English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Doa Surabaya, 09 Februari 2018 (Jumat Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Doa Puasa Malang Session II, 20 April 2010 (Selasa Siang)
Pelajaran tentang Kaki Dian Emas/ Pelita Emas/ Kandil.

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 13 Juni 2013 (Kamis Sore)
Siaran Tunda Ibadah Kunjungan Bagan Batu

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Markus 9:23b
9:23...

Ibadah Raya Surabaya, 22 Oktober 2017 (Minggu Siang)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Raya Surabaya, 08 Oktober 2017 (Minggu Siang)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai...

Ibadah Raya Surabaya, 18 Desember 2011 (Minggu Sore)
Penyerahan Anak
Markus 10: 13-16
10:13. Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14. Ketika...

Ibadah Doa Semalam Suntuk Session I Malang, 17 Mei 2016 (Selasa Malam)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Keluaran 11:7
11:7...

Ibadah Kaum Muda Malang, 12 September 2009 (Sabtu Sore)
MARKUS 13:18
Nubuat ke-4: tentang antikris

Siapa yang tertinggal...

Ibadah Raya Malang, 07 Mei 2017 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 5:5-10
5:5 Lalu berkatalah seorang dari...

Ibadah Doa Puasa Malang Session I, 06 Oktober 2009 (Selasa Pagi)
Keluaran berasal dari kata:
Elechshomoth (Yunani) artinya: inilah namanya,
Exodus (Inggris): exo = keluar, odos...

Ibadah Raya Malang, 09 Desember 2018 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 8:5
8:5 Lalu malaikat itu mengambil...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 03 April 2014 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 1:9-20 penglihatan Rasul Yohanes di pulau...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 26 Januari 2015 (Senin Sore)
Pembicara: Pdp. Youpri Ardiantoro

Salam sejahtera, selamat sore, selamat beribadah di dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 01 September 2016 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 4:5
4:5 Dan dari takhta...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 12 Maret 2009 (Kamis Sore)
Matius 24:31, keadaan ketiga pada saat kedatangan Yesus kedua kali adalah


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 17 Agustus 2015 (Senin Sore)

Bersamaan dengan penataran imam-imam dan calon imam V

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Kita berada pada kitab Wahyu 2-3 (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 27 Juli 2014).

Kita mempelajari kitab Wahyu 3: 14-22--tentang sidang jemaat di LAODIKIA; jemaat yang terakhir (ketujuh). Ini merupakan gambaran dari jemaat akhir zaman (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 14 Juni 2015).

Wahyu 3: 16-19
3:16. Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
3:17. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
3:18. maka Aku
menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
3:19. Barangsiapa Kukasihi, ia
Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

KEADAAN ROHANI jemaat di Laodikia adalah SUAM-SUAM KUKU.
Artinya, secara jasmani sangat kaya--tidak kekurangan apa-apa--, tetapi secara rohani melarat, malang, miskin, buta dan telanjang--betul-betul terpuruk.

Akibatnya: dimuntahkan oleh TUHAN; muntah artinya tidak berguna, jijik, najis, dan terpisah dari TUHAN--muntah tidak diambil lagi--, sampai binasa selama-lamannya.

Oleh sebab itu, di ayat 18-19, TUHAN menegor dan menasihati lewat firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua, supaya jemaat Laodikia--kita semua--membeli harta/kekayaan Sorga.
Jika tegoran dan nasihat lewat pedang firman diabaikan, maka TUHAN menghajar jemaat Laodikia--kita semua--supaya membeli harta/kekayaan Sorga; sehingga yang jasmani dan rohani menjadi seimbang. Yang rohani harus lebih dari yang jasmani, jangan dibalik. Itu yang berkenan kepada TUHAN.

Harta di dunia ini tidak ada artinya, jika tidak dikaitkan dengan harta sorga yang kekal. Ini yang kita upayakan hari-hari ini; kita mencari harta dunia--bekerja, sekolah, kuliah--tetapi jangan lupa untuk membeli harta sorga!

Ada 3 macam kekayaan Sorga yang harus dibeli--dimiliki--oleh jemaat Laodikia--sekarang kita semua:

  1. Emas yang telah dimurnikan dalam api (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 12 Juli 2015 sampai Ibadah Doa Surabaya, 15 Juli 2015). Ini menunjuk pada iman yang murni; iman yang permanen; iman yang teruji; iman yang sempurna, yang siap menanti kedatangan Yesus kedua kali.


  2. Pakaian putih untuk menutupi ketelanjangan (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 19 Juli 2015); menunjuk pada pakaian kemurahan dan kepercayaan TUHAN.


  3. Minyak untuk melumas mata.

Malam ini kita masih mempelajari kekayaan Sorga yang kedua yaitu PAKAIAN PUTIH, 'supaya jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan.' = pakaian kemurahan dan kepercayaan TUHAN. Tidak semua orang mendapatkannya. Waktu Yesus disalibkan, pakaian-Nya dirobek menjadi 4 bagian, tetapi jubah-Nya diundi. Pakaian putih--bagaikan jubah Yesus yang diundi--, hanya yang mendapat undi yang mendapatkannya.
Pakaian putih--pakaian kepercayaan dan kemurahan TUHAN--, yaitu:

  • Pakaian penggembalaan (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 Juli 2015 sampai Ibadah Raya Surabaya, 26 Juli 2015). Kita harus tergembala dengan benar dan baik.
    Menjadi gembala, merupakan kepercayaan dan kemurahan TUHAN.

    Kalau jabatan dari TUHAN, buktinya adalah bisa menunaikan tugas, yaitu memberi makan sidang jemaat dengan setia, sungguh-sungguh; dan melayani sebagai gembala sampai garis akhir--sampai meninggal dunia atau sampai TUHAN Yesus datang kedua kali.

    Domba-domba yang digembalakan, juga merupakan kemurahan dan kepercayaan TUHAN--tidak semua bisa tergembala, banyak yang masih beredar-edar--, yaitu bisa menikmati firman penggembalaan/makanan penggembalaan, sehingga domba-domba bertumbuh sampai kesempurnaan.


  • Pakaian pelayanan (diterangkan mulai dari Ibadah Doa Surabaya, 05 Agustus 2015).

2 Korintus 5: 18-19
5:18. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
5:19. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Sejak Adam dan Hawa berbuat dosa dan dibuang ke dunia, maka semua manusia sudah berbuat dosa dan telanjang. Orang telanjang, tidak bisa melayani TUHAN. Waktu TUHAN datang ke taman Eden, Adam dan Hawa lari, karena mereka telanjang.

Untuk bisa melayani TUHAN, kita manusia berdosa dan telanjang harus diperdamaikan lebih dulu lewat korban pendamaian--kurban Kristus di kayu salib--, supaya diampuni dosa-dosanya--ditutupi ketelanjangannya--sehingga kita layak atau dipercaya pelayanan pendamaian dan berita pendamaian (diterangkan pada Ibadah Doa Surabaya, 12 Agustus 2015).

Efesus 2: 13-16
2:13. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
2:14. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
2:15. sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk
menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
2:16. dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.


= Puncak dari pelayanan pendamaian.

'kamu, yang dahulu jauh' = bangsa kafir yang jauh dari TUHAN.
'yang dekat' = bangsa Israel, umat pilihan TUHAN.

'untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru' = Israel dan kafir menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna.

Jadi, pelayanan pendamaian dan berita pendamaian sanggup menyatukan bangsa Israel dan bangsa kafir menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna--satu manusia baru; mempelai wanita sorga--yang siap menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai.

Jadi, sesudah kita diperdamaikan oleh kurban Kristus, maka kita dipercaya pelayanan pendamaian dan berita pendamaian; sama dengan diangkat menjadi imam-imam dan raja-raja, untuk dipakai dalam pelayanan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.

Tadi malam, kita mempelajari, tubuh Kristus adalah Tabut Perjanjian--kayu disalut emas pada bagian luar dan dalam, sampai tidak terlihat lagi kayunya.
Artinya: dalam pelayanan pendamaian dan berita pendamaian--pelayanan pembangunan tubuh Kristus--, kita harus mau disalut sampai bersandar di dada TUHAN. Bersalut dan bersandar, itulah pelayanan kita, enak sekali (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 16 Agustus 2015).

Malam ini, kita melanjutkan. Tubuh Kristus yang sempurna atau mempelai wanita sorga adalah MANUSIA BARU (Efesus 2: 15).
Artinya, harus mengalami pembaharuan dari manusia daging menjadi manusia rohani--manusia sempurna--seperti Yesus, yaitu mempelai wanita sorga yang menjadi milik Yesus selama-lamanya dan tidak bisa diganggu-gugat.

Jadi, bukti kalau kita dipercaya melayani pembangunan tubuh Kristus adalah kita mengalami pembaharuan.

Yehezkiel 11: 19-20
11:19. Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,
11:20. supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-K dengan setia; maka
mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.

'mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka' = kita menjadi milik TUHAN yang tidak bisa diganggu-gugat.

Apa yang harus dibaharui supaya menjadi milik Yesus selamanya? Kita harus mengalami PEMBAHARUAN HATI.

Hati merupakan pusat kehidupan rohani kita.
Kita harus mengalami pembaharuan hati, sehingga memiliki hati yang taat dengar-dengaran.
Jadi, dimulai dari hati. Kalau hati sudah dibaharui, maka seluruh kehidupan kita dibaharui sampai menjadi sempurna seperti Yesus; kita menjadi mempelai wanita TUHAN yang tidak bisa diganggu-gugat selama-lamanya.

Mari, malam ini kita memohonkan pembaharuan hati, yaitu hati yang taat dengar-dengaran.

Kita melihat contoh-contoh dari zaman ke zaman--generasi ke generasi--, TUHAN selalu mempersiapkan manusia baru--manusia yang taat dengar-dengaran kepada TUHAN--, untuk menjadi milik TUHAN selama-lamanya, yaitu:

  1. Zaman permulaan; zaman Allah Bapa; dihitung dari Adam, sampai Abraham; kurang lebih 2000 tahun.
    Diwakili oleh Nuh--seorang BAPAK.

    Kejadian 6 : 5-8

    6:5. Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
    6:6. maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu
    memilukan hati-Nya.
    6:7. Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka."
    6:8.
    Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.

    Keadaan manusia di zaman Nuh adalah memiliki hati yang tidak taat dengar-dengaran, sehingga berbuat dosa sampai puncaknya dosa--dosa makan-minum dan dosa kawin-mengawinkan.

    Akibatnya, memilukan hati TUHAN, sehingga TUHAN menghukum manusia dengan air bah. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN; Nuh mendapat pembaharuan.

    1 Petrus 3: 20
    3:20. yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

    Dari sekian banyak manusia di dunia, hanya sedikit yaitu 8 orang--keluarga Nuh--yang taat dengar-dengaran. Ini penting! Hati yang taat dengar-dengaran dibutuhkan untuk menghadapi:


    • Hukuman TUHAN atas dunia.
      Dulu dihukum dengan air bah, nanti dunia akan dihukum dengan api dari langit.


    • Dosa-dosa sampai puncaknya dosa.
      Tidak bisa dihadapi dengan kepandaian, kekayaan; tetapi hanya bisa dihadapi dengan hati yang taat dengar-dengaran.


    Praktik Nuh taat dengar-dengaran, yaitu Nuh membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera.
    Waktu TUHAN memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera, yang lain tidak membantu, malah mengolok-olok: 'Apa itu? Tidak ada hujan, tidak ada angin, tetapi membuat bahtera. Itu kebenaran diri sendiri'. Biar saja, nanti kalau air bah datang, mereka baru berkata: 'Iya, benar'; tetapi sudah terlambat. Itu orang keras hati--tidak taat.

    Nuh disuruh membuat bahtera, lalu masuk ke dalam bahtera; sekalipun tidak terjadi apa-apa, bahkan bahtera Nuh bukan berada di tepi laut, tetapi di atas gunung. Ini hati taat yang dibutuhkan.

    "Mana ada orang mau disuruh naik bahtera di atas gunung? Bisa ditertawakan orang."

    Tetapi karena Nuh taat, maka dia mau. Lalu sebentar lagi hujan datang.
    Jadi, dari sekian banyak manusia di dunia, hanya 8 orang--hanya sedikit sekali--yang taat. Yang lain merasa lebih pandai dari TUHAN, merasa lebih bijaksana dari firman TUHAN, dan lain sebagainya.

    Nuh taat dengar-dengaran, sehingga ia mau membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera, tepat seperti yang diperintahkan TUHAN.
    Artinya:


    • Kejadian 6: 22, 9
      6:22. Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.
      6:9. Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah
      seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

      Arti yang pertama: 'Nuh adalah seorang yang benar' = hidup dalam kebenaran.
      Kalau taat, tidak akan mau melakukan yang tidak benar; mulai dari KTP, SIM. Banyak godaan di situ. Mungkin mau dibuatkan 3 KTP, tetapi tidak mau.


    • Arti kedua: 'tidak bercela'= tulus/jujur, tidak ada dusta.
      Jika ya katakan: ya, tidak katakan: tidak--tidak plin-plan.

      Kejujuran dimulai dari soal pengajaran benar--soal TUHAN. Jika benar, katakan: benar dan harus diikuti. Jika tidak benar katakan: tidak benar, dan harus menolak dengan tegas. Kalau tidak, akan menjadi ular: 'Benar, tetapi....; tidak benar, namun...'.

      Harus tegas seperti Nuh. Kalau Nuh ikut-ikutan: 'ini tidak benar., tetapi cuma beda sedikit kok..', maka Nuh tidak akan bisa masuk ke dalam bahtera, sehingga binasa dalam air bah.

      Tetapi Nuh hidup dalam kebenaran dan tulus/jujur--tegas--, ya di atas ya, tidak di atas tidak; tidak peduli siapapun, tidak peduli hubungan dengan keluarga. Buktinya, keluarga Nuh yang lain--kerabatnya--tidak ada yang selamat. Hanya anak dan menantunya saja. Nuh tidak mau dipengaruhi soal keluarga.

      "Banyak kali kita demikian. 'Sungkan karena keluarga sendiri. Bagaimana ya?' Itu sama dengan ikut keluar dari bahtera; tidak selamat."

      Kalau sudah benar soal pengajaran, maka kita bisa benar soal tahbisan, jujur soal nikah, dan jujur soal keuangan.


    • Arti ketiga: 'Nuh itu hidup bergaul dengan Allah' = beribadah dan melayani TUHAN dalam sistem Tabernakel--kerajaan Sorga.

      Bahtera Nuh sama dengan Tabernakel, buktinya yaitu:


      • Bukti pertama: bahtera Nuh dibuat menurut kehendak TUHAN--'hendaklah engkau buat..'.

        Kejadian 6: 14 (terjemahan lama)
        6:14. Perbuatlah akan dirimu sebuah bahtera dengan kayu gofir; hendaklah engkau memperbuatkan dia berbilik-bilik dan gala-galakanlah luar dalamnya.

        Keluaran 25: 8
        (terjemahan lama)
        25:8. Maka hendaklah mereka itu memperbuatkan Daku sebuah baitulmukadis, supaya Aku duduk di antara mereka itu.

        Tabernakel juga dibuat menurut kehendak TUHAN.
        'baitulmukadis' = Tabernakel.


      • Kejadian 6: 16
        6:16. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

        Bukti kedua: bahtera Nuh terdiri dari 3 tingkat--bertingkat bawah, tengah, dan atas--; Tabernakel terdiri dari 3 ruangan--halaman, ruangan suci, dan ruangan maha suci.


      Jadi, bergaul dengan Allah--masuk bahtera-- artinya beribadah melayani TUHAN dalam sistem Tabernakel, yaitu sistem penggembalaan.
      Artinya, gembala dan domba-domba harus berada di dalam kandang penggembalaan--ruangan suci--, dulu ada 3 macam alat, sekarang menunjuk pada ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok:


      • Pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya; persekutuan dengan Allah Roh Kudus di dalam karunia-karunia-Nya.
      • Meja roti sajian: ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci; persekutuan dengan Anak Allah di dalam firman pengajaran dan kurban Kristus.
      • Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan; persekutuan dengan Allah Bapa di dalam kasih-Nya.


      Gembala dan domba-domba harus berada di dalam kandang penggembalaan.
      Hubungan kita dengan TUHAN di dalam penggembalaan adalah hubungan makanan, bukan manusianya dan lain-lain.

      Dalam sistem penggembalaan, yang menyatukan/mengeratkan kita dengan TUHAN adalah makanan firman penggembalaan--suara gembala.
      Ini tugas gembala.

      Oleh sebab itu, gembala harus berada di kandang untuk memberi makan domba-domba dengan setia dan domba-domba harus makan firman penggembalaan.

      Kalau hubungan makanan bagus--gembala bisa memberi makan sidang jemaat dengan firman penggembalaan yang berasal dari TUHAN, untuk disampaikan kepada sidang jemaat; lalu jemaat bisa makan--, maka di dalam kandang penggembalaan kita bergaul erat dengan TUHAN; tubuh, jiwa, roh kita bergaul erat dengan Allah Tritunggal, sehingga kita hidup dalam kasih karunia TUHAN ('Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN').


    Dulu, dari sekian banyak manusia di dunia, hanya sedikit, yaitu Nuh sekeluarga yang menjadi manusia baru--mengalami pembaharuan hati--, yang lain jahat hatinya. Nuh mengalami pembaharuan hati menjadi hati yang taat dengar-dengaran; yaitu Nuh mau membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera, sekalipun tidak ada hujan, tidak ada apa-apa.
    Sekarang artinya:


    • Hidup dalam kebenaran, apapun resikonya.
    • Tulus hati/jujur.
      Kita harus jujur soal TUHAN. Kalau soal TUHAN saja tidak jujur, bagaimana dengan soal yang lain? Soal pengajaran harus jujur. Kalau benar, harus diikuti; kalau tidak benar, harus menolak dengan tegas.

      "Bukan berarti di sini yang paling benar. Tidak. Harus dites dengan alkitab."

      Dalam hal apa saja; mari kita sungguh-sungguh.

      Lalu benar dalam tahbisan, nikah, keuangan; semua benar.


    • Hidup bergaul dengan Allah.
      Artinya kita beribadah melayani TUHAN dalam sistem Tabernakel/sistem penggembalaan. Gembala dan domba-domba harus tergembala dengan benar dan baik; harus berada di kandang penggembalaan.


    Jadi, persekutuan kita--baik dengan Gembala Agung, maupun dengan sesama--, adalah soal makanan. Kalau persekutuan kita hanya soal keluarga, maka hanya sampai di liang kubur. Belum tentu juga, ada yang belum sampai di liang kubur sudah bermusuhan.
    Kalau hanya berdasarkan: 'Oh, ini darah-dagingku, ini keluargaku', boleh, tetapi harus ditingkatkan.

    Yang bisa membuat kita hidup kekal adalah hubungan makanan; itulah firman penggembalaan. Kalau suami dan isteri satu makanannya, maka hubungan suami dan isteri adalah hubungan yang kekal--hubungan dengan TUHAN kekal, hubungan dengan sesama juga kekal.

    Selain itu, tidak bisa kekal. Sekalipun sudah erat: 'Saya berhutang budi; saya cinta dia', tidak bisa. Paling maksimal, hanya sampai liang kubur. Tetapi kebanyakan, belum sampai di situ, sudah bermusuhan; entah ada alasannya, maupun tidak ada alasannya.

    Tetapi kalau soal makanan, bagaimanapun situasinya, di manapun, dan kapanpun; kita tetap menjadi satu.

    "Mari, doakan saya sebagai gembala, supaya bisa tetap setia memberi makan domba-domba."

    Domba-domba harus makan. Kalau makanannya sudah betul, maka tubuh, jiwa, dan roh kita melekat kepada Allah Tritunggal, sehingga kita hidup dalam kasih karunia TUHAN; seperti Nuh mendapat kasih karunia dari TUHAN.

    Hasilnya:
    Kejadian 9 : 1
    9:1. Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.


    • Hasil pertama: Nuh diberkati TUHAN sampai ke anak-cucu. Yaitu:


      • Berkat secara jasmani: kasih karunia TUHAN sanggup memelihara hidup kita sampai ke anak-cucu di tengah dunia yang sulit; seperti hidup di tengah air bah.

        "Bagaimana bisa hidup di tengah air bah? Penyelampun tidak bisa. Waktu ada kejadian pesawat jatuh di laut, tidak bisa langsung diambil, karena ada jamnya untuk menyelam. Untuk menyelampun--sekalipun sudah memakai alat--tetapi ada jamnya. Kalau lewat dari jamnya bisa gangguan, stress dan lain-lain. Ini air bah selama 150 hari; jelas tidak bisa hidup. Tetapi kalau dalam kasih karunia TUHAN, kita diberkati, dan kita bisa hidup."


      • Berkat secara rohani: kasih karunia TUHAN sanggup memberikan damai sejahtera dan kebahagiaan sorga.
        Nuh di dalam bahtera, tetapi merasa damai dan bahagia; sekalipun air bah bergelora, tetapi tenang di dalam bahtera.

        Perhatikan baik-baik hati yang taat! Biarlah kita sekeluarga bisa taat. Kalau sekeluarga taat, maka bisa sama-sama masuk ke dalam bahtera, artinya sama-sama hidup benar, jujur, dan tergembala, sehingga semua aman.

        Harus tergembala dengan benar dan baik, sebab ada gembala pedagang--tidak mau memberi makan; orang lain yang disuruh memberi makan, dia hanya mengambil keuntungan.


      Itu saja kuncinya, supaya keluarga kita aman--hidup dalam kasih karunia TUHAN, diberkati secara jasmani dan rohani.


    • Hasil kedua: kita dilindungi dan dilepaskan dari penghukuman Allah atas dunia, yaitu 3x7 hukuman Allah Tritunggal, sampai api menyambar dari langit ke atas dunia ini, sehingga dunia benar-benar musnah--kiamat.

      Inilah gunanya tergembala. Kita juga dilindungi dari api neraka selama-lamanya. Kita hidup kekal bersama TUHAN.


    Itulah kasih karunia TUHAN. Hanya ada hati yang taat--membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera. Tidak usah bertanya, 'Lho, TUHAN, tidak ada hujan kok disuruh membuat bahtera? Kok di gunung, bukan di tepi laut supaya cepat lari? Apa gunanya, TUHAN? Mana ada air naik sampai ke gunung?'
    Orang yang tidak taat, selalu menggunakan logika. 'Mana bisa?...'

    Firman bukan untuk didiskusikan, tetapi untuk ditaati. Memang sering kali tidak cocok dengan logika.
    Sesudah membuat bahtera, Nuh masuk ke dalam bahtera tetapi tidak ada hujan--tidak ada apa-apa. Nuh masuk ke dalam bahtera bersama dengan binatang-binatang, tidak ada anak kecil.

    "Ini tanggung jawab guru-guru sekolah Minggu, sebab tidak ada anak-anak kecil di dalam bahtera, hanya binatang yang banyak."

    Tadi Nuh--SEORANG BAPAK--harus BERTANGGUNG JAWAB UNTUK HIDUP BENAR. Jika dikaitkan dengan nikah, suami adalah kepala, isteri adalah tubuh, anak adalah tangan dan kaki.
    Kalau mau benar, maka kepala harus benar. Kalau kepala--suami--makan racun, maka tangan--anak-- dan perut--isteri--akan ikut goyah. Nanti malah menyalahkan isteri, 'Dasar, isteri dan anak tidak mendukung bapak!' Yang salah bapaknya, karena makan racun.
    Bapak dulu yang harus benar, maka yang lain bisa ikut benar.

    Seorang bapak juga HARUS JUJUR--tergembala dengan baik--, dimulai dari jujur soal pengajaran. 'Lima ribu orang laki-laki duduk', sama dengan mantap dalam penggembalaan yang benar; maka isteri dan anak akan mengikuti.
    Hasilnya, semua diberkati, semua dilindungi sampai hidup kekal.


  2. Zaman pertengahan; zaman Anak Allah; dihitung dari Abraham, sampai kedatangan Yesus pertama kali; kurang lebih 2000 tahun.
    Diwakili oleh janda Sarfat--seorang IBU atau JANDA.

    Janda Sarfat menghadapi kelaparan selama 3,5 tahun--sama dengan masa aniaya antikris--dan kematian--anaknya mati, sama dengan kemustahilan. Ini juga harus dihadapi dengan ketaatan. Tidak bisa dihadapi dengan yang lain.

    Tadi, Nuh menghadapi air bah--dosa, puncaknya dosa dan hukuman Allah--dengan ketaatan juga, yaitu membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera--hidup benar, jujur dan tergembala.

    1 Raja-raja 17: 7, 11-13, 15
    17:7. Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.
    17:11. Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti."
    17:12. Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali
    segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."
    17:13. Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi
    buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu
    17:15. Lalu pergilah perempuan itu dan
    berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

    Elia adalah gambaran dari hamba TUHAN/gembala; gembala harus taat lebih dulu, maka jemaat bisa taat.
    Di tepi sungai Kerit, Elia dipelihara oleh TUHAN lewat burung gagak, tetapi akhirnya sungainya menjadi kering juga. Lalu TUHAN mengutus Elia kepada seorang janda.
    Di Israel, janda adalah urutan paling terakhir dalam bangsa Israel dan indentik dengan kemiskinan, dan lain-lain.

    Elia bukan diutus kepada orang kaya, tetapi kepada seorang janda dan Elia bisa taat.
    Jika hamba TUHAN/gembala bisa taat, maka sidang jemaat--janda Sarfat--juga bisa taat.

    "Doakan kami para gembala yang ada pada malam hari ini, supaya bisa taat dengar-dengaran. Apa perintah TUHAN kepada kita: memberi makan sidang jemaat, kita harus taat. Maka sidang jemaat juga bisa taat."

    Di sini, janda Sarfat menghadapi:


    • Kelaparan selama 3,5 tahun = masa aniaya antikris.
    • Kematian = kemustahilan.


    1 Raja-raja 17: 12
    17:12. Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."

    Sebelum TUHAN datang kedua kali, antikris datang lebih dahulu menguasai dunia selama 3,5 tahun.
    Janda Sarfat tidak mempunyai apa-apa, kecuali segenggam tepung dalam tempayan.
    Tempayan adalah gambaran kehidupan kita--bejana tanah liat.

    Pertanyaannya: menghadapi antikris yang sudah mau datang, apa yang ada di dalam genggaman tangan kita?
    Menghadapi antikris yang begitu mengerikan--aniaya yang belum pernah terjadi; mau membeli nasi saja harus menyembah antikris, kalau tidak, akan disiksa.

    Apa yang kita genggam? Kalau kita menggenggam ijazah, deposito, tidak akan laku pada zaman antikris.
    Silakan punya ijazah, deposito, gaji besar dan lain-lain; TUHAN yang memberkati. Tetapi bukan itu. Itu hanya sarana dari TUHAN. Tetapi hari-hari ini yang harus digenggam adalah tepung.

    Tepung = firman pengajaran benar. Ini yang harus ada pada kita. Ini yang menentukan nasib kehidupan kita saat menghadapi kesulitan di akhir zaman dan menghadapi masa antikris.

    Menurut ilmu kedokteran, jantung itu sebesar genggaman tangan manusia.
    Segenggam = jantung hati.
    Pertanyaannya: apa yang ada di dalam genggaman tangan kita = apa yang ada di dalam jantung hati kita?
    Yang ada di dalam jantung hati kita adalah FIRMAN PENGAJARAN BENAR YANG SUDAH MENJADI IMAN DI DALAM HATI KITA.

    Jadi, kita mendengar firman dengan sungguh-sungguh, mengerti firman oleh pertolongan Roh Kudus--kalau hanya mengerti, akan menjadi ilmu pengetahuan di pikiran--, lalu percaya/yakin pada firman--firman menjadi iman di dalam jantung hati kita.

    Jadi, firman bukan untuk didiskusikan, tetapi untuk dipercaya. Mengerikan sekali kalau sampai sekarang kita masih mencari mana yang benar.

    "Pengajaran Tabernakel yang diwahyukan kepada Opa Van Gesel, sudah mencapai 80 tahun. Ajaran yang lain, hanya sebentar saja, kemudian hilang. Ini yang bertahan. Kalau sekarang masih bertanya-tanya: Mana yang benar? Bahaya, sebab antikris sudah mau datang. Pengajaran ini sudah harus ada di dalam jantung hati kita, sudah harus kita percayai, yakin 100%. Jangan ragu sedikitpun!"

    Sesudah firman menjadi iman di dalam hati, maka harus dipraktikkan dalam kehidupan kita--ditaati, dilakukan--, sampai FIRMAN PENGAJARAN ADA DI DALAM GENGGAMAN TANGAN kita; praktik = perbuatan.

    "Saya sangat sedih, kalau sampai sekarang masih dipertanyakan: Yang mana yang benar? Celaka. Bapak Pendeta In Juwono almarhum, Bapak Pendeta Pong almarhum, Bapak Pendeta Totaijs almarhum, sudah dengan gigih menyebarkan pengajaran ini ke seluruh Indonesia, juga ke luar negeri. Banyak yang sudah yakin, tetapi kita sendiri ragu. Berat sekali dikatakan."

    Mari, sungguh-sungguh! Mendengar dengan sungguh-sungguh, mengerti, percaya 100%--tidak ada keraguan--, itu menjadi iman di dalam jantung hati kita. Lalu kita praktikkan, kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari--kita taat dengar-dengaran--, maka firman berada di dalam genggaman tangan kita dan kita pasti selamat dari antikris. Jangan ragu sedikitpun!

    "Satu waktu, Bapak PendetaTotaijs datang ke Indonesia--di Surabaya. Saya mendengar. Di Netherland ada seminar tentang Tabernakel dari hamba TUHAN yang lain. Kemudian ada perbedaan dengan yang diajarkan oleh Opa Van Gesel--tentang Tabut Perjanjian. Lalu beberapa dari keluarga Opa Van Gesel sendiri, ragu. Mereka menanyakan mana yang benar. Opa Totaijs hanya menjawab, 'Kamu mengenal papa kita, Van Gesel? Apa yang dia lakukan setiap jam 2 pagi sampai jam 6 pagi? Kamu mendengar?': 'Ya, setiap jam 2 sampai jam 6 pagi, Opa Van Gesel berlutut, berdoa dengan cucuran air mata.' Saya hanya mendengar dari hamba TUHAN, Opa Van Gesel kalau berlutut selama berjam-jam tidak pernah bergeser. Kalau saya berlutut, kadang masih bergeser ke sana ke sini. Tetapi beliau tidak. Ini yang saya dengar dari beberapa hamba TUHAN, entah benar atau tidak. Tetapi yang dari keluarga, beliau selalu berdoa setiap jam 2 pagi sampai jam 6 pagi, belum siang dan malamnya. 'Kamu mengenal hamba TUHAN yang menyampaikan di seminar? Sudah tahu, bagaimana nikahnya?': 'Tidak kenal.': 'Sekarang, kamu pilih yang mana?' Lalu mereka langsung menangis."

    Keluarga masih bisa ragu. Ini yang bahaya hari-hari ini! Kalau ragu terhadap firman, maka akan masuk aniaya antikris. Kita harus yakin pada sesuatu yang benar.

    Bukti jika firman pengajaran ada di dalam jantung hati dan genggaman tangan kita, yaitu kita mengutamakan firman pengajaran lebih dari segala sesuatu di dunia ini--lebih dari kepentingan diri sendiri, lebih dari suami, isteri, dan anak.

    Bukan berarti tidak mengasihi suami, isteri, atau anak; kita harus mengasihi mereka. Tetapi yang lebih utama adalah firman pengajaran benar, sebab ini merupakan pribadi Yesus sendiri.
    Ini betul-betul firman sudah berada di dalam jantung hati dan genggaman tangan kita yang tidak bisa direbut oleh apapun.

    "Kita datang beribadah, apa yang diutamakan? Kaum muda, mau menikah, apa yang diutamakan? Apa yang ada di jantung hatimu? Kalau yang diutamakan hanya tampan, cantik, kaya, tidak peduli dari mana dia, celaka. Pada masa antikris itu semua tidak laku. Yang laku hanya segenggam tepung. Periksa baik-baik hari-hari ini! Utamakan TUHAN--pengajaran benar--lebih dari semua. Saya banyak dicap: kebenaran sendiri. Itu terserah, yang penting tidak menyimpang dari alkitab."

    Lukas 4: 24-26
    4:24. Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
    4:25. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
    4:26. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada
    seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.

    'seorang perempuan janda di Sarfat' = seorang janda dari bangsa kafir.
    Dari sekian banyak janda di Israel--umat pilihan TUHAN--, hanya janda Sarfat yang dipilih. Mengapa? Karena dia taat dengar-dengaran--menggenggam tepung. Firman pengajaran benar ada di dalam jantung hati dan dia genggam firman pengajaran itu.

    Firman penginjilan arahnya dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi--kita bangsa kafir--, sehingga kita diselamatkan. Tetapi TUHAN mempercayakan firman pengajaran kepada bangsa kafir lewat Opa Van Gesel, terutama di Papua--beliau menyelesaikan semua dan meninggal di Papua.
    Papua = ujung bumi.
    Nanti, firman pengajaran akan dibawa dari ujung bumi sampai ke Yerusalem, bahkan Yerusalem baru.
    Ini yang harus digenggam oleh bangsa kafir. Bukan hanya menolong bangsa kafir, tetapi ini yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel, umat pilihan TUHAN.

    "Kalau harta, di Israel banyak orang kaya. Coba lihat, orang Yahudi yang ada di Amerika dan lain-lain. Mereka menguasai semua dan kaya raya. Tetapi, pengajaran ini--harta sorga--yang ditunggu oleh mereka."

    Sekarang tugas kita hanya menggenggam. Nanti kita mau diutus ke mana, itu urusan TUHAN. Utamakan firman pengajaran lebih dari semua; lebih dari pekerjaan--kalau di pekerjaan disuruh korupsi: 'Tidak! Aku mau menggenggam.' Begitu korupsi, maka genggaman lepas. Di sekolah, kalau menyontek, lepas. Di dalam nikah, kalau nikah salah, lepas. Mari, genggam erat-erat!

    Jadi, dari sekian banyak janda di Israel--umat pilihan TUHAN--, hanya janda Sarfat--bangsa kafir--yang taat dengar-dengaran. Hanya sedikit yang taat!

    Tadi, dari seluruh dunia, hanya 8 orang yang taat, yaitu Nuh sekeluarga. Kerabat yang lain, keponakan, tidak ada yang taat. Hati-hati!

    Karena janda Sarfat ini taat, maka ia mendapat kasih karunia TUHAN, artinya hidup dalam tangan kasih karunia/anugerah TUHAN.

    Hasilnya:


    • 1 Raja-raja 17: 15
      17:15. Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

      Hasil pertama: Tangan kasih karunia TUHAN sanggup melindungi dan memelihara kita bangsa kafir selama 3,5 tahun; ada kuasa pemeliharaan dan perlindungan dari TUHAN sampai zaman antikris.

      Kita disingkirkan ke padang belantara selama 3,5 tahun dengan 2 sayap burung nasar yang besar; jauh dari mata ular--jangankan disiksa, dilihatpun tidak bisa! Antikris tidak bisa menjamah kita.

      Di padang belantara, kita semua menjadi fulltimer. Oleh sebab itu, kita jangan terikat! Sekarang bukan berarti berhenti kerja, tutup toko. Terus saja. Silakan memperbesar tokonya--bagi kita yang bukan hamba TUHAN sepenuh.

      Tetap bekerja, tetapi jangan terikat.
      Saat jam-jam ibadah, berani tutup toko. Utamakan firman lebih dari semua! Tetapi kalau kita lebih berat pada yang di dunia, gawat. Nanti akan tertinggal saat antikris berkuasa; tidak disingkirkan tetapi masuk aniaya antikris.

      Oleh sebab itu, yang fulltimer, harus betul-betul fulltimer hari-hari ini. Jangan kembali ke dunia! Yang belum fulltimer, jangan terikat oleh dunia!
      Genggam tepung dan melangkah bersama TUHAN, sampai nanti di padang belantara.
      Sangat salah, jika yang sudah fulltimer malah diajar untuk bekerja dan lain-lain. Justru yang fulltimer harus benar-benar fulltimer dan menggenggam tepung untuk menarik sidang jemaat yang masih berkecimpung di dunia.

      Tidak salah berkecimpung di dunia untuk hidup, tetapi sudah harus mulai lepas. Yang ada di genggamannya bukan lagi pekerjaan, bukan lagi gaji. Sekalipun punya gaji besar, tetapi bukan itu yang diharapkan, melainkan menggenggam tepung--mengutamakan firman pengajaran lebih dari semua. Ini yang akan disingkirkan ke padang gurun saat antikris berkuasa.

      Di padang gurun nanti, kita hidup dari firman pengajaran benar dan perjamuan suci--kurban Kristus--; setiap hari selama 3,5 tahun.


    • 1 Raja-raja 17: 17, 22
      17:17. Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi.
      17:22. TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga
      ia hidup kembali.

      Hasil kedua: Tangan kasih karunia TUHAN mengandung kuasa kebangkitan untuk menghapus segala kemustahilan; mati bisa bangkit.

      Anak janda Sarfat yang mati menunjuk pada kehancuran nikah dan buah nikah. Sekarang banyak anak-anak yang mati rohani; terkena narkoba, tidak mau ke gereja. Mari, genggam tepung!

      Di dalam keluarga, kalau ada satu saja yang mau menggenggam tepung, maka semuanya akan tertolong.
      Janda Sarfat menggenggam tepung, maka anaknya tertolong.

      Kuasa kebangkitan sanggup untuk memulihkan nikah dan buah nikah yang sudah hancur, dan menyatukan nikah dan buah nikah; sampai masuk dalam nikah yang sempurna di perjamuan kawin Anak Domba.

      Jangan ragu! Memang setan membuat ragu dan mustahil.
      Untuk bisa mencapai persekutuan yang benar--mulai dari dalam nikah--, situasinya seperti membangkitkan orang mati--sangat susah.
      Dalam Yohanes 17, Yesus berdoa empat kali: 'Bapa, satukanlah mereka..', sampai sempurna. Tetapi, Lazarus yang sudah menjadi bangkai selama 4 hari, Yesus hanya berseru satu kali: 'Lazarus, keluarlah!' dan Lazarus bangkit.

      Mau menyatu dalam nikah rumah tangga itu susah. Kalau tidak satu dalam pengajaran, akan lebih susah. Sudah satu pengajaranpun, kalau yang satu menggenggam, tetapi yang satu masih ragu, maka tidak bisa. Keduanya harus menggenggam. Yang sudah menggenggam lebih dulu, harus berdoa, supaya yang masih ragu bisa menggenggam.

      Begitu juga mau menyatukan penggembalaan, untuk menyatukan nikah--2 orang--saja susah, apalagi dalam penggembalaan. Tetapi kalau menggenggam tepung, bisa terjadi, tidak ada yang mustahil.


    Nuh (bapak-bapak) sekeluarga masuk bahtera, artinya hidup benar di segala bidang, jujur--terutama soal pengajaran--, dan tergembala dengan benar, supaya isteri dan anak bisa masuk. Kalau ada menantu, cucu, semua juga bisa masuk,s ehingga berada di dalam tangan kasih karunia TUHAN.
    Hasilnya, selamat dari hukuman TUHAN--kiamat dan api neraka.

    Ibu-ibu, mari, genggam tepung! Apalagi, maaf, para janda. Sudah tidak ada penghasilan, ini kesempatan untuk menggenggam tepung. Jangan menggenggam anak atau berharap pada siapapun! Tetapi, genggam tepung! Kita semua juga menggenggam tepung, supaya tangan TUHAN yang bekerja--tangan anugerah-Nya yang bekerja bagi kita semua.


  3. Zaman Allah Roh Kudus; dihitung dari kedatangan Yesus pertama kali sampai kedatangan Yesus kedua kali; kurang lebih 2000 tahun.
    Diwakili oleh KAUM MUDA.

    1 Petrus 5: 5-6
    5:5. Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
    5:6. Karena itu
    rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.

    Kaum muda harus tunduk--taat dengar-dengaran--sampai daging tidak bersuara, sama dengan MENGULURKAN TANGAN KEPADA TUHAN--'terserah Engkau, TUHAN'--dan TUHAN mengulurkan tangan anugerah-Nya untuk mengangkat dan meninggikan kita pada waktunya.

    Sikap tunduk adalah sikap penyembahan kepada TUHAN; kita banyak menyembah TUHAN.

    Kaum muda harus tunduk/taat untuk menghadapi kegagalan--masih di bawah--, dan tidak ada masa depan.

    Tangan TUHAN sanggup mengangkat dan meninggikan kita pada waktunya, artinya:


    • Membuat kita menjadi berhasil dan indah pada waktunya.
      Roda tidak selalu di bawah, satu waktu akan ada di atas. Kaum muda, jangan ragu! Ikuti teladan bapak-bapak, yaitu masuk bahtera--hidup benar, jujur, tergembala dengan baik--, ikuti teladan ibu--menggenggam tepung. Lalu ditambah, mengulurkan tangan kepada TUHAN.

      Tetapi roda juga tidak selalu di atas. Karena itu, jangan sombong! Yang sudah di atas, harus lebih lagi mengulurkan tangan pada TUHAN.

      Ini kesalahan kita. Waktu di bawah, kita gigih, mau berpuasa dan lain-lain. Tetapi ketika sudah di atas, lupa. Akibatnya turun lagi dan sulit untuk mau naik lagi. Kalau tidak kemurahan TUHAN, akan sulit.


    • Dipakai dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir--pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.
      Dipakai sama dengan diangkat; ditinggikan dan yang lain akan menyusul. Kalau kita dipakai oleh TUHAN, berarti sudah ada pengangkatan dan yang lain hanya tinggal menunggu waktunya TUHAN. Kita sabar menunggu waktunya TUHAN.


    • Tangan anugerah TUHAN sanggup menyucikan dan mengubahkan kita sampai tidak ada dusta--mulut tidak salah dalam perkataan; sempurna.
      Yakobus 3: 2
      3:2. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

      Kita terus disucikan dan diubahkan, sampai puncaknya, yaitu tidak ada dusta--mulut tidak salah dalam perkataan.
      Tidak salah dalam perkataan, artinya hanya menyeru 'Haleluya'. Ini penyembahan dari sorga.
      Mengapa 'Haleluya'? Sebab 'Haleluya' adalah bahasa sorga (Wahyu 19: 1,3-4); penyembahan di sorga dengan 'Haleluya', maka kita di bumi juga 'Haleluya'.

      Nanti dari 4 penjuru bumi, kita akan naik ke awan-awan yang permai dengan satu bahasa, satu suara 'Haleluya'. Tidak salah lagi dalam perkataan; dari bangsa manapun, suku apapun, semua sama sempurna seperti Yesus.
      Kita dapat menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai sampai selama-lamanya.

      Butuh ketaatan. Kalau tidak taat, akan tertinggal di bumi, dengan bahasa menurut masing-masing suku dan bangsa; berteriak dengan suara keras. Tetapi di atas, kita betul-betul bersama Dia selama-lamanya.

Inilah hidup taat dan berada di dalam tangan kasih karunia TUHAN; mulai dari zaman Nuh, janda Sarfat, sampai zaman akhir--kaum muda.
Mari, semua mengikuti Nuh, janda Sarfat dan kaum muda di dalam 1 Petrus 5.

  1. Nuh, taat untuk menghadapi air bah.
    Masuk bahtera = hidup benar, jujur--soal pengajaran dan dalam segala hal--dan tergembala dengan benar dan baik.
    Makanan penggembalaan harus menyatukan kita mulai dari dalam nikah dan penggembalaan, sehingga ada tangan anugerah TUHAN yang melindungi kita.


  2. Janda Sarfat, menggenggam tepung.
    Hasilnya, ada tangan TUHAN yang melindungi, memelihara dari antikris; ada kuasa kebangkitan untuk memulihkan nikah dan buah nikah yang sudah hancur.


  3. Kaum muda yang sudah gagal dan lain-lain, tetapi bisa berhasil dan indah, sampai sempurna seperti TUHAN.

TUHAN memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 19:00 (Ibadah Raya)
Senin, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 02-03 Juli 2019
    (Ibadah Kunjungan di Nias)

  • 23-25 Juli 2019
    (Ibadah Kunjungan di Tana Toraja)

  • 05-09 Agustus 2019
    (Ibadah Kunjungan di India)

  • 20-22 Agustus 2019
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 04-05 September 2019
    (Ibadah Kunjungan di Semarang)

  • 17-19 September 2019
    (Ibadah Persekutuan di Malang)

  • 24-25 September 2019
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 13-17 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top