English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu Sore, 16 Februari 2014)
Tayang: 01 Februari 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 Februari 2014)
Tayang: 01 Februari 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 Februari 2014)
Tayang: 14 Desember 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 26 Agustus 2007)
Tayang: 21 Desember 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 22 September 2013)
Tayang: 05 Desember 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 01 September 2013)
Tayang: 06 Oktober 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 08 Juli 2007)
Tayang: 03 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 12 Agustus 2007)
Tayang: 28 September 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Senin, 20 Januari 2008)
Tayang: 10 Maret 2010
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 29 Desember 2013)
Tayang: 03 Agustus 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 11 Mei 2014)
Tayang: 08 November 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 25 Maret 2007)
Tayang: 02 Oktober 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 29 Juni 2014)
Tayang: 01 Mei 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 11 Februari 2007)
Tayang: 21 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 02 Maret 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 22 Maret 2015

Wahyu 1 mulai ayat 9 merupakan wahyu atau penglihatan kepada Yohanes di pulau Patmos. Kita masih mempelajari kitab Wahyu 1: 13-16, ini tentang penampilan Pribadi YESUS dalam empat keadaan yang sebenarnya:

  • Ay 13 (‘YESUS berpakaian jubah dan dadanya berlilitkan ikat pinggang’), YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Imam Besar dan kita menjadi imam-imam.
  • Ay 14 (yang sedang kita pelajari), YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Raja segala Raja.
  • Ay 15, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Hakim Yang Adil. Saat kedatangan-Nya yang ke dua kali Dia akan menghakimi dengan adil.
  • Ay 16 (puncak penampilan YESUS), YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Mempelai Pria Surga (sebagai Kepala). Kepala itu suami dan tubuh itu istri. Hubungan Kepala dengan tubuh itu tidak bisa dipisahkan lagi. YESUS sebagai mempelai pria surga (kepala) dan kita sebagai mempelai wanita surga (tubuh) merupakan hubungan yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun juga dan kita bersama dengan Dia untuk selamanya.

Inilah penampilan YESUS dalam empat keadaan yang sebenarnya. Sekarang kita berada pada penampilan yang kedua (ayat 14), YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Raja segala raja.

Wahyu 1: 14, Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.

Rasul Yohanes di pulau Patmos melihat Pribadi YESUS yang mempunyai ‘Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah’. Ini juga sudah dilihat oleh Daniel (jauh sebelum Yohanes lahir, Daniel sudah melihat ini).

Daniel 7: 9, Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;

Ay 9 => ‘Yang Lanjut Usianya’ => Yang kekal.

Inilah YESUS Yang duduk di takhta surga dengan rambut bersih, putih seperti bulu domba. Jadi, dari dua saksi ini jelas, rasul Yohanes memperlihatkan rambut-Nya putih dan Daniel memperlihatkan rambut-Nya putih ada di takhta surga (ada kursi atau takhta). Jadi, jika digabungkan ‘Yang berambut putih’ adalah YESUS sebagai Raja diatas segala raja Yang duduk di takhta kerajaan surga. Semoga kita dapat mengerti.

YESUS tampil sebagai Raja diatas segala raja dengan dua tanda (Wahyu 1: 14)

  1. rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah. Rambut putih artinya  mahkota kemuliaan (Amsal 16: 31 ). Ini sudah diterangkan beberapa kali.
  2. mata-Nya bagaikan nyala api’.

Sekarang ini kita mempelajari tanda yang kedua, yaitu ‘mata-Nya bagaikan nyala api’. Dia yang berambut putih duduk di takhta surga, tetapi mata-Nya bagaikan nyala api menyoroti (mengamat-amati) kita. Mazmur 11: 4, ini tentang Mata TUHAN.

Mazmur 11: 4, 5,
4. TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.
5. TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan.

Ay 4 => ‘TUHAN, takhta-Nya di sorga’ => TUHAN berada di takhta surga, tetapi mata-Nya mengamat-amati.

Jadi, ‘Mata TUHAN bagaikan nyala api’ artinya Mata TUHAN sedang mengamat-amati kita = menyucikan kita semua (terutama pelayan TUHAN, hamba TUHAN), dengan nyala api Firman ALLAH, Roh Kudus dan kasih ALLAH supaya kita menjadi pelayan TUHAN bagaikan nyala api. Saya menerangkan Firman dengan ayat-ayat, supaya saudara jelas. Yang tidak membawa alkitab dapat melihat di layar dan mendengarkan pembacaannya, supaya nyata bahwa Firman ini berasal dari alkitab (bukan dari manusia).

Ibrani 1: 7, Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api."

Melayani TUHAN itu tidak sembarangan. Kalau di dunia saja, tidak akan mudah untuk diterima, kalau melamar pekerjaan dengan sembarangan. Seringkali saya menangis, sebab ada yang berkata => oom, suruh dia melayani main musik di gereja, supaya bisa bertobat’ Bagaimana ini? orang yang tidak bertobat, tetapi disuruh melayani TUHAN. Yang dicari oleh TUHAN adalah pelayan TUHAN yang bagaikan nyala api, bukan pelayan TUHAN yang pandai, hebat.

Mata TUHAN bagaikan nyala api. Pelayan TUHAN bagaikan nyala api. Jadi pelayan TUHAN adalah Biji Mata TUHAN sendiri. Pelayan TUHAN yang bagaikan nyala api (yang mau disucikan) = Biji Mata TUHAN.

Dari perjanjian lama sampai dengan perjanjian baru TUHAN selalu bekerja dengan nyala api untuk menampilkan pelayan-pelayan TUHAN yang suci bagaikan Biji mata-Nya sendiri. (pada kesempatan sekarang ini saya akan menunjukkan ayat-ayatnya):

  1. Musa.
    Keluaran 3: 2-5,
    2. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
    3. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"
    4. Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."
    5. Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

    Ay 3 => ‘Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" => semak duri itu dari dunia (kayu-kayuan atau tanaman yang tidak terlalu besar). Di kaki padang gurun Sinai, kayu itu sangat kering, kalau terkena api pasti terbakar. Semak duri ini terkena api tetapi tidak terbakar? sebab apinya berasal dari TUHAN.

    Sebelum Musa mengalami pekerjaan nyala api dari TUHAN, Musa mencoba melayani TUHAN dengan mengandalkan kepandaiannya (selama empat puluh tahun Musa sekolah di Mesir, kalau sekarang sudah doktor, profesor), kekayaannya, kekuasannya, kedudukannya, akhirnya Musa gagal dan bahkan menjadi pembunuh. Saat ada orang Israel dan orang Mesir bertengkar, Musa membunuh orang Mesir dan menyembunyikan mayatnya didalam pasir. Ini merupakan gambaran untuk sekarang; jika kita sebagai hamba TUHAN, pelayan TUHAN melayani TUHAN hanya mengandalkan kepandaian, kekayaan, kedudukan, maka kita akan melayani dengan kebencian, dendam, iri hati, dosa-dosa. Bagaimana kita melayani TUHAN, padahal ada dosa-dosa? akhirnya gagal total.

    Itu sebabnya Musa harus mengalami pekerjaan nyala api Firman pengajaran yang benar. Firman TUHAN itulah nyala api. Kita bukan mencari Firman yang seperti => ‘saudara hebat, saudara luar biasa’, bukan seperti itu! Tetapi mencari Firman yang bagaikan nyala api yang dapat menghanguskan dosa-dosa dan menyucikan kehidupan kita.

    Yeremia 23: 29, Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?

    Jadi, Firman TUHAN seperti api. Itulah yang penting! Kita berdoa supaya dalam ibadah selalu mendapatkan Firman pengajaran yang benar bagaikan nyala api untuk menyucikan kita.

    Keluaran 3: 5, Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

    Musa harus mengalami penyucian nyala api sampai menanggalkan sepasang kasut = mengalami penyucian lahir dan batin (kasut itu dua, kiri dan kanan). Kalau batin atau hati (bagian dalam) disucikan, maka lahir (bagian luar) juga disucikan, terutama mulut harus suci. Mulut ini menentukan kita dipakai TUHAN atau tidak? Mulut ini seperti kemudi, Misalnya: kalau mulutnya berkata A, maka seluruh hidupnya A. Kalau mulutnya najis, maka seluruh hidupnya najis. Kalau mulutnya baik, maka seluruh hidupnya juga baik.

    Bagaimana mulut Musa disucikan? Musa mengakui kekurangan-kekurangannya dan tidak mengandalkan kepandaiannya, kehebatannya dsbnya. Kalau tadi sebelum disucikan => ‘saya pandai, saya hebat main musik drum, cuma melayani, ini gampang’ Kalau tanpa penyucian, akhirnya gagal (tidak menampilkan takhta TUHAN atau hadirat TUHAN). Kalau tanpa penyucian, main musik di gereja, tetapi suasananya seperti yang di dunia (suasana gereja, bukan suasana hadirat TUHAN). Kothbah tanpa penyucian, ini seperti melawak, mungkin tertawa terbahak-bahak, tetapi tidak ada apa-apa (seperti tukang jamu). Jadi, harus dalam penyucian, supaya kita tampil seperti pelayan TUHAN yang bagaikan nyala api, pelayan TUHAN yang bagaikan Biji Mata TUHAN.

    Keluaran 3: 10, 11,
    10. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."
    11. Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"

    Ay 11 => "Siapakah aku ini’ => ini tandanya bahwa mulut Musa mengaku segala kekurangan dan dosa-dosanya = menyadari dan merasa tidak layak untuk melayani TUHAN. Inilah orang yang mengenal diri sendiri dan tidak lupa diri. Banyak kali kita melayani TUHAN tetapi lupa diri seperti melayani di dunia (mengandalkan kepandaian, kekayaan). Tetapi kalau melayani di dalam rumah TUHAN harus mengandalkan kesucian.

    Mulut ini bukan digunakan untuk menghakimi atau menembak orang lain, tetapi untuk mengakui segala dosa-dosa dan kekurangan kepada TUHAN (vertikal) dan sesama (horisontal). Jika diampuni jangan berbuat dosa lagi. Inilah penyucian sampai menanggalkan kasut (penyucian lahir batin sampai ke mulut). Semoga kita dapat mengerti.

    Di sinilah Musa dipakai oleh TUHAN, menjadi pelayan TUHAN bagaikan nyala api (bagaikan Biji Mata TUHAN sendiri).


  2. Yesaya.
    Yesaya 6: 5-8,
    5. Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."
    6. Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.
    7. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."
    8. Lalu aku mendengar suara TUHAN berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

    Ay 5 => ‘namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.’ => Raja yang duduk di takhta. Dia lah yang menyucikan Yesaya. Yesaya ini bibirnya najis dan tinggal di lingkungan yang najis, ini sulit sekali untuk lepas (merasa tidak bersalah lagi karena semuanya sama-sama najis). Kalau bibirnya najis, tetapi lingkungannya baik (berkata benar semua), mungkin malu untuk berbicara yang najis dan tidak ditanggapi.

    Ay 6 => ‘di tangannya ada bara’ => ada nyala api.

    Inilah orang yang najis bibir dan hidupnya najis, tetapi dapat dipakai oleh TUHAN. Ini ada syaratnya; harus mengalami sorot Mata TUHAN yang bagaikan nyala api = harus mengalami penyucian yang bagaikan nyala api. Jadi, harus mengalami penyucian yang bagaikan nyala api, baru dapat dipakai oleh TUHAN. Siapapun juga, sekalipun mulutnya najis, hidupnya najis, asalkan mau disucikan, maka dapat dipakai TUHAN.

    Yesaya juga mengalami penyucian nyala api dari mezbah. Dulu Musa melihat kerajaan surga, kemudian TUHAN memerintahkan Musa untuk membangun kerajaan surga di bumi, itulah tabernakel (kemah suci). Ini dapat dipelajari di kitab Keluaran 25-40. Sekarang ini semua dalam arti yang rohani. Dalam tabernakel, ada alat yang namanya mezbah korban bakaran. Kalau bangsa Israel berbuat dosa, dan untuk mendapat pengampunan dosa mereka membawa binatang kurban, yaitu lembu, kambing, domba, dan bagi yang miskin membawa burung tekukur. Semuanya harus membawa binatang kurban, baik yang kaya, menengah, miskin. Lalu binatang kurban disembelih, kemudian dibakar dan mereka mendapatkan pengampunan dosa.

    Sekarang kita tidak perlu lagi membawa binatang kurban ke gereja, karena ini sudah digenapkan oleh Kurban Kristus (Kurban Anak Domba ALLAH di kayu salib). Inilah wujud kasih TUHAN kepada kita semua. Dulu, Yesaya disucikan dengan nyala api dari mezbah, kepada kita adalah nyala api kasih ALLAH di dalam Kurban Kristus. Jadi, pengampunan dosa lewat Kurban Kritus, itulah kasih ALLAH. Jadi, Yesaya mengalami penyucian nyala api kasih ALLAH yaitu menyucikan mulutnya yang najis atau yang kotor.

    Apa arti dari mulut najis atau kotor?


    • suka menjelekkan orang lain,
    • memfitnah,
    • menceritakan gosip-gosip yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya,
    • perkataan najis, dusta,
    • perkataan yang melemahkan iman dll. Itu semuanya harus disucikan sampai menjadi perkataan yang benar dan baik, bahkan bisa menjadi berkat bagi orang lain.


    Setelah mulutnya disucikan, Yesaya baru diutus atau dipakai oleh TUHAN, menjadi hamba TUHAN, pelayan TUHAN bagaikan Biji Mata TUHAN sendiri. Seperti Musa dibela, Yesaya juga dibela oleh TUHAN bagaikan Biji Mata TUHAN sendiri.

    Mari, sekarang ini kita mencontoh:


    • Musa yang sudah mengalami penyucian mulut, sampai bisa berkata => ‘siapakah aku ini?’ = mengakui kekurangan dan dosa. Seringkali kita berbuat dosa, tidak mau mengaku dosa, bahkan menyalahkan orang lain sampai menyalahkan TUHAN.


    • Yesaya yang sudah mengalami penyucian mulut yang najis, sampai menjadi perkataan yang benar, baik, menjadi berkat bagi orang lain, setelah itu baru dapat dipakai oleh TUHAN. Ini semuanya dalam perjanjian lama.


  3. Murid-murid YESUS di loteng Yerusalem (perjanjian baru).
    Kisah rasul 2: 1-4,
    1. Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
    2. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
    3. dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
    4. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

    Ay 3 => ‘lidah-lidah seperti nyala api’ => nyala api Roh Kudus.
    Ay 4 => lagi-lagi mulut lah yang disucikan oleh nyala api.

    Murid-murid di loteng Yerusalem (rasul-rasul hujan awal atau gereja hujan awal), salah satunya adalah Petrus. Petrus mengalami penyucian oleh nyala api Roh Kudus dari mulut yang menyangkal YESUS sebanyak tiga kali, menjadi mulut yang dapat bersaksi tentang YESUS (berani memberitakan Firman ALLAH tentang YESUS dihadapan tiga ribu orang). Sejak saat itu Petrus diutus atau dipakai oleh TUHAN dimana-mana, Petrus menjadi hamba TUHAN, pelayan TUHAN bagaikan Biji Mata TUHAN sendiri. Dulu, hanya dihadapan seorang budak kecil dan di hadapan beberapa orang, Petrus berkata => ‘aku tidak mengenal Dia’. Semoga kita dapat mengerti.

    Inilah pengertian YESUS tampil sebagai Raja di takhtanya dengan Mata bagaikan nyala api. Dia sedang mengamat-amati kita terutama pelayan TUHAN, sejak dulu (sejak perjanjian lama sampai perjanjian baru). Dia mau menyucikan pelayan TUHAN, hamba TUHAN dengan nyala api dari surga (nyala api Firman, Roh Kudus dan kasih ALLAH), supaya hamba TUHAN, pelayan TUHAN menjadi Biji Mata TUHAN (pelayan TUHAN bagaikan nyala api). Semoga kita dapat mengerti.


  4. Gereja hujan akhir (kita semuanya).
    Sekarang kita semuanya, hamba TUHAN, pelayan TUHAN (gereja di akhir zaman), termasuk rasul-rasul hujan akhir, akan mengalami penyucian nyala api secara dobel, sebab di akhir zaman ini semuanya memuncak:


    • kesulitan dan pencobaan memuncak.
    • dosa-dosa memuncak (kembali seperti zaman Nuh):


      1. dosa makan minum: merokok, mabuk, narkoba.
      2. dosa kawin mengawinkan: dosa seks. Kita sampai terkaget-kaget mendengar di televisi, dimanapun, bagaimana dosa itu bekerja dihari-hari ini.


    Rasul hujan akhir (gereja hujan akhir) mulutnya berbahasa Roh yang diajarkan oleh Roh Kudus (ini salah satu tanda kepenuhan Roh Kudus). Bahasa Roh itu bukan diajarkan oleh manusia, misalnya: tirukan saya. Ini seperti kursus bahasa Inggis, bahasa Jerman dll. Kalau mau kursus bahasa Roh, jangan! Sebab berapa yang mau kita bayar? Ini langsung dari TUHAN. Kalau ada hamba TUHAN menyuruh menirukan bahasa Roh (kursus bahasa Roh), hati-hati, ini merupakan pemalsuan. Saat itu Petrus berbahasa Roh juga (kepenuhan Roh Kudus), disucikan, setelah itu Petrus berkothbah dihadapan tiga ribu orang.

    Yang negatif memuncak (dosa-dosa, pencobaan dsb), sebab itu yang positif harus lebih memuncak. Musa mengalami penyucian nyala api Firman ALLAH didalam tabernakel, Firman itu dilambangkan sebagai meja roti sajian. Pada meja roti sajian terdapat dua belas susun roti (6-6), angka 66 menunjuk alkitab.

Yesaya mengalami penyucian nyala api kasih ALLAH didalam tabernakel kasih ALLAH dilambangkan sebagai mezbah dupa emas.

Rasul-rasul hujan awal (Petrus) mengalami penyucian nyala api Roh Kudus, dalam tabernakel Roh Kudus dilambangkan pelita emas. Pelita emas itu baru akan menyala kalau ada minyak. Ini yang terakhir, sebab setelah kita, sudah tidak ada zaman lagi dan tinggal menunggu kedatangan TUHAN YESUS kedua kali.

Itu sebabnya sekarang gereja hujan akhir, rasul hujan akhir, hamba TUHAN, pelayan TUHAN hujan akhir harus mengalami penyucian nyala api secara dobel yaitu:

  1. Mengalami penyucian nyala api; Firman ALLAH, Roh Kudus dan kasih ALLAH, lewat kandang penggembalaan (ruangan suci).
    Sekarang kita harus tergembala. Didalam tabernakel terdapat tiga ruangan:


    • Halaman. Jadi, setelah masuk pintu gerbang, ada halaman.
    • Ruangan suci (ruangan kedua),
    • Ruangan maha suci dimana terdapat tabut perjanjian.


    Halaman menunjuk keselamatan => percaya YESUS, bertobat, baptisan air, baptisan Roh Kudus. Ruangan maha suci ini menunjuk kesempurnaan. Kita sudah selamat, tetapi belum sempurna, berarti kita sekarang (gereja hujan akhir) masih berada didalam ruangan suci. Ruangan suci = kandang penggembalaan. Didalam kandang penggembalaan kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan TUHAN YESUS yang ke dua kali, untuk menjadi sempurna.

    Kandang penggembalaan ini bukan gerejanya atau gedungnya, tetapi secara rohani inilah ruangan suci. Didalam ruangan suci terdapat tiga macam alat (semuanya sudah hancur), sekarang dalam arti rohani yaitu ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok:


    • Pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya (seperti pada malam hari ini). Disini kita bersekutu dengan ALLAH Roh Kudus dengan karunia-karuniaNya (ada karunia bernyanyi, bermain musik, bersaksi dll). Disitulah kita mengalami penyucian nyala api Roh Kudus seperti yang dialami oleh murid-murid di loteng Yerusalem. Nyala api Roh Kudus menyucikan lahir batin, sampai mulut berbahasa Roh.


    • Meja roti sajian: ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci. Pada meja roti sajian, terdapat dua belas roti yang tidak sembarangan, tetapi roti disusun menjadi dua bagian ; 6-6 (ditulis dalam kitab Imamat). Angka 66 ini menunjuk alkitab (Firman pengajaran yang benar). Disini kita bersekutu dengan Anak ALLAH itulah YESUS di dalam Firman pengajaran dan Kurban Kristus (perjamuan suci). Roti juga menunjuk Tubuh Kristus. Terdapat juga korban curahan itulah anggur yang menunjuk Darah YESUS. Setiap ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci kita mengalami penyucian nyala api Firman ALLAH (Firman pengajaran) seperti yang dialami oleh Musa. Semoga kita mengerti.


    • Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan. Ini merupakan persekutuan dengan ALLAH Bapa didalam kasih-Nya. Setiap kita menyembah TUHAN, kita melihat Wajah YESUS yang bagaikan sinar matahari, sehingga kita juga disinari kasih ALLAH. Di sini kita mengalami penyucian nyala api kasih ALLAH.


    Sekarang di akhir zaman, kita harus mengalami penyucian dobel, nomor satu mengalami penyucian nyala api Firman ALLAH, Roh Kudus dan kasih ALLAH di dalam ruangan suci/kandang penggembalaan/ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok, sehingga:


    • tubuh, jiwa, roh kita melekat atau bergaul dengan Allah Tritunggal dan tidak bisa dijamah oleh setan. Manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa, roh. Allah Tritunggal = Allah Bapa, anak Allah dan Roh Kudus.


    • tubuh, jiwa, roh kita mengalami penyucian nyala api Firman, Roh Kudus dan kasih Allah, sehingga mulut tidak bersalah dalam perkataan = sempurna. Inilah penyucian mulut! Dulu Musa mulutnya bisa mengaku dosa, Yesaya mulutnya yang najis disucikan menjadi benar dan baik, Petrus mulutnya menyangkal TUHAN (berdusta) disucikan sehingga berbahasa Roh dan bersaksi tentang YESUS (memberitakan Firman tentang YESUS) dihadapan tiga ribu orang.


    • Tubuh, jiwa, roh kita disucikan oleh nyala api Firman, Roh Kudus dan kasih Allah, sehingga bukan cuma seperti Petrus, Yesaya, Musa, tetapi kita terus disucikan sampai tidak salah lagi dalam perkataan = menjadi sempurna seperti YESUS.


    Yakobus 3: 2, Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

    Inilah di akhir zaman, sebab itu penyucian harus melebihi dari Musa, Yesaya, rasul hujan awal. Sebab kita mengalami penyucian langsung lewat kandang penggembalaan, tubuh, jiwa, roh kita bergaul dengan ALLAH Tritunggal sehingga setan tidak dapat menjamah. Gosyen dengan Mesir berbeda, Mesir terkenan hukuman dari TUHAN, tetapi Gosyen (penggembalaan) tenang saja (setan dan hukuman ALLAH tidak dapat menjamah), bahkan kita mengalami penyucian tubuh, jiwa, roh sampai mulut tidak salah dalam perkataan (sempurna).

    Mulut tidak salah dalam perkataan itu bukan bisu atau tidak perlu berbicara, tetapi mulut tidak salah dalam perkataan artinya kita dapat menyeru ‘Haleluya’ = menyembah TUHAN. Nanti semua yang mengalami penyucian dalam kandang penggembalaan dari bangsa atau dari suku apa saja di bumi (dari empat penjuru bumi) mulutnya berkata hanya dengan satu suara yaitu hanya menyeru ‘Haleluya’ untuk menyambut kedatangan YESUS yang ke dua kali.

    Wahyu 19: 6, 7,
    6. Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena TUHAN, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
    7. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

    Ay 6 => "Haleluya! Karena TUHAN, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja’ => menyambut YESUS sebagai Raja.
    Ay 7 => Tetapi juga menyambut YESUS sebagai Mempelai Pria Surga.

    Dia sebagai Raja, tetapi juga sebagai Mempelai Pria Surga (Kepala) dan kita sebagai raja-raja = Tubuh Kristus yang sempurna = Mempelai Wanita (dari empat penjuru bumi) yang siap untuk menyambut Dia, dengan kata ‘Haleluya’ di awan-awan permai. Kalau tidak mau menyeru ‘Haleluya’ kita tidak akan dapat terangkat. Hanya yang berseru ‘Haleluya’ (mulut tidak salah dalam perkataan) yang dapat terangkat ke atas. Bukan main-main saat menyeru ‘Haleluya’, tetapi ini yang menentukan, apakah kita dapat terangkat atau tidak di awan-awan permai! Semoga kita bisa mengerti.

    Inilah penyucian yang pertama kepada gereja akhir zaman.


  2. Mengalami penyucian nyala api siksaan.
    Kita akan menghadapi siksaan yang bermacam-macam (halangan, rintangan, aniaya karena YESUS), lebih hari akan lebih sulit untuk melayani TUHAN. Ini semua harus dihadapi. Nyala api siksaan = ujian. Dalam Mazmur 11 ‘selain mata TUHAN menyoroti atau mengamat-amati kita, mata TUHAN juga menguji kita’. Jadi, mata TUHAN yang bagaikan nyala api (Dia yang duduk di takhta) sedang melihat saudara dan saya untuk:


    • menyucikan dengan nyala api Firman, Roh Kudus dan kasih ALLAH,
    • tetapi juga untuk menguji kita.


    Mazmur 11: 4, TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.

    Ay 4 => ‘mata-Nya mengamat-amati’ => ini menyucikan dengan nyala api.
    sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia’ => ujian adalah penyucian dengan nyala api siksaan.

Inilah mengapa ditampilkan ‘Mata-Nya bagaikan nyala api’ ini bukan untuk menakut-nakuti, bukan! Tetapi Dia sedang memandang untuk menyucikan kita dengan nyala api Firman, Roh Kudus dan kasih. Ini semua sudah dialami oleh Musa, Yesaya, dan juga oleh gereja hujan awal. Sekarang adalah kita (gereja hujan akhir) akan lebih disucikan dengan nyala api sampai mulut tidak bersalah lagi (tidak ada cacat cela lagi) dan sempurna seperti Dia. Tetapi ini belum cukup! Sebab tubuh kita masih daging, belum dapat terangkat. YESUS itu sempurna dan tidak bersalah (kata-kataNya tidak salah). Tetapi belum dapat naik ke surga, sebelum Dia diuji (disalibkan). Sesudah YESUS mengalami nyala api siksaan ; disalibkan, mati dan bangkit, baru setelah itu Dia dapat naik ke surga.

Begitu juga dengan kita. Mungkin kita sudah disucikan, sebab ibadah hari Minggu, Senin dan Rabu kita sudah datang. Ini belum cukup dan harus mengalami ujian. Sebab tubuh kita masih daging dan harus diubahkan lewat ujian, sehingga menjadi tubuh rohani seperti YESUS. Kadang-kadang kita berdoa => ‘TUHAN berikan kesabaran’, saat keluar dari tempat ibadah, sepeda motornya ‘disenggol’ oleh becak, kita sudah marah-marah. Ini tandanya kita belum sabar. Kalau saat ‘disenggol’ becak kita berkata => ‘terima kasih TUHAN, tidak apa-apa pak’, ini sudah dapat kesabaran. Jadi, lewat ujian kita diubahkan dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti YESUS.

1 Petrus 4: 12-14,
12. Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
13. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
14. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

Ay 12 => ‘janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian’ => untuk dapat datang beribadah Hari Minggu, Senin, Rabu ini merupakan nyala api siksaan. Saya berangkat dari Malang dan berusaha untuk datang, sudah melewati hujan lebat dll. Ada juga yang dari Tuban dll. Yang dari Surabaya pun => ‘ ini hari libur, sudah enam hari bekerja, sekarang masih ke gereja. Setelah masuk ke gereja, ibadah dan kotbahnya lama sekali. Inilah salah satu bentuk nyala api siksaan (ujian), sampai daging terasa sakit.

Ay 13 => ‘pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya’ => pada waktu Dia datang kembali ke dua kali.
Jadi, kita harus mengalami penyucian yang kedua.

Penyucian nyala api siksaan = ujian = percikan darah, yaitu

  • sengsara daging tanpa dosa (bukan karena dosa),
  • mengalami salib,
  • sengsara daging karena YESUS. Contohnya: sengsara daging karena Firman, karena beribadah, karena berpuasa, karena doa semalam suntuk.

Mata TUHAN mengamati kita untuk menguji kita, bagaimana kita saat menghadapi salib? Kalau saat beribadah kita sudah merasakan tidak enak bagi daging, itu sudah benar, jangan mencari ibadah yang enak bagi daging. Sebab ibadah yang enak bagi daging itu tidak teruji (semua orang, termasuk orang najis dll, banyak yang mau datang). Kalau ada ibadah yang tidak enak bagi daging, kita tetap datang beribadah, itu berarti sudah teruji (hanya orang pilihan TUHAN yang datang). Semoga kita dapat mengerti.

Mengapa kita diijinkan TUHAN mengalami nyala api siksaan (ujian)? Supaya Roh Kemuliaan turun atas kehidupan kita = Shekinah Glory ada dalam kehidupan kita. Dulu, Harun satu tahun sekali masuk ke ruangan maha suci, membawa dupa dan darah, kalau darah dipercikkan dua kali tujuh, maka terjadi Shekinah Glory (sinar kemuliaan). Sekarang menunjuk, Roh Kemuliaan.

Mengapa harus ada Shekinah Glory (Roh Kemuliaan) bagi gereja hujan akhir?

  1. Roh Kemuliaan mendorong kita, supaya tetap setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN, sekalipun kita mengalami penderitaan.
    Kalau daging, semakin hari akan semakin lemah. Contohnya: dari sekolah TK, SD, SMP, SMU, S1, S2, S3, Profesor, mungkin kita akan bertambah pandai, tetapi setelah Profesor akan ‘linglung’. Ini berarti sudah ada penurunan. Tetapi kalau ada Roh Kemuliaan, usia semakin tinggi, kita semakin berkobar-kobar.

    Jadi dapat dilihat, apakah saudara dan saya melayani TUHAN karena emosi daging atau karena Roh Kemuliaan?


    • bisa dilihat dari usia; kalau karena daging, semakin tua, semakin lemah. Ini berarti dulu melayani karena emosi daging.
    • waktu ibadah; kalau karena daging, dari datang semangat menyanyi, tetapi saat Firman sudah tidak semangat lagi. Ini berarti karena emosi daging dan bukan karena Roh Kemuliaan. Jika karena Roh Kemuliaan, semakin lama, akan semakin segar.


    Tadi, suci itulah nyala api. Sekarang, setia dan berkobar-kobar itulah pelayan TUHAN bagaikan nyala api (menjadi biji mata TUHAN).


  2. Roh Kemuliaan mengubahkan kehidupan kita dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti YESUS.
    Dulu, YESUS harus mati di kayu salib, supaya Roh Kemuliaan membangkitkan Dia dalam Tubuh kemuliaan agar dapat naik ke surga. Sekarang Roh Kemuliaan mengubahkan kita dari manusia daging (tubuh daging) menjadi manusia rohani seperti YESUS.

Apa yang dimaksud dengan manusia rohani?
1 Petrus 4: 14, Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

Ay 14 => ‘Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus’ => coba cari dimana-mana, dihina malah bahagia. Biasanya, kalau dipuji, kita bahagia. Misalnya: kamu pintar, pasti naik kelas. Sebaliknya, kalau guru mengatakan => ‘kamu bodoh, tidak naik kelas’ Pasti tidak bahagia => ‘setelah pulang, tidak dapat makan, tidak dapat tidur’.

Tetapi di ayat 14 ‘dinista karena Nama YESUS, dihina, dimaki-maki’ tetapi merasa bahagia. Inilah manusia rohani. Misalnya: kalau sepeda motor yang baru ditabrak becak, tetapi kita tidak marah (cuma memberi nasehat kepada yang menabrak) dan tidak menuntut, itulah manusia rohani (sudah diubahkan oleh Roh Kemuliaan).

Berbahagia saat menderita (‘Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus’) = kuat dan teguh hati. Orang yang kuat dan teguh hati, situasi apa saja, tetap merasa bahagia. Misalnya: tetap bahagia dalam TUHAN, ketika penghasilan turun, ketika diijinkan sakit. Semoga kita dapat mengerti.

Kita diijinkan untuk memikul salib/ujian/nyala api siksaan/percikan darah, supaya ada Roh Kemuliaan yang:

  • mendorong kita agar kita tetap setia dan berkobar-kobar,
  • Roh Kemuliaan juga mengubahkan kita dari tubuh jasmani (manusia daging) menjadi manusia rohani seperti YESUS, salah satunya adalah berbahagia ditengah penderitaan = kuat dan teguh hati. Ketika diberkati, kita berkata => ‘YESUS baik, luar biasa, dahsyat’. Ketika diijinkan dalam penderitaan, mulai tawar hati. Tetapi jika ada Roh Kemuliaan, mau diijinkan apapun oleh TUHAN (penderitaan, kekurangan dll), kita akan tetap kuat dan teguh hati, berbahagia ditengah penderitaan, tidak kecewa, tidak putus asa, tidak meninggalkan TUHAN dan tetap berbahagia bersama dengan TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.

Menjadi kuat dan teguh hati, inilah Biji Mata TUHAN. Jika ditelusuri dari depan, jadi pelayan bagaikan nyala api (bagaikan Biji Mata TUHAN) adalah

  • pelayan yang suci (terutama mulut disucikan),
  • pelayan setia berkobar-kobar,
  • pelayan yang kuat dan teguh hati (tidak mundur setapakpun apapun yang terjadi),
  • pelayan yang matanya hanya memandang kepada TUHAN (tidak memandang siapapun),
  • pelayan yang hanya berharap belas kasih TUHAN (sampai TUHAN berbelas kasih kepada dia).

Sekarang ini mungkin banyak persoalan kita, tetapi biarlah kita disucikan terlebih dahulu lewat kandang penggembalan (Firman TUHAN, Roh Kudus dan kasih Allah menyucikan kita menjadi pelayan yang suci), kemudian ditambah percikan darah, supaya Roh Kemuliaan turun untuk mendorong kita agar kita tetap setia dan berkobar-kobar, Roh Kemuliaan juga mengubahkan kita dari manusia daging menjadi manusia rohani, salah satunya adalah kuat teguh hati. Saat difitnah, diijinkan TUHAN di phk, diijinkan gaji turun (penghasilan turun), diijinkan sakit, tetap kuat teguh hati. Inilah Biji Mata TUHAN.

Pelayan yang bagaikan Biji Mata TUHAN (suci, setia berkobar-kobar, kuat teguh hati, hanya memandang TUHAN, hanya berharap belas kasih setia TUHAN), maka dia mendapat naungan sayap dari TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.

Kita jangan sembarangan melayani TUHAN. Di dunia saja, kita mau menjadi apa sudah sulit sebab ada syarat-syaratnya, lalu mengapa di gereja dijadikan seperti pasar (gampang, murah) => ‘siapa saja boleh berkothbah’, jangan! Biarlah kita menjadi pelayan bagaikan nyala api. Pendeta mungkin tidak tahu (termasuk saya nomor satu), tetapi Mata TUHAN tahu, Mata TUHAN menyorot untuk menyucikan, menguji kita, supaya kita benar-benar menjadi pelayan TUHAN yang suci dan teruji. Saat kita diberkati jangan sombong, saat-saat diijinkan memikul salib, tetap kuat dan teguh hati, tetap memandang TUHAN, supaya naungan sayap-Nya dapat kita rasakan.

Mazmur 17: 8, Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu

Kalau kita dapat menjadi pelayan TUHAN bagaikan Biji Mata TUHAN, yaitu suci, setia berkobar-kobar, kuat teguh hati, maka kita mengalami naungan sayap TUHAN. Itu sebabnya kita jangan merasa takut!

Jika ada naungan sayap TUHAN, hasilnya adalah

  1. Naungan sayap itu seperti pada ayam, burung nasar (di dalam alkitab). Yang dinaungi adalah ayam atau burung nasar yang kecil (yang baru menetas) = tidak berdaya, makanpun sulit. Biarpun banyak jagung, beras, kalau masih kecil, tidak dapat makan sendiri, itu sebabnya harus dari induknya.

    Hasil pertama: naungan sayap TUHAN (pelukan Tangan TUHAN) sanggup memelihara dan melindungi kita, sekalipun kita kecil dan tidak memiliki daya apa-apa.

    Mungkin ijasah kita tidak terlalu tinggi, toko tidak terlalu besar, gaji tidak terlalu besar, bagaikan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang, tetapi kalau ada bukti bahwa kita pelayan bagaikan Biji Mata TUHAN, maka ada naungan sayap TUHAN yang ajaib. Kalau ada serangan dari udara atau dari manapun, induknya siap melindungi. Sarang burung nasar berada diatas gunung, kalau ada serangan, maka anak-anaknya siap dinaungi.

    Lima roti dan dua ikan, kalau berada di dalam naungan sayap TUHAN (Tangan belas kasih TUHAN) bisa untuk lima ribu orang makan bahkan sampai berkelimpahan. Jangan putus asa, kita harus sabar sampai menjadi Biji Mata TUHAN dan pasti ada naungan sayap TUHAN Yang akan menolong kita.


  2. Jika burung nasar kecil sudah terus diberi makan dan dinaungi, maka akan menjadi besar (sayapnya juga menjadi besar). Satu waktu kalau sudah besar, sarangnya digoyang oleh induknya, terkadang akan terjatuh dari sarangnya. Kita dipelihara, dilindungi, tetapi juga diuji.

    Hasil kedua: kita diuji supaya mempunyai sayap yang besar. Sayap semakin besar, semakin terasa pelukan Tangan kasih TUHAN dalam kehidupan kita (semakin tidak tergantung kepada dunia):


    • untuk menerbangkan kita, melintasi badai di lautan dunia artinya memberikan ketenangan dan memberikan kemenangan (sampai badai reda). Semua masalah bisa diselesaikan oleh TUHAN, bahkan sampai masalah yang mustahil. Kita semakin tidak tergantung lagi pada dunia. Misalnya: dulu mengandalkan gaji, tahu-tahu sakit, gajinya tidak cukup, tetapi ada yang menolong => ‘ini karena TUHAN’, Bertambah besar sayapnya, bertambah merasakan pelukan Tangan TUHAN (merasakan besarnya kasih TUHAN) sehingga kita dapat melintasi badai, lautan dunia.


    • sampai kita disingkirkan ke padang gurun jauh dari mata antikrist yang berkuasa selama tiga setengah tahun di dunia. Saat antikrist berkuasa di dunia, semua ijasah tidak berguna, tetapi kalau menyembah antikrist, barulah ijasah itu ada gunanya. Tetapi kita semuanya yang menjadi Biji mata TUHAN disingkirkan ke padang gurun selama tiga setengah tahun.


    Dua sayap burung nasar menyingkirkan kita ke padang gurun selama tiga setengah tahun (Wahyu 12: 14). Dulu, bangsa Israel selama empat puluh tahun di padang gurun dipelihara langsung oleh TUHAN. Nanti kita juga akan dipelihara di padang gurun secara langsung oleh TUHAN lewat Firman dan perjamuan suci. Burung nasar itu memakan bangkai, itulah Firman dan perjamuan suci. Semoga kita dapat mengerti.


  3. Jika TUHAN YESUS datang kembali ke dua kali, kita diubahkan menjadi sama mulia dengan Dia. Tubuh yang jasmani sedikit demi sedikit diubahkan menjadi tubuh yang rohani.

Tadi, Roh Kemuliaan mengubahkan kita, sehingga kita mulai menjadi kuat dan teguh hati, menjadi sabar, jujur, kita diubahkan terus menerus, sayap semakin besar, sampai satu waktu jika YESUS datang kembali ke dua kali, kita diubahkan menjadi sama mulia (tubuh yang jasmani menjadi tubuh yang mulia) seperti YESUS. Setelah itu, dua sayap burung nasar mengangkat kita ke awan-awan yang permai dan kita akan bertemu dengan YESUS.

Filipi 3: 20, 21,
20. Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan TUHAN Yesus Kristus sebagai Juruselamat,
21. yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

Ay 20 => ‘kita menantikan TUHAN YESUS Kristus sebagai Juruselamat’ => sebagai Raja, sebagai Mempelai Pria Surga.

Ketika YESUS bangkit dari antara orang mati, Tubuh-Nya sudah lain sebab sudah menjadi Tubuh rohani. Demikian juga kita, semoga kita tidak mati, tetapi kita hidup sampai dengan TUHAN datang (kita berdoa), kita akan langsung diubahkan dalam tubuh kemuliaan yang sama seperti Dia. Dua sayap burung nasar (kekuatan naungan sayap TUHAN) mengangkat kita ke awan-awan permai dan kita bertemu Dia di awan-awan yang permai, dengan sorak ‘Haleluya’. Sesudah itu kita masuk kerajaan seribu tahun damai (firdaus yang akan datang). Sesudah itu kita masuk Yerusalem baru (kerajaan surga) dan kita duduk bersanding dengan Dia di takhta kerajaan surga.

Sekarang Mata TUHAN memandang dari takhta, untuk membawa kita ke takta. Sekarang kita juga harus memandang Dia, dengan tetap kuat teguh hati. Saat menghadapi apa saja, pandanglah Dia. Saat kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa, dan orang mengatakan => ‘kamu sudah tidak bisa, kamu mati’ Tinggal memandang Dia, tetap kuat teguh hati. Jangan putus asa => ‘sampai Engkau berbelas kasih’, ‘sampai Engkau menaungi aku dengan sayap Mu’, ‘memeluk aku dengan pelukan Mu’.

Sekalipun kita tidak berdaya, Dia dapat memelihara dan melindungi. Biarpun kita tidak berdaya, Dia dapat membawa kita melintasi badai, pencobaan apapun di dunia, sampai antikrist pun tidak dapat menjamah kita. Satu waktu Dia membawa kita di takhta-Nya, kita juga duduk di takhta-Nya bersama dengan Dia untuk selama-lamanya. Inilah artinya Mata TUHAN bagaikan nyala api. Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi Dia sedang mengamat-amati. Pengertian Mata TUHAN mengamat-amati selain untuk menyucikan, tetapi juga memperhatikan. Kalau kita mau disucikan, kita mau diuji oleh TUHAN menjadi pelayan bagaikan Biji Mata TUHAN, maka Dia sedang memandang kita dengan belas kasihan. Saat kita memohon kepada Dia => ‘TUHAN, saya tidak mampu lagi’, maka Dia akan memeluk kita, menaungi dengan sayap-Nya.

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 18 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Walikukun (Pagi))

  • 20 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Jatipasar (Pagi))

  • 24 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Hotel Kartika Graha Malang)

  • 25 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Square Ballroom Surabaya)

  • 28-30 Januari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top