English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Raya Surabaya, 22 Agustus 2010 (Minggu Sore)
Matius 25: 16-30= sikap terhadap talenta/jabatan dan karunia Roh Kudus.

SIKAP TERHADAP TALENTA
Sikap ini ada yang...

Ibadah Paskah Persekutuan I Surabaya, 14 Mei 2014 (Rabu Malam)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Krsitus. Selamat malam,elamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai sejahtera...

Ibadah Raya Malang, 07 Februari 2010 (Minggu Pagi)
IBADAH PENYERAHAN ANAK
Matius 6:31-34, banyak kekuatiran, kesusahan, penderitaan dari anak-anak Tuhan...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 17 Maret 2018 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 12
Dalam susunan Tabernakel, Lukas 12 terkena pada...

Ibadah Doa Malang, 05 Oktober 2010 (Selasa Sore)
Matius 25:14-30 adalah perumpamaan tentang talenta.

Matius 25:14-15
Jika kita yang tadinya manusia berdosa bisa beribadah dan...

Ibadah Raya Surabaya, 12 Februari 2012 (Minggu Sore)
Matius 26: 69-75
= PETRUS MENYANGKAL TUHAN.

= 3 kali Petrus menyangkal Yesus:
ay. 69-70= Petrus menyangkal Yesus sebagai orang Galilea= menyangkal panggilan dan...

Ibadah Doa Surabaya, 14 Juli 2010 (Rabu Sore)
Matius 25: 8-13
25:8. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita...

Ibadah Doa Malang, 10 April 2012 (Selasa Sore)
Matius 26:69-75 berjudul Petrus menyangkal Yesus.

Tiga kali Petrus menyangkal Yesus:
Ayat...

Ibadah Raya Malang, 18 April 2010 (Minggu Pagi)
IBADAH PENYERAHAN ANAK
Yohanes 10:1-2,12
10:1. "Aku berkata kepadamu:...

Ibadah Raya Surabaya, 16 Juni 2019 (Minggu Siang)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Doa Puasa Malang Session II, 09 Februari 2010 (Selasa Siang)
Keluaran 12:5, syarat anak domba Paskah:
Harus jantan.
Yesaya 9:5, Matius...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 02 Oktober 2018 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Ibadah Doa Surabaya, 02 September 2015 (Rabu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 02 Agustus 2019 (Jumat Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Raya Surabaya, 01 Maret 2009 (Minggu Sore)
Matius 24: 29-31
= keadaan pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kedua kali:ay. 29= terjadi badai maut...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 14 Desember 2015 (Senin Sore)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Kita berada pada kitab Wahyu 2-3, tentang 7 jemaat bangsa kafir yang mengalami penyucian terakhir--percikan darah--, supaya bisa sempurna (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 27 Juli 2014).

Kita mempelajari kitab Wahyu 3: 14-22--tentang sidang jemaat di LAODIKIA (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 14 Juni 2015). Ini adalah jemaat yang terakhir--jemaat ketujuh. Ini menunjuk pada keadaan jemaat akhir zaman--kita semua.

Wahyu 3: 21-22
3:21.
Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
3:22. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."


JANJI TUHAN kepada jemaat Laodikia--kita semua--yang menang bersama Yesus, yaitu duduk bersanding bersama Yesus di takhta sorga selama-lamanya; artinya mempelai wanita sorga--kita--duduk bersanding dengan Yesus--Mempelai Pria Sorga--di takhta sorga untuk selama-lamanya.

Hubungan Mempelai Pria dan mempelai wanita adalah hubungan nikah--HUBUNGAN KASIH.
Dalam Tabernakel, ini digambarkan dengan 2 loh batu.
Jadi, untuk bisa duduk bersanding dengan Yesus di takhta sorga selama-lamanya, maka kita mutlak memiliki kasih Allah--2 loh batu.

Dua loh batu terdiri dari 2 bagian:

  1. Loh batu pertama: berisi 4 hukum, yaitu mengasihi TUHAN dengan segenap tubuh, jiwa, roh kita; mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 07 Desember 2015 sampai Ibadah Raya Surabaya, 13 Desember 2015).


  2. Loh batu kedua: berisi 6 hukum, yaitu mengasihi sesama seperti diri sendiri; bahkan mengasihi orang yang memusuhi kita.

AD 2. LOH BATU KEDUA

Di dalam Tabernakel ada 3 tingkatan mengasihi sesama seperti diri sendiri:

  1. Halaman Tabernakel.
    Matius 5: 46
    5:46. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

    Tingkat pertama: mengasihi sesama yang mengasihi kita.

    Praktiknya:


    • membalas kebaikan dengan kebaikan ('karena dia baik, saya juga baik kepada dia'). Tetapi bahaya, kalau dia jahat, juga dibalas dengan jahat.

      Ini adalah tingkat mengasihi sesama yang paling dasar (dalam kerajaan sorga ini paling luar), karena:


      • pemungut cukai--orang berdosa; orang tidak mengenal TUHAN--juga bisa berbuat yang sama; malah hebat. Baru terima gaji, sudah ingat orang tuanya. Ini orang di luar TUHAN juga bisa mengasihi sesama yang mengasihi dia--membalas kebaikan dengan kebaikan.


      • Masih ada pamrih; baik dibalas baik dan jahat dibalas jahat.
      • tidak ada upah dari TUHAN. Kalau dia baik, dibalas berbuat baik, sudah impas dan tidak ada upah dari TUHAN.


      Kalau bangsa kafir bisa melakukannya--bahkan biasa melakukannya--, maka bagi kita hamba TUHAN, pelayan TUHAN dan anak TUHAN, ini sudah harus menjadi tabiat (mendarah daging) dalam kehidupan kita--bukan lagi karena pamrih.

      Tetapi kenyataannya, banyak anak TUHAN yang merosot, yaitu membalas kebaikan dengan kejahatan. Ini setara dengan setan. Sebab itu sudah harus menjadi tabiat. Kita harus hati-hati! Anak terhadap orang tua, hati-hati. Banyak yang sudah jadi anak TUHAN, tapi bisa membalas kebaikan dengan kejahatan; begitu juga sidang jemaat terhadap gembala. Contohnya, Yudas Iskariot. Ia membalas kebaikan gembalanya--Yesus--dengan kejahatan.

      Sekalipun sudah menjadi tabiat, tetapi harus ditingkatkan lagi.


    • Lukas 14: 12-14
      14:12. Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
      14:13. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
      14:14. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka
      tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

      Ayat 12-14= ini lebih tinggi tingkatannya dari praktik pertama. Kita mendapat balasan dari TUHAN; kita sudah berbuat baik, tetapi dia tidak bisa membalas kebaikan kita dan TUHAN yang membalas kepada kita.

      Praktik kedua: mengasihi sesama yang dalam kekurangan--sesama yang membutuhkan.
      Praktiknya: memberi dan mengunjungi sesama yang membutuhkan baik secara jasmani ataupun rohani.

      Mulai dari rumah tangga, kita memberi dan mengunjungi (antara kakak dan adik, anak dan orang tua dan sebagainya). Kemudian lebih besar lagi, dalam penggembalaan, antar penggembalaan (kebaktian kunjungan).
      Tidak rugi, kalau kita memberi dan mengunjungi, itu semua untuk TUHAN (tidak ada pamrih lagi).

      Matius 25: 37-40
      25:37. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
      25:38. Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
      25:39. Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
      25:40. Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
      melakukannya untuk Aku.

      Contoh memberi dan mengunjungi: mengunjungi orang yang sakit, mendoakan, memberikan kesaksian, memberikan Firman dan sebagainya.

      Jika kita memberi dan mengunjungi sesama yang membutuhkan, itu sama dengan 'Melakukan untuk TUHAN'--melayani TUHAN. Tidak sia-sia! TUHAN yang membalas kepada kita semuanya.

      1 Yohanes 3: 16-18
      3:16. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.
      3:17. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?
      3:18. Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam
      kebenaran.

      'kitapun wajib menyerahkan nyawa kita'= jangan mengomel kalau kita hanya memberi uang. TUHAN sudah berkorban nyawa untuk kita, sebab itu kita wajib memberi nyawa untuk sesama. Inilah kekuatan mengasihi dari TUHAN.

      'bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?'= bagaimana pintu sorga bisa terbuka? Jika pintu hati tidak terbuka, maka pintu sorga tidak akan terbuka.

      Syarat mengasihi sesama dalam kekurangan adalah: dalam perbuatan (suatu praktik)--bukan teori atau hanya perkataan--, yaitu memberi dalam kebenaran; tanpa pamrih. Ini sama dengan memberi untuk TUHAN. Memberi dengan ada pamrih--tidak benar--, misalnya:


      • memberi supaya dipuji,
      • memberi untuk menjilat atasan, supaya dapat sesuatu (supaya mendapatkan kedudukan dan sebagainya).


      Itulah yang tidak boleh; bukan lagi memberi untuk TUHAN, tetapi untuk diri sendiri.

      Apa yang kita beri?


      • ayat 17: harta duniawi. Berkat TUHAN yang sudah kita terima, harus menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkan. Jangan jadi rawa! Hanya menerima saja dan tidak dialirkan. Akan berhenti di situ dan menjadi tempat penimbunan garam dosa, sampai kepada babel (egois).

        Selain memberi berkat jasmani, juga bisa memberi berkat rohani. Contohnya: memberikan firman, lewat majalah Manna.

        "Mungkin kita tidak bisa bersaksi, kita bisa berikan majalah Manna. Saya sudah saksikan, orang dari luar negeri tinggalkan semuanya (tinggalkan pelayanan yang tidak benar) karena majalah Manna. Ini berkat rohani. Mungkin lewat kaset dan sebagainya. Kita ingat seseorang, kita kirim. Sampai ukurannya seperti Yesus, yaitu sampai menyerahkan nyawa. Jangan takut, ini tidak akan hilang! Yesus sudah menyerahkan nyawa, tetapi kembali bahkan ditambah lagi dengan kemuliaan selamanya. Abraham mempersembahkan Ishak dan kembali, ditambah dengan Jehova Jireh. Jangan ragu-ragu kalau memang digerakkan oleh TUHAN! Dalam kebaktian kunjungan, kita digerakkan apa saja, baik dalam berdoa, memberikan dana, ikut serta secara langsung, mari lakukan, tidak usah takut. Kalau kuatir terus ('nanti kalau..'), kita tidak akan berbuat apa-apa. Tidak akan pernah hilang. Kita gunakan waktu untuk memberi dan mengunjungi, tidak akan hilang. Mereka tidak bisa balas kita, tetapi upahnya dari TUHAN. Ini rahasia berkat Abraham, yaitu diberkati untuk memuliakan TUHAN dan menjadi berkat bagi orang lain, dan TUHAN sanggup untuk memerintahkan berkat kepada kita.

        Saya juga bersaksi. Waktu saya masih pengerja, Om Pong suruh saya khotbah ibadah kaum muda ke Kalimantan, Toraja dan lain-lain. Tetapi tidak pernah diberi ongkosnya. Inilah saya dilatih, memang ke sana untuk memberi dan mengunjungi. Kalau yang khotbah saja pusing, bingung soal ongkos, nanti yang terima khotbah akan bingung lagi. Begitulah rumusnya Om Pong. Saya sadar. Tiap sabtu om Pong yang khotbah kaum muda, tetapi beliau beri kesempatan kepada saya. Kalau dari TUHAN, pasti saya sampai di Kalimatan dan Toraja. Kalau harus ada uangnya dulu, itu namanya pegawai, bukan hamba TUHAN. Kalau saya tidak sampai ke Toraja, ya om Pong yang khotbah, tidak ada masalah. Itu hanya test.
        Di Kalimantan, saya dititipkan di hotel yang lumayan. Tetapi satu waktu hanya dapat emperan sekolah. Tetapi sama saja, TUHAN juga tetap berikan firman.
        "

        Kalau TUHAN izinkan ada kebaktian kunjungan dan sebagainya, jangan acuh tak acuh! Kalau TUHAN perlihatkan atau perdengarkan ada sesama yang dalam kekurangan, itu bukan kebetulan, tetapi kita diberikan kesempatan untuk bisa memberi dan mengunjungi. Kalau orang tidak bisa membalas, maka TUHAN yang membalas semuanya.


      • Ayat 16: sampai menyerahkan nyawa--seperti Yesus.


      Memberi dan mengunjungi ini akan ditagih oleh TUHAN--harus dipertanggungjawabkan kepada TUHAN.
      Matius 25: 31, 45-46
      25:31. "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
      25:45. Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
      segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
      25:46. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

      Jika tidak melakukan, harus dipertanggung jawabkan, sama dengan terkutuk dan binasa. Sungguh-sungguh! Mari, kita bersaksi, bawa majalah Manna dan lain-lain, supaya mereka bisa tertolong. Dan TUHAN tidak pernah menipu kita. TUHAN akan perintahkan berkat kepada kita; baik berkat jasmani, rohani, dan berkat rumah tangga, bahkan sampai hidup kekal.


  2. Ruangan suci Tabernakel.
    Markus 12: 31
    12:31. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.

    'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri' = Loh batu kedua.

    Tingkatan kedua: mengasihi sesama seperti diri sendiri.
    Tadi, yang pertama di halaman, sekarang sudah meningkat ke ruangan suci.

    Praktiknya:


    • Matius 7: 12
      7:12. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

      Praktik pertama: kita berbuat, berpikir, dan berkata tentang sesama seperti yang kita inginkan orang lain berbuat, berpikir dan berkata tentang kita. Contohnya:


      • kalau kita ingin orang berbuat baik kepada kita, maka kita berbuat baik kepada orang lain,
      • kalau kita ingin orang berpikir yang positif tentang kita, maka kita berpikir yang positif kepada sesama,
      • kalau kita ingin orang lain berkata yang baik tentang kita, maka kita berkata baik kepada sesama.


      Mulai dari suami-isteri. Jangan menuntut dulu! Kalau menuntut dulu, tidak akan pernah menjadi satu, tetapi bertengkar terus. Contohnya:


      • kalau kita ingin supaya isteri berbuat baik kepada kita, maka kita harus baik kepada isteri.
      • kalau kita ingin supaya isteri perkataannya tidak kasar, maka jangan berkata kasar kepada isteri.


      Kalau kita hanya ingin orang lain baik pada kita, tetapi kita berbuat tidak baik, ini sama dengan egois (tidak ada kasih).

      Jika disimpulkan, mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah tidak mau menyakiti dan merugikan orang lain sedikitpun. Mulai dari dalam nikah rumah tangga, penggembalaan.

      Kalau tahu digosipkan itu sakit, jangan bergosip. Dari pada bergosip, lebih baik terang-terangan. Kalau bergosip, itu menyakiti orang lain. Kalau saling menyakiti, antara suami isteri saja tidak bisa duduk bersanding, apalagi mau duduk bersanding dengan TUHAN di takhta sorga. Terlalu jauh!


    • Roma 13: 8
      13:8. Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

      Praktik kedua: jangan berhutang apa-apa pada sesama; terutama hutang dosa.

      Hari-hari terakhir ini, setiap perpanjangan umur/langkah hidup/denyut nadi yang TUHAN berikan kepada kita bukan untuk menambah dosa, tetapi untuk menyelesaikan dosa kepada sesama. Jangan menambah dosa! Kalau terus menambah dosa, saat TUHAN datang kembali akan dipertangungjawabkan semuanya dan kita masuk dalam penghukuman, kutukan, dan kebinasaan.
      Kita tidak tahu, kapan kedatangan TUHAN yang kedua kali, tetapi yang penting adalah persiapan untuk membayar hutang dosa.

      Proses membayar hutang dosa: berdamai; saling mengaku dan mengampuni. Maka darah Yesus akan menghapus segala dosa kita, kita bisa hidup dalam kebenaran dan kita bisa merasakan damai sejahtera. Kalau sudah hidup benar, tidak akan hutang lagi, tetapi ada damai sejahtera.

      Kalau tidak benar, maka tidak damai--ada iri, dendam, gosip.
      Yesaya 32: 17
      32:17. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

      Kebenaran dan kedamaian adalah satu. Kalau suami benar, isteri tidak benar, akan ribut. Yang bikin ribut adalah yang orang yang tidak benar. Kalau orang benar, diam saja.

      Damai= suasana kerajaan 1000 Tahun Damai; kembali pada suasana Firdaus, sampai di Yerusalem baru atau kerajaan sorga--Yerusalem baru juga kota damai. Jadi, suasana Firdaus adalah kebenaran dan ketenangan/kedamaian. Sekalipun kaya, tetapi kalau tidak damai, percuma.
      Pelihara hati damai!
      1 Petrus 4: 7
      4:7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

      Kalau sudah damai dan tenang, maka kita bisa berdoa kepada TUHAN dan lautan yang bergelora oleh angin ribut bisa menjadi teduh; apalagi kalau suami-isteri (dua orang) bisa sepakat/satu hati berdoa. Sekalipun laut bergelora, tetapi hati tetap damai.

      Yang membuat tenggelam bukan gelombangnya, tetapi hati yang tidak tenang. Hidup di dunia akhir zaman, seperti kapal di tengah lautan (banyak gelombang, angin), tetapi kalau hati tenang, maka lautnya juga tenang. Kalau hati tidak tenang, bisa tenggelam.

      Kebimbangan adalah gelombang terbesar yang menenggelamkan (Yakobus 1). Sekalipun lautnya tenang--ekonomi baik, semuanya baik--, tetapi kalau hati tidak tenang, akan tenggelam, sampai tenggelam di lautan api dan belerang--neraka.
      Kalau hati tenang, sekalipun laut bergelora, maka laut akan teduh. Jaga kebenaran dan ketenangan hari-hari ini!

      Laut menjadi teduh, artinya: semua masalah diselesaikan oleh TUHAN dan semua menjadi enak dan ringan. TUHAN tolong kita semua.


    Inilah mengasihi sesama. Tingkat pertama, mengasihi sesama yang mengasihi kita. Praktiknya: baik dibalas dengan baik, harus sudah menjadi tabiat (jangan berubah). Kalau baik dibalas jahat, sama dengan setan. Ini harus ditingkatkan lagi, yaitu memberi kepada sesama yang membutuhkan--orang lain tidak bisa membalas kita, tetapi TUHAN yang membalas kepada kita semuanya.

    Tingkat kedua, mengasihi sesama seperti diri sendiri. Praktknya: jangan merugikan/menyakiti sesama dan jangan berhutang dosa. Selesaikan dosa, sampai kita hidup dalam kebenaran dan damai sejahtera. Kita bisa berdoa; laut yang bergelora menjadi tenang, semua selesai dan semua enak dan ringan.


  3. Ruangan maha suci Tabernakel.
    Matius 5: 44-45
    5:44. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
    5:45. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

    Tingkatan ketiga: mengasihi musuh.

    Kalau sudah bisa mengasihi musuh, berarti mengasihi semua orang (sudah satu tubuh).
    Bisa mengasihi musuh= kasih sempurna= kasih matahari= kasih Yesus dari Golgota.

    Di atas kayu salib, TUHAN berdoa: 'Bapa ampunilah mereka semua'. Inilah kasih matahari; kasih dari Golgota.

    Praktiknya:


    • mengampuni dosa orang lain dan melupakan.
      Kalau tidak mengampuni sesama yang bersalah, TUHAN juga tidak mengampuni; kita binasa. Celaka kita!

      Jangan alasan bahwa dosanya sangat berat dan sebagainya. Rugi sekali kalau dia yang berdosa, tetapi kita yang menanggung akibatnya karena tidak mau mengampuni.

      Matius 6: 14-15
      6:14. Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
      6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

      Jika tidak mengampuni sesama, kita rugi dua kali:


      • rugi, karena ada orang sudah berbuat jahat kepada kita,
      • rugi, karena menanggung akibatnya, yaitu binasa (orang lain yang berbuat dosa, kita yang menanggung akibatnya).


      Kalau tidak kuat mengampuni, pandang kurban Kristus. Mana yang lebih sakit? Kalau kita disalahkan, mungkin kita masih ada salahnya. TUHAN tidak ada salahnya; YESUS dihina, ditelanjangi, dipermalukan, sampai dibunuh sebagai orang terkutuk, tetapi Dia masih bisa mengampuni. Inilah kekuatan kita: 'Yesus disakiti lebih dari kita', pasti kita bisa mengampuni.

      "Seperti saya cerita. Ada ibu yang sakit dan harus dipasang alat cuci darah. Tetapi asisten dokternya lupa tidak menjahit, darah mengalir terus. Asisten dokternya hanya menekan dengan tangannya saja, sampai ibu tersebut kesakitan. Ibu itu bilang kalau dia tahan 5 jam karena ingat Yesus di kayu salib lebih sakit dari dia.

      Ada orang bersaksi pada saya bahwa hatinya pahit, sulit menyembah, sampai kering. Kalau sudah kering, jasmani rohani capek, hanya karena gara-gara seseorang. Sesudah itu, dia tertidur awal dan jam 9 malam dia bangun. Dia buka laptopnya, ternyata tidak ada doa malam di WR Supratman Surabaya. Tetapi dia pikir, mungkin ada rekaman yang bisa didengar, akhirnya dia dengar rekamannya, dan diia menangis dan bisa menyembah. Dia mendengar firman tentang doa--doa penyembahan, doa permohonan, doa ucapan syukur--dan kasih. Dia dengarkan dan dia pulih kembali. Jangan sampai kering! Kalau tidak bisa mengampuni, akan kering dan semua capek. Kalau jasmani capek, datang ke gereja dan rohani disiram, pulang segar. Tetapi kalau jasmani dan rohani kering, hidup itu sudah terlalu pahit getir.
      "

      Mari, saling mengampuni! Kalau tidak kuat, sikap kita adalah:


      • Lihatlah Yesus,
      • Lihatlah diri kita. Kalau dosa kita--dari kecil--tidak diampuni oleh Yesus, kita tidak mungkin bisa berada disini.

        "Pergaulan di desa seringkali membuat nakal. Saya dulu waktu kecil mencuri ayam."

        Bagaimana nasib kita, kalau tidak diampuni oleh TUHAN. Ampunilah semuanya dan lupakan, jangan sampai pahit.


    • Praktik kedua: berdoa untuk orang yang memusuhi kita.
    • Praktik ketiga: membalas kejahatan dengan kebaikan.


    Semua ini bisa kita lakukan, tinggal kita mau atau tidak!
    Kalau mau, berarti kita memiliki kasih sempurna; kasih matahari; kasih Yesus dari kayu salib.

    Dulu, Lot keluar dari Sodom Gomora dan disuruh lari ke pegunungan. Tetapi ia tidak kuat dan minta lari ke kota kecil (kota Zoar). Sampai di situ, matahari terbit dan di Sodom terjadi hujan api belerang. Tinggal pilih, mau matahari atau api belerang!
    Kota kecil= gambaran dari salib. Di gunung Golgota, kasih matahari dipancarkan.

    Malam ini, kita lari ke kayu salib. Bagi kita, kayu salib adalah tempat untuk mengaku segala kelemahan dan kekurangan kita secara jasmani--ekonomi, penyakit dan sebagainya--dan rohani--ada kenajisan, pahit hati, dendam. Bukan hanya mengaku saja, tetapi juga bergumul bersama Yesus untuk lepas dari itu semua. Ini kasih matahari. Tidak ada tempat lain. Matahari bersinar di Golgota. Lari ke sana! Jangan sampai kena hujan api belerang.

    Bagi Yesus, kayu salib adalah


    • tempat Ia bergumul untuk menanggung dan menyelesaikan dosa kita semua.
      Yohanes 19: 29-30
      19:29. Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
      19:30. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "
      Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

      'Sudah selesai'= Yesus bergumul sampai menyerahkan nyawa-Nya--dosa-dosa sudah selesai.
      Kayu salib adalah tempat Yesus bergumul untuk meminum anggur asam bercampur empedu; menanggung, mengampuni, dan menyelesaikan dosa-dosa kita oleh darah-Nya.

      Kalau dosa selesai, maka semua masalah juga selesai. Dosa adalah masalah terberat. Dia juga bergumul untuk semua masalah kita--ekonomi, penyakit, masalah apa saja--sampai Dia berkata: 'Sudah selesai!'

      Mari, kita bergumul untuk kelemahan kita. Jangan menutupi, tetapi akui kepada TUHAN dan sesama. Dari pihak kita, selesaikan. Dari pihak TUHAN pasti bisa menyelesaikan.
      Yesus berkata: 'Sudah selesai', lalu Ia mati, berarti janji-Nya sudah selesai dan tidak bisa berubah lagi. Pasti selesai! Jaminannya adalah nyawa-Nya sendiri. TUHAN tolong kita semua.


    • Yesus juga bergumul untuk menyinarkan matahari dari wajah-Nya. Kita yang buruk--bahkan Petrus buruk seperti setan; Dia ambil semua keburukan kita, supaya kita mulia seperti Dia.
      Dia sudah rela menjadi buruk 100%, supaya sinar matahari-Nya dipancarkan 100% kepada kita, dan kita menjadi sama mulia dengan Dia.

      Yesaya 52: 13-14
      52:13. Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.
      52:14. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia--
      begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi--

      Ayat 13= seharusnya Dia berhasil, mulia, wajah-Nya bersinar seperti matahari terik.
      Ayat 14= tetapi di kayu salib, wajah-Nya begitu buruk.
      'bukan seperti manusia lagi' = seperti anjing dan babi, bahkan seperti setan.

      Anjing selalu menjilat muntahnya; perkataan dosa. Babi dimandikan kembali ke kubangan lagi; perbuatan dosa, sampai puncaknya dosa.
      Kita bangsa kafir hanya seperti anjing dan babi, itulah yang ditanggung oleh Yesus. Bahkan Petrus hamba TUHAN yang hebat bisa menjadi seperti iblis (TUHAN berkata kepada Petrus: 'Enyahlah iblis'). Dia tanggung semuanya untuk bisa menyinarkan kemuliaan-Nya kepada kita, sehingga kita yang buruk bisa dijadikan sama mulia seperti Dia.

      Dia menyinarkan kemuliaan-Nya (kasih matahari) 100% kepada kita, sehingga Dia menjadi buruk--tidak seperti manusia lagi; tetapi seperti anjing babi, iblis)--, supaya kita yang buruk seperti apapun, bisa diubahkan menjadi sama mulia dengan Dia.


    Kegunaan kasih matahari--kasih Yesus dari kayu salib:


    • Yeremia 33: 19-21
      33:19. Firman TUHAN datang kepada Yeremia, bunyinya:
      33:20. "Beginilah firman TUHAN:
      Jika kamu dapat mengingkari perjanjian-Ku dengan siang dan perjanjian-Ku dengan malam, sehingga siang dan malam tidak datang lagi pada waktunya,
      33:21. maka juga perjanjian-Ku dengan hamba-Ku Daud dapat diingkari, sehingga ia tidak mempunyai anak lagi yang memerintah di atas takhtanya; begitu juga perjanjian-Ku dengan orang-orang Lewi, yakni
      imam-imam yang menjadi pelayan-Ku.

      'siang'= matahari.
      Ayat 20 = berarti masih ada matahari.
      Kalau tidak ada matahari lagi, berarti tidak ada siang dan malam, maka perjanjian TUHAN diingkari. Tetapi selama ada matahari, tidak bisa diingkari.

      'imam-imam yang menjadi pelayan-Ku' = imam dan raja.
      Kalau tidak ada matahari, tidak ada lagi raja (keturunan Daud); tidak ada lagi imam. Jika masih ada matahari, tetap ada imam dan raja.

      Kegunaan pertama: kasih matahari dari kayu salib memberikan kekuatan ekstra kepada kita untuk meneguhkan kita dalam menghadapi apapun; kita tidak tersandung, tetapi tetap dalam jabatan imam dan raja sampai garis akhir--sampai meninggal dunia atau sampai TUHAN datang kembali--bahkan sampai selamanya.

      Kalau sudah tidak kuat, datang kepada salib TUHAN. Biar matahari menguatkan kita. Seandainya sudah tersandung dan jatuh--Daud jatuh di lembah kelam/lembah maut dengan Batsyeba--, tetapi masih ada secercah matahari untuk mengangkat kita--seperti Daud setelah jatuh, masih diangkat dan masih tetap menjadi raja.

      Kalau ada imam dan raja jatuh seperti Daud, malam ini--tidak usah besok--lewat perjamuan suci, secercah sinar dari kayu salib bisa mengangkat dan memulihkan kita; kita tetap memegang jabatan imam, sampai garis akhir, bahkan sampai selama-lamanya. Kita tetap setia berkobar sampai selamanya. Jangan berhenti di tengah jalan!

      Yang sudah tinggalkan pelayanan, mari kembali. Yang sudah melayani, tetap pandang matahari, kita akan tetap setia dan berkobar-kobar sampai garis akhir, bahkan selamanya.

      Jangan seperti Yudas. Jabatannya diambil orang lain, dan ia tidak ada tempat lagi. Ia jadi buruk, sampai perutnya pecah dan isi perutnya terburai. Dari rasul dan bendahara--kepercayaan dan pilihan TUHAN--, tetapi nasibnya hanya seperti itu--busuk dan hancur. Jika ada yang tidak kuat, pandang TUHAN, supaya TUHAN kuatkan kita.


    • Yosua 10: 12-14
      10:12. Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: "Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!"
      10:13. Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh.
      10:14. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian,
      sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.

      Kegunaan kedua: selama matahari masih bersinar, TUHAN berperang ganti kita untuk memberikan kemenangan kepada kita atas musuh-musuh:


      • menyelesaikan semua masalah sampai yang mustahil,
      • memberikan kehidupan kepada kita baik secara jasmani dan rohani--tetap hidup benar dan suci.


      Kita tinggal datang ke kayu salib, mohon kasih matahari. Mulailah dengan mengasihi sesama yang mengasihi kita--membalas kebaikan dengan kebaikan dan memberi-mengunjungi. Harus sudah menjadi tabiat kita. Kalau tidak mau melakukan, nanti akan dihakimi oleh TUHAN.

      Lanjutkan dengan mengasihi sesama seperti diri sendiri--jangan merugikan sesama dan jangan berhutang dosa. Hati benar dan tenang, semuanya teduh. Kita banyak berdoa (bukan bergosip) dan lautan bisa teduh.

      Yang ketiga, bisa mengasihi musuh. Mulai dari nikah, penggembalaan, dan antar penggembalaan. Kita bisa mengampuni, berdoa dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Matahari mulai bersinar, kita bergumul bersama dengan TUHAN dan TUHAN memperhatikan, mempedulikan dan bergumul untuk kita.

      Jangan sampai kita binasa, hancur bersama dunia. Dia bergumul sampai semua selesai. Dia bertanggung jawab!

      Kita mendapatkan kekuatan ekstra, menjadi teguh dalam jabatan pelayanan; tidak mau tersandung dan tinggalkan jabatan pelayanan, tetapi tetap setia berkobar sampai garis akhir, bahkan sampai selamanya. Kalau sudah jatuh dalam dosa-puncanya dosa, masih ada sinar matahari untuk memulihkan kita.


    • Matius 13: 43
      13:43. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

      Yesus bercahaya seperti matahari, kita juga bercahaya seperti matahari; berarti menjadi sama mulia seperti Dia.

      Kegunaan ketiga: kasih matahari sanggup mengubahkan kita sedikit demi sedikit--mulai dengan taat dengar-dengaran (Yesus taat sampai mati di kayu salib).
      Kalau taat dengar-dengaran, wajah mulai berseri.

      Kita akan terus diubahkan, sampai satu waktu saat TUHAN datang kembali kedua kali, wajah kita bersinar bagaikan matahari--sama mulia dengan Yesus dan kita layak menyambut kedatangan-Nya kedua kali di awan-awan yang permai. Kita duduk bersanding dengan Dia di takhta sorga selama-lamanya.

Malam ini, kita datang ke kayu salib, apapun masalah kita. Dia sedang beregumul, memperhatikan, dan mempedulikan kita. Mari datang bergumul dengan Dia dan semua pasti selesai.
Perjamuan suci adalah bukti Allah peduli dengan kita.
Jangan putus asa atau bangga, tetapi datang pada salib TUHAN!

Serahkan pada Dia; bergumul bersama Dia. Yakin, selama matahari masih ada, suara: 'Sudah selesai!' masih berkumandang. Semua bisa selesai oleh keajaiban TUHAN. Yang sudah berada di lembah sekalipun, bisa diangkat. Akui segala kelemahan dan kekurangan, dan bergumul bersama Dia.

Orang lain mungkin tidak mau tahu; tidak mau mengerti. Jangan sakit hati! Justru saat tidak ada yang mau tahu, itu adalah kesempatan untuk berada di kayu salib bersama dengan Dia. Waktu Dia mau disalib, tidak ada yang mau tahu; semua lari tinggalkan Dia; tidak mau mengakui Dia. Kalau kita sudah merasa sendiri--tidak ada yang mau tahu--berarti kita sudah berdua dengan Yesus di kayu salib.

Kaum muda, mungkin kemampuan orang tua terbatas, tetapi Yesus lebih dari semua. Dia tahu apapun keadaan kita. Serahkan semua pada TUHAN dan bergumul bersama Dia malam ini. Percaya, selama matahari masih bersinar, Dia mampu melakukan segalanya.

TUHAN memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 20-22 Agustus 2019
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 04-05 September 2019
    (Ibadah Kunjungan di Semarang)

  • 17-19 September 2019
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • 08-10 Oktober 2019
    (Ibadah Kunjungan di Batam)

  • 22-24 Oktober 2019
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 05-07 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Tentena)

  • 19-21 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 03-05 Desember 2019
    (Ibadah Kunjungan di Jayapura)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top