English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Raya Malang, 04 Februari 2018 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayangNya Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 6:12-17
6:12 Maka aku melihat, ketika...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 09 April 2015 (Kamis Sore)
Siaran Tunda dari Ibadah Kunjungan di Jayapura.

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

...

Ibadah Doa Malang, 05 Maret 2013 (Selasa Sore)
(Penataran I Imam dan Calon Imam)

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Matius 28:16-20...

Ibadah Raya Malang, 04 Juni 2017 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 6:1-2
6:1 Maka aku melihat Anak Domba...

Ibadah Doa Surabaya, 23 Januari 2013 (Rabu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 14 Oktober 2013 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 26 Desember 2010 (Minggu Pagi)
Matius 25:31-34
25:31. "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam...

Ibadah Persekutuan Kartika Graha Malang IV, 21 Agustus 2014 (Kamis Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat pagi, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 16 Juli 2017 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 6:3-4
6:3 Dan ketika Anak Domba...

Ibadah Doa Malang, 29 Januari 2013 (Selasa Sore)
Pembicara: Pdt. Mikha Sanda Toding

Matius 10:38
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak...

Ibadah Raya Malang, 30 November 2014 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 2-3 adalah 7 kali percikan...

Ibadah Raya Surabaya, 03 Juli 2011 (Minggu Sore)
Tema Ibadah Persekutuan di Jerman
Tema: "40"
Dalam Alkitab, angka 40 mempunyai arti yang penting, yaitu penamatan daging dengan segala keinginan...

Ibadah Doa Puasa Session I Malang, 08 November 2016 (Selasa Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Kisah Rasul 13:2-3,5
13:2 Pada suatu hari ketika...

Ibadah Raya Surabaya, 27 Juni 2010 (Minggu Sore)
Matius 25: 1, 13
25:1. "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan...

Ibadah Doa Malam Session II Malang, 17 Agustus 2011 (Rabu Dini Hari)
Keluaran  29:26-28 menunjuk persembahan/korban khusus.

Korban khusus dipersembahkan...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 14 September 2014)
Tayang: 24 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 September 2014)
Tayang: 06 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 03 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 01 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 31 Agustus 2014)
Tayang: 04 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 25 Agustus 2014)
Tayang: 13 Desember 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 11 Juli 2018 (Rabu Sore)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 7: 17
7:17. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."

Kita belajar tentang aktivitas Tuhan di takhta sorga yaitu:

  1. Ayat 15b-16: membentangkan kemah-Nya; sama dengan mengembangkan sayap-Nya atas hidup kita; naungan sayap Tuhan atas kehidupan kita (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 06 Juni 2018 sampai Ibadah Doa Surabaya, 06 Juli 2018).


  2. Ayat 17: Tuhan tampil sebagai Gembala yang baik untuk menggembalakan dan menuntun kita ke mata air kehidupan/sungai air kehidupan, itulah takhta kerajaan sorga yang kekal selamanya (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 08 Juli 2018).
    Wahyu 22: 1
    22:1. Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.

    Sungai air kehidupan= mata air kehidupan= takhta sorga.

AD. 2
Kita sudah mempelajari tiga tuntunan Tuhan yaitu: ke air yang tenang, jalan kebenaran, sampai mata air kehidupan (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 08 Juli 2018).

Yesus menggembalakan dan menuntun kita ke mata air kehidupan--takhta sorga--, bagaimana sikap kita?
Yohanes 10: 3-4=> pasal penggembalaan
10:3. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
10:4. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

'mendengarkan suaranya'= suara Gembala; firman penggembalaan.
'menuntunnya ke luar'= menuntun sampai ke takhta sorga, tempat penggembalaan terakhir.

Sikap kita adalah mengikuti tuntunan Gembala lewat suara Gembala/firman penggembalaan.
Kita harus lari terhadap suara asing, bukan hanya tidak mau mendengar. Suara asing itu yang membelokkan arah sehingga tidak mencapai takhta sorga tetapi menuju kebinasaan selamanya.

Kita belajar tentang langkah-langkah pengikutan kepada Tuhan lewat tuntunan firman penggembalaan:

  1. Matius 9: 9
    9:9. Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

    Langkah pertama pengikutan kepada Tuhan: dari rumah cukai ke rumah Allah= pengikutan yang ditandai dengan KELEPASAN DARI DOSA--PENYUCIAN. Firman penggembalaan mampu melepaskan kita dari dosa.

    Contoh: Matius atau di Injil lain namanya adalah Lewi.
    Lewi artinya: melekat.
    Matius duduk di rumah cukai, artinya melekat pada uang; terikat pada uang, sehingga tidak bisa melekat di rumah Allah/tidak bisa mengasihi Tuhan.

    Akibatnya: tidak pernah mengalami kepuasan.
    Pengkhotbah 5: 9
    5:9. Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.

    'mencintai uang'= melekat pada uang.
    Tanpa ibadah pelayanan kepada Tuhan--tidak mengasihi Tuhan--segala sesuatu yang kita dapatkan di dunia ini seperti kekayaan, kedudukan dan lain-lain tidak akan membuat kita puas. Artinya: tetap kering, tidak bahagia, dan cenderung mencari kepuasan-kepuasan di dunia sampai jatuh dalam dosa dan puncaknya dosa--melekat dalam dosa--, dan menuju kebinasaan.

    Tetapi juga harus waspada, sudah di rumah Allah seringkali juga tidak puas.
    1 Timotius 6: 3-6
    6:3. Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat--yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus--dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,
    6:4. ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,
    6:5. percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.
    6:6. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

    'kehilangan kebenaran'= tanpa kebenaran.
    Ayat 6= puas, berarti di ayat sebelumnya belum puas.

    Kita harus waspada, karena rumah Tuhan/ibadah menjadi tempat untuk mencari keuntungan secara jasmani; tempat berjual-beli; sama seperti rumah cukai.
    Wujudnya: menawarkan kemakmuran--keinginan akan uang--dan hiburan dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan, tetapi tanpa kebenaran firman (firman pengajaran yang benar).

    Di ayat tadi dituliskan pengajarannya sudah tidak benar, malah menyalahkan yang benar. tidak ada kepuasan di sana, sehingga mencari kepuasan-kepuasan di dunia sampai jatuh dalam dosa dan puncaknya dosa--melekat pada dosa--, yang akan dibinasakan, atau kepuasan dunia dimasukkan dalam rumah ibadah--ibadah dicampur dengan sistem dunia--, tetapi tetap tidak puas sehingga mencari kepuasan di luar sampai melekat pada dosa yang akan dibinasakan.

    Kepuasan hanya ada di dalam kebenaran--firman pengajaran yang benar.
    Inilah pengikutan kepada Tuhan. Dengar suara Gembala--firman penggembalaan--dan ikuti! Jangan dengar suara asing! Kalau sudah jelas berbeda dengan alkitab/ajaran yang kita dengar, jangan dengar. Sedikit saja kita dengar, kita tidak sadar sudah berbelok, dan lama kelamaan sudah tambah jauh dan tidak pernah bertemu lagi. Itu yang ngeri. Bukan berarti kita yang paling benar, tetapi harus kembali pada alkitab.

    Mazmur 17: 15
    17:15. Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

    (terjemahan lama)
    17:15. Tetapi aku akan memandang hadirat-Mu dengan kebenaran, dan apabila aku bangun kelak aku akan
    dikenyangkan dengan peta-Mu.

    Puas dan kenyang adalah untuk lahir dan batin--puas= batin; kenyang= lahir.
    Supaya ibadah pelayanan kita menghasilkan kepuasan/kenyang, yang diutamakan/ditampilkan dalam ibadah pelayanan adalah kebenaran.

    Yohanes 17: 17
    17:17. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

    Apa itu kebenaran?Kebenaran adalah firman Allah--'firman-Mu adalah kebenaran'--; kebenaran juga sesuatu yang menguduskan--'Kuduskanlah mereka dalam kebenaran'.
    Jadi, kebenaran adalah firman yang menyucikan, sama dengan firman pengajaran yang benar, yang lebih tajam dari pedang bermata dua. Ini yang harus ditonjolkan dalam ibadah, bukan lainnya.

    "Seringkali, di mana banyak orang kristen berkumpul saat merayakan natal, justru yang ditonjolkan bukan firman. Sayang sekali. Di mana-mana terjadi seperti itu, dalam rumah ibadah juga terjadi, malah firman paling sedikit bahkan ditiadakan. Padahal saat itu merupakan kesempatan untuk memberitakan kebenaran, siapa tahu mereka digugah lagi untuk beribadah. Seringkali tidak ada lagi, tetapi perayaan natal hanya untuk senang-senang. Kita tanggung jawab di hadapan Tuhan. Jangan ikut-ikut! Tuhan tolong."

    Saat firman pengajaran yang lebih tajam dari bermata dua menyucikan hati dan pikiran kita--berarti perkataan dan perbuatan juga disucikan--, saat itulah kita bisa memandang wajah Tuhan dan mengalami kepuasan dari sorga--batin dipuaskan--, dan yang jasmani juga akan dipelihara--kenyang.
    Matius 5: 8
    5:8. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

    Ada jaminan dalam firman--'Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."'; dalam kitab wahyu: Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam. Ada firman penginjilan tetapi harus ditingkatkan pada firman pengajaran. Ini yang membuat kita:


    • Puas secara rohani--batin--, sehingga tidak perlu lagi mencari kepuasan-kepuasan di dunia; tidak perlu lagi merokok, mabuk, menonton bioskop dan sebagainya.


    • Kenyang secara jasmani; ada pemeliharaan Tuhan secara jasmani.


    Inilah ibadah yang mendatangkan keuntungan besar.
    1 Timotius 6: 6-7
    6:6. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
    6:7. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

    Keuntungan besar bukan diukur dari perkara jasmani (ayat 7), tetapi kedua sayap dari burung nasar yang besar--naungan Tuhan untuk melindungi dan memelihara kita pada zaman antikris berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun, sampai menaungi kita selamanya di takhta sorga.

    Inilah pengikutan yang pertama: orang yang duduk di rumah cukai--melekat pada dosa--bisa ke rumah Tuhan. Ini merupakan kekuatan firman penggembalaan. Karena itu firman diulang-ulang. Mungkin satu kali dipanggil belum bisa, terus diulang, sampai bisa terlepas dari rumah cukai dan berpindah ke rumah Allah artinya: beribadah melayani Tuhan yang ditandai dengan penyucian--kelepasan-kelepasan dari dosa--, sehingga mata kita memandang Tuhan, ada rasa puas dan kenyang, sampai menerima naungan kedua sayap dari burung nasar yang besar, yang tidak bisa dibeli dan dinilai dengan apapun di dunia.


  2. Yohanes 21: 18-19
    21:18. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
    21:19. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

    Saat masih muda, pergi ke mana yang dia sukai. Tetapi kalau sudah dewasa, sudah ada penyerahan.

    Langkah kedua pengikutan kepada Tuhan: pengikutan yang ditandai dengan PENYERAHAN.
    Petrus mengulurkan tangan kepada Tuhan, artinya: menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.

    Ada beberapa pengalaman pengikutan Petrus sampai bisa menyerah sepenuh kepada Tuhan--ini yang diperbaiki lewat suara Gembala/firman penggembalaan sampai benar-benar bisa menyerah kepada Tuhan--:


    • Matius 16: 21-23
      16:21. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
      16:22. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
      16:23. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

      Pengikutan Petrus yang pertama: Petrus mengulurkan tangan untuk menarik Yesus ke samping, bukan ikut Yesus, malah Yesus disuruh ikut dia.

      Banyak kali kita seperti itu, Yesus disuruh mengikuti kita. Kita memaksa Tuhan dalam hal pekerjaan, jodoh dan sebagainya--Yesus di samping bahkan belakang kita. Seharusnya Yesus sebagai Gembala ada di depan dengan suara Gembala, dan kita tinggal mengikuti dari belakang.

      Menarik Yesus ke samping artinya: tidak mau mengikuti Yesus dengan salib-Nya= menolak salib; takut pada salib. Ini sama dengan iblis yang akan dibinasakan--'Enyahlah Iblis'--; tidak mengasihi Tuhan.

      Ini pengikutan yang salah. Karena itu firman perlu diulang-ulang. Di dalam ibadah Yesus juga dipaksa mengikuti kita. Di gereja dibuat yang senang-senang, tidak mau salib karena menggunakan logika, bukan iman (seperti Petrus)--sekarang banyak diajarkan: Di dunia orang sudah susah, kerja susah, lalu di gereja diajarkan salib lagi, tidak laku. Di gereja yang senang-senang saja, jangan penyucian karena semua itu salib.

      "Ada seorang menasihati saya--mungkin maksudnya baik--: 'Om, jangan banyak puasa, nanti kena sakit ginjal karena kurang minum, atau puasa boleh minum air.' Kelihatannya baik, tetapi sama seperti menarik Yesus ke samping; menolak salib karena menggunakan logika. Saya bilang: 'Kalau kamu sengaja tidak minum karena kerja atau main game, memang bisa sakit ginjal, salahnya sendiri, tetapi kalau berpuasa, ada Tuhan yang menjaga, beda, itulah iman, tidak usah takut. Jangan pakai logika! Serahkan pada Tuhan!"


    • Matius 26: 51
      26:51. Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.

      Pengikutan Petrus yang kedua: Petrus mengulurkan tangan kepada sesama dan memutus telinga sesama.
      Artinya: menjadi sandungan; merugikan sesama. Ini sama dengan tidak mengasihi sesama.

      Tadi, Petrus tidak mengasihi Tuhan--menolak salib--, sekarang tidak mengasihi sesama.
      Jadi, Petrus adalah kehidupan yang tidak punya kasih (egois). Bayangkan, hamba Tuhan yang hebat tetapi tidak punya kasih, padahal dia adalah batu karang yang di atasnya akan dibangun rumah Allah--pembangunan tubuh kristus.

      Bayangkan kalau membangun tubuh Kristus dengan egois, yang terjadi bukan membangun, tetapi merusak, meruntuhkan/memecah belah tubuh Kristus. Hati-hati! Pembangunan tubuh Kristus dimulai dari nikah, penggembalaan, antar penggembalaan, sampai Israel dan kafir menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna.

      Belajar dari tubuh kita, kalau semua mementingkan diri sendiri, susah. Tetapi seringkali kita merasa benar.
      Jadi di dalam kepentingan sendiri pasti ada kebenaran sendiri dan kehendak sendiri. Kalau selalu menyalahkan orang lain, pasti tubuh Kristus hancur--mulai dari nikah, penggembalaan, dan fellowship.

      "Pernah satu waktu di satu daerah, untuk mengadakan fellowship panitianya campur dari sana sini, yang satu berkata: Seharusnya begini... Yang lain: Saya ikut di sana begini... Saya ikut di sana begini. Semua kehendaknya sendiri. Akhirnya saya tegaskan: 'Harus dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak A, B.' Jalan. Dulunya susah, setiap mau fellowship saya tertekan. Yang datang tidak banyak, tetapi panitianya banyak sekali dan bertengkarnya keras sekali. Akhirnya saya tegaskan. Saya tidak mengusir, tetapi saya tegaskan harus sesuai dengan kehendak Tuhan, yang mau silakan, yang tidak mau silakan. Sampai hari ini beres, sudah enak."

      Jangan sampai egois! Perhatikan baik-baik dalam nikah, penggembalaan.
      Sebagai suami di dalam nikah seringkali berkata: Yang penting aku benar, padahal perasaan isteri sudah tercabik-cabik, tetapi suami tidak peduli. Begitu juga isteri terhadap suami. Begitu juga dalam penggembalaan. Sama-sama egois.

      Mari, biar lewat suara Gembala, pengikutan kita kepada Tuhan diperbaiki. Petrus yang hebat bisa salah dalam pengikutannya, apalagi kita. Harus waspada! Kalau suami sudah tahu isteri akan tersinggung saat ia berbuat sesuatu, jangan diulangi. Kalau mau menjadi satu jangan ikuti kehendak sendiri, kalau isteri belum mau, doakan. Jangan egois, kebenaran sendiri, dan kehendak sendiri! Menikah adalah dua menjadi satu, itulah kehendak Tuhan yang ada di dalamnya. Kembali pada kehendak, kepentingan, dan kebenaran Tuhan, kita semua akan menjadi satu, itulah pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.


    • Matius 14: 28-31
      14:28. Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."
      14:29. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
      14:30. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"
      14:31. Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

      Dengan dua pengikutan yang salah, Tuhan mengizinkan Petrus menghadapi angin dan gelombang sampai hampir tenggelam karena ia bimbang.

      Pengikutan Petrus yang ketiga: pengikutan Petrus masih ditandai dengan kebimbangan. Masih ragu: Yang mana yang benar? Bahaya! Apalagi berkata: Masak satu gereja mati semua? Jangan!

      "Kalau guru saya mengatakan: Iya, kalau gembala mengajarkan yang tidak benar, satu gereja akan mati semua."

      Dulu, zaman Nuh, satu dunia mati. Yang paling bagus adalah sesuai dengan firman, jangan berdebat.
      Jangan bimbang! Saat kita bimbang, pasti tenggelam, tidak mungkin naik. Perhatikan baik-baik! Orang bimbang tidak mendapat apa-apa, dan pasti tenggelam ke bawah.

      Tuhan mengizinkan Petrus tenggelam karena kesalahannya sendiri yaitu bimbang, supaya ia mengulurkan tangan kepada Tuhan; menyerah sepenuh kepada Tuhan; dimulai dengan menyerahkan segala kebimbangan dan kekuatiran kepada Tuhan. Ini yang ditunggu oleh Tuhan.

      Kalau sudah bimbang terhadap pribadi Tuhan/pengajaran pasti kuatir karena ia tidak percaya kepada kuasa-Nya--waktu Tuhan berjalan di atas air, murid-murid bimbang dan mengira Ia hantu; Tuhan dianggap hantu, hantu dianggap Tuhan.
      Ini yang harus diserahkan lebih dulu.

      Serahkan dulu kebimbangan dan kekuatiran kepada Tuhan; yakin pada pengajaran yang benar dan kuasa Tuhan. Harus begitu kalau mau diangkat dari ketenggelaman, dan kita mulai tergembala.
      1 Petrus 5: 7 => pasal penggembalaan
      5:7. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

      'Serahkanlah segala kekuatiranmu'= termasuk menyerahkan kebimbangan.
      Kalau masih bimbang, berarti kita belum tergembala; sama seperti Yudas Iskariot, sampai matipun ia belum tergembala. Petrus beruntung karena dulunya ia belum tergembala juga. Ini koreksi bagi saya juga. Sudah hebat melayani ternyata belum tergembala; Yudas masih ke sana ke mari, ia mendengar Yesus, tetapi juga mendengar tua-tua dan ahli Taurat yang pengajarannya bertentangan dengan Yesus.

      Kalau pengajarannya sama, itu namanya fellowship; kalau bertentangan, berarti bersekongkol, dan nanti akan menghantam yang benar. Pasti! Hati-hati! Bukan tidak boleh ibadah, silakan, tetapi harus dalam ibadah yang benar. kalau sama-sama benar, itu persekutuan yang menguatkan, menyatukan, dan lebih mantap lagi.

      "Dulu saat ada Pdt Pong, kami senang, zangkoor juga ikut, semua tambah senang dan tambah semangat."

      Tetapi kalau kita datang pada yang tidak benar/bertentangan, itu adalah persekongkolan, bukan bersekutu, dan bahayanya, satu waktu kita akan menghantam yang benar. Bukan kita sombong atau merasa benar, tetapi ini rumus. Kalau sudah tahu beda, tetapi masih tetap mau dengar, satu waktu dia akan menyalahkan yang benar--Yudas langsung menjual Yesus, berarti ia menyalahkan Yesus yang benar. Hati-hati!

      "Dalam pengalaman-pengalaman, tidak terduga, orang yang dulunya gigih, akhirnya bisa berkata yang menyakitkan. Itu saat zaman pdt Pong, saya dengar. Sadis sekali bicaranya. Dulu mendukung luar biasa, tetapi ikut sana sini, akhirnya hanya masalah angka dua yang diterangkan oleh om Pong, dia berkata: Angka dua kok bukan KB (keluarga berencana). Bayangkan! Saya sedih sekali mendengarnya, apalagi beliau orang yang saya hormati."

      Ini kenyataan yang ada. Karena itu jangan bimbang!
      Begitu diizinkan tenggelam, Petrus langsung berkata: Hanya Engkau, Tuhan! Hanya satu pengajaran. Dia menyerahkan segala kekuatiran dan kebimbangan kepada Tuhan, dan dia mengalami pengangkatan, pemeliharaan dari Tuhan, sampai tergembala. Setelah itu baru ia bisa mengulurkan tangan--menyerahkan diri sepenuh kepada Tuhan--, rela mati untuk Tuhan.

      Yohanes 21: 15-19
      21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
      21:16. Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
      21:17. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
      21:18. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua,
      engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
      21:19. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan
      bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

      Kalau masih bimbang dan kuatir, akan tenggelam dan bersekongkol untuk menghantam yang benar. Sudah terjadi hari-hari ini. Hati-hati! Orang Herodian--pendukung Herodes, si penjajah--dan Farisi--nasionalisme; 'pejuang'--secara logika tidak mungkin bertemu, tetapi akhirnya bersatu untuk menghantam Yesus yang benar. Pasti terjadi. Hati-hati! Tuhan tolong kita semua.


    Tadi, Matius akhirnya dipakai Tuhan.
    Sekarang, Petrus juga dipakai Tuhan sekalipun pengikutannya masih salah.

    Ini gunanya firman penggembalaan yang diulang-ulang, satu kali belum bisa, tetapi kita mau mendengar terus, satu waktu dosa apapun bisa dilepaskan lewat kekuatan suara Gembala yang menuntun kita ke takhta sorga.

    Mungkin pengikutan kita masih sama seperti Petrus yaitu masih bimbang, egois; tanpa kasih. Dia egois terhadap Tuhan--menolak salib--, dan terus merugikan sesama dengan prinsip: Aku membela Tuhan--waktu itu Tuhan mau ditangkap di Taman Getsemani. 'Aku membela Tuhan', tetapi sesama hancur. Jangan!
    Kalau membela Tuhan, diam--berdiam diri--, dan Tuhan yang akan membela kita.

    "Kita bisa membela Tuhan/pengajaran yang benar bukan dengan berdebat, tetapi diam. Karena itu kalau kita baca 'sesuatu' di media sosial, diam saja. Kalau perlu, jangan baca! Kalau melawan terus, itu sama seperti memotong telinga, sehingga orang tidak mau dengar. Diam saja, nanti dia akan penasaran, mungkin tidak berani datang fellowship tetapi banyak yang membuka internet untuk tahu apa rahasianya."

    malam ini kita diperiksa oleh Tuhan. Selama masih ada kebimbangan, pasti ada kekuatiran, dan pasti tenggelam: rohani, nikah, masa depan tenggelam. Tidak mungkin tidak. Sudah harus kembali pegang satu firman pengajaran yang benar--alkitab--, tidak perlu bertanya lagi, sampai bisa menyerah sepenuh kepada Tuhan. Di situ pasti terjadi pengangkatan dan pemeliharaan Tuhan.

    "Kepada lulusan Lempin-El, saya berani mengatakan: Pengajaran di Lempin-El "Kristus Ajaib" adalah benar karena berdasarkan alkitab. Pegang itu!"

    Kalau sudah bisa mengulurkan tangan, kita juga akan mengalami kuasa Tuhan. Contoh: Musa hanya mengulurkan saat menghadapi laut Kolsom, tidak ada kebimbangan lagi. Tadinya Musa berseru-seru kepada Tuhan saat dikejar Firaun. Tidak perlu berseru-seru, tetapi cukup berserah dan berseru saja kepada Tuhan.

    Keluaran 14: 21-22
    14:21. Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.
    14:22. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

    'Musa mengulurkan tangannya ke atas laut'= jangan pakai logika! Kalau pakai logika, akan dikira orang gila--di depan laut, belakang Firaun, tetapi hanya mengulurkan tangan. Inilah iman; penyerahan sepenuh kepada Tuhan.
    'angin timur'= Roh Kudus/tangan Tuhan.

    Kalau kita sudah mengikut Tuhan dengan penyerahan sepenuh, mujizat akan terjadi, yaitu laut Kolsom terbelah, artinya


    • Semua masalah yang mustahil diselesaikan oleh Tuhan.
    • Kita dipakai dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir; pembangunan tubuh Kristus yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah penyerahan sepenuh, bukan kekayaan, kepandaian dan lain-lain--kepandaian tidak bisa menghadapi laut Kolsom.


    Inilah yang dibutuhkan yaitu pengikutan dengan penyerahan. Tadi, pengikutan dengan penyucian--terlepas dari dosa. Selama belum terlepas dari dosa, seperti berada di rumah cukai terus, sehingga tidak bisa beribadah. Harus terlepas dulu dari ikatan-ikatan dosa; beralih dari rumah cukai ke Rumah Tuhan.

    Kemudian belajar dari Petrus, jangan egois dan bimbang, tetapi menyerah sepenuh, dan Tuhan yang akan membuka jalan dan memakai kita semua.


  3. Yohanes 21: 20-22
    21:20. Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"
    21:21. Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"
    21:22. Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."

    (terjemahan lama)
    21:20. Maka berpalinglah Petrus, lalu melihat murid yang dikasihi oleh Yesus itu mengikut, maka ialah yang tatkala perjamuan malam
    bersandar di dada Yesus sambil berkata, "Ya Tuhan, siapakah yang menyerahkan Tuhan?"

    'makan bersama'= makan perjamuan suci.

    Langkah ketiga pengikutan kepada Tuhan: pengikutan sampai BERSANDAR DI DADA TUHAN.

    Inilah kekuatan firman penggembalaan. Dosa-dosa sampai puncaknya dosa mungkin mengikat kita hari-hari ini lewat tontonan, pikiran, perbuatan, bahkan di dalam ibadah hanya menonjolkan yang jasmani: kemakmuran dan hiburan. Semua itu tidak akan memberi kepuasan, sehingga mencari kepuasan di dunia.

    Percuma mencari kepuasan lewat tontonan-tontonan yang tidak baik, tidak akan pernah puas. Perempuan Samaria lima kali kawin cerai, tetap tidak puas. Harus terlepas dari dosa, baru ada kepuasan; ibadah pelayanan disertai penyucian oleh pedang firman, itulah yang memberi kepuasan--keuntungan besar; kedua sayap dari burung nasar yang besar.

    Kemudian Petrus sampai mengulurkan tangan; menyerah sepenuh kepada Tuhan. Tidak ada lagi kebimbangan dan kekuatiran. Serahkan semua kepada Tuhan.
    Dan terakhir: bersandar di dada Tuhan--pengikutan yang ditandai dengan kesatuan; kita sudah menjadi satu dengan Tuhan. Saat kita makan dan minum perjamuan suci, Yesus akan tinggal di dalam kita, dan kita tinggal di dalam Dia--pengikutan yang disertai dengan kesatuan; seperti bersandar di dada Tuhan.

    Yohanes 6: 55-56
    6:55. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
    6:56. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

    Makanan dan minuman yang memuaskan adalah perjamuan suci.
    Sebenarnya, makanan manusia adalah buah--di Taman Eden. Tetapi manusia tidak puas, sehingga memakan buah yang dilarang oleh Tuhan karena keinginannya sendiri. Hati-hati dengan godaan dari luar: tontonan! Akhirnya manusia diusir ke dalam dunia, bukan hanya makan buah, tetapi juga daun, batang, akar, masih tidak puas, binatang dimakan, tidak puas lagi, manusia dimakan--secara rohani: teman makan teman. Tidak ada yang memuaskan.

    Karena itu Yesus rela mati di kayu salib untuk menjadi makanan dan minuman sejati yang memuaskan dan menyatukan kita--kita bersandar di dada Tuhan.
    Saat-saat ibadah pendalaman alkitab adalah saat kita bersandar di dada Yesus.

    Dua kali disebutkan Yohanes bersandar di dada Yesus:


    • Yohanes 13: 21-26
      13:21. Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
      13:22. Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya.
      13:23. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya,
      bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.
      13:24. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!"
      13:25. Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?"
      13:26. Jawab Yesus: "
      Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.

      'seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku'= ada pengkhianat, berarti tidak menjadi satu.

      Yang pertama: orang yang bersandar di dada Yesus tahu siapa yang menjadi pengkhianat/antikris.
      Pengkhianat/antikris= orang yang dulunya di antara kita tetapi keluar= tidak setia.

      Jadi bersandar di dada Yesus sama dengan setia dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan; tidak berkhianat.
      Kita harus setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan.

      Kalau tidak setia seperti Yudas, berarti bersandar pada yang lain--Yudas bersandar pada uang--, dan akhirnya menjadi pengkhianat, pencuri, sampai binasa selamanya.
      Orang yang tidak setia akan menjadi antikris; musuhnya Tuhan; bersandar pada yang lain berarti menjadi musuhnya Tuhan.


    • Yohanes 21: 20-22
      21:20. Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"
      21:21. Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"
      21:22. Jawab Yesus: "
      Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."

      Yang kedua: mati hidup di tangan Tuhan, tidak bisa diganggu gugat, itu adalah mempelai wanita Tuhan, milik Tuhan. Milik Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat adalah persepuluhan, penyembahan (ibadah pelayanan; rumah Tuhan), dan mempelai wanita.

      Hubungan mempelai--tubuh terhadap Kepala--adalah hubungan penundukan; taat dengar-dengaran sampai daging tidak bersuara.


    Jadi bersandar di dada Tuhan artinya beribadah melayani Tuhan dengan SETIA DAN TAAT DENGAR-DENGARAN sampai daging tidak bersuara lagi; mengasihi Tuhan lebih dari semua. Kehidupan seperti ini yang akan dimeteraikan oleh Tuhan--ibadah pelayanan adalah salah satu milik Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat.

    Kidung Agung 8: 6
    8:6. --Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!

    (terjemahan lama)
    8:6. Taruhlah akan daku dalam hatimu bagaikan meterai, bagaikan meterai pada lenganmu; karena kuat kasih itu seperti kuat maut, dan
    cemburuan itu hebat seperti alam barzakh, nyalanya seperti nyala api, seperti halilintar Tuhan.

    Setia dan taat dalam ibadah pelayanan dan penyembahan kepada Tuhan, menyerah sepenuh, mengasihi Tuhan lebih dari semua sama dengan kita dimeteraikan oleh Tuhan pada hati dan lengan. Kita benar-benar dipeluk oleh tangan kasih Tuhan yang sekuat maut.

    Malam ini kita dimeteraikan, tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Hidup mati kita ada di dalam tangan Tuhan. Jangan takut! Kita hanya berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan; kita hanya berserah dan berseru kepada-Nya; bergantung pada tangan kasih sekuat maut. Mautpun tidak bisa mengalahkan kita.

    Dia sanggup memelihara kita sampai zaman antikris berkuasa di bumi. Asalkan pengikutan kita benar, tidak usah bingung, Tuhan yang menentukan semua. Kita tinggal menangis, dan Tangan kasih-Nya sanggup memelihara kita di tengah kesulitan dunia sampai hidup kekal--maut dikalahkan.
    Dunia memang semakin sulit, tetapi kalau dipeluk tangan Tuhan, biarkan tangan kasih-Nya yang bekerja.

    Tangan Tuhan menyelesaikan semua masalah yang mustahil. Kalau masih ada masalah yang belum selesai periksa pengikutan kita!
    Bagaimana sikap kita terhadap suara Gembala? Masihkah ada suara asing yang mempengaruhi? Jangan! Harus memegang satu yang sesuai dengan alkitab, dan masalah akan selesai, ada pemeliharaan sampai hidup kekal.

    Masih ada akar dosa? Lepaskan, kita hidup benar dan suci, sehingga kita bisa melihat Tuhan, dan ada kepuasan sejati dari Tuhan.

    Kemudian setia dan taat--bersandar di dada Tuhan; kita seperti bayi yang menangis kepada Tuhan.

    Tangan kasih Tuhan juga memberikan masa depan yang berhasil dan indah.
    Sampai kalau Tuhan datang kembali, kita disucikan dan diubahkan sampai ada jaminan kesempurnaan dari Yesus, untuk layak menyambut kedatangan-Nya kedua kali di awan-awan yang permai. Kita masuk Firdaus dan Yerusalem baru, benar-benar berada di takhta sorga, tidak ada lagi air mata di sana.

Kita hanya mengulurkan tangan, seperti bayi yang tidak bisa apa-apa. Biar kita dipeluk Tuhan.
Kita tidak bisa apa-apa di dunia ini: menghadapi nikah dan buah nikah, pelayanan, penyakit dan lain-lain. Serahkan kepada Tuhan. Asakan kita bersandar di dada Tuhan, mati hidup kita menjadi urusan Dia.

Tidak berdaya menghadapi dosa seperti Lewi/Matius berada di rumah cukai dan binasa?
Menghadapi kebimbangan dan pencobaan-pencobaan seperti Petrus yang tenggelam, atau Musa yang tidak bisa apa-apa menghadapi laut Kolsom? Yang bisa kita lakukan hanya mengulurkan tangan kepada Tuhan.
Terakhir, menghadapi maut--satu langkah jaraknya kita dengan maut--sampai neraka, kita tidak mampu. Serahkan semua kepada Tuhan; kita bersandar di dada-Nya.

Menghadapi apa saja, tiga hal ini yang membuat kita tenggelam, masa depan tidak baik. Serahkan semua kepada Tuhan! Kita bersandar di dada-Nya. Jujur akui di hadapan Tuhan! Celaka marabahaya, dosa, ketenggelaman, ketidakbahagiaan, ketidakpuasan, susah payah, letih lesu, beban berat, serahkan kepada Tuhan. Biar Dia yang memeluk kita.

Kita tidak mampu menghadapi dosa, pencobaan, masa depan dan lain-lain. Jangan berharap pada yang lain, tetapi hanya kepada Tuhan. Kaum muda, mungkin ada suara asing: Bagaimana nanti? Serahkan kepada Tuhan sampai kita merasakan damai, semua enak dan ringan! Beban-beban secara jasmani dan rohani, rumah tangga, pelayanan, serahkan kepada Tuhan!

Mungkin tidak ada yang tahu, kesempatan, Tuhan yang tahu dan Dia yang memeluk kita semua.
Tuhan yang menentukan semua yang terbaik dan terindah, sampai sempurna.

Kita bersandar di dada-Nya; hari-hari ini menyatu dengan Dia, jangan terpisah sedikitpun.
Lepas dari ikatan dosa, menyerah sepenuh kepada Tuhan; bersandar/menyatu dengan Dia; berserah dan berseru hanya kepada Dia.
Maut mengintai kita, mau menghancurkan setiap segi hidup kita: ekonomi, masa depan, kesucian, nikah dan buah nikah, pelayanan dan sebagainya. Setiap detak jantung diancam oleh maut. Itu sebabnya kita harus bersandar di dada Tuhan; bergantung pada setiap detak jantung Tuhan.

Masih ada kesempatan bagi kita malam ini. Mungkin harus seperti Matius: lepas dari dosa-dosa dan puncaknya dosa; mungkin seperti Petrus: harus lepas dari kebimbangan dan keegoisan; mungkin harus seperti Yohanes yang bersandar di dada Tuhan.
Tunjukkan apa adanya hidup kita! Saat-saat bersandar kita bisa mendengar degup jantungnya Tuhan. Kita bisa mencurahkan seluruh isi hati kita kepada Dia, mengaku segala kekurangan dan kelemahan kita dalam pengikutan kepada Dia.

Mungkin tidak ada yang tahu, tetapi Dia yang tahu sedalam-dalamnya. Kesempatan untuk mengaku kepada Tuhan, kesempatan untuk menyatu, dan kesempatan untuk menyerah sepenuh kepada Tuhan.
Perjamuan suci adalah uluran tangan kasih sekuat maut yang melakukan semua sampai menyempurnakan kita semua. Ada masalah, dosa, air mata, kejatuhan, kebimbangan, ketenggelaman, kegagalan, kesusahan dan sebagainya, jangan dipendam, tetapi serahkan kepada Tuhan.

Kesempatan malam ini kita bersandar di dada Tuhan, nikmati, semua beban sudah ditanggung Dia, kita pulang dengan wajah berseri, semua enak dan ringan. Bukan hanya sampai di dunia, tetapi sampai di awan-awan dan takhta sorga, tidak ada lagi air mata. Kita bahagia bersama dengan keluarga kita masing-masing. Doakan suami, isteri, anak, orang tua sekalipun menyakiti kita dan lain-lain, supaya tidak ada yang ketinggalan saat Tuhan datang kembali.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 31 Juli 2018 - 02 Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 15-16 Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Palangkaraya)

  • September 2018
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • September 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • Februari 2019
    (Ibadah Kunjungan di Chennai, India)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top