English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Doa Malang, 03 Juni 2014 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Empat wujud pribadi Yesus dalam kemuliaan [Wahyu 1:13-16]:
[ayat 13]...

Ibadah Doa Puasa Session II Malang, 20 Juli 2010 (Selasa Siang)
Keluaran 29:36-37
29:36 Tiap-tiap hari haruslah engkau mengolah seekor lembu...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 05 Maret 2016 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 9:28-36 tentang Yesus dimuliakan di atas...

Ibadah Kaum Muda Remaja, 29 Januari 2011 (Sabtu Sore)
Markus 15 secara keseluruhan berbicara mengenai sengsara Yesus untuk menyelamatkan, memberkati, bahkan menyelamatkan...

Ibadah Raya Malang, 13 Maret 2016 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 3:14-22 adalah tentang sidang jemaat...

Ibadah Doa Surabaya, 23 Januari 2013 (Rabu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 07 Juni 2009 (Minggu Pagi)
IBADAH PENYERAHAN ANAK
Mazmur 127:3-5, anak adalah upah / anugerah...

Ibadah Raya Surabaya, 3 Juni 2012 (Minggu Sore)
Matius 27:
= dalam Tabernakel, terkena pada 7 kali percikan darah di atas tabut perjanjian/tutup pendamaian= sengsara yang dialami oleh Yesus sampai...

Ibadah Persekutuan II di Tentena-Poso, 24 September 2014 (Rabu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat pagi, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 07 Mei 2017 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 5:5-10
5:5 Lalu berkatalah seorang dari...

Ibadah Doa Malang, 17 Juli 2018 (Selasa Sore)
Rekaman Ibadah Doa di Tentena-Poso.

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Matius 25:6
25:6Waktu...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 10 November 2011 (Kamis Sore)
Matius 26:30-35 adalah PERINGATAN KEPADA PETRUS.

Petrus, rasul yang hebat...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 Agustus 2012 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai sejahtera Tuhan...

Ibadah Raya Surabaya, 24 Juni 2012 (Minggu Sore)
Matius 27:
= dalam Tabernakel, terkena pada 7 kali percikan darah di atas tabut perjanjian/tutup pendamaian= sengsara yang dialami oleh Yesus sampai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 26 September 2013 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Matius 28: 20b
28:20. ... Dan ketahuilah,...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 14 September 2014)
Tayang: 24 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 September 2014)
Tayang: 06 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 03 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 01 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 31 Agustus 2014)
Tayang: 04 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 25 Agustus 2014)
Tayang: 13 Desember 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 18 April 2018 (Rabu Sore)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah kita sekalian.

Kita mempelajari kitab wahyu 7: 9-17.
Wahyu 7 terbagi jadi dua bagian:

  1. Ayat 1-8= seratus empat puluh empat ribu orang dari dua belas suku Israel dimeteraikan; menjadi inti dari mempelai wanita sorga (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 28 Januari 2018 sampai Ibadah Raya Surabaya, 08 April 2018).
    Bangsa Israel menerima meterai di dahi mereka lewat jalur janji Tuhan kepada Abraham dan keturunannya.


  2. Ayat 9-17= bangsa kafir dimeteraikan; menjadi kelengkapan dari mempelai wanita sorga (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 15 April 2018).
    Bangsa kafir tidak bisa menerima meterai lewat jalur janji Allah, tetapi lewat jalur kasih karunia Tuhan yang seharga kurban Kristus.

    Jadi, kasih karunia menyelamatkan, menyucikan, sampai menyempurnakan bangsa kafir untuk menjadi kelengkapan dari mempelai wanita Tuhan (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 15 April 2018).

Keduanya--Israel dan kafir--yang mendapatkan meterai di dahi akan menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna; mempelai wanita sorga yang sempurna, yang siap untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai; masuk perjamuan kawin Anak Domba. Sesudah itu masuk kerajaan Seribu Tahun Damai (Firdaus yang akan datang), dan Yerusalem baru--duduk di takhta sorga.

Wahyu 7: 9
7:9. Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.

'berdiri di hadapan takhta'= sampai di takhta sorga.
Malam ini kita belajar bagaimana proses bangsa kafir bisa sampai ke takhta sorga--dari bumi yang terkutuk bisa sampai ke takhta sorga--:

  1. Wahyu 5: 6-9
    5:6. Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.
    5:7. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.
    5:8. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
    5:9. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

    'Anak Domba seperti telah disembelih'= Yesus yang mati di kayu salib untuk menebus manusia.
    'dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka'=> membeli sama dengan menebus.

    Proses pertama menuju takhta sorga: kita harus mengalami penebusan oleh darah Anak Domba Allah (darah Yesus)--karena di takhta ada seekor Anak Domba seperti telah disembelih.

    Kita bangsa kafir mengalami penebusan dari tabiat kekafiran, yaitu: seperti enam bangsa di Kanaan--dikaitkan dengan bangsa Israel dulu mendapatkan janji Tuhan yaitu tanah Kanaan. Tadinya tanah Kanaan dihuni oleh bangsa kafir; di situ ada enam bangsa yang harus dihalau/diperangi. Dulu enam bangsa kafir, sekarang bagi kita artinya tabiat kekafiran.

    Keluaran 34: 11-12
    34:11. Tetapi engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori(1), orang Kanaan(2), orang Het(3), orang Feris(4), orang Hewi(5) dan orang Yebus(6).
    34:12. Berawas-awaslah, janganlah kauadakan perjanjian dengan penduduk negeri yang kaudatangi itu, supaya jangan mereka menjadi jerat bagimu di tengah-tengahmu.


    • Bangsa Kanaan. Kanaan artinya suka berpindah-pindah= tidak tergembala (liar). Kita harus ditebus untuk menjadi kehidupan yang tergembala.
      Kalau bangsa kafir tidak tergembala, bahaya, akan menjadi keledai liar dan jalang.


    • Bangsa Het. Het artinya ketakutan/kekuatiran. Harus ditebus menjadi ketenangan dan penyerahan.
    • Bangsa Feris. Feris artinya tinggal di gunung yang tinggi= sombong/angkuh, yaitu mengandalkan sesuatu di dunia ini lebih dari Tuhan; mengesampingkan Tuhan/ibadah pelayanan kepada Tuhan.
      Kalau kuliah/bekerja semangat, tetapi untuk ibadah biasa-biasa saja. Itulah tabiat bangsa kafir.

      Bukan tidak boleh punya kepandaian, silakan, tetapi jangan sampai sombong.
      Harus ditebus supaya kita bisa mengutamakan Tuhan.


    • Bangsa Amori. Amori artinya pandai bicara= bersungut dan berbantah-bantah= kebenaran sendiri.
    • Bangsa Hewi. Hewi artinya suka bersembunyi= menyembunyikan dosa-dosa.
    • Bangsa Yebus. Yebus artinya diinjak-injak/hina= hidupnya seperti anjing dan babi; terus berkubang dalam dosa.


    Tadi di takhta ada seekor Anak Domba seperti telah tersembelih, dan darah-Nya membeli kita dari segala suku, bangsa, dan bahasa. Sekarang kita harus mengalami penebusan, terlepas dari enam tabiat kekafiran.

    Kehidupan yang dikuasai oleh enam tabiat kekafiran/daging sama dengan kehidupan yang mengalami penyakit gila babi/sakit ayan rohani.

    Gila babi= bisu tuli.
    Markus 9: 25=> tentang sakit ayan
    9:25. Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!"

    Tuli= tidak mau mendengar dan dengar-dengaran pada firman pengajaran yang benar, tetapi mendengar suara asing, gosip dan lain-lain, atau mau mendengar tetapi tidak taat dengar-dengaran.
    Apa yang didengar ini mempengaruhi kita bertabiat kekafiran atau Tuhan. Kalau mendengar firman, kita akan bertabiat Tuhan; kalau mendengar yang lain, tetap dalam tabiat kekafiran.

    Bisu= apa yang didengar, itulah yang diucapkan= perkataan sia-sia; tidak ada arti rohaninya, yaitu dusta, gosip, fitnah, hujat. Semua ini merupakan perkataan setan yang tidak ada arti rohaninya.

    Orang yang sakit ayan sering diseret ke dalam api dan air, sampai mengalami kutukan dan kebinasaan selama-lamanya--orang sakit ayan kalau jatuh ke dalam air tidak bisa berbuat apa-apa sampai mati, begitu juga kalau masuk di dalam api.
    Markus 9: 22
    9:22. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami."

    Jatuh dalam air= tenggelam dalam kesegaran dunia: pergaulan dunia yang tidak baik dan lain-lain.
    Hati-hati dengan kesegaran dunia: tontonan-tontonan yang tidak baik, pergaulan yang tidak baik.

    Jatuh ke dalam api= terbakar oleh api hawa nafsu daging yaitu benci, amarah, dan dendam, sampai membawa pada dosa makan-minum dan kawin-mengawinkan.

    Oleh sebab itu kita harus ditebus oleh darah Yesus, supaya kita terlepas dari enam tabiat kekafiran, sehingga:


    • Telinga menjadi baik, yaitu bisa mendengar firman pengajaran yang benar dan TAAT dengar-dengaran. Kalau tidak mau mendengar pengajaran yang benar, malah mendengar yang salah, gawat, itu berarti tabiat kekafirannya sudah melekat; ia sudah sakit ayan, tidak sadar lagi, tinggal diseret ke dalam air dan api, ia tenggelam dan dibakar di sana, mengalami kutukan dan kebinasaan selamanya.


    • Mulut menjadi baik= bisa berkata benar dan baik, JUJUR, bersaksi, dan menyembah kepada Tuhan.


    Jadi, kalau ditebus dari enam tabiat kekafiran kita akan menjadi kehidupan yang JUJUR DAN TAAT. Ini yang menuju ke takhta sorga.
    Jujur dan taat, maka semua akan menjadi baik, seperti suasana di takhta, tidak ada yang hancur. Jaga telinga dan mulut!

    Markus 7: 37
    7:37. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

    Kalau hidup kita hancur, periksa telinga dan mulut! Mengapa bisu dan tulis? Karena ada enam tabiat kekafiran. Jaga telinga dan mulut, maka yang hancurpun bisa jadi baik.
    Biarlah malam ini darah Yesus melepaskan kita dari enam tabiat kekafiran. Buktinya: jujur dan taat, dan Tuhan akan menjadikan semua baik; kita berada dalam suasana takhta sorga. Percayalah!


  2. Wahyu 22: 3
    22:3. Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,

    Kita lihat apa yang ada di takhta, itulah yang kita lakukan sekarang, supaya kita bisa menuju takhta sorga. Tadi di takhta sorga ada penebusan, sekarang artinya kita harus mengalami penebusan.

    Proses kedua menuju takhta sorga: harus beribadah dan melayani Tuhan. Kalau sekarang tidak mau ibadah, bagaimana mau bisa menuju takhta?

    Kita tidak dipaksa untuk beribadah, tetapi kesadaran kita mau menuju takhta atau ke mana. Kalau mau menuju takhta, kita harus beribadah melayani Tuhan.

    'tidak akan ada lagi laknat'= tidak akan ada lagi kutukan. Seringkali kita menghina ibadah, padahal di dalam tidak ada lagi kutukan.

    Jadi, lewat ibadah pelayanan yang benar, Tuhan sedang memindahkan kita dari suasana kutukan ke suasana takhta sorga.
    Dunia ini dalam kutukan, tetapi kalau kita beribadah, kita sedang dipindahkan dari kutukan ke suasana takhta sorga. Harus ibadah pelayanan yang benar karena ada yang palsu--'Aku bernubuat, aku mengusir setan--ada pelayanan--, tetapi Tuhan berkata: Enyahlah engkau!'.

    "Jangan sakit hati! Banyak orang yang sakit hati: Kok pengajaran benar, ibadah yang benar. Memang begitu, karena ada yang benar, ada yang tidak benar. Alkitab yang menuliskan. Jangan sembarangan dalam ibadah! Semua harus yang benar."

    Syarat ibadah yang benar untuk bisa memindahkan dari kutukan ke suasana takhta sorga:
    Yeremia 48: 10 48:10. Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!


    • Syarat pertama ibadah yang benar: tidak lalai, tetapi kita beribadah melayani Tuhan dengan SETIA BERKOBAR-KOBAR, sesuai dengan jabatan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita, sampai garis akhir.
      'Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai'= kalau lalai, berarti kita masih terkutuk, belum pindah ke takhta.

      Mulai dari gembalanya harus setia, kalau tidak, bagaimana jemaatnya?
      Kalau lalai/tidak setia, kita ingat kitab wahyu 17: 5, itu sama dengan perempuan pelacur/Babel.

      Jadi kalau tidak setia dalam ibadah pelayanan, ia sedang mengarah pada pembangunan Babel, pelacur besar, mempelai wanita setan yang akan dibinasakan. Kalau gembala tidak setia, jangan ikut-ikut, itu mengarah ke Babel!


    • Syarat kedua ibadah yang benar: harus mengutamakan pedang firman.
      Kalau tidak ada pedang firman, kita akan terkutuk, bukan bersuasana takhta.

      Kita harus mengalami pedang firman; firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua, sehingga terjadi penumpahan darah, artinya kita mengalami sengsara daging untuk DISUCIKAN DAN DIUBAHKAN; yang lama dipotong, dan bangkit yang baru. Kita menjadi manusia baru yang bisa mengarah ke takhta Yerusalem baru.


    Tadi, ketidaksetiaan mengarah ke Babel; mempelai wanita setan yang akan dibinasakan, tetapi kalau setia berkobar-kobar mengarah ke kerajaan sorga; mempelai wanita sorga.

    Ini gunanya ibadah. Kena pedang terus, yang lama dipotong, muncul yang baru, dan kita menjadi manusia baru seperti Yesus.

    Tanda manusia baru--mengarah ke Yerusalem baru--:


    • Wahyu 21: 1
      21:1. Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.

      Tanda pertama manusia baru: laut tidak ada lagi. Artinya tidak boleh ada lagi kebimbangan.

      Yakobus 1: 6
      1:6. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

      Kita tidak ada kebimbangan terhadap firman pengajaran yang benar dan kuasa Tuhan saat menghadapi pencobaan. Jangan mendua hati terutama soal pengajaran! Jangan mendua hati soal pengajaran yang benar! Kalau mendua hati, kita tidak akan tenang.

      Tidak bimbang terhadap pengajaran yang benar=


      • Tegas untuk berpegang teguh pada pengajaran yang benar, dan taat dengar-dengaran.
      • Tegas untuk menolak pengajaran yang salah.


      Jangan terpengaruh ajaran palsu, termasuk gosip!

      "Gosip itu benar-benar dahsyat. Kami sampai kaget mendengar di satu tempat: 'Pak, saya mau tergembala, tetapi saya takut.': 'Kenapa?': 'Kalau meninggal dunia, katanya bapak melayaninya pakai laptop, bapak di Malang, yang di kuburan pakai laptop untuk siaran langsung.': 'Siapa yang bilang, bu?': 'Iya, orang-orang yang bilang.' Bayangkan! Saya mau pingsan. Terlalu sekali ini, sampai bimbang dia, dan malam itu dia tanya ke saya: 'Katanya ibu itu, waktu meninggal dunia bapak tidak datang tetapi dari jarak jauh, suruh pasang laptop di kuburan.': 'Saya mau datang, bu, jangankan hanya di dalam negeri, kalau tidak bertepatan dengan KKR, biar di luar negeri saya datang, karena memang tugas saya sebagai gembala, tidak masalah.': 'Oh, katanya pakai laptop.': 'Bukan, saya doakan keluarganya waktu itu saat mau perjalanan karena waktu tidak memungkinkan lagi.' Tidak apa-apa doa jarak jauh, tetapi tidak pakai laptop. Yang ikut menguburkan waktu itu berkata: 'Di situ desa, tidak ada internetnya, pak.' Waktu itu kesalahan dari keluarganya. Saya seharusnya sudah berangkat hari apa, sudah merubah jadwal, tetapi dia berubah lagi jadwalnya. Saya sudah tidak bisa lagi karena saat itu liburan panjang, kalaupun ada pesawat, tidak mungkin ke desa. Saya tidak bisa datang tetapi digantikan oleh murid saya. Dia ngotot harus jam sekian. Saya tidak bisa. Sudah sepakat semua, besok paginya saya jelaskan. Itulah gosip, sampai membuat orang lain goyah; senang pengajaran tetapi goyah karena gosip. Saya sampai kaget kok bisa sampai sejauh itu gosipnya. Ini cerita supaya kita hati-hati. Kalau saya salah, saya harus mengaku."

      Tidak bimbang terhadap kuasa Allah= tidak berharap pada yang lain, tetapi hanya berharap pada Tuhan.

      Akibat bimbang:


      • Tidak tenang hidupnya; hidupnya letih lesu, beban berat. Jangan bimbang! Bukan berarti di sini yang benar, tetapi alkitab yang benar. Kalau tidak cocok dengan alkitab, sedikit saja tidak benar, sudah lain arahnya.

        Yakobus 1: 8
        1:8. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.


      • Tidak mendapat apa-apa; gagal total; tidak bisa jalan, malah tenggelam, sampai binasa selamanya.
        Yakobus 1: 7
        1:7. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

        Kalau hamba Tuhan bimbang, menjala ikan tidak akan dapat apa-apa, artinya: tidak dapat jiwa-jiwa, malah lari.
        Petrus hebat, tetapi karena bimbang ia tenggelam.


      Biarlah kita sekarang tidak bimbang lagi. Tuhan tolong kita.
      Kalau kita tidak bimbang terhadap firman pengajaran yang benar dan kuasa Tuhan, di situlah pertolongan Tuhan nyata atas kita.


    • Wahyu 21: 4
      21:4. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

      Tanda kedua manusia baru: maut tidak akan ada lagi. Artinya: tidak ada lagi kebencian, apalagi kebencian tanpa alasan.

      1 Yohanes 3: 14
      3:14. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

      Kita saling mengasihi sampai mengasihi musuh. Kita benar-benar menjadi manusia baru. Kalau ada kasih, air mata mulai dihapus.

      Kalau benci, banyak air mata. Esau dendam terus pada Yakub, sehingga ia mencucurkan air mata.


    • Wahyu 22: 3
      22:3. Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,

      Tanda ketiga manusia baru: tidak ada lagi laknat/kutukan--tadi, kutukan dikaitkan dengan kelalaian. Artinya: setia.

      Kalau kita sudah setia, kita mulai berpindah dari kutukan ke suasana takhta sorga.


    • Wahyu 22: 5
      22:5. Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

      Tanda keempat manusia baru: tidak ada lagi malam. Artinya: tidak ada lagi sandungan--kalau gelap gampang tersandung.

      Yohanes 11: 10
      11:10. Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya."

      Kita tidak gampang tersandung dan tidak menjadi sandungan.
      Banyak orang yang gampang tersandung, dan biasanya yang diancam adalah soal ibadah: Aku tidak mau lagi ibadah, percuma. Jangan!


    Kita harus mengutamakan pedang firman sehingga kita menjadi manusia baru: setia berkobar, dan disucikan dan diubahkan.
    Kalau tidak mengutamakan firman, tidak akan bisa suci; hidupnya tidak bisa berubah. Hati-hati, ada ibadah tanpa pedang firman--'menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah.'

    2 Timotius 3: 1-5

    3:1. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
    3:2. Manusia akan mencintai dirinya sendiri(1) dan menjadi hamba uang(2). Mereka akan membual(3) dan menyombongkan diri(4), mereka akan menjadi pemfitnah(5), mereka akan berontak terhadap orang tua(6) dan tidak tahu berterima kasih(7), tidak mempedulikan agama(8),
    3:3. tidak tahu mengasihi(9), tidak mau berdamai(10), suka menjelekkan orang(11), tidak dapat mengekang diri(12), garang(13), tidak suka yang baik(14),
    3:4. suka mengkhianat(15), tidak berpikir panjang(16), berlagak tahu(17), lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah(18).
    3:5. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

    'lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah'= tidak taat.

    Ibadah pelayanan palsu adalah ibadah pelayanan yang menolak kuasa ibadah yaitu darah/salib dan pedang; tidak ada penyucian, pembaharuan, dan sengsara daging. Salib dan pedang tidak bisa dipisahkan. Kalau tidak mau pedang, pasti tidak mau salib, begitu juga sebaliknya.
    Ibadahnya hanya kebiasaan, artinya:


    • Suam-suam.
    • Tidak sampai di dalam hati--Tuhan berkata: 'Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku'. Penuh dengan kemunafikan; menyembunyikan 'sesuatu' yang tidak baik--menyembunyikan kebusukan seperti kuburan.


    • Tidak suci dan tidak mengalami keubahan; tetap manusia darah daging yang berdosa, yang mempertahankan delapan belas sifat tabiat daging sehingga dicap 666.


    Kalau tidak ada pedang, ibadah akan mengarah pada antikris, bukan meterai Allah; jadi sama dengan antikris yang akan dibinasakan.
    Tadi kalau tidak setia, akan mengarah pada Babel, pelacur besar.

    Jadi, ibadah harus yang benar, yaitu setia dan ada penumpahan darah--ada penyaliban daging/pedang firman. Itu yang benar, sehingga terjadi penyucian dan pembaharuan.

    Ibadah pelayanan yang benar--dengan tanda SETIA-BERKOBAR-KOBAR DAN SUCI-DIUBAHKAN akan menghasilkan dua hal:


    • Kita menjadi biji mata Tuhan sendiri--kesayangan Tuhan--; kita menjadi pelayan bagaikan nyala api, dan mata Tuhan bagaikan nyala api.
      Ibrani 1: 7
      1:7. Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api."

      Wahyu 1: 14
      1:14. Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.

      Kita dipelihara, dilindungi, dan dibela secara khusus oleh Tuhan. Tidak usah takut!


    • Kita mengalami kepuasan sorga. Kalau ibadahnya hanya kebiasaan--tidak setia dan tidak ada pedang--, tidak akan ada kepuasan sorga, sehingga kepuasan dunia dimasukkan dalam gereja.

      Ibadah yang disertai kepuasan sorga akan memberikan keuntungan besar, itulah dua sayap burung nasar yang besar.
      1 Timotius 6: 6
      6:6. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

      Wahyu 12: 14
      12:14. Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.

      Kita tidak mencari kepuasan di dunia, dan tidak jatuh dalam dosa.
      Firman--pedang--dan kesetiaan--buah Roh Kudus--menjadi dua sayap burung nasar yang besar, yang menyingkirkan kita ke padang gurun, jauh dari mata antikris. Kita dipelihara dan dilindungi secara langsung oleh Tuhan lewat firman dan perjamuan suci selama tiga setengah tahun.


    Andalkan dan utamakan pedang--penyucian dan pembaharuan--dan Roh Kudus--kesetiaan--dalam ibadah!
    Ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci adalah latihan menyingkir ke padang gurun dan latihan terangkat ke takhta sorga--dua sayap burung nasar juga menaikkan kita ke sorga.

    Antikris akan semakin berkuasa, semua sudah semakin sulit di dunia. Karena itu kita mengimbangi dengan jalan semakin hari kita harus semakin disucikan dan diubahkan, dan semakin setia berkobar, supaya dua sayap kita juga semakin besar.

    Bukti dua sayap semakin besar: kita semakin tidak bergantung pada dunia, tetapi kita lebih mengutamakan Tuhan, sampai saat antikris berkuasa seratus persen, sayap kita juga sudah seratus persen; kita sama sekali tidak bergantung pada dunia, dan kita ada di padang gurun, siap menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali di awan-awan yang permai. Mari sungguh-sungguh!

    "Mohon maaf. Kemarin saya bertemu pendeta di Medan yang punya gereja besar. Dia mengeluh karena penghasilan merosot; turun lima puluh persen. Itu akibatnya kalau mengandalkan perempuan--ada perempuan didukung oleh naga/antikris. Kita harus didukung oleh dua sayap burung nasar, tidak akan pernah berkekurangan, tetapi selalu surplus. Saya kaget, bukan menghina, ternyata gereja juga merosot. Ini istilah-istilah yang saya dengar, yang membuat saya geleng-geleng kepala."

    Mari, caranya hanya itu saja yaitu lebih setia, lebih suci, dan lebih diubahkan. Kita lebih mengutamakan Tuhan.
    Bukan berarti kita semua berhenti bekerja dan jual semuanya, itu ajaran palsu, tetapi tetap lebih utamakan Tuhan. Jangan jadikan berkat Tuhan sebagai godaan! Berkat jadi godaan kalau dengan berkat itu kita malah menjauh dari Tuhan. Tetapi kalau dengar berkat kita lebih setia, itu benar-benar berkat yang tidak akan pernah surut; berkat yang berkesinambungan sampai Tuhan datang.

    Inilah proses menuju ke takhta sorga: harus mengalami penebusan dari enam tabiat kekafiran. Kalau ada enam tabiat daging--ada satu saja--, sudah bisu tuli. Kalau sudah tuli, perkataannya juga akan salah--bisu--; diseret ke dalam air dan api--terbakar dalam api hawa nafsu daging sampai puncaknya dosa--, dan binasa.
    Kalau ditebus, hidupnya mulai benar: telinganya baik--mendengar pengajaran yang benar dan taat dengar-dengaran--dan mulutnya baik--jujur. Jujur dan taat, maka semua akan menjadi baik; bersuasana takhta. Percayalah! Kalau kita jujur dan taat, Tuhan akan bertindak, cepat atau lambat semua akan menjadi baik. Tuhan tidak pernah menipu kita!

    Kemudian, ada pedang (suci) dan kesetiaan (setia berkobar), dua sayap burung nasar yang besar Tuhan janjikan kepada kita. Biar dunia diambrukkan oleh antikris, kita sudah memiliki dua sayap burung nasar yang besar. Tuhan yang memelihara kita.


  3. Wahyu 5: 8-9
    5:8. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
    5:9. Dan mereka
    menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

    Proses ketiga menuju takhta sorga: harus menyembah Tuhan dengan nyanyian baru. Disucikan dan dibaharui, itulah nyanyian baru.

    Wahyu 14: 2-3
    14:2. Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.
    14:3. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.

    Di sini nyanyian baru seperti desau air bah, itulah DOA PENYEMBAHAN.
    Wahyu 19: 6-7
    19:6. Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
    19:7. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

    Jadi menyembah Tuhan dengan nyanyian baru= menyembah Tuhan dalam kemuliaan sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga dengan suara: Haleluya.

    Itulah perjalanan ke takhta. Kalau tidak mau menyembah dengan Haleluya, perjalanannya ke arah yang lain, yaitu kebinasaan. Nanti ada dua himpunan suara:


    • Yang ke atas--perjalanan ke takhta (yang sekarang mau menerima pedang/penyucian)--dengan suara: Haleluya.
    • Yang di bumi (sekarang tidak mau menerima pedang penyucian) akan menerima pedang penghukuman--terjadi seruan yang hebat seperti dulu terjadi di Mesir. Waktu Israel keluar dari Mesir, mereka bersorak-sorai, tetapi di Mesir sendiri terjadi seruan yang hebat karena kematian anak sulung.


    Mari tentukan perjalanan kita, mau ke takhta atau ke mana? Himpunannya di mana; fellowshipnya di mana? Fellowship mempelai dengan suara Haleluya atau fellowship suara lain? Itu yang menentukan kita jalan ke takhta atau ke lainnya.

    Doakan mulai dari penggembalaan dan fellowship jangan sampai mengajak orang lain menyimpang dari takhta sorga. Sudah ke takhta, menyimpang lagi, susah lagi. Takutnya tidak bisa kembali lagi. Bahaya! Esau meletakkan pakaiannya, setelah diambil orang lain, habislah dia.

    Kalau ke takhta kita akan semakin mengakui Tuhan. Kalau perjalanan kita ke takhta, kita mengalami penebusan--jujur dan taat--, semua jadi baik; kita bisa merasakan hidup kita semakin baik. Kemudian suci dan setia berkobar, hidup kita terasa semakin ringan karena sayap semakin besar. Harus kita rasakan, itu bukti ke menuju ke takhta sorga. Sungguh-sungguh!

    Jangan bimbang! Tegas hari-hari ini! Bukan sok benar, tetapi alkitab inlah kebenaran.

    Menyembah Yesus dalam kemuliaan sebagai Raja sama seperti penyembahan di atas gunung--tiga murid diajak ke atas gunung dan tiba-tiba Yesus berubah, muka-Nya bercahaya bagaikan matahari dan pakaian-Nya putih.
    2 Petrus 1: 16-18
    1:16. Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.
    1:17. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
    1:18. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia
    di atas gunung yang kudus.

    Kalau ayat diterangkan ayat, tidak abstrak tetapi semakin pasti dan jelas. Penyembahan dengan Haleluya sama dengan penyembahan di atas gunung yang tinggi.
    Kita menyembah Yesus Sang Raja dengan: Haleluya;


    • Mata kita memandang wajah-Nya yang mulia,
    • tangan kita diulurkan untuk menyerah kepada Dia,
    • dan mulut menyeru: Haleluya


    Itulah penyembahan kepada Yesus.
    Tadi nyanyian baru itu tidak bisa dipelajari oleh orang lain, tetapi secara pribadi. Mengapa begitu? Karena merupakan pengalaman. Mungkin yang lain sedang senang hari ini, tetapi kita lagi sakit--ada di lembah--, sudah beda suaranya.

    BIARKAN DIA BEKERJA DENGAN CARA-NYA SENDIRI.

    Apa keadaan kita malam ini, pandang Dia sampai Dia menyinarkan matahari: perisai, kemuliaan, kemurahan dan kebaikan-Nya kepada kita.
    Hasilnya:
    Mazmur 84: 12
    84:12. Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.

    (terjemahan lama)
    84:12. Karena Tuhan Allah bagaikan matahari dan perisai; Tuhanpun akan mengaruniakan
    anugerah dan kemuliaan, tiada Ia akan menahankan kebajikan dari pada orang yang berjalan dengan tulus hatinya.

    'tidak bercela'= jujur/tulus hati.
    'matahari dan perisai'= matahari sebagai perisai.
    'kebajikan'= matahari sebagai kemurahan dan kebajikan.
    'kemuliaan'= matahari sebagai kemuliaan Tuhan.


    • Hasil pertama: matahari sebagai perisai untuk melindungi kita dari:


      • Dosa-dosa sampai puncaknya dosa sehingga kita hidup benar dan suci.
        Pandang Tuhan, banyak menyembah Tuhan sampai matahari disinarkan! Dosa dibakar semua, dan kita bisa hidup benar dan suci.


      • Ajaran palsu, termasuk gosip.
      • Celaka marabahaya yang tidak terduga--maut hanya satu langkah jaraknya dengan kita--, antikris, dan penghukuman Tuhan, sehingga kita mengalami damai sejahtera, semua enak dan ringan; wajah berseri malam ini.


    • Hasil kedua: matahari sebagai kemurahan dan kebajikan Tuhan untuk memelihara kita di tengah kesulitan dunia, menghadapi mendung yang kelam dan hujan lebat (pencobaan-pencobaan).
      Mendung, hujat lebat ditambah matahari= pelangi kemurahan dan kebajikan Tuhan untuk menolong kita, menyelesaikan masalah, mengangkat kita dari kejatuhan dosa untuk dipulihkan, mengangkat dari kegagalan jadi berhasil dan baik, yang mustahil jadi tidak mustahil.

      Kalau tidak ada kemurahan dan kebajikan Tuhan, Daud akan hancur dan gagal total saat jatuh dengan Batsyeba. Bukan saya setuju, tetapi kalau sudah terlanjur jatuh sampai malam ini, masih ada kesempatan, berhenti, pandang wajah Yesus, dan biarkan Dia yang mengangkat hidup kita.

      Kejatuhan dan kegagalan tidak bisa dipisahkan. Kalau diangkat dari kejatuhan, kegagalan juga akan diangkat menjadi berhasil dan baik.


    • Hasil ketiga: matahari sebagai kemuliaan Tuhan yang mampu


      • Memakai kita dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir; pembangunan tubuh Kristus yang sempurna lewat tabut perjanjian--kabar mempelai.

        Jangan sampai terjadi ikabod, tidak ada kemuliaan Tuhan.
        Hofni dan Pinehas menyebabkan terjadinya ikabod, tabut diambil oleh orang Filistin karena mereka berzinah dengan sesama pelayan, dan serakah--mengambil korban untuk Tuhan. Hati-hati! Hofni dan Pinehas jatuh dengan wanita-wanita yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.

        "Kami hamba Tuhan juga harus hati-hati. Ada hamba Tuhan tidak sehat, keliling ke sana ke mari, ternyata bukan dengan isterinya sendiri. Itulah pergaulan yang tidak baik. Saya berani mengatakan ini untuk saya sendiri supaya berhati-hati. Tuhan tolong kita."

        Kalau tabut dibawa musuh, semua menangis. Tetapi mari kita semua memikul tabut; dipakai dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir. Perbaiki diri! Pandang wajah Yesus malam ini!

        Serahkan kekurangan dan kelemahan kita! Biar matahari yang memperbaiki: ada perisai, supaya dosa tidak bisa masuk lagi, dan kita mengalami damai sejahtera; aman, tenteram, dan wajah berseri.
        Hadapi kegerakan dengan wajah berseri!

        Kemudian ada kemurahan dan kebajikan Tuhan, dan ada kemuliaan Tuhan.


      • Menjadikan semua indah dan bahagia pada waktunya.
      • Mengubahkan kita dari manusia daging menjadi manusia rohani yang tulus hati.


      Pandang Yesus dan berkata-kata dengan Dia apa adanya. Serahkan semua pada Tuhan sampai kita merasakan matahari sebagai perisai--perlindungan sampai wajah berseri--, kemurahan dan kebajikan Tuhan--sampai kita yakin masih ada pertolongan Tuhan--, dan kemuliaan Tuhan--kita dipakai oleh Tuhan.

      Semua menjadi indah, bukan hancur; hidup semakin indah dan bahagia, dan diubahkan menjadi tulus hati.

      Tulus hati adalah landasan kuat untuk Tuhan bekerja di tengah kita malam ini. Tunjukkan keadaan kita apa adanya kepada Tuhan, jangan disembunyikan! Biar kemuliaan Tuhan bekerja di tengah kita.

      Sampai kalau Dia datang kita diubahkan menjadi sempurna seperti Dia, benar-benar menyambut kedatangan-Nya di awan-awan yang permai, masuk perjamuan kawin Anak Domba, kerajaan Seribu Tahun Damai, SAMPAI DI TAKHTA SORGA.

      Sekarang kita hanya membaca wahyu 7: 9: 'orang banyak berdiri di hadapan takhta', tetapi nanti kita sendiri ada di sana bersama kekasih-kekasih yang sudah mendahului kita. Benar-benar kita berbahagia selamanya.

Ikuti jalannya:

  1. Penebusan: jujur dan taat. Semua akan menjadi baik.
  2. Suci dan setia berkobar. Hidup kita ringan, ada sayap yang menopang sekalipun dunia bilang: susah.
    Jangan perempuan/naga yang menopang! Kalau naga yang menopang, saat kita ditinggal, habislah kita.


  3. Wajah kemuliaan Tuhan menolong kita. Pandang Dia saja. Ada yang sedih dan lain-lain, pandang Dia malam ini, bicara apa adanya--tulus hati--, sampai Dia menyinari dan menyentuh kita. Kita akan pulang dengan wajah berseri.

Yang sudah berhasil tetap pandang Tuhan, mengaku bahwa semua karena Dia.

Memang dunia membuat kita kecewa, baru senang, sudah kecewa dan putus asa, apalagi kaum muda, jangan putus asa. Melihat dunia, banyak air mata, seringkali sudah pahit hati, susah, najis. Mari lihat Yesus malam ini! Jujur dan tulus di hadapan-Nya! Yang sudah berhasil, lihat Yesus! Mungkin dunia membuat kita takut, susah, mari pandang Yesus. Dalam pekerjaan, studi, pergaulan, penyakit dan apa saja, mungkin sudah capek di dunia ini, letih lesu, pandang Yesus malam ini. Sembah Dia! Mungkin tidak ada yang tahu, tidak apa-apa, Tuhan yang tahu. Kita memandang Dia berarti hubungan mata dengan mata; hati dengan hati; tangan dengan tangan. Kita akan nikmati kehangatan kasih-Nya.

Dia rela menjadi buruk dan hancur di kayu salib, tidak seperti manusia lagi. Mengapa begitu? Untuk menanggung keburukan, kehancuran, kegagalan anjing dan babi, dan menyinarkan matahari dari wajah-Nya untuk menolong kita bangsa kafir. Tidak ada alasan untuk kecewa dan putus asa. Pandang Dia! Serahkan semua malam ini, ada kesempatan malam ini. Biar Dia bekerja dengan cara-Nya sendiri. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan apapun keadaan kita bangsa kafir. Bagi Dia lebih mudah menolong kita dari pada membalikkan telapak tangan.

Perjamuan suci adalah sinar matahari dari wajah Yesus; uluran tangan kemuliaan Tuhan yang melakukan apa saja sampai menyempurnakan kita semua; kita berada di takhta sorga bersama dengan seluruh keluarga kita. Tidak ada yang terpisah dan ketinggalan. Kita doakan, sekalipun mungkin sudah menyakiti kita.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 11-13 September 2018
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • 25-26 September 2018
    (Ibadah Kunjungan di Sidikalang)

  • 16-18 Oktober 2018
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 30-31 Oktober 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jayapura)

  • November 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • Februari 2019
    (Ibadah Kunjungan di Chennai, India)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top