English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 26 Juni 2010 (Sabtu Sore)
Markus 14:40-42
14:40 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab...

Ibadah Doa Malang, 09 Februari 2016 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 3:20
3:20 Lihat, Aku berdiri di...

Ibadah Kunjungan Mangkutana V, 27 Juni 2013 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Matius 4:19b
4:19 ... kamu akan...

Ibadah Kaum Muda Remaja, 08 Desember 2012 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 2:41-52 berjudul "Yesus pada umur...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 15 Januari 2015 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus. 

Wahyu 2-3 menunjuk pada 7 kali percikan...

Ibadah Doa Malang, 02 Mei 2017 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 5:5-10
5:5 Lalu berkatalah seorang dari tua-tua...

Ibadah Raya Surabaya, 18 April 2010 (Minggu Sore)
Pembicara: Budiman Tampubolon

Matius 25: 1-13
= ada 2 pribadi disini: Mempelai Pria,...

Ibadah Persekutuan Jakarta I, 08 Oktober 2013 (Selasa Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan....

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 23 Juni 2011 (Kamis Sore)
Pembicara: Pdt. Adri Tuyu

Matius 26:17-25 tentang Perjamuan Paskah.

Keluaran 12:14-15, 3, 6
12:14 Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 07 Juni 2010 (Senin Sore)
Matius 25: 1, 13
25:1. "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi...

Ibadah Raya Surabaya, 24 Januari 2010 (Minggu Sore)
Matius 24: 45-51
= berjaga-jaga dikaitkan dengan kedatangan Tuhan yang tidak diduga waktunya, yaitu:
ay. 45-47=...

Ibadah Raya Surabaya, 01 April 2012 (Minggu Sore)
Tema Ibadah di Teluk Bintuni, Papua Barat
"Yohanes 20: 19-29= kebangkitan Yesus membawa damai sejahtera"

Yesus yang sudah bangkit, menampilkan 3x damai...

Ibadah Raya Malang, 26 Juni 2011 (Minggu Pagi)
Dari Siaran Tunda Ibadah Kunjungan di Jerman

Tema: "40"
Dalam Alkitab, angka 40 memiliki arti penting.
Empat puluh artinya penamatan daging dengan...

Ibadah Raya Surabaya, 13 November 2011 (Minggu Sore)
Matius 26:
ay. 57-68= SAKSI DAN KESAKSIAN.
Jika kita tidak bersaksi tentang Tuhan, kita akan menyangkal Tuhan,...

Ibadah Doa Surabaya, 25 Mei 2018 (Jumat Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 14 September 2014)
Tayang: 24 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 September 2014)
Tayang: 06 Maret 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 03 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 01 September 2014)
Tayang: 16 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 31 Agustus 2014)
Tayang: 04 Februari 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 25 Agustus 2014)
Tayang: 13 Desember 2016
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Raya Surabaya, 11 Februari 2018 (Minggu Siang)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah kita sekalian.

Wahyu 7: 4-8
7:4. Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.
7:5. Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu,
7:6. dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari suku Manasye dua belas ribu,
7:7. dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu,
7:8. dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu.

Kita masih belajar tentang METERAI ALLAH (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 28 Januari 2018).

Siapa yang dimeteraikan dengan meterai Allah? Seratus empat puluh empat ribu orang dari dua belas suku Israel; masing-masing suku dua belas ribu orang.

Kalau kita baca, dari dua belas suku Israel yang dimeteraikan, tidak ada suku Dan, dan diganti oleh suku Manasye.
Mengapa demikian? Karena suku Dan berubah dari keturunan Abraham menjadi keturunan ular beludak; bertabiat ular beludak.
Kejadian 49: 17
49:17. Semoga Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang.

Ini yang harus kita waspadai.
TABIAT ULAR beludak ini menembusi dari zaman ke zaman; dari zaman permulaan sampai zaman akhir:

  1. Zaman Allah Bapa--dari Adam sampai Abraham; kurang lebih dua ribu tahun.
    Kejadian 3: 1
    3:1. Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

    Ular cerdik, tetapi bicaranya salah. Tuhan berkata: Semua pohon di taman boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi ular berkata: Jangan kamu makan.

    Inilah tabiat ular yang pertama, yaitu cerdik tetapi TIDAK TULUS; yang Tuhan mau adalah cerdik tetapi tulus.

    Kalau Hawa mendengar suara ular/ajaran asing, ia akan memiliki tabiat dari ular. Karena itu di dalam fellowship kita mewarisi tabiat--mulai dari nikah. Hati-hati! Tergembala juga mewarisi tabiat, fellowship juga mewarisi tabiat, kalau yang berkhotbah tabiatnya tidak baik, kita ikut di situ; kalau yang berkhotbah jatuh, kita juga ikut jatuh. Fellowship artinya makan bersama, dan mewarisi tabiat bersama. Kita harus hati-hati.

    Hawa mendengar suara ular/ajaran asing, sehingga ia juga memiliki tabiat ular yaitu tidak tulus. Tadinya tulus, tetapi setelah mendengar suara ular, jadi tidak tulus seperti ular.
    Praktiknya:


    • Praktik tidak tulus yang pertama: selalu bimbang terhadap firman pengajaran yang benar (suara Tuhan); selalu bertanya-tanya: Ah masak begitu?, masak satu gereja mati semua? Banyak tanya, karena ular memakai tanda tanya: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?
      Selalu bimbang karena hanya menggunakan logika, bukan hati lagi.
      Dalam pelayanan kita juga seringkali menggunakan akal. Ini bukanlah melayani. Melayani harus dengan hati.

      "Tadi ada kesaksian dari jemaat yang menjaga keamanan di gereja. Dia merasa benar sampai membentak-bentak, tetapi setelah mendengar firman, dia sadar itu bukan melayani, jadi dia yang datang dan minta maaf. Orang yang dimarahi sudah bilang: saya tidak akan masuk gereja lagi. Tetapi setelah diselesaikan, selesai sudah. Memang benar karena menggunakan akal, tetapi tidak sesuai dengan kehendak Tuhan."

      Jangan menggunakan logika dalam pelayanan, tetapi hati yang tulus.


    • Praktik tidak tulus yang kedua: Hawa mulai mengurangi dan menambah firman Allah:


      1. Mengurangi kata: bebas.
        Kejadian 3: 2
        3:2. Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

        Kejadian 2: 16
        2:16. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

        'bebas'= urapan Roh Kudus.
        Mengurangi kata 'bebas' artinya menyampaikan firman tanpa urapan Roh Kudus; firman tidak boleh terlalu keras atau terlalu lama.

        Sekarang banyak yang menyampaikan firman berdasarkan pengalaman atau kepandaian, bukan urapan Roh Kudus. Mendengar firman juga, kalau tanpa urapan Roh Kudus, tidak akan bisa menerima firman.


      2. Menambah kata: raba.
        Kejadian 3: 3
        3:3. tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."

        Kejadian 2: 17
        2:17. tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

        Menambah kata 'raba', artinya menyampaikan firman dengan lawakan, supaya jemaat tidak mengantuk; menambah dengan ilustrasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan; ditambah pengetahuan dan sebagainya, untuk meraba supaya jemaat tertarik. Ini berarti menyampaikan firman dengan kekuatan akal, bukan Tuhan lagi.


      Kalau sudah tidak ada urapan Roh Kudus--tidak ada kata 'bebas'--, tetapi menggunakan usaha manusia--menambah kata 'raba'--, akibatnya: yang diraba adalah emosi sidang jemaat, sedangkan hatinya tidak pernah diraba oleh Tuhan, sehingga tidak pernah mengalami keubahan hidup, malah bertambah jahat dan najis; mendengar firman tetapi bertambah jahat dan najis; tetap manusia darah daging dengan delapan belas sifat tabiat daging--dicap antikris (2 Timotius 3: 1-5).

      Firman yang sudah ditambah dan dikurangi, bukan lagi firman Tuhan, tetapi suara ular.


    • Praktik tidak tulus yang ketiga: menolak firman pengajaran yang benar (suara Tuhan).
      Kejadian 3: 6-7
      3:6. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
      3:7. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

      Tuhan melarang untuk dimakan, tetapi dimakan; ini berarti menolak firman.
      Akibatnya: telanjang; jatuh dalam dosa, hidup dalam dosa sampai puncaknya dosa, bahkan enjoy dalam dosa sampai puncaknya dosa. Nikah dan buah nikahnya juga telanjang, dipermalukan.


    Mari, sungguh-sungguh!
    Di sinilah pentingnya baptisan air, karena baptisan air mempersiapkan HATI YANG LURUS/TULUS atau jalan yang lurus di hadapan Tuhan.

    Dari mana kita mendapatkan hati yang tulus?


    • Yang pertama: kita mendapatkan hati yang tulus lewat baptisan air yang benar.
      Yohanes Pembaptis berkata: luruskanlah jalan bagi-Nya.

      Markus 1: 2-4
      1:2. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu;
      1:3. ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya",
      1:4. demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu
      dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."

      Roma 6: 4
      6:4. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

      Baptisan air yang benar adalah orang yang sudah percaya Yesus dan bertobat--mati terhadap dosa--harus dikuburkan dalam air bersama Yesus, dan bangkit--keluar dari dalam air--bersama Yesus untuk mendapatkan hidup baru, itulah hati yang baru. Hati yang bagaikan ular menjadi hati yang tulus/lurus.

      Kalau hati tulus, Yesus akan lewat di sana; ada pribadi Tuhan di dalamnya. Kalau tidak tulus, ular yang ada di dalamnya.


    • Yang kedua: hati yang tulus kita dapatkan lewat tergembala yang benar.
      Contoh: Musa. Musa adalah anak raja, orang pandai, kaya, punya kedudukan, kemudian mau melayani dua orang dengan menggunakan kepandaian (akal), kekayaan, dan kedudukannya--perkara dunia--, tetapi tidak bisa, dan malah menjadi pembunuh.

      Kepandaian dibutuhkan di dunia, tetapi di dalam pekerjaan Tuhan yang pertama dibutuhkan adalah hati.
      Oleh sebab itu Musa harus ke Midian; ia harus tergembala dengan benar.

      Keluaran 3: 1-3, 5
      3:1. Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.
      3:2. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
      3:3. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"
      3:5. Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat:
      tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

      'biasa menggembalakan'= tekun dalam penggembalaan.
      'semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api', berarti apinya jelas dari sorga, kalau dari dunia, semak durinya pasti terbakar.

      Bagi kita sekarang artinya: kita harus tekun dalam kandang penggembalaan--ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.
      Tuhan memperlihatkan kerajaan sorga kepada Musa dan Ia perintahkan Musa untuk membuat kerajaan sorga di bumi, itulah Tabernakel; ada tiga ruangan: halaman--selamat--, ruangan suci, dan ruangan maha suci--sempurna. Kita sudah selamat tetapi belum sempurna, jadi kita sekarang berada di ruangan suci--dulu ada tiga macam alat, sekarang ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok--:


      1. Pelita emas= ketekunan dalam ibadah raya; persekutuan dengan Allah Roh Kudus di dalam karunia-Nya; kita diberi minum, supaya tetap segar di padang gurun dunia dan tetap setia barkobar dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan.
        Roh Kudus merupakan api yang menyucikan--di loteng Yerusalem, Roh Kudus turun bagaikan lidah-lidah nyala api.


      2. Meja roti sajian= ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci; persekutuan dengan Anak Allah di dalam firman pengajaran yang benar dan kurban Kristus; domba diberi makan supaya kuat, tidak tersandung dan jatuh dalam dosa-dosa tetapi tetap mengikuti Tuhan sampai Tuhan datang.
        Firman juga bagaikan api (Yeremia 23: 29: Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?).


      3. Mezbah dupa emas= ketekunan dalam ibadah doa; persekutuan dengan Allah Bapa di dalam kasih-Nya; kita bernafas dengan kasih Allah yang kekal, sehingga kita mendapatkan hidup kekal selamanya. Kasih Allah juga bagaikan api yang menyambar.


      Tadi, Musa melihat semak duri menyala, tetapi tidak dimakan api.
      Jadi, di dalam kandang penggembalaan kita sedang disucikan oleh nyala api firman, Roh Kudus, dan kasih Allah, sampai dikatakan: tanggalkan kasutmu!
      Artinya: mengalami penyucian tubuh, jiwa, dan roh (penyucian lahir dan batin); kita menjadi seperti bayi yang baru lahir--istilah alkitab: bayi lahir tidak memakai kasut.
      Bayi yang baru lahir hatinya tulus.

      "Karena itu guru-guru sekolah minggu harus sungguh-sungguh, karena anak-anak sekolah minggu hatinya masih tulus. Tergantung gurunya mau ditulisi suara Tuhan atau ular. Kalau gurunya masih ke sana-sini, saya keberatan. Karena kalau sudah mendengar suara Tuhan dan suara ular, pasti cenderung ke suara ular, dan suara Tuhan akan ditinggalkan. Bukan tidak boleh beribadah, tetapi yang tidak boleh adalah mendengar suara ular. Belajar dari Hawa, kalau mendengar suara ular, pasti yang dituliskan guru-guru sekolah minggu juga suara ular. Sungguh-sungguh!"

      Hatinya Musa tulus, ia kembali seperti bayi lagi, mulutnya hanya menangis kepada Tuhan. Dulu Musa seharusnya mati di tangan puteri Firaun, tetapi karena hatinya tulus ia menangis, sehingga ada pembelaan Tuhan kepadanya.

      Kalau kita terus disucikan dan mulut menyembah Tuhan, satu waktu kita akan menjadi mempelai Tuhan.
      Wahyu 12: 1
      12:1. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

      Dulu Musa melihat semak duri menyala, tetapi tidak dimakan api, sekarang kita melihat bagaimana manusia yang berada di dalam kandang penggembalaan--ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok--bisa disucikan dengan api firman, Roh Kudus, dan kasih Allah, sampai satu waktu tampil menjadi perempuan dengan matahari, bulan, dan binatang--terang dunia, sama seperti Yesus; kita sempurna seperti Yesus; kita menjadi mempelai wanita-Nya. Inilah yang dimeteraikan oleh Tuhan, menjadi milik Tuhan selamanya.

      Matahari, bulan, dan bintang sama dengan mempelai wanita yang memiliki pakaian putih yang berkilau-kilauan.
      Wahyu 19: 8
      19:8. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)


    Jangan menjadi keturunan ular beludak! Kalau berani mendengar suara lain, hatinya akan mulai tidak tulus. Hatinya mulai bimbang: Masak satu dunia mati? Masak satu gereja mati semua? Itu berarti dia tidak baca alkitab. Di alkitab, satu dunia yang mati, hanya delapan orang yang selamat. Satu kota Sodom Gomora, hanya tiga yang selamat.

    Pertahankan hati yang tulus lewat baptisan air yang benar dan penggembalaan yang benar. Di situ ada pembelaan Tuhan, mulut kita hanya menangis kepada Tuhan, sampai disucikan dan menjadi mempelai wanita Tuhan dengan pakaian putih berkilau-kilauan.

    Tabiat ular ini terus mengejar supaya tabiat Allah jangan masuk di dalam kita; tabiat ular menyusup terus.


  2. Zaman Anak Allah--dari Abraham sampai kedatangan Yesus pertama kali; kurang lebih dua ribu tahun--: terjadi di kebun anggur yang elok, di situ ada ularnya.
    Yesaya 27: 1-2
    27:1. Pada waktu itu TUHAN akan melaksanakan hukuman dengan pedang-Nya yang keras, besar dan kuat atas Lewiatan, ular yang meluncur, atas Lewiatan, ular yang melingkar, dan Ia akan membunuh ular naga yang di laut.
    27:2. Pada waktu itu akan dikatakan: "Bernyanyilah tentang kebun anggur yang elok!

    'Kebun anggur yang elok'= ibadah pelayanan/penggembalaan yang dibina oleh kabar mempelai/firman pengajaran yang benar.
    Kebun anggur sama dengan kebun mempelai, karena buah anggur diperas dan airnya yang masuk pesta mempelai.

    Tabiat ular yang kedua adalah membuat pohon anggur menjadi tidak elok/indah; TIDAK BERBUAH--di dalam kebun anggur ada pohon-pohon anggur. Saat-saat berbunga digugurkan, sehingga tidak berbuah; yang indah-indah dihancurkan. Itulah tabiat ular.

    Tidak elok/indah/berbuah, artinya:


    • Yohanes 15: 1-5
      15:1. "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
      15:2. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
      15:3. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
      15:4. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
      15:5. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

      Yang pertama: tidak elok artinya tidak setia dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan dan dalam penggembalaan--rantingnya dibuat terlepas.

      Ini kurang ajarnya ular, ia memberikan tabiatnya ke kebun anggur yaitu tidak mau melekat. Artinya: tidak setia; berada di luar Tuhan.
      Kalau ranting terlepas, jangankan berbuah, mau bertumbuhpun tidak bisa. Karena tadi dituliskan: tidak berbuah apa-apa, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

      Inilah tabiat ular yaitu tidak setia dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan.
      Akibatnya: tidak bisa berbuat apa-apa--seperti Petrus yang tidak menangkap apa-apa; gagal total dan telanjang.

      Mari, jangan sampai kita tidak setia! Tuhan tolong kita semua! Tidak setia adalah tabiat ular. Mohon pada Tuhan! Kerja yang keras, sekolah yang keras, tetapi jangan lupa ibadah pelayanan lebih keras lagi. Kalau tidak, sudah bekerja keras--kerja semalam-malaman--, pakai modal yang besar, kepandaian dan pengalaman, semuanya akan kosong; tanpa ibadah pelayanan semua sia-sia, bahkan sorga tanpa ibadah pelayanan juga sia-sia--di sorga kita tetap beribadah melayani Tuhan.

      "Kalau saya mendengar seorang jemaat izin tidak beribadah, hati saya langsung 'deg', tetapi tetap saya doakan, supaya Tuhan tolong. Saya nasihati juga. Jangan sampai tidak setia! Bukan berarti tidak boleh izin. Tidak apa-apa, tetapi tetap saya doakan, supaya Tuhan membuka jalan. Harus setia, kalau tidak, semua akan sia-sia."

      Biar gereja besar, jemaatnya ribuan, kalau tidak setia, tidak akan ada harganya di hadapan Tuhan. Sekalipun gereja masih kontrak, kalau setia, itu yang berharga/elok di hadapan Tuhan.


    • Yang kedua: tidak elok/berbuah artinya tidak bersih.
      Di dalam Tuhan tidak indah bukan berarti tidak kaya.

      Yohanes 15: 3
      15:3. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

      Tuhan katakan: Kamu memang sudah bersih. Tetapi tidak semua bersih. Yudas tidak bersih; kakinya paling kotor. Padahal tapak kaki hamba/pelayan Tuhan yang membawa kabar baik/kabar mempelai itu sangat indah, tetapi kaki Yudas sangat kotor.

      Yohanes 13: 10-11
      13:10. Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."
      13:11. Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."

      'mandi'= baptisan air.
      'membasuh kakinya'= membasuh dengan firman. Setelah menyelam dalam baptisan air, kita harus menyelam dalam firman pengajaran yang benar--dimandikan dengan air dan firman (Efesus 5).

      Kaki Yudas kotor karena hatinya penuh dengan keinginan jahat, dan pasti ada keinginan najis dan kepahitan.

      Keinginan jahat= keinginan akan uang--Yudas mencuri milik Tuhan (persepuluhan dan persembahan khusus).
      Mulai dari gembala, kalau kakinya gembala kotor, bagaimana jemaatnya? Semua akan kena dampaknya.

      Tadi Tuhan berkata kepada Musa: tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus. Artinya: Kalau hamba/pelayan Tuhan suci, kesucian itu bisa dirasakan di tempat sekitarnya sehingga orang yang tidak suci bisa tertarik untuk disucikan. Tetapi kalau gembala tidak suci, orang yang datang tidak suci, senang; yang suci, jadi tidak suci. Mulai dari gembala. Bukan saya sok suci, tetapi ingin disucikan.

      Keinginan najis= dosa makan minum (merokok, mabuk dan narkoba), dan dosa kawin mengawinkan (percabulan, nikah yang salah: kawin cerai, kawin campur, dan kawin mengawinkan). Sekarang, ini bebas di dalam gereja Tuhan.
      Sekarang 'Yudas' ini benar-benar bebas, malah dia yang lebih menonjol. Di perjamuan terakhir, Yesus berkata: Siapa mencelupkan roti bersama Aku, dialah itu. Tetapi Yudas menjawab: Bukan aku. Setelah itu Yesus berkata kepadanya: Pergilah, selesaikan apa yang akan kamu perbuat! Kelihatannya hebat, sepertinya dipakai Tuhan--diperintah oleh Tuhan.

      Kita harus hati-hati! Jangan terkecoh!
      Yang tidak bisa terkecoh adalah bayi, karena hatinya tulus.

      Kepahitan= iri hati, benci, dendam, dan kebencian tanpa alasan.
      Ini yang terjadi di kebun anggur. Kakak-kakak Yusuf membenci Yusuf. Jangan sampai terjadi!

      Kalau hati penuh dengan kejahatan, kenajisan, dan kepahitan, kita akan menjadi seperti Yudas, yaitu tidak bisa menerima firman pengajaran yang benar/penyucian. Tuhan sudah beberapa kali mengingatkan Yudas: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
      Sampai terakhir Yudas diingatkan: Siapa mencelupkan roti bersama Aku, dialah itu. Tetapi dia berkata; Bukan aku. Inilah hati ular; bertabiat ular; cerdik tetapi tidak tulus. Kakinya tetap kotor sampai binasa selamanya.


    Jadi kalau tidak setia dalam ibadah pelayanan, pasti kotor. Itu yang bahaya; menjadi carang kering--mulutnya berdusta, mulutnya kering: berdusta, gosip--, dan binasa selamanya.

    Jalan keluarnya: harus ada pedang untuk membunuh Lewiatan--gambaran dari Babel; dosa kejahatan, kenajisan, dan kepahitan akan menuju Babel.
    Yesaya 27: 1
    27:1. Pada waktu itu TUHAN akan melaksanakan hukuman dengan pedang-Nya yang keras, besar dan kuat atas Lewiatan, ular yang meluncur, atas Lewiatan, ular yang melingkar, dan Ia akan membunuh ular naga yang di laut.

    Bagi ular merupakan pedang penghukuman, tetapi bagi kita pedang penyucian.
    Di dalam penggembalaan harus ada pedang firman untuk membunuh Lewiatan.
    Artinya: menyucikan kita dari tabiat ular (kejahatan, kenajisan, dan kepahitan), sehingga kita menjadi hamba/pelayan Tuhan yang SUCI, SETIA, DAN BAIK.

    Kita menjadi ranting yang melekat pada pokok anggur yang benar. Ranting itu kecil, tetapi kalau suci, setia, dan baik, ia akan berbuah banyak, hidupnya manis, mengalami kebahagiaan sorga, dan 'Bapa-Kulah pengusahanya.'
    Sekalipun ranting kecil--gaji kecil, ijazah kecil, modal kecil dan sebagainya--, tidak apa-apa, yang kecil ini tinggal kita serahkan pada pokok anggur. Kita melekat untuk disucikan menjadi setia dan baik. Dan selebihnya menjadi urusan Tuhan.

    Tuhan sanggup memelihara kita secara ajaib di tengah kesulitan besar di dunia sampai zaman antikris berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun.

    Kalau Bapa pengusahanya, tidak akan pernah gulung tikar, tetapi sampai terbentuk mempelai wanita sorga.
    Toko, perusahaan, gaji kita, Bapa semua pengusahanya, dan kita tidak akan pernah bangkrut. Tuhan tolong kita semua.

    Inilah tabiat ular: tidak tulus, kemudian mau merusak yang elok/indah. Nikah sudah indah, ular masuk di situ. Penggembalaan sudah indah--saat kebun anggur berbuah--, rubah-rubah dan ular masuk. Di dalam kitab Kidung Agung, justru saat kebun anggur sudah berbunga, sangat berbahaya.  Keindahan/keelokannya mulai mau dirusak, sampai tidak berbuah. Itulah tabiat ular. Hati-hati!
    Jangan pakai gosip untuk merusak! Itu sama dengan ular. Bahaya besar! Apalagi pengusahanya adalah Bapa, ia akan berhadapan dengan Tuhan kalau merusak. Berat sekali! Tuhan tolong kita semua.


  3. Zaman Allah Roh Kudus--dari kedatangan Yesus pertama kali sampai kedatangan Yesus kedua kali; kurang lebih dua ribu tahun.
    Sekarang sudah tahun 2018, ini merupakan panjang sabarnya Tuhan: Dia belum datang dan kita masih diberi panjang umur.

    Wahyu 12: 3-4a
    12:3. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.
    12:4a. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.

    Di sini ular sudah menjadi naga merah padam.
    Tabiat ular yang ketiga adalah MENYERET bintang--imam-imam dan raja-raja; hamba/pelayan Tuhan yang dipakai Tuhan.

    Pengertian menyeret:


    • Menyesatkan dengan ajaran-ajaran sesat, sampai gugur dari iman dan meninggalkan pengajaran yang benar.
      Yesaya 9: 14
      9:14. Tua-tua dan orang yang terpandang, itulah kepala, dan nabi yang mengajarkan dusta, itulah ekor.


    • Menjatuhkan dalam dosa-dosa sampai puncaknya dosa, yaitu dosa makan-minum dan kawin-mengawinkan; hidup dalam dosa.
      Daud yang hebat bisa jatuh. Di akhir zaman akan diulangi lagi. Karena itu kita saling mendoakan, jangan sampai diseret ekor naga.


    Mengapa ada bintang yang diseret sampai gugur: gugur dari iman, dan gugur dari kebenaran dan kesucian? Karena tidak berpegang teguh pada firman kehidupan--tidak berpegang teguh pada satu firman pengajaran yang benar, yang sudah menjadi pengalaman hidupnya--, dan tidak taat dengar-dengaran.

    Filipi 2: 15-16
    2:15. supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,
    2:16. sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.

    Biarlah kita menjadi bintang yang tidak gugur sampai Tuhan datang kembali; kita bersama Dia selamanya.

    Satu bintang ada satu orbit, jangan berpindah-pindah orbit! Satu pengajaran yang benar, itu yang kiita pegang! Kalau berpindah-pindah, lama-lama akan meninggalkan Tuhan. Itu rahasianya! Yudas mendengar ahli Taurat yang bertentangan dengan ajaran Tuhan, dan akhirnya ia meninggalkan Tuhan.

    Jalan keluarnya: kita harus berpegang teguh pada satu firman pengajaran yang benar, dan TAAT DENGAR-DENGARAN sampai daging tidak bersuara, apapun resikonya; kita menjadi bintang di dalam tangan kanan Tuhan.
    Wahyu 1: 16-17
    1:16. Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.
    1:17. Ketika aku melihat Dia,
    tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,

    Kita dipegang tangan kanan Tuhan, kita akan banyak menyembah Tuhan, bukan menghakimi orang lain.
    Kita banyak tersungkur, mengaku kita hanya tanah liat yang tidak layak, tidak mampu, banyak kekurangan, bahkan merasa berutang sekalipun sudah melayani.

    Kita hanya mengulurkan tangan kepada Tuhan; berseru dan berserah kepada Tuhan, dan Dia akan mengulurkan tangan kanan-Nya kepada kita.

    Hasilnya:


    • Ulangan 7: 7-8
      7:7. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? --
      7:8. tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.

      Hasil pertama: tangan kanan Tuhan--kasih sekuat maut--sanggup melepaskan kita dari perbudakan dosa dan puncaknya dosa.
      Tidak usah tunggu besok! Hari ini dosa apa saja, akui, dan kita akan terlepas, sehingga kita bisa hidup benar, tidak ada ketakutan lagi.
      Akui, kita diampuni dan dilepaskan, dan jangan berbuat lagi. Kita akan mengalami damai sejahtera, semua menjadi enak dan ringan.


    • Matius 14: 29-32
      14:29. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
      14:30. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"
      14:31. Segera
      Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
      14:32. Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

      Menghadapi lautan dunia, mungkin kita hampir tenggelam seperti Petrus, dengan kekuatan dan iman yang ada, sebut: Yesus! Sampai sudah tenggelampun, Yunus masih bisa berseru dan Tuhan tolong.

      Hasil kedua: tangan kanan Tuhan membuat semua menjadi teduh; selesai pada waktunya; gagal menjadi berhasil dan indah pada waktunya; sakit menjadi sembuh; hancur menjadi baik.
      Menghadapi jalan buntu, mau apa lagi? Serukan nama Yesus!


    • Zefanya 3: 17-18
      3:17. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,
      3:18. seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.

      Hasil ketiga: Tuhan mengulurkan tangan kasih-Nya untuk membaharui kita dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus, yaitu jujur.
      Tidak boleh ada dusta! Kalau berdusta, kita beraada di dalam tangan setan.

      Kita jujur dalam mengaku dosa, soal pengajaran benar, dan jujur dalam segala hal. Kita menjadi rumah doa, dan doa kita dijawab Tuhan; yang mustahil menjadi tidak mustahil.

      Sampai kalau Tuhan datang kembali kita diubahkan menjadi sempurna, tidak salah dalam perkataan, kita terangkat di awan-awan dengan sorak-sorai: Haleluya. Kita bertemu dengan Dia selama-lamanya; dimeteraikan menjadi mempelai-Nya.

Hati-hati! Suku Dan menjadi keturunan ular beludak. Tabiatnya tidak baik:

  1. Tidak tulus. Tuhan tolong sampai kita tulus hati.
  2. Mau merusak yang indah, sampai kebun anggur tidak berbuah. Tuhan tolong sampai kita menjadi setia dan suci.
  3. Mau menyeret kita. Mari, taat, pegang teguh firman! Kita hanya mengulurkan tangan kepada Tuhan, dan Dia akan mengulurkan tangan-Nya kepada kita.

Jujur apa keadaan kita! Serahkan kepada Tuhan!
Petrus, hamba Tuhan yang hebat tidak mampu; rasul Yohanes di pulau Patmos tidak mampu. Siapa kita? Kita hanya berseru dan berserah kepada Tuhan. jangan berharap yang lain, tetapi hanya kepada Tuhan!

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 11-13 September 2018
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • 25-26 September 2018
    (Ibadah Kunjungan di Sidikalang)

  • 16-18 Oktober 2018
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 30-31 Oktober 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jayapura)

  • November 2018
    (Ibadah Kunjungan di Jakarta)

  • Februari 2019
    (Ibadah Kunjungan di Chennai, India)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top