English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Raya Malang, 07 Juni 2009 (Minggu Pagi)
IBADAH PENYERAHAN ANAK
Mazmur 127:3-5, anak adalah upah / anugerah...

Ibadah Doa Surabaya, 09 Februari 2018 (Jumat Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Raya Surabaya, 08 Februari 2015 (Minggu Sore)
IBADAH PENYERAHAN ANAK

Markus 10: 13-16
10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi...

Ibadah Raya Malang, 04 Maret 2018 (Minggu Pagi)

IBADAH PENYERAHAN ANAK

Pengkhotbah 11:9
11:9 Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka...

Ibadah Persekutuan Tubuh Kristus Medan III, 27 Oktober 2010 (Rabu Pagi)
Wahyu 19:9
19:9. Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi...

Ibadah Doa Surabaya, 28 Agustus 2013 (Rabu Sore)
Pembicara: Pdm. Gideon Pakpahan

KITAB WAHYU
Kitab Wahyu dalam tabernakel terkena pada alat yang namanya tabut perjanjian.
Tabut perjanjian terdiri dari:

Tutupnya yang terbuat...

Ibadah Raya Malang, 29 Oktober 2017 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 6:9-11
6:9 Dan...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 21 Juli 2011 (Kamis Sore)
Matius 26:17-25 adalah tentang Perjamuan Paskah, terbagi menjadi 2 bagian:
Ayat 17-19 adalah persiapan Perjamuan Paskah.Ayat...

Ibadah Doa Malang, 08 November 2016 (Selasa Sore)
Bersamaan dengan Ibadah Doa Puasa Session III

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Ibadah Raya Malang, 31 Mei 2020 (Minggu Pagi)
Bersamaan dengan...

Ibadah Raya Malang, 26 Oktober 2008 (Minggu Pagi)
Matius 24: 28, adalah sikap gereja Tuhan untuk menanti kedatangan Tuhan kedua kali,...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 21 Maret 2019 (Kamis Sore)
Rekaman Ibadah Kunjungan di Serui.

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 1:3
1:3...

Ibadah Raya Surabaya, 12 Januari 2014 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Doa Malang, 11 April 2017 (Selasa Sore)
Bersamaan dengan Ibadah Doa Puasa session III

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 5:5-10
5:5 Lalu berkatalah...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 Juli 2018 (Jumat Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...


TRANSKRIP LENGKAP

Umum Surabaya (Minggu Sore, 07 Desember 2014)
Tayang: 16 Juni 2020
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 30 November 2014)
Tayang: 16 Juni 2020
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Jumat Agung Surabaya, 25 Maret 2016 (Jumat Pagi)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat merayakan Jum'at Agung, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 4: 3
4:3. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.

Ada 4 macam batu indah di takhta sorga(diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 29 Februari 2016):

  1. Ayat 3: permata yaspis= menunjuk pada iman (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 06 Maret 2016).
  2. Ayat 3: permata sardis= menunjuk pada pertobatan (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya,07 Maret 2016 sampai Ibadah Doa Surabaya, 09 Maret 2016).
  3. Batu kristal= menunjuk pada baptisan air (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 13 Maret 2016).
  4. Ayat 3: batu zamrud = pelangi melingkungi takhta sorga = menunjuk pada baptisan Roh kudus (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 13 Maret 2016 sampai Ibadah Doa Surabaya, 23 Maret 2016).

Malam ini, kita belajar tentang batu indah atau batu yang mahal ini.
1 Petrus 2: 4-7
2:4. Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.
2:5. Dan biarlah
kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
2:6. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih,
sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."
2:7. Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "
Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan."

'batu yang hidup'= batu yang indah; batu yang mulia.
'kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup'= Yesus batu hidup/batu indah, kita juga dipergunakan sebagai batu hidup/batu indah.

Batu indah/mahal adalah pribadi Yesus, tetapi dibuang oleh tukang bangunan. Dibuang artinya Yesus disalibkan--kematian Yesus di kayu salib--untuk menjadi dasar pembangunan rumah rohani; sama dengan menjadi batu penjuru/batu karang/gunung batu dari pembangunan rumah rohani.

Yohanes 2: 19-21 => tentang kematian Yesus.
2:19. Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."
2:20. Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "
Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"
2:21. Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah
tubuh-Nya sendiri.

'tiga hari'= Yesus mati, dikubur, kemudian bangkit pada hari ketiga.
'empat puluh enam' = Taurat (dua loh batu: loh batu pertama berisi 4 hukum, loh batu kedua berisi 6 hukum).

Ada dua macam pembangunan:

  1. Yang pertama: pembangunan bait Allah secara jasmani, dengan dasar hukum Taurat--empat puluh enam tahun--dan hanya berlaku untuk bangsa Israel.
    Bangsa kafir tidak mendapat bagian di dalamnya.

    "Jangan kembali ke Taurat! Sekarang banyak yang mau kembali pada hukum Taurat. Itu untuk orang Israel asli, bukan untuk kita."

    Bagaimana dengan bangsa kafir?


  2. Yang kedua: 'yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri' = pembangunan bait Allah yang rohani; sama dengan pembangunan tubuh Kristus, dengan dasar kematian Yesus di kayu salib sehingga bangsa kafir boleh masuk di dalamnya.

Tadi, di dalam 1 Petrus 2: kematian Yesus menjadi dasar--menjadi batu penjuru/batu karang/gunung batu dari pembangunan rumah rohani. Kemudian, di dalam Yohanes 2, Yesus mati, supaya terjadi pembangunan tubuh Kristus dan bangsa kafir bisa masuk di dalamnya.

Jadi, dari dua ayat ini bisa disimpulkan: memperingati Jumat Agung--memperingati kematian Yesus di kayu salib--, kita harus masuk dalam pelayanan pembagunan Bait Allah rohani/tubuh Kristus, dengan dasar batu penjuru/batu karang/gunung batu--pribadi Yesus yang disalibkan.
Pelayanan pembangunan tubuh Kristus mulai dari dalam nikah, penggembalaan, antar penggembalaan, sampai tubuh Kristus yang sempurna. Kita harus aktif di sana dengan dasar yang besar, jangan di atas dasar pasir.

Mengapa kita harus membangun Bait Allah rohani/tubuh Kristus di atas dasar batu penjuru/batu karang/gunung batu--kurban Kristus--?:

  1. Jawaban pertama: supaya kita bangsa kafir bisa masuk di dalamnya.
  2. Matius 7: 24-25
    7:24. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
    7:25. Kemudian turunlah
    hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

    Jawaban kedua: supaya tidak rubuh menghadapi serangan setan tritunggal, yaitu:


    1. Hujan lebat= setan dengan roh jahat dan najis yang mengarah pada dosa makan-minum dan dosa kawin-mengawinkan; menghancurkan atap; membuat atap bocor.

      "Sekalipun rumahnya bagus, tetapi begitu atapnya bocor sedikit, kita tidak tenang."


    2. Angin kencang= nabi palsu dengan roh dusta dan ajaran palsu yang menghantam dinding.
      Rumah tangga tidak bisa menjadi satu, kalau dihantam roh dusta dan ajaran palsu. Akibatnya, rumah tangga rubuh.


    3. Banjir= antikris dengan kekuatan mamon/roh jual beli yang menghantam lewat ekonomi, kesulitan-kesulitan dan lain-lain.


    Kalau kita mendirikan rumah rohani di atas batu karang--pribadi Yesus yang disalibkan--, kita tidak akan rubuh, tetapi tetap kokoh dan sempurna sampai kedatangan Yesus kedua kali.

Jadi, kematian Yesus di kayu salib membuka jalan bagi bangsa kafir, supaya bangsa kafir dapat masuk dalam pembangunan tubuh Kristus, dan memberi dasar yang kuat, supaya tidak rubuh.

Pada kesempatan Jumat Agung ini, kita akan mempelajari tentang dasar batu karang/batu penjuru/gunung batu.

Ada tiga pengertian tentang batu karang/batu penjuru/gunung batu--kematian Yesus di kayu salib--:

  1. Mazmur 19: 15
    19:15. Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

    Mazmur 62: 3
    62:3. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

    "Semoga kita mengerti. Memperingati kematian TUHAN, Dia sudah memberikan jalan bagi bangsa kafir. Mari masuk dalam pembangunan tubuh Kristus. Dasarnya harus kuat, jangan rubuh di tengah jalan! Menikah, jangan rubuh di tengah jalan! Sudah sering saya katakan, korban perang dunia I dan II bisa dihitung, tetapi korban nikah yang hancur tidak bisa dihitung."

    Pengertian yang pertama: gunung batu adalah Yesus sebagai PENEBUS/juruselamat, untuk menyelamatkan manusia berdosa.

    Manusia berdosa, terutama bangsa kafir adalah batu keras yang tenggelam di lumpur dosa sampai puncaknya dosa, dan tenggelam di lautan api dan belerang. Inilah keadaan kita, sehebat apapun kita bangsa kafir, kita hanya batu keras.
    Tenggelam artinya tidak bisa muncul ke atas; tidak bisa keluar.

    "Banyak kali kita demikian, kita mengatakan: 'Saya sudah berubah,' tetapi kenyataannya masih tenggelam. Satu dosa saja masih tidak bisa lepas. Kami hamba TUHAN, banyak kali demikian: 'Kami sudah berubah,' tetapi ada satu dosa yang membuat tenggelam."

    Tidak bisa keluar dari lumpur dosa berarti tenggelam dalam lautan api belerang.
    Tetapi TUHAN luar biasa. Kita ditebus dan diselamatkan oleh Yesus untuk menjadi batu indah di takhta sorga.

    Ini keselamatan. Dari batu keras yang berada di lumpur dosa--di selokan--, sampai di neraka, bisa dipindahkan untuk menjadi batu indah di takhta sorga. Apapun dosa kita, bahkan sampai puncaknya dosa, bisa, tinggal kita mau atau tidak.

    Prosesnya:
    Kisah Rasul 2: 36-39
    2:36. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi TUHAN dan Kristus."
    2:37. Ketika mereka mendengar hal itu
    hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"
    2:38. Jawab Petrus kepada mereka: "
    Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
    2:39. Sebab bagi kamulah janji itu dan
    bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh TUHAN Allah kita."

    'bagi anak-anakmu' = bangsa Israel; keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub secara daging.
    'orang yang masih jauh' = kita bangsa kafir.
    'sebanyak yang akan dipanggil oleh TUHAN Allah kita' => bangsa kafir jangan ragu-ragu! Sekarang dihitung sebanyak yang dipanggil oleh TUHAN. Kalau nanti yang dipanggil sudah cukup, lalu kita baru mau masuk, tidak akan ada kesempatan lagi. Kalau mau dipanggil dan diselamatkan, sekaranglah waktunya! Mari, keluar dari lumpur dosa! Kita mau dipindahkan ke takhta sorga.
    Jangan tunggu nanti! Kalau tempatnya sudah penuh, sudah tidak bisa lagi!

    Proses batu keras menjadi batu indah di takhta sorga adalah:


    • Proses pertama: mendengar firman Kristus--firman yang diurapi Roh Kudus.
      Roma 10: 17
      10:17. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

      Ini yang nomor satu. Kalau mau pindah dari batu keras menjadi batu indah, harus dengar firman! tidak bisa kita pindah dengan menyanyi. Banyak orang yang menyanyinya hebat, tetapi tidak bisa memindahkan. Itu hanya suasananya saja.

      Kita harus mendengar firman Kristus--firman pengajaran benar yang lebih tajam dari pedang bermata dua--, sehingga terjadi 2 hal:


      1. Yang pertama: (ayat 36) 'harus tahu dengan pasti'= iman/percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya juruselamat.
        Kalau tidak mau mendengar firman yang keras, tidak mungkin dipindahkan dari selokan. Harus firman yang keras dan tajam! ini merupakan uluran tangan TUHAN.

        Semakin keras firman yang kita dengar, itu artinya semakin kuat uluran tangan TUHAN untuk mengangkat kita. Jangan marah!

        "Mungkin kita sudah berakar di selokan. Perlu firman yang lebih keras lagi, supaya uluran tangan TUHAN lebih kuat lagi menarik kita dari selokan menuju takhta sorga. Jangan salah paham! TUHAN baik kepada kita. Mungkin setiap datang ibadah, kita dihantam firman, tidak apa-apa. Lebih baik sekarang berdukacita karena TUHAN, tetapi nanti kita akan bersukacita. Kalau secara daging, saya lebih senang firman yang tidak menunjuk dosa-dosa, supaya semua senang, tetapi nanti akan berdukacita."


      2. Yang kedua: (ayat 37) 'hati mereka sangat terharu'= bisa menyadari dan menyesali dosa oleh pekerjaan pedang firman, sampai bisa mengaku dosa kepada TUHAN dan sesama.
        Jika diampuni, jangan berbuat dosa lagi. Hasilnya, kita diampuni oleh darah Yesus dan tidak dihukum/dikutuk lagi. Kita yang tadinya di lumpur dosa, sudah diangkat oleh TUHAN.

        "Saat beribadah, yang penting adalah kita bisa percaya Yesus dan menyadari dosa. Kalau tidak menyadari dosa, untuk apa tertawa-tawa? Tetap di selokan. Maaf, seringkali istilah ini banyak ditemui di tempat kantong Kristen--yang banyak orang Kristennya--: Kalau banyak uang, dia tidur di selokan, tetapi kalau tidak punya uang, dia tidur di tempat tidur. Saya dulu tidak mengerti. Maksudnya, kalau banyak uang, justru mabuk sampai tidur di selokan, tetapi serasa tidur di istana. Tidak sadar."


      Iman + mengaku dosa = masuk pintu gerbang kerajaan sorga = menjadi BATU YASPIS di takhta sorga. Sudah pindah dari selokan ke sorga.


    • Proses kedua: bertobat = berhenti berbuat dosa dan kembali kepada TUHAN--mezbah korban bakaran.
      Dulu binatang yang dibakar, sekarang dosa kita yang dibakar di atas salib Yesus= menjadi BATU SARDIS berwarna merah--tanda darah.


    • Proses ketiga: baptisan air yang benar.
      Roma 6: 4
      6:4. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

      Kolose 2: 11-12
      2:11. Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa,
      2:12. karena dengan Dia
      kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.

      Dulu, sunat yang jasmani, sekarang sunat yang rohani, itulah baptisan air. Jangan sampai salah! Maaf, kalau sunat jasmani salah, akan menderita secara jasmani.
      Begitu juga dengan sunat rohani--baptisan air. Kalau salah, hidupnya akan menderita secara rohani sampai dihukum seperti pada zaman Nuh. Tidak masuk bahtera Nuh sehingga mati. Serius!

      Baptisan air yang benar adalah orang yang sudah mati terhadap dosa--bertobat--, harus dikuburkan dalam air bersama Yesus, sehingga ia bangkit--keluar--dari dalam air bersama Yesus, untuk mendapatkan hidup baru/hidup sorgawi.

      1 Yohanes 3: 9
      3:9. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.

      Hidup baru, artinya kelepasan dari dosa sampai puncaknya dosa--tidak mau berbuat dosa, sampai tidak bisa berbuat dosa seperti Yesus.
      Karena itu, tadi dikatakan, kalau sunat rohaninya salah, rohaninya akan sakit. Artinya, terus berbuat dosa. Kalau dibiarkan, akan mati, bukan enak.

      Kelepasan dari dosa ini seperti Yusuf. Sekalipun ada keuntungan, ancaman dan lain-lain, Yusuf tidak mau dan tidak bisa berbuat dosa. Sekalipun ia harus dibuang ke sumur dan sebagainya, ia tidak mau berbuat dosa.

      Ini namanya jernih seperti BATU KRISTAL. Hidupnya jernih, tidak kotor lagi. Dulu memang berbuat dosa--siapa yang tidak pernah berbuat dosa--, tetapi kekuatan Yesus sebagai batu indah mampu mengambil batu keras untuk dijadikan batu indah.


    • Proses keempat: baptisan Roh Kudus/kepenuhan Roh Kudus--hidup baru/hidup sorgawi--= hidup dalam kebenaran, berpegang teguh pada firman pengajaran benar, dan menjadi senjata kebenaran--imam-imam/pelayan TUHAN yang beribadah dan melayani TUHAN dengan setia dan benar. Inilah batu hidup/batu indah.

      Hidupnya benar, nikahnya benar, ibadahnya juga setia dan benar; semua benar.
      Ini adalah BATU ZAMRUD/pelangi.

      Jangan disesatkan! Sekalipun tidak berbuat dosa, tetapi kalau kita disesatkan, percuma. Kita tidak akan sampai ke tujuan--takhta sorga.

      Mengapa batu zamrud disamakan dengan pelangi? Sebab membawa harapan. Kalau mendung/hujan, tetapi masih ada pelangi, berarti masih ada pertolongan TUHAN.
      Artinya: kita membawa harapan baru bagi orang yang menghadapi mendung gelap dan badai di lautan dunia.

      "Kalau kita menjadi orang benar dalam rumah tangga, maka ada harapan baru dalam rumah tangga itu. Sekalipun rumah tangga itu mau hancur dan tenggelam, kalau ada satu orang saja yang hidup benar--menjadi pelangi/batu zamrud: hidup dalam kebenaran, berpegang teguh pada pengajaran benar, dan menjadi senjata kebenaran--masih ada harapan. Di kantor, kantor itu ada harapan, sekalipun sudah hampir bangkrut. Kalau ada satu orang yang menjadi pelangi, masih bisa tertolong. Di sekolah, di manapun kita bisa bersaksi--bagaikan pelangi."


    Inilah jalannya supaya batu keras bisa menjadi batu indah lewat 4 proses di atas. Ini benar-benar suasana takhta.
    Mazmur 5: 13
    5:13. Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.

    Orang benar diberkati dan dipagari dengan berkat anugerah TUHAN, di tengah badai lautan dunia, sehingga kita merasakan suasana Firdaus/suasana takhta sorga. Sekalipun masih hidup di dunia yang sulit, najis, kotor, gelap, dan jahat, tetapi kita hidup dalam suasana takhta sorga. Betul-betul dipagari oleh TUHAN.

    Amsal 12: 3
    12:3. Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan, tetapi akar orang benar tidak akan goncang.

    'Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan' => jangan iri hati kalau kita melihat orang yang jahat tetapi hartanya bertambah banyak. Tidak akan tetap tegak, satu waktu dia akan jatuh.
    'akar orang benar tidak akan goncang' => jangankan rubuh, goyahpun tidak. Ini sama dengan pohon yang tidak tumbang oleh hujan, angin, dan banjir; bagaikan rumah dengan dasar dari batu yang tidak rubuh oleh hujan, angin, dan banjir.
    Hujan = setan.
    Angin = nabi palsu.
    Banjir = antikris.

    "Saat terjadi tsunami, ada orang yang selamat karena berada di pohon. Berarti akar pohonnya sangat kuat, padahal bangunan saja rubuh."

    Jadilah orang benar! Ini batu yang indah di hadapan TUHAN--bukan orang kaya atau orang pandai.

    "Saya bersyukur memperingati kematian TUHAN. Mari, batu di selokan atau di manapun, bisa menjadi batu indah, tinggal mau atau tidak. Ikuti prosesnya. Kalau TUHAN sudah gerakkan, jangan suruh TUHAN tunggu kita! Kalau terus tidak mau, satu waktu tidak bisa lagi. 'Sebanyak yang dipanggil dari padamu', artinya bangsa kafir ada batasan jumlahnya."


  2. Kejadian 49: 22-24
    49:22. Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok.
    49:23. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya,
    49:24. namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab
    gembalanya Gunung Batu Israel,

    Pengertian yang kedua: gunung batu adalah Yesus sebagai GEMBALA.

    Sesudah menjadi orang benar dan sudah dipagari--sudah kokoh--tetapi harus digembalakan.
    Mengapa orang benar harus digembalakan?: Pohon bisa kuat menghadapi hujan, angin, dan banjir, tetapi belum tentu bisa bertahan saat musim kemarau. Saat tidak ada air, bisa menjadi lemah, mati dan kering. Oleh sebab itu harus digembalakan.

    Amsal 12: 26
    12:26. Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri.

    'Orang benar mendapati tempat penggembalaannya' = tidak usah disuruh/dipaksa. Kalau memang dia benar, tidak berada di selokan, pasti bisa tergembala. Mulai dari seorang gembala, mendapati tempat penggembalaannya.

    Orang benar harus tergembala dengan benar dan baik, supaya tidak mengalami kekeringan.

    "Sebagai hamba TUHAN, ini yang paling saya takuti. Mohon maaf, saya bukan menantang TUHAN. Lapar, sudah; tidak punya uang, sudah; semua sudah. Tetapi yang satu ini jangan, saya tidak mau mengalami, yaitu kering. Kalau mengalami lapar, tidak apa-apa, bisa bertahan. Sekarang banyak makanan, berpuasa juga lapar. Kalau kering, jangan, tidak bisa bertahan. Ini yang bahaya, orang sering tidak mengerti. Banyak hamba TUHAN dan penginjil yang dihantam apapun tetap kokoh, tetapi dia tidak sadar, kalau dihantam kekeringan, dia tidak kuat."

    Kalau dihantam kekeringan, tidak ada kepuasan sorga. Sangat berbahaya. Ini jatuhnya hamba TUHAN, pelayan TUHAN, kaum muda, yaitu kalau kering sehingga mencari kepuasan di lua dalam bentuk makan-minum, bioskop, diskotik, perselingkuhan dan lain-lain. Yang lebih dahsyat lagi, para hamba TUHAN yang kering membawa kesukaan dunia ke dalam gereja, sehingga rumah TUHAN menjadi sarang penyamun--misalnya kaum muda menyukai diskotik, maka gereja disetting seperti diskotik--; bukan lagi rumah doa. Ini tanda dalam kekeringan.

    "Kita bandingkan dengan kandang tempat Yesus lahir. Kalau ada kemuliaan sorga, sekalipun di kandang, tetapi ada sukacita--malaikat juga bersukacita--, ada sorak-sorai. Sekarang bayangkan, di gereja harus ada musik yang begini begitu, supaya ada sukacita. Siapa bilang? Kandang saja penuh dengan kemuliaan sorga. Yang penting bukan musiknya dan lain-lain--bukan musiknya yang tidak penting, tetapi maksudnya, jangan ke arah situ--, tetapi yang penting adalah ada hadirat TUHAN/kemuliaan sorga."

    Kekeringan ini bahaya! Kalau mengalami kekeringan, pasti cari kepuasan di luar rumah tangga, rumah TUHAN, dan persekutuan yang benar.
    Kita harus hati-hati!

    "Saya bukan bermaksud mengecam sana-sini, tetapi sungguh-sungguh saya paling takut. Dalam doa, saya katakan: 'Jangan sampai kering. Minta ampun, TUHAN.'"

    Supaya tidak kering, kita harus tergembala.
    Yeremia 17: 7-8
    17:7. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
    17:8. Ia akan seperti pohon yang
    ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

    'ditanam di tepi air' = tergembala.

    Siapa yang bisa tergembala dengan benar dan baik?:


    • orang benar;
    • orang yang berharap TUHAN, yang mengandalkan TUHAN lebih dari semua.
      Kalau mengandalkan kepandaian dan kehebatan sendiri, tidak mungkin mengandalkan TUHAN.


    "Seorang dokter spesialis, tiap hari selasa dan kamis mengikuti ibadah siaran langsung. Saya tidak datang ke sana, tetapi dia merindu beribadah. Saya mengetahui dengan mata kepala sendiri. Waktu itu kami diajak makan oleh seseorang yang cukup terkenal juga, anaknya juga dokter-dokter. Setelah kebaktian, kami makan bersama. Lalu dia ditegor: 'Hei, kau, saya dengar kau tidak praktik tiap selasa dan kamis--karena beribadah. Bagaimana nasibmu? Cukup?' Bingung dia. Jadi, hanya orang benar dan orang yang mengandalkan TUHAN lebih dari semua, yang bisa tergembala dengan benar dan baik. Kalau tidak benar, tidak mungkin bisa tergembala. Apalagi kita yang Lempin-El dan fulltimer, kalau tidak tergembala, sudah tidak ada ampun lagi. Jemaat yang masih bekerja dan lain-lain, yang berharap TUHAN, masih bisa tergembala. TUHAN tolong kita semua."

    Yeremia 17: 8
    17:8. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

    'ditanam di tepi air'= tadi disebutkan: Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan di tepi mata air.
    Kehidupan yang tergembala dengan benar dan baik, sama seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air hidup--tidak pernah kering.

    Ini kesalahan gembala, penginjil, dan guru yang seringkali tidak tergembala sehingga kering dan mulai berjatuhan. Kaum muda, perhatikan!

    "Karena itu saya mencontoh guru dan gembala saya: om Yo dan om Pong. Menggunakan daftar hadir yang umum. Sekarang saya pakai yang kecil juga. Ini juga banyak dikecam orang. Tetapi tujuan saya adalah supaya saya periksa sendiri. Sebab di sini banyak kecolongan. Imam-imam sering tidak datang, tahu-tahu sudah kering dan habislah dia. Ini pengalaman-pengalaman. Karena itu saya buat seperti ini. Ada yang membantu saya. Kalau tidak datang, saya catat. Takut kecolongan. Tidak apa-apa saya tambah pekerjaan lagi, demi keselamatan jiwa-jiwa. Bukan maksudnya mau aneh-aneh. Sebenarnya terserah saja. Tetapi kalau sudah jatuh, saya yang tidak kuat. Bagaimana tanggung jawab sebagai seorang gembala?"

    Tergembala dengan benar dan baik sama dengan ketekunan dalam ruangan suci, artinya ketekunan dalam kandang penggembalan; ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok--ini mutlak, supaya tidak kering--:


    • Pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya = persekutuan dengan Allah Roh Kudus di dalam karunia-karunia-Nya = ditanam di tepi air kehidupan Roh Kudus.
    • Meja roti sajian: ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci = persekutuan dengan Allah Anak di dalam firman pengajaran dan kurban Kristus = ditanam di tepi air kehidupan firman Allah.


    • Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan = persekutuan dengan Allah Bapa di dalam kasih-Nya= ditanam di tepi air kehidupan kasih Allah.


    Hanya orang benar dan orang yang mengandalkan TUHAN lebih dari semua, yang pasti bisa masuk dalam kandang penggembalaan yang benar.
    Dalam kandang penggembalaan, tubuh, jiwa, dan roh kita selalu mengalami penyucian oleh Allah Tritunggal, sehingga kita selalu mengalami aliran air kehidupan firman, Roh Kudus, dan kasih Allah, dan kita tidak akan pernah kering selama-lamanya.

    Akar orang benar sudah kokoh--tidak goyah--, bagus. Kuat menghadapi hujan, angin, dan banjir, bagus. Ekonomi kuat semua. Mungkin suami-isteri berdoa, supaya kuat. Tetapi menghadapi kekeringan, langsung loyo dan tidak puas: 'Suamiku kok begini?', suami juga berkata: 'Isteriku kok begini?' Kemudian ketemu yang lain di luar. Ini merupakan kamuflase atau fatamorgana, karena kita seperti hidup di padang pasir. Kalau suami ketemu wanita lain, itu adalah fatamorgana. Kelihatan bagus, padahal tidak ada airnya, sehingga terus bertambah haus. Begitu juga dengan isteri kalau bertemu laki-laki lain. Terlihat segar, tetapi fatamorgana. Yang terjadi adalah tambah haus, semakin ke sana, semakin bertambah haus, tidak mendapatkan air, sampai akhirnya tergeletak dan binasa.

    Lebih bagus kita berada di kandang penggembalaan. Begitu juga dengan kaum muda. Hati-hati kaum muda! Bukan dilarang pacaran, kalau memang sudah waktunya. Tetapi, jangan yang aneh-aneh. Orang tergembala itu lain. Kepuasan sorga menolong kita semua, sehingga kita tidak kering.

    Hasilnya:
    Yeremia 17: 8
    17:8. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.


    • 'tidak mengalami datangnya panas terik'= tidak kering menghadapi panas terik matahari = tidak kecewa, putus asa, dan tinggalkan TUHAN menghadapi apapun juga, tetapi tetap percaya dan berharap TUHAN, dan selalu mengucap syukur kepada TUHAN.

      Ini kekuatan kita. Kalau mengomel, akan kering. Tetapi kalau kita selalu mengucap syukur, tidak akan pernah kering, karena ada aliran air kehidupan dari sorga.


    • 'daunnya tetap hijau' = tetap setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN, dan tetap setia dalam rumah tangga.
    • 'tidak berhenti menghasilkan buah' = berbuah-buah manis, yaitu:


      1. Mulai dari buah bibir.
        Ibrani 13: 15
        13:15. Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.

        'ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya' => buah bibir yang manis adalah perkataan benar, baik, menjadi berkat bagi orang lain, dan untuk memuliakan TUHAN.
        Jaga buah bibir yang baik!


      2. Ibrani 13: 16
        13:16. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.
        Buah manis yang kedua: perbuatan benar dan baik, yaitu selalu memberi dan mengunjungi sesama yang membutuhkan (anggota tubuh Kristus yang lemah).


      "Kalau ada buah-buah manis, ini yang bisa kita kirim ke luar. Kalau sudah berbuah, kita bisa dipakai oleh TUHAN dan dikirim ke mana-mana. Selalu saya katakan: 'Jangan pohonnya yang dikirim!' Kalau pohonnya yang dikirim, akan kering. Yang benar adalah pohonnya tetap tertanam, dan buah-buahnya yang dikirim. Kita dipakai oleh TUHAN untuk kemuliaan nama TUHAN sampai ke luar negeri. Kegerakan ini akan semakin membesar. Saya percaya, buah-buah yang manis harus dikirim ke luar. Lebih banyak pohon ara di pinggir jalan dari pada pohon ara di kebun anggur. Lebih banyak kristen jalanan, hamba TUHAN jalanan, bahkan gembala jalanan. Lebih banyak yang tidak tergembala. Semoga kita dipakai dan bisa bersaksi."


  3. Ulangan 32: 4-5
    32:4. Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.
    32:5. Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit.

    Pengertian yang ketiga: Yesus adalah gunung batu yang pekerjaannya sempurna = Yesus sebagai MEMPELAI PRIA SORGA dan RAJA SEGALA RAJA yang menyempurnakan kita semua.

    Efesus 5: 25-27
    5:25. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
    5:26. untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
    5:27. supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

    Tadi, Yesus harus mati untuk menjadi dasar/batu penjuru yang menyelamatkan kita.
    Kemudian, Ia sebagai Gembala yang baik mati untuk menggembalakan domba-domba, supaya kita tidak kering, tetapi tetap terpelihara.

    Hari ini kita memperingati kematian Yesus. Dia harus mati untuk menjadi Penebus dan Gembala. Semuanya ini untuk kita semua. Bayangkan! Untuk apa Dia jadi juruselamat, sementara Dirinya sendiri tidak berdosa? Semuanya untuk kita. Untuk apa Dia jadi gembala, sementara di sorga Dia tidak kekurangan apapun? Untuk kita semua. Untuk apa Dia menjadi mempelai pria dan raja? Bukan untuk sombong, tetapi untuk memandikan kita.

    Di sini, Yesus harus mati di kayu salib untuk memandikan kita. Artinya, Yesus sebagai mempelai pria sorga menyucikan dan membaharui kita sampai sempurna.

    Berubah = berbuah, yaitu:


    • Mulai dari jujur.
      Ulangan 32: 4-5

      32:4. Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.
      32:5. Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan
      belat-belit.

      'tiada kecurangan' = jujur.
      'belat-belit' = 'iya, tetapi..., tidak, namun...' Orang semacam ini tidak bisa sempurna. Kalau mau sempurna, harus jujur.
      Kalau jujur, kita mulai berbuah manis.

      Jujur= ya di atas ya, tidak di atas tidak; benar katakan: Benar, tidak benar katakan: Tidak benar.
      Contoh: Yusuf.

      Kejadian 37: 2
      37:2. Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun--jadi masih muda--biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya.

      'biasa menggembalakan kambing domba' = Yusuf tergembala.
      Yusuf jujur apapun resikonya. Kalau tidak jujur, kita tidak akan bisa dipakai oleh TUHAN.


    • Taat dengar-dengaran sampai daging tidak bersuara lagi.
      Kejadian 37: 12-13
      37:12. Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem.
      37:13. Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka." Sahut Yusuf: "
      Ya bapa."

      'Ya bapa' = ingat pada Yesus: 'Ya Abba, ya Bapa.'


    Jadi, berubah sama dengan jujur dan taat dengar-dengaran apapun resikonya.
    Karena jujur dan taat, Yusuf harus dimasukkan ke sumur oleh kakak-kakaknya--dibatasi, dikucilkan--, dijual--sekarang artinya: dijelek-jelekkan, difitnah, digosipkan--, sampai dimasukkan penjara--sangat dihina, sangat terbatas.
    Tetapi Yusuf tetap jujur dan taat.

    Penjara Yusuf adalah liang tutupan, artinya tidak ada matahari, dan sudah tidak bisa dilihat lagi, dan tidak ada harapan lagi. Tetapi kalau jujur dan taat, maka TUHAN selalu beserta.
    TUHAN selalu mengulurkan tangan kasih setia-Nya yang ajaib kepada Yusuf.

    Jangan takut! Yang penting jujur dan taat. Sudah cukup!
    Jujur dan taat, bagaikan mengulurkan tangan kepada TUHAN, dan TUHAN juga mengulurkan tangan kasih setia-Nya yang ajaib, sehingga kita hidup dalam pelukan tangan kasih setia TUHAN.

    Mungkin sudah tidak ada masa depan, begitu gelap seperti liang tutupan, tidak ada secercah cahaya sedikitpun. Tetapi kalau jujur dan taat--betul-betul hidup benar, betul-betul melayani dengan benar, betul-betul tergembala, betul-betul disucikan dan tidak kering, sampai betul-betul diubahkan--selanjutnya adalah urusan TUHAN. Maaf para orang tua, mungkin orang tua tidak bisa menyekolahkan, mau apa lagi? Ya sudah, tinggal berharap kepada tangan kasih setia TUHAN.

    Hasilnya:


    • Kejadian 39: 21, 23
      39:21. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.
      39:23. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan
      apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

      Hasil yang pertama: tangan kasih setia TUHAN yang ajaib sanggup menjadikan semua berhasil dan indah pada waktunya, sekalipun semua terbatas--ijazah terbatas, modal terbatas.

      Apalagi yang sudah diberkati TUHAN, jangan buang-buang! Manfaatkan sungguh-sungguh! Tetapi tetap perhatikan, semua berkat itu hanya sarana. Yang menentukan nasib kita dan masa depan yang berhasil dan indah adalah tangan kasih setia TUHAN; tangan yang berlobang paku.

      Bekerja yang baik, sekolah yang baik, tetapi ditambah dengan menjadi orang benar, tergembala dengan baik dan benar, dan dimandikan--disucikan dan diubahkan--sampai kita menjadi mempelai wanita sorga.
      Mau menjadi mempelai wanita, harus mandi dulu! Disucikan dulu, yaitu jujur dan taat, dan kita akan hidup dalam pelukan tangan TUHAN.


    • Mazmur 17: 7-8
      17:7. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.
      17:8. Peliharalah aku seperti biji mata,
      sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu

      Hasil yang kedua: tangan kasih setia TUHAN yang ajaib bagaikan dua sayap burung nasar, yang menaungi kita seperti biji mata-Nya sendiri.
      Artinya:


      1. Melindungi dan memelihara kita secara ajaib di tengah kesulitan dan kehancuran dunia, sampai zaman antikris berkuasa di bumi selama 3,5 tahun. Kita disingkirkan ke padang belantara selama 3,5 tahun, jauh dari mata antikris.


      2. Sayap burung nasar sanggup menerbangkan kita untuk melintasi badai lautan di dunia. Artinya, masalah-masalah diselesaikan oleh TUHAN secara ajaib, sampai laut menjadi teduh--kita mengalami damai sejahtera, semua enak dan ringan.


    • Mazmur 103: 4
      103:4. Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,

      Hasil yang ketiga: tangan kasih setia TUHAN memberikan makhota mempelai.
      Artinya, kita disucikan dan diubahkan sampai menjadi sempurna seperti Yesus pada saat Dia datang kedua kali.
      Kita layak untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai, dan layak untuk duduk di takhta Yerusalem baru--kalau sudah p;unya mahkota, kita bisa ke takhta Yerusalem baru.

      Sekarang, batu kotor bisa menjadi batu indah di takhta sorga. Kita digembalakan dan dimandikan sampai kita boleh duduk di takhta TUHAN. Ini kasih setia TUHAN.

Mari, hari-hari ini kita menjadi seperti Yusuf:

  1. Lepas dari dosa= diangkat dari selokan dan tidak mau lagi berkubang dalam dosa sehingga kita menjadi batu indah.
  2. Digembalakan, tidak mau kering. Kita selalu mengucap syukur dan berbuah-buah.
  3. Dimandikan, sampai jujur dan taat, bahkan sampai mendapatkan mahkota. Ini yang melintasi tembok Yerusalem baru dan duduk di takhta Yerusalem baru.

    Kejadian 49: 22-23
    49:22. Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok.
    49:23. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya,

    'mengatasi tembok'= tembok Yerusalem baru.
    Di dalam pelukan tangan kasih setia TUHAN yang ajaib--naungan dua sayap burung nasar--, apapun yang kita hadapi di akhir zaman, kita akan tetap melintasi tembok Yerusalem baru bersama Dia. Duduk di takhta bersama Dia selama-lamanya.

Mungkin kita bukan hanya berada di selokan, tetapi di air limbah, terserah. Yang penting kita memperingati kematian TUHAN. Batu keras bisa menjadi batu indah.
Kita digembalakan, berbuah-buah, dan kita dimandikan sampai mendapatkan makhota dan duduk di takhta bersama Dia. Mari, manfaatkan ini, jangan lewatkan kesempatan ini! TUHAN tolong kita semua.

Yang sudah berhasil, kalau berada di luar tangan kasih setia TUHAN, akan hancur dan jatuh di selokan lagi. Yang masih gagal/hancur, mari kembali pada tangan kasih setia TUHAN.
Jangan ragu! Yusuf sudah mengalami bagaimana nasibnya yang kelam. Karena jujur dan taat, ia seperti menghadapi mendung yang gelap. Tetapi selalu ada pelangi; ada tangan kasih setia TUHAN.

Mungkin kita ragu: 'Kalau saya bekerja dengan jujur, bagaimana saya hidup dan lain-lain?' Kaum muda, Yusuf sebagai contoh. Tidak dilihat dan tidak bisa apa-apa, tetapi kalau berada di dalam tangan kasih setia TUHAN, Ia mampu melakukan semua bagi kita. Jangan bangga, jangan sombong dengan sesuatu! Jangan kecewa, jangan putus asa! Yang penting, katakan: 'Peluk saya, TUHAN. Saya mau kembali ke dalam tangan kasih setia-Mu.' Mungkin ada penyakit, kesulitan ekonomi, dosa dan lain-lain, sudah kelam, gelap dan tidak bisa apa-apa lagi, kembalilah pada tangan kasih setia yang ajaib! Yang penting kita sungguh-sungguh tergembala, jujur, dan taat. Sudah cukup! Dia yang akan menolong kita.

TUHAN memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:00 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top