English Language | Form Penggembalaan
kebaktian bible study surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Bible Study Surabaya (Senin Sore, 21 Oktober 2013)
Tayang: 02 Maret 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 Maret 2014)
Tayang: 17 Mei 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 08 Januari 2007)
Tayang: 28 April 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 11 Februari 2008)
Tayang: 03 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 26 Maret 2007)
Tayang: 02 Oktober 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 25 November 2013)
Tayang: 11 Mei 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 07 Mei 2007)
Tayang: 11 Februari 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin Sore, 04 November 2013)
Tayang: 06 Arpil 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 10 September 2007)
Tayang: 04 Januari 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 16 April 2007)
Tayang: 22 Desember 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 27 Agustus 2007)
Tayang: 21 Desember 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 21 Mei 2007)
Tayang: 07 Maret 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 07 Juli 2014)
Tayang: 12 Juni 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin Sore, 16 Desember 2013)
Tayang: 08 Juli 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Bible Study Surabaya
Tanggal: Senin, 06 Januari 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 31 Agustus 2014

Kita masih tetap membaca di dalam kitab Wahyu 1: 10-12,
10. Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
11. katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."
12. Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

Jadi, inilah yang kita pelajari di hari-hari ini, rasul Yohanes yang mengalami sengsara daging di pulau Patmos karena Firman ALLAH dan juga karena kesaksian YESUS, sehingga ia dapat mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring yang menjadi wujud tujuh kaki dian dari emas itulah sidang jemaat yang sempurna. jadi, kalau kita sengsara daging karena YESUS (tidak menjadi putus asa dan lemah) tetapi dapat mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring dan menjadi wujud yang nyata itulah tujuh kaki dian emas = sidang jemaat yang sempurna.

Kita sudah mendengar suara sangkakala yang nyaring adalah Firman penggembalaan yang mengandung bobot dari Firman pengajaran yang benar yang:

  • keras,
  • tajam,
  • disampaikan berulang-ulang sehingga mampu menyucikan dan mengubahkan sidang jemaat sampai menjadi sempurna seperti YESUS = menjadi Mempelai Wanita Surga yang layak untuk menyambut kedatangan YESUS Yang kedua kali di awan-awan yang permai sampai kita layak untuk masuk ke dalam kota Yerusalem yang Baru. Inilah yang kita butuhkan di hari-hari ini.

Inilah bunyi sangkakala yang nyaring itulah Firman penggembalaan yang mengandung bobot dari pengajaran yang benar yang dapat didengar dan dilihat oleh rasul Yohanes yang menderita bukan karena ia berbuat kejahatan atau karena dosa tetapi ia menderita karena YESUS.

Di bagian atas di ay 10, Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,

Pada hari TUHAN, rasul Yohanes mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring = pada hari TUHAN, rasul Yohanes menerima nubuat akan terjadi ini. kita melihat hari TUHAN yang dinubuatkan di dalam surat Petrus =>
2 Petrus 3: 10-13,
10. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.
11. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup
12. yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.
13. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

Ay 11, pada hari TUHAN ada dua kemungkinan yaitu hancur atau suci.
Ay 13, langit yang baru dan bumi yang baru = Yerusalem Baru.

Jadi, hari TUHAN adalah hari yang sangat dahsyat dimana terjadi dua kemungkinan yaitu:

  • kemungkinan pertama yang positif => jika kita mau mendengar dan melihat sangkakala yang nyaring bunyinya itulah Firman pengajaran yang benar, yang tajam, dan ini memang sakit bagi daging, maka kita akan disucikan dan diubahkan sampai kita menjadi sempurna seperti YESUS dan kita dapat menyambut kedatangan YESUS kedua kali diawan-awan yang permai/kita tidak binasa bersama dengan dunia dan masuk ke kota Yerusalem yang baru. Ini terjadi, jika kita mau menjadi seperti rasul Yohanes yang mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring.


  • kemungkinan kedua => jika kita tidak mau/menolak mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring, maka gereja TUHAN/kita, tetap berada di dalam dosa bahkan sampai pada puncak dosa, sehingga kita hancur lebur/binasa bersama dengan dunia untuk selama-lamanya.

Oleh sebab itu menjelang hari kedatangan TUHAN sekarang ini:

  • kita harus mendengar dan melihat bunyi sangkakala yang nyaring itulah Firman ALLAH yang berbobot, benar, keras, tajam. Bukan sekedar Firman ALLAH yang ringan-ringan, yang enak bagi daging, sebab sudah bukan waktunya lagi.


  • Apalagi, Firman ALLAH hanya dianggap sebagai selingan; banyak kali kita ke gereja, senang kalau menyanyi, tetapi untuk mendengarkan Firman, hanya dianggap sebagai selingan saja. Ini salah besar atau


  • Firman ALLAH diterima sebagai lelucon/lawakan dllnya. Ini bahaya besar sebab dapat akan ketinggalan dan binasa bersama dengan dunia. Semoga kita dapat mengerti.

Supaya kita dipersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk menyambut kedatangan YESUS Yang kedua kalinya diawan-awan yang permai. Inilah ayat 10, istilah pada hari TUHAN. Kita harus berhati-hati sebab hari TUHAN itu sudah dekat sekali, kita harus mendengarkan Firman penggembalaan yang disampaikan oleh seorang gembala. Jika tidak disampaikan oleh seorang gembala, maka hal itu sudah tidak benar.


Wahyu 1: 11, katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab
dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."

Jadi, kata TUHAN kepada rasul Yohanes untuk menuliskan apa yang sudah didengar dan dilihat kepada ketujuh sidang jemaat. Kalau dulu, memang hanya dalam bentuk bahasa tulisan, tetapi sekarang lebih canggih lagi dengan dibuatkan foto kopi, kemudian direkam dalam cassette dan dikirim dan lebih canggih lagi, memakai vcd dan akan lebih bagus lagi dengan dvd. Bahkan sekarang memakai internet/siaran langsung sehingga dari luar negeri dan darimana saja sudah secara langsung dapat mendengarkan.

Tetapi, (kelemahan kita disini), seringkali terutama saya sebagai seorang hamba TUHAN, hanya menyampaikan Firman, tetapi pribadi dari hamba TUHAN itu sendiri tidak mengalami bobot dari Firman itu dan tidak mempraktekan Firman sehingga Firman itu tidak memiliki kuasa. Itu sebabnya hamba TUHAN itu harus terlebih dahulu mengalami bobot dari Firman dan mempraktekannya.

Jadi, rasul Yohanes adalah seorang hamba TUHAN yang nantinya dipakai oleh TUHAN untuk menuliskan surat-surat penyucian kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir. Oleh sebab itu rasul Yohanes sendiri harus lebih dahulu menanggung bobot dari Firman ALLAH (mengalami pekerjaan Firman ALLAH/ mengalami pekerjaan suara sangkakala yang nyaring) = lebih dahulu terkena koreksi dari Firman ALLAH, sehingga Firman yang disampaikan dan disaksikan memiliki kuasa untuk menolong sidang jemaat yang mendengar. Disinilah letak kegagalan kita (terutama kami sebagai hamba-hamba TUHAN).

Kami seringkali mengajarkan => ayo setia, tetapi hamba TUHAN itu sendiri yang menyampaikan Firman tidak setia, lalu bagaimana jemaat dapat setia? Jangankan untuk datang tiga macam ibadah, mau ibadah satu Minggu satu kali saja susah, sebab hamba TUHAN nya sendiri tidak setia dalam menyampaikan Firman. Ini banyak kali kita salah. Jadi kita terlebih dahulu yang mengalami bobot Firman (mengalami koreksi Firman), barulah Firman yang disampaikan itu mengandung kuasa untuk menolong sidang jemaat. Demikian juga bagi kita, kalau kesaksian-kesaksian kita mau berhasil, orang-orang yang mendengarkan tertolong, maka kita terlebih dahulu harus mempraktekkan Firman (terlebih dahulu menanggung bobot Firman).

Datang ke gereja satu Minggu satu kali saja sudah langka dan itu sudah hebat, apalagi namanya tiga macam ibadah, ini sudah sulit dicari! Dulu pada tahun 1991-1992 saya masih sekolah di Lempin-El kemudian menjadi pengerja. Saya tidak tahu seluk beluk GPT di Indonesia (saya bicara GPT dan tidak bicara gereja lain), saya kira sama dengan yang ada di Johor atau di Lemah Putro yaitu tiga macam ibadah. Sejak zaman alm pdt In Jowono penuh terus tiga macam ibadah hari Selasa, Jumat, Minggu. Perkiraan saya seperti itu, tetapi setelah diberitahu oleh ketua asrama bpk pdt Billy => di lain tidak begitu pak Wi, yang datang hanya sedikit sekali. Di GPT sendiri saja sudah langka, apalagi di lainnya. Jika tidak mau mengnanggung bobot Firman, maka Firman yang disampaikan tidak ada kuasa atau tidak bisa menggerakkan sidang jemaat untuk datang tiga macam ibadah. Kalau datang ke gereja satu Minggu sekali sudah merasa berjasa, ini semua tergantung dari kita; Mari kita doakan, supaya bobot Firman dapat ditanggung terlebih dahulu, baru disampaikan, maka pasti ada kuasa untuk menolong sidang jemaat.

Sekarang ini merupakan pelajaran ayat per ayat! Tadi sudah diterangkan: hati-hati sebab ‘pada hari TUHAN’ ini sudah dekat. Kita datang ke gereja harus sungguh-sungguh mencari Firman. Dari pada nanti kita menangis kemudian dan tidak ada artinya, lebih baik sekarang => aduh saya sakit, lama di gereja, tetapi nanti ‘pada hari TUHAN’ kita akan bersorak sorai. Jika sekarang kita mendengarkan Firman yang lucu-lucu, senang-senang, cepat-cepat, nanti kita akan menangis ‘pada hari TUHAN’. Kalau kita sudah menerima Firman, maka harus dibagikan (seperti rasul Yohanes diperintahkan ‘tuliskanlah’), tetapi dengan syarat kita terlebih dahulu harus menanggung bobot Firman, baru orang yang menerima kesaksian atau orang yang mendengarkan Firman dapat mengalami kuasa. Semoga kita dapat mengerti.

Wahyu 1: 12, Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

Setelah mendengarkan Firman, nanti bisa melihat (Firman menjadi Wujud). Firman itu bukanlah abstrak, bukan sesuatu yang hanya bisa didengarkan, tetapi Firman bisa dilihat dan menjadi Wujud. Dahulu rsl Yohanes dapat melihat Firman. Dimana Yohanes bisa mendengar dan melihat Firman? cuma di pulau Patmos (dimana-mana tidak dapat mendengar dan melihat Firman). Waktu rsl Yohanes dibuang ke pulau Patmos, bukan karena dia jahat, tetapi karena YESUS (sengsara daging karena YESUS), maka dia dapat melihat Firman.

Bagaimana kita dapat mendengar dan melihat suara sangkakala? kalau kita mengalami sengsara daging. Jika kita beribadah dan melayani TUHAN dengan tanda sengsara daging (tanda salib/tanda darah), maka kita juga dapat mendengar dan melihat (mengalami) suara sangkakala yang nyaring untuk menyucikan dan mengubahkan kita = meningkatkan kerohanian kita sampai menjadi wujud ‘tujuh kaki dian dari emas yang bercahaya’ (tujuh pelita emas yang bercahaya = sidang jemaat yang sempurna seperti YESUS = Mempelai Wanita Surga). Semoga kita dapat mengerti.

Tanda sengsara bagi daging, misalnya:

  • Seharusnya istirahat, tetapi datang beribadah.
  • Besok ada ujian, seharusnya belajar, tetapi beribadah dahulu dan nanti malam begadang untuk belajar.

Inilah sengsara karena YESUS dan bukan karena dosa (ini sudah benar). Kalau saudara datang ke gereja, daging merasa tidak enak. Jika diperhadapkan antara yang enak bagi daging dan yang tidak enak bagi daging, kita harus memilih yang tidak enak bagi daging, sebab itulah salib dan disitulah ada jaminan bahwa kita dapat menghargai Firman. Jika kita memilih Firman yang enak bagi daging, kita tidak akan menghargai Firman dan menganggap Firman hanya sebagai selingan (lucu-lucuan) => yang penting aku datang ke gereja.

Jika TUHAN mengijinkan ada macet, hujan dan sebagainya, ini bukanlah suatu kebetulan, sebab ini merupakan test bagi kita, supaya kita dapat mengalami sengsara daging (ibadah harus ditandai sengsara daging). Kalau kita sudah rela sengsara daging dalam ibadah, sebentar lagi kita dapat memiliki pengalaman seperti yang dinubuatkan oleh rsl Yohanes yaitu kita akan dapat mendengar dan melihat sangkakala yang nyaring/Firman penggembalaan yang benar untuk menyucikan dan mengubahkan kita (meningkatkan kerohanian kita) sampai kita menjadi wujud tujuh pelita emas yang bercahaya = kita menjadi Mempelai Wanita Surga yang siap untuk menyambut kedatangan YESUS ke dua kali di awan-awan yang permai, sampai masuk dalam Yerusalem Baru.

Kalau sudah ada tanda salib => daging menolak, itu sudah benar dan ikuti saja, sampai kita mendengar dan melihat sangkakala, sampai satu waktu melihat wujud tujuh kaki dian dari emas. Dibalik salib ada kesempurnaan dan kemuliaan. Tanpa salib, tidak akan ada kesempurnaan dan kemuliaan. Semoga kita dapat mengerti.

2 Petrus 1: 5-7,
5. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
6. dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
7. dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

Disini ada tujuh peningkatan kerohanian yang bagaikan wujud pelita emas yang bercahaya. Suara sangkakala yang nyaring/Firman penggembalaan yang benar menghasilkan tujuh peningkatan rohani = tujuh lampu pada pelita emas yang bercahaya = Mempelai Wanita dengan matahari, bulan dan bintang (terang semuanya).

Setiap kali kita mendengarkan suara sangkakala/Firman penggembalaan yang diulangi dan dimantapkan, maka iman ditambah, kebajikan ditambah, semua ditambah sampai yang ke tujuh ada kasih yang sempurna. Kita harus terus meningkat. Oleh sebab itu harus ada seorang gembala, saya sering mengatakan => ini seperti kita membangun rumah. Saat kita membangun dasar, tahu-tahu mau dipasang atap, ini tidak bisa! Sebab itu dibutuhkan seorang tehnik sipil atau arsitek untuk mengatur semuanya. Demikian juga dalam hal rohani, dibutuhkan juga seorang gembala untuk mengatur semuanya, dibangun mulai dasar (iman) terus menerus sampai dengan kasih. Mari kita pelajari semuanya dalam tabernakel.

Langkah-langkah tujuh peningkatan rohani sampai dengan kesempurnaan:

  1. 2 Petrus 1: 5, Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

    Yang pertama: iman. Iman ini sebagai dasarnya. Dalam tabernakel ini menunjuk pada pintu gerbang.

    Roma 10: 17, Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

    Iman timbul dari mendengar Firman Kristus (Firman yang diurapi oleh Roh Kudus). Kristus artinya ‘Yang diurapi’. Jadi kita menyampaikan Firman dan mendengarkan Firman bergantung pada urapan, bukan bergantung kepada kepandaian, pengalaman (senior junior), bukan! Saudara-saudara yang baru ataupun yang sudah lama, saat mendengarkan Firman ini bergantung pada urapan. Jika kita mendengarkan Firman dalam urapan Roh Kudus, maka kita akan mendengar dengan sungguh-sungguh, dengan suatu kebutuhan, bukan selingan => ini acara terakhir adalah Firman, setelah itu selesai. Mendengarkan Firman dengan suatu kebutuhan itu seperti orang yang lapar dan butuh makanan.

    Jika kita mendengarkan firman dalam urapan, sehingga:


    • Sekalipun Firman diulang-ulang, kita tidak akan bosan. Firman diulang semakin maju dan maju. Kemarin dibahas Wahyu 1: 10-12, kemarin juga membahas yang ini. Kemarin kita sudah mendengar, mengapa Firman diulang-ulang? supaya mantap, kita diberikan kesempatan agar bisa mempraktekkan Firman.


    • Sekalipun Firman itu keras, kita tidak akan tersinggung, tidak marah, tetapi malah mengucapkan syukur => terima kasih TUHAN karena sudah ditunjukkan dosa-dosanya.


    • Sekalipun kita tidak pandai (masih kecil, tidak sekolah), tetapi dapat menerima Firman. Bapak pdt Pong Dongalemba mengatakan => Firman dapat diterima lewat pori-pori, jadi bayi dapat menerima Firman. Perhatikan bayi-bayi, supaya didoakan, ditenangkan, supaya dapat menerima Firman, sekalipun belum dapat mengerti Firman lewat telinga, tetapi jika ada urapan, maka dapat masuk lewat pori-pori. Jadi secara tidak disadari Firman sudah masuk sejak bayi, nanti dimasa remaja dia akan suka mendengarkan Firman. Itulah bedanya.


      Jika sejak bayi tidak dibawa kepada TUHAN, tetapi setelah agak besar baru di bawa kepada TUHAN, ini akan sulit untuk mendengarkan Firman. Kalau sejak kecil sudah menerima Firman, nanti setelah besar tidak akan sulit menerima Firman. Oleh sebab itu saya tidak akan menghalangi anak-anak datang kepada TUHAN, sebab sekali dihalangi, maka seumur hidupnya ia tidak akan mau datang kepada TUHAN => dulu aku mau ikut ke gereja tidak boleh, sekarang aku tidak mau ke gereja, ini gawat! Biarlah anak-anak ikut ke gereja, tetapi didoakan, ditertibkan dan biarlah TUHAN yang akan menolong kita semuanya.


    • Sekalipun badan capek (pulang kerja, pulang kuliah), kalau dalam urapan kita dapat menikmati Firman. Saya memiliki pengalaman, kalau hari Minggu saya harus kotbah ke daerah Gending, tetapi sebelumnya hari Sabtu saya ikut ibadah kaum muda dahulu, setelah itu memeriksa Firman sampai malam kadang-kadang juga sampai pagi. Pagi hari jam 08.30 harus ikut kebaktian dahulu (malam tidak tidur dan pagi harus mendengarkan Firman dahulu) dan saya bisa menikmati Firman (asalkan dalam urapan).


    Kalau dalam daging, sekalipun sudah tidur siang, nanti masih mengantuk => kita jangan bilang karena tidak tidur siang. Coba kita tidur siang sampai mendengkur dan malam mendengarkan Firman, nanti masih akan mengantuk, itulah kalau dalam daging. Kalau dalam urapan Roh Kudus biarpun kita bekerja seharian (memang tidak ada waktu untuk istirahat), kita dapat menikmati Firman, itulah bedanya! Semoga kita dapat mengerti.

    Jadi dimanapun, kapanpun, situasi kondisi apapun, jika kita diurapi oleh Roh Kudus, maka kita dapat mendengarkan Firman dengan baik sampai mengerti Firman ALLAH, bahkan sampai percaya dan yakin pada Firman ALLAH = Firman menjadi iman didalam hati, itulah masuk pintu gerbang. Yang penting adalah ada urapan atau tidak! Jika ada iman, maka kita akan diselamatkan. Semoga kita dapat mengerti.


  2. 2 Petrus 1: 5, Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh Berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

    Yang kedua: kebajikan. Dalam tabernakel ini menunjuk alat medzbah korban bakaran (begitu masuk dalam pintu gerbang, maka ada alat yang namanya medzbah korban bakaran).
    Kebajikan itu merupakan perbuatan baik. Dulu bangsa Israel membawa binatang-binatang korban untuk disembelih, dibakar untuk pengampunan dosa, sekarang kita tidak perlu lagi membawa binatang korban, sebab ini sudah digenapkan oleh Korban Krsitus /salib Kristus, ini sudah cukup! Jadi medzbah korban bakaran sekarang ini adalah salib Kristus, korbannya adalah Kristus (Anak Domba ALLAH) untuk mengampuni dosa-dosa kita. Jadi kebajikan adalah perbuatan baik yang dikaitkan dengan salib. Kalau tanpa salib menjadi sia-sia, sebab itu harus dikaitkan dengan salib.

    Dari pihak TUHAN: YESUS rela mati di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita, itulah perbuatan baik yang dikaitkan dengan salib. Kalau TUHAN hanya memberikan uang dll, ini sama dengan orang kaya. Perbuatan baik TUHAN yang tidak dapat ditiru oleh orang kaya atau oleh siapa saja, bahkan tidak dapat ditiru oleh setan yaitu YESUS rela mati di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita.
    Dari pihak kita apa? Jika kita berbuat baik, maka harus dikatikan dengan salib. Saya sering cerita, kalau perbuatan baik manusia itu seperti pencopet didepan toko saya dulu berkata: saya mengambil sepuluh buah tikar, lalu saya berikan di rumah ibadah delapan buah, saya tidak memberikan lima tetapi delapan, jadi saya ini baik, itulah kalau manusia dan semuanya menjadi sia-sia.

    Perbuatan baik yang dikaitkan dengan salib dari pihak kita yaitu bertobat = berhenti berbuat dosa dan kembali kepada TUHAN. Proses bertobat adalah mengaku dosa. Hati percaya/hati beriman (masuk pintu gerbang), maka mulut mengaku dosa. Jika diampuni, kita jangan berbuat dosa lagi.
    Jadi perbuatan baik pertama yang dinantikan oleh TUHAN (perbuatan baik yang berkenan kepada TUHAN) adalah bertobat. Semua yang kita lakukan tanpa bertobat itu tidak ada artinya apa-apa. Tanpa bertobat semua menjadi sia-sia dan binasa. Termasuk dalam ibadah yang kita lakukan semacam ini, kalau tanpa bertobat ini tidak ada artinya, sia-sia dan binasa. Inilah medzbah korban bakaran, kita jangan hanya berbuat baik saja, tetapi harus ada pertobatan. Semoga kita dapat mengerti.

    Semua perbuatan baik apapun bentuknya (memberi uang kepada orang, memberi apapun juga), tetapi tanpa pertobatan, semuanya sia-sia dan binasa.

    Inilah peningkatan rohani yang kedua.


  3. 2 Petrus 1: 5, Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

    Yang ketiga: pengetahuan atau pengenalan. Dalam tabernakel ini menunjuk kolam pembasuhan (bejana pembasuhan). Sekarang ini menunjuk pada baptisan air. Setelah masuk pintu gerbang (percaya kepada YESUS/percaya pada Firman), kita menjadi selamat dan setelah itu harus bertobat. Bertobat = mati terhadap dosa. Setelah bertobat, barulah kita masuk dalam baptisan air.

    Filipi 3: 10, Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

    Ay 10 => ‘Yang kukehendaki ialah mengenal Dia’ => mengenal YESUS.
    dan persekutuan dalam penderitaan-Nya’ => kuasa kematiannya.

    Lewat baptisan air, kita dapat mengenal kematian dan kebangkitan YESUS = mengenal YESUS yang sudah mati dan bangkit, inilah pengetahuan pengenalan. Didalam surat Roma kita bukan hanya mengenal saja, tetapi lewat baptisan air kita mati dan bangkit bersama-sama dengan YESUS = kita mengalami kematian dan kebangkitan bersama dengan YESUS.

    Roma 6: 4, Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

    Ay 4 => ‘sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa’ => sama seperti YESUS mati dan bangkit, kita juga mati dan bangkit.
    Lewat baptisan air kita mengenal dan mengalami kematian dan kebangkitan bersama-sama dengan YESUS. Jadi kita mengenal dan mengalami itulah baptisan air! Orang yang mati itu harus dikuburkan (dalam Roma 6: 4 ‘kita dikuburkan bersama YESUS’) . Pelaksanaan baptisan air yang benar adalah orang yang sudah mati terhadap dosa (bertobat), dikuburkan dalam air bersama dengan YESUS dan bangkit bersama YESUS (keluar dari air bersama YESUS), untuk mendapatkan hidup yang baru itulah hidup surgawi = hidup dalam kebenaran. Inilah mengenal YESUS yang mati dan bangkit dan kita dikenal oleh YESUS.

    Kita mengenal dan mengalami kematian dan kebangkitan bersama YESUS dalam baptisan air, setelah keluar dari air, kita mendapatkan hidup yang baru = hidup dalam kebenaran. Jika kita hidup dalam kebenaran, maka kita dikenal oleh YESUS (tidak ditolak/tidak diusir oleh YESUS). Jadi kita bukan hanya mengenal, tetapi juga dikenal oleh YESUS. Ada yang mau mengenal YESUS, tetapi diusir => ‘kami bernubuat, kami mengusir setan demi nama Mu’ ini seolah-olah mengenal YESUS, tetapi setelah itu YESUS berkata ‘enyahlah engkau’. Semoga kita dapat mengerti.


  4. 2 Petrus 1: 6, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,

    Yang keempat: penguasaan diri.
    Bunyi sangkakala (Firman penggembalaan yang benar) menuntun kita untuk masuk pintu gerbang. Ada jiwa baru, dapat percaya kepada YESUS, saat mendengarkan Firman => o ya betul hanya YESUS satu-satunya. Inilah iman kepada Firman/iman kepada YESUS sebagai satu-satunya Juruselamat (masuk pintu gerbang). Jadi mendengar Firman sampai mengerti, sampai percaya kepada Firman/percaya kepada YESUS sebagai satu-satunya Juruselamat. Sesudah percaya kepada YESUS, sangkakala ditiupkan lagi (kita mendengarkan Firman lagi), lalu kita bisa bertobat. Sesudah itu meningkat lagi pada baptisan air. Yang sudah baptisan air, mungkin pelaksanaan sudah benar, tetapi hasilnya => hidupku banyak yang tidak benar, lalu sangkakala ditiupkan lagi => mari kita hidup benar. Kalau tidak benar kita akan menjadi seperti sombong => aku sudah lama ikut dan mengenal YESUS, padahal YESUS bilang ‘aku tidak mengenal engkau’. Inilah gunanya sangkakala ditiup diulang-ulang. Kita yang sudah lama ikut YESUS, saat Firman diulangi lagi, misalnya tentang baptisan => mungkin pelaksanaannya sudah benar, hasilnya benar atau tidak? sudah hidup benar atau tidak? kalau ada yang tidak benar, mari diselesaikan.

    Penguasaan diri dalam tabernakel ini menunjuk pintu kemah = kepenuhan Roh Kudus. Waktu YESUS dibaptiskan air, Dia dikuburkan juga, setelah itu keluar dari air, lalu ada Roh Kudus bagaikan burung merpati turun ke atasnya. Inilah baptisan Roh Kudus (kepenuhan Roh Kudus). Hanya Roh Kudus yang dapat menguasai daging ini. Penguasaan diri = penguasaan daging.

    Roma 8: 13, Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

    Ay 13 => ‘jika kamu hidup menurut daging’ => tidak bisa menguasai daging. Hidup menuruti daging = dikuasai daging.
    jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati” => kalau kita dikuasai daging, maka kita melakukan perbuatan daging (perbuatan dosa), sehingga kita akan binasa/mati.

    tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup’ => inilah kegunaan kepenuhan Roh Kudus. Roh Kudus mematikan perbuatan daging. Hanya Roh Kudus lah yang kuat. Jadi Roh Kudus menguasai daging kita atau mematikan perbuatan daging, sehingga kita bisa hidup didalam Roh Kudus.

    Apa praktek hidup didalam Roh Kudus?
    Roma 8: 15, Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

    Praktek hidup dalam Roh Kudus adalah taat dengar-dengaran pada Firman penggembalaan yang benar, yang keras dan tajam (suara gembala), seperti suara sangkakala yang nyaring. Kita jangan mendengarkan suara asing! Kalau suka mendengarkan suara asing (ajaran lain yang jelas berbeda, dan juga gosip-gosip) itu berarti dikuasai oleh daging (tidak ada Roh Kudus). Kalau kita dikuasai oleh Roh Kudus, maka kita dapat taat dengar-dengaran pada suara Gembala. Rasul Yohanes hanya satu saja yang didengarkan => ‘pada hari TUHAN, aku mendengar suara dari belakang’, tidak mendengar seperti ini => ‘pada hari TUHAN aku mendengar suara dari belakang, kemudian aku mendengar lagi dari kiri, mendengar lagi dari kanan’ => tidak seperti ini.

    Wahyu 1: 10, Pada hari TUHAN aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,

    Ay 10 => ‘Pada hari TUHAN aku dikuasai oleh Roh ‘ => ini penguasaan diri (dikuasai oleh Roh). Jadi orang yang dikuasai oleh Roh Kudus hanya mendengar satu suara dari belakang. Saya ditekankan oleh TUHAN tentang hal ini.
    kemudian aku melihat kedepan’ = menjadi wujud.

    Kalau dikuasai oleh daging, kita mendengar suara dari belakang, tidak dari kiri, dari kanan, dari depan, sebab nanti tidak akan sampai ada wujudnya. Inilah kesalahan kami sebagai hamba TUHAN => kita mendengar disana, supaya banyak bahan kotbahnya dan banyak wawasannya, tetapi tidak pernah menjadi wujud. Biarpun sudah kotbah bertahun-tahun, jemaat tidak akan ada wujudnya. Jangankan ada wujudnya pelita emas, baru mau setia tiga macam ibadah saja susah (baru mau tergembala saja susah) => dibesuk sudah, didorong sudah, diapa-apakan tidak akan bisa, ini tidak akan ada wujudnya.

    Jika saya sebagai gembala, bapak, ibu dan saudara dikuasai oleh Roh Kudus, sehingga hanya mendengar dan dengar-dengaran pada satu suara Gembala, yakin lah cepat atau lambat akan ada wujud yang kita lihat (jadi nyata). Oleh sebab itu kita menjadi anak TUHAN, hamba TUHAN jangan beredar-edar! tetapi mendengar satu suara gembala saja, supaya bisa menjadi wujud => terima kasih TUHAN, lihat lagi dan mendengar lagi, ada wujud pertolongan. Inilah rahasianya. Tadi malam sudah saya sampaikan, saya amati dan pelajari dari bpk pdt In Juwono dan bpk pdt Pong Dongalemba alm, ada banyak ajaran-ajaran baru sampai menyampaikan salam pun banyak yang baru, tetapi beliau berdua dan juga bpk pdt Totaijs tetap tidak tepengaruh dalam menyampaikan salam sampai meninggal dunia.

    Suara asing adalah pengajaran lain yang berbeda, gosip-gosip yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, semoga kita bisa mengerti.

    Kesimpulan:


    • iman (pintu gerbang = percaya),
    • kebajikan (medzbah korban bakaran = bertobat),
    • pengenalan pengetahunan (bejana pembasuhan = baptisan air),
    • penguasaan diri (pintu kemah = kepenuhan Roh Kudus) = point I sampai dengan IV ini menunjuk Halaman tabernakel. Halaman tabenakel = dasar dari seorang hamba TUHAN/anak TUHAN. Dasar ini harus mantap, kuat dan teguh. Kalau dasarnya tidak kuat, nanti akan rubuh.


    Matius 7: 24,25,
    24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
    25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

    Ay 24 => “dan melakukannya” = sampai dengan taat dengar-dengaran.
    Kalau dasar kita mantap (percaya, bertobat, hidup benar, sampai taat dengar-dengaran pada suara gembala), maka kita bagaikan berdiri diatas batu penjuru (korban Kristus), sehingga tahan uji dalam menghadapi apapun juga.

    Tahan uji =


    • tidak pernah tersandung,
    • tidak pernah rubuh (tidak jatuh dalam dosa), tidak pernah gagal dalam segala sesuatu, tetapi selalu berhasil didalam TUHAN. Saudara yang bisa kuliah, yang tidak bisa kuliah dan yang sudah bekerja semuanya silahkan saja, tetapi yang penting supaya tidak rubuh, tidak tersandung, maka harus berdiri diatas batu penjuru. Inilah penentunya dan kita akan selalu berhasil.


    Sekarang ini, kalau kita percaya sampai taat, maka itu berarti kita berdiri diatas batu penjuru. Kalau tidak taat itu berdiri diatas pasir dan satu waktu pasti akan rubuh. Jika ketaatan kita terus meningkat, sampai menjadi sempurna = taat sampai daging tak bersuara lagi seperti YESUS taat sampai mati di kayu salib (tirai terobek), maka kita berdiri diatas bulan berwarna merah (Wahyu 12: 1). Jika berdiri diatas bulan berwarna merah, jangankan kita jatuh, tergelincirpun tidak akan. ‘berdiri diatas bulan berwarna merah’ = penebusan yang sempurna.


  5. 2 Petrus 1: 6, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan

    Yang kelima: ketekunan.
    Peningkatan kerohanian yang ke 5 dan ke 6 ini dibahas menjadi satu.


  6. 2 Petrus 1: 6, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan

    Yang keenam: kesalehan atau ibadat (ibadah). Dalam alkitab terjemahan lama kesalehan ini adalah ibadat.
    Jika peningkatan kerohanian yang ke 5 dan 6 digabungkan: ketekunan dalam ibadah = ketekunan dalam kesucian (kesalehan = kesucian). Dalam tabernakel ini menunjuk ruangan suci. Didalam ruangan suci terdapat tiga macam alat, sekarang ini menunjuk ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok (kandang penggembalaan). Kalau dasar sudah kuat/mantap sampai dengan taat pada suara Gembala (‘suara Gembala membawa kita masuk dalam kandang’), kita tidak akan sulit untuk melangkah masuk dalam ruangan suci. Kalau kita baru pintu gerbangnya saja sudah bingung => suara mana yang didengarkan ini? Firman mana yang didengarkan? ini tidak akan ada wujudnya. Jangankan mau menjadi sempurna, hendak tekun dalam tiga macam ibadah saja susah => kalau aku datang ibadah, nanti begini, nanti begitu. Jika kita sekarang ini berdiri diatas batu atau pasir masih bingung, lalu bagaimana mau melangkah maju? ini tidak mungkin. Mari kita berdoa, dalam ibadah saat ini, kita sekarang masih berapa persen, ini sudah lumayan kalau dibandingkan ibadah hari Minggu.

    Ada satu kesaksian di Malang, seseorang yang sudah menikah. Ayah dan keluarganya merupakan aktivis, cuma anak ini memang agak aneh, sulit ke gereja, sampai sudah menikah kalau ke gereja cuma datang ke gereja begitu saja. Satu waktu dia terkena masalah berapa ratus juta dan dia sudah tidak bisa apa-apa, lalu dia baru mau datang kepada saya. Pesan saya cuma satu saja => masuk ya dalam tiga macam ibadah. Setelah masuk tiga macam ibadah, dia malah dicaci maki (diolok-olok) oleh bossnya. Saat masuk pertama kali di Bible Study, pemberitaan Firmannya tentang “waktu YESUS diolok-olok”, lalu dia menjadi kaget => Firmannya tentang YESUS diolok-olok, padahal dia sendiri diolok-olok oleh bossnya. Setelah dia mendengar Firman dan masuk dalam tiga macam ibadah akhirnya olokan itu melemah. Dia bilang begini => kalau masuk dalam tiga macam ibadah bagi saya itu sesuatu yang mustahil, tidak mungkin, kalau hari Minggu, itu wajib. Setelah olokan sudah selesai, bahkan menjadi terbalik, bossnya-lah yang dipenjara dan dia dibebaskan. Ternyata bossnya itu yang melakukan korupsi yang tinggi sekali. Dia ini tidak melakukan korupsi, dia ditipu oleh managernya, jadi dia lah yang diolok, diancam, akhirnya bos nya yang masuk penjara dan dia sampai bingung => bagaimana bisa?

    Setelah masalah ini selesai, dia menjadi tidak percaya lagi dan tidak masuk dalam tiga macam ibadah. Inilah manusia => sudah ditolong oleh TUHAN tetapi tidak mau masuk ibadah lagi. Lalu dia dipanggil lagi oleh polisi dan diproses. Akhirnya dia minta ampun kepada TUHAN, masuk lagi dalam tiga macam ibadah lagi dan selesai masalah (tidak diapa-apakan). Inilah keampuhan tiga macam ibadah.

    Ketekunan dalam tiga macam ibadah:


    • Pelita emas = ketekunan dalam ibadah raya.
    • Meja roti sajian = ketekunan dalam ibadah pendalaman Alkitab dan perjamuan suci.
    • Medzbah dupa emas = ketekunan dalam ibadah doa penyembahan.


    Kehidupan yang tergembala = carang melekat pada pokok anggur yang benar. Pokok anggur yang benar itulah Pribadi YESUS (Firman pengajaran yang benar). Kita jangan sembarangan tergembala! Dimana kita harus tergembala? kita harus tergembala pada Firman pengajaran yang benar = Pribadi YESUS sebagai Imam Besar, Gembala Agung. Kita jangan tergembala pada orangnya atau gedungnya, jangan! tetapi pada pengajarannya. Semoga kita dapat mengerti.

    Apa yang kita alami dalam kandang penggembalaan? Dalam Yohanes 15: 3 dan Yohanes 13: 10-11 ini sudah sering dibaca dan ini diulangi supaya kita semakin mantap dalam ruangan suci.

    Yohanes 15: 3, Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

    Dalam Yohanes 15:1-2, kalau carang melekat pada Pokok Anggur Yang Benar pasti dibersihkan = kita disucikan oleh Firman pengajaran.

    Kita disucikan dari apa?
    Yohanes 13: 10, 11,
    10. Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."
    11. Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."

    Ay 10 => “Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." => ada satu orang yang belum bersih itulah Yudas.
    Dalam penggembalaan kita mengalami penyucian dari dosa Yudas. Yudas ini tergembala, tetapi tidak sungguh-sungguh (Yudas ini menyelundup). Oleh sebab itu saya katakana, kita jangan mendua => kalau pijakannya ada dua, seperti tidak ada pijakannya, ini berbahaya sebab nanti akan menjadi seperti Yudas. Yudas mendengar pengajaran dengan YESUS, nanti dia datang dengan sembunyi-sembunyi kepada imam-imam kepala dan ahli taurat yang ajarannya lain. Tergembala tetapi tidak sungguh-sungguh = memaksakan diri dalam penggembalaan yang benar, satu waktu nanti pasti akan keluar.

    Contohnya: saat YESUS memecahkan roti, YESUS membangkitkan orang mati, Yudas memaksakan diri tergembala kepada YESUS, tetapi sambil mendengarkan yang lain (sebenarnya Yudas tidak sepenuhnya tergembala). Jika keluar dari penggembalaan yang benar = menjadi antikrist.

    Apa yang termasuk dosa Yudas?


    • Yudas tidak sungguh-sungguh dalam penggembalaan yang benar. Mari kita sungguh-sungguh tergembala, sampai mantap dalam penggembalaan.
    • Yudas mencuri, terutama mencuri milik TUHAN (persepuluhan dan persembahan khusus). Itu sebabnya, mari kita kembalikan milik TUHAN.
    • Yudas pengkhianat (tidak setia dalam ibadah pelayanan). Mari kita setia dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN.
    • Yudas pendusta. Saat YESUS berkata ?‘siapa mencelupkan roti .... ’ Yudas menjawab => ‘bukan aku ya TUHAN’. Mari kita jujur.
    • Yudas munafik. Yudas mencium YESUS, untuk menjual YESUS. Kita harus hati-hati, banyak perbuatan kelihatan baik, tetapi didalamnya busuk. Munafik itu pura-pura baik, tetapi didalamnya busuk (diluar dan didalamnya tidak sama, banyak kepura-puraan).


    • Yudas sering putus asa dan kecewa. Begitu Yudas tahu dia yang bersalah => memang aku yang salah, YESUS tidak berdosa, akhirnya Yudas menggantung diri, ini keliru! Semestinya setelah tahu salah, Yudas mengaku dosa (datang ke kayu salib). Yudas ini tidak menghargai Korban Kristus.


    Mungkin ada yang sudah jatuh dalam dosa, ada kegagalan, kita jangan putus asa (jangan menggantung diri). Kalau menggantung diri => mau berdoa menyembah TUHAN sudah tidak bisa lagi, berkata ‘Haleluya’ saja tidak bisa. ‘malas berdoa dan menyembah TUHAN, sebab percuma, inilah gantung diri! Kita jangan putus asa dan kecewa karena sesuatu, tetapi tetap percaya dan berharap kepada TUHAN, sampai waktu-Nya TUHAN sudah tiba.Inilah penyucian dari dosa Yudas.

    Hasil dari penyucian adalah TUHAN memperlengkapi kita dengan jabatan dan karunia Roh Kudus.
    Efesus 4: 7, 11, 12,
    7. Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.
    11. Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
    12. untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

    Ay 7 => ‘kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia’ => karunia-karunia Roh Kudus dianugerahkan kepada kita.
    Ay 12 => ‘untuk memperlengkapi orang-orang kudus’ => memperlengkapi orang-orang suci. Kalau suci, kita akan diperlengkapi jabatan dan karunia Roh Kudus.

    Yudas sudah kehilangan jabatan pelayanannya (kehilangan jubahnya). Kalau kita disucikan dari dosa Yudas, TUHAN memperlengkapi kita dengan jabatan pelayanan dan karunia-karunia Roh Kudus, untuk dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus = kalau mengalami penyucian kita diberikan jubah yang indah.
    Kalau mau melayani, nanti saat ada penataran calon imam-imam, saya beri waktu cepat-cepat agar dapat melayani. Yang dulu sudah pernah melayani, mari segera ambil jubah lagi. Jangan seperti Yudas yang jubahnya robek => sekarang jubahnya dirobek (sudah tidak melayani lagi), satu waktu perutnya yang dirobek, sehingga busuk dan dipermalukan. Kita harus berhati-hati, lebih baik disucikan dari dosa Yudas dan kita mendapatkan jubah.

    Sekali lagi kalau kita diangkat oleh TUHAN menjadi imam-imam untuk melayani TUHAN, itu bukan disiksa, tetapi kita diberikan jubah yang indah = hidup kita dijadikan indah oleh TUHAN. Kita jangan ditipu setan, sebab setan itu sedang mengancam perut kita, jika jubahnya sudah terkena, tinggal perutnya ditarik-tarik dan dirobek. Hati-hati biarlah kita semuanya indah dihadapan TUHAN.
    Mari kita berkobar-kobar dan setia.

    2 Timotius 1: 6, Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

    Ay 6 => ‘kuperingatkan engkau’ => dengan keras.
    untuk mengobarkan’ => bukan mengorbankan tetapi mengobarkan.
    Sikap kita terhadap karunia dan jabatan pelayanan adalah setia dan berkobar-kobar dalam karunia dan jabatan pelayanan sampai garis akhir, bahkan sampai dengan sempurna dan akan menjadi mahkota dua belas bintang. Kita jangan berhenti melayani, tetapi terus setia berkobar-kobar sampai puncaknya nanti akan menjadi mahkota 12 bintang. Mahkota 12 bintang = karunia-karunia yang sudah sempurna.


  7. 2 Petrus 1: 7,dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

    Yang ketujuh: kasih. Dalam tabernakel ini menunjuk ruangan maha suci. Tadi di halaman tabernakel kita mendapatkan bulan, dalam ruangan suci kita mendapatkan bintang, sekarang kita berada di ruangan maha suci.

    Matius 5: 43- 45, 48,
    43. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
    44. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
    45. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
    48. Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

    Ay 43, 44 => inilah kasih kepada semua orang sampai mengasihi musuh.
    Ay 45 => ‘yang menerbitkan matahari’ => kasih yang sempurna itu seperti matahari.

    Kita memiliki kasih yang sempurna (ruangan maha suci) untuk mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu dan untuk mengasihi sesama sampai dapat mengasihi musuh. Kalau ada orang yang menyakiti kita, merugikan kita, memusuhi kita, mari kita berdoa yang baik => ampuni mereka TUHAN, berkati mereka TUHAN, itu kita sudah mengasihi musuh! Sekali mungkin terasa berat, diulangi lagi dua kali, tiga kali, nanti kita sudah dapat mendoakan mereka dengan belas kasih. Kalau kita sudah memiliki kasih yang sempurna, bisa mengasihi TUHAN, mengasihi sesama, sampai bisa mengasihi musuh, maka kasih itu menyatukan kita (tidak ada musuh lagi itu berarti satu), sampai menyempurnakan kita.

    Kasih yang sempurna menyatukan dan menyempurnakan kita, itu bagaikan selubung matahari. Seperti matahari yang dipancarkan terus menerus sampai menjadi selubung matahari => sedikit demi sedikit matahari dipancarkan, lebih besar lagi kasih kita kepada TUHAN dan kepada sesama, semakin membesar lagi 50%, 60%, sampai dengan 100% (sempurna), menjadi selubung matahari.

    Kolose 3: 14, Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

    Kasih yang sempurna, menyatukan dan menyempurnakan kita sampai menjadi Mempelai Wanita Surga (Wahyu 12: 1 => ‘Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya’).

Jadi inilah tujuh peningkatan kerohanian. Firman penggembalaan menghasilkan tujuh peningakatan kerohanian, sehingga kita tampil seperti pelita emas yang bercahaya atau seperti Mempelai Wanita dengan matahari, bulan dan bintang. Oleh sebab itu kita mendengar suara sangkakala satu suara saja, kalau lain suara nanti kita menjadi bingung => mau maju kemana nanti bingung, mau masuk pintu gerbang saja bingung.

Firman penggembalan terus ditiupkan (diulangi lagi) supaya kita

  • meningkat terus sampai mantap di halaman (hidup benar dan taat),
  • mantap di ruangan suci (tergembala, disucikan dan melayani TUHAN), bahkan sampai
  • mantap di ruangan maha suci (sampai memiliki kasih) = kita menjadi Mempelai Wanita dan kita sudah tidak gugur lagi.

Kegunaan matahari, bulan dan bintang adalah:

  1. Kejadian 1: 16-18,
    16. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
    17. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
    18. dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

    Ay 16 => ‘yakni yang lebih besar untuk menguasai siang’? matahari.
    yang lebih kecil untuk menguasai malam’ => bulan.
    menjadikan juga bintang-bintang’ => bintang.

    Kegunaan pertama: untuk memisahkan terang dari gelap artinya memisahkan kita dari dosa, puncaknya dosa, pergaulan dunia (kegelapan dunia), supaya kita hidup dalam terang kebenaran dan kesucian, bahkan semuanya menjadi baik. Kaum muda hati-hati terhadap pergaulan dunia!

    Setelah terang dengan gelap dipisahkan, TUHAN berkata => ‘semuanya itu baik’. Yang menjadikan kita tidak baik adalah pergaulan kita. Seringkali kita tetap campur dengan dosa => sudah tahu pergaulan itu sudah salah, kita tetap bergaul. Secara rohani (hamba TUHAN) => sudah tahu itu salah, kita tetap berfellowship saja, itulah tidak baik! Kalau kita tegas seperti ‘perpisahan terang dengan gelap’, yakinlah semuanya akan menjadi baik pada waktu-Nya.

    Jadi yang membuat menjadi tidak baik karena campur antara terang dengan gelap/campur dengan dosa. Semoga kita dapat mengerti.
    Kalau campur baur semuanya menjadi tidak baik, yang baik menjadi tidak baik, yang hancur tambah hancur, tetapi kalau kita tegas dalam pergaulan (perpisahan yang nyata yaitu antara terang dengan gelap) maka semuanya menjadi baik, yang hancurpun dapat menjadi baik.


  2. Kejadian 37: 9, 10,
    9. Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku."
    10. Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: "Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?"

    Ay 10 => ada ayah, ibu dan ada anak ini menunjuk nikah.

    Kegunaan kedua: untuk menerangi nikah rumah tangga, supaya tidak hancur oleh:


    • Kegelapan gantang: kegelapan ekonomi, dosa makan minum.
    • Tempat tidur: dosa seks (dosa percabulan) dan nikah yang hancur.


    Nikah juga harus diterangi, ini penting! Kita masuk di halaman, ada bulan disana (kita hidup benar dan taat), mungkin belum lengkap tetapi sudah ada kebenaran dan ketaatan. Kita tergembala dengan baik, disucikan dan melayani TUHAN, itu sudah ada bintang-bintang. Ada kasih, mari kita belajar mengasihi TUHAN lebih dari semuanya => saat diperhadapkan dengan sesuatu, kita harus tetap memilih TUHAN, setelah itu baru kita bisa mengasihi sesama sampai musuh (ada matahari). Tadi hasil pertama, di dunia ini kita sudah ada rambu-rambu yang tegas untuk memisahkan antara terang dengan gelap => ini dosa, ini ajaran tidak baik, pergaulan tidak baik, kita harus tegas menolak sekalipun dicaci maki, difitnah dan semuanya menjadi baik. Kami terutama sebagai hamba TUHAN (gembala) harus tegas => tidak bisa kalau begini saja, kasihan jemaat. Kalau jemaat mau menjadi baik, juga harus tegas.

    Suami itu bagaikan matahari dalam keluarga. Suami memancarkan matahari = mengasihi istri seperti diri sendiri dan mengasihi anak-anak.
    Istri itu bagaikan bulan. Maaf, bulan kalau di perjanjian lama (Kitab Yoel) => ‘bulan nanti berwarna darah’. Darah (merah) itu gambaran dari wanita.

    Tugas wanita adalah:


    • Sebagai perantara antara suami dengan anak-anak, perantara dengan
    • TUHAN = wanita harus banyak menaikkan doa syafaat.
    • Tunduk. Jika wanita tunduk bagaikan ada sinar bulan didalam rumah tangga (tidak gelap lagi).


    Anak-anak itu bagaikan bintang. Ini luar biasa! Anak-anak harus taat, nanti menjadi indah, menjadi bintang-bintang. Bintang itu kalau di dunia dikejar => bintang pelajar dll. Kalau anak-anak taat, akan dipermuliakan oleh TUHAN sehingga menjadi bintang rumah tangga, bintang di sekolah, menjadi bintang di lapangan hijau, sampai dimana saja akan menjadi bintang. Kalau anak-anak sudah menjadi bintang di rumah tangga, maka tidak sulit untuk menjadi bintang dimana saja. Semoga kita dapat mengerti.


  3. Wahyu 12: 1, 2,
    1. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.
    2. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.

    Kegunaan ketiga: untuk mendorong kita menyembah TUHAN (‘mengerang dan mengeluh kepada TUHAN’), sebab posisi kita seperti perempuan yang hendak melahirkan (tidak berdaya).

    Kalau kita benar-benar taat, tergembala, ada kasih, maka yang dapat kita lakukan hanyalah mengeluh dan mengerang kepada TUHAN => sebab saya ini tidak mampu TUHAN, seperti perempuan yang hamil/mengandung dan hendak melahirkan (tidak mampu apa-apa).

Kita mengeluh mengerang (tidak berdaya, tidak bisa apa-apa) dan menghadapi dua hal yaitu:

  • Menghadapi daging dari dalam (daging yang buas): hawa nafsu, keinginan. Ini semuanya harus dibebaskan. Mari kita mengeluh dan mengerang kepada TUHAN untuk melawan daging dengan segala keinginannya, hawa nafsunya => yang hanya mau apa yang enak-enak, mau yang najis.

    Roma 8: 22, 23,
    22. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.
    23. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

    Ay 23 => ‘pembebasan tubuh kita’ => pembebasan daging = keubahan hidup.
    Kita mengeluh mengerang (menyembah TUHAN), supaya terjadi pembebasan dari daging/keubahan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti YESUS. Kalau perempuan mau melahirkan bayi itu harus sabar => pembukaan 1 sabar ya, pembukaan 2 sabar ya. Jadi daging yang sudah diubahkan, paling sedikit ada kesabaran (sabar dalam menunggu waktu TUHAN). Daging ini seringkali tidak sabar => mau jalan sendiri.


  • Menghadapi naga dari luar.
    Wahyu 12: 3, Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.

    Ayat 3 => naga mau menelan dan menghancurkan.
    Naga ini gambaran pencobaan-pencobaan yang mustahil, sampai dengan antikrist (sudah tidak dapat dilawan dengan kepandaian, kekayaan, sampai semuanya tidak bisa). Kita hanya mengeluh dan mengerang kepada TUHAN dalam menghadapi apa saja, bahkan menghadapi naga.
    Kita juga mengeluh mengerang untuk mendapatkan dua sayap burung nasar.

    Wahyu 12: 14, Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.

    Ay 14 => ‘selama satu masa dan dua masa dan setengah masa’ => tiga setengah tahun.
    TUHAN memberikan dua sayap burung nasar kepada kita untuk menghadapi naga (pencobaan yang mustahil sampai dengan antikris). Semakin kita diubahkan, maka semakin besar sayap burung nasar itu. Sayap burung nasar = uluran tangan TUHAN.

Tadi kegunaan kedua adalah untuk menghadapi rumah tangga yang dihantam kegelapan. Jika ada matahari, bulan dan bintang, maka suami, istri, anak-anak menjadi terang, sehingga rumah tangga akan menjadi bahagia = menjadi rumah doa => rumah tangga tidak hancur, tetapi menjadi ‘home sweet home’.

Semakin kita diubahkan, sayap burung nasar semakin besar dan uluran Tangan TUHAN akan semakin kuat untuk:

  • Menyelesaikan semua masalah-masalah kita, sampai dengan masalah yang mustahil.
  • Menyingkirkan kita kepada gurun jauh dari mata antikris.
  • Jika TUHAN datang kembali kedua kali, kita diubahkan menjadi sama mulia dengan Dia dan sayap burung nasar yang bagaikan uluran Tangan TUHAN akan mengangkat kita di awan-awan yang permai. Kita bertemu dengan Dia dan masuk dalam Yerusalem Baru untuk selama-lamanya.

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 26-27 Februari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Batam)

  • 18-19 Maret 2020
    (Ibadah Kunjungan di Palangkaraya)

  • 31 Maret 2020 - 02 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 29 April 2020 - 01 Mei 2020
    (Ibadah Persekutuan di Square Ballroom Surabaya)

  • Agustus 2020
    (Ibadah Kunjungan di Srilangka)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top