English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 Maret 2014)
Tayang: 17 Mei 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 21 Januari 2007)
Tayang: 14 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 10 Februari 2008)
Tayang: 24 Mei 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 25 Mei 2014)
Tayang: 09 Desember 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Januari 2014)
Tayang: 31 Agustus 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 29 April 2007)
Tayang: 09 Januari 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 15 April 2007)
Tayang: 01 Desember 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 September 2014)
Tayang: 06 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 18 November 2007)
Tayang: 16 Agustus 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 06 Oktober 2013)
Tayang: 19 Januari 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 19 Januari 2014)
Tayang: 23 November 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 08 Juli 2007)
Tayang: 03 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 29 Desember 2013)
Tayang: 03 Agustus 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 13 Juli 2014)
Tayang: 12 Juni 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 11 Februari 2007)
Tayang: 21 Mei 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 09 Maret 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 19 April 2015

Kita masih membahas didalam Wahyu 1: 13-16, ini tentang penampilan Pribadi YESUS dalam empat keadaan yang sebenarnya:

  1. Wahyu 1: 13, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Imam Besar.
  2. Wahyu 1: 14, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Raja diatas segala raja.
  3. Wahyu 1: 15, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Hakim Yang Adil.
  4. Wahyu 1: 16, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Mempelai Pria Surga. Inilah puncak penampilan YESUS. YESUS sebagai Kepala dan kita sebagai Tubuh Nya (mempelai wanita). Kepala dengan tubuh tidak lagi terpisah untuk selama-lamanya.

Kita masih berada bagian yang kedua.

Wahyu 1: 14, Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.

Ini penampilan Pribadi YESUS dalam kemuliaan sebagai Raja diatas segala raja, dengan dua tanda:

  1. Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah = mahkota kemuliaan = mahkota keindahan. Ini sudah dipelajari dalam ibadah sebelumnya.
  2. mata-Nya bagaikan nyala api. Ini yang sedang kita pelajari sekarang ini.

Rambut putih itulah mahkota kemuliaan (mahkota keindahan). YESUS memakai mahkota kemuliaan (YESUS sebagai Raja diatas segala raja), duduk di takhta kerajaan surga dan mata-Nya bagaikan nyala api.

Mazmur 11: 4,TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.

Ay 4 => ‘TUHAN, takhta-Nya di sorga’ => Dia duduk di takhta kerajaan surga.
mata-Nya mengamat-amati’ => dalam Wahyu 1: 14 ‘mata-Nya bagaikan nyala api’ Jadi, mata-Nya bagaikan nyala api artinya TUHAN mengamat-amati (mengawasi) kehidupan kita = TUHAN menyucikan dan menguji kehidupan kita, supaya kita tampil menjadi pelayan Tuhan, hamba TUHAN bagaikan nyala api.

Ibrani 1: 7, Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-N menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api."

Pelayan TUHAN bagaikan nyala api artinya pelayan TUHAN yang suci, setia, berkobar-kobar dan damai sejahtera (ini sudah dipelajari dalam ibadah sebelumnya). Ini dibandingkan dengan Daniel 7: 9.

Daniel 7: 9, Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;

Ay 9 => ‘Yang Lanjut Usianya’ => Yang Kekal.
rambut-Nya bersih seperti bulu domba’ => rambut-Nya putih seperti bulu domba.
kursi-Nya dari nyala api’ => takhta-Nya dari nyala api.

Pelayan TUHAN yang suci, setia, berkobar-kobar, damai sejahtera = nyala api. Takhta TUHAN = nyala api. Jadi, pelayan TUHAN yang suci, setia, berkobar-kobar dan damai sejahtera = takhta-Nya TUHAN. Inilah yang TUHAN kehendaki! Jadi kita harus menjadi pelayan TUHAN yang sungguh-sungguh. Jika kita menjadi pelayan TUHAN yang suci, setia, berkobar-kobar dan damai, maka kita menjadi tahta-Nya TUHAN di bumi ini, artinya di mana-pun kita melayani, maka disitulah ada takhta TUHAN, sampai satu waktu kita akan duduk di takhta TUHAN didalam kerajaan surga untuk selama-lamanya.

Melayani TUHAN itu bukan sembarangan, melainkan harus menampilkan takhta TUHAN. Kalau kita melayani dengan menampilkan takhta TUHAN, itu luar biasa, sebab jemaat akan tertolong semuanya. Dimana ada takhta TUHAN, maka semuanya ada. Jangan sampai terbalik! Kalau kita melayani TUHAN tetapi menampilkan takhta setan, maka semuanya akan ‘bubar’. Mari kita melayani TUHAN dengan menampilkan takhta TUHAN, dimulai:

  1. di dalam rumah tangga. Kalau ada takhta TUHAN di rumah tangga, itu luar biasa.
  2. di dalam gereja. Banyak kesaksian-kesaksian bahwa kita sudah tertolong oleh takhta TUHAN.
  3. antar gereja. Nanti malam saya berangkat ke Sorong, doakan supaya pelayanan kita bukan cuma biasa-biasa, tetapi menampilkan takhta TUHAN sehingga banyak anak TUHAN, hamba TUHAN yang tertolong. Pelayan yang suci, setia, berkobar-kobar dan damai itu menampilkan takhta TUHAN. Biarlah ini menjadi tanggung jawab kita bersama-sama.

Yesaya 6: 1, ini tentang takhta TUHAN.
Yesaya 6: 1, Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat TUHAN duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

Ay 1 => ‘Bait Suci’ => itulah kehidupan kita. Seperti Firman TUHAN => ‘kamu adalah Bait Allah’
Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat TUHAN duduk di atas takhta yang tinggi’ => begitu raja mati, takhta TUHAN dinyatakan. Jadi itulah syaratnya! Kalau masih ada takhta raja, berarti takhta TUHAN tidak ditampilkan.

Dalam Yesaya 6: 1, terdapat dua macam takhta. Kedua takhta ini berlawanan, manakah yang mau ditampilkan? Kalau takhta raja Uzia ditampilkan (raja dunia), maka takhta TUHAN tidak ditampilkan. Tetapi kalau rajanya mati dan tidak ada takhtanya, barulah takhta TUHAN yang ditampilkan. Mari, kita pelajari satu persatu.

Dua macam takhta:

  1. Takhta manusia (takhta raja Uzia).
    Takhta manusia artinya kesombongan, tinggi hati, keras hati (‘hatiku adalah rajaku’). Contohnya seperti raja herodes, ia mau mengambil istrinya orang lain dan tidak dapat dihalangi lagi. Semoga kita dapat mengerti.

    Praktik kesombongan/tinggi hati adalah


    • 2 Tawarikh 26: 16-18,
      16. Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.
      17. Tetapi imam Azarya mengikutinya dari belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas;
      18. mereka berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: "Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini."

      Ini perikopnya tentang raja Uzia.
      Ay 16 => seorang raja membakar ukupan diatas mezbah pembakaran ukupan.

      Ay 18 => ‘Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN’ => Yang berhak membakar ukupan adalah imam, bukanlah seorang raja (raja memiliki tugas lain).

      hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan!’ => imam-imam yang suci, setia, berkobar-kobar dan damai (yang menampilkan takhta TUHAN). Ini berlawanan dengan takhta manusia (takhta raja).

      Praktik pertama: salah dalam tahbisan (salah dalam ibadah pelayanan). Ini beribadah melayani TUHAN tetapi salah. Bayangkan dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus ini salah. Misalnya: tangan yang salah. Mau minum karena haus, tetapi tangannya mengambil listrik. Hati-hati sebab banyak yang salah dalam tahbisan!

      Salah dalam tahbisan artinya


      • beribadah melayani tetapi tidak sesuai dengan jabatan pelayanan. Contohnya:


        1. jabatannya sebagai gembala, tetapi tidak pernah kotbah.
        2. TUHAN sudah memberikan jabatan sebagai penyanyi, tetapi mau menjadi gembala => hitung-hitung kalau menyanyi 1000 orang masuk gereja, lebih baik aku mendirikan gereja saja’ Akhirnya, tidak dapat berkothbah (tidak memberi makan domba-domba). Ini seperti halnya, tangan mau menjadi kaki dan kaki mau menjadi tangan. Kelihatannya giat, tetapi rusak , sebab salah tempat (tidak sesuai jabatanpelayanan).


      • melayani tetapi tidak sesuai dengan Firman pengajaran yang benar. Mungkin tempatnya sudah benar, sebagai tangan atau kaki, tetapi tidak sesuai perintah kepala. Misalnya: kepala mengatakan haus, tetapi tangan malah mengambil listrik.


      Salah tahbisan dua hal ini yang berbahaya. Kalau melayani tetapi tidak sesuai dengan kepala, ini berarti sudah sakit. Jika salah tahbisan, akibatnya adalah merusak. Semoga kita dapat mengerti.

      Jadi, pengajaran yang benar tidak dapat dipisahkan dengan tahbisan yang benar dan penyembahan yang benar. Kalau pengajarannya benar, maka tahbisannya (pelayanan) benar dan penyembahannya juga benar. Tetapi kalau pengajarannya salah atau berbeda, maka semuanya akan salah. Pengajaran ini sebagai Kepala dan kita sebagai anggota tubuh. Tubuh adalah pelayan-pelayan TUHAN (imam-imam) dengan jabatannya masing-masing. Misalnya: ada tangan, kaki, perut, usus dll, semuanya ini bekerja sesuai dengan jabatan masing-masing dan sesuai perintah dari Kepala. Semoga kita dapat mengerti.

      Jika salah dalam tahbisan, maka bukan membangun Tubuh Kristus, tetapi merusak atau menghancurkan Tubuh Kristus. Tetapi bersyukur, sebab ada imam-imam yang tegas (terus terang). Kita harus tegas dan terus terang demi menjaga tahbisan yang benar, baik didalam nikah rumah tangga (tugas suami dan istri jangan dibalik-balik), penggembalaan (di dalam penggembalaan harus tegas, terus terang, tidak boleh sembunyi-sembunyi), sampai antar penggembalaan (persekutuan tubuh). Semoga kita dapat mengerti.

      Kalau melayani tetapi tidak sesuai dengan kehendak TUHAN (Firman), percuma saja, sebab satu waktu TUHAN akan usir dia => ‘enyahlah’

      Matius 7: 21-23,
      21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: TUHAN, TUHAN! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
      22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: TUHAN, TUHAN, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
      23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

      Ay 21 => ‘melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga’ => melayani sesuai dengan kehendak Bapa = sesuai Firman pengajaran dan sesuai jabatan pelayanan.

      Ay 22 => ‘Pada hari terakhir’ => menjelang hari kedatangan TUHAN kedua kali.
      TUHAN, TUHAN, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu’ => ini pelayanan yang hebat (menyampaikan Firman).

      Ay 23 => ‘Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka’ => lebih baik sekarang, Firman yang tegas dan berterus terang kepada kita => ’hati-hati!! Dari pada nanti, saat TUHAN datang baru tegas dan terus terang, itu berarti sudah tidak ada kesempatan lagi.

      Jika pelayanan kita tidak sesuai dengan kehendak TUHAN (tidak sesuai Firman pengajaran yang benar dan tidak sesuai jabatan pelayanan), maka TUHAN dengan tegas dan berterus terang menolak pelayanan kita (mengusir kita ‘enyahlah’). Jika kita diusir, itu berarti kebinasaan. Kalau saat TUHAN datang ke dua kali, TUHAN baru menunjukkan kesalahan-kesalahan, kita akan habis, sudah terlambat dan binasa selamanya. Lebih baik sekarang dalam ibadah, kita mencari Firman pengajaran yang benar, yang tegas, yang terus terang untuk menyucikan kita dari kesalahan-kesalahan, supaya kita mendapat kesempatan untuk bertobat, berubah dan diselamatkan.

      Maksud kita datang beribadah ke gereja adalah untuk mencari Firman yang tegas dan terus terang untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Contohnya:


      • tadi seperti imam-imam menegor raja Uzia => ‘hai, raja tidak boleh engkau’
      • Nabi Yohanes Pembaptis menegor raja herodes yang ingin mengambil istri saudaranya => ‘tidak halal engkau’


      Firman yang semacam itulah yang akan menolong kita. Kalau sekarang kita senang, tertawa-tawa, tetapi nanti saat TUHAN datang kembali berkata => ‘enyahlah engkau’, Ini berarti tidak ada kesempatan lagi bagi kita. Semoga kita dapat mengerti.
      Inilah takhta manusia (kesombongan), praktiknya adalah melayani dengan sembarangan. Coba bayangkan! Di dunia ini kalau kita mau menjadi apa saja, harus diseleksi dengan ketat (tidak dapat sembarangan). Sedangkan kita di rumah TUHAN, berkata => ‘pokoknya melayani’, ‘main musik saja, supaya bertobat’ Ini salah besar! Kita melayani TUHAN harus sungguh-sungguh.


    • 2 Tawarikh 26: 19, Tetapi Uzia, dengan bokor ukupan di tangannya untuk dibakar menjadi marah. Sementara amarahnya meluap terhadap para imam, timbullah penyakit kusta pada dahinya di hadapan para imam di rumah TUHAN, dekat mezbah pembakaran ukupan.

      Praktik kedua: menolak tegoran Firman ALLAH Yang tegas dan terus terang (Firman ALLAH yang lebih tajam dari pedang bermata dua).

      Mengapa harus ada Firman yang tegas, terus terang, keras, lebih tajam dari pedang bermata dua? untuk memperbaiki tahbisan yang salah, nikah yang salah dan supaya kita tidak binasa. Kalau di gereja ada Firman yang menunjuk dosa-dosa, kesalahan dalam nikah, dalam pelayanan, dalam pekerjaan, itu bukan disiksa! Tetapi supaya segala sesuatu bisa diperbaiki, kita bisa bertobat dan diselamatkan. Itulah maksudnya! Semoga kita dapat mengerti.

      Raja Uzia ini menolak tegoran. Kalau menolak tegoran Firman, akibatnya adalah kusta.

      Kusta artinya:


      • Putih tapi sakit kusta, itulah Kebenaran diri sendiri. Putih itu artinya kebenaran. Kebenaran diri sendiri artinya


        1. kebenaran di luar alkitab (di luar Firman pengajaran yang benar). Sekali-pun ada orang mengatakan ‘benar’, tetapi kalau alkitab mengatakan ‘salah’, itu berarti salah. Misalnya: alkitab mengatakan ‘tidak boleh’, tetapi kata pendeta (seribu orang) mengatakan ‘boleh’, itu tetap kebenaran sendiri. Kebenaran dari TUHAN itulah alkitab (tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi).


        2. sudah berbuat dosa, tetapi tidak mau mengaku dosa atau menutupi dosa dengan menyalahkan orang lain, marah kepada orang lain. Seperti raja Uzia, marah kepada orang lain. Semoga kita dapat mengerti.


      • dosa kenajisan. Orang yang sakit kusta itu mukanya ditutupi, kalau orang sakit kusta datang, orang-orang berteriak => ‘najis, najis’ Sehingga orang lain yang datang akan lari, sebab tidak boleh bersekutu dengan orang yang sakit kusta.

        Dosa kenajisan:


        1. jatuh dalam dosa makan minum: merokok, mabuk, narkoba.
        2. jatuh dalam dosa kawin mengawinkan: (maaf) dosa percabulan/dosa seks dengan berbagai ragamnya, nikah yang salah. Kalau ini dipertahankan, akan menjadi kusta.


        Kalau menolak Firman yang tegas, terus terang, yang keras, lebih tajam dari pedang bermata dua, pasti jatuh dalam dosa kenajisan. Dosa kenajisan ini membawa kepada kebinasaan.


    Jika ada takhta manusia (salah dalam tahbisan, menolak Firman yang benar sampai menjadi kusta), maka kita tidak bisa merasakan takhta TUHAN. Harus memilih salah satu, kalau raja Uzia mati, baru takhta TUHAN dinyatakan. Jika takhta manusia dihancurkan (raja Uzia mati), maka takhta TUHAN akan dinyatakan (dapat kita rasakan).

    TUHAN jauh, duduk di takhta surga, tetapi kalau kita hancur hati (hati remuk) = merendahkan diri untuk mengaku kesalahan dan dosa kita, maka takhta TUHAN dapat dirasakan (TUHAN hadir bersama dengan kita).

    Yesaya 57: 15, Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.

    Ay 15 => ‘"Aku bersemayam di tempat tinggi” = di takhta surga.
    TUHAN ada di takhta-Nya (di surga), tetapi Dia juga bersama orang yang remuk hati, rendah hati. Remuk hati (hancur hati, rendah hati) artinya mengaku segala kesalahan, dosa-dosa kepada TUHAN dan sesama. Jika diampuni jangan berbuat dosa lagi. Kalau setelah mengaku dosa, lalu berbuat dosa lagi, maka bertambah keras hati. Bedakan ini! Sebab ada orang yang sekedar mengaku-mengaku dosa saja, tetapi nanti melakukan dosa lagi, akhirnya hati menjadi lebih keras lagi sehingga kita tidak akan pernah merasakan takhta TUHAN. Kalau orang yang rendah hati, remuk hati dengan dorongan Firman yang tegas (yang keras, yang terus terang), maka kehidupan itu dapat menyadari dosa, menyesali dosa dan mengakui dosa kepada TUHAN dan sesama.

    Jadi, maksudnya mengaku dosa adalah supaya diampuni dan tidak berbuat dosa lagi (lepas dari dosa), bukan supaya kita diberikan uang, diperbolehkan bekerja lagi, diperbolehkan melayani lagi. Inilah yang salah! Masalah nanti boleh melayani atau tidak boleh melayani, itu urusan lain, yang penting kita sudah bebas dari dosa dan bisa merasakan takhta TUHAN. Saya juga banyak salah, seringkali siswa-siswi Lempinel mengaku dosa => ‘oom, saya pecahkan gelas’ Saya jawab => ‘Ya, sudah’ Ini salah, akhirnya banyak kali mereka hanya sekedar mengaku dosa. Tetapi sekarang, setelah mereka mengaku dosa, saya berikan hukuman => ‘Ya, saya ampuni, besok puasa (saya tidak perlu marah-marah lagi)’ Ini saya mendapatkan hikmat dari TUHAN. Kalau mereka tidak dilatih begini, nanti gawat , sebab mereka hanya sekedar mengaku dosa) => ‘oom nya baik, tidak apa-apa’. Mungkin saudara yang melihat hal ini berkata => ‘kasihan mereka ya’, Tidak seperti ini, sebab justru mereka dapat bertobat, berubah dan dipakai oleh TUHAN. Kalau kesalahan mereka agak berat, puasanya ditambah dua hari. Semoga kita dapat mengerti.

    Jadi, hancur hati itu mengaku dosa bukan untuk yang lain-lain, tetapi untuk => ‘saya ini salah, berdosa dan masuk neraka. Saya mau minta ampun dan supaya dilepaskan dari dosa. setelah diampuni, saya dapat masuk surga’ Itulah maksudnya! Banyak kita mengaku dosa, supaya istri tidak marah dll, akhirnya nanti berbuat dosa lagi. Ini salah! Oleh dorongan Firman yang tegas (yang terus terang, yang keras, yang tajam, yang menunjuk dosa), sehingga kita sadar => ‘aduh, saya salah, ini bahaya sebab dapat menjadi kusta dan binasa’ dan menyesali dosa. Ada juga yang sadar akan dosa-dosa, lalu tertawa-tawa, nanti akhirnya tertawa didalam neraka (kalau tertawa dalam dosa, nanti tertawa dalam neraka).

    Jika sudah menyadari dosa, menyesali dosa, mengakui dosa kepada TUHAN dan sesama (jika diampuni tidak berbuat dosa lagi), maka kita akan merasakan takhta TUHAN. Setelah takhta manusia dihancurkan, maka takhta TUHAN ditampilkan.


  2. Takhta TUHAN (takhta surga).
    Di dalam takhta TUHAN ada ujung jubah.

    Yesaya 6: 1, Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat TUHAN duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

    Ay 1 => ‘ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci’ => ujung jubahnya melingkupi kita semuanya (bait suci).

    Jadi, takhta TUHAN (takhta surga) menampilkan ujung jubah TUHAN yang menaungi kita semuanya. Kita sebagai gereja TUHAN atau bait suci.

    Apa arti dari ujung jubah? Dalam penglihatan nabi Yesaya, setelah raja Uzia mati, takhta manusia atau keras hati hancur, maka takhta TUHAN ditampilkan dan dari takhta itu ada ujung jubah yang memenuhi bait suci. Dulu ini penglihatan secara jasmani, hanya untuk satu orang. Banyak kali kita menuntut penglihatan-penglihatan, ini memang boleh, tetapi hanya untuk satu orang. Kalau sekarang kita butuh penglihatan yang rohani itulah pembukaan Firman untuk semua orang. Inilah yang harus didoakan. Sekarang banyak yang ‘dihurufiahkan semuanya => ‘ini ujung jubah, ini nanti apa, doakan untuk ini dll’ Itu dulu, sekarang sudah digenapkan dalam perjanjian baru di dalam nubuat atau arti rohani. Apa itu arti rohani dari ujung jubah?

    Wahyu 19: 13, 16,
    13. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."
    16. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."

    Ay 13 => jubah itu Firman. Kalau dibaca pada ayat 11 ‘seorang yang menunggang kuda “Yang Setia dan Yang Benar”, Itulah YESUS memakai jubah yang dicelup dalam darah, yang disebut Firman ALLAH.
    Ay 16 => dibandingkan ayat 6 dan 7, Raja diatas segala raja dan Tuan diatas segala tuan itu menunjuk Mempelai Pria Surga.

    Wahyu 19: 6, 7,
    6. Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena TUHAN, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
    7. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

    Dia sebagai Raja, tetapi juga sebagai Pengantin, itulah Mempelai Pria Surga (kita sebagai Mempelai Wanita). Jadi jubah-Nya ditulisi ‘Raja segala raja dan Mempelai Pria Surga’ . Jubah itu Firman ALLAH yang ditulis ‘Raja segala raja dan Mempelai Pria Surga’. Jadi jubah-Nya TUHAN yaitu Firman Mempelai = Kabar Mempelai.

    Pemberitaan Firman ada dua yaitu


    • Kabar Baik (Amsal 25: 25 ‘air sejuk dari surga’) = Injil keselamatan (Efesus 1: 13) = susu = Firman penginjilan untuk membawa orang-orang berdosa supaya percaya YESUS dan diselamatkan. Sesudah selamat mau kemana? Untuk ke takhta TUHAN harus ada jubah, itulah Firman mempelai (kabar mempelai).Kabar baik ini memberitakan kedatangan YESUS pertama kali sebagai Manusia Yang tidak berdosa, mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia berdosa.


    • Kabar Mempelai = makanan keras = Firman pengajaran yang memberitakan kedatangan YESUS ke dua kali sebagai Raja segala raja untuk menyucikan dan menyempurnakan kehidupan yang sudah selamat. Inilah yang keluar dari takhta TUHAN. Kabar Mempelai ini disebut juga cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus (2 Korintus 4: 3-4) = Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua.

      2 Korintus 4: 3, 4,
      3. Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,
      4. yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

      Ay 4 => ‘cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus’ => memberitakan kedatangan YESUS yang ke dua kali dalam kemuliaan (tidak lagi kena mengena dengan dosa) untuk menyucikan dan menyempurnakan kita semuanya.


    Kehidupan yang sudah selamat disucikan dan disempurnakan sampai menjadi seperti YESUS dan kita menjadi Mempelai Wanita TUHAN yang siap menyambut kedatangan-Nya yang ke dua kali.

    Inilah yang harus kita terima. Penginjilan sudah kita terima (percaya YESUS, bertobat, dibaptis dan selamat), tetapi setelah selamat mau kemana? Mau ke takhta TUHAN. Dari taktha keluar ujung jubah, itulah Kabar Mempelai. Jika kita dapat menerima Kabar Mempelai, maka kita dapat merasakan suasana takhta surga di bumi. Diluar ujung jubah, manusia akan menderita. Perempuan yang pendarahan selama dua belas tahun ini merupakan orang Israel (umat pilihan TUHAN). Sekarang ini adalah gambaran anak TUHAN yang sudah selamat, tetapi sebelum dia menemukan ujung jubah (Kabar Mempelai), dia dalam keadaan menderita (jauh dari takhta TUHAN). Nanti, setelah menjamah ujung jubah, perempuan ini menemukan takhta surga.

    Penginjilan itu penting! Kalau tidak ada penginjilan, tidak ada saya. Saya dulu di kuburan untuk mencari keselamatan dan minum air kembang. Tetapi karena ada Firman penginjilan => ‘hanya YESUS, percaya YESUS, diampuni dan saya dapat diselamatkan’ Sesudah itu mau ke takhta, maka harus ada ujung jubah. Jadi, Kabar Baik harus dilanjutkan ke Kabar Mempelai.

    Markus 5: 25-29,
    25. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
    26. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
    27. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
    28. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
    29. Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

    Ay 27 => ‘menjamah jubah-Nya’ => menjamah ujung jubah-Nya (dalam ayat yang lain).
    Jadi perempuan yang pendarahan selama dua belas tahun gambaran dari anak TUHAN (kehidupan yang sudah selamat), tetapi dalam keadaan menderita (jauh dari takhta surga). Sekarang perhatikan! Di luar ujung jubah (di luar Kabar Mempelai), keadaan gereja TUHAN akhir zaman, banyak yang seperti perempuan pendarahan dua belas tahun’, artinya sudah selamat, tetapi:


    • Hidup dalam kejahatan dan kenajisan, sampai busuk. Contohnya:


      • sudah baptisan air, tetapi masih berbuat najis, berbuat jahat.
      • dalam pekerjaan, berbuat busuk; melakukan korupsi, menipu orang,
      • dalam nikah, nikahnya najis, nikahnya salah.


      Perhatikan! Yang berada diluar ujung jubah, jangan tunggu sampai habis-habisan, sebab itu terimalah ujung jubah.


    • Terjadi perpecahan-perpecahan dalam nikah (terjadi preceraian), dalam gereja, dan juga antar gereja. Terjadi perpecahan = tidak ada yang menyatukan, sehingga tidak ada damai sejahtera (saling menggosipkan dll). Di rumah tangga, saling menggosipkan dan saling menyalahkan, ini karena tidak ada ujung jubah (tidak ada jubah yang melingkupi bait suci).

      Kalau ada ujung jubah, maka bait suci dapat menjadi satu. Ujung jubah inilah yang nanti akan menyatukan! Yang melingkupi bait suci itu bukan nyanyian, dll, tetapi ujung jubah (hanya ujung jubah yang menyatukan). Kabar Mempelai ini bukan untuk satu gereja, bukan! Kabar Mempelai ini ada di dalam alkitab (Matius 25: 6 ‘lihat mempelai datang, songsonglah Dia’). Jadi, di dalam alkitab ada Kabar Baik dan harus ditingkatkan ke Kabar Mempelai (Kabar Mempelai juga merupakan istilah dari dalam alkitab). Mari perlahan-lahan kita mohon kepada TUHAN, supaya pengajaran ini dapat disebarkan. Semoga kita dapat mengerti.


    • Dalam penderitaan (sakit pendarahan selama dua belas tahun) = kesusahan, ketakutan, stress, kelemahan.
    • Semakin buruk = dalam kemustahilan = sampai binasa untuk selamanya.


    Inilah keadaan gereja TUHAN tanpa takhta TUHAN (tanpa ujung jubah TUHAN atau tanpa Kabar Mempelai). Kabar Mempelai itu alkitab, dari kitab Kejadian sampai Wahyu. Alkitab dibuka dengan nikah Adam dan Hawa (mempelai), sampai akhirnya dalam Wahyu 19 ‘berbahagialah yang diundang ke perjamuan kawin’ (ini juga Mempelai). Kabar Mempelai bukan milik satu gereja, apalagi milik Widjaja, tidak! Kabar Mempelai atau Pengajaran Mempelai milik seluruh gereja, karena alkitab adalah milik seluruh gereja. Kita tinggal mau dibukakan (diungkap) atau tidak! Dari Kabar Baik (keselamatan) diungkap, ditingkatkan untuk kesempurnaan. Kalau tidak ada ujung jubah (takhta TUHAN), maka keadaan gereja itu parah (selamat tetapi parah) seperti perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun. Semoga kita dapat mengerti.

Banyak usaha yang dilakukan oleh perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun, tetapi keadaannya semakin memburuk dan habis-habisan (semuanya habis). Namanya orang masih hidup di dunia, boleh saja kalau ada usaha secara manusia, asalkan halal (tidak melawan Firman). Misalnya:

  • kalau sakit, kita berobat ke dokter (jangan ke dukun dll). Kalau usaha yang sesuai dengan Firman, itu boleh.
  • ada usaha untuk menanggulangi ekonomi ; mungkin menambah modal.
  • supaya mendapatkan penghasilan lebih, sekolah lagi ke S2, silahkan saja!

Tetapi kenyataannya, keadaannya semakin buruk dan habis-habisan. Kalau kita hanya mengandalkan sesuatu yang dari dunia untuk menyelesaikan masalah-masalah, maka keadaan kita akan semakin buruk dan habis-habisan. Jangan putus asa, mungkin sekarang ini keadaan rohani semakin buruk, keadaan ekonomi, pelayanan (jemaat banyak yang keluar), kesehatan semakin memburuk dan busuk, tetapi masih ada kesempatan untuk menjamah ujung jubah YESUS, sehingga kita mengalami suasana takhta surga. Menjamah jubah YESUS = mendengar (menerima) dan dengar-dengaran kepada Kabar Mempelai. Banyak usaha yang dilakukan, tetapi jika semakin memburuk, jangan kecewa dan putus asa, sebab masih ada satu yang ditunggu oleh TUHAN, yaitu kita harus menjamah jubah YESUS.

Mari kita dahulukan Dia, jangan membuat Dia menjadi cemburu. Hubungan suami istri (hubungan Kepala dan tubuh) itu tidak boleh diotak-atik. Ini harus diutamakan! Soal ibadah, harus taat dengar-dengaran, soal apapun juga, tetap taat saja, itulah menjamah ujung jubah. Kita tinggal menjamah ujung jubah dan Dia yang melakukan semuanya untuk kita. Untuk menjamah ujung jubah, memang ada prosesnya. Dari sekian banyak (bisa ribuan orang) mengikuti YESUS, coba bagaimana kalau disuruh menjamah ujung jubah YESUS? Disamping itu, perempuan ini sakit pendarahan. Perempuan yang sehat saja kalah kalau dengan laki-laki, apalagi kalau perempuan yang sakit pendarahan.

Proses menjamah ujung jubah:

  1. Tidak berharap lagi kepada apapun yang di dunia dan hanya berharap kepada YESUS. Kalau masih ada harapan untuk pergi ke dokter (dunia), perempuan yang pendarahan ini tidak akan datang kepada YESUS. Karena semuanya sudah tidak bisa, tidak ada harapan lagi pada dunia, baru berharap kepada YESUS. Itulah yang mendorong kita untuk menjamah ujung jubah.


  2. Tidak putus asa saat menghadapi halangan, rintangan, tetapi tekun berusaha untuk bisa mendekati YESUS (menjamah ujung jubah). Tadi saya sudah katakan, mau mendekati untuk menjamah YESUS, ditabrak sana sini, mungkin sampai jatuh, tetapi tidak kecewa. Hari-hari ini kita harus bertekun untuk mendengarkan Firman. ‘Saya belum ditolong, percuma saya datang’ Teruskan saja dan tetap berusaha untuk mendengarkan Firman. Tadi proses pertama ‘hanya berharap kepada YESUS’ = hanya berharap kepada Firman. Kita mendengarkan Firman, supaya ada harapan.


  3. Merendahkan diri (hancur hati), artinya


    • merasa tidak layak = tidak menuntut, malah mengaku banyak kesalahan, kekurangan, dosa-dosa. Sebenarnya kita tidak boleh menuntut, supaya ditolong oleh TUHAN, semestinya => ‘saya berdosa dan saya tidak patut ditolong’. Kemarin saya bersaksi di Malang, di saat-saat TUHAN memberkati saya, saya seringkali menangis => ‘saya tidak patut menerima berkat, masih banyak yang kurang dalam pelayanan’.


    • merasa tidak berdaya, tidak mampu, tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti perempuan yang sakit pendarahan sudah kesana kemari, tetapi tidak tertolong (tidak bisa apa-apa) dan sudah angkat tangan => ‘saya sudah tidak bisa TUHAN’.

Saat sudah tidak layak, tidak mampu berbuat apa-apa, masih ada usaha terakhir yaitu menjamah ujung jubah TUHAN = mendengar dan taat dengar-dengaran kepada Firman pengajaran yang benar (Kabar Mempelai). Disitulah kita dapat mengulurkan tangan (mengangkat tangan) kepada TUHAN dan TUHAN akan mengulurkan Tangan kepada kita semuanya, sehingga mujizat akan terjadi.

Hasilnya adalah

  1. Mazmur 62: 12, 13,
    12. Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa (1) kuasa dari Allah asalnya,
    13. dan dari pada-Mu juga (2) kasih setia, ya TUHAN; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya

    Hasil pertama: kita mengalami belas kasih dan kuasa TUHAN yang bagaikan uluran Dua Tangan TUHAN = Tangan belas kasih dan kuasa TUHAN diulurkan untuk menolong kita, menyelesaikan semua masalah yang mustahil tepat pada waktu-Nya, menyembuhkan penyakit tepat pada waktu-Nya (selesai pendarahan). Perempuan yang sakit pendarahan dua belas tahun = kanker rahim.

    Saat kita menjamah ujung jubah TUHAN/mau mendengar dan dengar-dengaran kepada Firman pengajaran yang benar apapun resikonya (sekalipun tidak masuk akal, jamah saja!) dan tidak ragu sedikitpun, maka saat itu kita mengalami belas kasih dan kuasa TUHAN. Banyak usaha kita, tetapi satu yang ditunggu oleh TUHAN yaitu menjamah ujung jubah-Nya dan jangan ragu sedikitpun.


  2. ujung jubah memenuhi/melingkupi Bait Suci’.
    Jadi, hasil kedua adalah Tangan belas kasih dan kuasa TUHAN diulurkan untuk:


    • memelihara kita ditengah kemustahilan. Sekarang semuanya sulit, tetapi ujung jubah TUHAN dapat menolong kita.
    • melindungi kita dari celaka, marabahaya dalam bentuk apapun di dunia ini, penghukuman TUHAN, neraka, bahkan dari antikrist. Semoga kita dapat mengerti.


    Inilah yang harus kita yakini dengan sungguh-sungguh. Manusia mengatakan => ‘tidak semudah membalik telapak tangan’, Tetapi kalau TUHAN bekerja itu ‘semudah membalik telapak tangan’. Saat menghadapi Lazarus mati, tetapi TUHAN mengatakan => ‘dia sedang tidur dan kita akan bangunkan’ Bayangkan saja, menghadapi orang mati seperti membangunkan orang tidur. Begitu mudah kalau TUHAN Yang bekerja. Kita hanya menjamah ujung jubah dan Dia yang bekerja.


  3. Keluaran 28: 33, Pada ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis itu, dan di antaranya berselang-seling giring-giring emas,

    Ayat 33 => ‘ujung gamis’ => ujung jubah.
    Pada ujung jubah, ada giring-giring emas (lonceng emas) yang merdu bunyinya dan ada buah delima dari kain yang berwarna-warni. Begitu indah ujung jubah TUHAN.

    Hasil ketiga: tangan belas kasih dan kuasa TUHAN diulurkan untuk memberikan masa depan yang berhasil, indah dan bahagia. Dari sakit pendarahan selama dua belas tahun yang tidak indah, busuk, tetapi kalau dapat menjamah ujung jubah TUHAN, maka benar-benar menjadi indah pada waktunya.

    Mungkin anak kita, suami kita dll, busuk (dalam kenajisan), doakan supaya mereka dapat menjamah ujung jubah TUHAN. Sekalipun orang Kristen, sudah percaya YESUS, sudah dibaptis, ataupun yang belum, biarlah kita bawa mereka kepada TUHAN supaya mereka dapat menjamah ujung jubah. Yang busuk, tidak ada harapan, bawalah kepada TUHAN. Kalau tetap tidak mau ke gereja, doakan, berikan majalah manna, dvd, lewat internet. Sudah berpuluh-puluh negara yang sudah membuka internet, yang saya kaget Israel juga banyak yang membuka internet. Mari kita doakan supaya Kabar Mempelai itu secepat kilat (‘seperti kilat dari timur ke barat’). Ini sering diterangkan secara hurufiah => ‘dari sana ke sana’ Saya diam saja, tetapi yang benar ‘dari timur ke barat’ ini tentang Kabar Mempelai (Firman pengajaran yang benar, yang menyatukan bait suci).

    Yang indah adalah kalau bel itu berbunyi (giring-giring emas berbunyi). Bel emas berbunyi artinya penyembahan dalam urapan Roh Kudus, dapat disertai dengan bahasa Roh, hancur hati. Jika kita dapat menyembah TUHAN, itulah hidup kita yang paling indah. Semoga kita dapat mengerti.

    Sampai yang terindah, nanti jika TUHAN datang kembali ke dua kali, kita akan disucikan, diubahkan sampai sempurna seperti Dia dan kita bertemu dengan Dia di awan-awan yang permai. Kita bersama dengan Dia untuk selama-lamanya. Menderita secara jasmani, bagi saya adalah saat tidak bisa tidur. Dulu saya tidak bisa tidur selama tiga hari karena stress, itulah yang paling menderita.Kalau puasa tidak makan, ini sudah biasa, tetapi kalau tidak bisa tidur ini menderita (mau membaca Firman, mau diam terasa tidak enak). Menderita secara rohani adalah saat-saat kita tidak dapat berdoa. Kalau doa kita tidak menyambung dengan TUHAN (kering), itulah penderitaan. Saat kita bisa berdoa dengan urapan Roh Kudus, disertai bahasa Roh, hancur hati, tetesan air mata maka kita akan merasakan takhta TUHAN, itulah yang paling indah. Biarpun saat itu kita berada didalam kondisi seperti perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun, tetapi itulah yang paling indah.

Mari sekarang ini, mungkin sudah banyak usaha kita untuk menanggulangi kehidupan kita di dunia ini (secara jasmani), jangan putus asa kalau usaha kita tidak berhasil, yang TUHAN tunggu hanya satu yaitu jamah ujung jubah TUHAN. Terima Kabar Mempelai, mendengar dan dengar-dengaran (taati) sungguh-sungguh, maka Tangan belas kasih dan kuasa TUHAN bagaikan ujung jubah akan melingkupi kita sekalian:

  • bisa menolong kita,
  • memelihara kita,
  • melindungi kita,
  • sampai menjadikan semuanya indah pada waktunya yaitu:


    • jasmani indah, ada masa depan yang indah.
    • rohani indah, kita dapat menyembah TUHAN (menyerah kepada Dia).
    • sampai yang terindah, saat Dia datang kembali ke dua kali, kita diubahkan menjadi sama mulia dengan Dia, yaitu kita menjadi Mempelai Wanita yang akan terangkat di awan-awan, sampai terangkat di Takhta TUHAN (kita duduk bersanding di Takhta dengan Dia untuk selama-lamanya). Mari jamah ujung jubah-Nya dan semuanya akan indah pada waktu-Nya.

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 23-25 Juli 2019
    (Ibadah Kunjungan di Tana Toraja)

  • 05-09 Agustus 2019
    (Ibadah Kunjungan di India)

  • 20-22 Agustus 2019
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 04-05 September 2019
    (Ibadah Kunjungan di Semarang)

  • 17-19 September 2019
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • 24-25 September 2019
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 13-17 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top