English Language | Form Penggembalaan
kebaktian bible study surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Agustus 2007)
Tayang: 31 Agustus 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 Maret 2014)
Tayang: 17 Mei 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 11 Februari 2008)
Tayang: 03 Juni 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 27 Agustus 2007)
Tayang: 21 Desember 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 26 Februari 2007)
Tayang: 11 Juli 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 31 Maret 2014)
Tayang: 19 Juli 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 25 November 2013)
Tayang: 11 Mei 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 26 November 2007)
Tayang: 06 September 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin Sore, 26 Agustus 2013)
Tayang: 29 September 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 14 Juli 2014)
Tayang: 12 Juni 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 September 2007)
Tayang: 21 Desember 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 08 Januari 2007)
Tayang: 28 April 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 30 April 2007)
Tayang: 20 Januari 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Bible Study Surabaya
Tanggal: Senin, 14 Juli 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 12 Juni 2016

Kita tetap berada pada kitab Wahyu 2 dan 3 (saat ini kita belum membaca Wahyu 2 dan 3). Wahyu 2 dan 3, dalam susunan tabernakel menunjuk tujuh percikan darah di depan tabut perjanjian, artinya sekarang penyucian terakhir bagi gereja TUHAN sampai gereja TUHAN menjadi sempurna/tidak bercacat cela seperti YESUS = menjadi Mempelai Wanita Surga yang layak untuk menyambut kedatanganan-Nya ke dua kali di awan-awan permai. YESUS sebagai Kepala (Mempelai Pria Surga) dan kita sebagai tubuh (Mempelai Wanita Surga).

Jadi kita mengalami penyucian sampai dengan penyucian yang terakhir. Nanti di Kitab Wahyu 2 dan 3, tujuh sidang jemaat bangsa kafir terus disucikan sampai sempurna (menjadi Mempelai Wanita yang layak untuk menyambut kedatangan-Nya ke dua kali). Tentu ada penyucian-penyucian sebelum penyucian yang terakhir. Ada empat macam sarana penyucian, antara lain (kemarin sudah dipelajari sampai point ke tiga):

  1. Darah YESUS: penyucian dosa masa lalu. Dosa-dosa yang sudah kita perbuat, katakan, pikirkan (angan-angankan), cara menyelesaikannya yaitu dengan Darah YESUS (mengaku dosa). Contohnya adalah raja Daud. Daud sudah jatuh dalam dosa yang hebat dengan Batsyeba (membunuh suaminya dsb). Tetapi Daud masih tetap mendapatkan kasih setia TUHAN. Daud mengaku dosa, sehingga mendapatkan kasih setia TUHAN dan diampuni dosanya.


  2. Firman penyucian (Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua): penyucian masa sekarang. Dosa-dosa di belakang sudah disucikan, tetapi di depan setan memberi jerat-jerat (tali-tali) dosa. Oleh sebab itu kita memerlukan pedang untuk memutuskan jerat dosa. Jerat dosa bisa bermacam-macam, seperti jerat ajaran palsu, jerat ikatan akan uang (kekayaan), wanita Babel (dosa makan minum dan kawin mengawinkan) dsb. Jerat dosa inilah yang harus diputuskan.

    Contohnya adalah Yusuf. Yusuf diajak berzinah oleh isteri Potifar. Tetapi karena Yusuf mempunyai pedang, dia tidak mau berbuat dosa (tetap bertahan). Akhirnya Yusuf dipenjarakan, tetapi kasih setia TUHAN membuat Yusuf berhasil.


  3. Hajaran. Kalau Firman penyucian ditolak, menjadi cambuk. Sekalipun Firman TUHAN keras, itu merupakan tali kasih TUHAN. Jika ditolak, maka tali-tali dipintal oleh TUHAN menjadi cambuk (hajaran). Kita dihajar supaya kembali kepada kesucian. Contohnya adalah Yunus. Yunus diperintahkan ke Niniwe, tetapi ia lari ke Tarsis. Kelihatannya bagus semuanya, tahu-tahu menghadapi badai dan Yunus tenggelam di dasar lautan. Yunus dihajar dengan keras, tetapi kasih setia TUHAN tidak ditarik oleh TUHAN sehingga Yunus masih ditolong oleh TUHAN.

    Hajaran juga merupakan penyucian masa sekarang. Jadi, penyucian masa lalu dengan Darah YESUS. Penyucian masa sekarang dengan Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua ditambah dengan hajaran. Jika Firman ditolak, maka dihajar oleh TUHAN, supaya kembali kepada kesucian.

Sekarang ini kita belajar yang ke empat: Pengharapan akan kedatangan YESUS yang ke dua kali di awan-awan yang permai: penyucian masa depan (penyucian masa yang akan datang). Masa lalu disucikan, masa sekarang disucikan, dan masa yang akan datang juga disucikan.

1 Yohanes 3: 2, 3,
2. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
3. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Ay 2 => 'Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah' => sudah dibaptis, diberkati, baik.
'bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya' => YESUS datang ke dua kali.
'kita akan menjadi sama seperti Dia' => kita harus menjadi sama seperti Dia; sama suci, sama sempurna.

Ay 3 => 'Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya' => punya pengharapan bahwa kita dapat menyambut kedatangan-Nya ke dua kali dan kita menjadi sempurna seperti Dia. Bagaimana jika kita berharap pada kedatangan YESUS ke dua kali?
'menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci' => kalau mau berbuat dosa, ingat => 'YESUS mau datang yang ke dua kali' Sehingga takut berbuat dosa. Kalau berbuat dosa, nanti ketinggalan saat YESUS datang ke dua kali.

Banyak pengharapan atau cita-cita kita di dunia ini (kuliah, berdagang dll), ini tidak salah! Tetapi semuanya harus memuncak/mengarah pada pengharapan tertinggi yaitu pengharapan akan kedatangan TUHAN YESUS ke dua kali di awan-awan permai, supaya kita dapat terangkat dan hidup kekal bersama dengan Dia selama-lamanya. Kalau kita mempunyai cita-cita (menjadi apa saja, sarjana, pedagang, orang sukses), tetapi ketinggalan saat YESUS datang ke dua kali (tidak punya cita-cita untuk menyambut kedatangan YESUS), semuanya akan sia-sia, hancur dan binasa = tidak ada artinya.
Seperti yang saya sebutkan, kita boleh mempunyai cita-cita apa saja sampai setinggi langit dan saya doakan juga, tetapi harus mengarah kepada pengharapan yang tertinggi (pengharapan akan kedatangan YESUS ke dua kali). Setelah itu cita-cita di dunia baru ada artinya. Kalau tidak demikian, hanya punya cita-cita di dunia => 'luar biasa, kita diberkati dll' Akhirnya ketinggalan saat YESUS datang, berarti sia-sia dan binasa.

Supaya kita bisa berharap kedatangan YESUS ke dua kali (terangkat bersama dengan TUHAN), syaratnya adalah

  1. Roma 8: 25, Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

    Ay 25 => 'Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat' => termasuk kedatangan YESUS yang ke dua kali, ini belum kita lihat, tetapi kita harapkan => 'YESUS mau datang ke dua kali'

    Syarat pertama: ketekunan. Kedatangan YESUS seperti pencuri, kita menunggu-menunggu, lalu mengantuk dan tertidur. Waktu tidur, dan TUHAN datang, kita akan habis. Saya mempunyai pengalaman yang sering saya saksikan. Saat-saat seperti ini (malam-malam menjelang hari raya), saya di desa menjaga ayam dengan teman-teman (main pingpong dll) dari jam delapan malam, sampai jam empat kurang sedikit, lalu kami tidur sebentar. Baru tidur sebentar saja, sudah hilang semuanya. Itulah kalau tidak tekun sedikit saja => 'tidak apa-apa saya tidak setia, tidak tekun sebentar saja' Sudah hilang. Begitulah kedatangan TUHAN, kita tidak bisa berkata => 'masih belum datang, kita malas dulu' Begitu tidur sebentar, YESUS datang, hilang semuanya. Harus menantikan dengan ketekunan.

    Bagaimana kita dapat bertekun?
    Lukas 8: 15,Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

    Ay 15 => ini tentang ketekunan.
    Jadi ketekunan adalah buah dari pemberitaan Firman ALLAH (Firman pengajaran yang benar, benih yang baik dan benar). Ini buah tertinggi, berbuah sampai seratus kali lipat. Ada yang berbuah tiga puluh, enam puluh sampai seratus. Supaya kita dapat berbuah buah ketekunan, maka kita harus memiliki tanah hati yang baik = hati nurani yang baik. Benih atau Firmannya sudah baik dan benar (Firman pengajaran yang benar), tetapi kalau tanahnya tidak baik, tidak dapat berbuah (seperti tiga macam tanah yang lain, tidak berbuah). Benihnya harus benar itulah Firman pengajaran yang benar (jangan yang palsu) dan tanahnya juga harus baik. Kalau saudara membaca dalam Kejadian 6, pada zaman Nuh hati manusia cenderung jahat dan najis. Lalu darimana supaya kita dapat memiliki hati nurani yang baik?

    1 Petrus 3: 20, 21,
    20. yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
    21. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus,

    Ay 20 => pada zaman Nuh hati manusia sampai dengan anak kecil (waktu itu tidak ada anak kecil yang selamat) tidak baik, cenderung jahat dan najis. Hanya delapan orang saja yang masuk dalam bahtera.
    Ay 21 => 'Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan' => baptisan air.

    'maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani' => kalau hanya untuk membersihkan kenajisan jasmani, mandi. Seperti tadi, sebelum berangkat ke gereja mandi dulu, itulah membersihkan kenajisan jasmani. Tapi, kalau baptisan ini lain.

    Jawabannya adalah lewat baptisan air. Baptisan air adalah proses pembaharuan dari hati nurani yang jahat dan najis menjadi hati nurani yang baik. Kita berdoa, nanti pada bulan delapan akan diadakan baptisan air. Saudara yang sudah dibaptis tetap mendengarkan Firman. Yang belum dibaptis juga dengarkan Firman, supaya baptisan itu bukan karena disuruh si A, si B, tetapi disuruh oleh TUHAN lewat dorongan Firman. Baptisan air ini penting. Kalau tidak lahir baru dari baptisan air, hati nurani manusia tetap jahat dan najis. Setelah baptisan air, kita baru memiliki tanah hati yang baik (hati nurani yang baik). Hati nurani yang baik yaitu kita dapat menikmati Firman pengajaran yang benar, yang keras (Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua). Inilah tanah yang dapat ditaburi dengan benih.

    Ada penginjilan/susu => 'saudara selamat, saudara baik' Tetapi ada juga pedang untuk menyucikan kehidupan kita. Kalau hati nurani kita baik, maka kita dapat menikmati Firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua = dapat mendengar dan dengar-dengaran kepada Firman pengajaran yang benar (pedang Firman), sehingga berbuah ketekunan. Ini seperti benih yang ditanam di tanah yang baik. Jika sekarang ini kita dapat menikmati Firman (sekalipun pedang Firman itu tajam) = dapat mendengarkan dan dengar-dengaran (mempraktikkan) pada Firman, maka akan menghasilkan buah ketekunan. Semoga kita dapat mengerti.

    Inilah nomor satu, jadi kalau mau menantikan kedatangan YESUS ke dua kali (berharap akan kedatangan YESUS ke dua kali) dan kita dapat terangkat, mari menanti dengan ketekunan. Ketekunan berasal dari pemberitaan Firman. Harus menyediakan benih yang benar itulah Firman pengajaran yang benar (tugas kami sebagai gembala). Lalu, tugas kita yaitu menyediakan tanah hati yang baik lewat baptisan air. Kalau tanah hati ditaburi, kita dapat mendengar dan dengar-dengaran, maka akan berbuah ketekunan.

    Kisah rasul 2: 41, 42,
    41. Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
    42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

    Ay 41 => setelah dibaptis mempunyai hati nurani yang baik, mau kemana? Banyak orang yang sudah dibaptis => 'luar biasa, sudah hebat' tetapi mau kemana?
    Ay 42 => 'Mereka bertekun' => sesudah baptisan, mempunyai hati nurani yang baik, lalu ditaburi Firman pengajaran (benih yang baik), maka tumbuh ketekunan. Jadi, bukan hanya sampai baptisan air dan baptisan Roh Kudus, lalu sudah selesai (sudah hebat), tidak! Masih harus berbuah ketekunan. Bertekun dalam doa, pengajaran, persekutuan. Sekarang kepada kita, menunjuk ketekunan dalam kandang penggembalaan.

    Musa melihat kerajaan sorga, lalu TUHAN memerintahkan Musa untuk membuat surga di bumi, itulah tabernakel atau kemah suci (mulai Keluaran 25-40 'tentang tabernakel'). Pada tabernakel terdapat halaman, ruangan suci dan ruangan maha suci. Ketekunan itu berada di ruangan suci. Di dalam ruangan suci terdapat tiga macam alat (pada zaman Musa): pelita emas, meja roti sajian dan mezbah dupa emas. Kemudian zaman rasul-rasul (Kisah rasul) atau zaman gereja hujan awal alat-alat di ruangan suci (alat-alat yang dibuat Musa) sudah hancur, tetapi muncul dalam arti yang rohani yaitu:


    • Pelita emas: ketekunan dalam persekutuan,
    • Meja roti sajian: ketekunan dalam pengajaran rasul dan pemecahan roti,
    • Mezbah dupa emas: ketekunan dalam doa.


    Inilah zaman gereja hujan awal (dua ribu tahun yang lalu). Sekarang zaman hujan akhir (kita), artinya:


    • Pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya.
    • Meja roti sajian: ketekunan dalam ibadah pendalaman Alkitab dan perjamuan suci. Roti menunjuk Firman (6.6).
    • Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan.


    Jadi, sesudah baptisan air, mempunyai hati nurani yang baik, ditaburi benih Firman yang baik akan muncul buah ketekunan. Dulu zaman Musa, tiga macam alat dalam ruangan suci, kemudian zaman rasul-rasul (gereja hujan awal) tiga macam ketekunan, sekarang zaman akhir menunjuk ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok. Jadi, berbuah ketekunan pada zaman akhir yaitu ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok = ketekunan dalam ruangan suci = ketekunan dalam kandang penggembalaan.

    Kita harus tergembala dengan benar dan baik. Sebab di alkitab ada gembala yang pandir, gembala pedagang (tidak memberi makan, hanya menjual domba saja). Tugas pertama gembala yang benar adalah memberi makan. Semoga kita dapat mengerti.

    Hanya kehidupan yang memiliki hati nurani yang baik, maka:


    • Bagi domba: dapat tergembala dengan benar dan baik. Tergantung dasarnya, kalau hati nuraninya baik, bisa tergembala dengan benar dan baik.
    • Bagi gembala: dapat menggembalakan dengan benar dan baik. Tidak mencari keuntungan dll.


    Jadi, tergantung hati nuraninya. Kalau hati nuraninya tidak baik, tidak akan dapat menggembalakan dengan baik, menghitung untung ruginya => 'aku harus berkhotbah lagi, rugi' Tetapi kalau hati nurani yang baik, bukan untung-rugi, tetapi sungguh-sungguh tergembala di dalam TUHAN. Demikian juga sidang jemaat. Semoga kita dapat mengerti.

    Kalau keberhasilan pemberitaan Firman pengajaran yang benar hanya sampai kita dapat menangis atau menyesal, itu belum cukup. Keberhasilan pemberitaan Firman ALLAH (Firman pengajaran yang benar) yaitu jika dapat membawa domba-domba masuk ke dalam kandang penggembalaan = masuk ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok (buah ketekunan). Tanah yang baik, menghasilkan buah ketekunan. Semoga kita dapat mengerti.

    Doakan. Disini saat ibadah pendalaman alkitab masih kurang yang datang jika dibandingkan pada saat ibadah raya. Ini masih tugas, yaitu harus banyak memberitakan Firman, sampai berbuah ketekunan (sampai semuanya masuk dalam penggembalaan yang benar dan baik). Sebab, hanya yang berada dalam kandang yang dihitung oleh TUHAN (Yehezkiel 20: 37). Yang diluar kandang, masih terhilang => 'Aku mencari domba-domba terhilang' Ini perlu dicari! Diantara kita, mungkin suami sudah berada di kandang, isteri belum, mari bersaksi dan doakan, supaya jangan terhilang dan semuanya dihitung oleh TUHAN.

    Yehezkiel 20: 37, Aku akan membiarkan kamu lewat dari bawah tongkat gembala-Ku dan memasukkan kamu ke kandang dengan menghitung kamu.

    Ay 37 => 'Aku akan membiarkan kamu lewat dari bawah tongkat gembala-Ku' => Firman penggembalaan.
    Hanya domba yang berada di dalam kandang penggembalaan yang dihitung oleh TUHAN, sehelai rambutpun dihitung. Sehelai rambut artinya kehidupan yang tidak berdaya, tidak berharga, tetapi dihitung oleh TUHAN (diperhatikan dan dimiliki oleh TUHAN). Contohnya: kalau ada sehelai rambut saja yang hilang, tidak akan ada yang pusing, atau membuat pengumuman => 'hilang sehelai rambut' Tidak ada, sebab tidak berharga. Diluar kandang penggembalaan, akan terhilang (sedang dicari oleh TUHAN). Satu keluarga, siapa yang masih di luar kandang? Sedang dicari oleh TUHAN. Mari kita doakan dan bersaksi, sebab banyak jiwa-jiwa yang belum tergembala.

    Lebih banyak pohon ara di tepi jalan daripada pohon ara yang ditanam di kebun anggur (sedikit yang digembalakan). Banyak yang di tepi jalan/terlalu banyak Kristen jalanan (maaf istilahnya kurang baik di telinga), sehingga kering. Itulah tidak tergembala (mulai dari gembalanya tidak mau memberi makan). Masih banyak yang terhilang. Ini menjadi tugas kita untuk bersaksi. Semoga kita dapat mengerti.

    Kalau sudah berada di dalam kandang penggembalaan, sudah menjadi urusan TUHAN. Biar kita seperti sehelai rambut, akan dihitung (menjadi urusan TUHAN). Urusan kita yaitu masuk dalam kandang penggembalaan. Kalau sudah di kandang, menjadi urusan gembala (TUHAN). Contohnya: seperti kalau di desa, kita memiliki kambing lalu dimasukan ke dalam kandang, itu sudah menjadi urusan gembalanya. Mau makan pagi, siang, malam sudah disediakan. Enak! Coba kalau di luar kandang (di hutan), makanannya mencari sendiri, belum lagi kalau bertemu dengan harimau. Tetapi kalau di dalam kandang, tidak perlu pusing, tinggal makan dan tidur (sudah dijamin). Demikian juga kita, kalau berada di dalam kandang. Semuanya menjadi urusan dari TUHAN.

    Ibrani 10: 36-38,
    36. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.
    37. "Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.
    38. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."

    Ay 37 => Dia segera datang, waktunya tinggal sedikit, mari masuk dalam kandang, 'jangan berkeliaran di luar' Jangan menunggu waktu => 'nanti dulu, nanti dulu' Kalau TUHAN sudah datang, tetapi kita masih di luar kandang. Tidak dihitung dan habis (ketinggalan).

    Ay 36 => 'Sebab kamu memerlukan ketekunan' => ini yang perlu digaris bawahi di hati.

    'Sebab kamu memerlukan ketekunan' artinya banyak kebutuhan, keperluan kita di akhir zaman ini (semakin meningkat; harga barang semakin naik, biaya sekolah semakin mahal), tetapi semuanya sudah tercakup atau dipenuhi dalam ketekunan dalam penggembalaan. Jangan takut, memang banyak kebutuhan kita di akhir zaman ini. Dulu pertama kali saya diutus TUHAN di Malang (tahun 1995), saya mengajar kaum muda kitab Keluaran, saya ingat (ini Firman nubuat) => 'nanti sekolah sulit' Seperti Musa ketika ia menghadap firaun, supaya bangsa Israel dapat pergi beribadah, tetapi mereka dikatakan 'pemalas' Dulu jeraminya dari firaun, bangsa Israel tinggal mencetak bata dan membakar. Tetapi sekarang jeraminya tidak diberikan lagi, berarti bangsa Israel harus terlebih dahulu mencari jeraminya, baru mencetak bata. Inilah diperberat!

    Semuanya akan diperberat. Memang banyak keperluan/kebutuhan kita di akhir zaman ini, tetapi semuanya sudah tercakup/dipenuhi oleh ketekunan dalam penggembalaan ('kamu memerlukan ketekunan'). Bersabar, yang penting kita sudah bertekun dan bersungguh-sungguh, nanti kita akan merasakannya. Memang banyak kebutuhan kita, tetapi TUHAN yang menyediakan semuanya di dalam kandang penggembalaan.

    Semuanya sudah tercakup/dipenuhi di dalam ketekunan dalam kandang penggembalaan, sebab:


    • Tangan Gembala Agung sanggup untuk memelihara kehidupan kita, memenuhi kebutuhan kita sampai 'takkan kekurangan aku' Raja Daud mengatakan => 'TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku' Daud tidak mengatakan => 'aku adalah raja, takkan kekurangan aku' Bukan! Tetapi Daud mengatakan 'TUHAN adalah gembalaku' Tidak peduli raja, bukan raja, tidak punya kedudukan, pandai atau bodoh, yang penting adalah 'TUHAN adalah Gembalaku' Kalau kita berada pada ketekunan dalam kandang penggembalaan, maka Tangan Gembala Agung sanggup untuk memenuhi segala kebutuhan/keperluan kita = sanggup untuk memelihara kehidupan kita sampai berkelimpahan ('takkan kekurangan' = berkelimpahan). Berkelimpahan itu bukanlah berapa juta-juta, bukan! Tetapi sampai selalu mengucap syukur kepada TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.


    • Tangan Gembala Agung sanggup untuk memeluk kehidupan kita, supaya kita mantap dalam iman (dalam kebenaran) = bertumbuh dalam iman (dalam kesucian) sampai berbuah kesempurnaan. Dipeluk, jangan sampai lepas. Jangan lepas, kalau lepas, hilang kebenaran. Kalau lepas dari pelukan Tangan Gembala Agung, akan mengikuti dunia. Di akhir zaman ini tidak benar semuanya; mau bekerja tidak benar, bersekolah tidak benar, bahkan sampai di gereja pun tidak benar (maaf). Organisasi gereja tidak benar. Bukan hanya di dunia saja, tetapi sampai di gereja tidak benar (saya sebagai saksinya). Semuanya sudah tidak benar, berani berdusta dll. Apalagi dalam keuangan, banyak yang tidak benar. Biarlah kita dipeluk, supaya mantap dalam iman (mantap dalam kebenaran dan tidak goyah), bertumbuh dalam iman (bertumbuh dalam kebenaran menjadi kesucian) = hidup dalam kesucian, sampai berbuah kesempurnaan. Inilah penggembalaan.


    Kita menantikan atau mengharap kedatangan YESUS ke dua kali, bukan hanya menyanyi => 'kapan YESUS kembali' Tetapi tidak pernah beribadah, bukan demikian. Harus tekun, terutama tekun dalam kandang penggembalaan (ibadah pelayanan). Syarat untuk mengharap kedatangan YESUS ke dua kali, sehingga kita dapat terangkat bersama dengan Dia di awan-awan yang permai (selamanya dan bahagia bersama dengan Dia), nomor satu adalah ketekunan dalam kandang penggembalaan. Sesudah baptisan air, baptisan Roh Kudus, mari masuk kandang.


  2. 1 Yohanes 3: 2, 3,
    2. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
    3. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

    Ay 2 => 'kita akan menjadi sama seperti Dia' => kalau mau menyambut kedatangan TUHAN (mengharapkan kedatangan TUHAN), kita harus sama seperti Dia.

    Syarat kedua: hidup suci seperti YESUS suci, sampai nanti hidup sempurna, seperti YESUS sempurna = sama mulia dengan YESUS. 'Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya' = dalam keadaan kemuliaan (bukan lagi seperti Bayi). Waktu YESUS datang pertama kali memang sebagai Bayi yang tak berdaya, lalu mati di kayu salib, tetapi kedatangan YESUS ke dua kali dalam kemuliaan sebagai Raja, Mempelai Pria Surga. Sebab itu kita harus sama suci, sama sempurna, sama mulia dengan YESUS. Ini tidak boleh ditawar, sebab itu tidak boleh bicara => 'ini hanya dosa sedikit, salah sedikit, hanya beda sedikit' Tidak boleh!

    Karena nanti saat kedatangan YESUS ke dua kali tidak boleh ada cela sedikit saja. Harus sama suci, sama sempurna, sama mulia dengan TUHAN. Tidak boleh menawar => 'hanya sedikit' tetapi harus sama persis. Mari kita belajar. Mengapa kita tidak boleh mengatakan hanya berbeda sedikit, hanya dosa sedikit? Itu tidak boleh, harus persis. Kalau bapak, ibu, saudara membaca pelajaran tabernakel di Keluaran 25, semuanya harus persis. Perak dikumpulkan dari orang-orang berusia dua puluh tahun keatas (membayar setengah sikal perak) untuk membangun tabenakel. Jumlah peraknya semuanya sama persis (ada perhitungannya dan persis). Padahal ini tidak pakai konsultan, tidak pakai perusahaan, tidak memakai alat-alat mesin yang hebat. Saya dulu pernah berbicara dengan konsultan yang bekerja di pabrik emas. Alatnya sudah hebat, modern, dijaga ketat. Karena saya sudah mengajar tabernakel, lalu terbesit kesitu dan bertanya => 'apa ada kebocoran?' Jawabannya => 'pasti ada kebocoran pak Wi' Tetapi pada tabernakel, tidak ada alatnya dll, semuanya persis. Harus sama persis. Semoga kita dapat mengerti.

    Jadi jangan menawar sedikitpun, harus berusaha untuk sama suci, sama sempurna, sama mulia dengan YESUS. Bagaimana kita dapat menjadi suci seperti YESUS suci, sempurna seperti YESUS sempurna, sama mulia dengan Dia? Lewat tujuh kali percikan darah. Ini penyucian terakhir, supaya tidak ada cacat cela sedikitpun, tidak ada kurang sedikitpun (sama suci, sama sempurna dan sama mulia).

    Jadi begitu, kalau mengharapkan kedatangan YESUS ke dua kali di awan-awan (kita terangkat), maka:


    • Kita harus bertekun. Tidak bisa kalau tidak bertekun. Dia datang seperti pencuri, begitu lengah sedikit saja, hilang.
    • Kedua, harus persis sama dengan Dia.


    Imamat 16: 14, Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali.

    Tabut perjanjian merupakan alat yang terdalam. Tabernakel terdiri dari halaman, ruangan suci dan ruangan maha suci. Di ruangan maha suci, terdapat tabut perjanjian. Tabut perjanjian, terdiri dari tutup dengan kerub, peti / tabut.

    Ada dua kali tujuh percikan darah:


    • Tujuh kali percikan darah diatas tutup pendamaian, artinya sengsara YESUS sampai mati di kayu salib untuk menyelamatkan dan menyempurnakan gereja TUHAN (kita semuanya). Keluar darah (YESUS disalibkan sampai mengeluarkan Darah), artinya sengsara. Seandainya YESUS tidak mati, tidak sengsara, kita tidak dapat diselamatkan, berdosa semuanya, najis dan dihukum, tidak dapat menjadi sempurna (tidak dapat menjadi sama suci, sama sempurna, sama mulia). Jadi ada harapan bagi kita untuk selamat dan sempurna.


    • Tujuh kali percikkan darah di depan tabut perjanjian, artinya sengsara yang dialami gereja TUHAN. Tabut atau peti menunjuk gereja TUHAN (terbuat dari kayu). Tutupnya menunjuk TUHAN YESUS (terbuat dari emas semuanya). YESUS sebagai Kepala (Tutup) mengalami sengsara, maka tubuhnya juga harus mengalami sengsara. Tidak mungkin kalau tubuhnya sengsara, lalu Kepalanya bersenang-senang. Coba saudara sakit kepala, tubuhnya tidak mungkin bersenang-senang dan 'mau makan yang banyak' Tidak ada, semuanya akan merasakan sakit.


    Jika digabungkan; jadi gereja TUHAN harus rela mengalami sengsara daging bersama YESUS, untuk mengalami penyucian terakhir sampai sempurna seperti YESUS. Harus sengsara! Kalau dalam ibadah saja, kita tidak mau mengalami sengara => 'aduh, lama sekali ya' Mana bisa kita akan menjadi sempurna.

    YESUS bergumul dari jam berapa? Sampai akhirnya Dia mati di kayu salib (sampai jam tiga sore lagi). Sengsara nya satu malam. Dari taman Getsemani terus sengsara (meneteskan Darah) sampai jam tiga sore, akhirnya Dia mati diatas kayu salib. Sudah berapa jam? Kalau sekali ibadah berapa jam? Kita baru menggunakan waktu tiga jam untuk beribadah, sudah berkata => 'aduh, aduh' Padahal satu hari itu dua puluh empat jam, untuk bekerja berapa jam? Untuk tidur berapa jam? Untuk TUHAN berapa jam? Kalau satu Minggu berapa jam? Untuk TUHAN berapa jam? Coba dihitung. Seringkali kita korupsi, banyak kita gunakan waktu untuk yang lain, bahkan untuk TUHAN sampai tidak ada waktu. Mari, hari-hari ini biarlah kita rela mengalami sengsara daging bersama YESUS, supaya kita mengalami penyucian terakhir, sampai dapat menjadi sempurna seperti Dia. Semoga kita dapat mengerti.

    Mari kita belajar tentang percikan darah (sengsara).
    1 Petrus 4: 12-14,
    12. Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu
    13. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
    14. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

    Ay 12 => 'nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian' => Nyala api siksaan atau ujian = percikan darah = sengsara daging bersama TUHAN.
    Ay 13 => Mengapa harus menderita? Supaya kita mulia seperti Dia (sama suci, sama mulia dan sama sempurna). Kalau tidak menderita, kita tidak akan dapat menjadi mulia, sebab itu harus diajarkan salib (sengsara daging). Sekarang banyak hamba TUHAN yang berpendapat (dengan logika) => 'jemaat di luar sudah sengsara, cari uang susah, bekerja susah, kuliah-sekolah sudah susah. Kalau di gereja diberikan yang susah lagi, kasihan. Di gereja yang enak-enak saja' Ini salah! Harus mau mengalami sengsara, kalau mau sama suci, sama mulia, sama sempurna dengan TUHAN.

    1 Petrus 4: 12-14, ini menunjuk tentang percikan darah = nyala api siksaan = sengsara daging bersama YESUS = ujian. Kalau ada sekolah yang enak-enak, tidak ada ujian, jangan mau. Tidak ada ujian memang enak (tidak perlu belajar), tetapi tidak pernah naik kelas. Sekarang ini juga yang dicari dalam gereja (yang enak-enak). Pendeta juga mau enak-enak => untuk apa saya terus menerus berkhotbah, yang enak-enak saja' Inilah tanpa salib, tanpa percikan darah, lalu mana dapat menjadi sempurna? Kalau tanpa salib, kita dapat menjadi sempurna, maka YESUS tidak perlu disalibkan. Sekarang ini yang dicari di sekolah, di gereja, yang enak-enak (tidak perlu ujian, tidak perlu salib). Harus diuji!

Sekarang ini kita mohon kepada TUHAN, supaya kita dapat mengerti. Dalam ibadah kemarin, sudah dibahas tentang tiga macam penyucian. Semuanya ada kasih setia TUHAN. Daud sudah jatuh, tetapi mau mengaku, ada kasih setia TUHAN. Yusuf bertahan dalam kesucian, ada kasih setia TUHAN. Yunus lari dari TUHAN, lalu dihajar, tetapi masih ada kasih setia TUHAN (Yunus dinaikkan lagi oleh TUHAN). Juga sekarang, dalam percikan darah, ada kasih setia TUHAN di dalamnya. Hati-hati, pemberitaan Firman pengajaran (Firman nubuat) itu langsung dipraktikkan. Saya diyakinkan dengan pemberitaan Firman saat ini => 'memang kita hari-hari ini akan menghadapi tujuh kali percikan darah'

Salah satu bentuk percikan darah: tidak salah disalahkan. Inilah yang akan kita hadapi. Mulai tadi malam, saya sudah menghadapi. Tadi saya bertanya => 'mengapa ya?' Saya menerima pesan singkat tadi malam dan juga tadi siang => 'saya begitu dikata-katain. Saya baru mengerti, pemberitaan Firman tentang percikan darah. Ini sudah pas' Saya bukan marah, tetapi diyakinkan bahwa ini sudah sesuai dengan pemberitaan Firman. Hal ini tidak perlu dibesar-besarkan, saya bersaksi bahwa ini sudah nyata (pemberitaan Firman berasal dari TUHAN dan hari-hari ini kita masuk dalam percikan darah) dan dua saksi sudah cukup bagi saya.

Sengsara daging bersama YESUS/percikkan darah/ujian, menghasilkan dua hal:

  1. Penyucian terakhir dari dosa-dosa yang seringkali tidak disadari. Kita memang sudah disucikan. Dosa yang dulu disucikan oleh Darah YESUS, dosa masa sekarang disucikan oleh pedang Firman dan oleh hajaran. Tetapi seringkali masih tersisa dosa-dosa yang tidak disadari. Disucikan lewat Firman tidak bisa/tidak sadar, sebab itu harus lewat percikan darah. Contohnya adalah Ayub. Ayub itu seorang yang suci, saleh, diberkati, tetapi ada dosa yang tidak ia sadari, sehingga Ayub diijinkan oleh TUHAN menghadapi ujian habis-habisan. Sampai semuanya habis, Ayub baru sadar => 'oh ya aku salah' Itulah percikan darah.

    Saya menerima pesan singkat itu juga dengan mengoreksi diri => 'benar atau tidak, kata-kata orang ini' Periksa diri. Isteri saya juga membaca dan berkata => 'tidak lah'. Bpk pdt Pong terakhir kali (mau meninggal dunia) menelpon kepada isteri saya, beliau mengatakan: papa sudah periksa semuanya, papa tidak salah, sampaikan juga ke pak Wi ya' Inilah percikan darah yang harus kita alami.

    Ayub 1: 1-3,
    1. Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
    2. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
    3. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.

    Ay 1 => 'orang itu saleh' => saleh = suci.
    'orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan' => Ayub luar biasa secara rohani.
    Ay 2 => dalam nikah ia juga diberkati.

    Ayub ini orang yang ideal dan hebat: nikah dan buah nikah diberkati, kehidupannya diberkati sampai menjadi orang yang terkaya. Ini luar biasa, tetapi ada dosa yang tidak disadari sehingga ia diijinkan TUHAN menghadapi ujian habis-habisan (percikan darah) untuk menyucikan dosa yang tidak disadari, yaitu kebenaran diri sendiri.

    Ayub 32: 1, 2,
    1. Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.
    2. Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,

    Ay 1 => 'karena ia menganggap dirinya benar' => Inilah dosa yang tidak disadari; salah tetapi menganggap benar, salah, bahkan menyalahkan orang lain sampai menyalahkan TUHAN => 'Firman TUHAN masa seperti itu'? Inilah kita menyimpan kesalahan.

    Kebenaran diri sendiri artinya:


    • Kebenaran di luar alkitab (di luar Firman). Kita seringkali memakai pendapat orang => 'pendeta tidak mengatakan apa-apa, padahal Firman mengatakan tidak boleh. Ini namanya kebenaran sendiri (yang sering tidak disadari). Ini dapat terjadi karena terkena pengaruh pendapat orang rohani (pendeta) yang umum yang berkata sudah seperti itu sekarang, tidak apa-apa. Kita harus bijaksana. Kalau dalam keadaan terpaksa bagaimana' Padahal Firman mengatakan tidak boleh. Dalam masalah apa saja, masalah dalam pekerjaan, pelayanan, nikah, kalau alkitab mengatakan tidak boleh, tetapi dibilang boleh, itulah kebenaran sendiri yang tidak disadari (sebenarnya dia sudah salah). Ini sering tidak disadari, karena pendapat orang umum. Biar hanya satu orang, tetapi kalau berdasarkan alkitab, itulah yang harus kita pegang.


    • Menutupi dosa dengan cara menyalahkan orang lain dan menyalahkan TUHAN. Tidak mau mengaku dosa, malah menyalahkan orang lain dan menyalahkan TUHAN. Rumus dari bpk pdt Van Gessel => 'kalau kita menuding/menyalahkan orang (jari telunjuk menunjuk orang) dan menyalahkan TUHAN( jari jempol dinaikkan keatas) padahal ketiga jari tangan menunjuk ke arah kita'.


    Inilah kebenaran diri sendiri, tidak sesuai dengan alkitab, tetapi dipertahankan => 'tidak apa-apa, ini sudah zamannya, harus bijaksana dll' Hati-hati orang yang dipakai dan diberkati seringkali seperti Ayub, yaitu mau benar sendiri. Jangan! Mari kita periksa diri. Begitu juga orang yang dalam kegagalan dll, jangan sentuh dia. Kalau diberi nasehat untuk periksa diri, jawabannya => 'tidak bisa' dan menjadi marah. Seringkali saya menemui orang yang dalam kegagalan, juga memakai kebenaran sendiri. Paling banyak yang saya dengar begini => 'ini memang berat oom, kalau oom mengalami ini, oom juga tidak akan kuat' Ini mau dinasehati, malah menasehati. Saya jawab => 'Ya lah, berdoa saja ya' Begitu saja, daripada bertengkar. Jadi sama, orang yang diberkati seperti Ayub, cenderung mau benar sendiri. Tetapi orang yang dalam kegagalan (gagal total), juga dapat memakai kebenaran sendiri.

    Ayub diijinkan TUHAN dipercik darah = mengalami ujian habis-habisan, sampai dia sadar. Ayub akhirnya sadar. Kalau hanya dengan tegoran dll, Ayub tidak sadar, bahkan mengamuk. Tiga teman Ayub sudah berdebat dengan Ayub, begitu ia terkena ujian, maka semuanya sudah selesai.

    Untunglah saat-saat menderita, Ayub masih ingat kasih setia TUHAN => 'TUHAN mengaruniakan hidup dan kasih setia-Nya kepadaku' Kasih setia inilah yang dipertahankan. Daud sudah berzinah dengan Betsyeba, tetapi ada kasih setia TUHAN, sehingga masih tertolong. Ayub mengalami ujian habis-habisan, tetapi dia ingat kasih setia TUHAN, sehingga ia masih bisa bertahan. Sampai Ayub disucikan.

    Kalau kita mengalami ujian/percikan darah/sengsara/penderitaan, mungkin penderitaan dalam bentuk ekonomi, nikah rumah tangga, penyakit, penderitaan dalam bentuk apa saja yang di ijinkan TUHAN, nomor satu adalah ingat kasih setia TUHAN yang tidah pernah berubah.

    Ayub 10: 11, 12,
    11. Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat.
    12. Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.

    Ayub 10 judulnya adalah 'apakah maksud ALLAH dengan penderitaan'
    Ay 11 => semuanya berasal dari TUHAN => 'hidup ku dari TUHAN' Saat kita dalam penderitaan, harus ingat => 'semuanya dari TUHAN' Kita kembali kepada TUHAN.

    Ay 12 => Ayub masih ingat => 'hartaku habis, tetapi nyawaku masih ada. Anak-anak ku habis, tetapi nyawaku masih ada' Ayub terkena penyakit => 'kesehatan ku habis, daging ku habis, tinggal kulit tulang (kurus)' tetapi masih ingat => 'nyawaku masih ada' Inilah kasih setia TUHAN. Dalam menghadapi penderitaan/percikan darah/ujian, jangan putus asa, tetapi kita harus selalu ingat akan kasih setia TUHAN tidak pernah berubah, tidak ditarik dari kita, sehinga kita banyak mengoreksi diri atau memeriksa diri sendiri sampai ditemukan dosa. Ayub merasa benar sendiri. Orang yang benar sendiri itu banyak salah kalau berbicara, sebab itu Ayub berkata => 'aku mencabut perkataanku'

    Ayub 42: 5, 6,
    5. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
    6. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

    Ay 6 => 'Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu' => memeriksa diri sampai mengakui kesalahan.

    Dalam penderitaan kita mengingat kasih setia TUHAN dan memeriksa diri, sampai merasa debu tanah liat => 'aku yang salah, banyak kesalahan dan kekurangan' Terutama kata-kata, banyak yang salah ('aku mencabut perkataanku') Inilah yang menimbulkan kesulitan-kesulitan. Lidah ini menentukan, apakah kita menjadi baik atau tidak baik dalam kehidupan ini? Ke surga atau ke neraka? Di urapi Roh Kudus atau kerasukan setan? Waktu perempuan Kanaan anaknya kerasukan setan, dia datang kepada YESUS, tetapi YESUS berkata => 'tidak patut roti untuk anak-anak, diberikan kepada anjing (bangsa kafir bagaikan anjing)' Tetapi perempuan ini menjawab => 'benar TUHAN, anjing butuh menjilat roti' Biasanya anjing menjilat muntah, tetapi sekarang menjilat roti. Lalu YESUS berkata => 'karena kata-katamu ibu, setan itu sudah keluar' Jadi, karena kata-kata, kita kerasukan setan atau setan keluar (Roh Kudus yang masuk).

    Kata-kata yang salah, dicabut semuanya, sampai tidak salah dalam perkataan. Kebenaran sendiri itu banyak salah dalam kata-kata. Ayub mencabut kata-kata yang salah, maka kasih setia TUHAN memulihkan Ayub dan sampai satu waktu tidak salah lagi dalam perkataan (menjadi sempurna).

    Yakobus 3: 2, Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

    Ay 2 => sampai tak bercacat cela atau sempurna.
    Inilah penyucian oleh percikan darah. Ayub duduk di debu = Ayub mengaku hanya debu tanah liat, banyak kesalahan terutama salah dalam kata-kata. Begitu kita menarik kata-kata yang salah, menarik dosa kebenaran sendiri, maka:


    • Kasih setia TUHAN sanggup untuk memulihkan kita dua kali lipat (Ayub dipulihkan dua kali lipat) yaitu secara jasmani dan secara rohani dipulihkan.
    • Plus, satu waktu percikkan darah itu menghasilkan 'tidak salah lagi dalam perkataan' = sama suci dan sama sempurna seperti YESUS.


    Ini penyucian yang terakhir (memang sakit bagi daging). Kita di ijinkan mengalami ujian habis-habisan sampai tidak ada lagi dosa yang tidak disadari (kebenaran sendiri). Disitulah kasih setia TUHAN memulihkan kita sampai menyempurnakan kita. Ingat baik-baik! Kalau kita masih mau menerima penyucian (lewat Darah YESUS), maka ada kasih setia TUHAN seperti:


    • Daud seharusnya sudah mati, karena berzinah dan membunuh suami orang. Tetapi Daud hancur hati (mengakui kesalahannya), masih ada kasih setia TUHAN.
    • Yusuf digoda oleh isteri Potifar, dia mempertahankan dengan pedang, biarpun Yusuf di penjara, tetapi masih ada kasih setia TUHAN.


    • Yunus lari, lalu dihajar oleh TUHAN sampai di dasar lautan, tetapi Yunus masih sadar dan masih ada kasih setia TUHAN.
    • Ayub sudah di berkati dll, tetapi masih ada dosa yang tidak disadari, sehingga Ayub masuk percikkan darah.


    Jangan takut terhadap sengsara yang akan kita alami. Rumus dari gembala dan guru saya (bpk pdt Pong) => 'kalau memeriksa diri, ditemukan kesalahan, harus mengaku (siapapun dia harus mengaku). Kalau tidak salah, diam saja' Ayub memeriksa diri, ternyata banyak salah dalam perkataan dan ia cabut sehingga di saat itulah kasih setia TUHAN memulihkan Ayub dua kali lipat, sampai sempurna seperti Dia.


  2. Ada Roh Kemuliaan. Dulu saat imam besar Harun masuk ke dalam tabernakel, dari halaman sampai ke ruangan maha suci, begitu dia percikkan dua kali tujuh percikkan darah, maka terjadi awan kemuliaan (shekinah glory). Sekarang istilah dalam surat Petrus adalah Roh Kemuliaan (sama mulia dengan YESUS).

    1 Petrus 4: 14, Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

    Jadi, percikkan darah menghasilkan Roh Kemuliaan untuk mengubahkan kehidupan kita dari manusia daging menjadi manusia mulia seperti YESUS. Kalau YESUS tidak mati di kayu salib, maka YESUS tidak memiliki Tubuh Kemuliaan (tetap manusia daging yang tidak dapat naik ke surga). Tetapi karena Dia mau mati di kayu salib, mengalami tujuh kali percikkan darah, Dia bangkit dalam tubuh kemuliaan dan naik ke surga. Demikian juga kita, kalau kita mau mengalami percikkan darah, maka ada Roh Kemuliaan (shekinah glory) yang mengubahkan kita dari manusia daging menjadi manusia rohani (manusia mulia) seperti YESUS. Keubahan hidup mulai dari apa? Roh Kudus (Roh Kemuliaan) membuat kita kuat dan teguh hati. Supaya kita dapat menantikan (mengharapkan) kedatangan TUHAN yang dibutuhkan adalah kuat dan teguh hati.

    Efesus 3: 16, Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,

    Ay 16 => 'di dalam batinmu' => di dalam hatimu.
    Kuat teguh hati, inilah yang harus kita miliki. Untuk mengharapkan kedatangan TUHAN yang ke dua kali, kita harus kuat, menghadapi apa saja harus kuat, kalau tidak kuat => 'aku malas' Sudah habis! Kalau kuat bisa tekun dan bisa disucikan. Yang dibutuhkan bukan pandai-bodoh, kaya-miskin, tetapi kuat teguh hati.

    Kuat teguh hati artinya:


    • Tetap berpegang teguh pada Firman pengajaran yang benar dan taat dengar-dengaran apapun resikonya. Itulah kemuliaan, YESUS taat sampai mati, kita juga harus taat. Contohnya: Abraham taat kepada TUHAN untuk menyerahkan Ishak (anaknya). Harus taat dengar-dengaran sampai daging tak bersuara apapun resikonya. Kalau tidak cocok dengan pengajaran yang benar, jangan mau! Biarpun yang mengatakan seribu pendeta tetapi kalau tidak cocok dengan pengajaran yang benar, jangan mau! Kalau pengajarannya benar (sesuai dengan alkitab), taati atau praktikkan saja (bukan untuk diperbantah-bantahkan), nanti Tangan TUHAN Yang akan bekerja. Petrus semalam-malaman tidak dapat menangkap ikan. Tetapi siang hari di pantai, TUHAN mengatakan => 'tebarkan jalamu' Akhirnya Petrus menebarkan jalanya. Kita mengatakan => 'jangan dulu, ini di pantai' Seringkali kita begitu, ada Firman tetapi dibahas dulu, akhirnya jawabannya tidak sama dengan Firman (kalau Firman boleh, kita katakan tidak boleh). Kita seringkali terlalu banyak diskusi (Firman bukan untuk didiskusikan). Kalau Firman yang ilmiah memang untuk di diskusikan. Tetapi kalau Firman yang merupakan ilham/wahyu dari TUHAN bukan untuk di diskusikan, tetapi untuk dipraktikkan (taat dengar-dengaran). Setelah Petrus menebarkan jalanya sesuai perintah TUHAN dan Petrus mendapatkan ikan. Tidak tahu dari mana ikannya, sebab itu merupakan tanggung jawab TUHAN. Yang penting, kita dengarkan yang benar, lalu dipraktikkan. Selanjutnya yang bertanggung jawab adalah TUHAN. Tetap hidup dalam kebenaran (hidup dalam kesucian) apapun resikonya.

      Jangan mau digoda. Saat di kantor digoda untuk korupsi, jangan mau. Yusuf digoda oleh isteri Potifar, tidak mau. Harus tetap hidup dalam kebenaran atau dalam kesucian apapun resikonya.


    • Tidak kecewa, tidak putus asa, tidak tinggalkan TUHAN saat menghadapi apa saja, tetapi:


      1. tetap mengucap syukur (berbahagia dalam penderitaan) => 'berbahagialah jika kamu dinista karena nama YESUS (dicela, dihina, tetap berbahagia)' Itulah kuat teguh hati. Dalam dunia ini, berbahagialah jika dipuji-puji dll.


      2. tetap setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN,
      3. tetap percaya dan berharap kepada TUHAN = tetap menyembah TUHAN. Sadrakh, Mesakh, Abednego di perintahkan untuk menyembah patung, kalau tidak mau dimasukkan dalam api. Tetapi mereka tetap menyembah TUHAN. Inilah kuat dan teguh hati. Daniel, mendapatkan perintah untuk menyembah raja, kalau tidak, ia akan dimasukkan dalam gua singa. Tetapi Daniel tetap menyembah ALLAH nya tiga kali sehari. Inilah kuat teguh hati, tidak mau goyah sedikitpun.

Saat penyembahan palsu datang (kalau penyembahannya palsu, berarti pengajarannya juga palsu), Daniel sedikitpun tidak mentolerir => 'sekali ini saja lah, TUHAN tahu saya kepepet. Ini raja, saya sungkan' Tidak mau! Kalau soal berhutang budi kepada raja, Daniel memang berhutang budi (dia orang buangan, lalu diangkat oleh raja, inilah hutang budi yang besar). Tetapi soal pengajaran (soal ibadah dan penyembahan), tunggu dulu!! Kalau kita memiliki hutang budi, mari bayar dengan apa saja. Saya katakan kepada Lempin-El (murid-murid saya) => 'kalau besok, ada orang yang menyumbang untuk pembangunan rumah TUHAN (kamu tidak meminta, tetapi ada orang yang menyumbang), ingat orang itu, doakan. Itulah membayar hutang budi. Kalau orang itu dalam kesulitan, mari kita tolong. Tetapi soal pengajaran, ibadah dan penyembahan, tunggu dulu!!! Jangan karena untuk membalas budi, lalu mengikuti yang lain, jangan! Harus tegas dan kuat-teguh hati.

Kalau Daniel mengatakan => 'satu kali ini saja, aku sungkan kepada raja' Daniel akan habis dan tidak mungkin dipermuliakan. Kalau Sadrakh, Mesakh, Abednego mengatakan => 'kali ini saja lah, aku mengikuti raja, aku sungkan' Tidak akan dipermuliakan. Kita harus bersungguh-sungguh. Ini bukan berarti kita benar sendiri, bukan! Tetapi harus sesuai dengan alkitab. Semoga kita dapat mengerti.

Jika kuat dan teguh hati, hasilnya adalah

  1. Mazmur 27: 14, Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

    Hasil pertama: kita mampu menantikan kedatangan YESUS ke dua kali di awan-awan yang permai. Kita dapat menantikan kedatangan TUHAN bukan karena kekayaan dll, tetapi karena kuat teguh hati. Hati-hati!! menjelang kedatangan TUHAN banyak orang yang letih lesu, banyak teruna-teruna jatuh, banyak sayap yang terkulai (semuanya tak berdaya). Ini karena tidak kuat teguh hati ('loyo').

    Yesaya 40: 29-31,
    29. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
    30. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
    31. tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

    Ay 29 => 'menambah semangat kepada yang tiada berdaya' => seperti sayap sudah terkulai. Mau menantikan TUHAN tetapi sayapnya sudah terkulai ('loyo'), lalu bagaimana dapat terbang? Bagaimana dapat terangkat?

    Ay 30 => 'Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu' => orang muda gambaran dari kekuatan yang paling kuat, tetapi juga menjadi 'loyo'. Kalau di gereja kaum mudanya 'loyo', habislah gereja itu. Sebab itu saya mengikuti nasihat dari guru-guru saya, supaya saya sendiri yang melayani kaum muda (ini secara bergantian, karena saya hanya satu orang dan waktunya juga bersamaan). Kalau kaum muda sudah 'loyo', sudah tidak ada lagi.

    'teruna-teruna jatuh tersandung' => banyak yang tersandung dalam dosa keuangan, dosa perselingkuhan. Banyak yang tersandung menjelang kedatangan TUHAN. Hati-hati, harus kembali kuat teguh hati.

    Hasil pertama, kuat menantikan kedatangan TUHAN YESUS ke dua kali, tetapi hati-hati, sebab banyak yang sudah 'loyo', banyak yang tersandung, banyak yang letih lesu, banyak sayap terkulai. Kalau sekarang ini ada yang sudah putus asa karena penyakit, karena ekonomi, karena dosa, karena rumah tangga, karena apa saja, ada kekuatan baru lewat perjamuan suci (burung nasar itu memakan bangkai, itulah perjamuan suci). Yang sudah loyo (termasuk saya), mari makan perjamuan suci, sehingga kita kuat lagi dalam menantikan kedatangan-Nya ke dua kali. Sekarang ini, kuat lagi (bergairah lagi). Sayap-sayap yang sudah terkulai, tangan-tangan yang sudah loyo, mari angkat lagi lewat perjamuan suci. Ingat korban-Nya, sebab apa yang sudah kita derita, tidak lah sebanding dengan apa yang Dia derita.

    Kaum muda yang sudah loyo, kuat kembali. Kaum muda ini sangat saya perhatikan daftar hadirnya, kalau ada yang berani menulis 'a', saya lingkari dengan benar-benar. Hati-hati, di sekolah saja kita tidak berani menulis 'a', apalagi dalam kerajaan surga, jangan! Saya katakan => 'paling tidak menulis 'i' (ijin)' Bukan tidak boleh ijin, boleh saja, kalau ijinnya baik. Saya berhati-hati untuk kaum muda, saya katakan keras-keras => 'bahaya' Biar dia tahu. Jangan 'loyo', mari semangat. Saya menggunakan waktu untuk memeriksa daftar hadir dan ingin teliti, sebab ini tanggung jawab saya.

    Mari kuat menantikan kedatangan TUHAN ke dua kali, kalau 'loyo' masih ada perjamuan suci. Sebab di dalam perjamuan suci, kita mendapatkan kasih setia TUHAN. Ingat kasih setia TUHAN yang tidak pernah berubah, ada kekuatan baru bagi kita.


  2. 1 Tawarikh 28: 20, Lalu berkatalah Daud kepada Salomo, anaknya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau sampai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah Allah selesai.

    Ay 20 => 'janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau' => kasih setia TUHAN menyertai engkau.

    Hasil kedua: kasih setia TUHAN mampu menyelesaikan segala sesuatu. Salomo ini mendapatkan janji kasih setia TUHAN. Waktu TUHAN datang kepada Daud, Dia mengatakan => 'nanti keturunanmu, kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari dia' Inilah yang dipegang, untuk menyertai Salomo (1 Tawarikh 17: 13). Nanti dalam pembangunan rumah TUHAN juga ada kasih setia TUHAN. Setelah pembangunan rumah TUHAN selesai, mereka menyanyi dan memuji TUHAN => 'bahwa kasih setia TUHAN tidak pernah berubah, kasih setia-Nya untuk selamanya' Inilah yang dipegang oleh Salomo.

    Salomo seorang muda yang tidak berpengalaman. Salomo diperintahkan untuk membangun rumah TUHAN yang besar, dan juga diperintahkan untuk memerintah Israel, sekali-pun ia tidak memiliki pengalaman dan tidak berdaya, tetapi dia memegang kasih setia TUHAN. Demikian juga kita, pegang kasih setia TUHAN, pasti semuanya akan selesai pada waktu-Nya.

    1 Tawarikh 17: 12, 13,
    12. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya.
    13. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau.

    Salomo hanya hidup dari kasih setia TUHAN. Ayub juga mengakui => 'masih untung TUHAN memberikan kasih setia-Nya' Dalam penderitaan Ayub, masih ada kasih setia TUHAN. Salomo sekarang mendapatkan kasih setia TUHAN dan semuanya selesai tepat pada waktunya. Kalau kita kuat taguh hati; berpegang teguh pada pengajaran yang benar, hidup benar, tidak putus asa, setia dalam ibadah, banyak menyembah TUHAN (percaya), maka kasih setia TUHAN menyelesaikan segala sesuatu.

    YESUS sudah meneguk anggur asam bercampur empedu (perjamuan suci). Semuanya yang belum selesai, dosa-dosa yang belum selesai, kepahitan hidup, penderitaan, penyakit yang membuat pahit-getir, apa saja, sudah diteguk oleh YESUS dan Dia berseru => 'sudah selesai' Lalu Dia mati, ini berarti tidak dapat berubah lagi dan semuanya pasti benar-benar selesai pada waktu-Nya. Kecuali setelah berseru 'jangan selesai'. Sekarang ini masalah apa yang belum selesai, biarlah kasih setia TUHAN lewat perjamuan suci menyelesaikan semuanya. Mungkin, penyakit membuat kita menderita, ekonomi membuat kita menderita, dosa membuat kita menderita seperti minum empedu tiap hari => 'hidup saya seperti empedu, ada yang tidak selesai' "Apa yang tidak selesai?" (saudara yang tahu, saya yang tahu, TUHAN yang tahu) serahkanlah kepada Dia, sampai semuanya selesai pada waktu-Nya.

    Kalau dulu pembangunan rumah TUHAN selesai. Sekarang, pembangunan rumah TUHAN (bait ALLAH) yang rohani selesai, yaitu sampai Tubuh Kristus yang sempurna selesai. Jika YESUS datang kembali ke dua kali, Roh Kemuliaan akan mengubahkan kita menjadi sama mulia dengan Dia ('selesai') dan kita dapat terangkat bersama dengan Dia untuk selamanya.

Jangan goyah! Harus kuat dan teguh hati! Apapun yang terjadi, kasih setia TUHAN itu tetap.
Penyucian masa lalu: Daud sudah jatuh, tetapi masih ada kasih setia Tuhan.
Penyucian masa sekarang: Yusuf bertahan, ada kasih setia TUHAN. Yunus sudah lari, dihajar oleh TUHAN sampai di dasar lautan, tetapi masih ada kasih setia TUHAN. Kalau mau disucikan, ada kasih setia TUHAN.
Terakhir, percikkan darah untuk penyucian masa depan: Ayub sudah habis-habisan, tetapi kalau mau kembali pada kesucian, masih ada kasih setia TUHAN.

Demikian juga bagi kita semuanya. Salomo kuat dan teguh hati, sehingga semuanya selesai pada waktu-Nya, sampai sempurna, sama mulia dengan TUHAN. Kita terangkat bersama Dia dan berbahagia untuk selama-lamanya. Ingatlah akan kasih setia TUHAN!

TUHAN memberkati kita semuanya.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 28-30 Januari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 11-12 Februari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Jayapura)

  • 29 April 2020 - 01 Mei 2020
    (Ibadah Persekutuan di Square Ballroom Surabaya)

  • Agustus 2020
    (Ibadah Kunjungan di Srilangka)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top