English Language
KESAKSIAN: LEBIH TAAT DAN BERSERAH PADA TUHAN
KESAKSIAN LAINNYA

Keubahan Lewat Firman Pengajaran
Saya mau bersaksi bagaimana Tuhan sudah mengubahkan hati dan hidup...

Hidupku tertolong lewat doa dari isteri dan anak saya
Saya mau menyaksikan belas kasih kemurahan Tuhan yang saya alami dalam...

Tuhan menata studi saya
Saya mau bersaksi tentang cinta kasih Tuhan dalam kehidupan saya;

Yang pertama, pada tahun 2012...

Tuhan Membela Kuliah dan Ibadah Saya
Saya ingin menyaksikan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kuliah saya.
Ada 2 hal...

Hadiah dari Tuhan
Pertama-tama saya mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah memimpin kehidupan...

Rencana Tuhan Baik Adanya
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus menyertai kita semua. Terima kasih...

Kasih Anugrah dan Kemurahan Tuhan
Saya mengucap syukur kepada Tuhan,kalau sampai saat ini masih diberi perpanjangan...


Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari kesaksian:   
[versi cetak]
Lebih taat dan berserah pada Tuhan
Oleh: Renny Indrawati
Sabtu, 09 Juli 2011
Tayang: 11 Juli 2011

Saya bersyukur atas kemurahan Tuhan karena di bulan Juli 2011 ini saya masih mendapat kesempatan pulang ke Malang untuk turut serta dalam Ibadah Persekutuan di Kartika Graha. Sebenarnya, Tuhan sudah menggerakkan saya sejak tahun lalu dan saya sudah bertekad menabung untuk biaya pulang. Berbagai masalah yang harus saya hadapi sempat menggoyahkan kerinduan untuk bisa pulang dan melayani Tuhan. Saya bersyukur bahwa Tuhan tidak membiarkan saya terhalangi oleh masalah.

Salah satu masalah yang hampir membuat saya melarikan diri dari panggilan Tuhan adalah masalah studi saya. Untuk membahas kata "penelitian", sebenarnya saya masih menyimpan trauma setelah saya harus mengulang-ulang penelitian untuk skripsi 3 tahun yang lalu. Saat itu, topik penelitian saya sampai harus diganti berkali-kali. Saya masuk universitas tanpa tes, namun sulit sekali untuk bisa keluar. Sekalipun saat itu akhirnya saya sudah menyadari bahwa semua terjadi karena kesalahan saya sendiri, yang terlalu sombong dan berambisi cepat lulus, dan Tuhan sudah menolong saya sehingga bisa lulus dengan baik, masih saja saya selalu ketakutan untuk menghadapi tugas penelitian yang baru.

Setelah saya mendapat tugas studi lanjut ke luar dan memulai penelitian di lab yang baru, semuanya seperti terulang lagi. Awalnya saya sempat berpikir, kali ini pembimbing saya sudah bergelar Profesor dan sudah berpengalaman, seharusnya tidak akan terjadi lagi tragedi penelitian yang berganti-ganti topik berulang kali. Kenyataannya, dari bulan September 2010 sampai Mei 2011, penelitian saya tidak membuahkan hasil sedikitpun dan harus mengganti topik sampai 3 macam judul. Secara tidak sadar, dalam hati saya mulai tumbuh kepahitan hati dan kekecewaan, yang berbuah menjadi perkataan-perkataan yang tidak baik. Setiap kali berkumpul bersama teman-teman, saya dengan mudahnya membicarakan kekurangan dan kelemahan Profesor serta teman-teman lab saya. Suara daging saya cenderung menyalahkan orang lain atas semua kegagalan yang terjadi.

Namun, saya bersyukur kepada Tuhan sebab masih ada Firman Penggembalaan yang diulang-ulang, bekerja mengerem laju dosa dalam hidup saya. Perlahan Tuhan menyadarkan saya, tidak baik membicarakan kekurangan orang lain. Saat itu Firman Penggembalaan tepat membahas tentang dosa kepahitan hati yang ada pada imam-imam kepala (Matius 26: 4). Saya berusaha menahan mulut dari perkataan yang tidak baik dan membuang segala kepahitan hati. Setelah itu, mulut saya memang tidak berkata-kata/mengomel pada orang lain, tetapi di dalam hati saya masih sangat berontak. Saya merasa putus asa sebab kepahitan itu begitu melekat dalam hati saya. Saya sempat berkata: Tuhan, saya tidak mampu, mungkin saya tidak akan pernah bisa melupakan semua sakit hati ini.

Lagi-lagi saya bersyukur bahwa masih ada Firman Penggembalaan yang selalu disampaikan, bukan hanya lewat siaran langsung dari GPTKK Malang, namun juga dari GPTKK Surabaya. Setiap kali saya tidak mampu lagi menahan hati, Tuhan menggerakkan saya untuk ikut ibadah siaran langsung, tidak peduli itu jadwal di Malang ataupun Surabaya. Saya tidak bisa lagi berkeluh kesah kepada siapapun, namun Firman Tuhan cukup untuk bisa menenangkan hati saya. Tanpa kekuatan Firman Tuhan, mungkin saya sudah meledak dalam emosi saya dan bisa jadi saya lari meninggalkan studi saya.

Setelah Bapak Gembala mengumumkan bahwa Ibadah Persekutuan di Kartika Graha akan diadakan pada akhir bulan Juli, saya tidak bisa berbuat banyak. Kesalahan saya adalah saat itu saya berpikir: ya nanti kalau masalah saya ini sudah agak selesai, saya akan meminta izin untuk pulang. Dengan kata lain: Tunggu ya, Tuhan. Saya mau menyelesaikan masalah ini dulu, Tuhan tolong, nanti kalau saya sudah bisa mendapat sedikit saja data, saya akan minta izin pulang. (Saya seperti sedang memaksa dan memberi deadline kepada Tuhan untuk menolong saya). Bahkan, saya sempat berpikir untuk tidak jadi pulang ke Malang. Namun, setiap kali terpikir kata "batal", Tuhan selalu mengingatkan tentang Firman dalam Ibadah Tutup-Buka Tahun bahwa Tahun 2011 ini adalah Tahun Kegerakan. Jangan egois dan jangan ketinggalan!

Suatu hari, saya ikut doa puasa dan malamnya mengikuti Ibadah Doa siaran langsung dari Surabaya. Dalam pemberitaan Firman, tiba-tiba Bapak Gembala menyebutkan tentang Ibadah Persekutuan di Kartika Graha. Waktu itu dikatakan: Semua ada prosedurnya, bisa mengatur cuti atau minta izin, atau lain sebagainya. Sedangkan yang dari jauh berusaha datang, yang dekat jangan ketinggalan! Yang membuat saya heran, sebenarnya saat itu jadwal kebaktian persekutuan yang terdekat adalah Kebaktian Kunjungan ke Poso dan Ngawi, tetapi kenapa yang dibahas hanya kebaktian di Kartika Graha? Saya merasa itu sungguh-sungguh berkat Tuhan untuk saya. Malam itu juga saya menetapkan hati, saya mengetik surat untuk mohon izin pulang kepada Profesor saya. Besoknya saya menghadap beliau dan dengan mudahnya saya mendapat izin untuk bisa pulang bulan Juli ini.

Dan, saya mau tetap berpegang bahwa Tuhan tidak pernah menipu kehidupan yang mau berkorban dan masuk dalam pelayanan pembangunan tubuh Kristus. Secara mata jasmani, saat itu semua masalah memang belum selesai. Saya percaya hikmat dan pertolongan Tuhan dinyatakan jauh lebih tinggi dari apa yang kita pikirkan. Saat Tuhan belum menolong masalah kita, itu artinya Tuhan masih sibuk dengan diri kita.

Di waktu yang tersisa, Tuhan memproses kehidupan saya lebih dulu. Suatu hari saya merasa sudah di ujung batas kemampuan saya untuk menanggung semua. Saat pulang dari sekolah, saya menangis dengan keras di dalam kamar saya. Saya benar-benar merasa sedih. Setan selalu berusaha menggocoh saya dan menumbuhkan kepahitan hati, namun saya merasa Tuhan sudah melindungi dan menolong saya untuk bisa berusaha membicarakan masalah penelitian ini dengan baik-baik kepada Profesor saya, berusaha tidak dalam emosi yang meledak-ledak.

Saya mengaminkan Firman Tuhan dalam Ibadah Kaum Muda minggu yang lalu (2 Juli 2011) dan juga dalam Ibadah Doa Penyembahan hari Selasa kemarin (5 Juli 2011). Menangis karena masalah dan penderitaan itu wajar, namun apakah kita pernah menangis saat terpisah dengan Tuhan? Apakah kita pernah menangis karena dosa kita? Apakah kita pernah menangis untuk mohon pembukaan Firman?

Beberapa hari setelah itu, saya kembali menangis tetapi bukan lagi karena kegagalan yang saya hadapi. Kali ini saya menangis karena hati saya tertusuk Firman yang menyatakan kesalahan saya. Sejak saya dibaptis tahun 1998 sampai hari ini, rasanya baru kali itu saya merasa Firman begitu menusuk, menunjuk dosa, seperti begitu mempermalukan kehidupan saya. Firman Tuhan menunjukkan bahwa penyebab kegagalan saya selama ini adalah karena ketidaktaatan, ambisi daging, serta perkataan-perkataan tidak baik yang sudah terlalu banyak saya keluarkan. Seringkali, saat Profesor saya memerintahkan sesuatu, memang saya laksanakan, namun saya laksanakan juga pikiran saya sendiri (rencana lain yang di luar arahan beliau). Seringkali saya tidak percaya sepenuhnya, masih mencari suara/pendapat lain, dan dengan demikian sama dengan saya mau jadi lebih hebat dari beliau. Saya juga seringkali sulit dinasehati dan cenderung membantah. Padahal, Tuhan menunjukkan kepada saya, teman-teman yang lain, yang bukan orang Kristen, dengan mudahnya selalu menuruti perintah dan arahan Profesor saya ini.

Saya menangis lebih sedih dari saat saya mengingat masalah saya. Saya merasa gagal sebagai orang Kristen bahkan gagal sebagai kaum muda yang sudah dididik dalam Firman Pengajaran.
Kenapa saya sulit sekali untuk taat dan cenderung membantah? Dalam segala kegagalan yang terjadi, seharusnya saya lebih sungguh-sungguh dalam mendengar Firman dan banyak mengoreksi diri, bukannya membuka mata lebar-lebar terhadap kesalahan orang lain.

Saya hanya bisa mohon pengampunan Tuhan dan mohon kemurahan Tuhan untuk mengubahkan kehidupan saya. Saya belajar untuk taat sepenuh dan mengendalikan lidah saya. Saya mau belajar untuk banyak memeriksa diri. Saya membenarkan perkataan Firman bahwa sesungguhnya Firman yang kita butuhkan dalam setiap ibadah adalah Firman yang bisa menunjukkan segala dosa dan kesalahan kita, sehingga kita bisa sadar dan bertobat. Kalau dosa sudah diselesaikan, bagi Tuhan tidak ada yang sulit untuk menyelesaikan masalah kita.

Setelah Firman menusuk hati saya dengan sangat tajam, saya merasa kali ini segala kepahitan hati saya benar-benar dicabut sampai ke akarnya. Saya tidak mau lagi melihat kekurangan dan kelemahan Profesor ataupun teman-teman lab saya. Tuhan juga menunjukkan kepada saya, mengingatkan saya, bahwa di saat ada "KETAATAN" dengan tulus hati, apa yang mustahil bisa menjadi tidak mustahil:

  1. Suatu kali, Profesor saya berkata kepada saya: Kalau kamu bisa membedakan 2 senyawa ini dengan alat yang ada, itu bagus. Padahal, beliau sudah tahu bahwa berdasarkan pustaka yang ada saat itu kedua senyawa itu hanya bisa dibedakan dengan alat yang tidak ada di lab saya. Namun, Tuhan menolong saya untuk bisa menganggukkan kepala. Saya menerima begitu saja sekalipun itu terlihat mustahil. Setelah beliau sendiri melihat hasilnya, beliau juga berpendapat bahwa hasil analisisnya hampir sama, sulit untuk membedakan 2 senyawa itu. Namun, oleh tuntunan Tuhan, dalam waktu 2 hari, saya bisa menemukan pustaka lain sehingga akhirnya kedua senyawa itu bisa dibedakan dengan alat yang ada.

  2. Karena berulang kali penelitian saya tidak membuahkan hasil, saya diberi tugas untuk mengulangi penelitian mahasiswa sebelumnya dan memperbaiki data yang dihasilkan. Untuk memperbaiki data itu juga bukan pekerjaan yang mudah. Beliau selalu berpesan berulang kali, "Jika kamu beruntung, ...". Saya juga mencari-cari di internet bagaimana cara kerja yang baik supaya bisa mendapat data yang baik, namun kata-kata penutup yang saya dapat adalah "semoga beruntung". Saya lemas, saya sempat putus asa, ini penelitian atau undian, kog untung-untungan. Sekalipun diulangi dengan cara yang sama, hasilnya bisa berbeda.

    Saya berserah kepada Tuhan, saya lakukan saja. Tuhan menyatakan pertolonganNya, sekalipun proyek itu baru saya kerjakan sebagian, sebelum pulang ke Malang, saya sudah sempat menghasilkan data yang lebih baik.

  3. Ini mungkin perkara sepele, tetapi begitu melekat di hati saya. Saat saya mau berangkat tahun lalu, Ibu saya yang membantu mempersiapkan bawaan dan koper saya karena memang saat itu saya sendiri hampir tidak ada waktu lagi. Awalnya, saya tinggal di asrama kampus, kemudian pindah ke dekat kampus, jadi sudah berganti rumah 2 kali. Saya mencari-cari minyak angin dalam bawaan saya, namun tidak ketemu juga. Ibu saya memberi pesan singkat, "Coba dicari lagi di kopernya." Pikir saya: "Lha sudah sampai pindah rumah 2 kali, kan sudah buka koper berkali-kali, tidak ada kog". Tetapi, dalam hati kecil saya, Tuhan mengingatkan "TAAT saja". Sekalipun saya sempat membantah, namun Tuhan mengingatkan perumpamaan tentang dua orang anak dalam Matius 21: 28-32. Ada seorang anak yang menolak perintah ayahnya, tetapi kemudian ia menyesal dan taat juga. Masih ada kemurahan Tuhan, asal kita mau taat.

    Akhirnya, saya lakukan juga, saya membongkar koper saya lagi. Belum ada 5 menit, ternyata apa yang saya cari berbulan-bulan dengan mudahnya bisa ditemukan di ujung koper, di balik resleting.
Lewat semua pengalaman ini, Tuhan mengajarkan kepada saya untuk bisa lebih taat dan berserah. Tugas saya hanya taat dan ikuti Firman, maka selebihnya Tuhan yang akan mengatur segala langkah hidup saya. Seringkali Tuhan mengizinkan keadaan yang "terbatas" seperti Yakub di dalam kemah, di mana saya tidak bisa mengejar dan tidak ada kesempatan lagi untuk mengejar, daging begitu dibatasi dan dikendalikan dalam penggembalaan. Namun, Tuhan sudah menunjukkan bahwa Tuhan mampu mengatur langkah hidup saya, membuat semua indah dan baik pada waktuNya, bahkan lebih baik dari apa yang kita pikirkan.

Saya tetap mohon dukungan doa, jika Tuhan izinkan saya masih akan kembali dan melanjutkan studi saya sampai awal tahun depan. Saya tidak tahu apa saja yang akan saya hadapi dan saya merasa sangat tidak mampu. Sebagai orang muda, banyak pikiran dan keinginan daging yang seringkali membuat saya tidak taat, saya mudah putus asa dan mudah bangga. Namun, saya mau belajar bersandar, taat, percaya dan mempercayakan diri sepenuh kepada Tuhan.

Demikian kesaksian saya, semoga menjadi berkat bagi kita semua.
Terima kasih.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:50 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:45 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 29-30 Mei 2018
    (Ibadah Persekutuan di Square Ballroom Surabaya)

  • September 2018
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top