English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Raya Surabaya, 30 Oktober 2016 (Minggu Siang)
Ibadah Penyerahan Anak

Mazmur 144: 12
144:12. Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya;...

Ibadah Doa Malang, 13 Februari 2018 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus.

Mazmur 31:16
31:16 Masa hidupku ada...

Ibadah Raya Malang, 14 April 2019 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 9:1-12 tentang sangkakala yang kelima atau hukuman...

Ibadah Raya Surabaya, 09 Maret 2014 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang-Nya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman Tuhan, biarlah damai...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 31 Juli 2010 (Sabtu Sore)
Judul: SAKSI dan KESAKSIAN.

Markus 14:56-64
14:56 Banyak juga...

Ibadah Doa Surabaya, 13 Januari 2010 (Rabu Sore)
Matius 24: 45-51
= berjaga-jaga dikaitkan dengan kedatangan Tuhan yang tidak diduga waktunya, yaitu (ay....

Ibadah Doa Puasa Session II Malang, 19 November 2013 (Selasa Siang)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Kita masih membahas tentang kecerdikan setan....

Ibadah Doa Malang, 14 Juni 2016 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 4:2
4:2 Segera aku dikuasai oleh...

Ibadah Raya Malang, 26 Mei 2013 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Matius 28:20b
28:20 .... Dan ketahuilah, Aku...

Ibadah Raya Surabaya, 09 April 2017 (Minggu Siang)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 09 Januari 2019 (Rabu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Doa Semalam Suntuk Session I Malang, 02 September 2014 (Selasa Malam)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Kita belajar tentang tabut perjanjian.
Keluaran 25:10-22 tentang...

Ibadah Raya Malang, 06 Maret 2011 (Minggu Pagi)
IBADAH PENYERAHAN ANAK
Keluaran 2:6
2:6 Ketika dibukanya, dilihatnya...

Ibadah Doa Malam Surabaya, 03 Juni 2019 (Senin Malam)
Hakim-hakim 8: 1-3
8:1. Lalu berkatalah orang-orang Efraim kepada Gideon: "Apa macam perbuatanmu ini terhadap kami! Mengapa engkau tidak...

Ibadah Doa Surabaya, 09 November 2011 (Rabu Sore)
Matius 26:
ay. 57-68= SAKSI DAN KESAKSIAN.

Kita sudah mempelajari 2 macam saksi dan kesaksian (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 06 November 2011):
ay. 59-61=...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Raya Surabaya, 27 Juli 2014 (Minggu Sore)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari Tuhan senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 2-3
Dalam susunan Tabernakel, ini menunjuk pada tujuh kali percikkan darah di depan Tabut Perjanjian.
Ini sama dengan tujuh surat yang dikirimkan kepada tujuh sidang jemaat lewat malaikatnya (malaikat merupakan gambaran dari gembala) dalam Wahyu 1: 11.
Wahyu 1: 11
1:11. katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."

Artinya sekarang, penyucian terakhir yang dilakukan oleh Tuhan terhadap tujuh sidang jemaat, supaya sidang jemaat menjadi sempurna, tidak bercacat cela seperti Yesus.
Malam ini kita membahas satu persatu, dimulai dari penyucian terhadap sidang jemaat di EFESUS.

Wahyu 2: 1-7
2:1. "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
2:4. Namun demikian Aku mencela engkau, karena
engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
2:6. Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
2:7. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."


Dalam Wahyu 2: 1, ada 2 penampilan Yesus terhadap sidang jemaat Efesus:

  • 'berjalan di antara ketujuh kaki dian emas'= Yesus berjalan di antara ketujuh kaki dian emas (khususnya sidang jemaat di Efesus).
    Artinya: Yesus sangat memperhatikan dan memperdulikan keadaan sidang jemaat di Efesus.
    Biarlah ini menjadi keyakinan kita.
    Jemaat Efesus adalah jemaat bangsa kafir seperti kita. Jadi, jangan sampai kita kecewa atau putus asa karena sesuatu, sebab kita yakin bahwa Yesus sangat memperhatikan dan memperdulikan sidang jemaat Efesus baik secara rohani maupun jasmani.

    Kalau Tuhan memperhatikan yang rohani, yang jasmani pasti diperhatikan juga. Tidak mungkin Tuhan memakai timbangan palsu (neraca curang). Seringkali kita lah yang memakai neraca curang. Neraca curang itu tidak seimbang, biasanya yang lebih berat adalah yang jasmani, sedang yang ringan adalah yang rohani. Dalam Kitab Maleakhi dan Amos juga ada tegoran tentang neraca curang.

    Demikian juga dengan kita. Kalau kita memperhatikan keadaan rohani kita, Tuhan pasti memperhatikan jasmani kita. Itu sudah menjadi RUMUS dan tidak mungkin Tuhan menipu kita.


  • 'memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya'= Yesus memegang tujuh bintang di tangan kanan-Nya.
    Artinya: Tuhan merindukan sidang jemaat Efesus (kita semuanya) tidak jatuh tetapi menjadi milik Yesus yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk oleh setan sekalipun.

    'dipegang oleh tangan kanan' => tangan kanan ini umumnya tangan yang lebih kuat. Jika dipegang oleh tangan kanan Tuhan, kita tidak akan jatuh.

Dalam Wahyu 2: 2-3, Yesus memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dikerjakan oleh sidang jemaat. Sekalipun orang lain mungkin mencela, tetapi Tuhan memperhatikan dan Ia tidak mengecilkan/meremehkan segala pekerjaan yang sudah dilakukan oleh sidang jemaat, sebab pekerjaan Tuhan itu mulia (tidak ada yang remeh). Kita lah yang sering meremehkan pekerjaan Tuhan. Misalnya: kalau kotbah itu hebat, kalau cuma mengepel itu tidak hebat.

Kesaksian:
"Perhatikan Lempin-El Kristus Ajaib yang sedang mendengarkan di Malang. Banyak kita dihina "apa itu hamba Tuhan kok diajarkan mengepel", memang itulah hikmat Tuhan yang diberikan kepada Bapak Pendeta In Juwono Almarhum sebagai pendiri Lempin-El. Mengapa diajarkan membersihkan WC dan lain-lain? Bapak Pendeta In Juwono menjawabnya gampang saja "WC itu berapa kotorannya? Paling banyak tiga macam. Kalau Lempin-El tidak bisa membersihkan itu, bagaimana nanti mau membersihkan kotoran di hati manusia? sebab itu belajar dulu dari situ".
Jadi mengapa kok sampai diajarkan mengepel? Sebab semua pekerjaan Tuhan itu mulia. Ada murid Lempin-El yang sarjana, tetapi juga diajarkan untuk mengepel. Ada yang berkata "itu terlalu", bukan seperti itu, yang terlalu itu yang ngomong, sebab dia tidak tahu bahwa pekerjaan Tuhan itu semuanya mulia dan Yesus sendiri tidak mengecilkan, justru kita lah yang mengecilkan."


Semua pekerjaan Tuhan itu mulia, tetapi dalam Wahyu 2: 4, Tuhan mencela/mengoreksi apa yang tidak sesuai. Apa yang sudah kita kerjakan, semuanya diperhatikan oleh Tuhan, namun jika ada yang salah, maka Tuhan segera mengoreksi.

Pada Wahyu 2: 4 dikatakan 'engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula' = Tuhan mencela, mengoreksi dan menyucikan sidang jemaat Efesus dari kekurangannya, sebab Ia menghendaki supaya sidang jemaat Efesus menjadi sempurna, tidak bercacat cela dan menjadi milikNya yang tidak dapat diganggu gugat.
Yang dicela dan disucikan (kekurangan sidang jemaat Efesus) adalah kehilangan/tidak ada kasih mula-mula.
Jadi, kalau Firman mengoreksi dan menyucikan pelayanan kita, bukan supaya kita putus asa, kecewa dan tinggalkan pelayanan, tetapi tujuannya adalah supaya kita menjadi sempurna sekalipun lewat percikan darah.

Percikan darah berarti sengsara bagi daging (perasaan daging).
Contoh: seperti Yesus disalibkan, perasaan daging-Nya sengsara (Dia harus terkutuk), padahal Dia tidak berdosa. Itulah percikan darah!

Di dunia ini tidak ada kasih, kasih itu berasal dari kasih Allah Bapa di Surga. Bagaimana kasih itu bisa diturunkan di dunia?
Kasih mula-mula adalah kasih Allah yang di dapatkan lewat kasih Yesus atau kurban Kristus (salib Kristus).


Kesimpulan: penyucian sidang jemaat Efesus adalah kembali pada kasih mula-mula.
Sekalipun Tuhan memperhatikan dan mengakui pekerjaan dari sidang jemaat Efesus, tetapi kalau tanpa kasih, semuanya akan sia-sia, tidak ada gunanya, bahkan menuju kebinasaan. Tanpa kasih, semua tidak kekal, sebab itulah Tuhan mengoreksi sidang jemaat Efesus.

Praktik kembali pada kasih mula-mula:

  1. Praktik pertama kembali pada kasih mula-mula: kita beribadah melayani Tuhan dengan taat dengar-dengaran pada perintah Tuhan (Firman pengajaran benar).
    Firman pengajaran benar = tertulis dalam Alkitab.

    Untuk memberikan kasihNya, Yesus taat dengar-dengaran sampai mati di kayu salib. Itulah kasih mula-mula!
    Begitu juga dengan kita. Kalau kembali pada kasih mula-mula, maka kita beribadah dan melayani Tuhan dengan taat dengar-dengaran pada perintah firman pengajaran yang benar.

    Matius 7: 21-23
    7:21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
    7:22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
    7:23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian
    pembuat kejahatan!"

    'dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku'= taat dengar-dengaran.

    Hamba Tuhan atau pelayan Tuhan adalah orang yang taat dengar-dengaran pada perintah Tuhan = orang yang melakukan kehendak Tuhan, bukan kehendaknya sendiri.

    Ayat 22 = ada bentuk pelayanan-pelayanan yang hebat, seperti jemaat Efesus ada 9 kehebatannya dan Tuhan mengakui/memperhatikan semua ini ('kamu tekun, kamu sabar menderita dan seterusnya').

    Kalau kita taat dengar-dengaran, maka pintu Surga terbuka (Matius 7: 21). Inilah puncak keberhasilan dalam ibadah pelayanan kita.
    Kalau pintu Surga terbuka, maka di dunia juga ada keberhasilan karena pintu-pintu di dunia juga akan dibuka oleh Tuhan.

    Ibadah pelayanan yang kelihatan hebat, tetapi jika tidak taat dengar-dengaran pada Firman pengajaran benar (tidak sesuai dengan Alkitab), justru disebut sebagai pembuat kejahatan dan diusir oleh Tuhan (ditolak oleh Tuhan).

    Kalau kita mempelajari tentang tahbisan dalam Keluaran 29, saat Harun ditahbiskan, harus ada korban lembu dan korban makanan (roti yang tidak beragi = pengajaran yang benar).

    Kesaksian:
    "Seringkali kita di rumah Tuhan menganggap enteng, "Om suruh dia melayani, supaya bertobat". Ini tidak bisa, karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Yang sesuai dengan kehendak Tuhan adalah bertobat terlebih dahulu, baru bisa melayani.
    Mari diperiksa, bagaimana hidupnya? bagaimana nikahnya? semuanya diperiksa, supaya sesuai dengan Alkitab,"

    Kita berkata bahwa kita melayani Tuhan, padahal sedang berbuat kejahatan.
    Sebab itu, dalam pelayanan, tidak bisa seenaknya, tetapi harus sesuai dengan Firman. Barulah pelayan itu diakui oleh Tuhan.

    INGAT! Saat Adam dan Hawa tidak taat, mereka diusir oleh Tuhan, sehingga pintu Surga ditutup dan pintu di dunia juga tertutup.


  2. Roma 12: 11
    12:11. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

    Kasih mula-mula bagaikan kasih yang menyala-nyala. Dulu, korban penghapus dosa adalah binatang korban yang disembelih, kemudian dagingnya dibakar di Medzbah Korban Bakaran dengan api yang menyala-nyala. Ini menunjuk kepada kurban Kristus. Kita sekarang tidak usah membawa binatang lagi, sebab semua sudah digenapkan oleh kurban Kristus.

    Praktik kedua kembali pada kasih mula-mula: setia dan berkobar-kobar ('menyala-nyala') dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan.
    Berkobar-kobar = semangat yang menyala-nyala atau api yang menyala-nyala pada Medzbah Korban Bakaran.

    Kita harus setia, tetapi juga harus semangat/berkobar-kobar. Kita datang ke gereja, jangan hanya untuk tidur dan lain-lain. Ada juga yang datang ke gereja dengan berkobar-kobar/semangat, tetapi setelah itu tidak datang lagi ke gereja (tidak setia).

    Hati-hati! Jangan sampai semangat ini karena semangat daging (emosi, ambisi atau keinginan daging), sebab inilah yang menimbulkan pertengkaran.

    Dari mana semangat yang benar?
    Yesaya 50: 4
    50:4. Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

    'murid'= ada kaitann dengan pengajaran yang benar.

    Murid itu mendengar pengajaran yang benar. Misalnya: kita bersekolah untuk belajar yang benar. Jika murid belajar yang tidak benar (2 + 2 = 4,001), tidak akan pernah lulus. Kalau di sekolah, 2 + 2 = 4, ini ada diktatnya. Kalau di gereja (pengajaran yang benar) itu ada Alkitabnya. Sebab itu baca Alkitab! Sekalipun 1000 Pendeta mengatakan benar, tetapi kalau tidak cocok dengan Alkitab, jangan diikuti!

    Yang benar adalah semangat dan setia didapatkan lewat pemberitaan Firman pengajaran yang benar = berasal dari dorongan firman pengajaran yang benar.

    Kalau dorongannya dari yang lain, seperti uang, jodoh, dan sebagainya, itu merupakan api asing dan binasa seperti Nadab dan Abihu.
    Nadab dan Abihu merupakan pelayan Tuhan, tetapi menggunakan api asing dan akibatnya mereka mati, disambar oleh api Tuhan.

    Semangat dan setia itu menjadi satu. Kalau dari Firman, semangat dan kesetiaannya tidak akan pernah padam selama-lamanya. Karena 'firman itu kekal', maka ibadah dan pelayanan kita juga kekal selama-lamanya, tidak akan pernah berhenti di tengah jalan.

    Tetapi kalau di dorong perkara jasmani (kedudukan, dijanjikan pekerjaan dan sebagainya), justru pelayanannya akan mati, mati rohani (kering rohaninya), sampai kematian kedua (kebinasaan selama-lamanya).

    Pada pelayanan mempelai, Yesus sebagai kepala (Mempelai Pria/Suami) dan kita sebagai tubuh (mempelai wanita/istri). Ini dalam Efesus 5.

    Kalau dinyatakan dengan 'pelayanan mempelai', istilah 'setia dan berkobar-kobar' ini berarti sangat bergairah (maaf, ini dalam pikiran yang suci, ini sama dengan 'birahi'). Kita sebagai mempelai wanita harus sangat bergairah atau 'birahi' untuk beribadah dan melayani Yesus sebagai Mempelai Pria Surga dan tidak bisa dihalangi oleh apapun juga (dalam arti kesucian).

    Kalau mulai tidak bergairah (datang beribadah tetapi malas, datang lalu tidak datang lagi), hati-hati! Siapapun itu, sekalipun keluarga kita, jangan didukung. Sebab kalau sudah tidak bergairah dalam ibadah, sebentar lagi akan birahi pada yang lain.
    Seringkali kita terpancing dengan perasaan daging/emosi daging, sehingga mengarah pada birahi yang lain. Misalnya: merasa kasihan karena sekolah/kuliah dengan jarak jauh, sehingga diijinkan tidak beribadah.

    Roma 1: 27
    1:27. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

    'menyala-nyala dalam berahi mereka' = dalam arti yang najis.

    Inilah akibatnya kalau kehidupan kita tidak setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan, yaitu menyala-nyala dalam birahi untuk menuju pada:


    • dosa makan minum: merokok, mabuk, narkoba.
    • dosa kawin mengawinkan: dosa seks dengan berbagai ragamnya, penyimpangan seks (laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita, seks pada diri sendiri) dan nikah yang salah (kawin cerai, kawin mengawinkan).


    Dosa makan minum dan kawin mengawinkan = birahi terhadap Babel.

    Supaya tetap setia dan berkobar, setiap hamba Tuhan/pelayan Tuhan HARUS masuk dalam Ibadah Pendalaman Alkitab dan Perjamuan Suci. Dalam tabernakel, ibadah pendalaman Alkitab dan perjamuan suci ditunjukkan oleh alat meja roti sajian.

    Mengapa meja roti sajian sekarang menunjuk ketekunan dalam ibadah pendalaman Alkitab dan perjamuan suci?
    Di atas meja roti sajian ada 12 roti yang disusun menjadi 2 susun, masing-masing 6 susun (6 dan 6 = 66 = 66 kitab dalam Alkitab = pengajaran yang benar).

    Dalam Yohanes 6 'inilah tubuh Ku'. Roti = tubuh Kristus.
    Meja roti sajian merupakan satu-satunya alat yang menampung korban curahan. Inilah yang menunjuk pada darah Yesus.

    Keluaran 25 mulai ayat 23 ini tentang meja roti sajian.
    Keluaran 25: 29
    25:29. Haruslah engkau membuat pinggannya, cawannya, kendinya dan pialanya, yang dipakai untuk persembahan curahan; haruslah engkau membuat semuanya itu dari emas murni.

    'persembahan curahan'= anggur.
    Jadi, meja roti sajian ini menunjuk pada ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (pada meja roti sajian ada 12 roti) dan Perjamuan Suci (pada meja roti sajian ada roti dan anggur).
    Dalam ibadah pendalaman Alkitab dan perjamuan suci, kita makan makanan yang sejati dari Tuhan yang memberi kekuatan baru. Kalau tidak makan, kita akan pingsan. Banyak kali kita melayani tetapi tidak pernah makan dan akibatnya pingsan.

    Kesaksian:
    "Seringkali kepada pengerja, saya juga begitu. Kalau waktunya jam makan, tetapi mereka tidak makan-makan, saat ditanya "sudah makan?" dijawab "belum", harus makan dulu! Jahat sekali, kalau tidak makan, tetapi disuruh, sebentar lagi jatuh.
    Ada juga yang disuruh makan, tetapi dijawab "tidak usah Om, saya bekerja dulu". Ini bagus dan semestinya masuk iklan "ada pengerja tanpa makan", pasti banyak yang senang, tetapi dia cepat mati. Perhatikan makanan!
    "

    Firman pengajaran dan perjamuan suci memberikan kekuatan baru bagi kita = memberikan gairah baru untuk setia berkobar-kobar melayani Tuhan.

    Kesaksian:
    "Saya seringkali ditegor, mengapa menggunakan istilah 'firman pengajaran yang benar' atau 'persekutuan yang benar?' Mengapa tidak memakai istilah 'firman pengajaran' saja? Sebab Yesus sendiri mengatakan ada pengajaran yang tidak benar."

    Kenapa menggunakan istilah 'baru'?
    Sebab, setiap hari Sabat, roti pada meja roti sajian diambil (dimakan) dan diganti dengan roti yang baru.
    Artinya: dalam Ibadah Pendalaman Alkitab selalu ada pembukaan Firman yang baru. Jika dalam ibadah pendalaman Alkitab ada pembukaan firman dan kita bisa makan, maka tidak usah disuruh lagi, pasti ada gairah baru untuk melayani Tuhan.
    Inilah yang memberikan kekuatan baru, sehingga kita tetap setia berkobar-kobar beribadah melayani Tuhan dan tidak pernah mundur sampai garis akhir (sampai meninggal dunia atau sampai Tuhan datang kembali), bahkan melayani Tuhan sampai selama-lamanya. Nanti di tahta surga kita juga beribadah melayani dan menyembah Tuhan.

    Jadi, makanan harus baru, supaya kekuatannya baru. Jika makanannya lama, tidak ada makanan yang baru, sidang jemaat bisa muntah. Yang sudah malas beribadah melayani, kita mohon kepada Tuhan, supaya kembali pada kasih yang mula-mula.


  3. Praktik ketiga kembali pada kasih mula-mula: jujur. (ya katakan 'ya', tidak katakan 'tidak', benar katakan 'benar', tidak benar katakan 'tidak benar').
    Jujur = berdiri di atas kurban Kristus.

    Kalau tidak jujur ('Ya, tetapi ..., namun ...'), ular yang masuk = pembuat kejahatan ('jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak dan selebihnya itu berasal dari si jahat').
    Kita harus tegas! Selama kita jujur, kita tidak bisa dijatuhkan oleh apapun juga. Ular tidak ada kesempatan sedikitpun untuk masuk. Jangankan jatuh, goyahpun tidak.

    Kesaksian:
    "Bapak Pendeta Pong Dongalemba, pernah berkata "kalau kita mau melawan politik, itu cuma dengan kebenaran". Saya sudah pernah banyak mengalami ini dalam pelayanan. Saya dulu juga pernah cerita, pada tahun 2000 saat masih ada Bapak Pendeta Pong, waktu itu saya diundang kebaktian persekutuan kaum muda. Saya selalu pamit kepada hamba Tuhan di mana saya diundang "permisi Om, kami datang". ada yang menjawab "Oh, ya baik", tetapi saya tidak mengajak "datang ya, Om", tidak. Istilah saya "kulo nuwun". Ada juga yang menjawab "jangan datang, pokoknya jangan datang, nanti malu, kami sudah persekutuan dengan gereja lain tidak ada yang akan datang". Saya langsung berkata "biar satu orang saja yang datang, saya tetap datang, asalkan benar" . Ternyata yang datang membludak dari SMA mana saja, SMA disekitar gedung diliburkan, saya menjadi heran juga. Malam sudah penuh gedungnya, pagi hari sampai tidak muat gedungnya. Ini justru kebalikannya, karena dari SMP, SMA malah dipulangkan semuanya, mereka berlari-lari karena waktu itu ibadahnya jam 09.00 dan akhirnya mereka masuk dalam gedung.

    Kalau kita membawa pengajaran yang benar, mau dilawan politik, tidak akan bisa. Demikian juga dalam berorganisasi, Bapak Pendeta Pong berkata "kalau Tuhan menghendaki amanah, pokoknya kita tidak meminta atau tidak mencari amanah untuk menjadi pengurus, sekalipun sudah dipolitikkan bagaimanapun, akhirnya tetap bisa". Inilah yang menjadi pengalaman saya yang sungguh-sungguh."

    Baik di dalam kantor, pelayanan, organisasi gereja atau dimanapun, politik jangan dibalas politik, tapi lawan dengan kebenaran/kejujuran.

    Kejujuran ini yang terutama adalah


    • jujur soal Tuhan  (firman pengajaran benar).
      Titus 2: 7
      2:7. dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

      Kalau tidak jujur soal Tuhan, tidak mungkin bisa jujur dalam segala hal. Ini berarti sudah roboh.


    • Kalau sudah jujur soal Tuhan, kita jujur soal nikah (jujur tempat tidur dalam Ibrani) dan
    • jujur soal uang.


    3 hal kejujuran inilah yang merupakan tolak ukur, apakah orang itu benar-benar jujur (berdiri di atas kurban Kristus) atau tidak!

    Kalau sudah jujur dalam pengajaran yang benar, dalam nikah, dan dalam keuangan, maka hamba Tuhan/pelayan Tuhan itu bisa diharapkan jujur dalam segala hal (berdiri diatas kurban Kristus) = ada kasih mula-mula.

    Ibrani 13: 4-5
    13:4. Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.
    13:5. Janganlah kamu menjadi hamba uang dan
    cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

    'penuh hormat terhadap perkawinan' = jujur terhadap perkawinan.
    'Janganlah kamu menjadi hamba uang' = jujur soal uang. Jangan menjadi kikir dan serakah.
    'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan
    meninggalkan engkau
    ' = kalau jujur, Tuhan tampil sebagai Kepala untuk menolong tubuh-Nya. Tubuh tidak akan penah dibiarkan oleh kepala. Tubuhnya mau kemana saja, pasti ada kepala, demikian juga sebaliknya.

    Hubungan kepala dan tubuh adalah leher (doa penyembahan). Kalau kita berteriak/berdoa, maka kepala sudah ada dan siap untuk menolong.
    Jadi, kalau jujur, kita menjadi rumah doa.

    Amsal 15: 8
    15:8. Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya.

    Doa orang jujur dijawab oleh Tuhan, sehingga kita menjadi rumah doa = ada doa penyembahan (dupa) yang selalu dinaikkan kepada Tuhan.

    Kesaksian:
    "Kalau saya lihat buku karangan Bapak Pendeta F.G van Gessel, dulu diterangkan juga oleh Bapak Pendeta Totaijs, waktu itu orang-orang muda bertanya "Opa atau Papa Van Gesel, apa rahasianya dipakai oleh Tuhan?" Dia bilang "setiap pagi, aku hanya seperti cacing dibawah kaki Tuhan". Inilah jurus pamungkas Bapak Pendeta F.G van Gessel. Seperti tanah, seperti domba sembelihan yang sudah dibelenggu, yang hanya berseru 'Haleluya Yesus' dan seperti cacing. Itu saja rumah doa. Ulat dan cacing itu tidak mati di neraka. Semestinya kita ini ke neraka, tetapi Tuhan menolong kita."

    Dalam doa penyembahan, kita memiliki kesempatan untuk mengaku 3 hal:


    • Mazmur 95: 6
      95:6. Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

      'sujud menyembah' = rumah doa.

      Yang pertama: kita tersungkur dihadapan Tuhan pencipta kita ('berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita') = mengaku hanya tanah liat. Dalam kitab Kejadian, Tuhan sebagai Pencipta mengambil tanah liat untuk menjadikan kita.

      Tanah liat itu tidak layak apa-apa, banyak kekurangan kesalahannya, tidak mampu apa-apa, tidak berharga apa-apa dan hanya untuk diinjak-injak. Jadi, kita mengaku bahwa kita hanyalah tanah liat yang tidak layak, tidak mampu, tidak berharga dan hanya bergantung pada tangan kemurahan, belas kasihan dab anugerah Tuhan saja (bergantung pada tangan yang berlubang paku).

      Kegunaan tangan belas kasih Tuhan:


      1. menciptakan dari tidak ada menjadi ada ('dari tidak ada ikan menjadi ada ikan') untuk memelihara kita yang tidak berdaya di tengah dunia yang sudah mustahil.

        Dunia ini sudah mustahil dan bertambah sulit seperti di padang gurun yang tidak bisa menabur/menuai dan hanya bergantung pada hujan kemurahan Tuhan.


      2. kita diciptakan menjadi bejana kemuliaan, yaitu kehidupan yang dipakai dalam kegerakan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna sesuai dengan jabatan pelayanan yang Tuhan berikan kepada kita.

        Biarpun kita seperti tanah liat, tetapi jika berada dalam tangan Tuhan, itu masih bisa menjadi berguna.

        Dalam Yeremia 18, kalau bejana itu sudah rusak (jatuh, hancur), maka tangan yang sama sanggup menciptakan kita menjadi bejana baru untuk dipakai lagi, asal kita mengaku bahwa kita tanah liat yang sudah hancur.
        Jangan tinggalkan pelayanan! dan harus kembali untuk diciptakan menjadi bejana yang baru oleh Tuhan, untuk kemuliaan nama Tuhan.


    • Mazmur 95: 7
      95:7. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

      Yang kedua: kita mengaku bahwa kita hanya domba sembelihan (Roma 8).

      Kesaksian:
      "Saya sudah sering bercerita, waktu masa kecil saya (SD) tahun 1970 an, dimana penyembelihan masih dengan cara tradisional. Satu waktu saya melihat domba, kebetulan itu di dekat lapangan sepak bola ada warung sate. Di situ ada domba yang leher/kepalanya sudah di letakkan di lubang. Saya dengar suaranya sudah tidak ada (mungkin tadi dari kandang sudah teriak-teriak), lalu saya lihat juga ada air disitu. Yang saya pertanyakan "apa ini air mata? masa kambing menangis?"

      Kalau dombanya Tuhan, bisa menangis. Mungkin suara kita sudah tidak kuat berkata 'Haleluya Yesus', dengan bahasa air mata pun, Tuhan mampu untuk menolong kita.
      "

      Jika kita mengaku hanya sebagai domba sembelihan, maka tangan belas kasih, kemurahan, anugerah Tuhan sanggup untuk:
      Yesaya 40: 11
      40:11. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.


      1. 'menghimpunkannya dengan tangan-Nya' = memeluk, menyatukan dengan tangan-Nya.

        Tangan belas kasih Tuhan sanggup untuk menyatukan yang tercerai berai:


        • mulai dari dalam nikah. Mungkin masih satu rumah, satu kamar, tetapi hatinya sudah tercerai (tawar, pahit).

          'Saya selalu mendoakan nikah-nikah yang tercerai berai. Ini menjadi prioritas untuk didoakan, supaya bisa menjadi satu kembali dalam nikah.'

          Kita harus menjadi satu dalam nikah dan menjadi bahagia.
          Nikah yang menjadi satu adalah nikah yang bahagia (bukan nikah yang kaya, miskin).


        • dalam penggembalaan juga menjadi satu.
        • antar penggembalaan kita menjadi satu (ibadah kunjungan-kunjungan).
        • bahkan sampai mencapai satu tubuh yang sempurna.


      2. 'anak domba dipangku-Nya' = tangan belas kasih Tuhan memanggku (menggendong) kita.
        Artinya: segala letih lesu beban berat kita ditanggung oleh Tuhan, sehingga kita mengalami kelegaan dan damai sejahtera, semua menjadi enak dan ringan.


      3. 'dituntun-Nya dengan hati-hati' = kita juga dituntun pada masa depan yang berhasil, indah dan bahagia, bahkan kita dituntun sampai ke tahta Yerusalem Baru = kandang penggembalaan terakhir (Wahyu 7: 17).

        Sebab itu, mulai dari dunia ini, kita harus masuk dalam kandang penggembalaan yang benar, supaya kita bisa masuk kandang penggembalaan terakhir (Yerusalem Baru), dimana tidak ada air mata lagi.


    • Yesaya 41: 14
      41:14. Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel.

      Yang ketiga: kita mengaku sebagai cacing.

      Cacing dan ulat perlu ditebus, karena cacing dan ulat ini ada dalam neraka.

      Yesaya 66: 24
      66:24. Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.

      Dalam Yesaya 14: 11, ulat selalu dengan cacing. Ulatnya tidak mati, cacingnya tidak mati, apinya tidak padam, itulah alam maut (neraka).

      '
      Si cacing Yakub, jangan takut!' Semestinya sudah masuk di neraka, tetapi ada 'Akulah penebusmu'. Artinya: tangan belas kasih, kemurahan Tuhan sanggup untuk:


      1. menebus kita dari segala dosa-dosa.
      2. menyucikan dan membaharui kehidupan kita sampai kita mendapatkan hak kesulungan.
        Yakub sebenarnya bukan anak sulung, sehingga Yakub tidak memiliki hak kesulungan. Tetapi Yakub mengalami penebusan dari Tuhan. Esau lah yang sebenarnya memiliki hak kesulungan, tetapi Esau melepaskan penebusan.

        Hak kesulungan = hak menikah atau hak untuk masuk perjamuan kawin Anak Domba dan hak untuk mewarisi kerajaan surga.

        Yakub tidak mempunyai ini, sebab itu Yakub disebut 'hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel!'

        Mungkin hidup kita sudah seperti Yakub yang tidak ada harapan lagi (tidak ada hak kesulungan). Secara rohani, tidak ada harapan untuk masuk perjamuan kawin Anak Domba, tidak ada hak untuk mewarisi kerajaan surga, yang ada hanyalah menjadi cacing dan ulat di neraka, tetapi oleh tangan penebusan, kita bisa disucikan dan diubahkan sampai mendapatkan hak sulung (mendapatkan segala-galanya).

        Esau yang mempunyai segala-galanya, malah kehilangan semuanya. Yakub yang tidak mempunyai apa-apa, bisa mendapatkan segala-galanya dari tangan belas kasih Tuhan.

Perhatian Tuhan tertuju kepada kita. Apapun cacat cela kita, masih ada kemurahan dan belas kasih Tuhan di tengah-tengah kita semuanya.

Inilah kekurangan dari sidang jemaat Efesus.
Jadi, kembali pada kasih mula-mula adalah taat supaya pintu-pintu terbuka, setia berkobar-kobar supaya ada perlindungan terhadap babel dan jujur supaya kita menjadi rumah doa dan ada tangan anugerah Tuhan untuk kita.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 26-28 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Ciawi & Jakarta)

  • 13 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Bondowoso)

  • 28-30 Januari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top