English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu, 24 Februari 2008)
Tayang: 13 Juli 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 09 Maret 2008)
Tayang: 05 Oktober 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 04 November 2007)
Tayang: 05 Juli 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 29 September 2013)
Tayang: 17 Desember 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 16 Desember 2007)
Tayang: 10 Maret 2010
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Senin, 06 Januari 2008)
Tayang: 10 Maret 2010
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 18 Mei 2014)
Tayang: 29 November 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 30 Maret 2014)
Tayang: 19 Juli 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 September 2014)
Tayang: 06 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 31 Agustus 2014)
Tayang: 04 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 Maret 2014)
Tayang: 22 Maret 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 20 Mei 2007)
Tayang: 24 Februari 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 07 Oktober 2007)
Tayang: 01 Maret 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 23 Maret 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 17 Mei 2015

Kita berada dalam Kitab Wahyu 1: 13-16, ini tentang penampilan pribadi YESUS dalam empat keadaan yang sebenarnya:

  • Wahyu 1: 13, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Imam Besar.
  • Wahyu 1: 14, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Raja diatas segala raja.
  • Wahyu 1: 15, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Hakim Yang Adil.
  • Wahyu 1: 16, YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Mempelai Pria Surga. Inilah puncak penampilan YESUS. YESUS sebagai Kepala dan kita sebagai Tubuh Nya (mempelai wanita). Kepala dengan tubuh tidak lagi terpisah untuk selama-lamanya. Inilah puncaknya.

Kita masih berada pada penampilan YESUS yang ketiga (ay 15).
Wahyu 1: 15, Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.

YESUS tampil dalam kemuliaan sebagai Hakim Yang Adil, yang ditandai dengan dua tanda:

  1. ‘kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian’.
    Tembaga itu menunjuk penghakiman atau penghukuman. Nanti di takhta putih Dia akan menghakimi semua manusia. Kalau dosa-dosa belum diselesaikan, maka akan dihakimi/dihukum untuk selama-lamanya. Ini sudah kita pelajari beberapa kali. Semoga kita mengerti.


  2. ‘suara-Nya bagaikan desau air bah’. Ini menunjuk tentang Firman nubuat.

Firman nubuat yaitu:

  • pembukaan rahasia Firman ALLAH yang mengungkapkan dosa-dosa yang tersembunyi dalam sidang jemaat. Kalau ada dosa yang tersembunyi, maka hadirat TUHAN juga tersembunyi, sehingga kehidupan kita kering. Oleh sebab itu dosa-dosa harus diungkapkan dan diselesaikan.


  • pembukaan rahasia Firman ALLAH yang menunjukkan sesuatu yang belum terjadi, tetapi pasti terjadi di akhir zaman, terutama tentang kedatangan YESUS ke dua kali di awan-awan permai dan tentang penghukuman/penghakiman TUHAN atas dunia.

Firman nubuat itu bagaikan desau air bah atau singa mengaum.
Amos 3: 7, 8,
7. Sungguh, TUHAN ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.
8. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? TUHAN ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?"

Ay 7 => TUHAN tidak berbuat sesuatu sebelum Dia memberi tahu kepada para nabi-nabi. Firman yang dipercayakan oleh TUHAN kepada seorang nabi, itulah Firman nubuat.

Jadi, TUHAN tidak berbuat sesuatu sebelum menyatakan keputusan-Nya kepada para nabi (sebelum menyampaikan Firman nubuat). Inilah keadilan TUHAN, Dia memberi tahu terlebih dahulu sebelum berbuat. Jika Dia langsung berbuat begitu saja, ini tidak adil, sebab kita semuanya tidak siap.

Demikian juga sebelum Dia menghukum dunia ini bersama isinya, maka TUHAN sebagai Hakim Yang Adil terlebih dahulu menyatakan keputusan-Nya (penghukuman-Nya) lewat Firman nubuat (pembukaan rahasia Firman) sekaligus memberikan jalan keluar dan tempat pelindungan, supaya kita tidak binasa bersama dunia. Inilah keadilan TUHAN! Contohnya adalah sewaktu pada zaman Nuh. Inilah pentingnya Firman nubuat yang bagaikan singa mengaum (sebenarnya ada ayatnya sendiri), tetapi juga suara TUHAN bagaikan desau air bah. Ini ada kaitannya dengan penghukuman air bah.

Kejadian 6: 5-8,
5. Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
6. maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
7. Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka."
8. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.

Ay 7 => ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara’ => bumi dengan segala isinya.

Mengapa TUHAN menghukum dunia (manusia) dengan air bah? sebab manusia di dunia memiliki hati yang cenderung jahat, yang menghasilkan perbuatan dosa kejahatan dan kenajisan (sedikit-pun tidak ada yang baik). Akibatnya, TUHAN menghukum manusia (dunia) dengan air bah. Sebelum TUHAN menghukum dunia atau manusia dengan air bah, TUHAN terlebih dahulu memberitakan Firman nubuat (‘suara yang bagaikan desau air bah’) kepada manusia di dunia ini lewat nabi Nuh, sekaligus memberikan jalan keluar dan tempat perlindungan yaitu bahtera Nuh. Tujuannya adalah supaya manusia tidak binasa karena hukuman air bah. Semoga kita dapat mengerti.

suara bagaikan desau air bah’ merupakan suara yang lebih kuat dari hukuman air bah itu sendiri, kalau mengikutinya maka akan selamat. Inilah Firman nubuat yang kuat dan keras untuk melindungi manusia pada zaman Nuh dari hukuman air bah. Tetapi sayang dari sekian banyak manusia di dunia hanya Nuh sekeluarga (ay 8) yang mau menerima Firman nubuat (menerima suara bagaikan desau air bah), sehingga mereka masuk bahtera Nuh dan diselamatkan. Ini sama dengan hanya Nuh sekeluarga yang mau menerima kasih karunia, sehingga selamat dari hukuman air bah.

Jadi Firman nubuat (suara bagaikan desau air bah) memang keras, menakutkan, tetapi ini merupakan kasih karunia TUHAN, supaya kita bebas dari hukuman TUHAN. Mari kita berdoa, supaya ada pembukaan Firman. Memang Firman nubuat keras, menggetarkan, tetapi ini maksudnya untuk kita semua diingatkan. Pada zaman Nuh saja, Nuh sudah memberitakan Firman nubuat seperti suara desau air bah, tetapi hanya delapan orang saja yang diselamatkan dari sekian banyak manusia di dunia. Bagaimana lagi kalau Firmannya biasa-biasa saja? Kalau Firman hanya berupa lawakan, dongeng, lalu bagaimana manusia dapat diselamat?

Inilah yang perlu dipertimbangkan, suara bagaikan desau air bah saja tidak dipercaya => ‘tidak ada hujan, tidak ada angin, mengapa harus membuat bahtera? Bahkan mereka mengira Nuh sudah stress dan mereka mengolok-olok’ Nanti juga demikian, banyak yang mengolok-olok Firman nubuat, terutama tentang kedatangan TUHAN yang kedua kali dan tentang penghukuman => ‘mana, semuanya biasa-biasa saja’. Jika memberitakan Firman yang hanya lawak-lawak, maka akan sangat jauh dari keselamatan. Biarlah kita dapat mengerti dengan sungguh-sungguh dihari-hari ini.

Dulu permulaan zaman, dunia dihukum dengan air bah. Nanti pada akhir zaman, dunia akan dihukum dengan api dari langit.

2 Petrus 3: 10, Tetapi hari TUHAN akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

Pada kedatangan TUHAN YESUS ke dua kali, TUHAN menghukum dunia beserta isinya dengan api dari langit sampai semuanya musnah. Supaya kita tidak masuk penghukuman TUHAN, kita harus belajar dari Nuh (Nuh bersama keluarga masuk bahtera Nuh secara jasmani). Sekarang, dunia akan dihukum lagi dengan api dari langit, dan supaya kita tidak mengalami penghukuman/ penghakiman dari TUHAN pada akhir zaman (pada saat kedatangan TUHAN YESUS ke dua kali), maka kita harus masuk bahtera Nuh secara rohani. Semoga kita mengerti.

Pengertian bahtera Nuh secara rohani adalah

  1. Didalam bahtera Nuh ada delapan orang, masing-masing berpasangan (ada empat pasang suami istri). Ini menunjuk kesatuan nikah. Jadi pengertian pertama: kita menjaga kesatuan nikah. Bukan istrinya diluar dan suaminya di dalam bahtera, sebab kalau seperti ini, berarti yang satu mati dan yang satunya lagi selamat.

    Efesus 5: 31, Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

    Ay 31 => ‘sehingga keduanya itu menjadi satu daging’ => inilah kesatuan dalam nikah. Suami istri menjadi satu daging.

    Tujuan menikah adalah untuk menjadi satu daging, bukan untuk maksud yang lain. Contohnya:


    • hamba TUHAN menikah, supaya ada yang main musik (istrinya bisa memainkan musik), bukan inilah tujuan menikah! Sebab yang main musik dapat dilakukan oleh orang lain yang dipakai oleh TUHAN.


    • ada juga yang menyangkut pekerjaan. Gaji saya sekian, lalu mencari pasangan dengan gaji sekian. Setelah itu gajinya dikumpulkan untuk beli rumah dsb. Bukan ini tujuan menikah, tetapi untuk menjadi satu daging.


    Syarat supaya nikah menjadi satu daging adalah


    • nikah harus benar (nikah harus sah), yaitu:


      1. keduanya harus direstui oleh orang tua. ‘laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya‘ ini bukan kawin lari, tetapi ini restu dari orang tua. Kalau tidak direstui jangan dipaksa. Saya tidak mau menikahkan kaum muda kalau tidak direstui oleh orang tua. Jika menikahkan kaum muda yang tidak direstui orang tua = bukan menyatukan, tetapi menceraikan, sebab nikahnya tidak benar (tidak sah).


      2. keduanya direstui oleh pemerintah. Dicatat di catatan sipil.
      3. keduanya direstui oleh TUHAN, yaitu nikah yang sesuai dengan alkitab. Baca alkitab, supaya kita tahu bagaimana menikah itu. Nikah yang sesuai dengan alkitab yaitu nikah yang diteguhkan dan diberkati oleh TUHAN lewat seorang hamba TUHAN (gembala). Jadi nikah harus benar dan suci (bukan nikah yang kaya atau miskin), setelah itu baru bisa diteguhkan dan diberkati oleh seorang hamba TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.


    • terjadi praktik kasih didalam nikah = nikah yang berdasarkan kasih. Kalau tidak ada kasih, maka nikah itu tidak dapat menjadi satu.

      Praktik kasih dalam nikah:


      1. Kolose 3: 18, Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam TUHAN.

        Praktik kasih seorang istri adalah istri tunduk kepada suami sebagaimana seharusnya dalam TUHAN. Jika istri tunduk kepada suami, itu baru memiliki kasih. Kalau hanya memasak, memperhatikan suami dll, ini belum tentu kasih. Ini jangan dibalik, seringkali kasih itu disamakan dengan ‘kasih-kasih’/memberi ini dan itu => ‘kalau dapat kasih/memberi ini, kasih/memberi itu, maka ....’ bukan seperti ini!


      2. Kolose 3: 19, Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

        Praktik kasih seorang suami adalah suami mengasihi istri seperti diri sendiri (dalam kitab Efesus) dan jangan berlaku kasar terhadap istri baik perkataan ataupun perbuatan. Jaga perkataan dan perbuatan! Saya selalu mengatakan => ‘istri itu bagaikan bejana yang lemah’ Seharusnya istri itu sudah tunduk dan tidak perlu bingung. Kalau istri mengakui sebagai bejana tanah liat yang lemah, maka istri akan tunduk kepada suami dan tidak akan melawan. Kalau istri merasa hebat, maka akan melawan. Kalau istri mengaku sebagai bejana tanah liat yang lemah, maka suami akan membawa bejana tanah liat dengan perlahan-lahan, supaya tidak hancur. Tidak ada orang yang membawa bejana tanah liat dengan sembarangan, sebab dapat hancur.

        Jangan saling menyalahkan, tetapi yang ditulis dahulu adalah istri (maaf istri), ini karena istri yang terlebih dahulu bersalah. Kalau istri melawan suami, maka suami tahu kalau bejananya terbuat dari tembaga, sehingga bisa dibanting, ditendang. Kalau istri tunduk kepada suami, maka suami tahu => ‘ini bejana tanah liat’ Sehingga suami pasti akan berhati-hati ; pasti mengasihi istri dan tidak berlaku kasar.

        Kesalahan yang banyak terjadi yaitu istri mau menjadi tembaga, sehingga akan betul-betul dihukum. Istri mau merasa kuat => ‘mau apa suami? penghasilanku lebih besar’ Namanya tembaga, maka suami tidak perlu bingung => ‘tembaga kalau dibanting tidak apa-apa’ Suami tidak akan berlaku halus, tetapi kasar. Mari saling menjaga supaya bisa terjadi praktik kasih dalam nikah.


      3. Kolose 3: 20, Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam TUHAN.

        Praktik kasih dari anak-anak adalah anak taat kepada orang tua = memiliki masa depan yang indah (terjadi keindahan dalam rumah tangga). Kalau anak pandai, bodoh dll, belum tentu memiliki masa depan yang indah.


      4. Kolose 3: 21, Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

        Praktik kasih orang tua adalah jangan menyakiti hati anak-anak (jangan membuat tawar hati anak-anak). Tawar hati = sakit hati, kecewa, dll.

        Kapan anak menjadi tawar hatinya?


        1. kalau orang tua memaksakan kehendaknya kepada anak. Misalnya: kehendak orang tua yang ‘ngawur’, membagi buta, seperti diktaktor => ‘pokoknya harus begini’! orang tua jangan melakukan seperti ini, sebaiknya, kita mendoakan anak-anak, supaya TUHAN yang menolong.


        2. kalau orang tua tidak menegur/menasehati saat anak-anak berbuat salah atau berbuat dosa. Kalau ada anak yang berbuat salah, jangan dibiarkan, sebab di dalam alkitab mengajarkan, kalau anak kecil yang berbuat salah dipukul dengan rotan. Kalau anak sudah besar, ditegur dan dinasehati. Kalau dibiarkan saja, nanti satu waktu akan sakit hati, kecewa => ‘mengapa dulu aku dibiarkan saja’ dan hidupnya akan membabi buta juga. Semoga kita dapat mengerti.


    Kolose 3: 14, Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

    Kalau sudah terjadi praktik kasih dalam nikah, maka kasih TUHAN yang menyatukan dan menyempurnakan, sehingga terjadi kesatuan dalam nikah (suami istri menjadi satu daging, orang tua menjadi satu dengan anak-anak).

    Efesus 5: 32, Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

    Kalau nikah secara jasmani sudah menjadi satu daging/terjadi kesatuan dalam nikah (Efesus 5: 31), maka akan mencapai kesatuan nikah yang lebih besar yaitu kesatuan nikah antara Kristus (Kepala) dengan jemaat (tubuh) = nikah yang rohani (nikah yang sempurna) antara Kristus sebagai Mempelai Pria dengan jemaat sebagai Mempelai Wanita di awan-awan yang permai saat YESUS datang kembali ke dua kali dan kita tidak akan binasa bersama dunia.

    Pada jaman Nuh banyak nikah-nikah yang hancur (suami istri, anak-anak mati semuanya), tetapi nikah Nuh bersama anak-anaknya terjaga oleh TUHAN. Begitu juga di akhir zaman, banyak nikah dan buah nikah yang hancur bersama dunia, tetapi nikah kita berada di awan-awan yang permai, kita akan bersama dengan TUHAN untuk selama-lamanya.

    Inilah masuk dalam bahtera Nuh, sekarang artinya kita harus menjaga kesatuan nikah dengan syarat ; nikah yang benar / nikah yang sah (direstui tiga pihak) dan ada praktik kasih dalam nikah. Nikah yang sudah benar, mari ditambah praktik kasih dalam nikah! Pasti nikah menjadi satu, sempurna dan kita tidak akan binasa bersama dunia. Semoga kita bisa mengerti.


  2. Masuk dalam kesatuan baptisan air.
    1 Petrus 3: 20, 21,
    20. yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
    21. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan--maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah--oleh kebangkitan Yesus Kristus,

    Ay 20 => waktu Nuh mempersiapkan bahtera Nuh sambil memberitakan Firman nubuat yang mengungkapkan apa yang akan terjadi (suara bagaikan desau air bah) => ‘dunia akan dihukum dengan air bah’, Tetapi mereka mengolok-olok => ‘apa itu, tidak ada angin, tidak ada ombak’ Inilah banyak orang yang tidak mau masuk bahtera Nuh (tidak taat).

    Ay 21 => ‘Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan’ => baptisan air.
    maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani’ => kalau membersihkan kenajisan jasmani seperti kita mandi. Tetapi baptisan air ini lain, kita semua tahu bahwa dunia ini diliputi oleh lautan, maka banyak yang membuat rakit dll. Waktu itu banyak bahtera pada zaman Nuh, tetapi hanya satu bahtera (bahtera Nuh) saja yang menyelamatkan, sebab itu jangan salah masuk dalam bahtera. Jika salah masuk dalam bahtera, nanti bisa salah arah dan tidak selamat. Sekarang ini juga, banyak baptisan air yang diciptakan oleh manusia (pendeta, organisasi gereja, menurut logika manusia), tetapi hanya satu saja baptisan air yang benar.

    Apa yang di maksud dengan baptisan air yang benar?


    • baptisan air yang sesuai dengan alkitab (kehendak TUHAN). Sebab itu baca alkitab! Bukan sesuai dengan organisasi gereja (GPT, GPDI, GKJW), bukan juga sesuai dengan pendeta, profesor,


    • kita dibaptis seperti YESUS dibaptis. YESUS sebagai Kepala dan kita sebagai tubuh-Nya, harus satu baptisan. Inilah kesatuan dalam baptisan. Mari kita menjaga kesatuan dalam baptisan.

      Markus 1: 4, demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."


    Syarat baptisan air yang benar adalah bertobat = berhenti berbuat dosa dan kembali kepada TUHAN (mati terhadap dosa). Didalam 1 Petrus 2: 1, bertobat ini istilahnya sama dengan ‘buanglah dosa-dosa‘ Semoga kita dapat mengerti.

    1 Petrus 2: 1, Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

    Bertobat dimulai dengan mati terhadap lima dosa:


    • dosa kejahatan, termasuk juga berhala:


      1. akar kejahatan adalah cinta akan uang, yang membuat kikir dan serakah. Kikir dan serakah itu penyembahan berhala.
      2. termasuk ramalan-ramalan, dukun-dukun, jimat-jimat dsb, ini sudah harus dilepaskan, sehingga bisa bertobat dan masuk dalam baptisan air.
      3. termasuk juga adat istiadat yang tidak sesuai dengan Firman. Bukannya semua adat istiadat tidak boleh dilakukan, nanti kita menjadi tidak tahu adat. Masing-masing suku mempunyai adat, saya tidak mengerti dan saudara yang tahu, mari ditimbang dengan Firman. Misalnya: ada adat, mau menikah, hamil, supaya bisa selamat harus melakukan ini (disiram beras dll). Ini jangan dilakukan sebab adat yang seperti ini tidak sesuai Firman! Sebab penyelamat hanya ada satu itulah YESUS.


    • tipu muslihat, termasuk dusta.
    • segala macam kemunafikan,
    • kedengkian,
    • fitnah.


    Roma 6: 4, Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

    Pelaksanaan baptisan air yang benar adalah orang yang sudah bertobat (mati terhadap dosa) harus dikuburkan bersama YESUS didalam baptisan air dan bangkit bersama YESUS (keluar dari air) untuk mendapatkan hidup baru. YESUS juga dibaptiskan dan keluar dari kuburan air. Kalau dikubur dalam air itu berarti dari ujung rambut sampai ujung kaki masuk dalam air. Inilah menurut alkitab (kita dibaptis seperti YESUS dibaptiskan). Saudara cek di Matius 3 waktu YESUS dibaptis keluar dari air dan keluar dari kuburan air menurut Roma 6: 4. Inilah baptisan air yang benar.

    Hasil baptisan air yang benar adalah hidup baru = hidup surgawi, yaitu mengalami pembaharuan dari hati nurani yang cenderung jahat menjadi hati nurani yang baik (1 Petrus 3: 21). Apa itu hati nurani yang baik (taat)? cenderung berbuat yang benar dan cenderung berbuat baik. Kalau hati nurani jahat, maka cenderung berbuat jahat, najis.

    1 Tawarikh 29: 17,18,
    17. Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita.
    18. Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, bapa-bapa kami, peliharalah untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat-Mu yang demikian ini dan tetaplah tujukan hati mereka kepada-Mu.

    Cenderung berbuat benar, juga cenderung berbuat baik ; berbuat baik untuk pekerjaan TUHAN dan berbuat baik untuk sesama yang membutuhkan. Kita berbuat benar, berbuat baik, berpegang kepada pengajaran yang benar, sampai kita benar seperti YESUS benar. Itulah selamat dan kita tidak akan dihukum.

    1 Yohanes 3: 7, Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;

    Ay 7 => ‘janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu’ => sudah berbuat benar dan baik (sudah tidak lagi berbuat dosa), hati-hati terhadap penyesatan, sebab itu, kita harus berpegang teguh terhadap penyesatan.

    Itu sebabnya kita harus


    • menjaga kesatuan dalam nikah, supaya nikah kita selamat, tidak hancur bersama dunia, tetapi nikah kita diangkat diawan-awan.
    • menjaga kesatuan dalam baptisan, supaya kita masuk dalam baptisan air yang benar Baptisan air itu bukan tata cara gereja, tetapi ini menentukan kita selamat atau tidak! Baptisan air ini juga menentukan apakah kita dapat benar seperti YESUS benar atau tidak! Kalau baptisannya tidak benar, maka kita tidak akan dapat menjadi benar seperti YESUS benar. Jadi, harus sampai benar seperti YESUS benar dan kita diselamatkan dari hukuman.


  3. Kita menjaga kesatuan dalam penggembalaan.
    Waktu Musa naik ke gunung Sinai dan melihat surga, kemudian TUHAN memerintahkan Musa untuk membuat surga di bumi, itulah tabernakel atau kemah suci (Keluaran 25). Bahtera Nuh = tabernakel (kemah suci).

    Kejadian 6: 14-16,
    14. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.
    15. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.
    16. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

    Ay 14 => ‘bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak’ => ‘hendaklah kaubuat’ (dalam terjemahan lama). TUHAN memerintahkan untuk membuat tabernakel ‘hendaklah kaubuat, hendaklah kaubuat’

    Bahtera Nuh = tabernakel:


    • Bahtera Nuh terdiri dari tiga tingkat ; bawah, tengah, atas. Tabernakel juga terdiri dari tiga ruangan ; halaman, ruangan suci dan ruangan maha suci.
    • Pembuatan bahtera Nuh merupakan kehendak TUHAN/sesuai kehendak TUHAN (‘hendaklah kaubuat’). Demikian juga tabernakel, pembuatannya sesuai dengan kehendak TUHAN.


    Dari dua hal ini sudah bisa membuktikan bahwa bahtera Nuh = tabernakel.
    Bahtera Nuh = tabernakel ini menunjuk penggembalaan. Semoga kita dapat mengerti.

    Ukuran tabernakel yaitu


    • panjang 100 hasta,
    • lebar 50 hasta.


    Jadi luasnya = 100 x 50 = 5000 hasta persegi. Angka 5000 ini mengingatkan kita kepada 5000 orang laki-laki yang duduk di rumput. Inilah mantap dalam penggembalaan. Laki-laki ini menunjuk:


    • gembala terlebih dahulu mantap dalam penggembalaan.
    • suami terlebih dahulu mantap dalam penggembalaan, lalu istri dan anak-anak akan mengikutinya.


    Markus 6: 34, 39-41, 44,
    34. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
    39. Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
    40. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
    41. Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
    44. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

    Ay 34 => ‘karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala’ => seperti domba yang tidak tergembala, sehingga cerai berai.
    Ay 41 => ‘lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya’ => sampai berkelimpahan, sisa 12 bakul.

    Jadi lewat pengajaran tabernakel dan pengajaran Mempelai (Kabar Mempelai) kita dipimpin untuk masuk penggembalaan yang benar, yang dimulai dari laki-laki duduk di rumput. Gembala dan suami harus mantap dalam penggembalaan, maka istri dan anak-anak juga akan mantap dalam penggembalaan.

Kalau dulu zaman Israel, penggembalaan = Gosyen (bebas dari hukuman TUHAN). Mesir yang hebat (firaun dengan kerajaannya yang hebat) terkena sepuluh tulah, tetapi Gosyen tempatnya Israel benar-benar dilindungi dari hukuman. Kita berdoa supaya terjadi kesatuan dalam penggembalaan antara suami dan istri (empat pasang nikah). Semuanya ini hanya kasih karunia TUHAN.

Kalau kita dapat masuk:

  • di dalam kesatuan nikah, maka itu merupakan kasih karunia (seperti Nuh mendapatkan kasih karunia),
  • di dalam baptisan air yang benar (kesatuan dalam baptisan) itu merupakan kasih karunia,
  • di dalam kesatuan dalam penggembalaan yang benar itu merupakan kasih karunia. Semoga kita dapat mengerti.

Syarat masuk penggembalaan yang benar (mantap dalam penggembalaan yang benar):

  1. Harus masuk kandang penggembalaan.
    Sesudah baptisan, masuklah dalam penggembalaan (harus mantap dalam penggembalaan).

    Kisah rasul 2: 41, 42,
    41. Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
    42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

    Ay 41 => dibaptiskan air sebanyak tiga ribu jiwa, sesudah itu mau kemana?
    Ay 42 => jaman gereja hujan awal (dua ribu tahun yang lalu), sesudah baptisan, mereka bertekun.

    Jaman gereja hujan awal memiliki tiga macam ketekunan yaitu: persekutuan/ ketekunan dalam pengajaran rasul dan pemecahan roti (perjamuan suci), ketekunan dalam berdoa. Sekarang kepada kita (gereja hujan akhir), ‘tiga macam ketekunan’ ini menunjuk ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.

    Ruangan suci dalam tabernakel = kandang penggembalaan.
    Tiga macam alat dalam ruangan suci (zaman Musa) = 3 macam ketekunan (zaman hujan awal) = ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok (zaman hujan akhir):


    • pelita emas (zaman Musa) = ketekunan dalam persekutuan (zaman hujan awal) = ketekunan dalam ibadah raya pada hari Minggu (zaman hujan akhir).
    • meja roti sajian (zaman Musa) = ketekunan dalam pengajaran dan pemecahan roti (zaman hujan awal) = ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci pada hari Senin disini (zaman hujan akhir).


    • mezbah dupa emas (zaman Musa) = ketekunan dalam berdoa (zaman hujan awal) = ketekunan dalam ibadah doa penyembahan pada hari Rabu disini (zaman hujan akhir).


    Inilah kandang penggembalaan. Jika kita berada di dalam kandang penggembalaan bagaikan duduk diatas rumput(mantap dalam penggembalaan). Perhatikanlah kandang penggembalaan! Tadi lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang. Tidak perlu kuatir kalau kita duduk diatas rumput. Kalau kita yang jalan-jalan, TUHAN yang duduk, sehingga lima roti dua ikan habis.

    Lima roti dua ikan dijilat saja oleh lima ribu orang bisa habis. Tetapi kalau kita mantap/duduk, hasilnya adalah:


    • Tangan kemurahan kebaikan Gembala Agung memeluk kita = memberikan ketenangan, damai sejahtera, sehingga semuanya enak dan ringan. Kalau orang sudah dapat duduk, itu berarti tenang. Kalau tidak tenang, dapat berlari-lari karena dikejar sesuatu (seperti Musa berlari saat dikejar Firaun). Setelah Musa sampai di tepi sumur, Musa duduk-duduk dan datanglah gadis-gadis disitu. Demikian juga soal perjodohan, harus mantap tergembala dulu dan biarlah TUHAN yang mengirim. Jangan kita yang berlari-lari seperti sistem berburu. Duduk saja di tepi sumur (penggembalaan), nanti TUHAN lah yang mengirim semuanya. Saat Adam tidur, TUHAN yang mengirim. Semuanya berada di dalam Tangan TUHAN. Namanya orang sudah duduk, berarti sudah enak sekalipun berjam-jam. Kalau berdiri sambil mengobrol, lama-lama sakit kakinya.


    • Tangan kemurahan kebaikan TUHAN memecahkan roti = sanggup memelihara kehidupan kita, sampai berkelimpahan (sampai mengucap syukur kepada TUHAN). Dia yang bekerja dan kita yang duduk. Lima roti dua ikan untuk lima ribu orang, sisa dua belas bakul, inilah berkelimpahan. Kelimpahan itu bukanlah berapa juta, bukan! Tetapi selalu mengucap syukur kepada TUHAN (tidak ada omelan lagi).


  2. Duduk diatas rumput (masuk dalam penggembalaan) ini ada aturannya, duduknya tidak sembarangan. Aturannya adalah duduknya berkelompok 100 dan berkelompok 50. Tidak boleh kalau berkelompok 105 atau 51. Tadi tabernakel ukurannya, 100 x 50.

    Syarat kedua: harus memiliki ukuran 100 dan 50 (5000 = 100 x 50).
    Angka 100 = 10x10 (angka 10 menunjuk 10 hukum):


    • Angka 10 pertama: mendengarkan Firman,
    • Angka 10 kedua: dengar-dengaran.


    Jadi 100 = 10x10 = mendengar Firman dan dengar-dengaran = taat. Kalau ada pengajaran yang benar, kita cuma mendengar dan berkata => ‘ini hebat, luar biasa, dahsyat’ Tetapi kita tidak mempraktikannya (tidak melakukan), berarti 10x0 = 0 (nol besar). Ini tidak ada artinya atau sia-sia. Kalau melawan Firman pengajaran yang benar; melawan satu kali, berarti -1 (turun satu kali), melawan dua kali, berarti -2. Kalau melawan 10 kali, berarti -100, itulah tempatnya setan-setan dan turun ke lubang yang dalam.

    Tetapi kalau taat; taat satu kali, berarti 10x1 = 10 (naik 10), taat dua kali, berarti 10x2 = 20, sampai 100, itulah tempatnya TUHAN. Jadi 10x10 = taat dengar-dengaran, itulah ukuran tergembala.

    Angka 50 adalah pentakosta, artinya Roh Kudus membuat kita setia dan berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan. Sekali lagi usia bisa tua, daging bisa rapuh, tetapi kalau ada urapan Roh Kudus, kita bisa tetap setia dan berkobar-kobar.

    Jadi, ukuran 100 dan 50 adalah


    • taat dan setia berkobar-kobar. Itulah orang yang tergembala. Mari kita tekun dalam tiga macam ibadah, sehingga kita tenang, damai (tidak berlari kesana kemari) sampai enak ringan dan kita terpelihara. Ada pemecahan roti yang ajaib. Mungkin gaji kita seperti lima roti dua ikan, tetapi tidak akan habis-habis. Inilah keajaiban dan TUHAN akan menolong kita.


    • Syarat kedua adalah taat dan setia (angka 100 dan 50). Sekarang kelompok-kelompok ini ditafsirkan ada kelompok sana, kelompok sana, akhirnya tidak masuk gereja lagi. Ini bukan begitu! Kalau berkelompok harus 100 dan 50. Kalau kelompok-kelompok ada 15, 5, 20, bukan seperti itu! Angka 100 dan 50, merupakan ukuran surga, itulah taat dan setia. Semoga kita dapat mengerti.

      Kalau kita taat dan setia bagaikan mengulurkan dua tangan kepada TUHAN, Gembala Agung dan TUHAN juga akan mengulurkan Tangan kemurahan, kebajikannya kepada kita semuanya, sehingga kita hidup di dalam Tangan TUHAN dan kita menerima kunci Daud. Kemurahan dan kebajikan TUHAN itulah kunci Daud. Semuanya hanya karena kemurahan dan kebajikan TUHAN.

Kakak-kakak Daud hebat, sudah belajar perang dsbnya, tetapi mereka tidak dipilih menjadi raja, Daud lah yang terpilih menjadi raja.

Begitu juga dengan jemaat Filadelfia yang tidak punya apa-apa, kekuatannya kecil. Mungkin kekuatan kita kecil bagaikan lima roti dua ikan, untuk diri sendiri saja cukup. Jangankan memberi makan lima ribu orang, untuk dua orang dewasa saja tidak cukup. Mungkin gaji kecil, ijasah kecil, jemaat kecil, semuanya kecil, yang penting adalah taat dan setia. Seperti Daud yang kecil, tetapi dia taat dan setia, maka dia hidup dalam Tangan kemurahan kebajikan Gembala Agung, ada kunci Daud yang dapat menutup pintu dan juga dapat membuka pintu. Seperti bahtera Nuh, pintunya ditutup oleh TUHAN, sehingga air bah tidak dapat masuk. Kalau bukan TUHAN yang menutup pintu, air bah dapat masuk. Itulah kunci Daud.

Wahyu 3: 7, 8,
7. "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.
8. Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

Ay 8 => ‘Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa’ => kecil.
namun engkau menuruti firman-Ku’ => taat.
engkau tidak menyangkal nama-Ku’ => setia.

Sekali-pun kecil, jika taat dan setia, maka akan hidup di dalam Tangan TUHAN yang besar = Tangan TUHAN yang mengandung kemurahan dan kebajikan yang besar, yang tiada henti-hentinya dan tidak ada habis-habisnya. Mari masuk dalam kandang penggembalaan, lalu taat dan setia, itu sudah cukup! Biarlah Tangan TUHAN yang bekerja.

Tadi pagi ada kesaksian, saya juga berdoa bagi kehidupan seseorang yang sudah dililit hutang sampai hancur-hancuran, dia menghadap saya, lalu berkata => ‘saya sadar oom, saya salah dalam pelayanan, tidak bertekun dalam tiga macam ibadah’ Saya katakan => ‘perbaiki itu sambil usaha kecil-kecilan’ Kalau melihat usaha yang kecil-kecil, seringkali kita bilang => ‘kapan dapat yang banyak’ Itu juga menjadi pikiran saya. Saya berdoa terus => ‘TUHAN tolong’
Satu waktu dia menghadap => oom, ada pekerjaan besar’ Akhirnya kami berdoa terus sampai tembus. Sebentar lagi dia menghadap lagi => ‘aduh, saya tidak dibayar oom’ Lalu kami berdoa lagi di parkiran waktu itu, akhirnya besok sudah gol dan bisa menyelesaikan sebagian yang berat. Hanya dalam sekejap, Tangan kemurahan kebajikan TUHAN yang besar melakukan apa yang tidak dapat kita pikirkan.

Biarpun kecil, tetapi jika taat dan setia, maka hidup dalam tangan kemurahan kebajikan TUHAN yang besar, hasilnya adalah

  1. Tangan kemurahan kebajikan TUHAN menutup pintu yang tidak dapat dibuka oleh apapun.
    Dalam Kejadian 7, saat pintu bahtera Nuh ditutup oleh TUHAN, maka air bah setetespun tidak dapat masuk. Ini luar biasa! Sedangkan yang lainnya menjerit, tenggelam dalam air bah. Semakin kita taat dan setia, semakin erat pelukan Tangan TUHAN, dan semakin rapat pintu tertutup (satu titik air pun tidak dapat masuk). Inilah jaminan dari TUHAN!

    Kejadian 7: 16, Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.

    Pintu bahtera yang ditutup rapat (bagaikan dipeluk erat oleh TUHAN), sampai setetes air bah pun tidak bisa masuk, artinya Tangan kemurahan kebaikan TUHAN memelihara dan melindungi kita dari:


    • celaka, marabahaya, pencobaan-pencobaan, dosa-dosa,
    • sampai zaman antikrist, kita akan dilindungi oleh TUHAN,
    • bahkan kita dilindungi dari hukuman TUHAN ; hukuman di dunia ini, sampai hukuman neraka. Setetes api neraka tidak akan dapat masuk. Kita benar-benar dipeluk erat oleh Tangan kemurahan kebajikan TUHAN.


  2. Tangan kemurahan dan kebajikan TUHAN membuka pintu-pintu bagi kita, artinya:


    • memberikan jalan keluar bagi kita = memberikan kemenangan bagi kita. Seperti Daud menang atas Goliat yang hebat. Ini semua hanya kemurahan kebajikan TUHAN. Pintu kemenangan terbuka = semua masalah diselesaikan, bahkan sampai masalah yang mustahil diselesaikan tepat pada waktu-Nya = ada jalan keluar dari segala masalah. Kita tinggal menunggu waktu TUHAN, kita duduk, biar TUHAN yang bekerja (memecahkan roti untuk memberkati kita, memberi ketenangan, menutup pintu, membuka pintu bagi kita). ‘duduk’ ini bukan berarti sudah tidak bekerja lagi, bukan! Kita tetap bekerja (tetap sekolah, belajar), tetapi kita tidak bergantung lagi pada kekuatan kita yang kecil. Sekalipun kekuatan kita besar, tetapi tetap kecil jika dibandingkan dengan dunia.


    • memberikan pintu masa depan yang berhasil dan indah. Seperti Daud yang dapat diangkat menjadi raja.
    • pintu pengampunan dan pemulihan terbuka bagi kita. Daud sempat jatuh dengan Betsyeba, tetapi diangkat oleh TUHAN. Sekarang ini, kalau ada dosa-dosa, kesalahan, biarlah kita dipulihkan oleh TUHAN.


    • pintu surga terbuka bagi kita, artinya kita disucikan diubahkan sampai sempurna seperti YESUS dan kita terangkat bersama dengan Dia, sampai masuk kerajaan surga untuk selama-lamanya.

Kita jangan terhukum bersama dunia, tetapi dapat masuk kerajaan surga. Oleh sebab itu dengarlah suara desau air bah (Firman nubuat). Firmannya memang keras tetapi untuk menyelamatkan kita dari air bah (dari hukuman TUHAN sekarang, api dari langit, sampai api neraka).

Mari kita masuk dalam:

  • bahtera Nuh secara rohani (dulu dalam arti yang jasmani);
  • kesatuan nikah,
  • kesatuan dalam baptisan air,
  • kesatuan dalam penggembalaan, sehingga kita hidup di dalam Tangan kemurahan dan kebajikan TUHAN.

TUHAN memberkati kita semua.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 26-27 Februari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Batam)

  • 18-19 Maret 2020
    (Ibadah Kunjungan di Palangkaraya)

  • 31 Maret 2020 - 02 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 29 April 2020 - 01 Mei 2020
    (Ibadah Persekutuan di Square Ballroom Surabaya)

  • Agustus 2020
    (Ibadah Kunjungan di Srilangka)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top