English Language | Form Penggembalaan
RINGKASAN KOTBAH IBADAH RUTIN DAN IBADAH KUNJUNGAN
RINGKASAN LAINNYA

Ibadah Raya Malang, 27 Januari 2013 (Minggu Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Matius 28:11-15
28:11 Ketika mereka di tengah jalan,...

Ibadah Doa Surabaya, 16 Juli 2012 (Senin Sore)
Ibadah Pendalaman Alkitab dialihkan pada hari Rabu
Pembicara: Pdp. Youpri Ardiantoro
Matius 27:
= dalam Tabernakel, terkena pada 7 kali percikan darah di atas tabut...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 01 September 2011 (Kamis Sore)
Matius 26:24-25
26:24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada...

Ibadah Raya Surabaya, 18 Mei 2014 (Minggu Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayang-Nya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman Tuhan, biarlah damai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 30 Juli 2009 (Kamis Sore)
Wahyu 19:9, adalah tentang KEBAHAGIAAN.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat mutlak dibutuhkan,...

Ibadah Raya Surabaya, 04 Desember 2016 (Minggu Siang)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah kasih...

Ibadah Persekutuan Ambon IV, 14 November 2013 (Kamis Pagi)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai...

Ibadah Raya Surabaya, 02 Desember 2018 (Minggu Siang)
Ibadah Penyerahan Anak

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita, Yesus Kristus. Pada kesempatan ini kita menyerahkan seorang anak...

Ibadah Doa Surabaya, 30 Juli 2012 (Senin Sore)
Matius 27
Dalam susunan tabernakel ini menunjuk tentang 7 PERCIKAN DARAH DI ATAS TABUT PERJANJIAN, artinya sekarang adalah sengsara yang dialami...

Ibadah Raya Malang, 15 Februari 2009 (Minggu Pagi)
KEBAKTIAN PENYERAHAN ANAK
Mazmur 144:12, kita doakan supaya anak yang diserahkan menjadi...

Ibadah Kaum Muda Malang, 23 Mei 2009 (Sabtu Sore)
Markus 13:9-13 adalah nubuat ketiga, yaitu tentang ANIAYA TERHADAP...

Ibadah Doa Malang, 8 Februari 2018 (Kamis Sore)
Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita, Yesus Kristus.

Wahyu 6:12-17
6:12 Maka aku melihat,...

Ibadah Doa Malam Surabaya, 17 September 2014 (Rabu Malam)
Puji Tuhan. Tuhan memberi kesempatan pada malam hari ini. Kita menyatukan hati di hadapan Tuhan, kita bergumul...

Ibadah Raya Surabaya, 22 Juli 2012 (Minggu Sore)
Matius 27:
= dalam Tabernakel, terkena pada 7 kali percikan darah di atas tabut perjanjian/tutup pendamaian= sengsara yang dialami oleh Yesus sampai...

Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 28 Maret 2011 (Senin Sore)
Matius 26: 14-16
26:14. Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.
26:15. Ia berkata: "Apa...


TRANSKRIP LENGKAP

Doa Surabaya (Rabu, 26 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 24 November 2014)
Tayang: 10 Mei 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 23 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 19 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 17 November 2014)
Tayang: 07 Januari 2019
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 09 November 2014)
Tayang: 22 Agustus 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 05 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 03 November 2014)
Tayang: 04 Juni 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 02 November 2014)
Tayang: 03 Maret 2018
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 20 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 13 Oktober 2014)
Tayang: 13 Desember 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 12 Oktober 2014)
Tayang: 24 Oktober 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 08 Oktober 2014)
Tayang: 18 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 06 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 05 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 01 Oktober 2014)
Tayang: 05 September 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 29 September 2014)
Tayang: 24 Juni 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Umum Surabaya (Minggu Sore, 21 September 2014)
Tayang: 19 Mei 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Doa Surabaya (Rabu, 17 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]

Bible Study Surabaya (Senin, 15 September 2014)
Tayang: 29 April 2017
[baca transkrip] | [download file transkrip]



Untuk Koneksi Lambat, silahkan buka http://id.gptkk.org
Transkrip lengkap dari ibadah penggembalaan di Malang dan Surabaya, semuanya di bawakan oleh gembala sidang Pdt. Widjaja Hendra.

Silahkan kontak ke info@gptkk.org apabila bapak/ibu/sdr/sdri ada pertanyaan atau mungkin ingin berlangganan majalah Manna dan silahkan kirim email ke widjaja_h [at] yahoo.com apabila ingin konsultasi pribadi dengan bapak gembala
silahkan ganti tanda [at] dengan @
Cari ringkasan:   
[versi cetak]
Cari rekaman ibadah ini di: http://www.kabarmempelai.org
Ibadah Raya Surabaya, 20 September 2015 (Minggu Sore)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Kita berada pada kitab Wahyu 2-3 (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 27 Juli 2014).

Kita mempelajari kitab Wahyu 3: 14-22--tentang sidang jemaat di LAODIKIA; jemaat yang ketujuh--jemaat yang terakhir. Ini merupakan gambaran dari jemaat akhir zaman (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 14 Juni 2015). Inilah keadaan kita semua.

Kita sudah mendengar, dalam Wahyu 2-3 ada 7 jemaat bangsa kafir yang mengalami penyucian terakhir dari TUHAN sampai sempurna seperti Dia dan layak menyambut kedatangan-Nya kedua kali di awan-awan yang permai.
Mungkin banyak kelebihan dan lain-lain, tetapi kalau ada satu cacat cela, tidak ada gunanya; ia akan ketinggalan saat TUHAN datang kembali. Ada berkat, silahkan, tetapi mohon supaya mengalami penyucian sampai sempurna seperti Dia.

Wahyu 3: 16-19
3:16. Jadi karena engkau
suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
3:17. Karena engkau berkata:
Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
3:18. maka Aku
menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
3:19. Barangsiapa Kukasihi, ia
Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

Sidang jemaat Laodikia dalam keadaan suam-suam kuku artinya secara jasmani sangat kaya, tetapi secara rohani sangat terpuruk--melarat, malang, miskin, buta dan telanjang. Akibatnya jemaat Laodikia dimuntahkan oleh TUHAN--dimuntahkan artinya sesuatu yang tidak berguna, jijik, najis, terbuang selamanya/binasa selamanya.

Oleh sebab itu--karena TUHAN mengasihi jemaat Laodikia--maka TUHAN menegor dan menasihati lewat firman pengajaran yang lebih tajam dari pedang bermata dua, bahkan menghajar, supaya jemaat Laodikia--kita semua--membeli harta/kekayaan sorgawi.

Ada 3 macam kekayaan sorgawi yang harus dibeli--dimiliki--oleh jemaat Laodikia--sekarang kita semua:

  1. Emas yang telah dimurnikan dalam api (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 12 Juli 2015 sampai Ibadah Doa Surabaya, 15 Juli 2015). Ini menunjuk pada iman yang murni.


  2. Pakaian putih untuk menutupi ketelanjangan (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 19 Juli 2015 sampai Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 17 Agustus 2015); menunjuk pada pakaian kemurahan dan kepercayaan TUHAN:


    1. Pakaian penggembalaan (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 20 Juli 2015 sampai Ibadah Raya Surabaya, 26 Juli 2015).
    2. Pakaian pelayanan (diterangkan mulai dari Ibadah Doa Surabaya, 05 Agustus 2015 sampai Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 17 Agustus 2015).


  3. Minyak untuk melumas mata, supaya bisa melihat (diterangkan mulai dari Ibadah Doa Surabaya, 19 Agustus 2015 sampai Ibadah Raya Surabaya, 06 September 2015).

Kalau kita membeli/memiliki harta sorgawi, maka kehidupan kita kaya secara rohani--menjadi kehidupan yang 'dimakan' oleh TUHAN; menyenangkan dan memuaskan hati TUHAN, sehingga TUHAN juga akan menyenangkan dan memuaskan kita semua.
Tidak mengapa kita bekerja dan kuliah yang keras hari-hari ini. Tetapi jangan lupa untuk berusaha membeli harta sorgawi.

Jangan puas dengan harta duniawi! Sebab harta duniawi tidak ada kaitan sedikitpun dengan sorga.
Kalau harta duniawi ada kaitan dengan sorga, maka jemaat Laodikia menjadi yang paling hebat, karena dia paling kaya, paling hebat. Tetapi, harta duniawi tidak ada kaitan dengan sorga. Harta sorgalah yang ada kaitan dengan kerajaan sorga. Ini yang harus kita miliki hari-hari ini.

"Jadi, sekali lagi, bukan tidak boleh bekerja, tidak boleh kuliah. Bukan. Harus bekerja dan kuliah yang keras. Jangan memalukan TUHAN! Tetapi jangan lupa untuk mencari harta sorgawi. Sebab harta duniawi tidak ada kaitan sedikitpun dengan kerajaan sorga. Jangan dibanggakan! Salah jika gereja TUHAN membanggakan harta duniawi."

Sekalipun kita sudah berusaha untuk membeli/memiliki harta sorgawi, masih ada musuh yang mengincar.

Matius 6: 19-20
6:19. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
6:20. Tetapi kumpulkanlah bagimu
harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Ada 3 musuh utama yang mengincar, yaitu:

  1. Karat: untuk merusak logam-logam (sudah diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 07 September 2015).
    Kalau tembaga, emas dan perak berkarat, itu luar biasa.


  2. Ngengat: untuk merusak pakaian putih, sehingga telanjang (diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 13 September 2015).
  3. Pencuri: untuk mencuri minyak urapan, sehingga kering.

Malam ini kita masih belajar tentang musuh kedua, yaitu NGENGAT yang merusakkan pakaian putih--pakaian pelayanan--, sehingga menjadi telanjang lagi.

Matius 25: 26, 30
25:26. Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
25:30. Dan
campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Sesudah mendapat pakaian putih--pakaian pelayanan--, kita ditahbiskan untuk melayani sebagai gembala, pemain musik, zangkoor/group koor, dan lain-lain; sudah bagus, sudah punya harta sorgawi. Tetapi masih dikejar oleh ngengat.
Kalau pakaian dimakan oleh ngengat, lama-lama akan telanjang.
Ngengat yaitu malas--tidak setia--dan jahat. Kalau tidak setia, pasti jahat.

Kalau seorang hamba TUHAN/pelayan TUHAN--sekalipun hebat--, tetapi kalau malas, maka tidak ada gunanya; malah merusak tubuh Kristus.

"Saya sudah memberi contoh, umpama tangan saya hebat, kuat--hamba TUHAN yang hebat--, tetapi saat mau minum, tangan malas untuk mengambil minum. Akhirnya, terpaksa mulut yang mengambil. Ini merusak tubuh Kristus."

Akibatnya, kita menjadi hamba TUHAN/pelayan TUHAN yang tidak berguna dan dicampakkan dalam kegelapan yang paling gelap; masa depan yang gelap, penuh ratap tangis; kutukan; sampai kebinasaan selamanya.

Mari, biarlah malam ini kita memohon pada TUHAN, supaya kita menjadi hamba TUHAN/pelayan TUHAN yang memiliki pakaian putih yang bebas dari ngengat.
Sesudah kita menjadi hamba TUHAN/pelayan TUHAN yang memiliki pakaian putih dari Yesus di kayu salib--Yesus rela ditelanjangi untuk memberikan pakaian putih kepada kita--, maka kita harus menjaga, supaya kita bebas dari ngengat.

Apa praktik bebas dari ngengat?:
Matius 25: 21
25:21. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

  1. Praktik yang pertama 'bebas dari ngengat': kita menjadi hamba TUHAN/pelayan TUHAN yang beribadah melayani--sesuai jabatan dan pelayanan yang TUHAN berikan--dengan setia dan baik.
    Yang dipuji oleh TUHAN adalah yang setia dan baik; bukan yang hebat, atau hamba TUHAN terkenal/tidak terkenal, jemaat beberapa orang atau ribuan, dan lain-lain.

    Menjadi gembala yang setia dan baik, pemain musik yang setia dan baik, bagian kebersihan yang setia dan baik, penerima tamu yang setia dan baik; bukan yang hebat atau tidak hebat.

    Setia = tidak terhalang oleh apapun.

    Setia dan baik artinya:


    1. Arti yang pertama: melayani dengan setia dan dengan hati nurani yang baik.
      Hati nurani yang baik adalah:


      • Bisa membedakan pengajaran benar dengan pengajaran tidak benar; pengajaran benar adalah komando yang benar dalam pelayanan kita, supaya pelayanan kita berkenan pada TUHAN.

        "Jadi, komandonya adalah firman pengajaran yang benar, bukan saya. Kalau saya yang menyuruh: 'Kamu harus begini begitu!' Jangan mau! Saya sering cerita, kalau hamba TUHAN mau membangun gereja, yang didekati toko kayu/toko bangunan. Mulai memuji-muji: 'Saudara hebat, diberkati. Lebih diberkati lagi kalau nanti....' Jangan mau! Harus suara TUHAN yang menggerakkan kita. Coba kalau mau membangun gereja, mengapa tidak datang pada orang yang sederhana? Mengapa datang ke toko bangunan? Karena ada udang di balik batu."

        Komando kita adalah firman. Jadi, harus bisa membedakan mana komando yang benar dengan komando yang tidak benar. Kalau pengajarannya/komandonya tidak benar, maka pelayanannya juga tidak benar. Ini hati nurani yang baik.
        Jadi, bukan melihat manusianya, golongannya, gereja besar atau kecil. Bukan. Tetapi harus melihat pribadi TUHAN/pengajaran yang benar.


      • Melayani tanpa pamrih; tidak mencari keuntungan-keuntungan yang jasmani.


    2. Arti yang kedua: melayani TUHAN dengan setia dan disertai dengan perbuatan baik--tidak merugikan, tetapi menolong orang lain--, bahkan membalas kejahatan dengan kebaikan.

      "Guru dan gembala saya selalu mengatakan: Kalau mau menolong orang, harus siap digantung. TUHAN Yesus mau menolong kita semua, Dia siap digantung di kayu salib. Kalau Yesus tidak mau digantung, maka tidak bisa menolong. Memang ini resiko untuk menolong orang lain. Jangan dipikir mudah menolong orang! Harus siap digantung; nanti sebentar lagi ada gosip. Kalau hati nurani baik, biarkan saja, yang penting kita menolong orang lain tanpa pamrih."


    3. Arti yang ketiga: melayani dengan perkataan-perkataan yang baik--tidak ada dusta, berkata benar dan menjadi berkat bagi orang lain.


    Kalau ini terjadi, maka hasilnya, 'turutlah dalam kebahagiaan tuanmu', artinya kita dipercaya perkara/tanggung jawab yang lebih besar lagi--pelayanan ditingkatkan--, dan mengalami kebahagiaan sorga yang makin membesar, sampai kebahagiaan yang terbesar, yaitu kita masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba saat Yesus datang kedua kali.

    "Yang mengorbitkan kita adalah TUHAN, bukan manusia. Kalau sudah melayani dengan setia dan baik, maka kita akan dipercaya perkara/tanggung jawab yang lebih besar. Sama dengan pengalaman kami, masuk Lempin-El, lulus, menjadi pengerja. Saya dipanggil untuk melayani di jalan Johor, tugasnya yaitu menerima telepon. Sekalipun hanya menerima telepon, tetapi setia dan baik. Kalau ada pengerja lain yang ditelepon, tetapi orangnya tidak ada, saya cari ke atas. Sampai-sampai waktu saya kembali lagi, teleponnya sudah mati. Gagal memang. Tapi saya rindu untuk mencari. Kalau saya mau mengatakan orangnya tidak ada, saya tidak salah juga, mau cari gampangnya saja. Tetapi saya tidak begitu, saya lari ke lantai 3 untuk mencari orangnya. Kalau setia dan baik dalam perkara kecil, maka akan dipercaya dalam perkara yang lebih besar. Sebentar lagi saya dipercaya di bagian komputer, memimpin pujian, lalu disuruh khotbah."

    Setia dan baik = tanpa ngengat.
    Ngengat adalah malas dan jahat.
    Jadi, bebas dari ngengat adalah setia dan baik; bukan yang hebat, ribuan dan lain-lain.

    Itu sebabnya, pengajaran Tabernakel mengarahkan kita kepada mempelai. Mempelai Pria adalah kepala, mempelai wanita adalah tubuh--tidak bisa dipisahkan, setia.
    Kalau hanya guru dengan murid, bisa terpisah. Gembala dengan domba, bisa terpisah. Apalagi kalau hanya tabib dengan orang sakit, mudah sekali terpisah. Tetapi kita harus sampai pada kesetiaan mempelai; bagaikan kepala dengan tubuh yang tidak bisa dipisahkan lagi.


  2. Praktik yang kedua 'bebas dari ngengat': kita menjadi hamba TUHAN/pelayan TUHAN yang beribadah melayani--sesuai jabatan dan pelayanan yang TUHAN berikan--dengan setia dan berkobar-kobar.

    2 Timotius 1: 6
    1:6. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

    Setia dan berkobar-kobar yaitu 'mengobarkan', bukan mengorbankan yang rohani--seperti Esau mengorbankan karunia hak sulung dari TUHAN, untuk mendapakan sepiring makanan, sehingga ia mencucurkan air mata untuk selamanya.

    Jadi, setelah menerima pakaian putih--jabatan pelayanan dan karunia Roh Kudus--, makin hari harus makin berkobar-kobar.

    Tadi khotbah di Malang tentang perlombaan, juga harus setia dan berkobar-kobar. Mungkin mengikuti perlombaan lari 100 meter.
    Setia artinya sampai ke garis finish; dan berkobar--semangat terus. Jangan hanya semangat di awal saja! Sudah lari sampai 40 meter, tetapi sesudah itu santai saja; maka akan kalah, tidak mendapat makhota.

    Yang benar, kita harus melayani TUHAN dengan setia dan berkobar-kobar, sampai garis akhir.
    Garis akhir yaitu:


    1. Sampai meninggal dunia.
    2. Sampai TUHAN Yesus datang kedua kali.


    Roma 12: 11
    12:11. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah TUHAN.

    Yang belum melayani; belum mendapatkan pakaian putih, mari berdoa, supaya ada penataran lagi, itu kesempatan pembagian jubah--jabatan dan karunia.
    Yang sudah melayani, mari setia dan berkobar-kobar!

Kesimpulan
: pelayan TUHAN yang melayani dengan setia, baik dan berkobar-kobar sama dengan pelayan TUHAN bagaikan nyala api--berkobar-kobar artinya selalu ada nyala api Roh Kudus.

Ibrani 1: 7
1:7. Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api."

Mata TUHAN bagaikan nyala api.
Wahyu 1: 14
1:14. Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.

Jadi, pelayan TUHAN yang setia, baik dan berkobar-kobar sama dengan biji mata TUHAN sendiri--dikhususkan oleh TUHAN. Jangan malas dan jahat! Kalau malas dan jahat, akan dikhususkan juga, tetapi untuk dibuang dan dicampakkan dalam kegelapan yang paling gelap.

Praktik sehari-hari pelayan TUHAN yang bagaikan biji mata TUHAN sendiri:

  1. Praktik pertama: tahan menghadapi nyala api penyucian di dalam sistem penggembalaan.
    Kalau menjadi pelayan TUHAN bagaikan api, maka tahan menghadapi nyala api penyucian--api bertemu api akan tahan.
    Tetapi kalau kayu menghadapi api, akan terbakar.

    Keluaran 3: 1-3, 5
    3:1. Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.
    3:2. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di
    dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
    3:3. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa
    penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"
    3:5. Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat:
    tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

    'biasa' = tekun.
    'tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api' = ini penglihatan yang hebat; lebih dari sakit menjadi sembuh.
    Kalau di dalam gereja TUHAN, sakit menjadi sembuh, dukun-dukun akan tertawa, 'Kami lebih dari itu'. Tetapi pemandangan hebat adalah semak duri yang menyala, tetapi tidak terbakar oleh api; inilah penyucian.

    Kalau kita menjadi pelayan TUHAN yang setia dan baik, setia dan berkobar-kobar, sampai menjadi biji mata TUHAN, maka kita akan tahan menghadapi nyala api penyucian di dalam sistem penggembalaan.

    Dalam penggembalaan, ada pemandangan yang hebat, yaitu semak duri menyala, tetapi tidak terbakar oleh api. Ini pemandangan hebat secara rohani. Kalau secara dunia, semak duri yang menyala oleh api, pasti terbakar habis.

    Semak duri = manusia daging yang berdosa.
    Tanaman duri, kalau tidak ada angin tampak rukun. Tetapi begitu ada angin, akan saling menusuk. Kita manusia daging juga begitu; sebaik apapun kita. Kalau tidak ada apa-apa, akan rukun--antara kakak adik, suami isteri--, tetapi kalau ada angin pencobaan, akan saling menusuk--saling menyalahkan.

    "Hati-hati, kaum muda! Biasanya saat pacaran, tidak ada semak duri. Yang ada hanya yang manis-manis, yang bagus-bagus; durinya disimpan. Tetapi sesudah menikah, baru ketahuan. Bukan duri lagi, tetapi malah taring yang keluar. Hati-hati! Jangan terkecoh hari-hari ini!"

    Api di sini adalah api dari sorga; yaitu api firman, Roh Kudus dan kasih Allah.

    Jadi, semak duri yang terkena nyala api, artinya manusia daging yang berdosa, mengalami penyucian oleh api firman, Roh Kudus dan kasih Allah. Ini pemandangan yang hebat.
    Ini terjadi di dalam kandang penggembalaan--ruangan suci; dulu ada 3 macam alat; sekarang menunjuk pada ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok:


    • Pelita emas: ketekunan dalam ibadah raya; persekutuan dengan Allah Roh Kudus di dalam urapan dan karunia-Nya; manusia daging disucikan oleh api Roh Kudus.


    • Meja roti sajian: ketekunan dalam ibadah pendalaman alkitab dan perjamuan suci; persekutuan dengan Allah Anak di dalam firman pengajaran benar dan kurban Kristus; manusia daging disucikan oleh firman Allah.
      Di atas roti yang disusun, ada dupa yang dibakar--mengandung api.


    • Mezbah dupa emas: ketekunan dalam ibadah doa penyembahan; persekutuan dengan Allah Bapa di dalam kasih-Nya; manusia daging disucikan oleh kasih Allah.


    Tiga macam alat ini, semuanya mengandung api.

    Ini yang disebut sebagai pemandangan hebat, yang harus disaksikan di mana-mana.

    "Maaf, bukan berarti orang tidak boleh bersaksi: dari sakit menjadi sembuh. Boleh. Tetapi nanti, kesaksian-kesaksian semacam itu di dalam dunia dan gereja TUHAN sudah biasa. Di dunia, sudah banyak orang sakit menjadi sembuh oleh karena kemajuan teknologi, atau lewat dukun-dukun. Tetapi kesaksian manusia darah daging bisa masuk kandang penggembalaan--ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok--ini yang penting. Sekarang ini banyak gereja yang marah soal ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok. Saya sudah cerita, para bos juga marah. Kalau ada kaum muda yang mau masuk kerja, lalu diterima. Kemudian mereka meminta izin untuk pulang lebih awal karena mengikuti 3 macam ibadah, mereka malah dimarahi: 'Kamu mau makan apa?' Malah orang Kristen yang marah. Tetapi nanti, pemandangan hebat ini akan dicari. Coba ditest. Hari Minggu, berapa yang datang? Banyak yang bangga, berapa kali kebaktian, banyak yang datang, sampai ribuan bahkan selalu penuh. Tetapi coba, saat kebaktian bible study. Satu kali kebaktian saja, sudah tidak penuh. Kalau kebaktian doa, tinggal berapa?"

    Nanti ini akan langka; ini pemandangan hebat yang harus kita saksikan, yaitu ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok, di mana kita manusia darah daging disucikan oleh api firman, Roh Kudus dan kasih Allah.
    Kalau kita terus disucikan, arah pemandangan hebat akan sampai pada Wahyu 12: 1, yaitu perempuan bersalut dengan terang matahari, bulan dan bintang; mempelai wanita TUHAN yang sempurna.

    Mulai dari dalam kandang penggembalaan--kita memang belum sempurna--tetapi kita terus diproses--disucikan, sampai nanti mencapai Wahyu 12: 1. Ini pemandangan terhebat di akhir zaman.

    "Jangan ragu-ragu! TUHAN pasti menolong. Kalau hanya cukup 1 macam ibadah, saya yang paling senang. Saya akan buka di mana-mana, karena banyak yang meminta. Tetapi firman TUHAN tidak begitu; firman TUHAN mengajarkan yang sebenarnya."

    Hasil Musa melihat semak duri yang terkena nyala api tetapi tidak terbakar, yaitu:
    Keluaran 3: 5
    3:5. Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

    Musa harus melepaskan 2 kasut--kiri dan kanan--, artinya mengalami penyucian lahir dan batin, sehingga kembali menjadi seperti bayi yang baru lahir--tidak mengenakan sepatu.
    Itulah penggembalaan yang mengembalikan kita menjadi seperti bayi yang baru lahir; bukan sombong-sombong.

    Bayi yang baru lahir artinya:


    • Arti yang pertama 'bayi baru lahir': hampa, kosong = tidak punya hak, tetapi hanya melakukan kewajiban.
      Pelayanan kita mulai dari dalam nikah, kemudian meningkat pada penggembalaan sampai antar penggembalaan.
      Ini bonus dari TUHAN, bukan kita disiksa.

      "Di dunia ini, bapak ibu yang menjadi pegawai, lalu dipercaya tugas lebih. Selama 3 bulan gajinya sekian, lalu dipanggil lagi untuk diberi tugas yang lebih lagi; ada lemburnya. Ditambah lagi tugasnya, maka gajinya ditambah lagi. Kalau di dalam nikah kita dipercaya untuk melayani, ditambah lagi melayani dalam penggembalaan, lalu ditambah lagi melayani antar penggembalaan; itu kepercayaan TUHAN lebih besar lagi kepada kita. Maka perhatian TUHAN juga lebih besar lagi kepada kita, semua juga lebih besar. Saya bersaksi: tidak mungkin tidak. Kalau kepercayaan lebih besar, maka pemakaian lebih besar dan berkat juga lebih besar. TUHAN bukan penipu TUHAN bukan orang jahat yang hanya memeras kita. Dia tidak menipu kita."

      Yesaya 49: 3-4
      49:3. Ia berfirman kepadaku: "Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku."
      49:4. Tetapi aku berkata: "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun,
      hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku."

      Hasilnya: hak dan upah kita ada di tangan TUHAN; baik secara jasmani, maupun secara rohani, sampai hidup kekal.
      Secara jasmani: untuk hidup sekarang, akan datang, sampai hidup kekal. Hak kita ada di tangan TUHAN dan Dia tidak pernah menipu kita. Perhatikan baik-baik!

      Mari sungguh-sungguh dalam melayani TUHAN! Kewajiban kita hanya melayani TUHAN dalam kesucian, sampai memuliakan TUHAN. Maka hak dan upah kita ada di tangan TUHAN.
      Kalau kita melayani dengan kesucian, berarti kita memuliakan TUHAN; tetapi kalau tidak mau disucikan, berarti memilukan hati TUHAN.


    • Arti yang kedua 'bayi baru lahir': tidak berbuat dosa, sampai tidak dapat berbuat dosa = benar seperti Yesus benar, dan suci seperti Yesus suci.


    Inilah pelayan TUHAN yang seperti biji mata TUHAN, yaitu setia dan baik, setia dan berkobar-kobar. Praktiknya yaitu kita tekun dalam penggembalaan, sehingga tahan menghadapi nyala api penyucian yang diulang-ulang.
    Mungkin masih ada dosa A; setiap bertemu, dosa A diulang lagi. Kalau bukan biji mata akan berkata: 'Apa ini? Saya ditembak terus.' Dia akan lari dan seumur hidup tidak akan terlepas dari dosa.

    Tetapi kalau menjadi biji mata, akan masuk dalam api penyucian yang diulang-ulang, sehingga dia akan berterima kasih: 'Aduh TUHAN, saya belum bisa. Minta ampun. Besok saya berusaha.' Terus berusaha, sampai lepas dari dosa. Kalau bukan biji mata, tidak akan mampu disucikan.

    Hati-hati! Kalau bukan biji mata--tidak mau disucikan--, akan menjadi kotoran mata--tahi mata (maaf). Jika terkena api, akan leleh; tidak tahan menghadapi penyucian.
    Tetapi kalau menjadi biji mata, akan tahan menghadapi penyucian; sampai betul-betul melayani TUHAN dalam kesucian dan memuliakan TUHAN.


  2. Praktik kedua: tahan menghadapi nyala api siksaan; seperti yang dialami Sadrakh, Mesakh dan Abednego.
    Nyala api siksaan artinya:


    • Pencobaan-pencobaan di segala bidang, bahkan sudah mustahil; mungkin terkena penyakit yang sudah mustahil, ekonomi yang sudah mustahil.
    • Dosa-dosa sampai puncaknya dosa--dosa makan-minum dan dosa kawin-mengawinkan.
      Dulu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi api yang dipanaskan 7 kali. Sekarang kita menghadapi dosa-dosa yang ditingkatkan oleh setan, sampai puncaknya dosa.

      Dosa makan minum= merokok, mabuk, narkoba.
      Dosa kawin-mengawinkan= dosa seks sampai nikah yang salah.
      Jaga selalu dengan nyala api kesucian!


    • Ajaran palsu dan penyembahan palsu.
      Dulu Sadrakh, Mesakh dan Abednego disuruh menyembah patung.
      Penyembahan palsu adalah penyembahan berhala, yaitu kikir dan serakah. Memang ada penyembahan palsu yang benar-benar berbeda dari kita. Tetapi penyembahan palsu juga berarti kikir dan serakah.

      Kikir = tidak bisa memberi.
      Serakah = merampas hak orang lain; terutama haknya TUHAN, yaitu persepuluhan dan persembahan khusus.

      "Mulai dari kami para hamba TUHAN. Bayangkan, kalau gembalanya saja korupsi milik TUHAN--seperti Yudas--, bagaimana sidang jemaat? Sungguh-sunggh akan dimasukkan ke dalam api. Para gembala harus didoakan. Jangan senang-senang! Kalau gembala salah, saudara semua akan dimasukkan ke dalam api. Jangan meringankan penggembalaan! Harus sungguh-sungguh bertanggung jawab."


    Tujuan dari nyala api siksaan yang dilancarkan oleh setan--seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menghadapi api dipanaskan 7 kali--adalah untuk menghancurkan/menggugurkan iman dari hamba TUHAN/pelayan TUHAN, sehingga masuk dalam api penghukuman TUHAN; mulai dari kiamat--api turun dari langit--, sampai api neraka selamanya.

    Dulu Sadrakh, Mesakh dan Abednego dikepung oleh api yang sesungguhnya; sekarang api dahysat ini berada di mana-mana.
    Kalau Sadrakh, Mesakh dan Abednego, apinya hanya di dalam dapur api saja. Tetapi kita, ada di mana saja. Mau bertugas ke mana, yang menjadi pegawai harus berhati-hati! Mau tugas ke luar negeri, ke luar kota, api sudah mengepung. Kalau kita tidak mau digembalakan; tidak mau api penyucian, jangan harap bisa lolos dari nyala api siksaan! Tidak mungkin.

    Mari berdoa. Yang punya suami atau isteri yang harus bertugas ke mana-mana, didoakan, supaya dia mau digembalakan; mau disucikan oleh nyala api firman, Roh Kudus dan kasih Allah. Maka ada harapan untuk kuat menghadapi nyala api siksaan dari setan--panah api si jahat.

    Daniel 3: 16-18, 24-25
    3:16. Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
    3:17.
    Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
    3:18.
    tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
    3:24. Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!"
    3:25. Katanya: "Tetapi
    ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!"

    Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap percaya dan mempercayakan diri sepenuh kepada TUHAN--berpegang teguh pada pengajaran, pelayanan, dan penyembahan yang benar--, sehingga tetap hidup dalam kebenaran dan kesucian; tidak terpengaruh oleh api dosa.

    Hasilnya:


    • TUHAN selalu menyertai untuk memelihara dan melindungi kita di zaman yang sulit dan yang mustahil, sampai zaman antikris berkuasa di bumi. Di balik nyala api siksaan, ada kemuliaan TUHAN.
      Sadrakh, Mesakh dan Abednego berada di dalam api yang dipanaskan 7 kali, tetapi bisa tetap hidup. Inilah kekuatan TUHAN. TUHAN beserta kita.

      Jangan takut! Kalau kita betul-betul berpegang pada yang benar--pengajaran, ibadah pelayanan, dan penyembahan yang benar-- dan tidak goyah, maka TUHAN selalu menyertai kita.

      Jangan tukar kebenaran dan kesucian dengan apapun di dunia! Kalau ditukar, sama dengan kita dimasukkan dalam nyala api yang dipanaskan 7 kali dan kita akan dihanguskan, sampai binasa oleh api penghukuman TUHAN.


    • Sadrakh, Mesakh dan Abednego ditarik keluar, artinya TUHAN sanggup menyelesaikan masalah yang mustahil tepat pada waktunya.
    • Sadrakh, Mesakh dan Abednego diberi kedudukan yang tinggi, artinya TUHAN sanggup memberikan masa depan yang berhasil dan indah kepada kita semua.


  3. Praktik ketiga: tahan menghadapi nyala api kemuliaan, saat Yesus datang kedua kali.
    Wahyu 12: 1
    12:1. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

    Kita ditampilkan menjadi mempelai wanita TUHAN dengan kemuliaan matahari, bulan dan bintang. Ini hasil dari ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok.

    Mezbah dupa emas: kebaktian doa; menghasilkan matahari.
    Meja roti sajian: kebaktian pendalaman alkitab dan perjamuan suci; menghasilkan bulan--penebusan.
    Pelita emas: kebaktian umum; karunia Roh Kudus menghasilkan makhota 12 bintang.

    Awalnya seperti Musa yang melihat semak duri terkena api, tetapi tidak terbakar. Sekarang kita--manusia daging yang berdosa--, sedang dimasukkan dalam kandang penggembalaan. Kita sedang disucikan oleh api firman, kasih dan Roh Kudus secara terus-menerus. Ini pemandangan hebat, jika bisa tekun dalam kandang penggembalaan.

    "Saya sudah pernah bersaksi tentang seorang doktor theologia. Dia sudah pernah mengunjungi 60 negara, juga pernah masuk di Gedung Putih. Dia disuruh khotbah oleh Pendeta Pong ketika kebaktian bible study. Dia bingung mau mengenakan jas atau tidak. Mengapa? Sebab di negara manapun, kalau kebaktian bible study, yang masuk hanya sedikit. Jadi untuk apa memakai jas. Tapi akhirnya dia tetap memakai jas. Setelah itu dia bersaksi, 'Kok hampir sama (dengan kebaktian umum)? Untung saya memakai jas'. Kalau semua masuk dalam 3 macam ibadah, ini nanti akan menjadi pemandangan yang hebat. Dan akan lebih hebat lagi, kalau hasilnya sudah tercapai, yaitu Wahyu 12:1."

    Ini pemandangan yang terdahsyat di akhir zaman, di mana kita ditampilkan menjadi mempelai wanita TUHAN yang sempurna; tidak ada lagi kegelapan sedikitpun; tidak ada lagi cacat cela sedikitpun.

    Sekalipun kita sudah menjadi biji mata TUHAN--tahan menghadapi nyala api penyucian, nyala api siksaan,dan nyala api kemuliaan TUHAN--, posisi kita seperti perempuan mengandung yang hendak melahirkan.

    Wahyu 12: 2-3
    12:2. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.
    12:3. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah,
    seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.

    Jadi, posisi gereja TUHAN yang menjadi biji mata TUHAN adalah seperti perempuan mengandung yang hendak melahirkan--saat-saat paling tidak berdaya--, dan menghadapi naga.

    "Saya sudah beberapa kali mendoakan perempuan hamil yang hendak melahirkan. Bahkan ada satu yang sampai tidak mau dijamah, karena begitu tidak kuatnya. Suaminya saja mau pegang, dia tidak mau. Saya hanya berdoa dari jarak jauh."

    Apa yang harus kita lakukan? Mengeluh dan mengerang pada TUHAN--menyembah dengan kata 'haleluya' dan menyeru nama Yesus dengan hancur hati. Hanya ini yang bisa kita lakukan. Inilah biji mata TUHAN, namanya biji mata, itu kecil dan tidak berdaya.

    Mari, hari-hari ini pergunakan mulut hanya untuk menyembah TUHAN dan menyeru nama Yesus.

    "Perbanyak doa rantai, dari pada gosip sana-sini. Kalau bapak ibu datang awal sebelum ibadah, berlutut atau kalau tidak bisa, duduk saja; berdoa untuk diri sendiri semoga bisa menyanyi dengan sungguh-sungguh, bisa mendengar firman sampai mengerti, ada pembukaan firman, dari pada berbincang-bincang."

    Hasilnya:


    • Wahyu 12: 14
      12:14. Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.

      Hasil yang pertama: TUHAN memberikan 2 sayap burung nasar yang besar, untuk menyingkirkan kita ke padang gurun; jauh dari mata antikris yang berkuasa di bumi selama 3,5 tahun.

      Kita dipelihara secara langsung dari TUHAN; kita berada di padang gurun, tidak lagi bekerja dan lain-lain--semua menjadi fulltimer--; hanya beribadah melayani TUHAN; semua hidup dari TUHAN. Deposito, ijazah dan lain-lain tidak lagi berlaku, tetapi kita dipelihara lewat firman pengajarnan yang benar dan perjamuan suci.

      Jadi, kebaktian pendalaman alkitab merupakan adaptasi kita untuk penyingkiran nanti, supaya tidak kaget. Mari, berdoa kepada TUHAN dan gunakan kesempatan yang ada.

      "Seringkali banyak anak-anak yang masih kuliah terlambat datang ibadah karena kuliahnya malam. Tidak apa-apa, datang saja. Berdoa: 'TUHAN, saya rindu tidak terlambat.' Nanti TUHAN akan buka jalan kalau kita rindu. Beberapa kali terjadi. Ada seseorang yang bekerja di suatu perusahaan asing, direkturnya orang asing. Lalu dia minta izin kepada bosnya, supaya boleh pulang lebih awal seperempat jam sebelumnya. Tetapi tidak diperbolehkan. Berdoa saja. Akhirnya tidak lama, bosnya dipindah dan bos yang baru memperbolehkan. Inilah cara TUHAN. Kalau untuk ibadah, TUHAN pasti membela. Jangan kalau sudah tidak bisa, ya sudah; nanti tidak akan pernah bisa terus. Jangan menyerah kalah, tetapi menyerah kepada TUHAN! TUHAN tolong kita semua."

      Dua sayap burung nasar yang besar adalah keuntungan yang besar dalam ibadah untuk menyingkirkan kita ke padang gurun.


    • Roma 8: 22-23
      8:22. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.
      8:23. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga
      mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

      Hasil yang kedua: lewat mengeluh dan mengerang pada TUHAN, kita mengalami pembebasan tubuh. Artinya mengalami pembaharuan dari manusia daging menjadi manusia rohani/manusia mulia seperti Yesus. Ini mujizat terbesar yang tidak bisa ditiru oleh setan, dukun, manusia; hanya TUHAN yang bisa.

      Tadi khotbah di Malang tentang makhota kemuliaan yang tidak dapat layu. Manusia daging akan layu, tetapi manusia mulia seperti Yesus, tidak layu.
      Mulia = tidak layu, artinya:


      1. tidak bangga dengan sesuatu;
      2. tidak kecewa/tidak putus asa dengan sesuatu.


      3. kita kuat dan teguh hati menghadapi apapun; tetap mengucap syukur dan menyembah TUHAN.


      Oleh sebab itu jangan melihat manusia atau harta benda! Kalau melihat manusia atau harta benda, sebentar lagi akan layu--kecewa. Tetapi biarlah kita hanya melihat TUHAN.

      Kalau mujizat rohani terjadi, maka mujizat jasmani juga terjadi. TUHAN yang menyelesaikan semua. Ini janji TUHAN kepada Salomo.

      1 Tawarikh 28: 20
      28:20. Lalu berkatalah Daud kepada Salomo, anaknya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau sampai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah Allah selesai.

      Asalkan kita kuat dan teguh hati, maka TUHAN yang menyelesaikan semua masalah kita. Mujizat jasmani terjadi, sampai mujizat terakhir, kita diubahkan dalam sekejap mata menjadi sempurna sama mulia dengan TUHAN--yang rohani selesai. Kita menjadi mempelai wanita TUHAN yang siap menyambut kedatangan-Nya kedua kali di awan-awan yang permai.


    Perhatikan! Kedatangan TUHAN kedua kali ditandai dengan nyala api kemuliaan. Kalau sekarang tidak tahan menghadapi nyala api penyucian dalam 3 macam ibadah dan nyala api siksaan, jangan harap bisa menyambut kedatangan Yesus kedua kali!

2 Tesalonika 1: 4-7
1:4. sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita:
1:5. suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu.
1:6. Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu
1:7. dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu TUHAN Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya,
di dalam api yang bernyala-nyala,

Dulu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi nyala api yang dipanaskan 7 kali di dapur api. Musa melihat nyala api dari semak duri, tetapi tidak terbakar. Sekarang kita harus tahan menghadapi nyala api penyucian dalam penggembalaan, nyala api siksaan yang dilancarkan oleh setan, sehingga kita akan kuat menghadapi nyala api kemuliaan TUHAN; biji mata TUHAN akan tahan.

Sekarang kita harus kuat menghadapi nyala api penyucian, nyala api siksaan, dan nyala api pembaharuan; sampai nanti yang terakhir menghadapi api kemuliaan TUHAN. Kita bersama dengan Dia selamanya.

TUHAN pasti sanggup dan masih sanggup untuk menolong. Dulu menolong Musa; Sadrakh, Mesakh dan Abednego; sekarang Dia juga sanggup menolong kita semua.

 TUHAN memberkati.

kembali ke halaman sebelumnya
IBADAH RUTIN DI MALANG

Minggu jam 06:45 (Ibadah Raya)
Minggu jam 10:15 (Ibadah Sekolah Minggu)
Selasa jam 17:15 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Rabu jam 07:30 (Ibadah Kaum Wanita)
Kamis jam 17:15 (Ibadah Doa Penyembahan)
Sabtu jam 17:15 (Ibadah Kaum Muda Remaja)

IBADAH RUTIN DI MEDAN
Royal Room Hotel Danau Toba Internasional
Jl. Imam Bonjol Medan

Minggu, jam 18:45 (Ibadah Raya)
Senin, jam 08:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Senin, jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH RUTIN DI SURABAYA

Minggu jam 09:30 (Ibadah Sekolah Minggu)
Minggu jam 10:55 (Ibadah Raya)
Rabu jam 17:30 (Ibadah Pendalaman Alkitab)
Jumat jam 17:30 (Ibadah Doa Penyembahan)


IBADAH RUTIN DI JAKARTA
Jl. Patra Kuningan XIV no.4
Jakarta Selatan
Sabtu, jam 09:00 (Ibadah Pendalaman Alkitab)

IBADAH KUNJUNGAN
  • 08-10 Oktober 2019
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 22-24 Oktober 2019
    (Ibadah Kunjungan di Sorong)

  • 05-07 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Tentena)

  • 19-21 November 2019
    (Ibadah Kunjungan di Medan)

  • 03-05 Desember 2019
    (Ibadah Kunjungan di Jayapura)

  • 13-18 April 2020
    (Ibadah Kunjungan di Korea Selatan)

All Right Reserved Gereja Pantekosta Tabernakel "KRISTUS KASIH"
Jln. Simpang Borobudur 27 Malang | Telp: (0341) 496949 | Fax: (0341) 476751 » Lihat Peta Gereja Kami di Malang
Jln. WR Supratman 4 Surabaya | Telp. 08123300378 » Lihat Peta Gereja Kami di Surabaya
hubungi kami | email: info@gptkk.org | sitemap | top