English Language | Form Penggembalaan
kebaktian umum surabaya
KEBAKTIAN LAINNYA
Transkrip lengkap lainnya

Umum Surabaya (Minggu Sore, 25 Mei 2014)
Tayang: 09 Desember 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 10 Agustus 2014)
Tayang: 24 September 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 20 Juli 2014)
Tayang: 17 Juli 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 09 September 2007)
Tayang: 21 Desember 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 01 April 2007)
Tayang: 12 Oktober 2007
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 05 Agustus 2007)
Tayang: 10 Agustus 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 04 Mei 2014)
Tayang: 01 November 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 13 April 2014)
Tayang: 30 Agustus 2015
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 04 November 2007)
Tayang: 05 Juli 2009
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 24 Juni 2007)
Tayang: 24 Mei 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Januari 2014)
Tayang: 31 Agustus 2014
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 14 September 2014)
Tayang: 24 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu, 09 Maret 2008)
Tayang: 05 Oktober 2008
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 24 Agustus 2014)
Tayang: 17 November 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 16 Juni 2013)
Tayang: 18 Agustus 2013
[baca transkrip] | [download file transkrip]


ALAT TABERNAKEL

Pelataran
Pintu Gerbang
Mezbah Korban Bakaran
Bejana Pembasuhan Dari Tembaga
Pintu Kemah
Pelita Emas
Meja Roti Sajian
Mezbah Dupa Emas
Pintu Tirai
Tabut Perjanjian
Imam-Imam
Imam Besar
Tahbisan Imam-Imam
Ukupan Wangi-wangian
Papan-papan dan Kayu Lintang
Tudung (Tenda) Tabernakel

gambar denah tabernakel

Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Kebaktian: Umum Surabaya
Tanggal: Minggu Sore, 12 Januari 2014
Tempat: WR Supratman 4 Sby
Pembicara: Pdt. Widjaja Hendra
Download file: [download file transkrip] - [versi cetak]
Tayang: 21 September 2014

Kita masih berada didalam Kitab Wahyu 1: 10-12.

Wahyu 1: 10-12,
10. Pada hari TUHAN aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
11. katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."
12. Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

Rasul Yohanes mengalami sengsara daging di pulau Patmos karena Firman ALLAH dan kesaksian YESUS (bukan karena berbuat jahat), sehingga bisa mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring, yang menjadi wujud: (1)tujuh kaki dian dari emas dan (2)Pribadi YESUS dalam kemuliaan sebagai Mempelai Pria Surga.

Ini merupakan nubuatan kepada kita: jika kita beribadah dan melayani TUHAN dengan tanda salib/tanda darah/tanda sengsara daging, maka kita juga dapat mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring, yang menjadi wujud tujuh kaki dian emas (jadi ini sama dengan yang dialami oleh rasul Yohanes di pulau Patmos) artinya kita bisa mendengar dan melihat Firman penggembalaan yang mengandung bobot Firman pengajaran yang benar, yang keras, tajam, yang disampaikan berulang-ulang oleh seorang gembala, sehingga sanggup menyucikan, mengubahkan kita sampai ditampilkan menjadi pelita emas yang bercahaya = menjadi kehidupan yang sempurna seperti YESUS = Mempelai Wanita Surga.

Firman penggembalaan = suara sangkakala, ini sudah diterangkan berulang kali. Firman penggembalaan yang mengandung bobot Firman pengajaran itu bukan yang lawakan, lucu-lucu, cerita-cerita, dongeng-dongeng, bukan! Sekalipun kita banyak cacat cela atau kekurangan-kekurangan, kalau kita beribadah ditandai dengan tanda salib, maka disitu kita dapat mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring (Firman penggembalaan yang mengandung bobot Firman pengajaran yang benar), sehingga dapat menyucikan, mengubahkan kehidupan kita yang najis, kotor menjadi wujud tujuh kaki dian emas.

Tugas dari seorang gembala adalah menyampaikan Firman TUHAN yang diulang-ulang (Firman diulang untuk maju, diulang lagi untuk semakin maju). Sudah diterangkan bagaimana prosesnya. Waktu yang lalu kita belajar tugas dari Mempelai Wanita /kaki dian emas/pelita emas yang bercahaya/gereja TUHAN yang sempurna.

Tugas dari Mempelai Wanita adalah:

  1. Bersaksi. Mari kita bersaksi tentang:


    • Penginjilan (Kabar Baik) untuk jiwa-jiwa yang belum percaya YESUS.
    • Kita juga bersaksi tentang pengajaran (Kabar Mempelai).


    Di kantor dan di manapun kita harus berani bersaksi, kita jangan ikut-ikutan yang tidak benar => supaya saya dapat ini, jangan! Saya tidak melarang => tidak boleh kebaktian disana, yang paling hebat disini, tidak! Kalau ajarannya benar, sama dan Satu Pokok, silahkan saja. Kalau ajarannya tidak benar, buat apa? Justru kita harus bersaksi. Saya bilang kepada dia => bersaksi kepada boss mu. Bersaksi tentang Firman yang benar itu bagaimana, bersaksi tentang ibadah pelayanan yang benar itu bagaimana. Masalah dia terima atau tidak, terserah. Yang penting kita sudah bersaksi. Ini sudah kita bahas dalam ibadah sebelumnya.

    Sekarang ini kita akan membahas tugas kedua dari Mempelai Wanita yaitu


  2. mengundang. Selain bersaksi, kita juga mengundang (bersaksi dan mengundang). Inilah tugas kita dihari-hari ini. Setelah kita mendengar dan melihat suara sangkakala yang nyaring (Firman penggembalaan yang mengandung bobot Firman penggembalaan yang benar), sekalipun kita belum menjadi sempurna, tetapi sudah ada wujud kesucian dan keubahan, inilah yang harus disaksikan dan mengundang orang lain supaya juga dapat mendengar Firman. Semoga kita dapat mengerti.

Kita harus berhati-hati, bukannya tidak boleh ini, bukan! Ini seperti kalau saudara makan, lalu saudara mendengar dari teman => aku kalau makan di warung itu sakit perut terus, jangan-jangan tidak bersih airnya. Tidak mungkin saudara berani => tidak apa-apa, ini tidak mungkin! Ini secara jasmani, apalagi secara rohani. Kalau tidak benar, jangan! Kalau tidak benar, itu juga akan meracun kerohanian kita, sampai kering rohani, mati rohani. Kalau sudah terkena racun. Contohnya:

  • Yang dulu menggebu-gebu menjadi kering dan hilang.
  • Dulu kalau tidak kebaktian merasa menyesal, tetapi sekarang biasa saja. Itu sudah terkena racun.
  • Nanti lama-lama, sudah berbuat dosa, sudah biasa saja => tidak apa-apa, mengikuti dunia.

Kalau dulu sebelum terkena racun semua badan bisa bergerak dan dapat melakukan apa saja, tetapi setelah terkena racun badan sudah lemah. Itulah tandanya kalau racun mulai bekerja, sampai mati rohani, binasa untuk selama-lamanya.

Wahyu 22: 17, Roh dan pengantin perempuan itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!

Ay 17 => “Roh” => Mempelai Laki-laki.
pengantin perempuan” => Mempelai Wanita.
"Marilah!" => ini merupakan undangan.

Jadi ini tentang mengundang. Bersaksi dan mengundang adalah tugas terakhir dari gereja TUHAN, yang merupakan kepercayaan dan kemurahan TUHAN. Mengundang kemana? mengundang umat TUHAN untuk masuk persekutuan Tubuh Kristus yang sempurna = masuk perjamuan kawin Anak Domba. Itulah tujuan dari undangan. Kalau mengundang untuk cuma sekedar masuk gereja dan lain-lain, ini terlalu kecil! tetapi kita mengundang untuk masuk persekutuan Tubuh Kristus yang sempurna. Sekarang ini seperti kepercayaan TUHAN kepada kita yaitu lewat ibadah kunjungan-kunjungan.

Istilah pada jaman bpk pdt In Juwono dan bpk pdt Pong Dongalemba (yang dulu pernah saya ikuti) adalah PPI-PPI. Sekarang kita menggunakan istilah ibadah kunjungan-kunjungan. Dalam Kisah rasul, rasul-rasul juga mengunjungi.
Kunjungan-kunjungan yang dipercayakan TUHAN kepada kita ini, jangan sampai dialihkan. Bpk pdt In Juwono dan bpk pdt Pong Dongalemba alm selalu mengatakan => ‘jangan sampai kepercayaan ini dialihkan kepada gereja lain”.

Mari kita tekuni, sekalipun masih kecil-kecil, harus ditekuni. Kita bersyukur untuk pelayanan tahun 2013 ini tinggal satu (nanti pada hari Selasa) yaitu kebaktian natal persekutuan sekolah Minggu di Malang. Kita akan mengundang panti asuhan, sekolah Minggu yang lain dalam bentuk poppenkas. Selanjutnya tugas-tugas di tahun 2014 sudah menunggu, Minggu depan saya ke Poso, sesudah itu ke Medan, ke Tana Toraja, ke Malaysia, ke India, ke Sorong dan seterusnya. Setiap bulan ini sudah ada jadwalnya dan mari kita doakan.

Kita bersaksi dan mengundang lewat kunjungan-kujungan yang dipercayakan TUHAN kepada kita dan jangan sampai dialihkan kepada gereja lain (kehidupan yang lain), mari kita mohon kekuatan dari TUHAN. Dalam ibadah kunjungan-kunjungan kita tetap menjadi satu tim, yang berangkat itu langsung dipakai TUHAN untuk mengundang dan yang tinggal di gereja juga berdoa untuk memberi kekuatan bagi yang berangkat (jangan lengah). Kita tetap satu tim, jangan terpecah belah => Oh pendetanya pergi, saya pergi juga, jangan! Kalau yang tinggal berdoa untuk memberi kekuatan bagi yang berangkat, maka kekuatan itu sangat terasa bagi yang berangkat untuk bersaksi dan mengundang. Semoga kita dapat mengerti.

Siapakah yang diundang?

  1. Matius 11: 28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

    Yang pertama: kehidupan yang letih lesu dan berbeban berat ditengah dunia yang terkutuk. Ini secara umum.


  2. Wahyu 22: 17 Roh dan pengantin perempuan itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!

    Yang kedua: kehidupan yang haus, seperti perempuan Samaria. Haus = kering rohani, tidak puas, sehingga jatuh bangun dalam dosa-dosa sampai puncaknya dosa.

    Puncaknya dosa adalah


    • Dosa makan minum: merokok, mabuk, narkoba dan lain-lain.
    • Dosa kawin mengawinkan: dosa seks dengan berbagai ragamnya, penyimpangan seks (homoseks, lesbian), nikah yang hancur (seperti perempuan Samaria yang lima kali kawin cerai).

      Saya membaca di koran kemarin, sekarang ini homoseks sudah di restui. Kawin cerai ini sudah lama direstui di gereja dan homoseks sekarang ini sebagian besar juga sudah direstui. Disinilah yang perlu kita saksikan dan kita undang untuk masuk perjamuan kawin Anak Domba. Kalau ada yang salah, mari kita bersaksi dan mengundang ke perjamuan kawin Anak Domba, masalah mereka terima atau tidak itu terserah! Yang penting kita tidak berhutang darah.

Sekarang ini kita mempelajari tiga macam undangan (tiga tingkatan undangan), supaya kita mencapai perjamuan kawin Anak Domba, antara lain:

  1. Lukas 14: 7-11,
    7. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
    8. "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,
    9. supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
    10. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
    11. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

    Ay 7 => “bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan” => inilah undangan yang pertama.
    Ay 8 => “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan” => ini undangan ke pesta perkawinan. Ini undangan secara umum.

    Undangan pertama: undangan pesta perkawinan. Sekarang artinya:


    • Secara jasmani: undangan ke pesta perkawinan secara jasmani. Contohnya: ada yang akan kawin, kemudian mengundang kita.
    • Secara rohani: nikah yang berpesta (nikah yang bahagia). Kalau kita mau masuk perjamuan kawin Anak Domba, maka nikah kita di dunia ini juga harus selalu berpesta = nikah bersuasana pesta. Jika nikah bersuasana perang, suasana benci, kita tidak dapat masuk ke perjamuan kawin Anak Domba. Oleh sebab itu kita diundang terlebih dahulu ke nikah yang berpesta. Semoga kita bisa mengerti.


    Nikah merupakan pemberian TUHAN yang mulia hanya kepada manusia. Ciptaan TUHAN yang lain tidak menikah. Contohnya: binatang tidak ada yang menikah, malaikat tidak ada yang menikah.

    Oleh sebab itu biarlah kita menjaga kebenaran dan kesucian nikah kita:


    • Mulai dari permulaan nikah harus dijaga. Kaum muda hati-hati!
    • Perjalanan nikah juga harus dijaga, supaya berkenan kepada TUHAN dan kita akan berbahagia.


    Menjaga nikah itu mulai dari benar terlebih dahulu. Kalau mau menikah, mulailah dengan yang benar dulu. Misalnya: surat-suratnya benar, sesuai dengan ketentuan di dalam alkitab, sampai semuanya benar. Inilah undangan yang pertama. Sekarang ini kita diundang oleh TUHAN dan kita juga mengundang yang lain. Nanti kalau kita sudah merasakan nikah yang bahagia, maka kita dipakai untuk mengundang yang lain. Semoga kita dapat mengerti.

    Tidak ada kebahagiaan di dunia yang lebih dari nikah yang berpesta (nikah yang bahagia). Jika nikah kita berpesta, sekalipun kita masih hidup di dunia, kita serasa hidup di surga. Biarpun rumah masih mengontrak, tidak memiliki apa-apa, jika nikah itu berpesta, kita serasa di surga. Sebaliknya, tidak ada penderitaan di dunia yang lebih dari pada nikah yang gagal. Nikah yang gagal itu seperti serasa tinggal di neraka, sebab itu kita harus berhati-hati. TUHAN mengundang kita pada pesta perkawinan (nikah yang berpesta), mari kita berusaha menjaga kebenaran dan kesucian nikah, sampai nikah kita menjadi bahagia. Semoga kita dapat mengerti.

    Lukas 14: 11, Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

    Syarat supaya nikah berpesta (nikah yang bahagia) adalah merendahkan diri (rendah hati). Kalau nikah mau berpesta, syaratnya bukanlah kaya, miskin, tua, muda, bukan itu! Semuanya yang terlibat, baik suami, istri, anak-anak rendah hati.

    Praktek rendah hati adalah:


    • Saling mengaku dan saling mengampuni (bukan saling menyalahkan).
      Saling mengaku contohnya:


      • Jika suami bersalah, mengaku kepada TUHAN (vertikal) dan mengaku kepada istri/kepada sesama (horisontal), jika diampuni jangan berbuat dosa lagi.


      • Sebaliknya, jika istri yang salah, mengaku kepada TUHAN (vertikal) dan mengaku kepada suami (horisontal), kalau diampuni jangan berbuat dosa lagi. Vertikal dan horisontal membentuk kayu salib.


      Saling mengampuni contohnya:


      • Jika suami benar (yang benar), maka mengampuni istri dan melupakannya.
      • Jika istri benar, mengampuni suami, mengampuni anak dan melupakannya.


      Jika kita rendah hati (saling mengaku dan saling mengampuni), maka dosa diselesaikan oleh Korban Kristus/Darah YESUS/kayu salib, sehingga nikah kita berbahagia (berpesta). Jika mempertahankan dosa (suami istri bertahan pada dosa) akan letih lesu, berbeban berat. Terlebih lagi, jika saling menuduh dan menyalahkan, maka dosa semakin bertambah, semakin letih lesu, berbeban berat, nikah bertambah kering, bahkan sampai hancur. Inilah jika sudah berdosa, tetapi malah saling menyalahkan. Mari dalam nikah kita harus berhati-hati, sebab banyak sekarang, sudah bersalah, tetapi tidak mau mengaku dosa, bahkan menyalahkan orang.
      Demikian juga didalam ibadah pelayanan (kami sebagai hamba TUHAN), sudah berdosa atau salah dalam tahbisan, malah menyalahkan orang lain. Akibatnya pelayanan akan hancur. Jika bersalah, tetapi tidak mau mengaku dosa, maka itu sudah sombong. Kalau kita bersalah, tetapi menyalahkan orang lain, itu seperti setan (pendakwa). Semoga kita dapat mengerti.


    • Saling melayani.
      Ini ada kesalahan juga, sebab seringkali didalam nikah ada tamu kerhormatan. Seperti tadi ada tamu datang dan mau duduk paling depan (tamu kehormatan), kalau duduk didepan pasti dilayani, kalau yang duduk dibelakang => ambil sendiri ya.
      Contohnya didalam nikah, jika ada tamu kehormatan: suami menjadi tamu kehormatan dan tidak mau melayani. Lebih celaka lagi jika istri yang menjadi tamu kehormatan. Jadi didalam nikah dan ibadah, semuanya saling melayani dan jangan sampai ada tamu kehormatan.

      Contoh saling melayani didalam nikah:


      • Suami melayani istri yaitu suami mengasihi istri = suami mengasihi istri seperti diri sendiri dan tidak berlaku kasar. Disamping suami mencari uang dan lain sebagainya, puncaknya adalah mengasihi istri seperti diri sendiri. Jadi kalau suami belum mengasihi istri seperti diri sendiri, itu berarti suami belum melayani. Kalau cuma sekedar memberikan uang, istri bisa mencari sendiri, apalagi kalau orang tua dari istri kaya, ‘jangan-jangan malah tidak butuh’.


      • Istri tunduk kepada suami dalam segala sesuatu.
      • Anak-anak taat dengar-dengaran kepada orang tua.


      Kalau terjadi saling mengaku, saling mengampuni dan saling melayani dalam nikah, maka berlaku rumus nikah yaitu 1 + 1 = 1. Tanda “+” (ditambah) itu salib. Jadi salib = saling mengaku, saling mengampuni dan saling melayani. Saling mengaku, saling mengampuni dan saling melayani, itu semuanya merupakan pelayanan YESUS di kayu salib.

      Efesus 5: 31, 32,
      31. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
      32. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

      Ay 31 => “sehingga keduanya itu menjadi satu daging” => 1 + 1 hasilnya bukan 2, tetapi hasilnya adalah 1 (menjadi satu daging).
      Ay 32 => “Rahasia ini besar” => jika nikah yang jasmani sudah menjadi satu (bahagia), maka akan masuk kesatuan nikah yang lebih besar.
      hubungan Kristus dan jemaat” => nikah yang rohani antara Kristus dan jemaat yaitu masuk perjamuan kawin.

      1 + 1 = 1 ini menunjuk kesatuan nikah (bahagia), sampai mencapai kesatuan nikah yang sempurna yaitu masuk perjamuan kawin Anak Domba. Semoga kita dapat mengerti.


    Inilah undangan yang pertama. Kalau kita mau masuk dalam perjamuan kawin, nikah yang jasmani yang sudah rusak harus diperbaiki dan nikah yang sudah baik harus dijaga (kebenaran dan kesucian permulaan nikah, perjalanan nikah terus dijaga). Dalam nikah harus ada kerendahan hati itulah saling mengaku, saling mengampuni dan saling melayani.


  2. Lukas 14: 12-14,
    12. Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
    13. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
    14. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

    Ay 14 => karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu” = tidak ada pamrih.

    Undangan kedua: pada “perjamuan siang atau perjamuan malam” = pesta siang dan malam. Ini menyangkut tahbisan. Jadi tahbisan juga menentukan untuk masuk perjamuan kawin Anak Domba. Keluaran 29 ini tentang tahbisan. Keluaran 29: 38, 1, ini judulnya mengenai korban pagi dan petang = pesta siang dan malam.

    Keluaran 29: 38, 39, 1
    38. "Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari.
    39. Domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi dan domba yang lain kauolah pada waktu senja.
    1. "Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela,

    Ay 39 => pada pesta siang dan malam (senja).
    Pada korban pagi dan petang (pesta pagi dan petang) diambil/disembelih dua ekor domba setiap hari selama tujuh hari, tetapi kalau korban tahbisan hanya satu kali saja dalam satu hari. Saat Harun menjadi imam besar dan anak-anaknya menjadi imam-imam hanya menyembelih dua ekor domba saja dan itu sudah ditahbiskan.

    Pesta siang dan malam adalah pelipat gandaan korban tahbisan. Misalnya: satu rumah tiap hari memotong satu ekor ayam, tetapi kali ini setiap hari memotong satu ekor ayam selama tujuh hari. Inilah pelipat gandaan, karena ada pesta (kalau tidak ada pesta tidak mungkin). Inilah yang namanya tahbisan/pelayanan yang berpesta. Tadi, undangan yang pertama adalah nikah yang berpesta. Setelah kita ditahbisan akan terus menyembelih dua ekor domba, sampai berlipat ganda korbannya, ini berarti ada pesta. Semoga kita dapat mengerti.

    Pertanyaannya pada sekarang ini, bagaimana dengan ibadah pelayanan kita?
    Mungkin kita sudah datang dalam tiga macam ibadah dan banyak yang rajin, tetapi apakah berbahagia/bergairah dalam suasana pesta atau terpaksa atau setengah mati atau bosan atau tawar (sudah biasa-biasa saja). Sekarang ini kita diperiksa dan diundang oleh TUHAN dalam pelayanan yang berpesta. Tadi, kalau nikah sudah tawar, harus kembali pada kebenaran, kesucian, kerendahan hati (saling mengaku, mengampuni, melayani) dan pasti akan muncul suasana pesta (demikian juga dalam pelayanan). Semoga kita dapat mengerti.

    TUHAN mengundang supaya tahbisan kita berpesta, salah satu contohnya seperti ibu Musa menyusui Musa. Sebenarnya ibu Musa tidak bisa menyusui Musa karena ada ancaman dari firaun, sehingga Musa sudah dibuang. Setelah Musa diambil oleh putri firaun, lalu kakaknya menawarkan seorang inang penyusu, akhirnya ibu Musa lah yang dipanggil menjadi inang penyusu => “disuruh menyusui bayi Musa”, ibu Musa mungkin sudah tidak peduli apapun juga, rasa capek, berapa gajinya dan lain-lain, sebab sekarang sudah dapat menyusui Musa sepuas-puasnya. Seperti inilah tahbisan yang berpesta.

    Ini sama dengan kita, bangsa kafir tidak boleh dan tidak layak melayani TUHAN, tetapi karena Korban Kristus, maka bangsa kafir dapat melayani TUHAN (seperti ibu Musa menyusui Musa). Yang tidak boleh, menjadi boleh, seharusnya kita bahagia, senang, tidak bosan, tidak mempedulikan lagi jarak => Malang Surabaya jauh, tetapi sudah diimbangi dengan ada yang datang dari Pamekasan, Tuban, Krian, Sidoarjo, Mojokerto. Semoga kita dapat mengerti.

    Sekarang kita sudah boleh melayani, tetapi masih ada syarat supaya tahbisan berpesta yaitu:


    • Lukas 17: 10, Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

      Dalam Lukas 14: 12-14, kalau kamu mengadakan pesta undanglah orang miskin, cacat, buta, lumpuh yang tidak bisa membalas apa-apa. Kalau mengundang orang kaya, nanti kita diberikan sesuatu, sehingga terjadi saling membalas. Mengundang orang miskin yang tidak bisa membalas = tanpa hak, itulah berbahagia.

      Yang pertama: dalam tahbisan, kita tidak menuntut hak, tetapi hanya melakukan kewajiban dan melayani TUHAN sampai memuliakan/mengagungkan TUHAN.

      Dalam tahbisan jangan menuntut hak apa saja, seperti: makan, minum, kedudukan, ucapan terima kasih, pujian (Lukas 17), tetapi kita harus berkata => saya melakukan ini (melayani TUHAN), karena kewajiban saya. Saya sedih sekali kalau ada orang-orang yang membutuhkan, kemudian berkata => “tadi malam saya membutuhkan pak Wi, tetapi karena sungkan, takut pak Wi terlalu sibuk”, justru seperti itulah saya sedih. Kalau memang membutuhkan, mungkin karena sakit dan perlu didoakan, mau jam berapa saja, sebab itu menjadi kewajiban saya. “Nanti pak Wi tidak tidur karena menyiapkan Firman” Itu menjadi kewajiban saya, besok siang saya masih dapat tidur, saudara bekerja, saya masih dapat tidur di mobil, ini tidak ada masalah. Semoga kita dapat mengerti.

      Saya datang kesini untuk memberikan makan jemaat adalah kewajiban saya. Saya selalu bersaksi, oom Pong pernah bercerita, dulu memakai lampu petromaks, mencari jiwa-jiwa lalu dikumpulkan, baru dapat berkotbah. Dulu saya tertawa-tertawa waktu beliau bersaksi, tetapi setelah saya diterjunkan di Gending, saya harus mengepel gereja terlebih dahulu, harus mencari jiwa terlebih dahulu, lalu dikumpulkan, baru saya berkhotbah, enam orang dan seterusnya.

      Setelah saya pindah di Malang ada seratus orang lebih, jangan sampai saya tidak kotbah. Lalu ditugaskan lagi di Surabaya, saat itu yang datang hanya beberapa belas orang, kadang-kadang sepuluh orang, saya dari jauh-jauh tetap datang. Sekarang sudah diberkati sekian jemaat, jangan sampai saya tidak berkotbah. Jika saya datang jauh-jauh dari Malang, ini bukan karena saya hebat, tetapi ini karena kewajiban saya. Justru kalau saya tidak datang, ini tidak melakukan kewajiban saya. Semoga kita dapat mengerti.

      Kalau dalam pelayanan kita tidak menuntut hak, tetapi hanya melakukan kewajiban sampai mengagungkan TUHAN, maka yang lainnya akan ditanggung oleh TUHAN. Mari saudara-saudara menunaikan kewajiban juga => dari kantor harus melayani TUHAN. Layanilah TUHAN sebagai suatu kewajiban, tanpa hak => ini kewajiban saya, biarpun saya tidak mendapatkan apa-apa (tanpa hak), yang penting saya dapat memuliakan, mengagungkan TUHAN. Itu saja sudah cukup dan semuanya merupakan urusan TUHAN dan TUHAN tidak pernah menipu kita.

      Yesaya 49: 3, 4,
      3. Ia berfirman kepadaku: "Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku."
      4. Tetapi aku berkata: "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku."

      Ay 3 => “menyatakan keagungan-Ku." => inilah tugas hamba TUHAN, melayani TUHAN sampai memuliakan TUHAN dan mengagungkan TUHAN.
      Ay 4 => "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna”? dari kuliah, kerja masuk gereja tidak dapat apa-apa, tidak ada gajinya, sia-sia, tetapi TUHAN tidak pernah menipu kita.

      “namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku." => TUHAN tidak pernah menipu kita.
      Contohnya:


      • Untuk guru sekolah Minggu, saya pernah ditawari di Malang dari r t, tetapi saya jawab => terima kasih pak, sudah yang lain saja pak. Ini karena saya takut, kalau saya menerima dari r t, lalu saya berikan ke guru-guru untuk mendapatkan upah di dunia, nanti bisa-bisa tidak mendapatkan upah di surga. Biarpun guru-guru berkata => sia-sia aku naik motor, bayar bensin, tidak di gaji. Ini biarkan saja, yang penting adalah mengagungkan TUHAN dan nanti TUHAN yang akan balaskan semuanya, sebab TUHAN tidak menipu kita. Saya tidak mau berkat dari TUHAN dipotong, dihentikan hanya oleh uang beberapa ratus ribu, sebab berkat TUHAN adalah berkat yang kekal.


      • Paduan suara membayar bensin sendiri, yang mau silahkan saja, yang penting adalah mengagungkan TUHAN (tanpa hak), sebab TUHAN tidak pernah menipu kita.


      Hak dan upah kita terjamin di dalam Tangan TUHAN, untuk hidup sekarang ini di dunia sampai hidup kekal selama-lamanya. Semoga kita dapat mengerti.
      Ini saya buka kepada guru sekolah Minggu di Malang, kalau disini tidak, karena saya tidak ditawari. Biar mereka tercengang-cengang => sayang ya, berapa ratus ribu, tetapi saya bilang => jangan, biar kita mendapatkan upah dari TUHAN saja. Apalagi kalau saya mau diam-diam dan saya menerima, dapat berapa untuk satu bulan itu? gurunya ada 30 orang lebih, tinggal mengalikan saja, berapa ratus ribu untuk satu guru. Kalau saya diam-diam dan saya pakai untuk Lempin-El dan sebagainya, tetapi saya tidak mau. Biarlah semuanya dari TUHAN, untuk mencapai kekekalan. Kalau kita melayani berdasarkan pengajaran, memang lain, dan yang jasmani, juga jangan dituntut sedikitpun. Inilah tanpa hak dan hanya melakukan kewajiban. Semoga kita dapat mengerti.


    • “mengundang orang miskin” arti rohaninya tidak ada lagi keinginan daging. Kalau kita mengundang orang yang kaya, tinggal menghitung-hitung saja => nanti dia memberikan berapa ya? Ini bukan berarti nanti kalau ada pesta, yang kaya-kaya tidak perlu diundang => tidak seperti ini, terserah mau mengundang siapa saja.
      Tidak ada lagi keinginan daging = mengalami penyucian hati oleh pedang Firman dari keinginan najis dan keinginan jahat:


      • Keinginan najis = dosa makan minum (merokok, mabuk, narkoba, tontonan-tontonan) dan kawin mengawinkan. Ini tidak boleh ada lagi dalam pelayanan.


      • Keinginan jahat = keinginan akan uang yang membuat kita kikir dan serakah seperti Yudas. Bukan uangnya yang tidak boleh, melainkan keinginan akan uangnya. Kikir adalah tidak bisa memberi. Serakah adalah mencuri milik TUHAN.


      Yang benar adalah kita disucikan oleh pedang Firman sampai lebih bahagia memberi dari pada menerima. Inilah pelayanan/tahbisan yang berpesta. Semoga kita dapat mengerti.

      Kisah Para Rasul 20: 33, 35
      33. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga.
      35. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

      Jadi tahbisan berpesta adalah tidak ada hak, hanya melakukan kewajiban dan tidak ada keinginan akan uang, tetapi lebih berbahagia memberi daripada menerima. Ini bukan berarti menerima tidak boleh, saya juga menerima pemberian-pemberian, silahkan saja, tetapi sampai lebih berbahagia memberi daripada menerima, bahkan sampai bisa memberikan hidup kepada TUHAN. Kalau lebih bahagia memberi daripada menerima, ini merupakan berkelimpahan dalam kebajikan = pakaian putih berkilau-kilau = pakaian Mempelai. Semoga kita dapat mengerti.

      Wahyu 19: 8, Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

      Ay 8 => dalam terjemahan lama “kain kasa halus yang bercahaya dan bersih; karena kain kasa halus itulah ibarat segala kebajikan orang-orang suci itu."

      Perbuatan kebajikan itu bagaikan memiliki pakaian Mempelai, sehingga bisa masuk pesta nikah. Kalau hati disucikan (memiliki pakaian Mempelai), maka mulut disucikan juga, sampai tidak ada dusta, bahkan tidak salah dalam perkataan.

      Yakobus 3: 2, Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

      Mulut disucikan sampai tidak salah dalam perkataan (sempurna) yaitu hanya dapat berseru ‘haleluya’ untuk menyambut kedatangan TUHAN YESUS ke dua kali di awan-awan permai. Mempelai itu hanya satu saja = satu tubuh Kristus. Suara penyembahan Mempelai juga satu yaitu ‘haleluya’. Jadi dengan pakaian Mempelai dan suara Mempelai ‘haleluya’ kita menyambut kedatangan YESUS ke dua kali di awan-awan permai. Kalau kita berdoa ‘di dalam Nama TUHAN YESUS haleluya, amin’. Kita jangan ragu-ragu lagi! Sebab itu merupakan suatu pujian bagi TUHAN dan juga merupakan keyakinan kita.

      Kalau kita menyembah TUHAN ‘haleluya, haleluya’ juga tidak boleh ragu-ragu lagi, sebab di surga juga menyembah TUHAN dengan ‘haleluya’ (Wahyu 19). Kalau TUHAN datang kembali kita juga terangkat dengan ‘haleluya’. Jadi dalam perjamuan kawin Anak Domba itu dari empat penjuru bumi hanya satu, tidak boleh mempertahankan adat istiadat sendiri (adat jawa, cina), nanti semuanya menjadi satu ‘haleluya’ (satu tubuh satu suara). Tahbisan kita harus mengarah kesana. Sekarang kita mendapatkan jubah indah (jabatan gembala dsbnya), mari kita pertahankan (tidak ada hak, tidak ada keinginan), nanti jubah indah akan menjadi pakaian putih berkilau-kilauan dan suara Mempelai untuk menyambut kedatangan YESUS ke dua kali. Semoga kita dapat mengerti.

      Kita di rumah dan di gereja mari menyembah TUHAN dengan ‘haleluya’ terus, supaya di inventarisasi. Bapak pdt Pong selalu mengatakan => di akhir penyembahan, mari berseru ‘haleluya’, ini supaya suara kita di inventarisasi dan waktu TUHAN datang tetap terdengar suara kita itu. Pakaian dengan suara itu menjadi satu. Pakaian Mempelai yang putih berkilau itu berasal dari hati yang bersih, lalu dari hati keluar ke mulut yaitu suara ‘haleluya’. Kalau hati kita kotor, mau berkata ‘haleluya’ saja susah, mau menyembah TUHAN itu susah.

      Saya pernah bersaksi, ada seorang anak ikut ospek masuk perguruan tinggi pada tahun 1995 kerasukan setan => pak, ada anak berteriak-teriak. Lalu saya datang kesana dan kami bergumul dan menyanyikan lagu ‘dalam nama YESUS’ terus menerus, kira-kira sampai satu jam. Dia tertawa-tawa => “mau apa kau”, lalu bersuara laki-laki padahal dia perempuan, sebentar lagi bersuara nenek. Ini suaranya aneh-aneh,lalu saya katakan untuk menyebut ‘Nama YESUS’ dan dia bisa menyebut ‘YESUS’. Setelah bisa menyebut YESUS, lalu masih salah-salah lagi, terakhir saya bilang untuk menyebut ‘haleluya’. Disitulah ketahuannya, setannya ini ada di lidah, padahal yang lain sudah normal. Saya bilang sebut => ‘haleluya’, dia masih susah untuk menyebut haleluya, Begitu dia bisa menyebut ‘haleluya’, matanya langsung terbuka => “aku mau ke kamar mandi” dan sudah selesai. Jadi dari hati yang kotor (kotor oleh uang, kenajisan), tidak bisa menyebut haleluya. Kalau hati sudah dibersihkan, pasti bisa menyembah TUHAN. Semoga kita bisa mengerti dan kita tidak ditipu.

      Sekarang ini kita mau dipakai oleh TUHAN untuk mengundang orang lain, tetapi terlebih dahulu kita diundang oleh TUHAN ke perjamuan kawin Anak Domba, lewat nikah yang berpesta (saling mengaku, mengampuni dan saling melayani), tahbisan yang berpesta (tidak ada hak dan tidak ada keinginan).


  3. Lukas 14: 15-20
    15. Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
    16. Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.
    17. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.
    18. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.
    19. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.
    20. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.

    Ay 15 => "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." => perjamuan kawin Anak Domba.
    Ay 18-20 => ada yang menolak undangan.
    Ay 20 => “Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang” => ini menentang.

    Undangan ke tiga: pesta perjamuan besar atau pesta nikah anak domba. Pesta nikah Anak Domba ini ditujukan kepada Mempelai Wanita yang siap sedia yaitu memiliki tubuh yang rohani/mulia/sempurna seperti YESUS untuk bisa terangkat ke awan-awan permai. Kalau dalam tubuh daging => saudara loncat pakai apa saja, pasti jatuh, jadi harus dalam tubuh yang rohani. Inilah yang harus kita persiapkan.

    Dalam Lukas 14: 15-20 disitu ada kehidupan yang menolak undangan untuk datang ke pesta yaitu:


    • Menolak karena perkara-perkara dunia (horisontal). Ayat 18,19 => menolak undangan karena membeli ladang, membeli lembu.
    • Menolak karena baru kawin (vertikal). Ay 20 => diundang ke perjamuan kawin yang rohani, malah mengajukan kawin yang jasmani. Ini menentang dengan langsung menolak undangan (menentang langsung rencana TUHAN).


    Kehidupan yang menolak undangan, sekarang ini menunjuk kehidupan yang menolak salib. Menolak perjamuan kawin Anak Domba = menolak salib. Hati-hati, bukan hanya orang dunia yang menolak salib, tetapi hamba TUHAN juga ada yang menolak salib. Misalnya: kami gembala-gembala juga sudah mulai menolak salib: ada yang tidak mau menjadi gembala lagi, ada yang masih menjadi gembala tetapi tidak mau berkotbah lagi. Inilah dengan cara apapun menolak salib. Doakan saya sebagai gembala, agar jangan menolak salib. Sekarang di gereja diajarkan => jangan yang susah-susah, Firmannya sedikit-sedikit saja, yang senang-senang saja, supaya jemaat juga senang. Di dunia sudah sulit, di perusahaan, di kuliah sudah sulit, sekarang di gereja yang senang-senang saja. Padahal inilah yang berbahaya, jika menolak salib (sengsara daging bersama YESUS), itu berarti menolak perjamuan kawin Anak Domba. Semoga kita dapat mengerti.

    Syarat untuk masuk perjamuan kawin anak domba adalah harus memikul salib = harus sengsara daging karena YESUS. Kalau saudara datang beribadah => aduh oom, saya sengsara, capek, dari jauh saya datang beribadah, dari kuliah lalu datang beribadah, saya harus berkorban ini untuk ibadah. Itu arahnya sudah benar yaitu ke perjamuan kawin Anak Domba. Ini teruskan saja, nanti TUHAN yang akan menyertai kita.

    2 Korintus 4: 16, 17,
    16. Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
    17. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

    Ay 16 => “Sebab itu kami tidak tawar hati” => kuat dan teguh hati.
    Ay 17 => “mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” => ada kemuliaan kekal saat masuk ke perjamuan kawin Anak Domba.

    Mengapa kita harus memikul salib? Jika kita memikul salib (sengsara daging bersama YESUS), maka kita akan mengalami keubahan hidup/pembaharuan dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti YESUS (tubuh daging diubah menjadi tubuh rohani). Kalau tidak mau memikul salib, kita tidak akan dapat terangkat, sebab tetap menjadi manusia daging (manusia daging tidak dapat terangkat).

    Keubahan hidup itu dimulai dari “jangan tawar hati” = kuat dan teguh hati. Inilah manusia rohani (Mempelai Wanita). Kuat teguh hati artinya


    • Tidak bimbang oleh ajaran-ajaran lain, tetapi tetap berpegang teguh kepada ajaran yang benar.
    • Tidak kecewa, tidak putus asa oleh pencobaan-pencobaan, tetapi tetap percaya kepada YESUS dan tetap melayani YESUS.
    • Tidak mau berbuat dosa apapun resikonya, tetapi tetap hidup benar. Misalnya: dalam pekerjaan kita disuruh untuk berbuat dosa. Saudara ingat, Daniel merupakan seorang pekerja yang baik, tetapi ibadahnya juga ditest; dia disuruh oleh atasannya (raja) untuk beribadah yang tidak benar, tetapi Daniel tidak mau menurutinya dan konsekwensinya adalah masuk dalam gua singa/mati. Mari kita semuanya kuat dan teguh hati. Kami sebagai hamba-hamba TUHAN demikian juga, kita harus berani menolak untuk berbuat dosa, itulah kuat dan teguh hati.


    • Tetap menyembah kepada TUHAN dengan benar apapun resikonya.


    Kalau kita kuat dan teguh hati, TUHAN tidak akan meninggalkan kita, TUHAN beserta kita, memperdulikan kita, memperhatikan kita, TUHAN bergumul untuk kita. Contohnya:


    • Sadrakh, Mesakh, Abednego, tiga orang dilemparkan ke dalam api, ternyata ada 4 orang. Itulah TUHAN beserta kita. Sadrakh, Mesakh, Abednego tetap kuat dan teguh hati, tidak mau menyembah patung.


    • Daniel dilempar ke gua singa, tetapi mulut singanya dikatupkan oleh Malaikat (TUHAN). Inilah penyertaan TUHAN, itu sebabnya kita jangan takut.


    Tugas terakhir hari-hari ini adalah bersaksi dan mengundang mereka yang letih lesu, yang haus, yang salah. Kita harus bersaksi dan mengundang, jangan justru ikut-ikutan berbuat salah. Kalau kita kuat dan teguh hati, TUHAN beserta dengan kita dan TUHAN mampu melakukan semuanya.

Hasilnya adalah:

  1. 1 Tawarikh 19: 13, Kuatkanlah hatimu dan marilah kita menguatkan hati untuk bangsa kita dan untuk kota-kota Allah kita. TUHAN kiranya melakukan yang baik di mata-Nya."

    Hasil pertama: TUHAN sanggup menjadikan semuanya baik pada waktu nya.
    Daniel dimasukkan ke dalam gua singa tidak apa-apa, cuma sebentar saja, setelah itu semuanya menjadi baik. Sadrakh, Mesakh, Abednego dimasukkan kedalam api, tetapi sesudah itu baik semuanya. Hanya sesaat saja, tetapi nanti semuanya menjadi baik untuk selama-lamanya. Kita hanya tinggal menunggu waktu dari TUHAN saja.


  2. 1 Tawarikh 28: 20, Lalu berkatalah Daud kepada Salomo, anaknya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau sampai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah Allah selesai.

    Hasil kedua: TUHAN sanggup menyelesaikan semuanya tepat pada waktu Nya yaitu:


    • TUHAN sanggup untuk menyelesaikan semua masalah kita, sampai masalah yang mustahil diselesaikan oleh TUHAN tepat pada waktu nya.
    • TUHAN sanggup menyelesaikan pembangunan rumah ALLAH yang rohani (ini yang terutama) artinya TUHAN sanggup menyucikan dan mengubahkan kita sampai sempurna seperti Dia. Kita terangkat di awan-awan permai dan berbahagia bersama dengan Dia. Semua letih lesu, berbeban berat akan hilang, yang haus seperti perempuan Samaria disucikan dan diubahkan.

Apapun keadaan kita pada saat ini, mungkin letih lesu, berbeban berat, putus asa, haus seperti perempuan Samaria, nikah yang hancur, melayani dengan tertekan, tidak berbahagia, TUHAN mengundang kita semuanya. TUHAN mengundang terlebih dahulu kita (termasuk saya), kalau nikah kita sudah berpesta, tahbisan berpesta, kita memikul salib dan mengalami keubahan hidup yang mengarah kepada pesta kawin Anak Domba, baru kita dapat dipakai oleh TUHAN untuk bersaksi dan mengundang yang lainnnya. Banyak jiwa-jiwa yang membutuhkan, banyak yang mengemail saya, ada orang yang mendengar satu kali di Medan, lalu mengemail saya => “kapan lagi oom?” Semoga kita dapat mengerti.

Kita harus kuat dan teguh hati dalam menerima undangan TUHAN, kita semuanya harus bertahan, sampai kita dipakai oleh TUHAN, bahkan sampai kita masuk perjamuan kawin Anak Domba.

TUHAN memberkati kita sekalian.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:25 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 05-07 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Tentena)

  • 26-28 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Ciawi & Jakarta)

  • 28-30 Januari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top