnya hubungan itu harus ditingkatkan.

  2. hubungan antara murid dengan Guru.
    Yohanes 6 : 60, 66
    60.
    Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
    66. Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

    Seringkali murid-murid meninggalkan pengajaran karena tidak sanggup mendengarkan pengajaran yang keras.
    Ay 66 = kita jangan sombong kalau sudah menerima Firman pengajaran, sebab nanti banyak orang yang akan meninggalkan Firman pengajaran karena terlalu keras.

    Kalau kita membandingkan Yohanes 6 ini mulai ayat 1: Yesus memberi makan lima ribu orang, tetapi sesudah Yesus berbicara dengan perkataan keras/Firman pengajaran yang keras, banyak yang mengundurkan diri sehingga tinggal duabelas murid.

    Kita dapat membayangkan berapa orang yang nanti akan meninggalkan pengajaran
    . Sebab dari duabelas, satu murid yaitu Yudas juga meninggalkan Yesus.

    Mengundurkan diri dari Firman pengajaran yang benar = putus hubungan dengan Yesus/tidak lagi mengikut Yesus = binasa.
    Inilah kalau hubungan dengan T
    uhan seperti murid dengan Guru. Karena itu hubungan ini harus lebih ditingkatkan.

  3. hubungan domba dengan Gembala.
    Tetapi di dalam Alkitab dikatakan masih ada domba yang tersesat = binasa. Itu sebabnya hubungan dengan Tuhan masih perlu ditingkatkan.

  4. hubungan tubuh dengan Kepala.
    Tubuh = isteri/Mempelai Wanita. Kepala = Suami/Mempelai Pria Surga. Hubungan Mempelai Wanita dengan Mempelai Pria Surga = hubungan nikah yang rohani.
    'Berbahagialah yang diundang ke pesta nikah.'Pernikahan ini bukan seperti Adam dan Hawa, tetapi nikah rohani yang merupakan hubungan yang tertinggi/yang paling puncak sehingga tidak dapat dipisahkan. Tubuh ini tidak dapat dipisahkan dari Kepala walau hanya sedetikpun.
Inilah saudaraku! Untuk menghadapi maut, tidak dapat dihadapi dengan uang. Juga bagi rekan-rekan hamba Tuhan, di saat menghadapi maut, saudara tidak dapat menghadapi dengan gedung gereja yang besar, dengan sidang jemaat yang ribuan jumlahnya ataupun dengan ijazah yang tinggi. Sebab maut ini hanya dapat dihadapi dengan hubungan kita yang semakin meningkat dengan Tuhan.

Sebelumnya dikatakan, jarak dengan maut hanya satu langkah. Berapa jarak antara tubuh dengan Kepala? Tidak ada! Berarti tidak dapat dijamah oleh maut. Itu sebabnya hubungan kita dengan Tuhan harus ditingkatkan.

Bagi saudara yang masih mengenal Tuhan sebagai anak dengan Bapa = mengenal hanya sebatas Tuhan itu baik sehingga jasmani menjadi baik, mari harus lebih ditingkatkan dengan menerima Firman pengajaran. Bagi yang sudah menerima Firman pengajaran, harus ditingkatkan lagi dengan masuk ke dalam penggembalaan. Dan yang sudah tergembala, harus lebih ditingkatkan menjadi hubungan tubuh dengan Kepala/hubungan nikah yang rohani yang tidak dapat dihantam/dikuasai oleh maut. Semoga kita dapat mengerti.

Sekarang kita akan pelajari tentang hubungan-hubungan ini di dalam kitab Wahyu.
Ada tiga kali ditekankan tentang hubungan nikah yang rohani.
Tiga kali menggambarkan Allah Tri Tunggal. Jadi tiga kali ini merupakan pengayoman dari Allah Tri Tunggal kepada gereja Tuhan supaya tidak dikuasai dan ditelan oleh maut.

Tidak dikuasai oleh maut, bukan berarti tidak mati, bukan seperti ini. Sebab
banyak pendahulu-pendahulu kita seperti Bapak Pdt. V. Gessel, Bapak Pdt. In Juwono maupun Bapak Pdt. Pong Dongalemba sudah mendahului kita. Tetapi nanti mereka akan dibangkitkan.

Tiga macam hubungan nikah yang rohani yaitu:
1). Wahyu 8 : 1-5 = hubungan di dalam penyembahan.
1. Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.
2. Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh sangkakala.
3. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.
4. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
5. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.

Sunyi senyap di surga --> Mempelai Pria Surga bertemu dengan Mempelai Wanita= hubungan di dalam penyembahan yang menghasilkan sunyi senyap = perhentian/ketenangan/kedamaian/kelegaan di dalam Roh Kudus.
Ini menjadi bukti bahwa maut tidak dapat masuk.

Kita harus memperhatikan! Kalau hati ini selalu merasa gelisah dan lain-lainnya, maka maut itu ada; sebab kalau maut itu tidak ada, maka di saat kita menyembah, kita merasakan sunyi senyap/ada perhentian, ketenangan, kedamaian dan kelegaan di dalam Roh Kudus. Inilah arti dari hubungan nikah rohani yang pertama. Semoga kita dapat mengerti.

Ada dua keadaan yang kontras/kontradiksi di dalam ay 1-ay 4 dengan ay 5, yaitu:
  • kehidupan anak-anak Tuhan yang menyembah Tuhan akan mengalami ketenangan, kedamaian yang semakin memuncak sebab sudah menemukan Yesus sebagai Kepala/Mempelai Pria Surga.
    Di dalam penyembahan, kita sudah pasrah dan semakin menyerah, maka kita akan semakin menemukan Y
    esus sebagai Kepala sehingga kita merasa semakin tenang dan akan menjadi semakin berbahagia.

  • sebaliknya, di bumi akan terjadi goncangan-goncangan (ay 5). Goncangan –goncangan terjadi di segala bidang dan juga termasuk bencana alam dan sebagainya yang juga akan semakin memuncak sampai bumi ini hancur dan lenyap.
Itu sebabnya kita jangan ditipu dan lebih baik kita percaya dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab. Saya tidak mau membaca buku-buku lain yang mengatakan bahwa keadaan masih baik --> tidaklah demikian! Sebab kalau kita membaca buku-buku lain yang mengatakan bahwa keadaan bumi masih baik, kita menjadi lengah. Sedangkan Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa bumi ini sudah goncang, hancur dan sedang lenyap.

Mari saudaraku! Kita harus sungguh-sungguh serius agar dapat meningkat di dalam penyembahan. Sebab kalau kita meningkat di dalam penyembahan, maka kita juga akan meningkat di dalam ketenangan sampai kita menemukan Yesus sebagai Mempelai Pria Surga/Kepala. Sedangkan yang ada di bumi ini akan meningkat di dalam goncangan sampai hancur dan lenyap.

Bagaimana proses untuk mendapatkan ketenangan? Mari kita belajar kepada Yesus yang rendah hati dan lemah lembut.

Matius 11 : 28-30
28. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberi kelegaan kepadamu.
29. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
30. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
  • Rendah hati = kemampuan untuk dapat menyadari dan mengaku dosa. Setelah diampuni, jangan berbuat dosa lagi. Tuhan Yesus rendah hati sampai mati di kayu salib = Yesus mengakui dosa-dosa kita. Kita dapat membayangkan, Yesus yang tidak mengenal dosa dan tidak berbuat dosa, tetapi Ia mau mengakui dosa-dosa kita. Ini benar-benar kerendahan hati. Sedangkan untuk kita sekarang, rendah hati berarti kemampuan untuk mengaku dosa-dosa kita.

    Mari! Bukti dari orang yang rendah hati itu bukan hanya berkata 'Haleluya'beberapa jam atau yang terus menerus menghakimi orang. Tetapi orang yang rendah hati itu adalah banyak mengakui dosa-dosa.

    Inilah hubungan Kepala dengan tubuh = penyembahan yang benar sampai dapat rendah hati.

  • Lemah lembut = kemampuan untuk dapat mengampuni dosa-dosa orang lain dan melupakannya.
    Di atas kayu salib,
    Tuhan Yesus berseru: 'ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan’.
Inilah penyembahan , yaitu hubungan isteri dengan suami/hubungan tubuh dengan Kepala yang tidak dapat terpisah sedikitpun. Semoga kita dapat mengerti.

Jika kita sudah dapat rendah hati dan lemah lembut, maka kita akan mendapatkan ketenangan/kelegaan. Sebab selama dosa (baik itu dosanya sendiri maupun dosa orang lain yang disimpan) dan belum diselesaikan, maka kehidupan itu akan tetap merasa letih dan lesu dan berbeban berat = terpisah dari Tuhan = diancam dengan maut rohani, yaitu kerohaniannya menjadi kering sampai kematian rohani.

Bagi rekan-rekan hamba Tuhan dan juga anak-anak Tuhan, jika saudara selalu merasa letih lesu dan berbeban berat, akan menjadi berbahaya sebab ini merupakan tanda-tanda terpisah dari Tuhan/tanda-tanda dikuasai oleh maut/kekeringan dan akan memuncak sampai pada kematian rohani. Jika ini dibiarkan, akan masuk dalam kematian kedua/neraka.

Jika kita sudah mendapatkan kedamaian,ketenangan dan kelegaan, maka hasilnya:
  • Semua jadi enak dan ringan.
    N
    ikah menjadi enak dan ringan sehingga tidak akan ada yang bercerai. Suami isteri mana yang mau menjadi bodoh dengan meninggalkan apa yang enak dan ringan.

    Bagi rekan-rekan hamba T
    uhan, pelayanan saudara akan menjadi enak dan ringan.
    Bagi yang bekerja maupun yang masih bersekolah/kulia
    h, semuanya menjadi enak dan ringan jika semuanya sudah berada di dalam perhentian = ketenangan dan kedamaian.

    Itu sebabnya kita harus banyak menyembah T
    uhan dan juga menyerahkan letih lesu dan beban berat sehingga kita dapat menjadi rendah hati dan lemah lembu (=kita mendapatkan kedamaian dan ketenangan sehingga semuanya menjadi enak dan ringan).

  • Mengalami kuasa Tuhan untuk meneduhkan angin dan gelombang. Waktu mengalami angin dan gelombang di lautan, Yesus berkata: 'diam dan tenang!'sebab di saat kita diam dan tenang, kita mengalami kuasa Tuhan untuk meneduhkan lautan yang sedang bergelombang.

    Masalah apa saja yang menghantam hidup nikah kita, semuanya diselesaikan oleh T
    uhan/diteduhkan oleh Tuhan. Kalau tidak tenang, maka rasanya kita mau mati. Jika kita mengalami kegoncangan di dalam nikah, maka kita harus diam dan tenang (=masing-masing mengoreksi diri). Pasti Tuhan yang akan campur tangan.

  • Kita tidak akan terpisah dari Tuhan dengan tanda kita tenang dan damai = maut secara rohani tidak dapat masuk/kematian secara rohani tidak berkuasa/ditaklukkan.
Inilah pengayoman Tuhan lewat doa penyembahan sampai kita dapat mengoreksi diri, kita meminta ampun dan mengampuni, semuanya menjadi enak dan ringan sehingga kematian rohani/kekeringan rohani tidak dapat menjamah kita. Semoga kita dapat mengerti.

2) Wahyu 19 : 9 = Hubungan dalam kebahagiaan.
Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

Jika kita tidak merasa berbahagia, maka itu berarti kita tidak memiliki hubungan. Semoga kita dapat mengerti.

Darimana kita mendapatkan kebahagiaan itu? dari ketujuh kebahagiaan ini, maka yang menentukan kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang pertama. Sedangkan puncak kebahagiaan, ada pada yang keempat --> pesta nikah Anak Domba. Semoga kita dapat mengerti.

Jika kita mau berbahagia, bukannya karena kita mendapatkan rumah yang bagus, mobil yang mewah. Bukan!

Wahyu 1 : 3 --> Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.

Awal dari kebahagiaan adalah mendengarkan Firman nubuat sampai dengar-dengaran/mengikut dan mempraktekkan Firman nubuat.
Firman nubuat = Firman yang menubuatkan segala sesuatu yang akan terjadi terutama tentang kedatangan Yesus yang kedua kali = Firman pengajaran Mempelai/Kabar Mempelai.

Saya selalu mengulang-ulang berkata bahwa pemberitaan Firman itu ada dua macam supaya sidang jemaat menjadi mengerti dan tidak dibutakan. Pemberitaan Firman yang pertama adalah injil keselamatan.

Efesus 1 : 13 = Firman penginjilan yang dikatakan oleh rasul Paulus = susu = memberitakan kedatangan Yesus yang pertama dan ini sudah terjadi 2000 tahun yang lalu yang kita peringati sekarang ini sebagai hari natal.
Firman penginjilan ini tidak salah sebab kedatangan Yesus pertama ini untuk membawa orang berdosa yang belum percaya kepada Yesus agar dapat diselamatkan dan sasarannya adalah:
  • orang-orang yang berada di luar Tuhan.
  • untuk jiwa baru yang baru datang = bayi, agar dapat bertumbuh.
Tetapi kalau sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan dan terus menerus diberi susu, maka kerohanian seseorang itu tidak dapat bertumbuh menjadi dewasa sehingga tidak dapat menjadi Mempelai.
Itu sebabnya perlu pemberitaan Firman yang kedua yaitu Firman nubuat/Firman pengajaran, yaitu injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah wujud Allah (2 Korintus 4 : 3-4).
Firman pengajaran = makanan keras = Firman nubuatan yang memberitakan kedatangan Yesus kedua kalinya dan ini belum terjadi. Itu sebabnya disebut dengan Firman nubuat.

Memberitakan kedatangan Yesus yang kedua kalinya sebagai Raja di atas segala raja dan juga sebagai Mempelai Pria Surga untuk mendewasakan/menyempurnakan gereja Tuhan.

Jadi bagi yang sudah selamat, harus terus meningkatkan kerohanian, jangan kembali lagi ke Firman penginjilan. Apalagi bagi yang sudah berada di dalam Firman pengajaran, jangan kembali ke Firman penginjilan tetapi harus terus berdoa untuk pembukaan Firman agar lebih dibukakan untuk mempersiapkan kita menjadi sempurna. Semoga kita dapat mengerti.

Siapa yang berbahagia? Wahyu 1 : 3 --> Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.

Mereka yang mendengarkan Firman nubuat/Firman pengajaran dan dengar-dengaran = melakukan Firman pengajaran dan ini merupakan awal dari kebahagiaan. Sebab tidaklah mungkin kita dapat mencapai pesta nikah Anak Domba kalau tidak dimulai dari awal terlebih dahulu.

Jika hubungan kita dengan Tuhan meningkat, maka kebahagiaan juga akan meningkat. Seperti yang dikatakan oleh raja Daud : 'kalau aku tidak bergemar pada hukum-hukumMU, maka binasalah aku’. Kita dapat membayangkan, kalau kita muak terhadap Firman, maka kita akan binasa.

Mohon maaf kepada para hamba-hamba Tuhan. Saya tidak menggurui, tetapi saya mau katakan, sebenarnya sudah terlalu banyak kesalahan kami sebagai seorang hamba Tuhan. Kami sudah banyak mendengarkan Firman/duduk di bawah kaki Tuhan, membaca alkitab serta berdoa, tetapi Firman itu bukan untuk segera dikhotbahkan.

Harusnya Firman yang sudah kita dengar harus terlebih dahulu kita praktekkan, baru kemudian dikhotbahkan = mendengar dan dengar-dengaran. Sebab kalau Firman Tuhan sudah menjadi pengalaman hidup dan kita khotbahkan, maka kita sudah menjadi cap/stempel Darah Yesus yang tidak dapat dilawan oleh apapun.

lmu pengetahuan ataupun gelar doktor tidak dapat melawan.
Seringkali sebagai seorang hamba Tuhan kita menganjurkan kepada sidang jemaat untuk memberikan persepuluhan, tetapi kita sendiri tidak memberi. Ini berarti kita tidak memiliki cap Darah Yesus.

Mari! Kita semua dan dimulai dari saya, sekarang ini kita mendengarkan Firman pengajaran sampai kita menjadi dengar-dengaran, maka hasilnya:
  • Kita mendapatkan kebahagiaan
  • Kita juga mendapatkan kesucian
Orang yang tidak dengar-dengaran, tidak akan berbahagia. Contohnya adalah Yunus. Tuhan memerintahkannya untuk pergi ke Niniwe, tetapi ia pergi ke Tarsis yang semuanya ada, tetapi ia tidak berbahagia, goncang dan berakhir di dalam perut ikan.

Ibrani 4 : 12 - 13
12. Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
13. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Taat kepada Firman akan menghasilkan penyucian.

Apa yang harus disucikan oleh Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua?

Yang harus mulai disucikan adalah hati dan pikiran.
Hati merupakan meja dari manusia yang seringkali tidak diisi dengan Roti tetapi diisi dengan hal-hal yang jelek seperti yang ditulis di dalam injil Markus ada 12 kejelekan. Dan di dalam injil Matius ada 7 kejelekan. Kalau saya kumpulkan semuanya, maka Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua ini menyucikan hati dan pikiran dari keinginan najis dan keinginan jahat.

Kaum muda harus berhati-hati dalam keinginan najis, terutama lewat tontonan dan juga lewat bacaaan-bacaan. Sekalipun kenajisan ini masih berada di dalam hati dan belum dilakukan, tetapi itu tetap najis (Matius 5).

Akar kejahatan adalah cinta akan uang (1 Timotius 6 : 10). Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki banyak uang. Yang tidak boleh adalah cinta/terikat akan uang sehingga kita menjadi kikir dan serakah.

Serakah = mengambil milik orang terutama milik Tuhan, yaitu persepuluhan dan persembahan khusus.
Bagi rekan –rekan hamba Tuhan terutama dari GPT, kita sudah memiliki wadah untuk memberikan persepuluhan supaya kita tidak bersalah kepada Tuhan dan juga kepada organisasi. Dan jika kita mau memberikan berkat kepada orang lain/kepada sesama hamba Tuhan, maka kita mengambil dari uang milik kita sendiri dan ini berarti kita tidak terikat pada uang.

Jangan persepuluhan itu dibagi-bagikan! Kelihatan baik, tetapi sesungguhnya kita masih terikat pada uang. Seperti Yudas yang mengatakan lebih baik uang itu diberikan kepada orang miskin, tetapi sesungguhnya, ia adalah seorang pencuri. Juga bagi sidang jemaat, mari perhatikan persepuluhan dan persembahan khusus untuk dikembalikan kepada Tuhan, jangan menjadi serakah.

Kikir = tidak dapat memberi.
Kalau hati sudah disucikan dari dosa kikir, maka kita dapat memberi dengan rela/ada kerelaan hati dan juga dengan sukacita kepada sesama yang membutuhkan dan juga memberi untuk pembangunan Tubuh Kristus.

2 Korintus 9 : 6-8
6. Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
7. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
8. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

Kalau disucikan dari dosa kikir, maka kita tidak akan rugi sebab Allah sanggup melimpahkan kasih karunia.

Jadi, jika kita dapat memberi dengan kerelaan dan dengan sukacita = tidak terpaksa tetapi didorong oleh Firman, maka hasilnya:
  • Tuhan akan melimpahkan kasih karunia, bukan melimpahkan uang.
    Kita jangan berkata, kalau saya memberikan sepuluh, maka T
    uhan akan memberikan seratus. Ini namanya kita berjudi. Ada lagi yang berkata: kalau kita memberi yang banyak, nanti akan mendapatkan lebih banyak lagi. Tetapi jika hal ini tidak terjadi, maka dapat menjadi seorang pembohong. Tetapi Tuhan melimpahkan kasih karunia yang dapat memelihara sehingga kita berkecukupan/tidak kekurangan.

  • Berlebihan dalam pelbagai kebajikan.
    Jika ada perbuatan-perbuatan kebajikan, maka akan menjadi pakaian putih yang berkilau-kilauan = jubah yang sampai di kaki = berkelebihan sampai di kaki.

  1. Wahyu 19 : 8
    Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]
    Kita dipersiapkan dengan pakaian Mempelai lewat penyucian.
    Jadi
    disucikan = diberi pakaian Mempelai.

    Memberi itu bukan untuk menjilat, bukan untuk menguasai, tetapi memberi itu untuk pembangunan Tubuh Kristus. Inilah penyucian hati oleh pedang Firman dan sesudah hati disucikan, maka pedang ini juga menyucikan seluruh perbuatan-perbuatan kita, perkataan-perkataan dan juga pandangan kita sampai akhirnya penyucian mulut. Akarnya ada di hati, sedangkan buahnya ada di mulut. Jika akar di hati disucikan, maka buah di mulut akan menjadi baik.

    Mazmur 149 : 6
    Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka,

    Pedang di tangan = Firman yang dipraktekkan dan pujian di mulut/di kerongkongan.

    Sudah diterangkan bahwa awal dari penyucian adalah penyucian hati/hati ditusuk = akar-akar yang jelek itu dicabut sehingga tumbuh akar yang baik dan buahnya pun menjadi baik.

    Penyucian terakhir di mulut = mulut ini hanya memuji dan menyembah Tuhan/pujian keagungan. Pujian dan penyembahan kepada Tuhan bagaikan mulut bayi. Bayi ini tidak dapat berkata hal yang jelek tentang bayi yang lain. Dan juga mulut dari bayi yang ada di seluruh dunia, mengeluarkan suara/tangisan yang sama. Demikian juga dengan bayi-bayi rohani, juga harus mengeluarkan suara yang sama, yaitu Haleluya. Inilah suara dari tangisan bayi yang rohani.

  2. Wahyu 19 : 6
    Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

    Kita dipersiapkan untuk Wahyu 19 : 9, sebab kalau tidak ada ay 6, maka tidak dapat sampai ke ayat 9.

    Ay 6 = hasil penyucian dari pedang bermata dua yang menusuk hati dan juga menusuk mulut sehingga keluar suara penyembahan Haleluya.
    Itu sebabnya di
    hari-hari ini kita harus menggunakan mulut untuk berkata benar, bukan untuk berkata yang salah. Sebab kalau kita berkata salah, maka akan mengurangi kebahagiaan. Jika berkata benar + dengan penyembahan, maka kebahagiaan itu akan bertambah.

    Wahyu 19 : 1, 3, 4
    1. Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: "Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,
    3. Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: "Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya."
    4. Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: "Amin, Haleluya."

    Haleluya ini bukan hanya bahasa secara internasional, tetapi sampai di surga sebab nanti akan ada pertemuan bumi dengan surga yang akan bersorak Haleluya --> 'berbahagia yang diundang ke pesta kawin Anak Domba'= pertemuan antara Yesus/Mempelai Pria Surga dengan kita Mempelai Wanita.
    Jadi, ay 6 = Haleluya dan ada ay 8 = pakaian yang merupakan hasil dari penyucian. Baru ada ay 9 dan kita akan bertemu dengan Y
    esus.

    Wahyu 19 : 9 --> Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

    Akan terjadi pertemuan dan praktek dari Firman adalah penyucian sampai kita memiliki pakaian dan juga memiliki satu suara = satu Tubuh dengan satu suara. Dulu manusia diciptakan dengan satu suara, tetapi ketika mereka membuat menara Babel, maka suara itu menjadi banyak sehingga menjadi kacau. Tetapi nanti akan dikembalikan menjadi satu suara. Semoga kita dapat mengerti.

  3. orang yang taat, selain sudah dipersiapkan pakaian dan suara untuk bertemu dengan Yesus, tetapi ia juga diperlengkapi dengan tubuh yang tidak dikuasai oleh maut.

    Yohanes 8 : 51
    Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya."

    Tidak mengalami maut sampai selama-lamanya = kematian tubuh tidak berkuasa lagi.
    Ini bukan berarti orang itu tidak dapat mati, bukan! Seperti alm
    . Bapak Pdt. V. Gessel yang sudah mendengarkan Firman Mempelai dan mempraktekkannya, ternyata beliau mati. Tetapi nanti jika terjadi pertemuan di udara, beliau akan dibangkitkan = maut tidak berkuasa atasnya sebab sudah memiliki tubuh kemuliaan.
1 Tesalonika 4 : 16
Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;

Mati dalam Kristus = mati di dalam ketaatan dan kesucian akan dibangkitkan = maut tidak berkuasa.
Bagi kita yang masih hidup ketika Yesus datang, tetapi kalau kita tidak dengar-dengaran, kita akan ketinggalan dan menjadi mangsa dari antikris. Antikris juga tidak mati/seperti binatang yang mau mati tetapi tidak mati.

Jadi yang menentukan masuk pesta nikah Anak Domba itu bukan mati atau hidupnya tubuh ini, tetapi ketaatan dan kesucian yang menentukan.
Yang penting, selama kita hidup, kita harus taat dan suci sehingga kita akan berbahagia karena diundang ke pesta kawin Anak Domba.

Yang mati akan dibangkitkan dan yang hidup diubahkan menjadi satu tubuh, satu suara Haleluya untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali. Itu sebabnya Tuhan Yesus mengatakan Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub adalah Allah yang hidup. Ini berarti Abraham itu tidak mati = nanti pada saat kebangkitan, ia akan bangkit/maut tidak berkuasa lagi. Semoga kita dapat mengerti.
Inilah Wahyu 19 : 9, maut secara tubuh tidak berkuasa lagi lewat kecelakaan, lewat penyakit, lewat bencana alam bagi orang yang suci. Puji TUHAN.

3) Wahyu 21 : 1-3 = Hubungan Mempelai.
1. Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
2. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
3. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

Di bagian atas diterangkan sbb:
  • Sunyi senyap di surga = hubungan Mempelai lewat penyembahan.
  • Berbahagia yang diundang ke pesta kawin Anak Domba = pertemuan antara Yesus dengan Mempelai Wanita.
  • Pengantin perempuan berdandan untuk Suaminya = hubungan Mempelai/hubungan nikah yang rohani
Apa yang menjadi praktek dari hubungan Mempelai ini? yaitu hubungan pembaharuan/Yerusalem Baru.

Kalau kita mau sampai pada hubungan yang rohani di hari-hari ini, yaitu:
  • Menyembah Tuhan sehingga hati menjadi tenang dan lega = maut tidak berkuasa
  • Mendengar Firman sampai dengar-dengaran. Kita hidup suci sehingga hati dan mulut menjadi suci dan kita dapat masuk dalam pesta nikah Anak Domba = maut tubuh tidak menguasainya. Seandainya seseorang itu diijinkan oleh Tuhan mati, ia akan dibangkitkan.
  • Sudah berada di Yerusalem Baru = Mempelai Wanita berdandan untuk Suaminya = hubungan pembaharuan. Kita harus mengalami pembaharuan/keubahan hidup dari manusia daging menjadi manusia yang rohani.
Tadi saudara mungkin mendengarkan tekanan dari suara saya yaitu natal = Allah lahir menjadi manusia daging untuk memberikan kesempatan kepada manusia supaya manusia daging dilahirkan baru/dibaharui menjadi sama dengan Allah sehingga dapat masuk Yerusalem Baru/puncak dari pembaharuan. Jika tidak melewati kelahiran, maka manusia tidak dapat menjadi seperti Allah.

Apa yang harus dibaharui? Wahyu 21 : 8
Tetapi orang-orang penakut (1), orang-orang yang tidak percaya (2), orang-orang keji (3), orang-orang pembunuh (4), orang-orang sundal (5),tukang-tukang sihir (6), penyembah-penyembah berhala (7) dan semua pendusta (8), mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Natal adalah kasih Allah supaya manusia dapat dilahirkan baru oleh kasih Allah dan menjadi sama dengan Dia.

Jadi, tiga macam hubungan nikah yang rohani adalah:
  • Hubungan penyembahan sehingga Roh Kudus memberikan ketenangan/kedamaian.
  • Hubungan kebahagiaan = Firman menyucikan.
  • Hubungan pembaharuan = kasih Allah membaharui kita yang dimulai dari 8 dosa yang tidak boleh ada. Sebab kalau ada satu dosa saja, maka lautan api belerang/kematian kedua masih berkuasa. Orang yang berdusta, ia langsung dikuasai oleh maut/neraka.
Mari! bagi yang bekerja, saudara harus berhati-hati! Jangan barang palsu, saudara katakan asli. Sekalipun dunia sekarang ini berbuat seperti itu, tetapi saudara jangan ikut-ikutan berdusta, sebab ini berarti kita juga ikut-ikutan masuk ke neraka.

Bagi rekan-rekan hamba Tuhan, apapun yang kita hadapi, jangan berdusta! Sebab penutup segala dosa adalah dusta sehingga langsung masuk ke neraka. Itu sebabnya kalau delapan dosa itu sudah dibuang, maka kita akan mendapatkan sembilan hal yang baik sebab Tuhan itu tidak pernah merugikan kita. Delapan dosa dibuang, maka kita mendapatkan sembilan buah Roh yang merupakan sifat dari allah Tri Tunggal.

Galatia 5 : 22 - 23
22. Tetapi buah Roh ialah: kasih (1), sukacita (2), damai sejahtera (3), kesabaran (4), kemurahan (5), kebaikan (6), kesetiaan (7),
23. kelemahlembutan (8), penguasaan diri (9). Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Kasih, sukacita, damai = kasih Allah Bapa/Gambar dari Allah Bapa.
Dulu manusia ini segambar dengan Allah, tetapi oleh dosa, maka gambar Allah itu hilang.

Kesabaran, kemurahan, kebaikan = Gambar dari Allah Anak/Yesus.
Kesetiaan, kelamahlembutan, penguasaan diri = Gambar dari Allah Roh Kudus.

Jadi, kita dibaharui untuk dikembalikan kepada gambar Allah/ciptaan semula lewat pembaharuan sedikit demi sedikit. Mungkin dari sembilan buah Roh, baru punya satu yaitu kasih. Sebab kasih itu tidaklah sombong, tidak kasar. Waktu Yesus merasa lapar, Ia mencari satu/dua buah saja dan ini sudah cukup, sebab nanti dapat menjadi sembilan dan kita kembali kepada gambar Allah = sama mulia dengan Yesus.

Kejadian 1 : 26
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Kita = Allah Bapa, Anak Allah dan Allah Roh Kudus.
Kita dikembalikan sedikit demi sedikit ke ciptaan semula sampai satu waktu menjadi sama mulia dengan Tuhan dan kita boleh masuk ke Yerusalem Baru sehingga kematian kedua tidak dapat mengusai kita.

Orang yang dibaharui = Yerusalem Baru sehingga neraka tidak dapat menjamah, sebab Yerusalem Baru dan neraka itu tempatnya terpisah.
Jadi, kalau kita dibaharui = kita berada di Yerusalem Baru dan neraka tidak berkuasa.

Kematian rohani --> dosa tidak berkuasa kalau ada hubungan penyembahan.

Kematian jasmani --> tidak berkuasa kalau kita memiliki Firman di dalam hidup kita sehingga kita disucikan.

Kematian kedua/neraka --> tidak berkuasa kalau kita ada pembaharuan di dalam hidup kita. Kita dibaharui terutama dari delapan dosa, terutama dari dosa dusta yang dapat binasa. Itu sebabnya kita jangan main-main tetapi harus sungguh-sungguh dibaharui dan akan sampai ke Yerusalem Baru. Kita akan menjadi ciptaan semula.

Waktu Tuhan menciptakan dunia, mulai dari hari pertama sampai hari ketujuh, semuanya baik! Kalau kita dibaharui = kita dikembalikan kepada ciptaan semula, berarti kita mengalami kuasa penciptaan sehingga semuanya menjadi baik. Apa yang rusak dan hancur, menjadi baik.

Bagi kaum muda, mungkin masa depan saudara sudah hancur, tetapi kalau saudara mau dibaharui, menjadi tenang dan mau disucikan, pasti semuanya akan menjadi baik.

Saya berbahagia sebab di malam natal ini, Tuhan berjanji semuanya akan menjadi baik. Bagi hamba-hamba Tuhan dan juga pelayan-pelayan Tuhan, di tahun-tahun mendatang, semuanya akan menjadi baik.
Apa yang membaharui kita? Yang membaharui kita adalah kasih Allah lewat Korban Kristus.

Dulu, natal adalah Allah rela lahir menjadi manusia. Sekarang, manusia yang hina tetapi oleh kasih Allah/Korban Kristus dilahirkan baru menjadi sama dengan Allah.

Yesaya 52 : 13 - 14
13. Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.
14. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi --

Rupa Yesus di atas kayu salib menjadi sangat buruk. Untuk apa? Inilah kasih Allah --> Yesus karena kasihNya, di atas kayu salib Ia rela menjadi sangat buruk sampai bukan seperti manusia lagi. Lalu seperti apa?

Maafkan! Kalau bukan seperti manusia lagi, maka:
  • Seperti binatang terutama seperti anjing dan babi.
    Anjing ini suka menjilat muntahnya lagi
    = berbuat dosa, tidak bertobat tetapi menjilat nuntahnya lagi/berbuat dosa lagi.
    Babi yang selalu kembali ke kubangan = kembali berbuat dosa lagi sehingga gambar Yesus sudah tidak ada lagi.
    Y
    esus rela menjadi gambar dari anjing dan babi untuk memberikan gambarNya kepada kita.
  • Seperti setan, sebab Yesus pernah berkata kepada Petrus: 'enyahlah iblis.' Petrus yang adalah seorang pendeta yang hebat, tetapi satu waktu, ia bergambar seperti iblis karena menolak salib ketika Yesus berkata bahwa Ia harus ke Yerusalem untuk dibunuh, tetapi Petrus melarang Yesus.
Sekarang ini banyak gereja yang menolak salib dan lebih memilih apa yang enak bagi daging, semisal uang = iblis. Tetapi Yesus sudah menjadi buruk dari semuanya untuk menjadikan kita baik, bahkan kita menjadi sempurna seperti Dia untuk menyambut kedatanganNya yang kedua kali.

Mari saudaraku! Sekarang ini kita menggunakan kesempatan di malam natal ini untuk mengoreksi diri. Saya mungkin selama satu tahun ini sudah menjadi buruk bahkan sudah hancur lebur semuanya, tetapi malam natal ini, kalau saya mau mengaku dosa kepada Tuhan dan mau bersungguh-sungguh berubah, maka apa yang buruk akan menjadi baik, bahkan menjadi yang terbaik di dalam hidup kita.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 26-28 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Ciawi & Jakarta)

  • 13 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Bondowoso)

  • 28-30 Januari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top