English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Kaum Muda Remaja, 30 April 2011 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Markus 15:20b-47 menunjuk 7 hal yang...

Ibadah Kaum Muda Remaja Malang, 22 September 2018 (Sabtu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas 12: 1-48 menunjuk pada pintu tirai; perobekan daging...

Ibadah Doa Malang, 20 Januari 2009 (Selasa Sore)
Matius 24:29-30 " Keadaan Pada Masa Kedatangan Yesus Ke-2x "
Terjadi badai maut yang...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 24 Maret 2011 (Kamis Sore)
TEMA: PANGGILAN DAN PILIHAN TUHAN

Lukas 6:12-16
6:12. Pada waktu itu pergilah Yesus...

Ibadah Kenaikan Tuhan Surabaya, 14 Mei 2015 (Kamis Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat pagi, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Doa Malam Surabaya, 03 Juni 2019 (Senin Malam)
Hakim-hakim 8: 1-3
8:1. Lalu berkatalah orang-orang Efraim kepada Gideon: "Apa macam perbuatanmu ini terhadap kami! Mengapa engkau tidak...

Ibadah Doa Malang, 31 Mei 2011 (Selasa Sore)
Bersamaan dengan doa puasa session III

-- Tentang Bejana Pembasuhan (Kolam Pembasuhan) --

Keluaran 30:17-21 menunjuk pada perintah untuk membuat bejana pembasuhan.
Keluaran...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 18 Januari 2016 (Senin Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Doa Surabaya, 09 September 2009 (Rabu Sore)
Matius 24: 32-35
NUBUAT TENTANG POHON ARA/ISRAEL
Pembaharuan/keubahan hidup ini bagaikan pohon ara yang melembut, bertunas dan...

Ibadah Raya Malang, 12 Mei 2013 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Matius 28:16-20 terdiri dari 2 bagian...

Ibadah Raya Surabaya, 03 Desember 2017 (Minggu Siang)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 10 Februari 2014 (Senin Sore)
Pembicara: Pdp. Youpri .A

Salam sejahtera, selamat malam, selamat bersekutu dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus.

Pada kesempatan sore hari...

Ibadah Raya Surabaya, 04 Januari 2015 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Doa Malang, 21 April 2015 (Selasa Sore)
Pembicara: Pdt. Mikha Sanda Toding

Matius 14:14-21
14:14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak...

Ibadah Persekutuan III Makassar, 05 September 2012 (Rabu Sore)
Disiarkan juga secara langsung untuk Ibadah Doa di Surabaya Salam sejahtera dalam kasih sayang...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Kunjungan Jakarta IV, 19 November 2015 (Kamis Pagi)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah kita sekalian.

Tema: Wahyu 21: 5: "Aku menjadikan segala sesuatu baru."

Wahyu 21: 5

21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."

Sebenarnya, di dalam kitab Kejadian, TUHAN sudah menciptakan langit bumi serta isinya termasuk manusia yang sama mulia dengan TUHAN--satu gambar dengan TUHAN--dan manusia ditempatkan di Taman Eden. Semua baik dan semua bahagia pada waktu diciptakan. Tetapi sayang, manusia diperdaya oleh ular dan berbuat dosa, sehingga diusir ke dalam dunia dan hidup dalam kutukan; susah payah, letih lesu dan sebagainya. Di dalam dunia, manusia--termasuk anak TUHAN, hamba TUHAN, pelayan TUHAN--justru terus hidup dalam dosa sampai puncaknya dosa (dosa makan minum dan kawin mengawinkan), sehingga tampil seperti anjing dan babi, bahkan seperti binatang buas (antikris) dan harus dibinasakan.

Kejadian 6: 11-12
6:11. Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.
6:12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

Di dalam dunia yang sudah penuh kutukan, manusia menjalankan hidup yang rusak; hidup dalam kekerasan, kejahatan--kita sudah merasakan pembakaran hutan dan lain-lain, pencurian, pembunuhan--dan hidup dalam kenajisan. Kalau digabungkan, sama dengan hidup dalam hawa nafsu daging; tampil seperti binatang buas. Itulah manusia yang sudah rusak dan hidup rusak di bumi. Sampaipun pada hamba TUHAN, pelayan TUHAN dan anak TUHAN--bukan manusia umum--harus waspada, juga menjalankan hidup yang rusak, seperti perempuan yang bungkuk 18 tahun di bait Allah, sehingga dicap 666--angka 18--sama dengan 666--; di cap oleh antikris:

  • 6 pertama= tubuhnya daging; memang tubuhnya daging.
  • 6 kedua= jiwanya daging.
  • 6 ketiga= rohnya daging.

Akibatnya: menjadi sama dengan antikris; sama dengan binatang buas yang akan dibinasakan untuk selama-lamanya.

TUHAN tidak rela kalau manusia ciptaannya terlebih hamba TUHAN, pelayan TUHAN harus binasa selamanya, oleh sebab itu TUHAN menciptakan hamba TUHAN baru, pelayan TUHAN baru yang sama mulia dengan Dia untuk ditempatkan di langit dan bumi yang baru, itulah Yerusalem baru yang kekal untuk selamanya. Inilah maksud dari tema ini.

Prosesnya disebut dengan PEMBAHARUAN.
Dalam Wahyu 21, ada 4 macam pembaharuan (diterangkan mulai dari Ibadah Persekutuan Ciawi I, 19 April 2012-Kamis Sore):

  1. Wahyu 21: 1= pembaharuan langit dan bumi yang baru (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Persekutuan Ciawi I, 19 April 2012-Kamis Sore sampai Ibadah Persekutuan Ciawi IV, 28 Februari 2013-Kamis Pagi).


  2. Wahyu 21: 2-3= pembaharuan manusia baru (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Persekutuan Ciawi V, 28 Februari 2013-Kamis Sore sampai Ibadah Persekutuan Jakarta V, 10 Oktober 2013-Kamis Sore).


  3. Wahyu 21: 4-8= pembaharuan suasana baru (diterangkan mulai dari Ibadah Kunjungan Jakarta I, 14 Oktober 2014-Selasa Sore).
  4. Wahyu 21: 9-27= pembaharuan Yerusalem baru sampai kekal.

AD 3. PEMBAHARUAN SUASANA BARU

Wahyu 21: 4-8
21:4. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
21:5. Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."
21:6. Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.
21:7. Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
21:8. Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Pembaharuan suasana baru dibagi menjadi 4:

  1. Wahyu 21: 4= suasana tanpa maut (diterangkan mulai dari Ibadah Kunjungan Jakarta I, 17 November 2015-Selasa Sore sampai Ibadah Kunjungan Jakarta II, 18 November 2015-Rabu Pagi).
    Salah satu pekerjaan maut adalah lewat ketakutan, kebimbangan, dan kekuatiran. Tetapi kita sudah pelajari bagaimana TUHAN memberikan tempat di mana ada suasana baru, yaitu suasana tanpa maut, yaitu di bawah kaki Tuhan. Kita juga memiliki keberanian percaya mendekat tuhan.


  2. Wahyu 21: 5-6= suasana kepuasan/kebahagiaan sorga (diterangkan pada Ibadah Kunjungan Jakarta III, 18 November 2015-Rabu Sore).


  3. Wahyu 21: 7= suasana kemenangan.
  4. Wahyu 21: 8= suasana kesucian dan kesempurnaan.

AD. 3. Wahyu 21: 7= suasana kemenangan.

Wahyu 21: 7
21:7 Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
Filipi 2: 8-10
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

'bertekuk lutut' = kalah.
'yang ada di langit'= setan.
'yang ada di atas bumi'= nabi palsu
'yang ada di bawah bumi'--laut= antikris.

Yesus taat sampai mati di kayu salib, sehingga mendapatkan nama di atas segala nama untuk mengalahkan setan tritunggal (menang atas setan tritunggal)--sumbernya kebinasaan.

Jadi, suasana kemenangan sama dengan SUASANA KETAATAN. Taat--termasuk di dalamnya SETIA--sama dengan menang.
Tidak taat dan setia, berarti kalah.

Kisah Para Rasul 13: 22
13:22 Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.

'melakukan segala kehendak-Ku' = Daud taat.

2 Samuel 8: 6
8:6 Kemudian Daud menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di daerah orang Aram dari Damsyik. Orang Aram itu takluk kepada Daud dan harus mempersembahkan upeti. TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.

Daud taat dengar-dengaran dan selalu menang atas musuh-musuh.
Musuh kita bukan darah daging, tetapi setan tritungal. Tidak bisa dikalahkan dengan kekayaan, kedudukan, kepandaian dan sebagainya, tetapi hanya bisa dikalahkan dengan ketaatan.

Proses atau langkah-langkah ketaatan:

  1. Ketaatan di dalam baptisan air--halaman tabernakel.
    Roma 6: 2, 4
    6:2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?
    6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia
    oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

    Baptisan air yang benar bukan menurut gereja atau doktrin A, B, tetapi:


    • Menurut alkitab; sesuai kehendak Allah.
    • Seperti Yesus dibaptis, kita juga dibaptis.


    Ayat 2= syarat baptisan air yang benar: mati terhadap dosa; berhenti berbuat dosa dan kembali pada TUHAN (bertobat).
    Ayat 4= pelaksanaan baptisan air yang benar: orang yang sudah mati terhadap dosa harus dikuburkan dalam air bersama Yesus dan bangkit/keluar dari air bersama Yesus untuk mendapatkan hidup baru--hidup sorgawi (langit terbuka).

    Roma 6: 17-18, 13
    6:17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
    6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan
    menjadi hamba kebenaran.
    6:13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

    Hidup baru adalah taat dengar-dengaran pada firman dan hidup dalam kebenaran; menjadi hamba kebenaran atau senjata kebenaran. Inilah hasil dari baptisan air.

    Senjata kebenaran= pelayan TUHAN, hamba TUHAN--imam-imam dan raja-raja--yang beribadah melayani TUHAN dengan setia, benar dan taat dengar-dengaran.

    Seperti tangan, kalau mau melayani harus setia--tidak pernah pindah tempat, kalau pindah, sekalipun hebat, tidak ada gunanya--, benar--tangan untuk memegang--, tetapi harus taat juga (taat diperintahkan untuk ambil minum dan sebagainya). Kalau tidak taat, tidak ada gunanya juga.
    Apapun jabatan yang TUHAN berikan kepada kita, harus kita layani dengan setia, benar dan taat dengar-dengaran.

    Senjata ini untuk menembak. Kalau menjadi senjata kebenaran, jemaat tidak benar yang datang, lama-lama menjadi benar juga karena ditembak dengan kebenaran. Semua jadi benar, pelayanan dan penyembahannya benar. Tetapi kalau tidak tanggung jawab, jemaat yang benar datang, ditembak dengan tidak benar, pulang justru tidak benar semua.

    Mengadakan ibadah pelayanan di tempat kita masing-masing harus tanggung jawab. Maksudnya supaya orang berdosa yang datang, bisa jadi benar dan selamat. Bukan hanya untuk kumpulkan uang dan sebagainya. Kita bukan mencari uang, tetapi mau menjadi senajata kebenaran.

    Kalau sudah menjadi senjata kebenaran, maka TUHAN memberkati kita sampai anak cucu dan kita menjadi berkat (raja Daud mengatakan: 'Belum pernah aku melihat orang benar ditinggalkan').

    Tadi, sebagai contoh: Daud. Daud taat dengar-dengaran dalam jabatan pelayanan yang TUHAN berikan kepadanya.
    Inilah ketaatan dalam baptisan air.

    Kita dibapiskan, kemudian diangkat menjadi imam dan raja untuk menjadi senjata kebenaran. Mari, beribadah melayani dengan setia, benar dan taat dengar-dengaran.

    1 Samuel 17: 38-39
    17:38 Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.
    17:39 Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan,
    sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya.

    'belum pernah mencobanya'= jangan coba-coba untuk melayani TUHAN.

    'Kemudian ia menanggalkannya' = pakaian raja tidak cocok bagi dia dan dia kembali memakai pakaian gembala.
    Artinya: Daud taat dengar-dengaran pada jabatan pelayanan yang TUHAN percayakan kepadanya, sebab Daud seorang gembala dan tidak ingin bertindak sebagai raja.

    Pelajaran yang bisa dipetik di sini adalah


    • jangan gila kekuasaan. Kita semua, pelayan TUHAN yang masih bekerja di dunia, jangan gila kekuasaan. Di dalam gereja, jangan gila kekuasaan juga.

      Di gereja dan organisasi jangan cari kekuasaan. Kalau diberikan kepercayaan, berarti amanah dari TUHAN (tidak boleh mencari, meminta dan berebut). Kalau tidak, itu juga amanah.


    • Melayani harus sesuai dengan jabatan pelayanan dari TUHAN. Kalau tidak sesuai--seperti tangan mau jadi kaki--justru merusak tubuh Kristus, bukan membangun.

      Memang bisa dipaksakan, tetapi hanya menghancurkan dan tidak bisa menunaikan tugas-tugas.


    • Jangan mengingini pakaian orang lain--jabatan orang lain, berkat orang lain--, supaya tidak iri hati, dendam, gosip dan sebagainya--seperti kakak-kakak Yusuf terhadap Yusuf.

      Kalau mengingini jabatan orang dan memakai jabatan orang lain, jangankan menang, bergerakpun tidak bisa--majupun tidak bisa.

      "Waktu saya dikirim ke Malang, ada yang bilang: 'Pak Wi pakai jubahnya Om Pong.' Karena suaranya sama. Padahal saya menantunya, bukan anak kandungnya. Saya heran juga. Lalu kemarin baru saya buktikan. Ada hamba TUHAN dengan anaknya setel kaset di mobil. Papanya sudah tua. Dia berkata: 'Brur Pong ini': 'Bukan Pak, ini anaknya.' Saya coba setel sendiri dan saya heran: Kok bisa? Tapi bukan pakai jubahnya. Itu karunia dari TUHAN, saya tidak tahu juga bagaimana."

      Kalau tidak bisa gerak, berarti kalah tota; gagal total dan binasa.


    Ini pelajaran bagi kita. Taat kepada jabatan pelayanan yang TUHAN sudah berikan pada kita. Jangan angkat-angkat diri sendiri.

    Kita harus bekerja sesuai dengan apa yang dikaruniakan atau dipercayakan TUHAN. Mungkin kecil di hadapan orang--seperti Daud yang menggembalakan 2-3 ekor domba--, tetapi TUHAN yang berperang ganti kita untuk memberikan kemenangan atas kita, bahkan lebih dari pemenang.

    Kalau mau coba-coba angkat diri sendiri, pasti gagal total.
    Kakaknya Daud sendiri menghina dia dan dia dikecilkan. Tidak masalah! Kalau kita taat (mengerjakan sesuai dengan yang dipercayakan TUHAN), TUHAN yang besar akan berperang ganti kita untuk memberi kemenangan, bahkan lebih dari pemenang. Kalau Goliat menang atas Daud, ia adalah pemenang. Tetapi kalau Daud yang kecil menang atas Goliat yang besar, itulah lebih dari pemenang, karena TUHAN yang besar berperang ganti dia.

    Ini kesalahan kita. Kalau kita mau angkat diri sendiri menjadi besar, maka TUHANnya yang kecil. Kalau TUHAN yang angkat, maka TUHANnya yang besar dan kita semakin kecil.

    Biarlah kita semakin kecil dan TUHAN yang semakin besar. Kita bukan hanya menjadi pemenang, tetapi lebih dari pemenang. Inilah pelajaran sederhana dari Daud.

    1 Samuel 17: 40, 45
    17:40. Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.
    17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan
    pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

    Akhirnya Daud melawan Goliat dengan kembali memakai bajunya sendiri.
    'Tongkat dan katung batu' adalah perlengkapan seorang gembala.
    'Pedang, tombak, lembing'= alat-alat dunia (sarana untuk berperang).
    'nama TUHAN semesta alam' = ini tidak ada di dunia; tidak bisa dibeli di manapun.

    Daud menggunakan pakaian gembala--taat dengar-dengaran--dengan tambahan 5 batu dan nama Yesus.
    5 batu menunjuk pada 5 luka Yesus (korban Kristus). Ini nubuatan.
    Nama Yesus= kuasa nama Yesus.

    Inilah andalan seorang gembala atau kehidupan yang digembalakan, yaitu tidak mengadalkan apapun di dunia ini, tetapi hanya mengandalkan Yesus dengan kurban-Nya dan nama-Nya yang berkuasa, sehingga Yesus berperang ganti kita untuk memberi kemenangan atas Goliat.

    Daud tidak mengandalkan apa-apa dari dunia, tetapi hanya mengandalkan TUHAN.
    Sekarang, Goliat menunjuk pada dunia yang meraksasa dengan keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup, dan pencobaan-pencobaan.

    Tidak mengandalkan dunia, tetapi hanya mengandalkan TUHAN= kuat teguh hati; orang taat sama dengan kuat teguh hati, sehingga TUHAN yang berperang ganti kita. Kalau kita kuat teguh hati, kita akan menang atas dunia yang meraksasa--keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.

    1 Yohanes 2: 16
    2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

    Semua sudah meraksasa bagaikan Goliat yang sulit ditaklukkan. Israel takut semua, raja Saul juga takut dan hanya TUHAN yang mampu mengalahkan bersama dengan orang yang kuat teguh hati.

    Keinginan mata= mengarah atau memuncak pada dosa makan minum--merokok mabuk narkoba. Sampai pada pembicara-pembicara, pemain musik, banyak yang masih takluk pada Goliat--ditaklukkan oleh dunia. Pemain musik masih merokok, mabuk dan sebagainya. Firman tidak pernah disinggung di gereja, karena selalu kalah dan hanya mengandalkan kekayaan, kepandaian, kehebatan dan sebagainya.

    Keinginan daging= memuncak pada dosa kawin-mengawinkan--dosa seks dengan berbagai ragamnya, penyimpangan seks (seks pada diri sendiri, homoseks, lesbian), sampai nikah yang hancur. Semua melanda gereja TUHAN, pelayan TUHAN, hamba TUHAN.

    Keangkuhan hidup= sudah tidak mengandalkan TUHAN lagi; tidak mengutamakan lagi pribadi TUHAN --firman TUHAN.

    Jangan bergeser dalam fellowship!

    "Saya dulu bagian panitia sekretariat. Jadi saya tahu mulai dari dulu, apa yang dibicarakan oleh hamba-hamba TUHAN: 'Firmannya ya...' tetapi sekarang saya takut, jangan-jangan yang dibicarakan adalah uang, hotelnya. Ini sudah masuk kesombongan. Pusat pembicaraan kita adalah firman TUHAN (pribadi TUHAN). Kita semuanya sebagai tubuh, jadi yang dibicarakan adalah soal kepala--soal TUHAN dan firman. Ini yang harus kita bicarakan.
    Di dalam sidang jemaat, saya juga takut, kalau firman TUHAN tidak pernah disentuh. Kalau menggembar-gemborkan yang dari dunia (tidak mengutamakan pribadi TUHAN lagi), ini sudah masuk dalam 'kejemawaan' Seperti jemaat Laodikia yang merasa hebat, tetapi Yesus ada di luar dan mengetok pintu (yang dibicarakan di dalam hanya kekayaan). Sekarang, gereja TUHAN bertengkar soal uang. Ini bukti kalau tidak ada TUHAN. Padahal uang adalah perkara terkecil di gereja. Kalau fellowship ini bertengkar soal uang, lebih baik tidak usah datang. Kalau ada TUHAN --firman--, semua ada. Tidak perlu bicara soal uang dan hal-hal dunia ini. Semua disediakan TUHAN.
    Bukan sombong. Sekalipun hampir tiap bulan kami fellowship, tidak ada masalah, kalau yang ditampilkan adalah Yesus sebagai kepala yang sudah mati di bukit tengkorak (Golgota). Kepala yang membuktikan sampai mati jadi tengkorak, untuk membuktikan Ia bertanggungjawab atas tubuhnya. Seringkali saya diundang, tetapi kalau memberi proposal, saya batalkan. Mau membangun iman (Kebaktian Kebangunan Rohani;KKR), tetapi seperti itu. Iman sendiri belum terbangun, bagaimana mau membangun iman jemaat? Ini termasuk kejemawaan (keangkuhan hidup). Tidak mengandalkan TUHAN lagi, tetapi segala sesuatu dari dunia. Kita sungguh-sungguh. Rumus saya sederhana: bukakanlah firman-Mu sebagai pembuka segala sesuatu. Itu saja. Kalau firman dibukakan, pintu sorga juga terbuka. TUHAN tolong kita semua."


    Ini meraksasa hari-hari ini. TUHAN sudah disingkirkan dan dari dunia yang dibesar-besarkan dalam ibadah pelayanan atau ibadah persekutuan.

    Yohanes 16: 33
    16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

    Kalau kita kuat teguh hati, maka kita mengalahkan dunia bersama Yesus (menang atas dunia bersama Yesus), sehingga kita mengalami damai sejahtera.

    Yang lain takut menghadapi Goliat, tetapi Daud damai sejahtera. Itu bukti mengalahkan dunia. Kalau sudah damai sejahtera, berarti semuanya enak dan ringan; teduh; semua masalah selesai pada waktunya.

    Jadi, ketaatan dalam baptisan air--halaman tabernakel--adalah kita menjadi senjata kebenaran--menghasilkan kuat teguh hati dan damai sejahtera, semua enak dan ringan; semua masalah selesai pada waktunya--laut teduh.

    Kalau enak dan ringan, pasti kita pertahankan, tidak mungkin dilepas. Kalau nikah enak dan ringan, tidak mungkin ditinggalkan. Begitu juga dalam pelayanan. Kalau enak ringan tetapi ditinggalkan, bodoh sekali. Tidak mungkin ditinggalkan seumur hidup, bahkan sampai TUHAN datang.

    Kalau tidak mengandalkan TUHAN, itu yang membuat berat dan meninggalkan jabatan pelayanan.


  2. Ketaatan dalam penggembalaan--ruangan suci.
    Yohanes 10: 27
    10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,

    'domba-dombaku mendengarkan suara-Ku' = mendengar dan taat dengar-dengaran dalam penggembalaan.

    1 Samuel 17: 34-37
    17:34 Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,
    17:35 maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.
    17:36 Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."
    17:37 Pula kata Daud: "TUHAN yang telah
    melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

    'biasa menggembalakan'= Daud taat dalam penggembalaan (tekun).

    Bagi kita sekarang, di mana kita harus tergembala? Kita harus tergembala pada firman pengajaran yang benar; seperti carang melekat pada pokok anggur yang benar--pribadi Yesus. Pribadi Yesus adalah firman pengajaran yang benar.

    Kalau tergembala, tetapi makannya racun, pasti mati. Penggembalaan adalah soal makanan yang benar. Kita tidak mati, tetapi bertumbuh.

    Siapa yang harus tergembala? Semua jabatan pelayanan (rasul, nabi, guru, penginjil, pemain musik), termasuk gembala, harus tergembala, supaya mengarah pada pembangunan tubuh Kristus yang sempurna--dengan Yesus sebagai kepala; bukan mengarah pada diri sendiri. Harus tergembala! Kalau sendiri-sendiri, akan tercerai-berai.

    Kalau tidak tergembala (di luar penggembalaan), siapapun kita, cepat atau lambat, pasti diterkam binatang buas, sebab TUHAN katakan: 'Aku mengutus engkau seperti domba di tengah serigala.'

    Yang dibutuhkan domba di tengah serigala hanya seorang gembala--bukan uang dan sebagainya. Kalau ada gembala, serigala mundur. Ini kebutuhan kita hari-hari ini. Kita harus tergembala, supaya mengarah pada pembangunan tubuh Kristus dan kita tidak dimangsa oleh binatang buas.

    Binatang buas= dalam bentuk dosa, puncaknya dosa, ajaran palsu, aniaya. Banyak yang dianiaya, kemudian berhenti.

    "Termasuk saya. Beberapa kali saya mau lari. Satu kali, waktu masih sekolah alkitab. Tidak makan dan tidak minum, tidak punya uang. Saya sudah mau bekerja lagi. Juga sesudah diterjunkan di Malang. Begitu om Pong meninggal dan ada tekanan dari sana sini, saya langsung berdoa pada TUHAN pada waktu saya diundang di salah satu tempat (pemberkatan nikah sesama pengerja): 'TUHAN pindahkan saya di sini, orang ini pindah ke Malang.' Ini gejala masih mengandalkan kekuatan sendiri. Tetapi saya langsung sadar dan minta maaf pada isteri dan jemaat. Kalau pindah sungguhan karena kehendak sendiri, pasti lari-lari. Juga orang yang pindah-pindah organisasi, akan lari-lari. Inilah gejala tak tergembala. Selama kita masih boleh mengajarkan pengajaran benar dan otonom, tidak usah pindah-pindah. Kecuali kalau sudah tidak boleh mengajarkan ajaran benar, itu lain soal. Tidak perlu ribut yang lain-lainnya soal dunia, tetapi ributkan: bagaimana mendapatkan pembukaan firman. TUHAN tolong semuanya dan membukakan jalan."

    Jangan ada gejala tidak taat hari-hari ini!

    Syarat tergembala:


    • 1 Samuel 17: 34
      17:34 Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,

      'biasa menggembalakan'= bukan kebiasaan, tetapi tekun.

      Syarat tergembala yang pertama: harus tekun dalam kandang penggembalaan--ruangan suci. Sesudah baptisan, masuk ruangan suci.

      Dulu harus membuat 3 macam alat di ruangan suci, sekarang tidak usah lagi, karena sudah digenapkan dalam arti rohani--ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok--:


      1. pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya; persekutuan dengan Allah Roh Kudus dengan karunia-karunia-Nya; domba-domba diberi minum.
      2. meja roti sajian: ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci; persekutuan dengan Anak Allah dalam firman pengajaran dan kurban Kristus (perjamuan suci); domba-domba diberi makan. Yang lebih sadis, gembala tidak memberi makan domba-domba, tetapi domba disuruh kerja terus. Akhirnya dombanya pingsan; ambruk.


      3. Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan; persekutuan dengan Allah Bapa di dalam kasih-Nya; domba-domba bisa bernafas dalam sirkulasi udara yang baik.


      Lewat kandang penggembalaan, kita sungguh-sungguh terpelihara secara jasmani dan rohani; sehat jasmani dan rohani.

      Imamat 21: 12 => kudusnya para imam
      21:12 Janganlah ia keluar dari tempat kudus, supaya jangan dilanggarnya kekudusan tempat kudus Allahnya, karena minyak urapan Allahnya, yang menandakan bahwa ia telah dikhususkan, ada di atas kepalanya; Akulah TUHAN.

      'ia'= imam-imam.
      'tempat kudus' = ruangan suci.
      'dikhususkan'= jangan menjadi Kristen umum lagi.

      Di dalam ruangan suci--kandang penggembalaan--, maka hamba TUHAN, pelayan TUHAN selalu hidup dalam kesucian, sehingga selalu mengalami minyak urapan Roh Kudus.

      Minyak urapan Roh Kudus tidak bisa diberikan dengan gampang-gampang. Harus disucikan dulu, baru ada minyak urapan. Perjanjian lama memang menggunakan minyak (Keluaran 30). Tetapi sejak Yesus naik ke sorga dan Roh Kudus dicurahkan di loteng Yerusalem, maka Yesus-lah pembaptis dengan Roh.

      Syaratnya: kesucian.
      Kita mengalami penyucian dan minyak urapan Roh Kudus, sehingga kita bisa mantap dalam keselamatan, kebenaran dan kesucian--tidak berbuat dosa; tidak kering rohani. Kalau sudah ada di dalam kandang, mata tidak bisa lihat macam-macam. Yang dilihat hanya alat-alat di dalam ruangan suci; hanya melihat perkara-perkara rohani, terutama ibadah pelayanan dan penyembahan kepada TUHAN. Di situlah kita mantap dalam keselamatan, kebenaran dan kesucian--tidak berbuat dosa.

      Kalau masih di halaman tabernakel--masih dipagari kain putih--masih bisa melihat ke banyak tempat.

      Apalagi hamba TUHAN sepenuh, pandangannya hanya tertuju pada ibadah pelayanan dan penyembahan yang berkenan pada TUHAN. Sedangkan jemaat yang bekerja di dunia, tetapi ada di dalam kandang, pandangannya sudah lain--sudah rohani.

      "Banyak kesaksian. Orang diberi keuntungan malah lapor kepada saya. Berarti pandangannya sudah rohani. Kalau tidak, tidak akan lapor, yang penting dompet isi terus. Tetapi kalau pandangan rohani, sudah tidak mau jatuh dan terpengaruh dengan yang jasmani. "

      Di dalam kandang, kita juga tidak kering rohani, artinya tidak bersungut-sungut, tidak kecewa, putus asa dan tinggalkan TUHAN apapun yang kita hadapi.
      Diurapi (dipenuhi) bukan hanya berbahasa Roh--itu adalah salah satu tanda--. Tetapi tanda selanjutnya adalah tidak bersungut-, bergosip, mengomel, putus asa dan tinggalkan TUHAN, termasuk tidak bangga akan sesuatu, tetapi selalu mengucap syukur kepada TUHAN, sehingga kita mendapatkan kekuatan ekstra dari TUHAN untuk tetap setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN, sesuai dengan jabatan pelayanan yang TUHAN berikan kepada kita sampai garis akhir--sampai meninggal atau sampai TUHAN datang.

      Kalau bangga, kecewa, mengomel, akan membuat lemah. Tetapi kalau mengucap syukur, kita akan kuat. Kita menderita dalam pelayanan, tetapi kita bersyukur, maka kita akan kuat terus. Semoga menjadi pengalaman kita bersama.

      Kalau lemah, akibatnya: gampang tersandung, sampai tinggalkan ibadah pelayanan.
      Bangga dan kecewa sama saja, yaitu berakhir pada tersandung dan tinggalkan jabatan pelayanan.

      Dalam urapan, kita selalu mengucap syukur, itu adalah kekuatan ekstra.

      Kalau kita menjadi hamba TUHAN, pelayan TUHAN yang suci, setia berkobar-kobar, maka kita dikhususkan seperti biji mata TUHAN sendiri. Kita bagaikan nyala api; mata TUHAN bagaikan nyala api. Jadi, pelayan yang suci, setia dan berkobar-kobar = pelayan TUHAN, hamba TUHAN yang dikhususkan dan bagaikan biji mata TUHAN sendiri.

      Kita sungguh-sungguh hari-hari ini. Semua pelayanan kerajaan surga sama mulia. Yang dinilai bukan khotbah dan sebagainya, tetapi suci, setia dan berkobar-kobar. Itulah biji mata TUHAN sendiri; menjadi milik TUHAN dan dilindungi secara khusus oleh TUHAN.

      ."Moto Lempin-El: lebih berguna seroang pengerja yang setia mengepel gereja, dari pada gembala yang tidak setia melayani."

      Jangan menghina pengerja. Kalau tidak ada mereka, susah juga.

      "Sudah pernah saya saksikan. Kami diundang, dan datang. Kami bingung, semua orang pakai tissue. Saya mau duduk, tetapi dilarang isteri karena kotor. Saya waktu itu ke kamar mandi dan keluar nyamuk banyak sekali. Siapa mau masuk gereja ini? Jadi mari, pekerjaan TUHAN sama-sama mulia. Yang dinilai adalah suci, setia dan berkobar. Menjadi pengerja adalah kesempatan seluas-luasnya untuk mati bersama TUHAN. Tidak tidur siang tidak apa-apa, tetapi mati bersama TUHAN. Dulu saya tidak pernah tidur siang, saya lembur sampai malam. Tetapi masih ada yang bilang: Kok tidak mengepel dan jaga malam? Baik, saya lakukan dan dalam hati saya katakan: Karuniamu saya ambil."


    • Yohanes 10: 27
      10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,

      'Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku' = Yesus sebagai Gembala Agung; Gembala yang baik.

      Syarat tergembala yang kedua: mendengar dan dengar-dengaran pada suara gembala; taat dengar-dengaran pada firman penggembalaan--makan firman penggembalaan.

      Firman penggembalaan adalah firman pengajaran yang benar, yang dipercayakan TUHAN kepada seorang gembala untuk disampaikan kepada sidang jemaat dengan setia--seperti ibu menyusui anaknya--, berkesinambungan--terus menerus--, dan diulang-ulang, sehingga menjadi makanan rohani bagi jemaat dan jemaat bisa bertumbuh secara rohani sampai mencapai kedewasaan rohani (sempurna seperti Yesus).

      Ciri makanan penggembalaan adalah bisa diulang dan maju lagi. Kalau tidak, itu bukan makanan, tetapi camilan. Firman penggembalaan tidak bisa dipelajari dimanapun juga, kecuali di bawah kaki TUHAN.

      Sekalipun diulang-ulang, tetapi kita tidak bosan, karena urapan Roh Kudus menolong kita, sehingga kita bisa menikmati firman penggembalan sebagai kebutuhan pokok yang tidak bisa digantikan dengan yang lainnya; seperti bayi haus ingin minum susu dan tidak bisa digantikan oleh lainnya. Kalau hanya camilan, pasti bosan. Kalau bosan pada makanan, sudah bahaya.

      Bedakan antara makanan dengan camilan. Yang dibutuhkan domba adalah makanan.
      Sekalipun bayi diberi uang 1 milyar, tidak akan mau (tetap menangis), karena ia butuh susu. Jangan tukar kebutuhan pokok rohani kita dengan yang lainnya!

      Manusia daging yang tidak diurapi Roh Kudus pasti bosan, bahkan menolak firman penggembalaan.
      Contoh di alkitab:


      1. Perjanjian lama adalah Esau. Sudah ada kemah, masih lari sana sini untuk cari makanan sendiri. Akhirnya lelah dan hilang semuanya.
      2. Perjanjian Baru adalah Yudas Iskariot. Gembalanya Yesus sendiri--sempurna--, tetapi ia tidak diurapi Roh Kudus, karena ia tidak butuh firman, tetapi butuh uang. Ia tukar firman dengan uang, akhirnya ia hancur benar-benar--binasa.


      Kita mohon pada TUHAN supaya kita bisa tekun dalam penggembalaan, taat dengar-dengaran dan bisa menikmati firman penggembalaan.


    Kalau sudah tekun di kandang dan taat--bisa menikmati firman--, maka kita PASTI bertanggung jawab dalam tugas-tugas penggembalaan. Mulai dari gembala, tugasnya adalah


    • Memberi makan. Ini tugas utama, bukan tugas orang lain. Seperti Yesus bertanya kepada Petrus: Simon, adakah engkau mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-domba-Ku (beri makan domba-domba-Ku).


    • menaikkan doa penyahutan disertai puasa, doa malam, dan cucuran air mata. Ini tugas dari gembala, supaya jemaat dilindungi (ditudungi)--tetap dalam keselamatan secara jasmani dan rohani.


    • memberi dan mengunjungi domba-domba yang dalam kebutuhan. Termasuk melayani kebutuhan domba-domba--kematian, pernikahan, kelahiran dan lain-lain.

      "Jangan sampai, kalau masih hidup: Ini jemaatku. Padahal itu jemaat TUHAN, bukan jemaat kita. Ini yang salah dan sering membuat bertengkar. Satu waktu, saya memang ada tugas ke luar waktu itu. Ada satu atau dua kali saya tidak bisa melayani tugas kematian, tetapi saya telepon dan atur. Saya minta ampun juga pada TUHAN. Saya atur juga. Nanti pulang, ada penghiburan, saya layani."


    • 1 Samuel 17: 37
      17:37 Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

      Tugas gembala yang juga tidak kalah pentingnya adalah bersaksi. Di sini, Daud bersaksi kepada Saul.

      Sebenarnya tidak relevan, karena mau melawan Goliat, tetapi yang disaksikan adalah melawan singa. Itu kesalahan kita. Seringkali menganggap kecil kesaksian kita. Kesaksian itu sekalipun kecil, tetapi dikumpulkan sampai besar dan Goliat hancur.

      Pengalaman Daud dalam penggembalaan sebenarnya tidak ada artinya bagi Saul, seorang raja. Daud hanya mengalahkan 1 singa, tetapi Saul sudah mengalahkan banyak musuhnya. Tetapi Daud tidak malu bersaksi. Seorang gembala jangan malu bersaksi!

      Mungkin bersaksi kalau sudah bentak-bentak isteri, lalu sudah minta ampun dan berhenti berbuat seperti itu. Siapa tahu ada jemaat yang juga begitu pada isterinya.

      "Saya juga marah (bentak) pada pengerja, tetapi setelah itu saya minta ampun. Saya saksikan, tidak malu."

      Daud tidak malu bersaksi tentang penggembalaan, karena hatinya sederhana. Kalau hatinya muluk-muluk, ia tidak akan mau bersaksi. Inilah kunci Daud.

      Jadi hamba TUHAN, sederhana saja. Sekalipun gelarnya tinggi, tetap sederhana. Apalagi yang tidak ada gelarnya, lebih mudah lagi untuk sederhana.

      Kalau hati sederhana, kita bisa tekun, taat dan tanggung jawab dalam penggembalaan--menikmati penggembalaan. Kalau hati muluk-muluk, tidak akan bisa menerima--tidak bisa menikmati.

      Apapun yang kita hadapi, hadapi dengan hati sederhana. Kalau dicaci maki jemaat, nikmati saja.

      "Dulu, kalau ada pengerja ngomong yang tidak baik, sekalipun saya sedang berdoa, tetapi dalam hati: 'Oh nanti ya...' Dulu saya lulusan S1, saya sedang berdoa, tetapi sambil berkata: 'Dia SMA, macam-macam.' Begitu juga dengan hamba TUHAN: 'Mau macam-macam, nanti saya datangi, belum tahu siapa saya.' Terlalu berat. Tetapi kalau sederhana: 'Ya sudahlah, mau apalagi, memang orang desa.' Saya seringkali tidak lulus, tetapi saya rindu untuk belajar memiliki hati yang sederhana. Itu kunci sukses Daud."

      Bersaksi= mengumpukan semua pertolongan TUHAN yang kecil-kecil, sehingga menjadi kekuatan besar untuk menghancurkan Goliat.
      Kalau bergosip, justru hancur; yang kuat jadi lemah. Biar kita kuat, tetapi kalau bergosip, kita akan lemah dan tidak berdaya apa-apa. Jangankan melawan singa, melawan anjingpun kalah--tetap menjilat muntah.

      Tetapi, kalau hamba TUHAN tekun, taat dan bertanggung jawab, jangan coba-coba, karena akan berhadapan dengan kekuatan TUHAN yang besar. Begitu juga dengan jemaat yang taat, tekun dan bertanggung jawab, gembala juga jangan coba-coba. Sama-sama kita menjaga.


    Tugas domba adalah makan firman penggembalaan, melayani dalam penggembalaan dengan setia dan berkobar-kobar, dan domba akan bertumbuh rohaninya ke arah kedewasaan rohani.
    Kalau bertumbuh, pasti bersaksi. Kalau bergosip, akan bertambah mundur.

    Tanda domba yang bertumbuh rohaninya adalah bisa bersaksi dan membawa orang datang kepada TUHAN. Sudah sekian tahun, periksa, apakah membawa jiwa datang kepada TUHAN atau malah membawa jiwa keluar semua (tercerai-berai)?

    Yohanes 10: 27-28
    10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
    10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

    Kalau sudah tergembala dengan baik (tekun, taat dan bertangung jawab), posisinya adalah berada di dalam tangan Gembala Agung. Jangan coba-coba!

    Hasilnya:


    • 'mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya' = ada jaminan kepastian untuk hidup sekarang--masa depan yang indah--sampai hidup kekal.


    • 'seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku' = jaminan kepastian untuk menang atas setan tritunggal, sehingga kita tidak jatuh, disesatkan dan tersandung.


    • Jaminan kepastian semua masalah diselesaikan oleh TUHAN--air mata dihapuskan oleh TUHAN dan kita bahagia.


  3. Ketaatan pada tabut perjanjian; firman pengajaran yang lebih tajam pedang bermata dua (kabar mempelai)--ruangan maha suci.
    2 Samuel 6: 13-17
    6:13 Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.
    6:14 Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.
    6:15 Daud dan seluruh orang Israel
    mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.
    6:16 Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja
    Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya.
    6:17 Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN.


    Daud taat dalam mengangkat tabut perjanjian ke kemah Daud. Tadinya dimuat pedati, dan ada yang mati. Sekarang ia taat, ia mengangkat tabut perjanjian dengan dipikul di bahu--sesuai dengan perintah TUHAN.

    Tabut perjanjian terdiri dari 2 bagian:


    • Tutupnya, terbuat dari emas murni; menunjuk pada zat Illahi, tidak ada kayunya. Terdiri dari:


      1. Kerub I= Allah Bapa= TUHAN.
      2. Tutupnya dari emas murni dengan ada percikan darah= Anak Allah= Yesus.
      3. kerub II= Allah Roh Kudus= Kristus.


      Jadi, tutup dari peti perjanjian sama dengan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus= TUHAN Yesus Kristus dalam pribadi Yesus dalam kemuliaan sebagai Mempelai pria sorga.


    • Petinya, terbuat dari kayu tetapi disalut emas murni, sehingga kayunya tidak kelihatan (manusia daging disalut dengan emas murni). Ini gambaran gereja TUHAN yang sempurna--mempelai wanita yang sempurna/tubuh Kristus.


    Jadi tabut perjanjian adalah gambaran dari kabar mempelai--nanti saat TUHAN datang memang terjadi pernikahannya (pertemuan antara Mempelai Pria dengan mempelai wanita di awan-awan yang permai), tetapi sekarang kabarnya atau undangannya dulu.

    Tabut perjanjian harus dipikul di bahu, artinya


    • Kita semua harus bertanggung jawab--terutama lulusan Lempin-El Kristus Ajaib--untuk berpegang teguh pada pengajaran yang benar dan taat dengar-dengaran. Ini tanggung jawab pertama yang tidak boleh diubah-ubah. Sesudah itu baru dibawa ke mana-mana.


    • Yang kedua, kita bertanggung jawab memberitakan kabar ini ke mana-mana (bersaksi tentang kabar mempelai).


    Kalau sudah bertanggung jawab, maka kita akan dipakai dalam pelayanan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.
    Waktu Yosua menyeberang sungai Yordan--etape terakhir untuk masuk Kanaan, sekarang artinya kegerakan Roh Kudus hujan akhir--, ia dipimpin oleh tabut.
    Ada kabar baik (penginjilan), dilanjutkan dengan kabar mempelai untuk mempersiapkan tubuh Kristus menjadi mempelai--kita dipakai dalam pelayanan pembangunan tubuh Kristus.

    Setiap 6 langkah, lembu disembelih => angka 6 menunjuk pada manusia daging. Lembu disembelih--dulu lembu untuk korban penghapus dosa--sekarang menunjuk pada kurban Kristus.
    Jadi setiap 6 langkah ada tabut dan ada lembu disembelih.
    Artinya: setiap langkah-langkah hidup manusia daging harus diisi dengan kabar mempelai dan kurban Kristus, sehingga mengalami pemisahan sekam dan gandum.

    Dulu tabut perjanjian tergelincir di tempat pengirikan. Kalau mau diisi, jadi gandum. Kalau tidak mau diisi, jadi sekam--seperti Laodikia yang luarnya bagus, tetapi isinya tidak ada; Yesus mengetok pintu di luar. Inilah ibadah sekarang. Hati-hati! Ibadah hanya ditampilkan luarnya (kulitnya), tetapi tidak mau diisi firman pengajaran dan kurban Kristus (perjamuan suci). Banyak yang tidak mau diisi!

    Kalau kebaktian umum berapa yang datang? Banyak yang datang. Kalau kebaktian pendalaman alkitab dan perjamuan suci, tinggal berapa yang datang?

    Gunakan kesempatan untuk diisi. Sekam hanya menggembar-gemborkan perkara luar, tidak mau diisi pengajaran dan tidak mau disucikan.
    Tetapi gandum merupakan kehidupan Kristen yang mau diisi oleh firman pengajaran dan kurban Kristus, terutama lewat ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci, sampai menjadi gandum yang matang untuk dibawa masuk ke lumbung. Kalau sudah menjadi gandum, sudah tenang--tidak terbang saat ditampi.

    Dulu, Daud menari-nari secara jasmani, karena tabut perjanjian masih jasmani dan kurban Kristus masih lembu. Sekarang sudah digepapkan. Tabut adalah kabar mempelai dan lembu adalah kurban Kristus. Kalau diisi (disucikan) dengan firman, maka ginjal kita-- 'jiwaku bersorak sorai, meloncat-loncat' dalam Mazmur--yang menari-nari.

    Ginjal--perasaan terdalam--bisa tertusuk-tusuk, tetapi kalau disucikan oleh pengajaran dan perjamuan suci, ginjalnya meloncat-loncat (merasakan kebahagiaan).

    Kalau mau meloncat-loncat secara jasmani, harus potong lembu--tiap 6 kali loncat potong lembu 1 ekor. Sekarang jangan dijasmanikan semuanya, sebab Tabernakel jasmani sudah hancur; sekarang menunjuk pada Tabernakel rohani.

    Sekarang yang meloncat bukan orangnya, teapi perasaannya. Sekalipun tidak tepuk tangan, kalau ginjal disucikan (dengan tetesan air mata), orang lain tidak bisa merasakan.

    Saat kita berpuasa (tidak makan dan tidak minum), kita merasa senang sekali. Orang tidak merasakan hal itu. Biar kita bicara yang rohani. Kita bahagia lewat penyucian demi penyucian.

    Tadi, tabut perjanjian diletakkan di Kemah Daud. Kemah Daud bukan tempat terakhir, tetapi tempat transit. Setelah kemah Daud, masih dibawa lagi ke Bait Allah Salomo.

    Apa gunanya kemah Daud (Pondok Daud)? Supaya bangsa-bangsa lain--bangsa kafir--bisa masuk di dalamnya--bisa menerima kabar mempelai, bisa diselamatkan, bahkan disempurnakan menjadi mempelai wanita. Kalau Bait Allah Salomo, bangsa kafir tidak boleh masuk ke dalamnya.

    Kemah Daud belum mencapai kemuliaan--hanya menampung bangsa kafir.
    Kisah Para Rasul 15: 16-17
    15:16 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,
    15:17 supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,

    Kemah Daud tidak mencapai kesempurnaan--tidak ada awan kemuliaan; pada Tabernakel Musa dan Bait Allah Salomo ada awan kemuliaan.
    Buktinya:


    • Daud tidak boleh membangun Bait Allah.
    • Mikhal tidak bisa memiliki anak--mandul--, tidak bisa menjadi mempelai wanita, karena mempelai wanita ditandai dengan wanita yang mengandung.

      Wahyu 12: 1-2
      12:1. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.
      12:2
      Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.

      Artinya: tidak bisa membawa kita menjadi mempelai wanita TUHAN.


    1 Raja-raja 8: 1-2, 5-6, 10-11
    8:1. Pada waktu itu raja Salomo menyuruh para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin puak orang Israel, berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN dari kota Daud, yaitu Sion.
    8:2 Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan raja Salomo semua orang Israel.
    8:5 Tetapi raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya.
    8:6 Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu,
    di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub;
    8:10 Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus,
    datanglah awan memenuhi rumah TUHAN,
    8:11 sehingga imam-imam
    tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN.

    Untuk itu tabut dibawa lagi pada Bait Allah Salomo.
    Ayat 10-11: Salomo tidak menari-nari lagi. Begitu tabut perjanjian lewat, Salomo tetap berdiri--hormat, khidmat.
    Bait Allah Salomo dipenuhi dengan awan kemuliaan; Yesus sebagai Imam Besar hadir.

    Salomo berdiri= hormat; ibadah yang tertib dan teratur; penuh penghormatan pada Imam Besar yang hadir.
    Di mana Imam Besar hadir dengan percikan darah (pelayanan pendamaian), di situ ada shekinah glory--awan kemuliaan; Roh Kemuliaan.

    Sampai satu waktu karena begitu kuatnya awan kemuliaan, tidak bisa berdiri lagi (ayat 11. Artinya: tersungkur. Inilah ibadah yang benar. Penuh penghormatan, tertib, teratur untuk menghormati hadirat Imam Besar. Bukan tidak ada sukacita, tetapi justru bersukacita sampai ginjalnya melompat-lompat. Tidak bisa orang lain merasakan. Sampai satu waktu, kalau menghadapi percikan darah, kita tidak tahan dan hanya tersungkur; mengaku diri kita hanya tanah liat, tidak layak dan tidak berarti; hanya bergantung pada belas kasih TUHAN. Ini adalah penyucian terakhir.

    Banyak kelebihan dari 7 sidang jemaat akhir zaman, tetapi ada satu cacat cela, tetap tidak bisa sempurna. Kita butuh penyucian terakhir. Kita mohon, supaya dalam setiap ibadah ada hadirat Imam Besar, ada penyucian terakhir, sampai perasaan terdalam juga disucikan--sekalipun mungkin sudah saleh, suci dan jujur, dan diberkati.

    Contoh kehidupan yang mengalami penyucian terdalam:


    • Ayub 1: 1-3
      1:1. Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
      1:2 Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
      1:3 Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.


      Ayub sudah suci, saleh, jujur, nikahnya baik, juga terkaya. Kurang apa? Tetapi butuh tabut perjanjian--butuh kabar mempelai--untuk dibawa pada penyucian terakhir--percikan darah; nyala api siksaan.

      Ternyata, setelah diuji oleh TUHAN, Ayub ada kekurangannya. Perasaan terdalam yang seringkali tidak disadari. Ayub masih punya kebenaran sendiri.

      Ayub 32: 1-2
      32:1. Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.
      32:2 Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya
      lebih benar dari pada Allah,

      Kebenaran sendiri artinya


      1. Lebih benar dari sesama; menutupi dosa dengan menyalahkan orang lain atau sesama,
      2. Lebih benar dari TUHAN; menutupi dosa dengan menyalahkan TUHAN.


      Ayub mengalami penyucian ginjal lewat percikan darah, sehingga ia bisa tersungkur ('duduk di debu dan abu').

      Ayub 42: 5-6
      42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
      42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan
      dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

      Ayub, gambaran dari orang Israel yang mendapat kesempatan mengalami percikan darah. Begitu terkena percikan darah--hadirat Imam Besar dengan sinar kemuliaan--, Ayub tidak tahan dan tersungkur.

      Ia mengalami percikan darah dalam bentuk ujian habis-habisan. Habis semua, tetapi ia bertemu Imam Besar dan sinar kemuliaan. Ia duduk di debu dan mengakui kesalahannya (ada kebenaran sendiri). Benar sendiri ini terutama banyak dalam kata-kata. Kalau orang banyak berkata-kata yang salah, itu adalah kebenaran sendiri.

      "Hati-hati! Telepon murah jangan untuk kebenaran sendiri, tetapi untuk telepon jemaat. Dulu saya pernah begitu. Baru bisa TM, merasa rugi, kemudian telepon teman dan ada gosip-gosip kecil. Akhirnya kering. Tetapi sekarang, kita menangis di telepon kalau jemaat ada masalah. Ada yang sudah sekarat, kita menangis di telepon."

      Cabut kata-kata yang salah! Itu penyebab kehancuran-kehancuran. Ayub mendapat ujian habis-habisan, tetapi kita jangan sampai mengalami seperti Ayub. Cukup dengan mendengarkan firman. Tetapi kalau sudah terlanjur, cabut kata-kata yang salah! Biarlah Roh kemuliaan yang memulihkan semuanya.

      Kita mengaku sebagai debu tanah liat dan tangan kemuliaan TUHAN--Roh kemuliaan--bekerja memulihkan kita semua untuk dibentuk menjadi bejana yang indah; bejana tanah liat yang sudah hancur dibentuk menjadi bejana yang lebih indah lagi. Artinya: kita dipakai dan diberkati oleh TUHAN, ditolong dan dipulihkan oleh TUHAN, sampai nanti disempurnakan.


    • Matius 15: 21-22
      15:21. Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
      15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."

      'perempuan kanaan'= gambaran dari bangsa kafir.
      'kasihanilah aku'= padahal yang sakit anaknya, tetapi ia berkata: 'Tolonglah aku.'

      Bangsa kafir (perempuan Kanaan) mendapat ujian juga; nikahnya hancur, buah nikahnya hancur karena kebenaran sendiri--termasuk kebanggaan, kesombongan.

      Selama ini dia terus menyalahkan anak dan suaminya. Sekarang ia mengaku setelah mengalami ujian nikah dan buah nikah. Ia duduk di debu juga. Ia akui kalau semua gara-gara dia.

      Kita ada di dalam tangan TUHAN, Roh kemuliaan bekerja dan mujizat terjadi. Kalau tanah liat ada di dalam tangan Sang Pencipta, maka Roh kemuliaan bekerja dan mujizat juga terjadi.

      Langkah-langkah kita adalah langkah-langkah mujizat; kita dipakai oleh TUHAN, sampai langkah terakhir, kita menjadi sempurna seperti Dia.

Kita datang kepada TUHAN, jangan ada kebanggaan dan sebagainya, tetapi hanya tersungkur di kaki TUHAN pada kesempatan ini. Kita hanya tanah liat; tidak ada yang kecewa, bangga, tetapi hanya mohon belas kasihan, kemurahan dan Roh kemuliaan TUHAN.

Semua dalam kemenangan; tidak ada yang hancur dan kalah. Apapun keadaan kita, TUHAN sanggup menolong kita asalkan kita mau tersungkur di bawah kaki TUHAN. Banyak kemerosotan baik dalam pelayanan, nikah dan lain-lain, kita serahkan dalam tangan TUHAN. Ada ujian aau perickan darah dalam bentuk apapun, mungkin sudah habis-habisan--dlaam hal penyakit dan sebagainya--, biarlah kita mengaku bahwa kita hanya tanah liat. Dan mujizat terjadi--kita diciptakan kembali oleh TUHAN.

Tuhan memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 18-20 Juni 2019
    (Ibadah Kunjungan di Bagan Batu)

  • 02-03 Juli 2019
    (Ibadah Kunjungan di Nias)

  • 23-25 Juli 2019
    (Ibadah Kunjungan di Tana Toraja)

  • 05-09 Agustus 2019
    (Ibadah Kunjungan di India)

  • 20-22 Agustus 2019
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 04-05 September 2019
    (Ibadah Kunjungan di Semarang)

  • 17-19 September 2019
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • 24-25 September 2019
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 13-17 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top