English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 19 September 2009 (Sabtu Sore)
Pembicara: Pdt. Mikha Sanda Toding

MARKUS 11:9

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 Oktober 2014 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Doa Surabaya, 10 September 2014 (Rabu Sore)
Pembicara: Pdm. Gideon Pakpahan

Selamat malam dan selamat mendengarkan Firman Tuhan, biarlah kasih karunia dan damai sejahtera dari Tuhan,...

Ibadah Raya Malang, 19 Maret 2017 (Minggu Pagi)
IBADAH PENYERAHAN ANAK

Markus 4:35-41
4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka:...

Ibadah Raya Surabaya, 25 Desember 2011 (Minggu Pagi)
Matius 26:
ay. 57-68= SAKSI DAN KESAKSIAN.

Kita sudah mempelajari 2 macam saksi dan kesaksian (mulai diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 06 November 2011):
ay. 59-62=...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 31 Agustus 2013 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 5:10-11
5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes,...

Ibadah Raya Surabaya, 07 Februari 2010 (Minggu Sore)
Matius 24: 45-51
= berjaga-jaga dikaitkan dengan kedatangan Tuhan yang tidak diduga waktunya, yaitu: ay. 45-47=...

Ibadah Doa Malang, 25 Januari 2011 (Selasa Sore)
Pembicara: Pdt. Mikha Sanda Toding

Matius 7:1-6
7:1. "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu...

Ibadah Natal Kaum Muda Remaja Malang, 21 Desember 2013 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 6 dalam susunan Tabernakel terkena pada...

Ibadah Doa Malang, 19 Januari 2016 (Selasa Sore)
Pembicara: Pdt. Mikha Sanda Toding

Matius 15:32-39
15:32 Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 14 Desember 2015 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Doa Malang, 20 Januari 2009 (Selasa Sore)
Matius 24:29-30 " Keadaan Pada Masa Kedatangan Yesus Ke-2x "
Terjadi badai maut yang...

Ibadah Raya Surabaya, 19 Agustus 2012 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 09 Juni 2016 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 4:2
4:2 Segera...

Ibadah Doa Puasa Malang Session II, 10 Agustus 2010 (Selasa Siang)
Keluaran 25 dimulai dengan korban bahan-bahan untuk pembangunan Tabernakel.

Keluaran 25:1-9 dibagi menjadi 3...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 14 September 2014)
Tayang: 24 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 September 2014)
Tayang: 06 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 03 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 01 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 31 Agustus 2014)
Tayang: 04 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 25 Agustus 2014)
Tayang: 13 Desember 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Raya Surabaya, 17 Juni 2018 (Minggu Siang)

Dari rekaman Ibadah di Medan

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah-tengah kita sekalian.

Kidung Agung 3: 6-11
3:6. Apakah itu yang membubung dari padang gurun seperti gumpalan-gumpalan asap tersaput dengan harum mur dan kemenyan dan bau segala macam serbuk wangi dari pedagang?
3:7. Lihat, itulah joli Salomo, dikelilingi oleh enam puluh pahlawan dari antara pahlawan-pahlawan Israel.
3:8. Semua membawa pedang, terlatih dalam perang, masing-masing dengan pedang pada pinggang karena kedahsyatan malam.
3:9. Raja Salomo membuat bagi dirinya suatu tandu dari kayu Libanon.
3:10. Tiang-tiangnya dibuatnya dari perak, sandarannya dari emas, tempat duduknya berwarna ungu, bagian dalamnya dihiasi dengan kayu arang. Hai puteri-puteri Yerusalem,
3:11. puteri-puteri Sion, keluarlah dan tengoklah raja Salomo dengan mahkota yang dikenakan kepadanya oleh ibunya pada hari pernikahannya, pada hari kesukaan hatinya.

Perikop: iring-iringan mempelai.
Ayat 6= penampilan mempelai: tempatnya: di padang gurun; bentuknya: seperti gumpalan asap yang berbau harum. Ini sudah dipelajari.

Siang ini kita maju satu langkah.
Ayat 7: 'joli'= tempat tidur, artinya: hubungan yang paling dalam antara mempelai pria dan mempelai wanita. Ini menunjuk pada kesatuan mempelai--ada penampilan mempelai, kemudian kesatuan mempelai, sampai mencapai perjamuan kawin Anak Domba.

Jadi, kita harus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan lebih dalam lagi sampai yang terdalam yaitu hubungan Mempelai Pria dan mempelai wanita--hubungan Kepala dengan tubuh yang tidak bisa terpisahkan lagi.
Mempelai Pria= Yesus= Kepala; mempelai wanita= tubuh.

ini yang harus kita pikirkan. Sudah ikut Yesus, baik, sudah melayani, baik, tetapi yang harus kita pikirkan adalah hubungan yang lebih dalam lagi, sampai hubungan Kepala dengan tubuh yang tidak bisa terpisahkan lagi selamanya.

Bagaimana caranya supaya hubungan kita dengan Tuhan bisa lebih dalam lagi?
Lukas 5: 3-4
5:3. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
5:4. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."

'Bertolaklah ke tempat yang dalam'= hubungan yang lebih dalam digambarkan dengan bertolak ke tempat yang dalam. Sesudah Yesus mengajar, Ia menyuruh untuk bertolak ke tempat yang dalam.
Artinya, hubungan kita dengan Tuhan bisa lebih mendalam lewat pemberitaan firman pengajaran--'Ia duduk dan mengajar'.

Di ayat sebelumnya Yesus menginjil.
Lukas 4: 44
4:44. Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Sesudah menginjil, Yesus mengajar--lebih dalam.
Ada dua macam pemberitaan firman Allah:

  1. Efesus 1: 13
    1:13. Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.

    Yang pertama: Injil keselamatan; firman penginjilan; susu; kabar baik, yaitu firman yang memberitakan tentang kedatangan Yesus pertama kali ke dunia untuk mati di kayu salib dan menyelamatkan manusia berdosa.

    Prosesnya:


    1. 'ketika kamu percaya'= kita harus percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat.
    2. Bertobat= berhenti berbuat dosa dan kembali kepada Tuhan; mati terhadap dosa. Orang percaya harus bertobat.
    3. Baptisan air.
    4. Baptisan Roh Kudus.


    Inilah proses keselamatan lewat firman penginjilan--seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus.; Dia juga dibaptis air dan Roh Kudus.
    Matius 3: 16-17
    3:16. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
    3:17. lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah
    Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

    Ayat 16= baptisan air dan Roh Kudus.
    'Yesus segera keluar dari air'= baptisan air yang benar adalah orang yang sudah percaya Yesus dan bertobat--mati terhadap dosa--harus dikuburkan dalam air bersama Yesus dan bangkit--keluar dari dalam air--bersama Yesus sehingga mendapatkan hidup baru/hidup sorgawi--langit terbuka--yaitu mengalami baptisan Roh Kudus; kita hidup dalam kebenaran--Roh Kudus adalah Roh kebenaran.

    'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi'= hidup dalam kebenaran sama dengan menjadi anak-anak Allah.

    Jadi firman penginjilan menuntun hubungan kita dengan Tuhan dalam bentuk hubungan anak dengan Bapa. Kalau kita anak Allah, berarti Dia adalah Bapa kita.
    Hidup benar sama dengan selamat dan diberkati. Kita selalu berkata: Bapa baik. Betul, itulah hubungan anak dengan Bapa. Sebagai anak Allah kita selamat dan diberkati.

    Sayang sekali, pemberitaan firman seringkali hanya sampai di sini. Sudah baptisan air dan Roh Kudus, sudah sombong, apalagi kalau sudah diberkati. Merasa sudah cukup sampai di sini, padahal ada ancaman yaitu ada anak yang terhilang selamanya. Bahaya! Oleh sebab itu hubungan dengan Tuhan harus lebih mendalam lewat pemberitaan firman yang kedua.


  2. 2 Korintus 4: 4
    4:4. yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

    Yang kedua: cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah wujud Allah= firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua; kabar mempelai; makanan keras, yaitu firman yang memberitakan tentang kedatangan Yesus kedua kali dalam kemuliaan sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga untuk menyucikan orang-orang yang sudah selamat sampai sempurna.

    Firman pengajaran ini yang membawa hubungan kita dengan Tuhan lebih mendalam lagi, bukan hanya anak dengan Bapa.

Tadi, firman penginjilan membawa hubungan kita dengan Tuhan sebagai anak dengan Bapa--selamat dan diberkati Tuhan. Kalau bukan anak Tuhan berarti anak setan. Kita dilahirkan secara jasmani sebagai anak orang tua kita, tetapi secara rohani ada dua: anak setan atau anak Tuhan. Kalau mau menjadi anak Tuhan kita harus menerima Injil sampai masuk baptisan air dan menerima baptisan Roh Kudus. Dia menjadi Bapa kita; kita selamat dan diberkati.

Tetapi belum cukup. Firman pengajaran meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan lebih dalam lagi, sampai, sampai hubungan Mempelai Pria dan mempelai wanita--Kepala dengan tubuh--yang tidak bisa dipisahkan lagi.

Jelas, penginjilan penting, kalau tidak ada penginjilan, kita tidak akan pernah menjadi anak Tuhan, tetapi anak setan. Harus ada firman penginjilan, supaya kita menjadi anak Tuhan. Tetapi kalau hanya anak dan Bapa, kita diberkati, masih bisa jadi anak terhilang. Si bungsu begitu diberkati warisan, malah terhilang. Ini bahayanya.
Karena itu harus ada juga pemberitaan firman pengajaran yang meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan sampai hubungan Kepala dengan tubuh yang tidak bisa dipisahkan sedetikpun.

Penginjilan tidak salah, tetapi ada waktunya; minum susu ada waktunya, sesudah itu harus makanan keras. Penginjilan harus ada tetapi ada waktunya untuk beralih pada pengajaran. Bukan berarti orang yang dipakai dalam penginjilan tidak dipakai Tuhan. Dia dipakai Tuhan, tetapi mengasuh seperti hubungan anak dengan Bapa ada waktunya, setelah itu harus meningkat dalam pengajaran.

"Ada hamba Tuhan yang dipakai dalam pengajaran berkata: Om, penginjilan baru buka, jemaatnya sudah ribuan. Saya berkata: 'Tidak apa-apa dia penginjilan, kita dukung dan doakan.' Tetapi jangan iri juga kalau orang-orang di dalam penginjilan sudah mulai mengerti lalu mencari pengajaran. Bukan dicuri atau dirampok, tetapi tugasnya di dalam penginjilan sudah selesai. Sama seperti Yohanes Pembaptis yang dipancung kepalanya--sudah selesai tugasnya--, lalu dilanjutkan oleh Yesus. Masing-masing dipakai Tuhan."

Ada empat tingkatan hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan:

  1. Yohanes 20: 16
    20:16. Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.

    Ini adalah cerita tentang kebangkitan Yesus. Maria menunggu di kubur Yesus, tetapi tidak mengenal Tuhan, setelah Tuhan memanggil dia, baru dia mengenal Tuhan sebagai Guru.

    Tingkatan hubungan yang pertama: hubungan murid dengan Guru. Waktu itu Yesus tampil dalam tubuh kemuliaan. Sekarang dalam bentuk pemberitaan cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus. Nanti saat Dia datang kembali kedua kali barulah kita benar-benar melihat Dia dalam tubuh kemuliaan.

    Jadi saat kita mendengarkan firman pengajaran sama dengan Maria melihat Yesus bangkit. Ada yang bertanya: Siapa, kau? Penjaga taman rupanya. Ada yang tidak mau mengerti; ada yang hatinya tertutup. Tadinya Maria tidak mau mengerti juga, malah curiga--'Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."', sekarang artinya kabar mempelai dituduh mencuri. Bukan mencuri, tetapi sudah waktunya susu berpindah pada makanan keras. Tidak akan bisa dibendung.
    Baru awal penginjilan, banyak jiwa, tidak apa-apa, tetapi nanti ada waktunya beralih pada pengajaran

    Praktik hubungan murid dan Guru: memiliki telinga yang terbuka. Kalau telinganya terbuka, mulut dan matanya akan terbuka. Ini cirinya murid.


    • Telinga terbuka= kita bisa mendengar firman pengajaran yang benar, mengerti, percaya/yakin akan firman pengajaran yang benar. Kita bisa mendengar dengan sungguh-sungguh dan menikmati, berarti sudah menjadi murid.
      Yesus saja duduk saat mengajar, supaya kita sama-sama menikmati firman.

      Telinga terbuka, hati juga akan terbuka--firman pengajaran yang benar menjadi iman di dalam hati.


    • Mata terbuka= kita bisa melihat Yesus dalam kebangkitan dan kemuliaan-Nya, bukan hanya melihat Yesus yang mati.
      Melihat Yesus yang mati= firman penginjilan. Kita sudah mantap melihat Yesus yang sudah mati, lalu ditingkatkan untuk melihat Yesus dalam kebangkitan dan kemuliaan.

      Kalau telinga, mata, dan hati terbuka terhadap firman, hasilnya:


      1. Matius 13: 16
        13:16. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.

        Hasil pertama: kita merasakan kebahagiaan sorga.
        Saat kita bisa mendengar firman dan melihat pribadi Yesus, saat itu kita bisa mengalami kebahagiaan dan kepuasan dari sorga. Tidak ada lagi kegelisahan.


      2. Amsal 20: 12
        20:12. Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.

        Hasil kedua: Tuhan menciptakan kita menjadi hamba/pelayan Tuhan yang khusus, untuk menjadi saksi Tuhan.

        Maria bersaksi ke mana-mana, bukan bergosip--telinga dan mulut terbuka, maka mulut juga terbuka.
        Sumbernya dari hati--firman menjadi iman di dalam hati. Kalau hati terbuka, mulut akan terbuka.

        Kita bersaksi tentang firman penginjilan kepada jiwa-jiwa yang belum percaya Yesus, dan bersaksi tentang kabar mempelai kepada jiwa-jiwa yang sudah percaya Yesus.
        Maria dipakai untuk bersaksi: Yesus sudah bangkit, bukan Yesus yang mati. Sudah banyak yang percaya Yesus sudah mati, tetapi Yesus yang bangkit, mulia, dan akan datang kembali perlu disaksikan.

        Menjadi saksi sama dengan menjadi terang.
        Yohanes 15: 25-27
        15:25. Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan.
        15:26. Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.
        15:27. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."

        Kita harus bersaksi karena kita menghadapi kebencian tanpa alasan di dunia--kuasa setan. Sumber kebencian adalah setan, bapa pembunuh. Kebencian tanpa alasan sama dengan kegelapan yang paling gelap. Hanya bisa dilawan dengan terang kesaksian, tidak bisa dengan lainnya.

        Karena itu kita harus bersaksi.
        Kalau ada terang kesaksian, hasilnya:


        1. Kebencian atau setan tidak akan bisa menjamah kita; kita mengalami naungan Tuhan.
        2. Hasil kedua: 'Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN'= kita mengalami kuasa penciptaan Tuhan.
          Kita mengalami naungan Tuhan, tidak bisa dijamah setan--kegelapan/kebencian--, dan kita mengalami kuasa penciptaan.

          Ini hasilnya kalau kita dipakai bersaksi--pelayan khusus; Maria tidak dipakai dalam pelayanan lainnya, tetapi hanya bersaksi. Hamba/pelayan Tuhan yang ditugaskan untuk bersaksi khusus diciptakan oleh Tuhan. Mari bersaksi!


        3. Hasil ketiga: yang mustahil menjadi tidak mustahil; masalah yang mustahil diselesaikan oleh Tuhan.
          Melihat Tuhan yang bangkit--maut saja tidak bisa menghalangi--, berarti masalah mustahil juga diselesaikan oleh Tuhan.

          Jadi bersaksi sama dengan menyelesaikan masalah, kalau bergosip justru menambah masalah. Jangan pikir kalau bergosip termasuk memfitnah dan menjelek-jelekkan orang itu enak. Enak saat bicara, tetapi setelah itu masalah yang datang. Kalau sudah ada dalam masalah, masalah akan bertambah-tambah sampai dia sendiri yang stres. Jangan!
          Kalau bersaksi, ada kuasa penciptaan untuk menyelesaikan masalah.


        Bersaksi ini benar-benar khusus!


    Mari bersaksi, mengajak jiwa-jiwa datang kepada Tuhan, supaya hubungan dengan Tuhan lebih mendalam lagi. Hubungan anak dengan Bapa tidak salah, tetapi kalau hanya sebatas itu, masih ada anak terhilang; lebih diberkati lebih bahaya lagi, benar-benar hilang keselamatan seperti si bungsu.
    Lebih dalam lagi yaitu hubungan murid dengan Guru. Kita lebih dipakai Tuhan untuk bersaksi; kita melawan setan--kegelapan dan kebencian--, dan masalah-masalah selesai--kuasa penciptaan.


  2. Yohanes 20: 17a
    20:17a. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku

    Tingkatan hubungan yang kedua: hubungan saudara dengan Yesus.

    Kalau dulu, ada saudara Yesus secara jasmani. Sekarang saudara dalam arti rohani; lebih dalam lagi dari pada hubungan murid dengan Guru.
    Matius 12: 48-50
    12:48. Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?"
    12:49. Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
    12:50. Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

    Tadi, telinga dan mata sudah terbuka--percaya pada firman--, sekarang mempraktikkan firman.
    Saudara Yesus adalah kehidupan yang mempraktikkan firman pengajaran yang benar, yang sudah dimengerti dan diyakini. Tidak ragu-ragu. Berarti hubungan murid dan Guru meningkat menjadi hubungan saudara Yesus.

    Tadi, mendengar dan mengerti firman, firman sudah ditulis di dahi, kemudian percaya, firman ditulis di hati.
    Sekarang, firman yang dipraktikkan akan mendarah daging dalam hidup kita--ditulis di tangan kita; ditulis dalam seluruh hidup kita, dan firman menjadi hikmat sorga di dalam hidup kita. Inilah hubungan saudara dengan Yesus, kita punya hikmat; seluruh hidup ditulisi firman--saudara kandung, artinya kandungannya sama yaitu firman.

    Hasilnya:


    • Pengkhotbah 7: 11-12
      7:11. Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.
      7:12. Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya.

      Hasil pertama: hikmat sorga/firman pengajaran yang benar mampu melindungi dan memelihara hidup kita di zaman yang sudah sulit sampai zaman antikris berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun. Kalau kita hanya bergantung pada kekayaan, perusahaan dan lain-lain, tidak akan bisa, karena sudah diblokir semua pada zaman antikris kecuali menyembah dia. Oleh sebab itu mulai sekarang kita harus bergantung pada firman pengajaran yang benar.

      Firman pengajaran yang benar artinya tertulis di dalam alkitab. Seperti Petrus dan kawan-kawan semalam-malaman bekerja keras--menggunakan kepandaian dan pengalamannya--tetapi dengan adanya persaingan dunia, sudah tidak mampu, tidak menangkap apa-apa, ikan kecilpun tidak ditangkap, apalagi nanti zaman antikris, tambah tidak bisa apa-apa.

      Sekarang kita boleh bekerja yang keras, tetapi jangan lupa, hidup kita berasal dari firman pengajaran. Begitu Tuhan datang, Dia menyuruh murid-murid untuk menebarkan jalanya--firman pengajaran yang keras, yang tidak cocok dengan logika; siang hari di pantai, ikuti saja--, dan Petrus menangkap banyak ikan.

      Sekolah, kerja keras tidak salah, tetapi harus ditambah dengan firman pengajaran yang benar. harus ada hubungan saudara dengan Yesus; hubungan yang lebih mendalam dengan Yesus.
      Utamakan saat-saat mendengarkan firman pengajaran yang benar! Itulah hidup kita; itulah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan yang luar biasa atas hidup kita.


    • Wahyu 13: 18
      13:18. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

      Hikmat di sini bukan dari dunia, tetapi firman pengajaran yang benar, yang sudah kita dengar, mengerti, yakini, dan praktikkan.

      Hasil kedua: hikmat Tuhan melindungi kita supaya kita tidak dicap 666; tidak bisa dijamah oleh antikris.

      Banyak orang belajar antikris memakai cap ini itu, terserah. Tetapi tidak bisa dilawan sekalipun dia ahli. Yang kita pelajari adalah firman. Firman kita praktikkan, itu saja. Kita mengerti firman--firman dicap di dahi--, percaya--firman dicap di hati--, dan praktik--firman dicap di tangan. Cap antikris tidak ada tempat lagi, berarti antikris tidak bisa menjamah kita lagi.

      Tadi, lewat hubungan murid dan Guru, setan tidak bisa menjamah kita. Jadi orang yang mengerti dan percaya, firman tidak boleh ada kebencian atau iri hati sedikitpun. Jangankan mencaci-maki orang lain, orang mencaci-maki kitapun kita tidak boleh membenci tetapi mengasihi musuh. Benar-benar hubungan murid dengan Guru; benar-benar murid yang mewarisi pengajaran. Tidak boleh ada iri hati, gosip, dan kebencian.

      Sekarang ditingkatkan pada hubungan saudara dengan Yesus, supaya antikris tidak bisa menjamah kita. Praktikkan firman, bukan hanya yakin firman. Kalau tidak praktik, tidak akan bisa.


  3. Kita ambil dari hubungan tingkat kedua, taat dengar-dengaran juga merupakan sifat domba yang digembalakan.
    Tingkatan hubungan yang ketiga: hubungan domba dengan Gembala. Kita harus taat dengar-dengaran pada suara Gembala/firman penggembalaan--firman pengajaran yang benar, yang disampaikan oleh seorang gembala dengan setia, berurutan, dan diulang-ulang.

    Ini yang harus kita dengar, karena firman penggembalaan merupakan komando dalam penggembalaan. Terhadap suara asing kita bukan hanya tidak boleh dengar, tetapi lari. Suara asing adalah suara yang tidak senada dengan firman penggembalaan/alkitab.
    Contoh: di alkitab diajarkan tidak boleh kawin cerai, kemudian ada pendeta mengajarkan: boleh kawin cerai, kita harus lari, bukan hanya tidak mau dengar--semua ajarannya palsu. Sekalipun hanya satu yang beda, itu sudah tidak benar lagi; seperti rel sudah bergeser sedikit saja, tidak akan pernah ketemu.

    Suara gembala--tongkat kepemimpinan--menuntun kita ke kandang penggembalaan. Karena itu gembala tidak mudah untuk diganti-gantikan. Tongkat gembala ini yang mengarahkan kita untuk masuk kandang penggembalaan. Jadi keberhasilan seorang gembala menyampaikan firman adalah memasukkan domba ke kandang--ruangan suci--, sekarang ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok:


    • Pelita emas= ketekunan dalam ibadah raya; persekutuan dengan Allah Roh Kudus di dalam urapan dan karunia-Nya; kita minum.
    • Meja roti sajian= ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci; persekutuan dengan Anak Allah di dalam firman pengajaran dan kurban Kristus; kita makan.


    • Mezbah dupa emas= ketekunan dalam ibadah doa; persekutuan dengan Allah Bapa di dalam kasih-Nya; kita bernapas.


    Manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, yang berbeda-beda tetapi satu kesatuan. Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus juga berbeda-beda fungsinya tetapi satu kesatuan. Pesta orang Israel juga berbeda-beda: pesta Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun; ada ciri masing-masing.

    Di dalam kandang penggembalaan--ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok--, tubuh, jiwa, dan roh kita melekat pada Allah Tritunggal sehingga setan tritunggal--termasuk nabi palsu--tidak bisa menjamah dan menjatuhkan kita.

    Tadi hubungan murid dan Guru, setan tidak bisa menjamah, kemudian hubungan saudara dengan Yesus, antikris tidak bisa menjamah; sekarang, hubungan domba dengan Gembala, setan tritunggal tidak bisa menjamah kita.
    Kita tidak bisa dijatuhkan dalam penggembalaan, dan kita tidak bisa disesatkan.

    Kalau memperhatikan suara Gembala, kita tidak akan bisa tersesat. Tubuh, jiwa, dan roh kita melekat pada Allah Tritunggal, dan setan tritunggal tidak bisa menjamah kita. Ini artinya kita mengalami penyucian sampai tak bercacat cela--sempurna seperti Yesus.
    Tetapi kalau mau mendengar suara asing, kita akan terhilang.


  4. Yohanes 20: 17b
    20:17b. katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

    'Bapa-Ku dan Bapamu'= Bapanya Yesus adalah juga Bapa kita, berarti Yesus dan kita adalah satu.

    Tingkatan hubungan yang keempat: hubungan tubuh dengan Kepala--hubungan mempelai.

    1 Korintus 11: 3
    11:3. Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

    Susunannya adalah: Bapa -> Yesus -> suami -> isteri. Ini adalah hubungan Kepala dengan tubuh (hubungan mempelai).
    Hubungan Kepala dengan tubuh adalah hubungan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun juga.

    Tadi, setan, antikris, dan nabi palsu tidak bisa menjamah kita, sekarang lewat hubungan tubuh dengan Kepala: maut tidak bisa menjamah kita; kebinasaan tidak bisa menjamah kita.

    Hubungan mempelai--Kepala dan tubuh--adalah leher. Ini adalah hubungan yang paling dekat dan tidak bisa terpisahkan, sampai mautpun tidak bisa memisahkan.
    Leher menunjuk pada doa penyembahan.

    Jadi PUNCAK hubungan kita dengan Tuhan adalah doa penyembahan--puncak dari ibadah pelayanan kepada Tuhan.
    Kita harus meningkat dalam doa penyembahan: doa satu jam, doa puasa, dan doa semalam suntuk, seperti yang Tuhan ajarkan.

    Matius 17: 1-2
    17:1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
    17:2. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

    Doa penyembahan adalah mata kita hanya memandang Yesus, mulut berseru nama-Nya, dan tangan diangkat kepada-Nya (berserah kepada-Nya).
    Jadi doa penyembahan artinya kita sedang berseru dan berserah kepada Tuhan; menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Semua terserah Tuhan.

    Saat kita tidak bisa berpikir, mau apa lagi? Mau marah, akan tambah susah; mau salahkan orang, akan tambah hancur. Harus naik gunung dulu! Banyak naik gunung hari-hari ini! Jangan tinggal di lembah, karena di lembah ada penyakit ayan. Jangan memandang siapapun tetapi Yesus/pengajaran yang benar, berseru kepada-Nya, dan tangan diangkat kepada-Nya--sikap penyerahan dan ketaatan. Dan Tuhan juga akan mengulurkan tangan-Nya kepada kita.

    Hasilnya:


    • Pembaharuan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus--'wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang'--= kemuliaan yang sesungguhnya.
      Mulai dari wajah (hati) diubahkan.

      Kalau wajahnya merah, hatinya marah, kalau wajah pucat, hatinya takut.
      Hati diubahkan jadi hati nurani yang baik.

      Apa itu hati nurani yang baik?


      1. Bisa membedakan sesuatu yang benar dan tidak benar, terutama Tuhan/pengajaran yang benar dan tidak benar. Kita tahu pengajaran yang benar lewat alkitab.
        Kalau sudah bisa membedakan pengajaran yang benar dan tidak benar, maka kita bisa membedakan semua yang benar dan tidak benar; tidak usah bertanya lagi, kita sudah tahu rambu-rambunya.


      2. Sadar ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup kita; bukan bergosip atau menghakimi orang lain. Mungkin soal pandangan sudah salah, kita cepat sadar, dan mohon ampun pada Tuhan. Itu hati nurani yang baik.

        Mohon pada Tuhan! Kita banyak naik gunung supaya mendapatkan hati nurani yang baik. Bereskan semua yang tidak beres!
        Hati nurani adalah landasan. Kalau hati nurani baik--landasan baik--, pesawat bisa turun. Kami hamba Tuhan bukan mengandalkan otak, tetapi hati ini yang menentukan. Kalau otak, berarti Tuhan tidak adil karena ada yang pandai, ada yang kurang pandai.

        Yang jasmani memang ditentukan oleh otak, tetapi yang rohani ditentukan oleh hati nurani yang baik; Tuhan yang menentukan semuanya.


      Kalau hati nurani baik, pakaian juga akan berubah, artinya perbuatan jadi benar, suci, dan baik, perkataan juga suci, benar, dan baik.


    • Hasil kedua: kalau hati nurani sudah baik, maka:


      1. Tuhan mampu menjadikan semua baik--seperti Dia menciptakan langit dan bumi, Dia melihat semua itu baik. Ini adalah kuasa penciptaan. Yang hancur menjadi baik, dari tidak ada menjadi ada; dari tidak ada jemaat menjadi ada jemaat. Tuhan bisa melakukan bagi kita.

        "Lempin-El perhatikan! Dari mana mau mendatangkan jemaat? Hanya dari Tuhan. Satu orang datang saja, saya sudah menyembah Tuhan, mengucap syukur kepada Tuhan."


      2. Maut tidak bisa menjamah lagi. Kalau maut menjamah, kita akan hancur.
        Markus 4: 37-39 => kuasa maut bekerja
        4:37. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
        4:38. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"
        4:39. Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

        'Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?'= kuasa maut.

        Mari, menyeru nama Yesus! Ada kehancuran dan lain-lain--maut bekerja, seperti dialami janda Sarfat--, mari menyeru nama Yesus; banyak naik gunung--menyembah.

        "Saya punya pengalaman tidak bisa makan dan minum. Waktu marah, malah tambah capek, tetapi setelah bisa menyembah, enak, dan Tuhan bisa kirim. Dari tidak ada menjadi ada."

        Maut memang mengincar kita; perahu kehidupan kita, perahu ekonomi kita, perahu pelayanan, perahu apapun diincar oleh maut sampai mau binasa--'Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?' Berseru pada Tuhan!

        Matius 8: 25
        8:25. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."

        'Tuhan, tolonglah'= berseru kepada Tuhan; menyembah Dia apapun keadaan kita. Tuhan akan mengulurkan tangan, dan laut yang bergelora menjadi teduh.
        Teduh= damai sejahtera; ini yang nomor satu--pertolongan terbesar.

        Gelombang terbesar yang menenggelamkan perahu bukan angin dan gelombang yang ditiupkan oleh maut, tetapi kalau kita kuatir, bimbang/ragu. Karena itu pertolongan utama adalah diam dan tenang.

        "Dulu saya diajar oleh Pdt Pong Dongalemba. Saya sakit tetapi tidak tahu penyakitnya apa, sudah berpikir akan mati. Saya telepon om Pong jam dua malam: 'Pa, saya mau mati ini, sakit jantung rasanya.': 'Tenang!' Itu dulu, tenang lalu berdoa, dan bisa tidur. Besok cek, ternyata infeksi tenggorokan. Saya malu, gembala macam begini, bagaimana jemaat? Mulai saat itu, nomor satu adalah tenang dulu. Ada orang telepon, saya katakan: Tenang dulu."

        Damai sejahtera= penyerahan sepenuh kepada Tuhan, sehingga:


        1. Semua menjadi enak dan ringan.
        2. Ada kuasa pertolongan Tuhan, semua masalah yang mustahil diselesaikan oleh Tuhan; maut tidak bisa menjamah kita.
          Sebaliknya, ada masa depan berhasil dan indah. Kegagalan ditolong oleh Tuhan.

          Mungkin ada kemerosotan--perahu hampir tenggelam--, ketenggelaman, kejatuhan dalam dosa, berseru siang ini, Tuhan akan memulihkan dan menolong semuanya. Semua menjadi berhasil dan indah; maut tidak bisa menjamah kita.


        Terakhir, sekalipun sudah ditelan maut; sudah menjadi bangkai seperti Lazarus yang mati empat hati, kalau kita mau tersungkur dan menyeru nama Tuhan seperti Maria, maka bangkaipun bisa dibangkitkan oleh Tuhan.
        Yohanes 11: 32
        11:32. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

        Kebusukan, kehancuran apapun yang kita alami, masih bisa dipulihkan oleh Tuhan.


    • Hasil ketiga: pembaharuan terus berlangsung dan saat Yesus datang kembali kita akan menjadi sama mulia dengan Dia--pembaharuan terakhir--, tidak salah dalam perkataan, kita menyambut kedatangan-Nya dengan sorak sorai: Haleluya. Kita bersama Dia selamanya.

Ini dari kitab Kidung Agung. Penampilan mempelai seperti gumpalan asap yang mulia, yang bisa menyembah Tuhan--berbau harum--, bukan asap yang lenyap. Kita menjadi sama mulia dengan Tuhan sampai bersama Dia selamanya, tidak dipisahkan oleh apapun.
Berseru dan berserah kepada Tuhan apapun keadaan kita!

Jangan memandang manusia siapapun juga! Apapun keadaan kita, pandang Tuhan; berserah dan berseru kepada-Nya! Maut apa saja yang sedang menghantam kita, kalau tidak bisa dipikir lagi, tidak tahu jalannya, mari naik gunung, berseru dan berserah di tengah laut yang bergelora.
Kalau suami, isteri, anak memperhatikan, baik, tetapi jangan lengah. Tuhan yang utama. Kalau suami, isteri, anak, orang tua tidak memperhatikan, kesempatan, ada Yesus yang memperhatikan.

Permisi, ibu-ibu janda dan lain-lain, kaum muda, mari berseru kepada Tuhan. Kita sembah Dia! Biar Dia yang memeluk kita menghadapi apapun, dan kuasa-Nya akan dinyatakan. Semua menjadi indah pada waktunya, sampai kita terangkat di awan-awan.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 31 Juli 2018 - 02 Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 15-16 Agustus 2018
    (Ibadah Kunjungan di Palangkaraya)

  • September 2018
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • September 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • Februari 2019
    (Ibadah Kunjungan di Chennai, India)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top