English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Raya Malang, 14 Agustus 2011 (Minggu Pagi)
Bersamaan PENATARAN IMAM & CALON IMAM (I)

Matius...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 22 Maret 2019 (Jumat Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Raya Surabaya, 27 Januari 2013 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 27 Januari 2019 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 8:10-11
8:10 Lalu malaikat yang ketiga...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 12 Mei 2016 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 4:1
4:1 Kemudian dari pada itu aku...

Ibadah Doa Puasa Session I Malang, 14 Maret 2017 (Selasa Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Keluaran 6 tentang kebenaran Allah: ada pribadiNya,...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 17 Desember 2016 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 10:39, 42
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang...

Ibadah Doa Malang, 15 Februari 2011 (Selasa Sore)
bersamaan dengan Ibadah Doa Puasa session III

Keluaran 5-11 bicara...

Ibadah Raya Surabaya, 01 Februari 2009 (Minggu Sore)
Wahyu 22: 20 -> Tema ibadah di Medan.
"Ya, Aku datang segera"= kesiapan Tuhan Yesus untuk...

Ibadah Raya Malang, 20 September 2015 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 3:7-13 tentang sidang jemaat di Filadelfia.
Wahyu...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 17 Juni 2017 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 11:33-36
11:33 "Tidak seorangpun yang menyalakan pelita...

Ibadah Doa Puasa Malang Session I, 21 Januari 2014 (Selasa Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Kita mempelajari Keluaran 3. Ada 3 pengalaman...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 23 Februari 2015 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Malang, 14 Januari 2018 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 6:12-17
6:12 Maka aku melihat, ketika...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 19 Juli 2017 (Rabu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Raya Surabaya, 19 Februari 2017 (Minggu Siang)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah kasih sayang, damai sejahtera dan berkat TUHAN senantiasa dilimpahkan dalam hidup kita sekalian.

Wahyu 5: 5-10
5:5. Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya."
5:6. Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor
Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.
5:7. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.
5:8. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
5:9. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan
membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.
5:10. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

Siapa yang layak/dapat membuka gulungan kitab dan ketujuh meterainya--membukakan rahasia firman--? (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 09 Januari 2017)

  1. Ayat 5= Yesus sebagai singa dari suku Yehuda dan tunas Daud yang telah menang (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 15 Januari 2017 sampai Ibadah Raya Surabaya, 22 Januari 2017). Ini yang bisa membukakan firman terutama untuk bangsa kafir, supaya bangsa kafir bisa digembalakan dan dipakai untuk kemuliaan nama TUHAN.


  2. Ayat 6-10= Yesus sebagai Anak Domba yang telah tersembelih (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 30 Januari 2017).

AD. 2. YESUS SEBAGAI ANAK DOMBA YANG TELAH TERSEMBELIH

Yesus sebagai Anak Domba yang telah tersembelih artinya Yesus yang sudah mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita--mendamaikan dosa-dosa kita.

Jadi, pembukaan firman Allah yang dikaitkan dengan Yesus sebagai Anak Domba yang telah tersembelih artinya: pembukaan firman Allah mendorong kita untuk mengalami PENEBUSAN DAN PENDAMAIAN dari oleh darah Yesus. Setiap mendengar firman kita seharusnya lepas dari dosa. Harus demikian; mendengar firman gunanya untuk mengalami penebusan/pendamaian.

Kalau kita belajar kitab suci, permulaan kitab suci ditandai dengan lima kitab--kitab Musa--dan yang terakhir ditandai dengan lima kitab dari rasul Yohanes (injil Yohanes, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes dan kitab Wahyu); awal ditandai angka lima dan akhir ditandai angka lima. Angka lima menunjuk pada penebusan.

Oleh karena itu, setiap membaca alkitab dan mendengar firman yang dibukakan rahasianya, seharusnya mendorong kita untuk terlepas dari dosa--berdamai--, bukan untuk tertawa-tawa. Setiap mendengar firman, dosa hilang, sampai satu waktu tidak bercacat cela. Itu yang benar. Datang ibadah, mohon pada TUHAN, supaya firman menunjukkan dosa-dosa kita dan kita bisa terlepas.

Jadi, pembukaan firman mendorong kita untuk mengalami penebusan/pendamaian dari dosa-dosa oleh darah Yesus.
Mengapa kita harus mengalami pendamaian/penebusan dari dosa-dosa oleh darah Yesus?
Efesus 2: 1
2:1. Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Manusia harus mengalami penebusan oleh darah Yesus karena dosa membuat kita mati rohani; tidak ada hubungan dengan TUHAN--terpisah dari TUHAN--, tidak bisa beribadah melayani TUHAN dan tidak bisa mneyembah TUHAN--tidak ada gairah dalam perkara rohani. Kalau dibiarkan, akan terpisah untuk selama-lamanya dan menuju kematian yang kedua--neraka untuk selamanya.

Karena itu Yesus mau menjadi Anak Domba yang tersembelih sekalipun Dia tidak berdoa, karena Dia mati untuk menebus dosa kita, karena kalau tetap di dalam dosa, kita akan mati rohaninya sampai binasa selamanya--terpisah dari TUHAN, tidak ada gairah dalam perkara rohani: tidak bisa beribadah melayani TUHAN, tidak bisa menyembah TUHAN, sampai terpisah selamanya. Di sini yang harus dipendamaikan.

Jadi, manusia berdosa harus dipendamaikan atau ditebus oleh darah Yesus, supaya bisa kembali pada TUHAN, artinya: bisa hidup benar--rohaninya bisa hidup--dan menjadi senjata kebenaran--bisa beribadah melayani TUHAN--dan menyembah TUHAN--hubungan yang paling erat. Ini ditunjukkan di Wahyu 5: 7-8

Wahyu 5: 7-8
5:7. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.
5:8. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

Kalau ada pembukaan firman--ada penebusan--, kita yang sudah mati terhadap dosa bisa kembali pada TUHAN dan hidup benar--rohani kita hidup--sehingga bisa beribadah melayani TUHAN--menjadi senjata kebenaran--dan bisa tersungkur menyembah TUHAN
.
Jadi, pembukaan firman Allah yang dikaitkan dengan Yesus sebagai Anak Domba yang tersembelih--tadi gulungan kita diambil oleh Anak Domba yang telah tersembelih--mendorong kita untuk mengalami pendamaian/penebusan dari dosa-dosa sehingga kita bisa tersungkur menyembah kepada TUHAN--seperti yang terjadi di sorga. Begitu gulungan kitab diambil oleh Anak Domba yang tersembelih, keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua langsung tersungkur.

Begitu juga kita. Kalau kita mendengar firman yang dikaitkan dengan penebusan oleh darah Yesus--kita mau ditebus dan dilepaskan dari dosa-dosa--, kita akan tersungkur menyembah TUHAN.

Penyembahan yang benar merupakan pantulan dari penyembahan di sorga; sama dengan yang ada di sorga--di sorga tersungkur menyembah TUHAN, di bumi juga tersungkur yang benar. Ini gunanya pengajaran Tabarnakel, yaitu supaya di bumi sama seperti di sorga.

Jangan menurut pikiran kita sendiri di bumi! Banyak kali supaya orang senang atau kaum muda senang, musinya meniru di diskotik. Tidak sama dengan sorga nanti. Semua yang di bumi harus sama dengan di sorga: ibadah pelayanan di bumi sama dengan yang di sorga, penyembahan di bumi sama dengan yang di sorga. Jangan contoh yang lain, karena kita menuju sorga. Harus sama dengan sorga.

Tanda penyembahan yang benar; yang merupakan pantulan dari sorga:
Wahyu 5: 8
5:8. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

  1. Satu cawan emas, penuh dengan kemenyan (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 13 Februari 2017 sampai Ibadah Doa Surabaya, 15 Februari 2017). Dulu ada rempah-rempah digiling dan lain-lain. Kemenyan--berwarna putih--menunjuk pada menyembah TUHAN dalam kebenaran dan kesucian.


  2. Satu kecapi. Ini penyembahan di sorga. Bukan berarti sekarang kita menggunakan kecapi, tetapi ini dalam arti rohani. Dulu membawa kemenyan, sekarang dalam arti rohani yaitu hidup benar dan suci, sehingga bisa menyembah TUHAN.

    Begitu juga dengan kecapi, dalam arti rohani.

AD. 2. Satu kecapi
1 Samuel 16: 23
16:23. Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya

Ketika Saul tidak taat, Roh TUHAN udnur dari padanya dan roh jahat masuk. Istilah 'roh yang dari pada Allah' bukan berarti TUHAN kirim roh jahat, tetpai Ia izinkan. Kalau sudah tidak ada Roh Kudus lagi--jadi kehidupan yang tidak taat--, ia akan kering dan roh jahat yang datang. Seperti perumpamaan tentang rumah yang sudah dibersihkan dan disapu, kemudian kosong, tujuh roh jahat masuk ke dalamnya.

Bagaimana mengusir roh jahat? Daud dipanggil bermain kecapi sehingga roh jahat pergi dan Roh TUHAN datang; dan Saul menjadi lega dan nyaman.

Jadi jelas, kecapi sama dengan urapan Roh Kudus.

Jadi, penyembahan sorga--penyembahan yang benar--adalah penyembahan dalam urapan Roh Kudus, bukan daging. Kalau daging, akan sampai terjatuh-jatuh. Kalau Roh Kudus justru lega dan nyaman. Jangan bilang: hebat kalau sampai jatuh-jatuh! Itu daging! Kalau Roh Kudus, lega dan nyaman. Jangan salah! Jangan dibalik!

Nomor satu, kita harus menerima urapan Roh Kudus! Menyembah TUHAN harus dalam urapan, supaya tidak ngawur.

Proses menerima urapan Roh Kudus:
Kisah Rasul 19: 1-6 => tentang jemaat di Efesus
19:1. Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid.
19:2. Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus."
19:3. Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "
Dengan baptisan Yohanes."
19:4. Kata Paulus: "
Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus."
19:5. Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
19:6. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka,
turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.

'belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus'= bagaimana bisa menyembah kalau tidak ada Roh Kudus? Akan ngawur nanti--penyembahan daging.

Inilah proses untuk menerma Roh Kudus, supaya penyembahan kita sama seperti di sorga--di sorga membawa kecapi, kita sekarang menyembah dalam urapan Roh Kudus--:

  1. 'ketika kamu menjadi percaya'= percaya/iman kepada Yesus lewat mendengar firman yang diurapi Roh Kudus. Banyak dengar firman!
    Jadi, kalau rindu menerima urapan Roh Kudus, kita harus banyak medengar firman lebih dulu karena di mana firman diberitakan di situ ada urapan--'pada mulanya adalah firman.'

    Firman dulu, baru ada urapan; kalau dipraktikkan, ada kasih.


  2. Bertobat. Kalau iman kita dari mendengar firman--firman ada di dalam hati--, itu ada rem supaya kita tidak berbuat dosa. Kalau hatinya kosong, ia akan berbuat dosa terus. Tetapi kalau firman sudah jadi iman di dalam hati--sudah ditulis di dalam hati--, remnya kuat, mau berbuat dosa, tinggal sedikit lagi, bisa berhenti, tidak menabrak lagi; mau jatuh dalam dosa, bisa direm dan hanya berkata: untung TUHAN tolong. Ada remnya.

    Bertobat= berhenti berbuat dosa dan kembali pada TUHAN; mati terhadap dosa.


  3. 'Dengan baptisan Yohanes'= baptisan air. Seperti Yesus dibaptis, kita harus dibaptis.
    Matius 3: 16
    3:16. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,

    Yesus dibaptis untuk menjadi contoh bagi kita.
    'Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya'= jelas, setelah baptisan air, ada Roh Kudus.

    'segera keluar dari air'= ini yang jadi pedoman kita, supaya baptisan kita sama dengan bapisan Yesus. Sejauh mana 'keluar dari air'? Kuburan air.
    Roma 6: 4
    6:4. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

    Tadi, Yesus keluar dari air, lalu langit terbuka. Kita juga. Kita keluar dari kuburan air, ada hidup baru--langit terbuka. Sama persis!

    Jadi baptisan air yang benar adalah kita dibaptis seperti Yesus dibaptis, yaitu orang yang sudah bertobat--mati terhadap dosa--harus dikuburkan dalam air bersama Yesus sehingga ia bangkit--keluar dari dalam air--bersama Yesus untuk mendapatkan hidup baru--langit berbuka--; hidup sorgawi.


  4. Hidup sorgawi artinya kita mengalami baptisan Roh Kudus--kepenuhan/urapan Roh Kudus.
    Kalau dulu dilahirkan oleh ibu, kita manusia lama--manusia darah daging--yang tidak bisa menyembah TUHAN, dan mati dalam dosa.

    Tetapi setelah kita percaya, bertobat dan masuk baptisan air, kita mendapatkan hidup baru--kita diurapi dan dipenuhi Roh Kudus. Kita mengalami baptisan Roh Kudus--kepenuhan/urapan Roh Kudus--sehingga kita memiliki HATI NURANI YANG UTLUS SEPERTI MERPATI--tadi dituliskan: 'Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.' Hati yang tulus juga digambarkan SEPERTI BAYI yang baru lahir.

Jadi, penyembahan sorga--penyembahan yang benar--adalah peneymbahan dalam urapan Roh Kudus; penyembahan dengan hati yang tulus seperti merpati atau seperti bayi yang baru lahir--bayi hanya menangis. Itulah penyembahan! Betul-betul tulus.

Inilah penyembahan dengan kecapi, sekarang artinya penyembahan dalam urpaan Roh Kudus.
Bagaimana menerima Roh Kudus? Percaya Yesus, bertobat, baptisan air dan baptisan Roh Kudus.
Hasilnya: hati tulus seperti merpati dan hati yang tulus seperti bayi yang baru lahir. Jangan cerdik seperti ular!

Ini dibela oleh TUHAN. Ketika anak-anak kecil dibawa kepada Tuhjan dan murid-murid menghalanginya, tetapi TUHAN berkata: 'Orang semacam ini yang empunya kerajaan sorga.'--bayi yang baru lahir ada kaitan dengan sorga.

Praktik penyembahan dalam urapan Roh Kudus--penyembahan dengan hati tulus seperti merpati; penyembahan dengan hati tulus seperti bayi yang baru lahir--:

  1. 1 Samuel 16: 23
    16:23. Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya

    Praktik pertama penyembahan dalam urapan Roh Kudus: merasa lega dan nyaman apapun keadaan kita--seperti Saul ini, ia diganggu roh jahat, tidurpun tidak bisa. Tetapi kalau sudah diurapi Roh Kudus, sudah bisa menyembah, bisa lega dan nyaman. Mungkin banyak pikiran, kalau bisa menyembah, bisa lega.

    "Tadi ada kesaksian di Malang. Seorang wanita punya bengkel Mercedes. Tahu-tahu firman hari kamis: pembentukan karakter, kita harus sabar dalam ujian. Jumat pagi jam dua, mercy milik orang di bengkelnya dibongkar dan diambil isinya. Dia sudah tidak bisa bicara, tidak bisa doa, tetapi hanya marah. Lalu ingat firman, ia bisa menyembah, sudah bisa lega dan bisa menyerah pada TUHAN. Kemarin saya dengar dari anaknya, kalau sudah tahu siapa yang mengambil speedometernya. Semoga bisa ketemu semua."

    Itulah, apapun yang terjadi, kalau kita bisa menyembah, kita akan lega dan nyaman.

    Jadi, penyembahan dalam urapan Roh Kudus adalah PENYEMBAHAN DALAM SUASANA KETENANGAN--perhentian; damai sejahtera--sehingga semua menjadi enak dan ringan.

    Karena itu menghadapi apa saja, langsung menyembah, jangan mengomel dan marah dulu, supaya kita bisa merasakan ketenangan--perhentian; damai sejahtera--sehingga semua menjadi enak dan ringan. Ke mana beban beratnya? Sudah ditanggung oleh Sang Penebus di kayu salib--kita serahkan kepada Dia. Masalah apa saja, kita bisa enak dan ringan.


  2. Mazmur 43: 4
    43:4. Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!

    Praktik kedua penyembahan dalam urapan Roh Kudus: ada kecapi, ada sukacaita/kegembiraan= penyembahan sorga--penyembahan yang benar; dalam urapan Roh Kudus--yaitu PENYEMBAHAN DALAM SUASANA SUKACITA SORGA/KEPUASAN SORGA sehingga:


    • Kita tidak akan terpengaruh oleh kesukaan dunia.
      Sangat salah kalau kita katakan: Di dunia kita menyanyi begini...begini, ayo kita menyanyi begini...begini. Salah! Bukan itu contohnya!Contoh kita adalah kerajaan sorga. Jangan salah! Jangan sama dengan dunia! Kalau kita pergi ke alun-alun, di situ pasti gembira juga, tetapi pulang, susah

      Lain halnya dengan sukacita sorga. Sukacita sorga membuat kita tidak terpengaruh oleh kesukaan dunia yang menjerumuskan kita dalam dosa-dosa sampai puncaknya dosa--dosa makan minum dan kawin mengawinkan. Bahaya!


    • Kita tidak dipengaruhi oleh kesusahan dunia sehingga kita tidak kecewa dan putus asa, tetapi tetap percaya dan berharap TUHAN.


    Ini penyembahan yang benar, yaitu penyembahan dalam sukacita/kegembiraan sorga. Kepuasan sorga kita alami sehingga tidak dipengaruhi oleh kesukaan dunia yang menjerumuskan kita dalam dosa-dosa.

    Kaum muda, remnya di sini, bukan ilmu atau ijazah. Kalau ijazahnya tinggi, pergaulannya sudah baik. Belum tentu! Tetapi kalau dia sudah gemar menyembah TUHAN--mengalami sukacita dalam menyembah, ia akan mengalami jaminan dari TUHAN bahwa ia tidak akan dipengaruhi oleh kepuasan-kepuasan dan kesusahan dunia. Kita tidak putus asa dan kecewa, tetapi tetap bersyukur, percaya dan berharap TUHAN.

    Bukan malas menyembah atau mengomel karena lama sekali menyembahnya. Bukan begitu. Sudah gemar menyembah TUHAN, baru ada kesukaan sorga.
    Hati-hati! Jangan terpaksa menyembah TUHAN! Kalau sekarang kita terpaksa menyembah TUHAN, satu waktu kita akan dipaksa untuk menyembah antikris! Jangan! Kita menyembah TUHAN sampai bergemar dan bersukacita. Daging tidak kuat, tetapi urapan Roh Kudus kuat.

    Sekarang dibuat macam-macam, penyembahan dibuat menyanyi-nyanyi dan lain-lain, supaya dagingnya enak. Salah! Penyembahan itu perobekan daging dengan suara: Haleluya, Yesus, tetapi menghasilkan sukacita.
    Kita sudah mempelajari tentang rempah-rempah, salah satunya adalah getah rasamala, artinya: pahit bagi daging, tetapi segar dan enak bagi jiwa (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 13 Februari 2017).

    Inilah praktik penyembahan dalam urapan Roh Kudus yaitu: ketenangan; damai--enak dan ringan--, kemudian suasana sukacita sorga (kebahagiaan/kepuasan sorga)--kita tidak dipengaruhi oleh dunia.


  3. Wahyu 15: 2
    15:2. Dan aku melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Allah.

    Ini pengulangan dari Laut Kolsom. Dulu bangsa Israel melintasi Laut Kolsom, sedangkan Firaun dan tentaranya mati semua, lalu mereka bersukacita di tepi Laut Kolsom. Nanti lautan kaca. Ini menunjuk pada baptisan air.

    Jadi baptisan air ini menentukan nasib kita, mau melintasi lautan kaca atau tidak. Kalau baptisan airnya salah, tidak bisa melintasi lautan kaca. Kalau baptisannya benar tetapi hasilnya tidak benar, juga tidak bisa melintasi lautan kaca. Baptisannya harus benar--seperti Yesus dibaptis--dan hasilnya juga harus benar--hidup benar, diurapi Roh Kudus; bisa beribadah dan menyembah TUHAN--, itu yang bisa melintasi lautan kaca. Jadi, Laut Kolsom jadi lautan kaca; baptisan air jadi lautan kaca.

    Praktik ketiga penyembahan dalam urapan Roh Kudus: penyembahan sorga yaitu PENYEMBAHAN DALAM SUASANA KEMENANGAN ATAS ANTIKRIS.
    Artinya:


    • Menang atas penyembahan berhala, yaitu menyembah uang. Manusia ini nanti akan menyembah uang/Mamon; sama dengan kikir dan sarakah. Manusia termasuk hamba TUHAN/pelayan TUHAN digiring ke sana--untuk menyembah lembu emas (Mamon); penyembahan pada antikris.

      Dulu patung lembu emas, Israel sudah silau, nanti patung bisa bernyawa, tidak tahu bagaimana nasibnya. Yang penting sekarang adalah penyembahan yang benar, jangan menyembah antikris.

      Penyembahan pada Mamon= kikir dan serakah. Ini permulaannya! Mulai dari saya, bukan saudara.
      Kikir= tidak bisa memberi untuk pekerjaan TUHAN dan sesama yang membutuhkan.
      Serakah= mencuri milk TUHAN--persepuluhan dan persembahan khusus--dan sesama.

      Diarahkan ke sana, seperti Yudas Iskariot nasibnya.
      (Mohon maaf) kurang ajarnya setan adalah kalau orang mau datang pada TUHAN, mau lepas dari dosa, ia mau beribadah, dihalangi. Kalau tidak bisa dihalangi, dibelokkan ke arah penyembahan berhala. Yang dicari Mamon terus--ukurannya Mamon terus, yaitu kekayaan, berkat, kemakmuran. Hanya itu saja, smpai ia menjadi kikir dan serakah. Itu adalah penyembahan pada antikris dan dia dicap 666.

      Mari, menang! Lewat menyembah TUHAN dalam urapan Roh Kudus, kita menang terhadap antikris yaitu


      1. Kita bisa mengembalika milik TUHAN.
        Mulai dari saya.

        "Jangan pikir kalau sudha jadi hamba TUHAN pasti mengembalikan milik TUHAN. Belum tenttu, bahkan sampai dalam pengajaranpun, belum tentu. Banyak yang menyembah Mamon. Kelihatan hebat tetapi sebenarnya ia menyembah uang/antikris. Ini yang bahaya!"


      2. Bisa memberi untuk pekerjaan TUHAN dan untuk sesama yang membutuhkan.
        Ini menang!

        Belajarnya di sini, yaitu mengembalikan milik TUHAN, memberi untuk pekerjaan TUHAN, dan memberi untuk sesama yang membutuhkan.


      3. Sampai kita bisa memberikan seluruh hidup kita kepada TUHAN. Itulah penyemmbahan.

        Kalau persepuluhan milik TUHAN saja tidak kita kembalikan, bagaimana mau menyerahkan seluruh hidup kita? Tidak mungkin!


      Biarlah kita menang atas penyembahan antikris, yaitu kita bisa mengembalikan milik TUHAN dan kita bisa memberi, sehingga kita bisa memberikan seluruh hidup kita kepada TUHAN.

      Inilah suasana kemenangan yang pertama, yaitu tidak kikir dan serakah--tidak menyembah berhala--, tetapi menyembah TUHAN; menyerahkan hidup pada TUHAN.


    • Arti kedua penyembahan dalam suasana kemenangan atas antikris: tidak dicap 666. Kalau tidak mau menyembah antikris, kita tidak akan dicap 666, tetapi dimeterai dengan nama Yesus; kita menjadi milik Yesus, itulah mempelai wanita--nama Yesus dilekatkan--, sebab antikris ini melekat juga (istilahnya: 'diselar dengan besi panas di dahi dan tangan'), tidak bisa dihapus kecuali oleh darah Yesus.

      Sekarang masih bisa, tetapi nanti pada zaman antikris berkuasa, sudah tidak bisa lagi, kecuali dihapus oleh darahnya sendiri--ia tidak mau menerima cap 666. ia tetap menyembah Yesus dan disiksa sampai dipancung kepalanya.

      Lebih baik sekarang darah Yesus menghapus semua cap antikris; lewat penebusan.
      Kita tidak dicap 666, tetapi dimeterai dengan nama Yesus. Kita menjadi mempelai wanita TUHAN selamanya; menjadi milik TUHAN selamanya.

Inilah penyembahan dengan kecapi--'masing-masing membawa sebuah kecapi'. Itu adalah penyembahan sorga--penyembahan yang benar--yaitu penyembahan dalam urapan Roh Kduus. Ada suasana damai, kebahagiaan/kepuasan sorga dan kemenangan.

Penyembahan dengan kecapi ini dikaitkan dengan nyanyian baru. Setelah menyembah TUHAN di ayat 8, kemudian ada nyanyian baru.
Wahyu 5: 9
5:9. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

Bermain kecapi, lalu ada nyanyian. Artinya penyembahan dalam urapan Roh Kudus sampai pada nyanyian baru.

Kecapi dan nyanyian baru itu satu.
Mazmur 33: 3
33:3. Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!

Penyembahan dengan keccapi/penyembahan dalam urapan Roh Kudus itu saling menguatakan.

"Kecapi itu senarnya banyak, kalau bunyi sendiri-sendiri, suaranya tidak enak didengar. Tetapi kalau digabung, timbullah nyanyian baru. Ini istilah saling menguatakan."

Jadi penyembahan dalam urapan Roh Kudus itu saling menguatkan--resonansi--, bukan saling meniadakan: Diam kau, mengganggu! Jangan! Tetapi jangan teriak-teriak juga. Yang wajar saja sejauh mana urapan Roh Kudus menolong kita: Haleluya, Yesus. Itulah resonansi.

"Ini pengalalaman saya. Dulu saya mau terjengkang karena daging saya melawan. Roh suruh bilang: A, saya terus bilang: Haleluya. Lidah sudah mau belok kiri, saya paksa ke kanan. Mau terjengkang. Itu daging, tetapi kalau mengikuti Roh, sudah bisa menerima kepenuhan."

Kalau saing menguatkan, akan mencapai nyanyian baru.
Jadi kecapi dan nyanyian baru itu satu.

Mazmur 149: 1
149:1. Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh.

Nyanyian baru sama dengan suara: Haleluya.
Kita juga baca dalam Wahyu 14: 1-3 dan Wahyu 19: 6-7, untuk menunjukkan bahwa nyanyian baru sama dengan suara: Haleluya.

Wahyu 14: 1
14:1. Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

Ayat 1= ini adalah kehidupan yang dimeterai nama Yesus; tidak menyembah antikris.
Ayat 1: 'seratus empat puluh empat ribu orang'= inti mempelai wantia dari bangsa Israel--seratus empat puluh empat ribu dari dua belas suku Israel.
Mempelai wanita/tubuh Kristus yang sempurna terdiri dari dua bagian:

  • Bangsa Israel dan kafir menjadi satu tubuh.
  • Orang yang mati dan hidup; yang mati dibangkitkan, yang hidup diubahkan.

Di sini, kita bicara soal bangsa Israel dan kafir. Intinya dari bangsa Israel; dimeterai dengan nama Yesus. Kita bangsa kafir juga, dimeterai dengan nama Yesus, sehingga bangsa Isreal dan kafir menjadi satu kesatuan, itulah mempelai wanita TUHAN.

Wahyu 14: 2-3
14:2. Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan
desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.
14:3. Mereka menyanyikan suatu
nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.

Ayat 2= mempelai ini memperdengarkan suara.
Ayat 2= pemain-pemain kecapi sama dengan suara deru guruh yang dahsyat atau desau air bah.

Jadi, ini sama semua, yaitu nyanyian baru, bunyi kecapi dan suara desau air bah. Apa itu? Diterangkan di Wahyu 19: 6-7.
Tadi di Mazmur 149: 1 jelas: 'Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru!'--di perjanjian lama, nyanyian baru sama dengan suara: Helaluya. Di perjanjian baru diterangkan lagi: nyanyian baru, bunyi kecapi dan suara desau air bah, itu semuanya sama dengan suara: Haleluya.

Wahyu 19: 6-7
19:6. Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
19:7. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

Ini adalah suara mempelai dengan sorak-sorai: Haleluya, untuk menyambut Yesus Mempelai Pria Sorga. Itulah nyanyian baru.

Jadi, SUARA KECAPI, SUARA DESAU AIR BAH DAN NYANYIAN BARU SAMA DENGAN SUARA: HALELUYA. Itu merupakan penyembahan kepada Yesus Mempelai Pria Sorga--nyanyian penyembahan dari mempelai wanita kepada Mempelai Pria Sorga. Kita adalah mempelai wanita--tubuh--, Dia adalah kepala--Mempelai Pria Sorga.

Inilah nyanyian mempelai atau penyembahan mempelai wanita sorga kepada Mempelai Pria Sorga dan Raja segala raja dengan suara: Haleluya. Itu bagaikan bunyi kecapi, bagaikan desau air bah.
Mari kita belajar hari-hari ini!

Di sorga juga menggunakan: Haleluya. Sama semua.
Wahyu 19: 1, 3-4
19:1. Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: "Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,
19:3. Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: "Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya."
19:4. Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: "Amin, Haleluya."

Jelas, di sorga: Haleluya dan bumi juga: Haleluya. Sangat jelas!
Inilah penyembahan dengan membawa kecapi--penyembahan dalam urapan Roh Kuduss--yaitu seperti desau air bah dan seperti nyanyian baru, itulah penyembahan dengan: Haleluya.

Ini adalah suara dari mempelai wanita TUHAN kepada Yesus sebagai Raja dan Mempelai Pria Sorga.

Di dalam kitab Kidung Agung, ini dinamakan dengan SUARA MERPATI. Tadi, ada kaitan dengan baptisan air, yaitu urapan Roh Kudus itu sampai kita memiliki hati merpati. Barulah kita bisa menyembah dan menghasilkan suara merpati--suara mempelai sama dengan suara merpati.

Jadi, baptisan air itu menentukan suara kita nanti suara apa. Kalau kita dibaptis dan sungguh-sungguh diurapi--tulus seperti merpati dan seperti bayi--, nanti akan menghasilkan suara merpati--suara mempelai. Kalau tidak tulus, jangan-jangan nanti suaranya seperti naga, sekalipun penampilannya seperti anak domba (Wahyu 13). Gawat! Ini tidak tulus; itu adalah nabi palsu. Sebab itu. baptisan air ini penting, sebab baptisan air menentukan suara apa kita nanti saat Yesus datang kembali kedua kali: suara merpati (suara mempelai) atau suara apa? Penting!

Kidung Agung 2: 14
2:14. Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!"

'merdu suaramu dan elok wajahmu'= suara menentukan wajah.
Kalau suara singa, wajahnya menakutkan. Kalau suara merpati, wajahnya elok sekali.
Ini menentukan semua: hati, mulut dan wajah.
Itu adalah mempelai, yaitu hatinya tulus--seperti merpati dan seperti bayi--, mulutnya bersuara merpati.

Suara merpati--penyembahan mempelai wanita--ada dua macam:

  1. Suara merdu= penuh dengan sukacita; penyembahan dalam suasana kebangkitan/hati bersyukur. Suaranya tetap: Haleluya, tetapi dalam suasana ucapan syukur/kebangkitan. Mungkin mengira nilanya dapat 6, ternyata dapat 9: Haleluya, terima kasih, Yesus. Itu suara merdu.


  2. Suara mengerang dan mengaduh.
    Nahum 2: 7

    2:7. Permaisuri dibawa ke luar dan ditelanjangi dan dayang-dayangnya mengerang, mengaduh seperti suara merpati sambil memukul-mukul dada.

    Ada kalanya suara merpati ini suara mengerang dan mengaduh, artinya: penyembahan dalam suasana kematian.
    Mungkin kita tidak salah, disalahkan; diizinkan menghadapi pencobaan, tidak ada apa-apa lagi. Tetapi bersuara: Haleluya, tetapi dengan suara erangan--pengalaman kematian.

Tadi, pengalaman kebangkitan sama dengan gunung/bukit, tetpai ada kalanya pengalaman lembah--kematian. Ikuti!
Kalau nyanyian kematidan dan kebangkitan digabung, inilah nyanyian baru.

"Kalau sama terus, saya yang jadi pencipta lagu zangkoor. Nadanya do semua. Tinggal ayat alkitab saja yang disalin. Gampang, kita tiap hari lagunya baru. Bukan begitu."

Nyanyian baru itu ada gunung dan lembahnya; kalau ada gunung dan lembah, timbullah alunan nyanyian baru yang tidak bisa dipelajari oleh orang lain--tadi dituliskan di Wahyu 5: 8: 'masing-masing membawa satu kecapi'; pengalaman masing-masing dalam pengikutan kepada TUHAN. Suami tidak tahu, isteri tidak tahu. Lanjutkan! Saat di gunung kita menyembah: Haleluya, tetapi saat di lembah, tetap menyembah: Haleluya.

Inilah alunan nyanyian baru; suara yang merdu di hadapan TUHAN. Kalau ada lembah dan gunung--nyanyian baru--, kita akan mengalami pembaharuan.

Mengapa TUHAN izinkan kita ada di gunung dan lembah? Supaya kita mengalami pembaharuan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani, tidak monoton. Ini maksud TUHAN. Kita dibaharui sampai kesempurnaan.
Kadang kita berada di lembah kematian, kadang kebngkitan, supaya kita berubah; mati terhadap hdiup lama dan bangkit dalam hidup baru--mengalami pembaharuan sampai kesempurnaan di dalam TUHAN.

Contoh: raja Hizkia. TUHAN mengizinkan raja Hizkia mengalami erangan. Sudah menjadi raja, berarti sudah bangkit--sudah enak semua. Tetapi satu waktu ia diizinkan turun, supaya ia mengalami pembaharuan.

Yesaya 36: 12 => Yerusalem dikepung oleh Sanherib
36:12. Tetapi juru minuman agung berkata: "Adakah tuanku mengutus aku untuk mengucapkan perkataan-perkataan ini hanya kepada tuanmu dan kepadamu saja? Bukankah juga kepada orang-orang yang duduk di atas tembok, yang memakan tahinya dan meminum air kencingnya bersama-sama dengan kamu?"

Ini adalah krisis besar karena dikepung oleh raja Sanherib. Tidak bisa keluar masuk, sehingga tidak ada lagi persediaan makanan--sampai diibaratkan (permisi) makan dan minum kotoran. Sudah tidak bisa lagi. Ini keadaannya.

Raja Hizkia yang hebat--ada di gunung--, tahu-tahu ada di lembah. TUHAN izinkan. Untuk apa?
Yesaya 37: 14-17
37:14. Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN.
37:15. Hizkia berdoa di hadapan TUHAN, katanya:
37:16. "Ya TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.
37:17.
Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya TUHAN, dan lihatlah; dengarlah segala perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mencela Allah yang hidup.

Raha Hizkia mendapatkan surat yang mencaci maki dia, dan dia langsung membentangkannya di hadapan TUHAN.
Menghadapi Sanherib--krisis ekonomi yang hebat--, maksud TUHAN adalah untuk mengalami pembaharuan empat indera--lima indera, tetapi di sini masih empat indera--:

  1. 'Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, dan dengarlah'= telinga untuk mendengar TUHAN.
  2. 'bukalah mata-Mu, ya TUHAN, dan lihatlah'= mata untuk berharap dan memandang TUHAN.
  3. Mulut untuk berdiam diri.
    Yesaya 36: 21
    36:21. Tetapi orang berdiam diri dan tidak menjawab dia sepatah katapun, sebab ada perintah raja, bunyinya: "Jangan kamu menjawab dia!"


  4. 'membentangkan surat itu di hadapan TUHAN'= berdoa--hidung.

Empat indera diperbaiki saat menghadapi Sanherib, tetapi masih kurang satu yaitu pipi/kulit. Dikasih lagi lembah maut oleh TUHAN.

Tadi lembah kesukaran--tidak bisa makan dan minum--, masih empat indera yang dibaharui.
Masih kurang satu, yaitu pipi/kulit--perasaan. Dikasih lagi lembah yang dalam, yaitu Hizkia sakit dan TUHAN sendiri yang katakan--bukan tabib--: 'Hizkia, cepat tinggalkan pesan-pesan. Kamu mati, tidak mungkin sembuh.'

Yesaya 38: 1-3
38:1. Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi."
38:2. Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN.
38:3. Ia berkata: "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.

'menangislah Hizkia dengan sangat'= yang menangis dengan sangat adalah bayi. Ini perasaannya tulus seperti merpati/bayi yang baru lahir.

Jadi Hizkia menghadapi sakit sampai divonis matii--lembah maut--, supaya smapai kedalaman hatinya diubahkan oleh TUHAN--hati/kulit/perasaan dibaharui--, yaitu sampai menjadi seperit bayi. Sudah tidak berharap apa-apa tetapi hanya berharap TUHAN--seperti bayi hanya berharap pada ibunya, tidak peduli yang lainnya.

Hizkia sampai sejauh itu, ia tidak peduli dengan keberhasilan, kehebataan dan kerajaannya. Ia hanya menangis pada TUHAN. Ia hanya percaya dan berharap pada anugerah TUHAN yang besar.

Mari, jangan berhenti menangis sampai Dia berbelas kasihan kepada kita! Seperti bayi ingin susu, ia takkan berhenti menangis sebelum ia mendapat susu; mau digantikan apapun, tidak bisa. Jangan berhenti menangis sebelum TUHAN berbelas kasihan kepada kita! Jangan loyo, jangan undur!

Ini adalah pembaharuan dari TUHAN kalau kita diizinkan dari gunung turun ke lembah. Ini adalah pembaharuan paca indera: empat sudah dibaharui, tinggal satu yaitu sampai kita menjadi seperti bayi. Sekalipun sudah berhasil, tetapi tidak menganggap itu semua: Aku hanya mau TUHAN, yang lain terserah.

Belas kasih TUHAN untuk:

  • Menolong kita.
  • Mengadakan mujizat:


    • Yang mustahil jadi tidak mustahil.
    • Yang mati jadi hidup--Hizkia seharusnya mati, tetapi jadi hidup. Dia sanggup menjadikan apa yang sudah mati menjadi hidup kembali.


  • Dan seperti TUHAN katakan pada Hizkia: 'Umurmu ditambah lima belas tahun,' wajah kita juga berseri--tadi di kitab Kidung Agung dituliskan: 'perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!'

    Wajah yang elok dimulai dari wajah berseri.
    Kita terus diubahkan sampai wajah mulia seperti Yesus saat Dia datang kembali yang kedua kali. Kita terangkat di awan-awan dengan bersorak sorai: Haleluya, sampai kita duduk di takhta sorga bersama Dia selamanya.

Mari,berseru pada TUHAN sampai kita tidak bergantung pada apapun di dunia. Itu maksudnya TUHAN. Diizinkan mengalami lembah ini-itu, teruskan!

  1. Telinga hanya mendengar TUHAN.
  2. Mata hanya memandang TUHAN.
  3. Hidung untuk berdoa pada TUHAN.
  4. Muluut berdiam diri; banyak memeriksa diri.
  5. Pipi/perasaan hanya seperti bayi yang menangis hanya kepada TUHAN--tulus hati. Hanya butuh belas kasih TUHAN, tidak butuh yang lain. Dan TUHAN akan mengadakan mujizat di tengah-tengah kita sampai kita pulang dengan wajah berseri, bahkan sampai sempurna seperti Dia.

Mungkin kita sedang ada di bukit, jangan sombong, tetapi mengucap syukur pada Dia! Kalau di lembah, jangan putus asa! Lembah apa? Kesulitan apa? Lembah maut, lembah kemustahilan? Ada Dia. Dia hanya melihat bayi-bayi.
Hati setulus merpati; setulus bayi, hanya butuh Dia, tidak yang lain.

Kaum muda, mungkin melihat masa depan seperti gelap--seperti dihadapi oleh Hizkia: Kamu mati--, sudah tidak bisa apa-apa, sudah mati semua, Dia bisa menghidupkan kembali.
Mungkin isteri tidak tahu, suami tidak tahu, anak tidak tahu, orang tua tidak tahu, tetapi TUHAN yang tahu.

Jangan berharap yang lain, apapun yang kita hadapi, tetapi hanya berharap TUHAN! Kita hanya butuh uluran tangan belas kasih TUHAN, tidak butuh yang lainnya.
Raja Hizkia tidak butuh lagi pangkat rajanya dan lain-lain, tetapi dia menangis hanya untuk mendapatkan uluran tangan belas kasih TUHAN. Kita pulang dengan wajah berseri, semua ditolong oleh TUHAN, sampai sempurna jika Dia datang kembali; kita bersama Dia selamanya dengan sorak sorai: Haleluya.

TUHAN memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 26-28 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Ciawi & Jakarta)

  • 13 Desember 2019
    (Ibadah Natal di Bondowoso)

  • 28-30 Januari 2020
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top